.
a Chanbaek fanfiction
for 614 day.
Think about Married
BL/HOMO. Mature Content.
.
Part 5
.
Baekhyun melenggang dengan bebasnya memasuki rumah Luhan dan Sehun tanpa sepengetahuan tuan rumah. Pikirnya, matahari masih meyembunyikan sinarnya, dan masih terlalu pagi bagi Luhan dan Sehun untuk bangun. Baekhyun tidak ingin mengganggu pasangan itu, dan jika dipikir lagi kemungkinan mereka masih berada di rumah orang tua Sehun setelah makan malam disana semalam.
Tangannya memegang paperbag kue dari Bherry dan beberapa sandwich yang dia beli di perjalanan tadi. Kakinya langsung menuju dapur, ingin menikmati sarapan seakan dia berada di rumahnya sendiri. Dahinya mengerut mendengar suara-suara aneh dari dapur, suara kecapan yang sangat jelas bercampur dengan suara rintihan, atau, desahan?
Setelah meletakkan tentengannya di meja makan, Baekhyun mendongak mencari asal suara tersebut. Seketika matanya membulat sempurna melihat hal tidak senonoh terjadi di depan kulkas. Seorang pria tinggi berkulit putih membelakanginya, tanpa atasan dan hanya mengenakan jeans lusuh yang menggantung di lututnya. Serta kaki jenjang yang melingkar di pinggang Sehun tak luput dari Manik tajam Baekhyun. Baekhyun dapat melihat dengan jelas sahabatnya, Luhan, memeluk erat leher Sehun dan mendongak dengan mata tertutup serta mulut yang tak hentinya mengeluarkan desahan.
"YA TUHAN!" Kedua orang yang tengah beraktifitas tersebut terlonjak kaget melihat tamu tak diundang. "Apa tidak ada tempat lain selain dapur?"
"APA YANG KAU LAKUKAN DISINI? SEJAK KAPAN KAU DISANA?" Luhan menjerit. Pria bermata rusa itu terlihat tidak ingin melepaskan dirinya dari Sehun. Sementara si pria tinggi hanya menutup mata rapat antara menahan malu, atau menahan sakit di telinganya karena teriakan Luhan.
"Ada banyak kamar di rumah ini, cepat pindah."
"KAU PIKIR INI RUMAH SIAPA?"
Baekhyun membuang pandangannya, kemanapun asal tidak menatap Luhan, "Aku lapar, cepat menjauh dari dapur." Ujarnya seraya meninggalkan pasangan itu, memberi mereka waktu ke kamar. Sementara Luhan tercengang melihat tingkah sahabatnya.
Beberapa jam kemudian, setelah insiden mesum itu, Luhan turun dengan pakaian lengkap sehabis mandi, mengambil tempat di samping Baekhyun dan meraih sandwich milik pria mungil itu.
"Apa yang kau lakukan di rumahku sepagi ini?"
Baekhyun menunjuk paperbag Bherry di atas meja.
"Apa kau harus membawanya sepagi ini?
"…"
"Apa kau tidak tahu fungsi bell di depan?"
"Untuk apa menggunakan itu jika aku tau kuncimu. Kupikir kau masih di rumah orangtua Sehun. Dan lagi, mana kutau kalian melakukannya di dapur."
Luhan menghirup udara dengan pelan, berusaha menenangkan emosinya, "Aku paham, kau terlalu lama melajang, jadi kau tidak akan mengerti hal yang seperti itu. Kalau kau hanya berdua dengan pasanganmu, di rumahmu, di sudut manapun kau berada, jika kau horny, kau akan melakukannya di tempat itu juga. Apa kau pikir aku punya waktu berjalan ke kamar, saat lubangku menginginkan milik Sehun?"
"Sialan. Aku pastikan akan balas dendam setelah aku menikah dengan Chanyeol, akan kuperlihatkan pantat mulus ku di dapurmu."
"Kenapa dapurku?"
"Karena aku ingin balas dendam."
Luhan berdecak, "Tapi, kau tampak sangat yakin Chanyeol mau menikahimu." Baekhyun terdiam. "Apa kau yakin akan mendapat restu? Kulihat semalam Seulgi sangat lengket dengan mama Park, bahkan papa Park menyuruhnya tidur di kamar Chanyeol."
Tubuh Baekhyun meremang, Jantungnya terasa seperti berhenti berdetak. Bagian dalam pipinya digigit, menahan cubitan kecil di hatinya. Sejak semalam, Baekhyun merasa tidak tenang. Bahkan anak itu tidak tidur sampai pagi, dan akhirnya memilih mendatangi Luhan.
"Apa menurutmu aku harus mundur?" Luhan terkejut mendengarnya, niatnya hanya bercanda, tapi dia tidak menyangka Baekhyun akan serius menanggapinya.
"Jangan ambil serius, aku hanya bercanda."
"Sebelum semuanya terlalu jauh."
"Kenapa tiba-tiba? Kau harus bertemu dengan mereka dulu baru mengambil keputusan."
"Sebelum aku jatuh."
"Baekhyun-ah, Chanyeol menginginkanmu. Aku tidak akan membiarkannya mendekatimu jika dia ingin bermain." Luhan menatap mata Baekhyun dengan tajam, bersungguh-sungguh dengan ucapannya. "Kalaupun nanti dia menyakitimu, aku akan membunuhnya."
Baekhyun terkekeh, "Membunuh Kakak iparmu?"
"Kenapa tidak? Bahkan jika itu mertuaku, aku akan siap melakukannya."
"Kau berani?"
"Tentu saja tidak. Hehehe. Sehun yang akan membunuhku lebih dulu."
"Lupakan itu, kalau Chanyeol menyakitiku, kau hanya perlu menyiapkan ganti rugi."
"Ganti rugi?"
"Eum, yang mahal." Sebelah alis Luhan terangkat, bingung. "Paket liburan ke luar negeri." Lanjut Baekhyun.
Luhan hanya mendengus, "Kau sangat pandai memoroti orang lain."
"Itu salah satu keahlianku." Lalu Baekhyun bangkit dari duduknya, "Aku mengantuk, mau pulang."
"Secepat itu?" Baekhyun mengangguk, "Jadi apa urusanmu datang ke rumah ku pagi-pagi? Mengganggu bulan maduku?"
"Kupikir bulan madumu sudah berakhir."
Luhan memutar bola matanya, "Kusarankan kau secepatnya harus menikah. Agar kau berhenti merecoki orang lain"
"Aku tidak jadi pulang."
"Kenapa?"
Baekhyun berjalan ke arah tangga, "Aku akan tidur di kamar tamu. Aku jadi tertarik mengganggu bulan madumu"
"Terserahmu saja. Akan kupastikan kau mendengar suara desahanku dan membuat kepalamu pecah."
Baekhyun sama sekali tidak peduli dengan ancaman Luhan.
…
Pada jam tiga sore, Baekhyun baru keluar dari kamar dan turun menuju dapur. Dia terbangun dari tidur panjangnya karena perutnya yang protes dibiarkan kosong dari pagi. Tiga orang yang berada di ruang duduk, hanya diam mengamati Baekhyun yang berjalan dengan mata yang masih setengah terpejam.
"ck.. ck..ck.. Princess kita baru terbangun dari tidur cantiknya." Luhan mngeluarkan komentarnya yang kemudian diabaikan oleh Baekhyun.
"Apa tidak ada makanan disini? Aku lapar." Ujarnya setelah memeriksa setiap sudut dapur.
Luhan memutar bola matanya melihat tingkah Baekhyun, bahkan anak itu belum mencuci wajahnya, Benar-benar seperti di rumah sendiri. "Periksa kulkas, bodoh. Ada pasta disana yang bisa kau hangatkan." Ujarnya, "Chanyeol, urus istrimu."
Mendengar nama itu, seketika mata Baekhyun seratus persen terbuka dengan sempurna. Kepalanya terangkat dan mendapati Chanyeol yang tersenyum manis sudah berdiri di hadapannya. 'Sejak kapan Chanyeol berada di sini?'
"Biar aku yang menyiapkannya untukmu. Kau bisa duduk."
Jantung Baekhyun berdetak dengan sangat cepat seakan ingin keluar lewat tenggorokan. Sikap Chanyeol yang seperti ini yang membuatnya lemah. Kakinya perlahan melangkah ke meja makan dan duduk melihat Chanyeol sibuk menghangatkan makanan untuknya.
"Pantas saja banyak orang dengan mudah menyukaimu, Chanyeol. Kau selalu bersikap manis pada orang lain."
"Bukan orang lain. Dia Pacarku." Chanyeol mengoreksi kalimat Luhan. Tapi suami dari Sehun itu tetap tidak mau kalah.
"Tapi Seulgi bukan pacarmu."
"Dia sahabatku."
"Kulihat mama dan papa Park sangat menyukainya." Sehun memegang paha Luhan, isyarat agar pria bermata rusa itu menutup mulutnya sebelum Chanyeol mengamuk.
Alis Chanyeol berkerut, kedua tangannya menumpu pada meja dan matanya menatap Luhan dengan tajam. "Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?"
"Kau harus mengenalkan Baekhyun dengan orang tuamu agar bisa dekat dengan mereka. Beri kesempatan pada Baekhyun untuk menarik perhatiannya. Jangan hanya sahabatmu yang bisa melakukan hal itu."
"Kupikir kau sudah mengenal orang tuaku setelah menikah dengan Sehun."
"Kau dan Sehun berbeda. Dia dari dulu sudah berontak, sementara kau selalu patuh. Dari dulu kau menjadi kebanggan mereka, dipercaya oleh mereka."
tiinn
Suara microwave menghentikan celotehan Luhan. Sehun sudah menyikut pinggang suaminya agar diam, tapi Luhan seperti tak kenal takut dengan tatapan menusuk Chanyeol. Sementara pria tinggi itu melangkah mengeluarkan sepiring pasta dari microwave dan meletakkannya di hadapan Baekhyun sebelum mengambil sebotol air mineral dari kulkas.
"Pikirkan perasaan Baekhyun, apa kau tidak berpikir bagaimana perasaannya saat melihat orang tuamu lebih menyukai sahabatmu daripada dia?" Luhan menambahkan sebelum ditarik oleh Sehun keluar dari rumah.
"Sepertinya ice cream di kulkas sudah habis. Kita harus membeli banyak rasa strawberry untuk Baekhyun." Ujarnya dengan satu tangan memegang kunci mobil, dan tangan yang lain tidak melepas pergelangan tangan Luhan.
Setelah mendengar pintu depan tertutup, Chanyeol duduk di samping Baekhyun yang sedari tadi hanya terdiam. Kepalanya menunduk menatap pasta di depannya yang baru saja dihangatkan. Chanyeol mengambil sebelah tangan Baekhyun dan mengapitnya di antara telapak tangannya.
"Apa aku melakukan kesalahan?"
"Hm?"
"Aku menghubungimu dari pagi, tapi kau tidak merespon. Sekarang kau juga banyak diam, apa kau menghindar dariku?"
"…?"
"Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu. Benar kata Luhan, seharusnya aku membawamu menemui orangtuaku. Kau harus bertemu dengan mereka agar kau mengenalnya. Harusnya kemarin saat makan malam aku mengajakmu juga."
"Tidak apa, Chanyeol. Jangan memikirkan Luhan, dia terlalu berlebihan. Sejujurnya Aku juga belum siap. Aku takut mereka tidak menyukaiku."
Tiba-tiba Chanyeol terkekeh membuat Baekhyun menatap pria tinggi itu dengan heran. 'Bukannya tadi pria tinggi ini dalam mode serius?'
"Kau harus bertemu mereka dulu baru menarik kesimpulan." Ujar Chanyeol seraya mengecup punggung tangan Baekhyun. "Makan, setelah ini temani aku ke suatu tempat."
"Kemana?"
"Makan dulu."
"Bukan ke rumah orangtuamu kan?"
"Bukan!"
…
Baekhyun tersenyum cerah setelah mobil Chanyeol memasuki salah satu kawasan golf course di salah satu sudut kota. Cuaca sore itu sangat cerah seolah mendukung suasan hati Baekhyun.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini, tapi tidak ada yang ingin mengajariku. Luhan lebih suka bar atau tempat karaoke, sementara Kyungsoo lebih memilih wisata kuliner."
"Sekarang ada aku."
"Yeah. Sekarang ada kau. Hehehe"
Chanyeol menggenggam tangan Baekhyun dan berjalan memasuki salah satu gedung dengan dinding kaca yang menghadap padang hijau yang luas. Keduanya disambut oleh seorang pria dengan seragam hitam dengan tag 'manager' menempel di dada kirinya.
"Selamat datang tuan Chanyeol."
"Halo Wook. Jae ada?"
"Boss tidak berkunjung hari ini, tuan Chanyeol. Beliau minta maaf, ada urusan yang tidak bisa ditunda."
"Oke, tak apa. Kalau begitu, bisa tolong ambilkan peralatanku?"
"Baik, Tuan." Pria itu tersenyum menatap Chanyeol dan Baekhyun sebelum pergi melakukan perintah Chanyeol.
"Jae?" Chanyeol menatap Baekhyun yang penasaran.
"Temanku yang punya tempat ini. Tadinya kita janjian main hari ini, dengan Sehun juga. Tapi mereka sepertinya tidak bisa."
Baekhyun hanya mengangguk sebagai respon. Matanya sibuk melihat sekeliling bangunan dan menarik Chanyeol ke salah satu kursi di samping dinding kaca yang memperlihatkan padang hijau. Pria mungil itu menikmati pemandangan, sementara Chanyeol sibuk bermain dengan jari-jarinya dan sesekali mengecup punggung tangannya. Baekhyun tersentak saat jari telunjuknya digigit oleh Chanyeol, lalu memukul tengkuk pria tinggi itu dengan tangannya yang bebas. Chanyeol hanya terkekeh lalu melanjutkan kegiatannya dengan tangan Baekhyun. Mulut pria yang lebih mungil berdecak sebelum kembali mengamati hal-hal di sekelilingnya. Hingga matanya terhenti pada dua sosok familiar yang menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Baekhyun buru-buru berdiri dan menarik tangannya dari Chanyeol. Kakinya segera berlari ke sosok tersebut dan memeluknya dengan erat.
"Mama Lu. Aku sangat merindukanmu."
"Anak keduaku, Baekhyun. Aku juga merindukanmu sayang."
"Hehehehe." Baekhyun lalu melepas pelukannya pada wanita cantik yang sangat mirip dengan Luhan.
"Ayaah. Aku juga merindukanmu." Baekhyun berpindah memeluk pria paruh baya di samping mama Lu.
"Aku juga merindukanmu. Semenjak Luhan menikah, kau sudah jarang ke rumah."
"Aku lebih suka mengganggu Luhan di rumahnya."
"Dasar anak nakal. Cepat cari pasangan dan berhenti mengganggu Luhan." Ujar Seorang wanita yang muncul di belakang mama Lu.
"Oh! Ibuku yang paling cantik. Aku tidak melihatmu tadi." Kini pelukan Baekhyun berpindah pada wanita tersebut.
Kedua tangannya menepuk pantat Baekhyun, "Kau harus membawa pasangan di pernikahan Kyungsoo. Kalau tidak, aku sendiri yang akan mencarikanmu calon?"
"Tidak perlu ibu, sudah cukup ibu kandungku yang melakukanya, ibuku yang cantik ini hanya perlu membiarkanku menikmati masakannya."
"Kau sudah tidak pernah ke rumah, dan sudah jarang ke resto."
"Mau bagaimana lagi, aku sibuk berpacaran." Ujar Baekhyun dengan senyum kemenangan di wajahnya. Matanya menatap orangtua Luhan dan ibu Kyungsoo dengan tatapan menggoda.
"Kau tidak berbohong kan? Agar kami tidak mencarikanmu calon?"
"Bagaimana mungkin aku berbohong dengan kalian, orangtuaku tersayaaang?" Kemudian Baekhyun menoleh sekilas ke arah Chanyeol yang sedang berbicara dengan Wook. Setelah itu, dia baru tersadar, jika Ayah Lu bersama sepasang paruh baya yang mentapanya dengan senyuman manis yang terlihat tidak asing. Lebih tepatnya senyuman wanita mungil yang terlihat sangat cantik di usia sekitar setengah abad. Baekhyun lantas membalas senyum itu tak kalah manisnya, sedikit membungkuk untuk menyapa.
"Bakhyun?" Mendengar suara Chanyeol, Baekhyun segera memanggil pria tinggi itu untuk mendekat. Wajahnya mendekat ke arah mama Lu dan Ibu Kyung dengan kedua tangan berada di dekat mulutnya, "Pacar ku" Bisik Baekhyun yang terdengar bukan seperti bisikan, tak lupa dengan kedua alis yang naik turun.
"Oh!" Mama Lu terlihat terkejut. "Benarkah?"
"Tentu saja." Lalu Baekhyun merasakan telapak tangan Chanyeol dengan lembut mengusap rambutnya, dan melihat pria tinggi itu juga menyapa orang tua di depannya.
Baekhyun menatap bingung Chanyeol saat langkah pria itu tidak berhenti di sampingnya, tapi ke wanita mungil dengan senyum manis tadi. Manik Baekhyun tidak berpaling saat Chanyeol memeluk wanita itu dan mencium kedua pipinya. Berbagai pertanyaan muncul di otaknya, tapi saat melihat kedua orang itu tersenyum, Baekhyun akhirnya tau alasan kenapa senyum manis itu terlihat familiar.
"Besan, ini Baekhyun, sahabat Luhan, sudah kuanggap anak sendiri. Baekhyun, perkenalkan dirimu, sayang, mereka Tuan dan Nyonya Park." Baekhyun membeku. Seluruh anggota tubuhnya seketika berhenti berfungsi. Bagaimana bisa, orang yang berusaha dia hindari berdiri tepat di hadapannya, terlebih lagi, dia yang duluan menghampiri mereka.
"H-halo Nyonya Park." Dengan kaku, Baekhyun membungkuk. "Halo Tuan Park."
"Halo Baekhyun." Timpal Nyonya Park dengan senyum yang belum meninggalkan wajah cantiknya.
Chanyeol yang melihat Baekhyun, merapatkan kedua bibirnya berusaha menahan tawa. Saat ini Baekhyun terlihat sangat lucu.
"Mom, Kalian sudah selesai?" Tanya Chanyeol menunduk menatap ibunya yang hanya setinggi dadanya.
"Yeah. Kita mau makan malam." Jawabnya, "Baekhyun, Apa kau berkenan untuk ikut?"
"…" Tidak tau harus bagaimana menjawab. Dalam hati, Baekhyun mengutuk dirinya habis-habisan.
"Mom, Lain kali ya? Kita baru saja sampai."
"Kalau begitu besok malam?" Mata cantik itu menatap Baekhyun dengan harap.
"Mom. Baekhyun sibuk." Chanyeol masih berusaha menghentikan ibunya.
"Sibuk pacaran maksudmu?" Timpal ibu Kyung tiba-tiba. Dengan tatapan menggoda yang sangat mirip dengan Kyungsoo.
"Minggu depan bagaimana, Baekhyun? Kuharap kau mengosongkan jadwalmu."
"Mom, kita akan menemuimu jika Baekhyun punya waktu."
"Hanya makan malam biasa, Chanyeol. Tidak perlu khawatir." Mata cantik itu menatap Chanyeol dengan alis mengkerut, lalu kembali menatap Baekhyun dengan senyuman manis, yang membuat Baekhyun mulai takut. Takut jika dibalik senyuman cantik itu tersembuyi seringai iblis. "Bagaimana Baekhyun? Kau mau?"
'Apa aku punya pilihan lain?' batinnya. Dengan berat hati, Baekhyun mengangguk. "Akan saya usahakan Nyonya."
"Kalau begitu sampai jumpa minggu depan." Nyonya Park sekali lagi tersenyum sebelum menarik suaminya pergi. "Besan, Nyonya Do, Mari."
"Baekhyun, sayang, kita duluan yaa." Mama Lu mengecup kening Baekhyun lalu mengikuti Nyonya Park.
Setelah semuanya pergi, Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan kosong. "Chanyeol, apa yang harus kulakukan?"
"Tidak apa-apa." Tangan Chanyeol mengelus punggung Baekhyun lembut. Menenangkan anak itu yang sangat jelas tertekan. "Ibuku bukan orang jahat. Kau lihat sendiri tadi, dia yang mengundangmu."
"Apa kau tidak lihat wajah ayahmu? Dia terus-terusan menatapku dengan alis mengkerut."
"Luhan saja bisa. Kenapa kau tidak?" Chanyeol terpaksa menggunakan kalimat ini. "Aku tidak menyangka kau bisa kalah dari Luhan." Sejauh yang Chanyeol tahu Baekhyun sangat mudah tersulut jika dipancing. Mari menganggap ini permainan, kebetulan Baekhyun sangat tidak suka dibandingkan, apalagi dikalahkan.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan sinis, "Apa kau menantangku?"
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu, aku terima tantanganmu."
"Kupikir aku tidak menantangmu."
"Tapi rasanya seperti iya."
"Terserah kau saja." Ujar Chanyeol, lalu meninggalkan Baekhyun. Anak itu tertawa sebelum berlari ke arah Chanyeol dan melompat ke punggungnya. "Hati-hati. Kau bisa jatuh."
"Hehehe.."
…
To be continued
