a Chanbaek fanfiction
for 614 day.
Think about Married
BL/HOMO. Mature Content.
.
Part 6
.
Baekhyun sudah beberapa kali meneguk air mineral dari botol yang diberikan Chanyeol saat pria tinggi itu menjemputnya di apartemennya. Sejak seminggu yang lalu, jantungnya sudah berdetak sangat kencang menantikan hari ini. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Park untuk makan malam. Baekhyun harusnya merasa sedikit lega jika Luhan juga berada di sana, tapi sayangnya, pria rusa itu sedang berada di Milan menemani Sehun menghadiri undangan dari brand fashion ternama.
"Jika kau terus-terusan minum, perutmu akan penuh sebelum makan malam." Komentar Chanyeol. Pasalnya, pria mungil itu sudah menghabiskan dua botol minum berukuran sedang.
"Aku sangan gugup."
Sebelah tangan Chanyeol meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya. Memberi anak itu kekuatan. "Tak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Apa menurutmu ini sangat cepat?" Tanya Baekhyun.
"Menurutku, sama-sekali tidak."
Baekhyun menutup mata, dan menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara, menahan beberapa detik lalu menghembuskannya dengan perlahan. Chanyeol hanya tersenyum simpul melihat anak itu, tak henti-hentinya membelai tangan Baekhyun dengan ibu jarinya.
Setelah empat puluh menit menjauh dari pusat kota, mobil Chanyeol akhirnya berbelok ke pagar besar nan tinggi. Tiga security yang berjaga lantas membuka pagar setelah mengenali mobil tersebut. Baekhyun melihat kesekeliling jalan dipenuhi pohon-pohon tinggi, dan dari kejauhan dapat dilihat bangunan besar bergaya rumah tradisional Korea. Setelah seratus meter melewati jembatan kecil yang dibawahnya ada sungai buatan dengan air jernih, mobil akhirnya berhenti di depan rumah bergaya hanok tesebut. Sekelebat pikiran terlintas di kepala Baekhyun, 'Seberapa luas tanah tempat rumah ini berdiri, Jarak bangunan utama dengan pagar saja bisa memakan waktu beberapa menit.'
Sekali lagi, Baekhyun menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Kedua tangannya berada di depan dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang semakin berdetak dengan kencang.
"Kau siap?"
Baekhyun menatap mata Chanyeol, mencari kekuatan dari tatapan pria tinggi itu, lalu mengangguk dengan yakin.
"Mereka akan menyukaimu, percaya padaku." Ujar Chanyeol, mengecup kening Baekhyun kemudian turun dari mobil, diikuti oleh pria yang lebih mungil.
Keduanya berjalan memasuki rumah setelah melewati tiga anak tangga. Mengetuk pintu dua kali, Chanyeol mendorong pintu utama di ruang tamu. Berbeda dari luar yang terlihat tradisional, ruangan di rumah ini memiliki interior klasik modern dengan nuansa putih tulang. Setiap perabot berada di posisi yang pas. Beberapa vas berisi bunga segar tersebar di setiap sudut, sehingga indra penciuman dimanjakan dengan wangi bunga.
Tidak ada siapa-siapa yang menyambut mereka, lalu tangan Chanyeol menarik Baekhyun dan melewati ruang tamu menuju ke salah satu pintu geser yang selurus dengan pintu utama. Angin dingin menerpa wajah Baekhyun, rumah ini ternyata memiliki taman di tengah-tengah rumah yang tidak beratap, jadi sinar matahari dan udara bisa masuk secara langsung.
Baekhyun terus mengikuti Chanyeol berjalan di selasar yang menghubungkan tiap ruangan dan mengelilingi taman itu. Selasar tersebut merupakan akses untuk ke setiap ruangan di rumah ini. Keduangan melewati beberapa pintu, hingga sampai ke sebuah ruangan dengan sofa putih yang di tengahnya terdapat meja dengan berbagai tangkai bunga berserakan di atasnya. Di salah satu sofa single, seorang wanita duduk dengan anggun sambil memegang setangkai mawar di salah satu tangannya dan gunting di tangan yang lain.
"Mom, aku datang." Ujar Chanyeol, menarik perhatian ibunya. Wanita cantik itu tersenyum dan berdiri, tak lupa melatakkan benda di kedua tangannya. Chanyeol memeluk nyonya Park dan mencium kedua pipinya, sepertinya itu kebiasaan Chanyeol saat bertemu ibunya, pikir Baekhyun. Selanjutnya, wanita yang masih tersenyum itu menyapa Baekhyun yang akan membungkuk, tapi tangannya lebih dulu ditarik Nyonya Park lalu memeluknya. Wanita anggun itu meraih wajah Baekhyun, tingginya yang hanya sebahu Baekhyun, membuatnya berjinjit dan berusaha mengecup kedua pipinya.
"Selamat datang." Ujarnya dengan senyuman manis, tangannya membelai wajah Baekhyun sebelum kembali duduk di tempatnya, diikuti oleh Chanyeol dan Baekhyun. Nyonya Park mengambil cangkir dari meja kecil di sampingnya, lalu menuangkan teh chamomile, kemudian meletakkannya di hadapan Baekhyun. "Di rumah ini hanya ada teh, anak-anakku jarang berada di rumah, jadi kita tidak pernah menyediakan minuman yang sesuai dengan selera mereka."
"Tidak apa-apa Nyonya, saya meminum segala jenis minuman." Nyonya Park hanya mengangguk.
"Mom, Ayah dimana?" Tanya Chanyeol.
"Disana." Tangan wanita itu mengarah pada jendela kaca yang memperlihatkan halaman luas. Dari jauh dapat dilihat seorang pria berdiri di sebuah gazebo yang berada di tengah danau. Tangannya sesekali mengambil sesuatu di sebuah wadah lalu melemparnya ke danau tersebut. Sepertinya memberi makan ikan-ikan. "Matahari hampir terbenam, dia akan segera kembali."
"Baekhyun?" Pria mungil itu hampir tersedak saat tiba-tiba nyonya Park memanggilnya. Tangannya perlahan meletakkan cangkir teh, lalu menatap wajah cantik itu. "Kau bisa merangkai bunga?"
"Saya hanya melakukannya sekali, saat ulang tahun ibuku dua tahun lalu. Setelah itu, saya tidak pernah mencobanya lagi." Baekhyun menjawab dengan senyum canggung.
"Kalau begitu, coba rangkai untukku." Nyonya Park mengeluarkan vas lengkap dengan flower sponge di dalamnya. "Bunga yang dirangkai Seulgi disana sudah hampir layu." Jarinya menunjuk vas yang berada di meja sudut ruangan. "Kau bisa membantuku?"
"A-akan saya coba,"
"Bunga bisa dijadikan media untuk berbicara atau mengungkapkan sesuatu. Setiap bunga memiliki arti masing-masing. Terkadang, setangkai dengan dua tangkai bunga mawar memiliki makna yang berbeda."
"Hehe.. Maaf Nyonya, saya tidak mengerti dengan makna-makna bunga." Dalam hati Baekhyun mengutuk dirinya. Chanyeol tidak mengatakan harus mempelajari arti-arti bunga sebelum bertemu ibunya. 'mampus kau Baekhyun, nilaimu berkurang.'
"Kalau begitu, bunga apa yang kau sukai?" Wanita cantik itu bertanya.
Sesaat, Baekhyun terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. "Saya tidak tahu, Nyonya." Jawaban Baekhyun membuat alis wanita itu berkerut. Dengan segera, Baekhyun menambahkan, "Menurut saya, setiap bunga memiliki keindahan tersendiri, tidak peduli arti atau maknanya apa, bunga tetap bunga, mereka tetap cantik. Jadi sulit bagi saya menentukan bunga kesukaan saya, karena terkadang saya bisa menyukai segala jenis bunga. Bulan lalu saya menyukai mawar hitam, dan saat ini saya menyukai anggrek hitam."
"Apa kau tipe orang yang mudah bosan?"
'Baekhyun Sialan, sepertinya kau salah bicara.' Baekhyun kembali mengutuk dirinya.
Chanyeol menyeringai melihat Baekhyun yang sepertinya kewalahan, "Mom, Aku lelah, sepertinya Baekhyun juga harus istiahat." Ujar Chanyeol. Dalam hati Baekhyun mengucapkan ribuan terima kasih.
"Apa Baekhyun yang menyetir?"
"...?"
"Biarkan Baekhyun menyelesaikan rangkaian bunganya dulu."
Chanyeol hanya mengedikkan bahu, menyerah begitu saja. Punggungnya dibiarkan bersandar di sofa dan memejamkan matanya. Tangannya meraih pinggang Baekhyun dan membelainya. Maksudnya agar Baekhyun bersabar menghadapi ibunya.
"Jadi, Baekhyun, Apa kau tipe orang yang mudah bosan?" Rupanya pertanyaan itu masih berlanjut.
"Bukan begitu nyonya," Baekhyun meraih beberapa tangkai daun dan memulai menancapkan tangkainya pada flower sponge, "kita berbicara mengenai bunga." Baekhyun mengambil beberapa tangkai bunga, dengan sembarang. Dia tidak tau bunga apa yang diambil, dia hanya berpikir untuk menyelesaikan ini secepatnya. "Seseorang pernah mengatakan, bunga yang tumbuh di lumpur, bunga yang tumbuh di pinggir jalan, bunga yang tumbuh di tempat sampah, mereka tetap disebut bunga. Aku menyukai mereka semua, dan tidak membedakan mereka berdasarkan maknanya." Lanjutnya. "Dan saya rasa, bunga-bunga itu tidak ada hubungannya dengan perasaan bosan saya. Saya menyukai bunga mawar hitam, lalu menyukai anggrek hitam, bukan berarti saya tidak menyukai mawar hitam lagi." Baekhyun mengambil setangkai bunga lily berwarna putih, lalu menancapkan tangkainya di tengah-tengah rangkaian bunganya.
"Selesai!" Seru Baekhyun.
Nyonya Park memerhatikan rangkaian itu, setangkai lily putih yang berdiri di tengah, lalu dikelilingi oleh mawar merah yang jika diperhatikan ada dua belas tangkai, dan dipermanis oleh lavender serta daun-daun kecil sebagi bingkai. Wanita cantik itu tersenyum, kemudian menatap Baekhyun dan terkekeh.
"Maaf, Aku hanya bercanda." Jantung Baekhyun rasanya ingin melompat keluar. Bercanda katanya? Padahal dia sudah memikirkan jawaban yang masuk akal dengan sangat hati-hati. Jika Luhan ada disini, kemungkinan dia akan muntah.
"Chanyeol, Bisa kau ambilkan vas itu," Nyonya Park menunjuk rangkaian bunga milik Seulgi, "Ganti dengan yang ini." Dan memberikan vas berisi rangkaian bunga karya Baekhyun. Chanyeol bangkit dan melaksanakan perintah ibunya.
"Sudah selesai?" Tanya Chanyeol, yang di-iyakan oleh ibunya. "Kalau begitu, aku ke kamar." Ujarnya lalu meraih tangan Baekhyun. Pria mungil itu sedikit membungkuk dan mengikuti Chanyeol.
Setelah memasuki kamar Chanyeol, Baekhyun langsung menghempaskan tubuhnya di kasur. Dia telentang dengan kedua tangan berada di dadanya, berusaha menetralkan napasnya yang memburu, seakan-akan baru selesai lari marathon. Chanyeol duduk di sisi kepalanya dan dengan lembut membelai rambutnya.
"Aku baru menghadapi ibumu. Bagaimana aku akan menghadapi ayahmu?"
Chanyeol menunduk dan mengecup kening Baekhyun, "Seperti kau menghadapi ibuku."
"Huh? Apa kau tidak lihat tadi, aku hampir kehabisan napas."
"Setidaknya orang tuaku tidak menggigitmu."
Baekhyun berdecak mendengarnya, lalu memejamkan mata mencoba untuk tidur. Jantungnya harus istirahat sejenak sebelum menemui ayah Chanyeol. Tangan pria itu membelai lembut rambut Baekhyun, hingga anak itu tenggelam di alam mimpi. Senyum tak meninggalkan wajah tampannya melihat mata sabit itu terpejam. Suara halus lolos dari bibir mungilnya membuat Chanyeol terkekeh. Rupanya Baekhyun benar-benar kelelahan. Chanyeol sekali lagi memberikan kecupan di kening pria mungil itu, lalu bangkit dan keluar kamar, menemui ayahnya.
…
Baekhyun merasakan sesuatu yang lembut dan lembab menekan wajahnya berkali-kali. Bibirnya seakan ditarik lalu merasakan benda berlendir berusaha menerobos masuk mulutnya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan menemukan wajah Chanyeol sangat dekat dengannya. Mata pria tinggi itu menatap langsung matanya, dan perlahan menyipit seakan tersenyum. Baekhyun dapat merasakan gigitan Chanyeol di bibirnya dan lidahnya bermain-main di mulutnya. Cara nakal untuk membangunkan seseorang.
Lengan Baekhyun terangkat dan mengalung di leher Chanyeol. Menarik wajah pria tinggi itu agar lebih dekat dengannya, memperdalam ciumannya. Hanya beberapa detik setelahnya, ketukan terdengar dari arah pintu, diikuti suara seorang wanita.
"Tuan Chanyeol, makan malam sudah siap. Tuan dan Nyonya sudah menunggu." Maid tersebut meninggalkan pintu kamar tanpa menunggu balasan dari Chanyeol.
"Bangun!" Chanyeol bangkit dengan menarik kedua tangan Baekhyun.
"Tunggu, aku harus membersihkan wajah dan merapikan pakaianku." Ujar Baekhyun lalu melangkah menuju kamar mandi, sementara Chanyeol menunggu dengan sabar.
Setelah memasuki ruang makan, mata Baekhyun langsung tertuju pada Tuan Park yang duduk di ujung meja makan, di sisi kanannya, Nyonya Park duduk dengan anggun. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu yang lucu, terlihat dari Nyonya Park yang tertawa. Hingga perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Chanyeol dan Baekhyun. Nyonya Park seperti biasa, tersenyum menyambut mereka, sementara Tuan Park hanya diam menatap Baekhyun. Pria mungil itu tidak dapat mendeskripsikan tatapan itu.
Chanyeol mengambil tempat di sisi kiri Tuan Park, berhadapan dengan ibunya, lalu Baekhyun ikut duduk di samping kiri Chanyeol. Beberapa maid masuk membawa berbagai jenis makanan khas Korea dan meletakkannya di meja makan.
"Di rumah ini kita terbiasa makan tanpa hidangan pembuka, Baekhyun apa kau tidak keberatan?"
"Sama sekali tidak, Nyonya." Wanita cantik itu mengangguk. Baekhyun sibuk mengamati setiap sudut ruangan, untuk menghindari tatapan Tuan Park yang sedari tadi menatapanya.
"Jadi, Baekhyun?" Baeknyun tersentak mendengar suara berat dari tuan Park di ujung meja sana. Perlahan-lahan kepalanya menoleh, bersiap untuk di eksekusi. Setelah menghindari tatapan itu, pada akhirnya Baekhyun harus menatapnya. "Apa pekerjaanmu?"
'Apa sudah dimulai, cara keluarga kaya menyaring calon menantunya?'
"Akhir-akhir ini saya membantu ibu saya di toko roti, Tuan."
"Oh! Aku ingat, Bherry. Aku sangat menyukai strawberry cheesecake disana." Ujar Nyonya Park tiba-tiba. "Aku ingat kau berteman dengan anak Nyonya Do, mereka memiliki restaurant yang membuat Kyungsoo mahir memasak. Sepertinya kau juga mahir membuat kue."
Dari sekian banyak pertanyaan, mengapa harus itu yang ditanyakan. Wanita cantik itu seakan tahu kelemahannya. "Saya masih belajar, Nyonya."
"Saat makan malam minggu lalu, Seulgi mengatakan sesuatu." Ujar Tuan Park.
Jantung Baekhyun seketika berpindah ke tenggorokan. Napsu makannya perlahan menghilang. Tangannya mencari pegangan pada Chanyeol dan mencengkeram paha pria tinggi itu. Chanyeol terkejut dan bingung akan aksi Baekhyun itu, tapi tangannya terangkat dan membelai lembut punggungnya.
"Seulgi mengatakan jika dia bertemu dengan kekasih Chanyeol. Aku tidak percaya padanya, karena anakku belum mengatakan apa-apa. Tapi, melihat Baekhyun datang kesini, apa papa boleh bertanya, kalian memiliki hubungan yang seperti apa?"
Baekhyun baru tersadar jika Chanyeol belum memperkenalkan dirinya secara resmi. Orang tua Chanyeol mungkin mendengar kata-katanya beberapa waktu lalu. Saat dirinya dengan bangga memamerkan Chanyeol di hadapan orang tua Luhan dan Kyungsoo. Apa yang dipikirkan orang ini tentangnya saat melakukan hal konyol itu.
"Dad, apa kau ingat? aku pernah mengatakan, jika aku menemukan seseorang yang membuatku tertarik, aku akan memulai hubungan serius dengannya. Dan aku memegang kata-kataku. Aku ingin mengencani Baekhyun, dan kalian pasti tahu tujuannya untuk apa. Aku harap kalian menerima pilihanku."
Baekhyun tidak melepas attensinya dari Chanyeol. Pria tinggi itu dengan percaya diri menumpahkan semua kalimatnya. Mata tajamnya bergantian menatap kedua orang tuanya, berusaha meyakinkan mereka. Jantungnya berdetak sangat kencang, tapi berbeda dari sebelumnya, ada perasaan senang di dadanya, seakan perutnya penuh dengan kupu-kupu. Dia belum pernah berada di posisi ini dan dipelakukan seperti ini sebelumnya. Rasanya seperti lamaran, tapi bukan lamaran.
Tangan Tuan Park menepuk bahu anaknya. "Dari dulu aku selalu percaya dengan pilihanmu."
'Apa tuan Park setuju?' batin Baekhyun.
Tiba-tiba Baekhyun dikejutkan oleh Nyonya Park di depannya yang bertepuk tangan dengan heboh. "AKHIRNYA!" Wanita itu bangkit dan berjalan ke arah Baekhyun. Memeluk lehernya dari belakang, serta kecupan di kedua pipinya. "Terima kasih." Ujarnya lalu berpindah memeluk leher putranya. "Aku pikir kau akan menghabiskan hidupmu dengan pekerjaan. Akhirnya aku bisa bernapas lega." Baekhyun seketika ingat dengan reaksi Seulgi sebelumnya.
"Sayang, ayo duduk, aku sudah lapar." Tuan Park menarik istrinya.
"Kita harus merayakan ini." Dengan patuh wanita itu kembali ke tempatnya. Memulai menyantap makanan di meja yang hampir dingin. Wanita itu tak lupa memberikan Baekhyun beberapa makanan ke nasinya.
"Terima kasih, Nyonya." Kata Baekhyun, yang membuat Nyonya Park terdiam.
"Mulai saat ini, kau bisa memanggilku Mama!" Giliran Baekhyun yang membeku, menatap mata wanita itu, meminta kepastian. Sementara ibu dari Chanyeol tersebut mengangguk meyakinkannya, yang dibalasnya dengan senyuman yang paling manis.
…
Dalam perjalanan pulang, Baekhyun bersenandung tanpa henti dengan senyuman lebar di wajahnya yang masih bertahan. Dia tidak menyangka akhirnya dia bisa melewati hari ini. Selama seminggu jantungnya berdetak abnormal hingga hari ini, akhirnya dia bisa bernapas dengan lega.
"Kau bahagia?"
"Tentu saja! Beberapa hari yang lalu aku tidak tenang, bahkan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku pikir orang tuamu seperti kebanyakan orang-orang kaya yang menginginkan putranya menikahi putri dari rekan bisnisnya, untuk membangun kerajaan bisnis dan melahirkan anak yang akan meneruskan bisnis. Terus memberikan uang …"
"Imjinasimu terlalu liar." Chanyeol langsung memotong kalimat Baekhyun, sebelum imajinasinya terlalu jauh.
"Aku melihat yang seperti itu di drama-drama kesukaan Kyungsoo."
"Dari awal sudah kubilang, kau harus bertemu dulu, baru menarik kesimpulan. Mereka bukan orang tua yang seenaknya mengatur hidup anak-anaknya."
"Kau benar, aku mencintai mereka."
Sebelah alis Chanyeol terangkat tinggi. "hm? Bukannya kemarin kau takut?"
"Aku berubah pikiran." Jawab Baekhyun.
"Terserah."
"Kau harus tinggal di tempatku malam ini. Kita juga harus merayakannya." Lanjut Baekhyun dengan antusias. Tangannya yang tidak sopan sudah berpindah di selangkangan Chanyeol.
Chanyeol menyeringai, "Tidak mungkin ku tolak." Katanya dan semakin mempercepat laju kendaraan. Bersiap untuk menyambut malam yang panjang dan panas.
…
To be Contonued
