Sun for The Dark © cherry aoi
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Genre : Supernatural, Fantasy
Rated : T
AU, Alternative Universe
Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.
Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.
.
.
.
Chapter 2 : Reality
.
.
Ada banyak realita yang terjadi dalam kehidupan manusia, hanya saja kadang realita yang terjadi adalah sebuah ilusi dan yang kau anggap takhayul ternyata adalah sebuah realita.
Gumaman rendah para manusia kini terdengar seperti lebah-lebah pekerja, beberapa dari mereka lebih suka membicarakan hal-hal yang tidak penting, bergosip, menggunjingkan para tetangga, bahkan membual pada setiap orang yang ditemuinya. Sesosok pemuda berambut kuning jabrik tampak berdiri mengamati para manusia dari atas gedung pencakar langit, jaket hitam denga aksen orange miliknya berkibar diterpa angin. Iris blue sapphirenya yang semula terbuka kini bersembunyi di balik kelopak mata. Tampaknya pemuda itu tengah menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
"Sudah lama sekali aku tidak merasakan angin," gumamnya pelan. Ia merentangkan kedua tangannya, mencoba lebih merasakan kehadiran angin yang berhembus.
"Kalau kau ada di sini pasti aku bisa melihat senyumanmu, my mate," tambahnya, sudut-sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman miris. Ia tahu luka yang ia dapatkan sekarang tidak akan pernah sembuh kecuali jika matenya bisa kembali.
Suara dering handphone menghentikan acara melankolisnya, membuat pemuda itu segera mencari sumber suara. Nama Uchiha Sasuke tertera pada layar monitor, pemuda itu mendengus sebal, sahabatnya itu seperti sebuah alarm yang mengingatkannya untuk tidak terlalu terbawa masa lalu yang berujung pada suasana melankolis seperti yang baru saja terjadi. Harusnya ia sudah tak memiliki perasaan, semua yang ada dalam dirinya seharusnya sudah mati bersama kepergian matenya.
"Ya, Teme. Kenapa menelpon?," sapanya dengan nada ceria.
"Kau sudah menemukannya?," balas suara diseberang dengan nada datar, samar-samar terdengar suara tembakan diiringi suara benturan benda tajam.
"Belum, entahlah aku tidak tahu apakah yang kita cari ada di sini. Kau sendiri? Bagaimana misimu?"
Sebuah suara tembakan kembali terdengar, kali ini dibarengi dengan suara teriakan. Tak lama berselang si penelpon kembali menjawab,"Sudah beres, selesaikan tugasmu, dobe."
PIP
Sambungan terputus begitu saja sebelum Naruto sempat membalas kata-kata dari penelpon. Suara decihan keluar dari bibirnya, rupanya kebiasaan sahabatnya yang suka memutus telepon seenaknya masih saja bertahan. Dua mata sebiru lautan itu kembali menatap kumpulan manusia di bawahnya, kakinya kini berpijak pada ujung atap gedung, sedikit saja gerakan bisa membuatnya jatuh dari gedung berlantai dua puluh itu.
"Kita mulai semuanya," ucapnya ambigu seiring hembusan angin yang bertambah kencang.
.
.
.
Mata lavender milik Hinata bergerak-gerak gelisah sedari tadi seolah ada sesuatu yang mengganggunya. Tentu saja gadis bercepol dua yang ada di sebelahnya bisa merasakan keanehan Hinata, Tenten sudah hafal kebiasaan Hinata yang selalu gelisah ketika melewati sebuah bangunan tua yang ada di sebelah sekolah mereka. Ia tahu banyak rumor yang mengatakan bahwa rumah tua itu berpenghuni, bahkan desas-desus yang beredar mengatakan akan terdengar suara biola tepat tengah malam. Sayangnya Tenten bukanlah tipikal orang yang percaya dengan hal-hal takhayul dan ia juga tak ingin sahabatnya terpengaruh hal mistik macam itu.
"Hinata-chan, kau kenapa?," tanyanya ketika mereka sudah melewati rumah tua itu, Hinata masih saja tampak gelisah.
