Aku merasa menjadi orang yang paling bahagia, hingga melupakan segala penderitaanku di masa lalu. Namun aku ternyata salah. Suatu ketika, ketika aku dan Akeela selesai mengunjungi Navigator-san , putriku mencium bayi Francois tepat di bibirnya. Nami memang tidak keberatan, tapi aku merasa malu sehingga menegur putriku yang berusia 5 tahun saat perjalanan pulang. "Iiih….Keela kok cium-cium dedek siih!" "Keela kan saying sama dedek, Bunda!" alasannya. "Kan malu…keela, ga boleh nyium anak cowok". "Bunda nyium ayah…" seloroh anakku. "Iya, tapi cuma ayah sama bunda saja yang boleh…" Akeela sudah mulai kritis pikirku. Lalu dia diam sebentar, memilin-milin jarinya " Kalo…ayah sama bibi?". Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar "APA?" sahutku dengan nada tinggi. "Eeehhh…" gumam putriku sambil menutup bibirnya dengan kedua telapak tangan. Aku mengambil nafas dan menghelanya, sabar Robin, sabar. "Akeela tau dari mana sayang?" kutanyakan dengan hati-hati. Tapi dia tidak menjawab, dia melihatku dengan tatapan takut. "Ga apa-apa sayang, Bunda ga marah…" "…Keela…liat…ayah…" Kata-kata itu terdengar bagaikan lonceng besar yang langsung dibunyikan di dekat telingaku. "Liat apa?.." aku menatapnya sambil berjongkok. Dia memeragakan dengan mencium telapak tangannya lalu berkata "…bibi Nami…".

Aku sangat shock, sesampainya di rumah aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku tidak percaya teman baik dan suamiku tega melakukan hal itu. Tetapi…melihat tingkah laku mereka yang semakin aneh belakangan, bukan tidak mungkin mereka memang punya rahasia. Pantas saja Kenshi-san jadi lebih peduli kepada Miss Navigator. Aku mengingat kembali sikap Nami yang sangat gugup saat diketahui kehamilannya…Ah! Aku tidak mau punya pikiran sampai ke sana gumamku sambil mengurut kening. Lagipula bagaimana kalau itu memang benar anak Sanji, tapi kalau tidak…tanpa terasa air mata jatuh ke pipiku. Aku merasa sangat terpukul, dan kecewa, tapi aku tak mau terbawa emosi. Ya, besok aku akan menginterogasi suamiku, Zoro.

Lelaki yang telah menginjak usia tiga puluh-an itu masih tetap fit. Dia melakukan latihan walaupun hari masih terlalu pagi. Hal ini rutin dilakukan sesaat sebelum murid-muridnya dating untuk latihan. Sementara aku biasanya mengamati dari teras rumah sambil menikmati secangkir the atau kopi. Aku menunggunya selesai dan dia akan menghampiriku serta mengambil minuman yang memang kupersiapkan untuknya. "Duduklah" aku mempersilahkan. Pria itu mengikuti. " Aku ingin tahu, apakah selama aku pergi ke Water Seven, kau menemukan kesulitan?" "Hmm?" dia menoleh ke arahku dengan mimik aneh. "Yaa..kau lihat sendiri,kan, selama rumah tidak berantakan dan Akeela tidak busung lapar, semuanya baik-baik saja." "kau hebat…" pujiku " Yah, benar. Seperti kau tidak pernah mengerti aku saja…si wanita berambut merah itu yang dengan keji menyuruhku melakukan macam-macam pekerjaan rumah, aku diperlakukan seperti babu!" jerit suamiku ngomel. Dia menghela nafas lagi dan kulihat secercah senyum dari sudut bibirnya " …dia juga cukup baik menjaga putri kita, walaupun sering juga memarahinya…" matanya menerawang. Emosiku naik melihat ekspresinya yang seolah-olah mendambakan sesuatu.

