Hyaaa….akhirnya setelah 2 minggu lebih category One Piece in Error, aku bisa update cerita lagi
Hore…hore…
Sugar Princess71 mls: Salamkenal juga. ^^
InaLuNa: enjoy the next chapter ;P
PS: Aku terobsesi dengan ZoNa, dan lebih suka kalau mereka terlibat cinta terlarang -3-
Aku banyak menemukan fandom yang mati atau hampir mati gara-gara canon pairingnya menikah,
Teman-teman, percayalah, Anang saja bisa bercerai dengan Krisdayanti, Aa Gym bisa bercerai dengan Teh Nini. Jadi, pernikahan bukanlah akhir dari segalanya. Semoga cerita ini dapat menghibur kalian…Jiayo!
Aku sangat murka dengan permainan rahasia mereka. Pikiranku berkecamuk lagi. Navigator-san, satu satunya nakama perempuan, dan terlebih lagi yang paling akrab, tega menipuku dan suaminya sendiri perihal anak yang dilahirkannya. Aku yakin seratus persen bahwa dialah yang tahu pasti siapa ayah Francois selama ini, tapi…MENGAPA?.
Hari-haripun berlalu, aku memutuskan untuk merahasiakan tes DNA ini semata-mata untuk kedamaian putriku dan juga keluarga kecilku. Tapi, ikatan pernikahanku dengan Kenshi-san semakin mendekati titik nadir. Hubungan kami berdua menjadi dingin. Bahkan, kami pun jadi jarang bertegur sapa. Setiap kali diriku melihatnya, bayangan apa mereka berdua, Zoro dan Nami, perbuat selalu menghantui akal dan perasaanku, memuakkan!.
Hingga pada akhirnya, pada suatu senja, aku secara tidak sengaja pulang terlambat karena mengajak putriku jalan-jalan. Sesampainya di rumah, suasana kelam menyelimuti. Semua lampu tidak dihidupkan, artinya tak seorangpun berada di sana. "dia belum pulang dari dojonya" begitulah pikirku, tapi setelah beberapa jam aku menunggu, Kenshi-san belum juga datang, aneh. Kucoba mencek keberadaannya di sana, namun semua murid-muridnya telah pulang, dan pintu dojo juga sudah ditutup rapat. Jantungku langsung berdegup, oh tidak, mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang kucurigakan. Sebelum aku berbalik, terdengar pintu dojo terbuka, kukira itu Zoro, bukan, melainkan salah satu pengikutnya Yosaku. "Oh, Nee-san? Ada perlu apa kemari?" dia melirik kiri-kanan "inikan sudah malam?" "kemana Zoro?". Pendekar botak itu mencoba mengingat-ingat "bukannya Aniki pulang lebih dulu dari kami?" aku mendecak " dia belum pulang…" "hmm..mungkin dia pergi minum-minum dulu?" aku langsung memukul jidat. Kenapa tidak kepikiran? kecurigaan ini membuatku tidak bias berpikir jernih.
Tapi kelegaanku tidak berlangsung lama, suatu hari sekolah tiba-tiba diliburkan, sehingga aku dan Akeela bias pulang cepat. Aku berjalan sekadar melewati dojo milik suamiku, sengaja melihat-lihat bagaimana keadaannya. Tapi dia tidak terlihat dimanapun, di aula apalagi di pekarangan tempat ia biasa berlatih. "Hai Onee-san!" Sahut Yosaku, dan kali ini juga Johnny. "Hai, kalian semangat sekali hari ini" sapaku berbasa-basi. "Ya, Aniki bilang permainan pedang kami semakin bagus!" "aku yakin, para perompak takkan berkutik melawan kami!" sahut Johnny antusias. "Kenshi-san, aku tidak melihatnya…ada di mana dia?". "Eeh…mungkin dia pergi minum lagi!" seru Yosaku asal. "Minum? Siang-siang begini?" nadaku tak percaya. Mereka hanya membalas dengan mengangkat bahu. "Yang kutahu dia pergi ke arah kota". Darahku berdesir lagi. "apalagi kalau bukan minum-minum? Hahaha" mereka berdua tertawa "Oh, tidak…tidak hanya minum…" aku menatap mereka dengan dingin "…permisi".
Aku menitipkan Akeela kepada sahabat suamiku itu di dojo. Sementara diriku melangkah mantap menuju perkebunan jeruk. Melihat rumah bercat biru itu hatiku mulai merasa gelisah. Bagaimana kalau hal yang kutakutkan benar-benar terjadi?. Saat pikiranku berkecamuk, terdengar suara riang seorang wanita muda, suara Navigator-san. Dia sedang menggoda putranya yang masih bayi, sesekali dia menyanyi lagu-lagu untuk bayi itu. Apa yang sedang kulakukan? Aku sadar untuk tidak mengganggu ketenangan mereka. Lalu kuurungkan niat itu, namun…aku sadar Navigator-san bukan satu-satunya orang dewasa di sana. Ada seorang lagi…aku kenal suaranya…suara baritone lelaki dewasa. Emosiku memuncak, aku berlari ke arah pintu rumah dan menggedornya kuat-kuat "NAVIGATOR-SAN…"tidak ada jawaban "NAVIGATOR-SAN?" aku menggedor lebih keras " ini aku ROBIN!" kudengar derap langkah tergesa-gesa mendekati pintu.