"A-ano, tidak apa-apa Tenten-chan," balas gadis itu sambil memainkan jemarinya, kebiasaannya kala menyembunyikan sesuatu.
Tenten menghela nafas, bosan dengan kebiasaan Hinata yang sering menyembunyikan sesuatu padahal mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Ia bisa melihat kegelisahan yang di alami Hinata meskipun gadis itu tak bicara banyak. Berbeda dengan Hinata yang lebih suka menyembunyikan apa yang ia rasakan, Tenten adalah pribadi yang cenderung meledak-ledak mengatakan apa yang ia pikirkan. Bukankah persahabatan memang saling melengkapi satu sama lain?
"Sudahalah, katakan saja. Kalau aku bisa pasti akan ku bantu," desak Tenten berharap Hinata akan menjawabnya kali ini.
Gadis berambut panjang itu masih saja menunduk, bimbang dengan apa yang akan ia katakan pada Tenten. Ia tak tahu apakah sahabatnya itu akan percaya dengan kata-katanya, menurutnya penyebab kegelisahannya adalah sesuatu yang abstrak dan sulit dipercaya. Hinata sendiri tak mengerti apa yang menyebabkan kegelisahan permanen ketika melewati rumah tua itu, tapi berdasarkan kesimpulan asal ia beranggapan ada sesuatu di dalam rumah itu.
"Se-sebenarnya, aku se-selalu merasakan ada sesuatu yang buruk dari rumah itu," akhirnya Hinata mau menjawab pertanyaan Tenten. Gadis bercepol dua itu mengeriyitkan alisnya, tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
"A-aku tidak tahu tapi sepertinya ada sesuatu yang jahat di dalam bangunan itu," tambah Hinata.
"….." Tenten terdiam sejenak berusaha mencerna kata-kata Hinata, secara fisik rumah itu memang membawa kesan buruk apa lagi dengan berbagai rumor yang beredar tapi bukankah hal-hal seperti itu hanyalah takhayul belaka? Mata gadis itu berulang kali menatap Hinata dan bangunan tua di belakang mereka, seolah mendapatkan sebuah ilham Tenten tersenyum pada Hinata.
"Aku tahu Hinata-chan, kita akan periksa rumah itu. Jadi kau bisa terbebas dari kegelisahanmu setelah tahu tidak ada apa pun di rumah itu. Bagaimana?," tawar Tenten.
"Jangan Tenten-chan, ku rasa itu bukan ide yang bagus," cegah Hinata yang melihat Tenten mulai melangkah mendekati rumah tua. Sayangnya Hinata melupakan fakta bahwa sahabatnya itu bukan pendengar yang baik. Gadis bercepol dua itu kini meninggalkan Hinata yang masih terdiam di tempat, menatapnya dengan pandangan khawatir.
Hinata POV
Aku tidak tahu apa yang ada di dalam rumah itu tapi entah mengapa aku merasakan hal-hal yang buruk jika berada dalam radius yang cukup dekat dengan bangunan tua yang kini terbengkalai. Kadang kala aku merasa seperti diawasi ketika melewati rumah itu, kadang aku juga merasa seperti diikuti. Entahlah, semuanya membuatku bingung. Apakah aku harus masuk ke dalam? Tapi Tenten-chan ada di sana, aku tidak mungkin membiarkannya sendirian.
Dengan semua keberanian yang tersisa, aku melangkahkan kaki menuju beranda rumah itu. Penampilan rumah tua ini memang mendukung rumor yang beredar, selain tak terawat banyak sekali sarang laba-laba yang mengisi sudut-sudut bangunan ini. Sebuah pintu yang terbuat dari kayu masih berdiri dengan kokoh, aneh, bukankah seharusnya pintu itu sudah keropos?
