A/N: Karena lagi mood, lanjut aja yah, ahahahaha ^^ *digeplak* btw, aku mau balas review dari:
Icha Klauser: Wakakakakakakak~ thanks untuk review-mu ya~ :D Aku sarankan untuk baca chapter2 sebelumnya agar ngerti ceritanya :) . Semangat untuk plot kita yah, ahahahaha~! ^0^ (Plot apa, rahasia donk! :P )
OK, mari lanjuuuuuut~!
Coeurs plein de haine*
Disclaimer:
Final Fantasy VII © Square-Enix
Crescent's Diary © Roanolic
*Dalam bahasa Prancis berarti hati yang dipenuhi oleh kebencian, kalo salah bilang ya *kabur*
Di suatu atap gedung pencakar langit, seorang pemuda berambut silver yang spiky dan berantakan, dan kedua matanya berwarna hijau emerald sedang terbaring sambil menatap langit sore. Dia menatap gumpalan kapas di langit yang berbaur dengan warna oranye yang dipancarkan oleh mentari. Dia masih memikirkan peristiwa di pesta tiga tahun yang lalu. Setelah Hojo membunuh Lucrecia dan Vincent, dia kabur dari gedung pesta dan bersembunyi, karena dia merasakan keberadaan Cloud di sekitar gedung itu. Kemudian dia menyaksikan Cloud bertarung dengan Sephiroth lagi di gedung itu.
Pemuda sekaligus clone dari Sephiroth itu yakin, dia berhasil 'membujuk' Cloud untuk terus memburu Sephiroth. Phantom dari Cloud memiliki insting untuk membunuh sosok aslinya. Saat menyaksikan keduanya bertarung, tiba-tiba dadanya merasakan sesuatu. Dia tidak bisa mendeskripsikan apa yang dia rasakan saat itu. Pertama kali dia merasakan Cloud dan Sephiroth bertarung untuk pertama kalinya, dia merasakan hal yang sama di dadanya, namun pada waktu itu dia bisa mendeskripsikannya, yaitu: kebencian, dendam, iri, kesedihan, kekosongan, dengki, dan sejenisnya.
Pemuda berjubah hitam ini memejamkan matanya, membiarkan angin membelai rambutnya.
'Perasaan apa yang kurasakan saat ini…?' batinnya.
Kemudian dia mendengar kepakan sayap dari burung-burung yang beterbangan. Dia membuka matanya dan bangun untuk melihat para burung merpati terbang mengarungi cakrawala. Tanpa sadar, air matanya keluar dari pipinya. Tiba-tiba dia teringat akan keinginannya di pesta waktu itu; ingin membuat keberadaanya berarti. Namun dia juga membunuh banyak orang disana…
"Me-mengapa…?"
Dia menangis di sana, dadanya terasa sesak.
"Mengapa perasaan ini…datang secara tiba-tiba…? Apa…perasaan ini? Mengapa…"
Dia terus menangis seiring mentari tenggelam di ufuk barat.
"…apakah ini…rasa kehilangan sesuatu…? Tapi apa yang tertinggal…?" Pemuda itu terdiam sambil menyeka air matanya. Tiba-tiba dia menyadari sesuatu.
'Apa mungkin…ini adalah perasaan yang dirasakan oleh mereka…?' pikirnya. Dia memutuskan untuk pergi dari tempat itu setelah mengenakan hood di jubahnya supaya wajahnya tidak terlihat.
.
Kedua kakinya menuntunnya menuju sebuah distrik pertokoan yang sepi. Dia melihat-lihat di sekitar distrik itu, siapa tahu bertemu dengan seseorang yang dikenal, batinnya. Ya, dia pergi untuk mencari Cloud dan Sephiroth. Sambil berjalan, dia memikirkan tentang semua hal yang terjadi akhir-akhir ini.
'Phantom adalah eksistensi dari manusia yang gagal menguasai kegelapan di dalam diri mereka. Makhluk itu memiliki insting untuk mengalahkan sosok aslinya dengan cara yang mengerikan, agar bisa mempertahankan keberadaannya di dunia ini untuk selamanya. Jika sosok asli mereka menjadi seorang La Faine, maka Phantom-nya akan menjadi Dark La Faine...mimpi buruk bagi La Faine itu sendiri... Tapi apa hubungannya dengan Luire?'
Noir terdiam sambil memikirkan hal-hal itu. Dia menundukkan kepalanya.
'Tugasku hanya untuk membantu Hojo mendapatkan kekuatan Luire kan? Tapi mengapa aku… Hhhh…'
Dia terus berjalan ke arah depan, tidak peduli apa yang akan dia temui di ujung sana.
.
Sementara itu…
Hojo sedang membaca sebuah kertas yang berisi data penelitiannya. Dia terlihat risau setelah membaca data itu.
"Hmm…seperti yang kuduga. Sebentar lagi dia akan menyadarinya. Namun aku masih membutuhkan bantuan darinya lagi… Hmm…Cloud, Sephiroth, dan Noir. Mereka akan membuka 'pintu' menuju kekuatan Luire…khu khu khu…"
*ZRAAATS!*
Seekor monster baru saja ditebas oleh Noir dengan pedang lasernya.
