OK! next chap is up!
aduh...judulnya jijay bgt,
gara2 dengerin lagu Glenn Fredly...
enjoy...
Nami terdiam…lalu menagis menyesali perbuatannya. Zoro dan Sanji membatu, tidak pernah mereka rasakan kengerian seperti ini sebelumnya. Tidak ada, bahkan oleh perompak paling berbahaya sekalipun. Di bawah, tubuh kecil Francois dibalut enam tangan asing. Seis Fleur tercepat yang pernah aku keluarkan. Dia menagis sekuat-kuatnya, hingga memenuhi seluruh ruangan rumah.
"Apa ini Navigator-san? Mau jadi pembunuh?"
Francois menjerit, memberontak dari dekapan keenam lengan tambahanku. Sanji mengambilnya, menggendong dengan hati-hati anak yang tidak ada hubungan darah dengannya itu. Sambil berjalan pelan, mendekati istrinya yang sedang bergulat dengan perasaan hancur. "Sssshhh…sayang…" bisiknya. "Sudah…sudah…" ingin rasanya ia membelai rambut oranye yang lembut itu, tapi urung. Aku mengurut kening, tak kusangka kejadiannya akan seburuk ini. Terlintas perasaan menyesal dari dalam benakku.
Cook san berpikir sejenak di depan Nami yang sedang sesegukan. "…Tidak apa-apa…, anakku atau bukan aku akan tetap menerima Franc…". Nami terkejut, kami semua terkejut. Dia menatap wajah suaminya dengan pandangan tidak percaya. " ta…tapi…aku…" ia mencoba membantah, namun pria berambut pirang itu membelai lembut pipi Navigator-san. Dilihatnya kedua bola mata coklat yang basah itu. " …aku tidak suka melihat Nami-swan menderita seperti ini, aku rela kok, asal Nami-Swan dan Franc bahagia, aku ikhlas…" ia mengambil nafas dalam-dalam tanpa kehilangan fokus pada istrinya "…karena aku bukan hanya cinta padamu, Nami…aku sayang kamu…" air mata kembali mengalir deras di pipinya. Air mata bahagia kah? Yang jelas aku melihat Navigator-san memeluk Sanji erat-erat, seakan tak ingin lepas. Sementara padaku dan Zoro, terjadi hal yang sebaliknya.
Ya, Tuhan tidak bisa kukatakan betapa takutnya aku melihat wajah lelaki yang telah kunikahi selama 5 tahun itu. Dia kelihatan seperti akan menelan seseorang hidup-hidup. Lengannya yang keras bergetar, rahangnya menegang serta sepasang mata yang mengerikan seakan menatap musuh-musuh terkuatnya. Apakah dia cemburu? Belum pernah aku melihatnya seperti itu. "Wah…" masih dengan bibir bersimbah darah "…akhir drama yang bagus" ujarnya dengan nada yang sinis. Sanji melepaskan pelukannya sambil melirik ke arah Zoro dengan tatapan muak. Kenshi-san langsung mengangkat kedua tangannya. "Oke…!oke…!aku akan pergi dari sini…" sambil mengelap luka-luka 'sumbangan' Cook-san dan mengumpulkan ketiga pedangnya. Ia berjalan cepat melewatiku menuju pintu keluar. Aku dapat mendengarkan bisikannya sekilas, yang memang ditujukan padaku, hanya satu kata sederhana yang cukup menampar keegoisanku. "PUAS?"
Itulah saat-saat terakhir aku melihat Kenshi-san.
Terpaku menatap langit malam, itulah yang dapat aku lakukan. Duduk di teras hanya bertemankan angin malam yang dingin, aku teringat akan kata-kata Cook-san. "Aku bukan hanya mencintaimu, Nami…aku sayang padamu…" aku mendesah, Ya, perasaan menyayangi…mungkin bahan itulah yang kurang dalam hubunganku dan Zoro. Cinta yang tak berbalas, dan tak adanya rasa sayang. Tiba-tiba kudengar seseorang membuka gerbang. Kenshi-san? Dari kegelapan terlihat figur kurus mendekatiku. Bukan Kenshi-san.
"Halo" "Hai…" aku membalas. "Kuharap kedatanganku tidak mengganggu?" kata koki pirang itu. Aku menggeleng " aku ingin minta maaf, gara-gara tadi…" " …Tidak usah dibahas, Robin-Chan…" Sanji mengangkat tangannya. "Bagaimana keadaanmu?" aku mendesah lagi "…sudah berakhir…aku pikir kami tidak dapat bersatu seperti dulu lagi…" kutatap Cook-san dengan tersenyum "…lain halnya dengan kalian" Tiba-tiba dia terkekeh "…Ahahahahahahahahaha…hah…"sambil menggelengkan kepala ia meraih sekotak rokok dari saku jas. Dinyalakan pemantik api lalu dihisapnya filter yang berwarna kekuningan. " ada apa?" " …biasalah…gayung tak disambut" aku bingung "tapi…" "…dia tidak mencintaiku, Robin-Chwan…" "…jadi Navigator-san…?" tanyaku penasaran "…mungkin sudah menyusul kekasihnya…" "Ah…" ujarku mengerti sambil mengambil posisi duduk yang nyaman.
"Kau tegar sekali…" si koki terheran-heran. Aku mendecit "Tidak…hanya saja air mataku sudah kering…" "saat aku tahu dia tidak peduli padaku…aku sudah menangis sejadi-jadinya…" Sanji mengalihkan pandangannya dariku "…BAJINGAN…" "kalau ia melakukannya sekali lagi pada Nami-Swan, akan kubunuh…" ia geram. Dihisapnya lagi asap dari rokok itu. "Boleh…?" aku meminta sebatang. "..Ro..Robin Chwan? Jangan! Nanti berbahaya…" tapi aku melihatnya dengan muka memohon. "Ya?" Dia menyerah. Aku terbatuk saat mencobanya pertama kali. "…lihat kan?" ucap Sanji panik. "Ehm..tidak apa-apa…" kulanjutkan menghisap. Rasanya sedikit pusing, tapi cukup menghangatkanku di malam sedingin ini. Dalam sekejap Aku dan Sanji asyik memenuhi teras rumah dengan kepulan asap yang pekat.