Aku seperti merasakan sebuah peringatan ketika berjalan lebih dekat pada pintu itu, entah mengapa rasanya tubuhku bereaksi dengan rumah ini. Rasanya seperti ada hawa tidak mengenakkan ketika aku berada di bangunan tua ini, aku seperti tercekik dan didera hawa dingin yang begitu menusuk tulang. Kakiku masih berada di luar, aku hanya melongok ke dalam mencari keberadaan Tenten. Sayangnya yang ku temukan hanyalah kegelapan dan udara pengap ketika aku sedikit mengambil nafas.
"Tenten-chan? Tenten, kau dimana?," teriakku dengan volume sekeras mungkin, samar aku bisa mendengar pantulan suaraku tengah membahana di ruangan itu.
"…" Hening, tak ada sahutan atas panggilanku, apakah suaraku terlalu kecil atau Tenten tak mendengarkan? Atau….
"Tidak, hentikan pikiran negative itu, Hinata," kataku pada diri sendiri.
"Siapa kau?," sebuah suara berat membuyarkan semua lamunanku, mengembalikanku pada alam sadar.
Normal POV
"Siapa kau?" Suara itu membuat Hinata menoleh, iris lavendernya bersirobok dengan mata sebiru samudra yang kini ada dihadapannya. Mata itu begitu familiar baginya, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Entah mengapa gadis itu merasa gugup kala menyadari siapa pemilik mata biru itu. Seorang pemuda berambut jabrik dengan tiga coretan dipipinya, pemuda yang sama yang telah menolongnya di stasiun kereta. Pemuda yang mengingatkannya pada mimpi aneh yang tiap malam menghantui tidurnya.
"A-ano, ka-kau siapa?," tergagap dengan wajah yang merona merah, Hinata justru balik bertanya dan membuat pemuda itu mendengus bosan.
"Aku yang pertama kali bertanya, Nona. Jawab saja pertanyaanku," balas si pemuda.
"A-aku Hyuuga Hinata, kebetulan aku lewat di sini dan temanku masuk ke dalam."
"Apa? Masuk ke dalam?," tanya pemuda itu, sepertinya ada nada khawatir yang tersirat dari kata-katanya.
Iris birunya itu mengeras menahan geram kala pemuda itu menyadari sesuatu, tangannya kini terkepal kuat. Iris lavender Hinata menatap mata blue sapphire itu lekat-lekat, berusaha menyimpan setiap detil wajah pemuda dihadapannya. Pipinya makin merona kala pandangan mereka bertemu, ia menyukai mata itu, mata biru yang membuatnya terpesona.
"Kenapa kalian ada di sini? Apa manusia benar-benar bodoh ya?," tanya pemuda pirang itu.
Hinata terdiam mencoba mencerna kata-kata sosok dihadapannya. Manusia? Kenapa ia menyebut Tenten sebagai manusia? Bukankah pemuda itu juga manusia sama seperti dirinya dan Tenten? Atau pemuda itu memang bukan manusia? Lalu dia makhluk apa? Vampir, manusia serigala, atau hantu? Semua makhluk legenda yang dianggap takhayul kini mengisi kepala Hinata.
"A-apa maksudnya? Ka-kau bukan ma-manusia?" Gadis itu sepertinya mulai ketakutan sekarang, orang yang dianggapnya baik dan pernah menolongnya ternyata justru kini membuatnya berpikiran negatif. Selain itu, Hinata juga merasakan sesuatu yang berbeda ketika berada di dekat pemuda itu, semacam aura gelap yang mencekam sekaligus menenangkannya. Ya, entah mengapa Hinata merasa nyaman meskipun pemuda itu mengumbar hawa kelam nan dingin di sekitarnya.
"…." Sosok dihadapan Hinata hanya terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan gadis itu atau mungkin ia juga tak mau menjawab pertanyaan seorang gadis yang baru ditemuinya hari ini.
"Kyaaaa…," sebuah teriakan menghentikan percakapan mereka. Pemuda yang ada disebelah Hinata menajamkan penglihatannya, mengedarkan direksi pandangannya ke seluruh ruangan gelap itu. Sementara Hinata kini semakin cemas dengan keadaan Tenten, ia yakin suara teriakan itu milik Tenten.
