Next akan ada perdebatan hangat
Makasih buat comment-commentnyaaa...Ijo plus Orange,Jecht's Broken Heart
ni aku kasih lanjutannya, tapi belum akhirnya, maklum, males hohoho...
Here comes the Sinetroon!
Pria berambut pirang itu beranjak dari pintu masuk. Tangannya dipenihi dengan kuntum bunga mawar dan sebotol anggur merah, seakan –akan bersiap merayakan tragedi ini. Dengan terbata-bata ia bertanya "…be…betulkah itu…Nami…san?" berusaha untuk tidak mengejutkan istrinya. Sang navigator terdiam menutupi mulutnya. Terbongkarlah semua rahasia yang mati-matian ia jaga. Dia ingin menjawab, namun lidahnya kelu, hanya bisikan tak jelas yang terdengar. Tiba-tiba suamiku menimpali " kami bahkan belum tahu buktinya…" "…AKU TIDAK TANYA KAU, MARIMO!" bentak Sanji, membuat suasana makin hening. "…kalian…hanya bercanda kan?...sayang?" dia lalu menghaluskan suaranya untuk Nami. Wanita itu menggit jarinya sambil menggeleng pelan. Matanya tertutup seolah tak ingin melihat apa yang akan terjadi.
"…itu…benar?" tanyanya takut. Nami mengangguk sekali. Amarah Cook san tiba-tiba memuncak, ia lalu melemparkan botol anggur itu tepat ke kepala Zoro. Suamiku bahkan tidak menangkis. Kepalanya berdarah terkena pecahan beling. "ANJING KAU, MARIMO!" pria malang itu berteriak histeris, ditendangnya pendekar pedang itu bertubi-tubi, di kepala, wajah, perut, dada, dimana pun ia pikir dapat melumpuhkan Zoro. Kenshi-san tidak menahan ataupun membalas serangan Sanji. Darah segar menetes, dan di sekujur tubuhnya lebam. Zoro yang tadinya tegap sekarang lunglai akibat serangan maut Cook-san. "Berhenti!...Sanjiiii!...jangan!" teriak Nami yang ketakutan setengah mati. Aku melihat suamiku disiksa tanpa dapat berbuat apa-apa. Sesaat terdengar suara jeritan dari makhluk mungil yang ada dalam kamar.
"Berhentiii!" Navigator-san menangkap kaki suaminya yang sudah bersiap melumatkan Zoro. Cook san terpaksa menghentikan serangannya. "Nami-swan!...tapi…KENAPA?" protes Sanji masih dengan mata penuh amarah. " …ini semua… aku yang menginginkannya…"jawabnya dengan lantang. "…Tapi…kenapa…?" Sanji menatapnya dengan perasaan terkejut dan kecewa. " kami…a..aku…" ujarnya terbata-bata. " aku tidak bermaksud mengecewakanmu, Sanji, tapi…" dia berdesah panjang. " ketika kau tak ada…aku…aku merasa kesepian…" "…karena itulah aku mau merawat Akeela…" Aku menelan ludah. "…tapi ternyata aku harus bertemu dengan Zoro juga...dan singkatnya…kami pun berhubungan badan…"
"…tapi kau tahu kan dia itu suamiku, Navigator San?" bentakku dengan emosi. " apa kalian tidak memikirkan perasaan kami?" Nami tertunduk malu. "kau juga tak memikirkan perasaan Akeela? Bahkan tidak peduli bagaimana sakitnya perasaan suamimu jika ia tahu anak yang selama ini kau kandung bukanlah darah dagingnya?" ujarku sambil menangis. Dia menatapku dengan wajah penyesalan. "…Maafkan aku, Robin…" Dia meraih kakiku "…tendanglah aku sepuas hati, seperti yang dilakukan Sanji-kun.." "Nami-Swan!" teriak Cook-san panik. "…Robin-Chan! Jangan lakukan itu!" aku melepaskan kakiku dari genggamannya.
Rupanya wanita berambut oranye itu tidak kehabisan akal, ia bergegas menuju kamar Francois yang masih menangis karena kaget dengan kekacauan yang kami buat. Kami tidak mengetahui kenekatan apa yang akan dilakukannya, hingga ia muncul bersama dengan bayi mungil itu. " Aku seharusnya sudah melakukan ini sebelum Fran lahir…" Aku, Zoro dan Sanji terbelalak. Nami mencengkram ketiak Francois yang sedang berteriak dan berontak " Ini kan, yang jadi masalah kalian? Kalau saja ia tidak ada…" "Nami….mau…apa..k…kau…?" ujar Kenshi-San takut. " Nami-Swan…lepaskan dia…kumohon…" koki itu membujuknya dengan mendekat perlahan-lahan. Percuma, wanita itu siap membanting anaknya sendiri. " MATI SAJA KAU!" "TIDAK!NAMII!" kedua lelaki berteriak histeris.
