Fanfiction ini murni hasil imajinasi saya. Jika ada kesamaan dalam bentuk apapun, itu murni ketidak sengajaan. FF ini jauh dari kata sempurna, maaf atas segala kekurangan.
-kyoong
.
a Chanbaek fanfiction
special for 614 day. 2022
Think about Married
BL/HOMO. Mature Content.
.
Part 1
Baekhyun memasuki ballroom salah satu hotel mewah yang berada di pusat kota Seoul. Pria mungil itu sedang menghadiri resepsi pernikahan seorang pria yang sangat berharga baginya. Mengenakan setelan abu-abu dengan garis vertikal kecil, kakinya melangkah pelan mendekati kedua mempelai. Alisnya berkerut ketika mendengar suara penyanyi yang sedang membawakan lagu wedding dress milik Taeyang. Dalam bisikan rendah bibirnya tanpa sadar mengeluarkan umpatan.
Akhirnya, langkah kaki Baekhyun berhenti di hadapan kedua mempelai yang sibuk bermesraan. Bahkan jika bukan deheman keras darinya, sepertinya pengantin baru tersebut tidak akan menyadari kehadirannya.
"Oh! Baekhyun! Kau akhirnya datang." Ujar Sehun seraya menarik Baekhyun dalam pelukan, yang hanya dibalas anggukan malas dari pria mungil itu.
Melepas pelukan Sehun, Baekhyun menatap pengantin Sehun yang berdiri di sampingnya dari atas sampai bawah. "Ada apa dengan penyanyinya? Kupikir dia menyanyikan lagu itu karena melihatmu memakai dress." Mendengar itu, sontak Luhan melayangkan pukulan keras di bahu Baekhyun.
"Kau baru datang dan langsung mengomentari acaraku?" Baekhyun hanya mencebikkan bibir mendengarnya, sementara Luhan meneliti penampilan Baekhyun. "Apa-apaan dengan setelanmu itu? Kemana setelan yang kuberikan? Aku sudah bilang untuk memakai itu agar serasi dengan Kyungsoo!" Luhan sedikit menekan nada suaranya, takut tamu yang lain mendengar.
"Seharusnya kau berterima kasih aku masih mau datang. Apa kau pikir aku akan memakai pakaian yang sama dengan Kyungsoo dan Jongin? Kau mau meledekku? Menjadi orang ketiga diantara dua burung yang dimabuk cinta?"
"Setidaknya akan bagus jika di photo."
"Persetan dengan photo-photo."
Luhan hanya mengangguk pasrah. Maklum, diantara mereka bertiga, Luhan, Kyungsoo dan Baekhyun, hanya Baekhyun yang belum memiliki pasangan. Sementara kedua sahabatnya sudah menemukan pasangan masing-masing dan parahnya sangat suka memamerkan kemesraannya di hadapan Baekhyun. Baekhyun sama sekali tidak iri, hanya merasa kesal.
Pria mungil itu sempat merajuk, karena seminggu setelah Luhan menetapkan tanggal pernikahan, Kyungsoo membawa kabar jika dia juga akan menikah dengan pria pilihan orang tuanya. Meskipun dijodohkan, mereka merasa sangat cocok satu sama lain. Tanggal pun sudah ditetapkan yaitu dua bulan setelah pernikahan Luhan.
Mendekati pernikahan Luhan dan Sehun, Baekhyun sudah sering mendapat pertanyaan 'kapan menyusul?'. Pertanyaan menjengkelkan yang sering muncul saat orang terdekat satu persatu sudah dan akan menikah. Padahal umur Baekhyun masih 27 tahun, apalagi dia baru resign dari tempat kerjanya. Pekerjaan saja belum dapat yang baru, tiba-tiba ditanya kapan menikah. Hal tersebut semakin membuat Baekhyun kesal. Bukan salahnya jika dia belum menemukan pasangan. Teman-temannya saja yang terlalu cepat menikah. Tapi walau begitu, Baekhyun tetap bahagia melihat kedua sahabatnya menemukan cintanya masing-masing.
"Cobalah dulu nikmati pestanya. Siapa yang tau, kau menemukan pasangan yang bisa kau bawa di pernikahan Kyungsoo. Atau jika beruntung kau bertemu dengan nyonya besar yang sedang mencarikan calon suami untuk anaknya." Bujuk Luhan dengan kedua alis yang naik turun.
"Kalau orangnya setampan Sehun, aku mau. Bagaimana jika Om-om botak?" Baekhyun bergidik ngeri membayangkan.
"Kau lupa kalau Sehun model? Dia punya banyak teman yang dijamin memiliki wajah yang tampan. Ada banyak ikan yang bisa kau tangkap disini."
"Bagaimana kalau Sehun untukku saja? Kau cari yang lain." Kedua alisnya naik-turun, menggoda Luhan.
"Kau mau mati?" Baekhyun tertawa mendengar ancaman Luhan. Sangat menyenangkan membuat rusa itu marah.
Hingga suara tawanya yang renyah menarik perhatian seorang pria yang berjalan mendekati Sehun.
Baekhyun terpaku, tawanya perlahan-lahan luntur dan diganti dengan senyum manis membalas senyuman pria tinggi itu yang juga sedang menatapnya, setelahnya dia berbincang dengan Sehun. Wajahnya sangat tampan dan terlihat sangat gagah memakai setelan yang sangat pas dengan tubuhnya. Dilihat dari caranya yang berbicara dengan Sehun, sepertinya mereka berteman dekat. 'Apakah dia juga model?' Baekhyun membatin, 'Jika iya, berarti benar kata Luhan, dia terlihat sangat mempesona.'
Desahan kecewa lolos dari bibirnya saat mendengar jika pasangan pengantin baru itu harus mengantar tamu penting yang akan pulang. Ketiganya meninggalkan Baekhyun setelah Luhan menyuruhnya menikmati pesta. Mata sabitnya terus menatap lekat pria tinggi itu yang semakin menjauh.
"Ahh. Pria tampan lolos begitu saja di depan mata." Desahnya. Lalu, Baekhyun duduk di salah satu meja, menikmati santapan yang disediakan. Bola matanya berputar malas saat dua orang mengambil tempat disampingnya. Mereka adalah Kyungsoo dan Jongin.
"Kenapa baru muncul?" Tanya Kyungsoo.
"Ketiduran."
"Kau melewatkan acara lempar bunga."
Beberapa hari sebelum pernikahan Luhan, pria bermata rusa itu menakuti Baekhyun dengan mitos bodoh dengan mengatakan jika seseorang yang berhasil mengangkap bunga harus menikah dalam 12 bulan, jika tidak, dia akan melajang seumur hidup. Dan berakhir Baekhyun benar-benar tidak hadir dalam acara tersebut.
"Mau meledekku?" Mata sabit itu melirik Kyungsoo dengan sinis. "mengikuti acara itu saat tidak memiliki pasangan?"
"Siapa yang tau jika kau menemukan calon setelah mendapatkan bunganya." Tidak ada jawaban dari Baekhyun, kemudian tangan Kyungsoo terangkat dan menepuk bahunya. "Tak apa, nanti di acara pernikahanku kau yang dapat."
"Pergilah. Dasar pengkhianat."
"Masalah ini lagi?" Ujar Kyungsoo jengah.
Baekhyun meletakkan alat makan yang ada di kedua tangannya. "Salah siapa aku keluar dari pekerjaanku? Kita sudah janji akan cari pekerjaan bersama-sama. Teganya kau meninggalkanku sendirian, sementara kau akan jadi nyonya besar."
"NYONYA? Jaga mulutmu! Aku masih punya batang. Dan berhenti menjadi dramatis. Lagipula untuk apa kau bertahan disana jika teman kerjamu berani menyentuh tubuhmu."
"Aku bisa menghajarnya!"
"Sama saja! Kau akan dipecat karena melakukan kekerasan!" Baekhyun terdiam, "Sudahlah, tinggal saja di rumah dan belajar memasak." Lirikan tajam kembali dilayangkan Baekhyun.
"Gampang sekali kau bicara." Kyungsoo menatapnya dengan kedua alis terangkat. "Calon suami mu pengusaha kaya. Hanya duduk diam di rumah saja hidupmu terjamin. Dia mampu memenuhi kebutuhanmu hingga cucu-cucumu nanti. Bagaimana denganku? Aku akan banting tulang cari pekerjaan. Sen-di-ri-an."
"Harusnya kau memanfaatkan kesempatan itu. Apa perlu aku menggoda Jongin agar mencarikanmu posisi yang pas di perusahaannya?"
Jongin terkekeh dan memberikan anggukan mantap. "Hubungi saja sekertarisku."
"Lihat? Aku berkorban untukmu." Kyungsoo menatap Baekhyun dengan raut bangga.
Senyum lebar mengembang di wajah Baekhyun, "Apakah ini keuntungan memiliki koneksi?"
"Koneksi ini hanya berfungsi jika kau membawa pasangan saat acara pernikahanku nanti." Goda Jongin.
Senyum lebar Baekhyun berganti dengan raut datar, menyebabkan tawa meledak dari Kyungsoo dan Jongin. Harusnya Baekhyun sadar, tidak mungkin pasangan gila ini mau melakukan sesuatu dengan percuma.
...
Pesta pernikahan Luhan semakin malam, semakin meriah. Mungkin karena tamu-tamu penting sudah banyak yang meninggalkan acara dan menyisakan teman-teman dari kedua mempelai.
Acara berlanjut ke pesta dansa. Music romantis memenuhi ruangan, dan setiap pasangan menggerakkan tubuh mengikuti irama, dipimpin oleh kedua mempelai yang berada di tengah.
Baekhyun berdiri sendirian dengan segelas brandy di tangannya. Matanya tidak lepas dari pasangan pengantin baru yang saling menatap seakan dunia milik berdua.
'Semoga kehidupan mereka dilimpahkan kebahagiaan.'
Sabitnya beralih ke arah pasangan di sekeliling Luhan dan Sehun. Disana ada Kyungsoo dan Jongin yang sedang berciuman mesra.
'Pasangan tidak tau tempat. Apa mereka pikir ini acara pernikahan mereka?' Baekhyun memutar bola matanya.
Baekhyun melangkah meninggalkan tempatnya berdiri menuju sofa merah di sudut ruangan. Pria mungil itu tak lupa mengambil sepiring penuh dessert untuk menemaninya. Tumpukan makanan manis itu dinikmati dengan sungguh-sungguh. Saat ini Baekhyun berada di dunianya, sendiri dengan makanan manis, dan dia bahagia, walaupun tanpa pasangan.
Terlalu sibuk dengan isi piring di tangannya, Baekhyun tidak sadar seseorang sudah duduk tepat di sampingnya. Gerakan kecil yang dilakukan orang tersebut kemudian menarik attensi Baekhyun. Matanya membulat dengan mulut penuh makanan, saat menyadari siapa orang tersebut.
'Teman Sehun, si model tampan yang tadi.'
Tersadar dari keterkejutan, Baekhyun berusaha menelan makanannya dengan cepat hingga berakhir tesedak. Pria mungil itu terbatuk-batuk, sementara remahan kue dari mulutnya menyembur mengenai wajah model tampan itu.
'Adakah yang lebih memalukan dari ini?' Batinnya meringis.
Tanpa membuang waktu, Baekhyun segera membersihkan wajah sang model. Tangannya dengan lembut mengusap remahan kue yang tersisa di wajah pria tersebut. Sementara bibir tipisnya tanpa henti mengucap kata maaf.
"Tidak apa-apa." Suara berat pria itu menggetarkan hati Baekhyun.
"A-aku benar-benar meminta maaf."
"Tidak apa. Kau baik? Minum ini dulu." Ujarnya dengan menyodorkan segelas minuman berbuih pada Baekhyun. Dengan senang hati Baekhyun menerima gelas tersebut. Mulutnya mengucapkan terima kasih diikuti kata maaf untuk yang kesekian kalinya.
"Kenalkan, saya Park Chanyeol." Baekhyun hampir tersedak lagi. Matanya terpaku menatap uluran tangan Chanyeol yang masih menggantung.
" Byun Baekhyun." Jawabnya dengan meraih tangan besar itu. Jantungnya berdegup sangat kencang merasakan sengatan dari sentuhan tangan pria itu. Hangat.
"Kenapa tidak bergabung dengan yang lain di lantai dansa?"
"Aku lebih nyaman disini."
"Kau tidak membawa pasanganmu?" Pertanyaan Chanyeol hanya dijawab dengan kekehan ringan oleh Baekhyun.
"Bagaimana denganmu?" Tangannya meletakkan gelas di meja depannya bersama dessert yang masih tersisa setengah piring. Sabitnya menatap tepat di mata Chanyeol menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Aku juga lebih suka disini. Lagipula aku tidak memiliki pasangan untuk ku ajak berdansa."
Baekhyun tersenyum manis mendengar jawaban Chanyeol tersebut, mengantarkan mereka pada kebisuan yang cukup lama. Sabitnya dengan tak tahu malu menatap lurus ke mata gelap pria itu. Chanyeol menatapnya dengan ketertarikan yang tidak dapat ditutupi. Baekhyun meneguk ludah saat tiba-tiba Chanyeol menjilat bibirnya sendiri. Bertanya bagaimana seandainya jika lidah itu berada di dalam mulutnya dan menguasainya. Bagaimana jika lidah itu memberikan kelembaban di lehernya dan turun ke tonjolan merah muda di dadanya. Baekhyun menahan napas dengan pikiran liar yang terbayang begitu saja di kepalanya. Degupan keras di dadanya sangat kencang, membuatnya sedikit kewalahan. Baekhyun kembali menikmati dessert-nya berharap hal itu bisa mengalihkan pikiran kotornya.
Lama mereka diselimuti keheningan, hingga suara riuh dari lantai dansa menarik perhatian mereka. Dari tempatnya, Baekhyun dapat melihat Luhan dan Sehun sedang berciuman mesra.
"Aku berharap mereka hidup bahagia." Chanyeol melirik Baekhyun saat mendengar bisikan rendah dari pria mungil itu.
Keduanya kembali terdiam hingga Suara Baekhyun memecah keheningan.
"Hey Chanyeol?"
"Iya?"
"Kau teman Sehun kan? Berarti kau juga model?"
"Apa aku terlihat seperti model?"
"Apa aku salah? Kau tinggi, dan wajahmu t-tampan." Baekhyun sedikit tersipu mengatakannya. "Apa pekerjaan sebagai model dibayar sangat tinggi?" Lanjutnya menimbulkan kerutan di dahi Chanyeol. "Mereka memakai pakaian bermerk setiap saat. Dilihat dari koleksi mobil mewah Sehun, sepertinya bayaran mereka tinggi. Apa aku cocok jika jadi model?"
"Kupikir begitu."
"Tapi wajahku biasa saja. Tinggiku juga tidak cocok."
Mulut Baekhyun tanpa henti berceloteh, sementara Chanyeol yang berada di sampingnya hanya menatap Baekhyun dengan senyuman.
"—cocoknya Luhan dan Sehun berbulan madu di Afrika. Luhan bisa dengan cepat menemukan kembarannya. Apa kijang juga ada di Afrika? Kijang terlalu gagah jika disandingkan dengan Luhan, dan rusa terlalu manis jika disamakan dengannya. Hewan yang cocok dengan Sehun se..." Kalimatnya terhenti ketika kepalanya menoleh menghadap Chanyeol yang menatapnya dengan lekat. Baekhyun segera menutup mulutnya dengan telapak tangan, menyadari dirinya terlalu banyak bicara. "Maaf. Terkadang aku tidak bisa mengendalikan mulutku." Ucapan Baekhyun berhasil membuat Chanyeol terkekeh.
"Kau sangat manis Baekhyun."
Baekhyun terpaku menatap Chanyeol. 'apa katanya tadi? manis? Wajahnya merona melihat bagaimana pria tampan itu tertawa. Jantungnya kembali berdegup sangat kencang, dan perutnya seperti mengalami musim semi, seakan bunga-bunga bermekaran disana.
"BAEKHYUN!" Aaaah.. Luhan datang entah dari mana dan mengacaukan musim seminya. "Berdansa denganku!" Ujar pengantin baru itu, dan menarik tangannya. Baekhyun bahkan tidak sempat pamit pada Chanyeol.
Mereka meninggalkan pria tinggi itu disana dan menuju ke tengah lantai dansa, dimana Kyungsoo sudah menunggu. Music pun sudah berganti dari music romantis ke music yang lebih hiphop. Suasana berubah seketika, ketiga pria mungil itu sudah menjadikan acara resepsi pernikahan Luhan seperti club malam. Ketiganya berjoget dengan gerakan tidak jelas disana, Baekhyun bahkan melakukan twerking.
Sehun yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Sementara Jongin tercengang melihat tingkah mereka, terlebih calon suaminya yang biasanya bisa mengendalikan diri.
...
Terengah, Baekhyun menenggak minuman yang tersedia di meja minuman dengan rakus. Pria mungil itu kelelahan setelah menyelesaikan beberapa lagu. Tapi juga menyenangkan menari dan berdansa dengan kedua sahabatnya.
Kakinya melangkah menuju sofa sudut ruangan, dimana dia meninggakan Chanyeol sebelumnya. Tapi, mata sabitnya tidak menemukan pria tinggi itu disana.
Helaan napas panjang keluar dari mulut Baekhyun.
'Pertemuan singkat yang pasti akan meninggalkan bekas.' Pikirnya.
Dirinya menganggap pertemuannya dengan Chanyeol mungkin hanya bisa dijadikan kenangan.
Setelah memastikan semua barangnya aman, Baekhyun berbalik dan kembali ke Luhan. Berpamitan pada kedua mempelai kemudian pulang ke apartmentnya.
...
Sudah tiga hari berlalu sejak pernikahan Luhan, Baekhyun masih menunggu kabar dari Kyungsoo dan Jongin yang berjanji akan memberikan pekerjaan. Tapi sampai saat ini, keduanya seakan menghilang ditelan bumi. Sementara Baekhyun harus segera menemukan pekerjaan sebelum tabungannya habis. Jika itu terjadi, dia harus kembali ke neraka, yaitu bekerja di Bherry.
Bherry cake and bakery adalah jaringan toko kue ternama milik keluarga Byun. Baekhyun adalah anak tunggal yang sudah diwanti-wanti untuk mengelola usaha itu jika orang tuanya ingin pensiun. Sementara itu, Baekhyun sangat tidak menyukai kegiatan memasak, tapi sebaliknya dia sangat suka makan. Pernah dia mencoba belajar, tapi setelah percobaan ketiganya gagal, pria mungil itu sudah menyerah. Alasannya karena tidak tega melihat makanan yang gagal terbuang sia-sia. Walaupun setiap cabang Bherry memiliki baker masing-masing, tapi tidak menutup fakta jika penerus Bherry tidak bisa memasak. Dan hal tersebut sedikit melukai harga diri Baekhyun.
Baekhyun berpikir jika dia hidup terpisah dengan orangtuanya, maka dia bisa menghindar dari kewajiban tersebut. Karena nyonya Byun tidak akan memberikan uang padanya dengan percuma, Baekhyun harus memulai pengembaraannya mencari pekerjaan tepat setelah surat kelulusan ada di tangannya. Pria mungil itu mengajak Kyungsoo yang juga memiliki nasib yang sama. Orangtua Kyungsoo adalah pemilik restoran mewah berbintang lima yang juga akan diwariskan pada Kyungsoo. Bedanya, Kyungsoo sangat mahir memasak dibanding dirinya.
Baekhyun menyesap ice americano di hadapannya yang tersisa setengah gelas. Pria mungil itu sudah hampir setengah jam termenung di sebuah cafe di pusat kota Seoul. Memikirkan perencanaan hidupnya.
Biasanya dia akan ditemani kedua sahabatnya, tapi kali ini dia sendirian. Luhan sedang berbulan madu di suatu tempat, sementara Kyungsoo sudah sibuk dengan perencanaan pernikahan. Dia bahagia dengan pernikahan teman-temannya, tapi di sudut hatinya yang lain dia merasa sedikit tidak rela. Kedua temannya akan sibuk dengan kehidupan barunya, dan Baekhyun akan merasa kesepian.
Helaan napas panjang lolos dari mulut Baekhyun.
"Sepertinya aku membutuhkan makanan manis." Ujarnya kemudian beranjak menuju order counter dan setelah itu kembali ketempatnya.
Seraya menunggu pesanannya datang, Baekhyun melihat-lihat seisi cafe yang sedikit ramai. Mungkin karena waktu menunjukkan jam makan siang.
Sabitnya terus bergulir kesana-kemari hingga terhenti pada objek yang familiar. Degup jantungnya tiba-tiba melaju tak terkendali. Disana berdiri pria tinggi yang dia kenal sebagai Park Chanyeol, sedang memesan sesuatu.
Deru napasnya memburu, bingung harus menyapa atau pura-pura tidak melihat. Tapi, bagimana bisa dia berpura-pura tidak melihat Chanyeol sementara pria tinggi itu selalu memenuhi pikirannya setiap saat? Sedangkan jika dia menyapa Chanyeol lebih dulu, takutnya pria itu tidak mengingatnya atau bahkan mengabaikannya. Akan sangat memalukan bagi Baekhyun.
Sibuk dengan pikirannya, Baekhyun tersentak saat seorang pelayan café mengantarkan cakenya. Setelah mengucapkan terima kasih, Baekhyun kembali menatap ke arah Chanyeol. Sayangnya, sabitnya sudah tidak menemukan Chanyeol lagi disana. Baekhyun berdiri, matanya melihat seisi café, mencoba mencari kebaradaan Chanyeol. Tapi pria tinggi itu sepertinya sudah meninggalkan tempat itu.
"Harusnya aku langsung saja menyapanya." sesalnya.
Baekhyun kembali mendaratkan bokongnya pada kursi. Helaan napas panjang lagi-lagi lolos dari bibirnya. Sepanjang hari ini, entah sudah berapa kali Baekhyun melakukannya. Tangannya meraih garpu dan menikmati cake yang sempat terabaikan. Hingga deringan ponsel menarik perhatian Baekhyun dari rasa manis cake. Garpu yang ada di tangannya tergantikan oleh ponsel yang masih berdering. Nama Luhan terlihat disana.
"Hm..?"
"Seseorang meminta kontakmu." Kerutan muncul di antara alis Baekhyun.
"Aku tidak akan masuk jebakanmu."
Di ujung sana, Luhan kebingungan mendengar respon Baekhyun "Jebakan apa maksudmu?"
"Kau sedang bulan madu di taman safari Afrika dan sebentar lagi kau akan mengatakan jika salah satu binatang disana meminta kontakku?" Jelas Baekhyun dengan bola mata yang memutar, jengah.
"Aku mengatakan seseorang, bukan seekor! Lagi pula untuk apa aku bulan madu di Afrika. Kau pikir aku dan Sehun sedang study tour?"
"Cckk. Lalu siapa?"
"Kakak iparku. Sudah tiga hari dia menerorku meminta kontakmu."
"Kenapa iparmu meminta kontakku?"
"Dia melihatmu di pesta pernikahanku malam itu. Katanya kau menarik." Jawab Luhan dengan nada menggoda. Tak ada respon dari Baekhyun, dia melanjutkan, "Kubilang juga apa. Kau akan melewatkan kesempatan ini jika tidak datang. Seseorang pasti akan tertarik padamu."
"Memang tidak ada yang bisa menolak pesona Byun Baekhyun." Ujarnya dengan bangga. Luhan yang berada di sisi lain mendengus. "Apa dia setampan Sehun?" Tanyanya.
"Kakak ipar ku tampan, kaya. Hanya saja dia duda beranak dua, dan sedikit tua."
Baekhyun berdecak, Raut di wajahnya seketika datar. "Kupikir kau mencarikan ku calon suami, bukan sugar daddy."
"Sugar daddy juga bisa kau nikahi. Bayangkan, kekayaan yang kau miliki saat menikahinya. Kau tidak perlu lagi mengurus Bherry. Walaupun dia sudah tua, tapi hidupmu terjamin."
"ENYAH KAU!" Baekhyun memutuskan sambungan telepon.
Tangannya kembali meraih garpu dan lanjut menikmati cake nya, walaupun bibirnya masih sesekali mengumpati Luhan. Baekhyun tidak se-putus asa itu mencari calon suami. Dia lebih membutuhkan pekerjaan daripada pendamping hidup.
...
To be continued
.