"Hei, mau kemana kau?," tanya pemuda itu sambil mencengkeram pergelangan tangan Hinata sebelum gadis itu melangkahkan kakinya.
"A-aku harus menyelamatkan temanku. Lepaskan aku!," volume suara Hinata kian meninggi, terlihat sekali raut khawatir dari wajah ayunya. Pemuda itu tak lantas melepaskan cengkeramannya tapi justru menarik gadis berambut indigo itu agar mengikuti langkahnya. Tangan si pemuda pirang yang bebas kini merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah earphone nirkabel dari sana.
"Le-lepaskan aku, aku harus menolong, Tenten," kata Hinata masih setengah berteriak dan berusaha meronta agar lepas dari tangan si pemuda. Rasa takut dalam hatinya bercampur dengan segala kekhawatiran tentang sahabatnya itu, apalagi semakin ke dalam aura aneh yang ia rasakan sedari tadi kian besar.
"Teme, aku butuh bantuanmu. Ya, sepertinya makhluk itu akan muncul," pemuda itu tampaknya tengah berbicara dengan seseorang melalui earphone nirkabelnya.
"Baiklah, cepat kemari."
Hinata benar-benar tak mengerti dengan pemuda di depannya itu, untuk apa pemuda itu menyeretnya seperti ini padahal Hinata hanya ingin mencari Tenten dan segera pergi dari tempat ini. Haruskah ia kabur dari pemuda ini?
"Jangan mencoba kabur dariku, Hyuuga-san. Itu jika kau masih mau hidup," kata pemuda itu seolah tahu jalan pemikiran Hinata.
"A-apa maksudmu? La-lagi pula aku tak tahu siapa kau," cicit Hinata, pemuda itu benar-benar membuatnya semakin takut sekarang.
"Aku Uzumaki Naruto, sekarang diam dan ikuti aku. Jika kau ingin temanmu selamat jangan mengganggu apa pun yang aku lakukan nanti." Bagi Hinata sepertinya mimpi paling buruk dalam hidupnya akan segera dimulai.
.
.
.
Sebuah kolam berukuran cukup besar menghentikan langkah Naruto dan gadis berambut indigo yang masih tampak bingung, mengabaikan si gadis, pemuda Uzumaki itu mencoba mengawasi tiap sudut ruangan besar itu. Seharusnya penyebab suara jeritan tadi ada di sini dan jika perkiraannya tidak salah maka apa yang ia cari juga ada di tempat ini.
"Se-sebenarnya apa maksudmu Uzumaki-san? Kenapa kita ke sini?," tanya Hinata lagi, rupanya gadis itu belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh si pemuda pirang itu.
Samar-samar pendengaran mereka berdua terisi oleh sebuah melodi yang mampu membuat mereka terdiam di tempat, gadis berambut indigo itu tampak takjub dengan nyanyian yang kini mengisi indra pendengarannya. Berbanding terbalik dengan Hinata, Naruto justru tampak memasang kuda-kuda di depan gadis itu seolah tengah menanti sesuatu. Suara nyanyian itu makin terdengar jelas seiring dengan hawa dingin yang mulai merambat di ruangan itu, ditambah lagi kabut yang entah dari mana mulai memenuhi udara.
"Sudah mulai rupanya, cih, kemana si Teme itu?," gerutu Naruto pelan. Pemuda itu tak menyadari jika gadis di sebelahnya kini tengah menatap kosong ke arah sudut kolam, mata amethyst miliknya seolah hanya tertuju pada satu titik. Perlahan kaki jenjangnya mulai melangkah mendekati kolam besar itu, Hinata terus berjalan seperti sedang dihipnotis.
"Hei, kau mau kemana?," tanya Naruto setengah berteriak ketika menyadari Hinata menjauh darinya, sayangnya gadis itu seperti tak menghiraukan suara pemuda itu. Hinata tetap berjalan lurus ke arah kolam besar, beberapa langkah lagi ia akan sampai ke bibir kolam.
"Cih, sudah ku duga ini pekerjaan makhluk itu," gumam Naruto pelan, pemuda itu setengah berlari menuju Hinata yang masih saja berjalan tanpa tahu apa yang akan menantinya jika ia masuk ke dalam kolam itu.
BRUK
Naruto membenturkan tubuhnya pada Hinata, mereka berdua jatuh berguling-guling di lantai. Kedua amethyst milik Hinata menutup kala merasakan sakit di bagian punggungnya sementara pemuda di atasnya kini tengah bertumpu pada kedua lengannya agar tidak jatuh di atas tubuh Hinata.
"A-argh," erang Hinata yang sepertinya sudah sadar, amethystnya kembali seperti semula. Mata gadis itu melebar kala menyadari posisinya sekarang, tepat dihadapannya kini sepasang blue sapphire tengah menatap amethystnya intens. Rona merah kini merambati wajahnya kala berhadapan dengan si pemilik mata sebiru samudra itu, degupan jantungnya seolah berlomba ingin keluar dari rongga dadanya saat ini.
"Ku kira kau sudah menghabisi makhluk itu, ternyata malah bermesraan di sini," sebuah suara sarkastis membuat Naruto segera merubah posisinya, pemuda pirang itu menatap kesal pada sosok yang baru saja datang. Sosok itu membawa sebuah katana di punggungnya, tangan kirinya menggenggam sebuah shotgun revolver. Tentu saja penampilan sosok itu membuat kedua alis Hinata terangkat tinggi, ia makin tak mengerti siapa sebenarnya dua orang dihadapannya.
"Kau lama sekali, Teme. Lihat makhuk itu sudah menangkap seorang gadis," kata Naruto sambil menunjuk sudut kolam besar itu.
Mata Hinata kian melebar kala menyadari makhluk yang dimaksud oleh Naruto, di sudut kolam sesosok wanita berambut panjang berwajah cantik tengah duduk di tepi kolam. Tubuh Hinata bergetar hebat ketika menyadari bahwa sosok wanita cantik itu bukanlah manusia, memang dari kepala sampai pinggang adalah tubuh manusia tapi dari pinggang ke bawah bukan anggota gerak manusia pada umunya melainkan ekor ikan. Jantung Hinata kembali berdegup kencang, kali ini bukan karena Naruto tapi justru karena wanita setengah ikan itu tengah menarik lengan seorang gadis yang begitu dikenalnya.
"Tenten!," teriak Hinata sekeras mungkin, sayangnya gadis bercepol dua itu sama sekali tak menghiraukan panggilan itu. Tatapan mata Tenten kini kosong, seolah ia dikendalikan oleh wanita separuh ikan itu.
"Percuma, dia tak akan mendengarmu. Siren sudah menghipnotisnya," kata Naruto sambil mengeluarkan sebuah revolver berwarna hitam, lagi-lagi pemuda itu mengejutkan Hinata.
"Siren?"
"Siren adalah wanita setengah ikan dan setengah manusia, normalnya dia hidup di laut dan biasanya hanya menyesatkan para nelayan," tambah Naruto. Sekilas Hinata bisa melihat perubahan pada mata pemuda itu, irisnya bukan lagi blue sapphire melainkan sudah berganti dengan mata berwarna orange yang memiliki tatapan dingin dan tajam.
"La-lalu, kenapa dia bisa ada di sini? Kenapa dia menangkap Tenten?," tanya Hinata bertubi-tubi, ia tak menyangka ada makhluk seperti Siren padahal banyak orang yang menganggapnya tak pernah ada dan hanya menjadi bagian dari legenda. Terlebih lagi Siren seharusnya berada di lautan bukannya berada di rumah tua yang ada di daratan seperti saat ini.
Naruto hanya diam, pemuda itu justru mengisi ulang mazenya dengan yang baru tanpa berniat menjelaskan pada Hinata. Gadis itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apa, sahabatnya seolah berada dalam dimensi lain. Mereka berdua seperti dibatasi dengan dinding tak kasat mata, Hinata hanya bisa menjerit ketika makhluk itu menyeringai sambil berusaha mencekik leher Tenten.
"Sebaiknya segera kita selesaikan, Teme," ajak Naruto pada si pemuda berambut raven.
Dua pemuda itu segera berlari menuju Siren yang masih mencekik Tenten, Hinata hanya bisa menatap penuh tanya sekaligus khawatir pada pemuda berambut pirang itu. Sejujurnya ia masih tak mengerti apa yang tengah terjadi sekalipun Naruto sudah memberi tahu siapa sosok yang kini tengah menjadi objek serangan. Sulit rasanya mempercayai bahwa makhluk dalam mitologi seperti Siren yang dianggap hanya takhayul ternyata benar-benar ada.
TRANG
Suara benda benturan benda logam membuat Hinata mendongak, mendapati sosok pemuda raven yang tengah mengayunkan katana pada sosok Siren. Sayangnya makhluk itu sama sekali tak terluka, hanya ada suara benturan seperti tadi, seolah-olah suara nyanyian makhluk itu bisa membentuk sebuah dinding tak kasat mata yang melindunginya dari segala serangan yang dilakukan dua orang pemuda itu.
"Cih, perisainya terlalu tebal," gumaman rendah terdengar dari pemuda raven yang kini mundur beberapa langkah. Ia memejamkan mata onyxnya sejenak, detik selanjutnya kedua mata itu berubah warna menjadi merah pekat dengan tiga titik berwarna hitam yang berputar cepat.
"Jangan pakai amaterasu, Teme. Aku bisa kena marah jika kau menggunakannya," seru Naruto pada partnernya.
Suara dengusan kesal terdengar dari sosok yang dipanggil dengan sebutan Teme, tampaknya sosok itu tak terima dengan perintah Naruto. Sebagai ganti serangannya tadi, pemuda itu mengeluarkan kilatan listrik dari tangannya, awalnya hanya berukuran kecil tapi lama kelamaan justru makin luas jangkauannya. Hinata bahkan harus mundur beberapa langkah dari tempatnya semula. Pemuda bermata onyx itu mulai berlari setelah sebelumnya memasang kuda-kuda, sasarannya hanya satu, makhluk bertubuh setengah ikan yang kini menjadikan Tenten sebagai tameng. Tatapan kosong dari mata Tenten memantulkan raut khawatir dari wajah Hinata, amethyst milik gadis itu terpejam kala sosok pemuda berambut raven mengarahkan kilatan listrik yang ada di tangannya tepat ke arah Tenten.
BLAR !
Hanya suara ledakan yang terdengar di telinga Hinata, tubuhnya mengigil karena takut. Takut kalau Tenten terluka, takut jika Siren itu masih hidup, ia bahkan merasa takut bila ini adalah kenyataan. Tapi anehnya yang paling ia takutkan jika pemuda berambut pirang yang pernah menolongnya terluka. Sunyi. Tak ada suara apa pun yang terdengar membuat gadis itu membuka amethystnya pelan-pelan. Hanya ada asap yang menyelimuti ruangan itu, samar-samar Hinata melihat tiga siluet berdiri tegap, dua diantaranya seperti siluet dua pemuda yang tadi menolongnya. Sementara satu siluet lagi sepertinya tengah menggendong seseorang.
"Tak ku sangka ternyata kita bertemu lagi," suara Naruto terdengar mengawali pembicaraan.
"Ya, aku juga tak menyangka," sebuah suara asing membalas Naruto. Asap yang ada di dalam ruangan mulai menipis, menampilkan sesosok pemuda berambut cokelat panjang yang tengah menggendong seorang gadis berambut cepol a la bridal style. Iris amethyst milik pemuda melebar kala menyadari ada pemilik amethyst lain selain dirinya, begitu juga Hinata yang menyadari kemiripan di antara mereka berdua.