Tidak usah berbasa-basi lagi, pikirku. Aku ingin langsung ke sasaran. "…kau menyukai Miss Navigator?" dia balik menoleh padaku lagi. Senyum kecilnya pudar. " Ha?" dia ternganga. " maksudku, pasti sudah terjadi apa-apa dengan kalian berdua kan? Nami jarang sekali bersua dengan suaminya, dan kau juga sedang sendiri dan…kau tahu kan, apa maksudku?" ungkapku dengan mata penuh rasa penasaran. Nyatanya dia sangat tidak senang dengan pernyataan tadi. Kenshi-san menatapku seperti dia menatap musuhnya, dan aku juga melakukan hal yang sama. Kami bagaikan dua belati yang siap menusuk satu sama lain. "Hah.." dia tiba-tiba tersenyum sinis. " Kalau ya, kenapa?" mataku melotot mendengarnya. Bangsat! Aku berteriak dalam hati. Aku ingin menjawab, tapi disela oleh perkataan suamiku " …lantas mau apa kau? Membunuhku? Teriak-teriak hingga seluruh desa ini tahu? Menghancurkan rumah? Hah?... lakukan saja! Asal kau tahu ya, Roronoa Robin, anda sendiri sudah lima bulan lebih berada di kota lain untuk bekerja, meninggalkan suami serta anakmu!... dan siapa juga yang tahu ha, sayang?...yang sudah kamu lakukan di sana?" Zoro mengakhirinya dengan membanting gelas air sampai pecah berkeping-keping. Dia bahkan belum minum seteguk pun.

Dia benar. Aku menyesal telah mengambil keputusan egois itu. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Zoro terdiam, lalu menjambak rambut hijaunya yang mulai panjang. "Maafkan aku…i…ini tidak akan terjadi lagi…sungguh! Aku hanya lengah waktu itu…" nada suaranya merendah. Aku masih tetap menangis saat dia memutuskan meninggalkan teras menuju dojo, menempa lagi jiwa dan kekuatannya. Tapi sebelum dia menghilang, dengan sesegukan aku bertanya " …Zo..zoro…apakah kau menghamilinya juga?" pendekar itu tiba-tiba terpaku. " Apakah bayi itu anakmu, ZORO?" kepalanya lalu menghadap ke atas, lalu dia membalikkan badan " Aku tidak tahu…" dan melaju cepat meninggalkan istrinya yang menangis sendirian. "Kau tidak percaya padaku…..kau masih saja tidak percaya padaku…".

Aku bolak-balik memeriksa kotak surat dengan perasaan was-was. Dua bulan yang lalu aku mendapat kabar dari Doctor dan Cyborg-san bahwa Dokter Vegapunk membuka cabang laboratoriumnya di kota Roguetown, beberapa mil dari pulau dan desa Cocoyashi. Mereka membangga-banggakan keahlian dari ilmuwan gila itu, salah satunya adalah penemuannya dapat menentukan garis keturunan seseorang. Cyborg-san pernah mencoba mencari kedua orang tua-nya, tapi masih sulit karena terlalu banyak orang yang akan diperiksa DNA mereka satu persatu. Namun, sudah banyak juga kasus yang berhasil oleh metode yang dimilikinya. Aku juga ingin mengenal dokter itu, sehingga kami berkomunikasi dengan surat menyurat. Kebetulan juga aku ingin mengungkap misteri yang dirahasiakan suamiku. Aku memintanya untuk mencari hubungan antara Kenshi-san dan anak dari Navigator-san.

Menurutnya benda yang paling baik untuk mencari DNA seseorang adalah dari saliva. Sesuai dengan instruksi, aku mengambil sampel saliva (air liur) milik bayi itu dari dot yang biasa menutupi mulutnya yang lapar, tentu saja, saat ibunya lengah. Lalu mengirimkannya bersama milik suamiku yang didapat dari botol sake-nya. Dari apa yang kudapat seminggu kemudian, belum ada juga balasan dari Dr. Vegapunk. Setelah menunggu beberapa hari lagi, aku mendapatkan secarik amplop berwarna putih bersih, "dari laboratorium Vegapunk". Aku berlari ke dalam rumah, sembunyi-sembunyi membuka surat diagnosis dari ilmuwan terhebat se-Grand Line. Hatiku berdegup membaca isinya dan juga serasa terhenti sesaat kulihat tabel-tabel yang bertuliskan kata "COCOK". Aku memejamkan mata erat-erat, kuremas ujung surat itu dengang tangan kananku, tubuhku lemas dan lunglai. Surat itupun tergelincir dari genggaman.

"TUHAN, bayi itu memang anak dari suamiku!"

"Francois adalah anak Zoro! ".