'Hmph. Ini yang kelima untuk malam ini…' batinnya. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang familiar.
'I-ini?'
.
.
Elfé melihat sebuah bulu sayap hitam jatuh perlahan dari langit. Dia yakin, ini pasti pertanda bahwa Sephiroth berada di sekitar lingkungan ini, tapi dia tidak bisa menemukannya. Sementara itu, Sephiroth merasakan keberadaan Cloud, meski auranya tipis. Namun sedikit demi sedikit aura keberadaannya semakin kuat…
Tak lama kemudian dia bertemu dengan Noir. Sephiroth kaget mengapa aura Cloud malah menuntunnya ke Noir. Apakah dia salah tafsir?
"Noir? Mengapa kau ada disini?" tanya Sephiroth.
"Aku juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama padamu." Jawab Noir datar.
"Omong-omong, perasaan apa yang kau rasakan saat ini?" lanjut pemuda itu.
Sephiroth tertegun sejenak. Kemudian dia mendengus sambil tersenyum sinis.
"Kebencian." Jawab pria itu. Kemudian dia memperhatikan Noir dengan kedua matanya.
"Oiya, pertanyaanku yang dulu, tepatnya 3 tahun yang lalu, belum kau jawab. Sebenarnya apa yang kau tahu?" lanjut Sephiroth.
Noir menghela napas. Kemudian dia menatap Sephiroth lekat-lekat. "Kutukan La Faine. Cloud dan kau akan hidup abadi, tapi saling bertarung untuk selamanya." Kemudian dia menunduk sambil memejamkan matanya. "Kasihan…"
"Mengapa kau mengasihani aku, bocah?" tanya Sephiroth. Noir terkejut sekali saat mendengar pertanyaan Sephiroth. Dia mengatakan "kasihan" tapi dia sama sekali tidak tahu apa itu…dia mengigit bibirnya sendiri.
"Karena…aku akan melepaskan kutukan itu..." Jawab Noir dingin. Sephiroth tertawa sebentar.
"Kau tidak perlu merepotkan dirimu sendiri, Noir. Karena aku ingin mempertahankan kutukan ini." Ucap pria- Coret, Phantom itu. Kemudian dia mengeluarkan Masamune-nya. Tiba-tiba Noir memegangi kepalanya yang sakit, dia terduduk lemas.
'Ugh…mengapa…? Apa ini…?' Di matanya, dia melihat suatu kejadian yang melibatkan Cloud dan Sephiroth. Ekspresi kebencian terpancar dari keduanya.
"Hh. Kalah sebelum bertarung rupanya." Ucap Sephiroth dingin. Dengan cepat Sephiroth mengayunkan Masamune ke arah Noir, pemuda itu berusaha menghindari serangan itu. Namun sayang kaki kanannya terkena sabetan Masamune. Sephiroth terkejut saat menyadari ada sesuatu yang janggal dalam diri Noir.
"Dulu…aku tidak memperhatikannya. Tapi…aku tidak tahu…mengapa kakimu tidak mengeluarkan darah setetes pun?" Sephiroth tersentak. Dia mengacungkan Masamune-nya ke arah Noir.
"Heh. Kau baru tahu rupanya…" jawab Noir sambil menahan rasa sakit dari kaki kanannya. "Dulu, pada saat kita bertarung di hutan, kau tidak melihat darah setetes pun dariku, iya kan?" lanjutnya sambil tersenyum dingin. Kemudian dia berdiri perlahan-lahan dan mengeluarkan dua pedang laser hitamnya.
"Sebenarnya…kau ini apa?" tanya Sephiroth.
"Kau ingin tahu?"
Keduanya melesat bagaikan kilat dan saling menyerang satu sama lain. Noir berhasil mematahkan Masamune. Kemudian dia melancarkan serangan yang cukup fatal pada Sephiroth. Pria itu terluka parah. Namun Sephiroth belum kehilangan kekuatannya. Dia mengeluarkan bola bewarna hitam dan memecahkannya dengan Masamune yang patah.
'Gawat!'
"Come, Jenova!" Seru Phantom itu. Sang Dark Aeon, Jenova, langsung menyerang Noir dengan sisiknya yang tajam. Meski tidak berdarah, Noir terluka parah dan menjerit kesakitan.
"Ternyata kau bisa merasakan rasa sakit… Kau telah membuang-buang waktuku." Ucap Sephiroth sambil mengembalikan Jenova ke bentuk bola hitam lagi. Dia langsung pergi begitu saja.
Sementara itu, Noir kembali merasakan 'sesuatu' di dalam dadanya…
"Perasaan yang tadi…itu adalah…rasa…"
Sayangnya dia tidak sadarkan diri sebelum dia menyadari perasaannya...
A/N: Iya, aku tahu. Ceritanya terasa pendek kurang greget yah? Elfé hanya muncul sebentar… Karena aku ingin 'menguak kebenaran' secara perlahan, jadinya…yah…. *digeplak*
Umm…untuk memberi review, silahkan klik link dibawah ini:
