Sun for The Dark
.
.
.
By cherry aoi
Discalimer : Sampai kapanpun Naruto cuma punya Masashi Kishimoto.
Genre : Supernatural, Fantasy
Rated : T
AU, Alternative Universe
Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.
Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.
.
.
.
Ada banyak makhluk di dunia ini jika kau melihat dengan lebih seksama, mungkin saja makhluk yang kau anggap mitos belaka justru melindungimu dari berbagai masalah.
Udara terasa lebih menusuk kulit, seolah ingin merobohkan para manusia yang masih saja terjaga meskipun malam kian larut. Bulan sabit yang menempati singgasananya di atas langit tampak melengkungkan senyumnya yang malu-malu, tertutup awan-awan tipis yang menghalangi sinarnya. Suara hewan-hewan malam saling bersahutan membentuk simfoni yang mengisi indra pendengaran, suara lolongan mendominasi nyanyian malam seolah tengah memperingatkan para manusia akan sesuatu. Sesuatu yang sebaiknya dihindari.
Sepasang mata itu terbuka menampakkan sorot tajam dan berwarna orange, pupil mata yang berada di tengah tampak menipis sehingga menyerupai jarum. Mata itu menatap tajam sosok dihadapannya yang tengah terduduk sambil menahan sakit, liquid merah kental mengalir dari ujung bibir sosok itu membuat si pemilik mata menatapnya remeh. Seolah sosok itu tak berharga untuk dilihat.
"Dasar iblis," umpat sosok yang tengah terduduk itu, rambutnya yang berwarna keputihan tampak berantakan bahkan kaca mata yang biasa ia pakai sudah retak di bagian tepinya. Ia menatap pemilik mata orange itu dengan tatapan penuh benci dan amarah.
"Seperti kau bukan iblis saja, memeras rakyat, mencuri uang mereka, menjual gadis di bawah umur. Apa kau pikir kau bukan iblis, Tuan Yakushi Kabuto?"
Sosok yang dipanggil dengan nama Kabuto terdiam di tempat, tak menyangka semua rahasianya diketahui oleh orang dihadapannya. Cukup mengherankan bagi Kabuto, bagaimana bisa orang yang bahkan tak dikenalnya mengetahui seluk beluk pekerjaan 'sampingannya'. Apakah orang ini seorang mata-mata? Atau dia pembunuh berdarah dingin? Entahlah yang jelas Kabuto bisa melihat dengan jelas niat orang dihadapannya melalui mata tajam yang tengah menatapnya.
"Kenapa? Apa kau heran aku bisa tahu sedetail itu?," nada suara orang itu terkesan meremehkan. Seringai jelas tercetak pada wajahnya yang mirip rubah itu, entah mengapa Kabuto seperti melihat sosok iblis ketika melihat seringainya.
"Cih, apa maumu sebenarnya, hah?"
"Menghukummu atas nama negara, tentu saja itu yang akan ku lakukan," balasnya dengan sorot mata yang dingin.
"Memangnya kau pikir siapa kau? Seenaknya saja menghukum orang lain! Apa kau adalah Tuhan?," teriak Kabuto yang mulai kalap, pria itu tak ingin mati secepat ini. Masih banyak hal indah yang menunggunya di luar sana dan dia tak ingin terjebak dengan kematian yang ditawarkan orang dihadapannya.
"Aku? Aku hanya malaikat kematian yang akan mengantarkan nyawamu ke neraka paling dasar," balasnya sambil menodongkan sebuah revolver berwarna hitam dengan ukiran berbentuk naga pada pegangannya. Moncong senjata itu tepat mengarah pada kepala Kabuto, sekali tekan bisa dipastikan kepala pria itu akan pecah.
"Semoga kau dikirim ke neraka, Yakushi Kabuto," ucapnya sebelum menarik pelatuk revolver.
Sunyi, tak ada suara tembakan yang terdengar karena revolver milik sang pembunuh sudah dipasangi alat peredam suara. Seringai sang pembunuh kian terlihat kala ia menatap tubuh tanpa nyawa milik Kabuto dengan kondisi kepalanya yang pecah. Bulan sabit yang menjadi saksi perbuatan si pembunuh kini mulai terbebas dari awan-awan yang menghalangi sinarnya. Sesosok pemuda tampak meloncat dari dinding yang ada di belakang jasad Kabuto, langkah ringannya semakin mendekati si pembunuh seolah tak merasa takut dengan darah yang berceceran di sekitarnya.
"Kau terlalu lama, dobe." Suara dengan nada sarkastis terdengar kala si pemuda buka suara.
"Hehehe, gomen ne, Teme. Akhir-akhir ini aku jarang mendapat misi jadi aku ingin bermain-main sebentar," balas si pemilik iris berwarna orange.
"Kau yang selesaikan, semua ini ulahmu."
"Huh, dasar Teme," yang dipanggil Teme hanya memalingkan pandangannya pada bulan sabit yang menggantung di angkasa. Onyx kelam pemuda itu berubah warna menjadi merah darah dengan tiga titik yang berputar.
"Kenapa kau mengaktifkannya, Sasuke-Teme?," tanya sosok yang kini tengah menikmati sinar bulan yang menyirami tubuhnya, menampilkan sosok pemuda berambut pirang dengan tiga tanda coretan di pipinya. Pemuda itu kini tengah menggumamkan sesuatu yang ajaibnya membuat darah di sekitarnya menghilang menyisakan tubuh tak bernyawa Kabuto yang kembali utuh.
"Entahlah, bulan sabit terlalu indah untuk dilihat dengan mata biasa."
"Haaah, bilang saja kau masih mencari mate mu. Sudah ku katakan dia akan datang sendiri," cerocos si pemuda berambut pirang itu, iris matanya yang semula berwarna orange berubah menjadi warna biru sebiru lautan.
"Sebaiknya kita kembali ke camp, Naruto." Pemuda pirang yang dipanggil Naruto hanya mendecih pelan, mengingat kata camp membuatnya sedikit muak. Pasalnya beberapa hari ini ia hanya bisa berdiam diri di camp tanpa mendapatkan misi apapun, baru hari ini ia mendapatkan misi bersama Uchiha Sasuke.
"Aku masih ingin mengunjungi sebuah tempat, boleh kan?," tanya Naruto, tatapannya yang semula dingin kini berubah menjadi sendu seolah mengingat penderitaan yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Melalui lirikan ekor matanya Sasuke bisa melihat ekspresi Naruto saat ini, pemuda itu menghela nafas pendek seolah tahu misi mereka pasti berujung pada tempat itu.
"Terserah kau saja."
.
.
.
Dua orang sosok pemuda kini tampak berada di depan gerbang areal pemakaman, berbagai jenis nisan bertebaran di atas permukaan tanah. Beberapa bunga yang sengaja diletakkan para pelayat seolah ingin mengubah suasana suram di tempat peristirahatan terakhir, sesekali suara lolongan anjing terdengar membuat bulu kuduk berdiri. Kabut tipis menyelimuti areal pemakaman yang gelap dan sepi, maklum saja sekarang sudah hampir tengah malam. Waktu favorit Naruto untuk berkunjung karena ia bisa bebas bicara tanpa ada orang yang menganggapnya sinting.
"Ku tunggu di luar," pesan Sasuke sebelum Naruto melangkahkan kakinya menuju ke salah satu nisan yang ada di sana. Pemuda berambut mirip durian itu menyusuri deretan nisan dengan berbagai nama, di bawah sana mungkin para penghuni pemakaman sedang diadili atau tengah dihukum atas perbuatannya semasa hidup. Langkah kaki Naruto berhenti di sebuah nisan dengan ukiran rumit yang membentuk sebuah sulur-sulur tanaman, di bawah nisan terdapat sebuah bunga berwarna putih yang tampaknya masih segar.
"Hai, aku datang lagi. Maaf aku jadi sering mengganggumu, tapi kali ini aku sangat merindukanmu," Naruto memulai monolognya sambil meletakkan setangkai bunga mawar putih, tanda cinta sejati.
"Aku harus pergi, si Teme pasti akan mengomel kalau aku terlalu lama di sini. Sampai jumpa, my mate."
Pemuda beriris blue sapphire itu kini berjalan gontai ke arah sahabatnya, si raven yang tengah melipat tangannya di depan gerbang pemakaman. Di sebelah Sasuke sudah ada dua motor sport berwarna gelap yang entah kapan sudah ada di sana.
"Apa ini kiriman dari camp?," tanya Naruto dengan nada tak suka, ia merasa kebebasannya mulai dikekang lagi.
"Hn, kau tenang saja, mereka akan memberikan misi lain untukmu."
"Yakin sekali kau, Teme. Mereka pasti akan mengurungku lagi, dasar orang-orang aneh," gerutu Naruto sambil menaiki sebuah motor berwarna hitam. Sasuke yang ada di sebelahnya tampak menghela nafas menghadapi kelakuan Naruto yang masih saja seperti anak-anak. Seharusnya pemuda bermarga Uzumaki itu sudah tahu apa yang menyebabkan dirinya tidak mendapat misi selama beberapa hari ini, juga tindakan camp yang seolah ingin menahannya.
"Mereka hanya khawatir padamu," Sasuke akhirnya berkata, sejujurnya ia juga mengkhawatirkan sahabat sekaligus rekan kerjanya itu. Bagaimanapun juga mereka sudah bersahabat sejak kecil, pemuda raven itu sudah mengenal Naruto luar dalam dan ia tahu saat ini Naruto bukan sedang marah tapi pemuda itu sedang menanggung luka yang tak bertepi, luka dari kutukan bangsa mereka.
"Aku tahu, bangsa kita yang kehilangan matenya akan menderita luka yang tak bertepi. Kau tidak perlu mengingatkannya."
.
.
.
Suara deruman motor seolah memecah kesunyian malam, sesekali berlomba dengan lolongan serigala gunung. Dua motor sport berwarna gelap kini menuju Dark Forest, salah satu tempat yang paling dihindari di Konohagakure. Tak ada manusia yang mau masuk ke dalam hutan itu, menurut cerita turun temurun yang ada di tempat itu, setiap manusia yang masuk ke dalamnya tak akan pernah ditemukan lagi. Di sepanjang pintu masuk Dark Forest sudah dipagari dengan kawat berduri, banyak papan larangan masuk yang bersebaran. Tepat di depan Dark Forest, dua motor itu menghentikan lajunya. Dua orang penegendara itu mengacungkan sebuah kalung dengan bandul sebuah batu Kristal berwarna hitam pekat, tiba-tiba saja suara gemuruh terdengar dari Dark forest diikuti munculnya sebuah pintu gerbang raksasa dari dalam tanah.
"Selamat, misi kalian sukses besar, Naruto, Sasuke," sebuah suara menghentikan gerakan dua orang yang berniat melangkah memasuki gerbang besar itu.
Sosok pria dewasa dengan rambut perak yang melawan gravitasi tampak muncul dari samping gerbang besar, masker yang ia kenakan menutupi lebih dari separuh wajah dan mata kirinya. Ditangan pria itu ada sebuah buku tebal berwarna putih yang tengah terbuka, sesekali pria itu tampak membaca buku yang ia bawa. Naruto memamerkan senyuman lima jarinya pada sosok itu sementara pemuda di sebelahnya mendecih kesal dengan aksi pencegatan ini. Berbeda dengan Naruto yang tampak senang, Sasuke justru kesal dengan kemunculan sosok dihadapannya ini, sebenarnya ia sangat ingin kembali ke kamarnya dan segera beristirahat.
"Kakashi-sensei! Lama tidak bertemu, kenapa sensei ada di sini?," teriakan toa khas Naruto mulai terdengar membuat Sasuke harus menutupi telinganya jika tidak ingin indra pendengarannya rusak dalam waktu dekat.
"Aku hanya ingin mengunjungi lulusan terbaik camp saja," balas Kakashi sambil tersenyum dibalik maskernya sementara pemuda raven yang ada di sebelah Naruto tampak memandanginya dengan penuh selidik.
"Katakan saja yang sebenarnya, untuk apa Sensei datang ke camp? Bukankah Sensei sudah mengundurkan diri sekitar satu tahun yang lalu?," kali ini si pemuda Uchiha ingin menyambung pembicaraan.
"Aa, seperti biasa, kau memang selalu cepat tanggap ya Sasuke. Aku juga tidak mengerti tapi mereka memintaku kembali mengajar di sini."
Alis pemuda Uchiha itu mengeriyit, setahunya pihak camp tidak pernah memperkejakan kembali para pengajar yang sudah keluar. Apa mereka kembali membuat peraturan baru? Tapi rasanya mustahil para petinggi memutuskan mengubah peraturan yang sudah dijalankan secara turun temurun.
"Ku rasa sensei tahu peraturannya, kenapa sekarang berubah?," kali ini bukan suara milik Sasuke yang bertanya, melainkan sosok berambut pirang yang kini menatap tajam ke arah Kakashi. Sikapnya yang di awal ramah kini berbalik penuh kewaspadaan.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Bahkan ada satu peraturan lagi yang mereka buat."
"…." Dua pemuda dihadapan Kakashi terdiam, menanti penjelasan dari sang guru.
"Kalian berdua akan menjadi tutor tahun ini."
.
.
.
Sinar mentari pagi kini menyinari bumi, menggantikan gelapnya malam yang memenjarakan para manusia di dalam peraduannya. Kicauan burung mengisi kekosongan melodi pagi hari, seolah ikut menambahi semaraknya pagi para binatang mulai bermunculan memulai aktivitas mereka. Udara yang masih bercampur dengan embun membuat suasana pagi bertambah dingin. Beberapa anak berseragam sekolah tampak berlarian sambil tertawa-tawa gembira, berbanding terbalik dengan raut wajah serius yang ditunjukkan oleh para karyawan yang kini berjalan tergesa seolah sedang dikejar sesuatu.
"-nata, Hinata-chan, hei! Kau melamun?," teriakan seorang gadis membuat beberapa orang yang tengah berdiri menunggu datangnya kereta menoleh, menatap tajam si gadis berambut cokelat dengan dua cepolnya. Sementara gadis itu justru sibuk mengguncangkan bahu gadis berambut indigo yang ada di sebelahnya.
"A-ah, gomen ne Tenten-chan. Aku hanya…. hanya sedang memikirkan tugas dari Ibiki-sensei," balas gadis berambut indigo itu, iris lavendernya bergerak-gerak gugup kala mendapati Tenten menatapnya penuh selidik.
"Haaah, kau ini bagaimana, Hinata-chan. Aku sudah mengenalmu sejak kecil, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Katakan saja," desak gadis bercepol itu. Gadis yang dipanggil Hinata itu menundukkan kepalanya, sebenarnya ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa akhir-akhir ini ia sering bermimpi aneh? Mimpi yang sama berulang setiap hari, anehnya lagi hatinya serasa sesak setiap kali mengingat mimpinya itu.
"A-ano, sebenarnya a-aku sering bermimpi aneh akhir-akhir ini," sepertinya Hinata sudah memutuskan akan berbagi cerita dengan si cepol itu. Mungkin saja Tenten bisa membantunya, paling tidak dengan berbagi perasaannya akan lebih baik.
"Mimpi? Mimpi apa?," kejar Tenten.
"…." Gadis beriris lavender itu termenung, ia mengingat kembali mimpi yang tadi malam hadir dalam tidurnya. Selalu sama, sosok pemuda dengan wajah yang tidak terlalu jelas selalu memanggil-manggilnya. Dari suaranya pemuda itu sepertinya benar-benar membutuhkannya. Hanya satu yang paling ia ingat, iris pemuda itu yang sewarna dengan lautan.
"Hei, Hinata-chan. Keretanya sudah datang. Ayo masuk," tangan Tenten dengan sigap menarik lengan Hinata ke dalam lautan manusia yang tengah memasuki kereta. Beberapa kali gadis berambut indigo itu menabrak beberapa orang yang ada di depannya, bahkan seragam yang ia kenakan lusuh akibat perbuatan Tenten yang menariknya.
BRUK
Untuk kesekian kalinya Hinata menabrak seseorang, kali ini suara tabrakan tubuhnya lebih keras dan membuat tubuh gadis itu limbung ke belakang. Iris lavendernya menutup, berusaha meredam rasa sakit yang akan ia rasakan. Sayangnya ia tak merasakan apa pun, tubuhnya seperti mengambang di udara, samar-samar ia mendengar suara jeritan Tenten yang mengkhawatirkannya.
"Kau tidak apa-apa?," sebuah suara mengisi pendengarannya membuat kedua mata itu terbuka mendapati iris biru sewarna samudra menatap lurus pada lavendernya. Hinata merasa seolah tertarik pada dimensi yang tak berujung ketika menatap mata itu, seolah ia berada di samudra yang tepinya tak terjamah.
"Go-gomen ne," suara gadis itu tergagap menjawab pertanyaan si penolong.
"Lain kali hati-hati," balas si pemuda, ia mengembalikan posisi Hinata menjadi berdiri seperti sedia kala.
"Hinata, ayo cepat!," teriakan Tenten kembali menyadarkan Hinata, membuat gadi itu tersentak.
"Maafkan aku, terima kasih sudah menolongku," kata Hinata sambil berojigi, ia benar-benar merutuki kesialannya hari ini.
"Tak apa," balas sosok itu dengan suara datar.
Mengingat Tenten bukanlah gadis yang sabar menunggu, Hinata segera berlari ke arah gadis bercepol itu. Tapi entah mengapa ia begitu ingin menengok ke belakang, ingin menatap mata itu sekali lagi, ada sebersit perasaan aneh yang tak bisa ia mengerti ketika menatap mata itu.
"Siapa dia sebenarnya?"
.
.
.
TBC
.
.
.
Ok, saya bener-bener hobi bikin fic multi chap tapi masih in complete. Entah kenapa ide ini tiba-tiba muncul jadi malah publish fic baru, padahal Our Story masih belum selesai dan idenya stuck T.T
Buat yang mau baca fic ini semoga nggak bingung ya, kalo bingung tanya aja nanti saya jelasin di next chap XD
Silahkan tinggalkan jejak ya… ^^
^^ Review ^^
