A/N: Hueh, tinggal sedikit lagi. Mau nggak mau chapter ini harus panjang (halah). Btw, makasih banget buat Kimchi dan Icha Klauser untuk dukungannya… :)

Those Cloudy Days...

Final Fantasy series © Square-Enix

Crescent's Diary © Roanolic


Di penginapan di dekat Midlight's Hollow, Shears sedang dirawat oleh salah satu teman Bartz dan Vaan. Elfé sedang duduk di lobby bersama seorang wanita muda berambut merah jambu. Laguna berdiri sambil menyandar tembok. Kedua matanya melihat pemandangan luar melalui jendela.

"Umm...terima kasih atas bantuan kalian..." kata Elfé sembari membuka percakapan.

"Tidak masalah." Jawab Vaan.

"Omong-omong...umm...Laguna-san..."

Laguna menoleh ke arah Elfé. 'Pasti dia kebingungan...' pikirnya.

"Begini, Elfé. Kami semua adalah teman dari seseorang yang bernama Cloud Strife. Kau pasti tidak mengenal orang itu."

"Iya...aku hanya mendengar namanya dari Sephiroth..." kata Elfé.

Kemudian Laguna menatap ke arah wanita berambut merah jambu dengan perasaan prihatin. "...Lightning...?"

Wanita yang bernama Lightning ini mendesah. Dia menatap Laguna. Sepertinya dia paham akan perasaan dan pikiran Laguna. Dia mengehela napas panjang.

"Begini, kami semua adalah temannya Cloud. Kami semua adalah La Faine, sama sepertimu, Elfé-san."

Kedua mata Elfé terbelalak. 'Pantas saja Shears tahu kalau Sephiroth adalah Phantom, karena teman-temannya adalah La Faine!' batinnya.

"Dulu, kami semua tinggal di Dawn District. Aku, Cloud, Vaan, Bartz dan yang lainnya hidup dengan damai. Sampai suatu hari..." Lightning mendesah lagi.

"Sekelompok pasukan datang menyerang Dawn District. Mereka bukan pasukan biasa, mereka adalah...Phantom."

Elfé terkejut. Lightning dan yang lainnya menunduk.

"Waktu itu, kami banyak sekali kehilangan orang-orang yang kami sayangi. Kemudian, Laguna-san menemukan kami dan merawat kami semua. Walau rasa sedih kami masih belum hilang dari benak kami, kami semua hidup dengan bahagia, sampai suatu hari...sesuatu yang buruk menimpa Cloud..."

~Flashback 6 tahun yang lalu...~

"Kau ingin pergi ke gua itu?" tanya Zack pada Cloud. Cloud mengangguk.

"Ya ampun...kau sendiri kan sudah tahu kalau gua itu berbahaya! Jangan bilang kalau kau percaya dengan gosip itu, Cloud!"

Cloud mengangguk lagi dengan mantap. Zack menjadi lesu, sementara Lightning hanya menghela napas.

"Aku yakin Luire itu pasti ada! Dengan ini aku bisa menjadi La Faine dan bisa melindungi kalian semua." Ujar Cloud. Dia langsung pergi menuju gua yang dimaksud. Zack melongo. Tak lama kemudian Lightning mengikuti Cloud.

"He-hei! Tunggu aku!" seru Zack saat melihat teman-temannya pergi.

Mereka telah sampai di gua yang dimaksud. Dari luar, gua itu terlihat seram. Aura-aura magis terasa dari dalam gua. Lightning telah menyiapkan senjatanya. Begitu juga dengan Cloud dan Zack.

"Ayo." Mereka pun memasuki gua itu.

Di dalam gua, banyak sekali monster yang berkeliaran, untungnya Cloud, Zack dan Lightning menghalau mereka. Akhirnya mereka sampai di bagian terdalam gua.

"...seharusnya Luire itu ada di sini..." kata Cloud.

"Tuh kan! Sudah kubilang itu cuma gosip!" kata Zack dengan nada yang ditinggikan. Sesaat kemudian, Cloud berjalan memeriksa setiap sudut di dinding-dinding gua.

"Percuma saja kita datang ke sini." Kata Lightning dingin. Tiba-tiba mereka mendengar sesuatu yang sedang melangkah ke tempat mereka. Dengan cekatan mereka mengeluarkan senjata masing-masing sambil waspada.

"Hati-hati!"

Muncullah monster hitam yang langsung menyerang mereka. Cloud dan Zack menggabungkan serangan mereka, sementara Lightning menyerang dengan sihirnya. Pertarungan berlangsung sengit. Cloud berusaha untuk mengalahkan monster itu, namun Cloud malah tertelan oleh monster itu. Lightning dan Zack berusaha menyelamatkannya, sayangnya mereka terlambat. Cloud menghilang bersama monster itu...

"CLOUUUUUD!"

~End of Flashback~

"...mungkin pada saat itulah, Phantom-nya lahir..." lanjut Lightning sambil mengakhiri ceritanya. Elfé menunduk. Tak lama kemudian dia melihat ke arah Laguna.

"Umm...bolehkah aku dan Shears membantu kalian? Aku juga ada 'keperluan' dengan Sephiroth..." ucap Elfé. Laguna terkejut. Tapi dia (dengan susah payah) menyembunyikan ekspresi terkejutnya agar tidak diketahui oleh yang lain.

"Tentu." Jawab Bartz mantap. Yang lain menyetujuinya.

"Terima kasih..." jawab Elfé sambil tersenyum.

Sementara itu di Midlight's Hollow...

Angeal dan Genesis sedang berada di depan sebuah reruntuhan kuno. Tentu saja, reruntuhan itu sudah berusia ribuan tahun.

"Hey, Genesis. Mengapa kau ajak aku ke sini?" tanya Angeal. Dia menoleh ke arah Genesis dan terkejut saat pria berambut merah itu sedang asyik membaca "Loveless".

"Kau mendengarkan aku tidak, sih?"

"Iya, iya. Aku dengar..." jawab Genesis. Dia menutup buku kesukaannya, lalu menatap Angeal dengan serius.

"Aku mengajakmu ke sini karena kita berdua harus menjaga reruntuhan ini dari 'gangguan'. Kau tahu maksudku 'kan?" ujar Genesis. Angeal terdiam sebentar, lalu dia mengangguk.

"Tapi...kalau sampai kita bertemu dengan Sephiroth..."

"Kita yang akan menghalaunya." Lanjut Genesis dengan tegas. Dengan berat hati Angeal mengangguk.


Di suatu malam yang disinari cahaya bulan sabit, ada suatu tempat yang sunyi. Tempat itu adalah tanah lapang yang masih hijau. Seorang pria berambut jabrik bewarna pirang sedang berjalan di lapangan itu. Dia menatap sang rembulan di langit. Kemudian ada sebuah bulu sayap hitam jatuh dari langit. Pria ini langsung bersikap waspada. Perlahan, muncul seorang pria berambut panjang bewarna perak turun dari langit. Dia menatap dingin ke arah pemuda di depannya.

"Cloud..."

"Sephiroth..."

Mereka siap untuk bertarung untuk kesekian kalinya. Dengan bersamaan mereka melesat untuk menyerang satu sama lain, namun hal itu dicegah oleh sebuah pisau belati yang melesat ke arah mereka, entah darimana datangnya. Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan.

"Wah, wah, wah. Kalian bertambah kuat saja, ya." Suara itu membuat mereka terkejut. Ya, mereka mengenali si pemilik suara itu... Tak lama kemudian sang pemilik suara muncul...

"Noir?"

Noir berjalan perlahan menuju ke arah mereka, namun dia sengaja untuk menjaga jarak dari mereka. Sephiroth memandangi pisau belati yang menancap di tanah.

"Darimana kau mendapatkan ini?" tanya Sephiroth.

"Aku mendapatkan benda ini dari seseorang yang ambisius." Jawab Noir datar. Cloud keheranan.

"Tentunya kau sudah tidak asing lagi dengan-"

"Aku tidak membutuhkan benda ini lagi." Sephiroth menendang pisau belati itu dengan kasar. Kemudian dia menatap Cloud lekat-lekat dan mengacungkan Masamune-nya.

"Noir, mengapa kau datang kesini? Pasti ada sesuatu yang ingin kau 'bagi' bersama kami, iya 'kan?" tanya Cloud sambil mengeluarkan First Tsurugi-nya. Noir mengangguk.

"Aku datang kesini untuk melepaskan kalian dari kutukan itu. Bukankah itu keinginanmu juga, Cloud?"

Cloud terbelalak. Sephiroth telah mendapatkan celah untuk menyerang Cloud tapi Noir menangkis serangan pria itu dengan pedang laser hitam miliknya.

"A-apa maksudmu?" Cloud menyerang Sephiroth dengan jurusnya dan membuat Sephiroth tersungkur. Tiba-tiba Noir ambruk, dia merasakan rasa sakit di tubuhnya, meskipun dia tidak terkena serangan dari Cloud.

'Sial! Ini gara-gara profesor gila itu!' batin Noir. Dia berusaha untuk bangkit, kemudian dia menangkis dua serangan sekaligus; serangan Cloud dan Sephiroth. Kemudian dia menoleh ke Cloud.

"Kau ingin membebaskan diri dari kutukan 'kan? Aku tahu...karena aku bisa melihat kenanganmu dan kenangan Sephiroth." Jawab Noir. Sephiroth terkejut.

"Kau... Kau ini sebenarnya SIAPA?" gertak Sephiroth sambil mengacungkan pedangnya ke arah Noir. Pemuda itu tidak menjawab, melainkan hanya memberikan tatapan datar namun serius ke arah Sephiroth. Phantom itu mengayunkan Masamune-nya dengan cepat, untungnya Noir bisa menghindar. Dia langsung berdiri di sebelah Cloud.

"Pendek cerita, aku ingin membantumu." Ucap Noir. Cloud sendiri masih belum begitu mengerti, namun sekarang bukan saatnya untuk berdiam diri, karena Sephiroth akan memanggil Jenova. Dengan cekatan Cloud mengeluarkan batu ajaib bewarna hijau pucat dan memecahkan dengan pedangnya, kemudian muncul seekor serigala besar bewarna abu-abu; Fenrir. Fenrir melolong ke arah bulan yang bersinar.

'Itu?'

Fenrir menyerang Sephiroth sehingga pria itu tersungkur lagi dan tidak bisa memanggil Jenova. Melihat adanya kesempatan, Cloud langsung mengeluarkan jurus "Cross-Slash" untuk menyerang Sephiroth.

"Kgh!" Noir terkapar sambil merintih kesakitan.

'Hojo...dia menginginkan aku mati seperti ini rupanya...sial...' batinnya. Kemudian dia melihat pisau belati yang masih terdapat Protomateria tergeletak setelah tadi ditendang oleh Sephiroth. Sambil menahan rasa sakit, pemuda itu merangkak ke arah pisau belati itu untuk mengambilnya.

Pertarungan masih terjadi antara Cloud dan Sephiroth. Setiap kali kedua pedang mereka beradu, rasa sakit yang di derita Noir semakin menjadi-jadi. Saat Cloud menyadari hal itu, Sephiroth menyerangnya. Untungnya Cloud dapat menahannya.

"Hh. Bocah itu bilang kau ingin melenyapkan kutukan ini. Apa benar begitu, Cloud?" ucap Sephiroth. Cloud terdiam. Dia ingin menyelamatkan Noir, namun dia juga bertanya pada dirinya sendiri, benarkah itu yang diinginkannya?

Cloud menyuruh Fenrir untuk menyerang Sephiroth lagi. Selagi Fenrir dan Sephiroth sedang 'sibuk', dia membawa Noir ke tempat yang aman.

.

.

Noir bersandar di tembok sambil menahan rasa sakit di tubuhnya. Cloud mengeluarkan sihir "Curaga" ke arah Noir.

"Thanks..." ucap Noir.

Setelah menyembuhkan sang clone, Cloud melihat keadaan sekitar. Dia berharap Sephiroth tidak mengejar mereka.

"...Cloud?"

Cloud menoleh ke arah Noir. Dia melihat pemuda berambut messy bewarna perak itu sedang mengeluarkan sesuatu. Cloud terkejut saat Noir mengeluarkan pisau belati yang tergeletak di tanah beberapa menit yang lalu.

"Gunakan ini. Kristal di pisau ini bisa menahan kekuatannya." Ujar Noir sambil memberikan pisau itu pada Cloud.

"Terima kasih. Tapi...mengapa kau bisa tahu banyak tentang aku dan Sephiroth?" tanya Cloud. Noir menunduk.

"Karena...dulu aku ditugaskan untuk ikut campur dengan urusan kalian oleh seseorang yang ingin mendapatkan kekuatan. Tapi sekarang, dia telah membuangku dan membuatku menjadi seperti ini... Baginya, aku ini tidak ada artinya sama sekali...karena dia sangat ambisius dan memanfaatkan kalian untuk tujuannya, dia...tewas. Aku bisa melihat kenangan kalian karena...aku adalah...'bagian' dari kalian..." ujar Noir sambil menghela napas lagi.

Setelah mendengarkan cerita Noir, Cloud merasa dia harus melakukan sesuatu, selain mengalahkan Sephiroth tentunya. Dia juga menyadari tentang sesuatu...

"Noir... Keinginanku adalah untuk mengalahkan Sephiroth, tentunya. Melenyapkan kutukan juga keinginanku, tapi...kurasa itu adalah keinginanmu." Kata Cloud. Noir terkejut.

Cloud akan berjalan menuju tempat Sephiroth berada. Dia sudah siap untuk menerima resiko terburuk. Tapi sebelum itu, dia memberikan sebotol Elixir pada Noir.

"Aku akan menggunakan pisaunya, dan aku akan menghilangkan rasa sakit yang kau derita. Jadi, kau sembunyi dulu di sini, OK?" kata Cloud sambil menepuk pundak Noir.

"Tapi kenapa...?"

"Karena kau memberikan informasi yang berarti bagiku." Jawab Cloud datar. "Kau boleh pergi ke tempat lain kalau mau. Omong-omong, terima kasih." Cloud langsung pergi ke tempat Sephiroth. Noir melongo, dan tak lama kemudian dia meninggalkan tempat itu sambil tersenyum tipis.

'Berarti...keberadaanku telah diakui?'


A/N: Bingung? Yah, saya sendiri juga bingung ==a namun sebentar lagi akan ada pertarungan epic antara Cloud vs Sephiroth. So, stay tuned! ^^

(Phew, bentar lagi Crescent Diary bakal tamat... *kabur* )