Pintu dibuka perlahan-lahan. Kulihat wanita dengan rambut berwarna jingga itu menatapku dengan senyum yang dibuat-buat. Aku memelankan suaraku kali ini, berusaha untuk tetap tenang. "Sedang sibuk Navigator-san?" dia menatapku curiga, lalu menggeleng kepalanya perlahan. "Aku kehabisan lada, tapi lupa membelinya tadi…" basa-basi khas ibu rumah tangga "…boleh aku minta punyamu sedikit?" "oh…o…ok…" dia langsung bergegas menuju dapur yang biasa dipakai oleh suaminya. Aku mengikuti dari belakang. Di atas meja makan, kulihat bukti kuat keberadaan Kenshi-san. Dua botol bir berukuran besar yang sudah tidak berisi. Geram sekali hati ini. Aku memancing Nami dengan beberapa pertanyaan. "Wah, tampaknya hari ini panas sekali ya…tidak heran kau sampai menghabiskan dua botol bir…" ucapku dengan senyum palsu. Dia masih gugup dan menjawab " Ha?...oh…itu…ya…yah…panas sekali! Kami kehabisan es, jadinya kutenggak saja apa yang ada…ahahahaha…" "…Apalagi harus mengurusi bayi, ya?" "…yah…Francois selalu merengek dan aku harus selalu memberinya ASI terus…" lalu ia tiba-tiba tertegun. Skak mat pikirku.
"…tapi…bukankah bir tidak baik untuk ibu yang sedang menyusui, Navigator-san?" aku berdalih "…atau, Cook-san tidak pernah memberitahumu?" Sekarang senyumku semakin lebar. Perempuan itu tak bisa menjawab lagi. Bibirnya gemetar seakan ingin mengucapkan sesuatu, tetapi tak sepatah kata pun yang keluar. Aku mengambil lada di tangan kanannya yang baru diambil dari lemari dapur. "terima kasih…sebetulnya aku ingin memasak makanan kesukaan Zoro…tapi dari tadi dia tidak kelihatan…apa kau melihatnya Nami?" sekarang kutatap dia dengan pandangan dingin. Navigator hanya menggigit bibir bawahnya, matanya sudah dipenuhi air. Tampaknya ia tetap berusaha menutupi apa yang terjadi dengan membantah pertanyaanku. Namun, sebelum dia menyelesaikan ucapannya terdengar seseorang keluar dari kamar mereka.
Suara baritone yang terdengar cukup meyakinkanku siapa yang ada di sana. Aku tidak perlu membalikkan badan. "Aku disini, Robin…" "oh? Sepertinya ada yang dulunya berjanji untuk tidak mendatangi Navigator-san lagi" singgungku. "…dan sepertinya dia termakan oleh sumpahnya sendiri…" Nami hanya diam, kepalanya tertunduk. Entah dia menangis atau tidak. Aku lalu menoleh ke arah suami yang telah lama kunikahi. "…ya kan? Kenshi-san?" "Tunggu…aku bisa jelaskan…" "Mau jelaskan apa lagi? Saya sudah tahu semuanya! Kalian selingkuh sementara aku dan Sanji tidak ada, kalian bersetubuh sehingga memiliki anak, dan kalian mengarang-ngarang cerita agar hubungan itu tidak ketahuan,…sekarang apa lagi Zoro?" Mereka melotot mendengar teriakanku. Nafas lelaki berambut hijau itu mulai terdengar berat "…tau dari mana kamu itu anak saya?"ucapnya menggertak. Navigator-san yang tadinya tertunduk melihat aku dan Zoro bergantian. Dalam matanya tersirat rasa gelisah luar biasa.
Aku tersenyum sinis " tau dari mana? Tenang saja Kenshi-san sayang, saya punya bukti…" "…bukti dari dokter terhebat seantero Grandline, kalian tak akan bisa membantahnya lagi…" aku lalu menatap Nami lagi "…maaf Navigator-san, tapi aku tak tahan dengan misteri yang kalian sembunyikan, jadi aku menggali informasi dengan melakukan tes DNA untuk mengetahui siapa ayah dari bayimu…" perempuan berambut merah itu menatapku, bibirnya masih digigit. Aku memukulkan telapak tangan ke rambut hitamku dan menjulurkan lidah seperti kebiasaan wanita itu "…Oops…kebiasaan lama…". Kali ini air mata menetes dari kedua mata coklatnya yang besar. " Kenapa kau tidak mengaku saja Nami?" "Sepertinya kau yang tahu lebih banyak dari pada kami semua…" Dia menjawabku dengan sesegukan. "Maafkan aku Robin, a…aku tidak bermaksud menghancurkan pernikahanmu dan Zoro…maaf…maafkan…aku" dia duduk bersimpuh. Air matanya makin deras. "Tsss…" Kenshi-san memejamkan matanya, dijambak rambutnya yang hijau itu dengan kedua tangannya yang kokoh. Sementara aku hanya membuang muka, menghindari mereka agar tidak terlihat emosional.
"…ya…Zoro…kaulah ayah dari putraku" akhirnya Nami mengaku dengan nada gemetar.
"APA?" Terdengar suara lain datang dari pintu masuk.