"Serahkan gadis itu pada kami," perintah si pemuda berambut raven yang ada di sebelah Naruto, di tangan kanannya telah teracung sebuah katana dengan ukiran sepanjang pedangnya.
"Maaf Uchiha, gadis ini milikku. Aku tidak akan menyerahkannya padamu."
"Ke-kembalikan, Tenten-chan!," kali ini bukan Naruto ataupun Sasuke yang memerintah, Hinata yang kini berdiri di samping Naruto lah yang melakukannya. Entah mendapatkan keberanian dari mana, gadis berambut indigo itu berani melakukan hal itu.
"Sebaiknya kau tidak ikut campur, Nona. Aku tidak ingin melukaimu," kata pemuda itu.
"Kembalikan, Tenten!," gadis itu masih saja berkeras, ia kini bahkan berdiri dihadapan pemuda berambut panjang itu, membelakangi Naruto dan Sasuke.
"Sayang sekali Nona, aku sudah memperingatkanmu."
Pemuda yang tengah menggendong Tenten memejamkan matanya sesaat, ketika ia membuka matanya sebuah dorongan tak kasat mata seolah datang ke arah Hinata dan dua pemuda itu. Hinata merasa tubuhnya seperti didorong oleh angin besar agar menjauh dari tempatnya berdiri, tak hanya itu, hawa dingin kian terasa di ruangan itu padahal Siren yang tadi membuat aura tak mengenakan di ruangan ini sudah terkapar tak bernyawa. Pemuda bermata amethyst itu menyeringai mendapati gadis dihadapannya sudah merasakan efek kekuatannya, memang kekuatannya tak terlalu berpengaruh pada dua pemuda lainnya tapi rasanya ia tak perlu melawan mereka berdua.
"Hentikan, Neji. Dia hanya manusia biasa, apa kau tidak malu melawan seseorang yang bahkan tak mengerti apa pun?," tanya Naruto dengan nada meremehkan.
Hinata makin tak mengerti apa yang pemuda itu biacarakan, yang ia tahu ia harus membawa Tenten dari dekapan pemuda itu. Secara instingtif, gadis itu memejamkan kedua matanya, entah berpikir atau justru berdoa untuk keselamatannya dan Tenten. Tiba-tiba saja pemuda berambut cokelat itu merasakan sesuatu yang justru berbalik mendorongnya, kekuatannya seolah hilang begitu saja. Sekarang justru dia yang merasa terdorong dari tempatnya. Ketika Hinata membuka kedua matanya seberkas sinar kecil muncul menerangi tubuhnya, cahaya itu semakin melebar seiring dengan angin yang mulai muncul entah dari mana. Yang Hinata ingat setelahnya hanyalah cahaya yang makin terang dan siluet seseorang yang tengah mengulurkan tangan padanya, entah siapa.
.
.
.
Hinata merasa tubuhnya begitu ringan, kakinya seolah tak lagi berpijak pada permukaan bumi, ia seperti memiliki sepasang sayap yang bisa mengangkat tubuhnya ke udara. Tak hanya itu, ia juga merasakan kehangatan yang nyaman membuatnya terbuai, apa lagi angin sepoi-sepoi yang menerpa tubuhnya seolah semakin memanjakannya. Samar-samar ia mendengar suara bisikan lembut yang memanggil namanya, suara itu terasa begitu familiar walaupun Hinata tak tahu siapa si pemilik suara. Suara panggilan itu seolah menyeretnya menjauhi zona kenyamanan yang tadi ia rasakan.
"Berapa lama lagi dia akan seperti ini?," sebuah suara pria terdengar melalui indra pendengaran Hinata, begitu asing.
"Sebentar lagi, kau lihat sepertinya ia sudah mulai sadar."
Hinata bisa merasakan jemarinya mulai bergerak lemah, matanya mulai bergerak-gerak mencari cahaya. Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka menampilkan sepasang amethyst yang begitu indah, hal pertama yang ia lihat adalah dinding berwarna cokelat tua, seperti kayu. Aroma citrus memenhui indra penciumannya ketika matanya berhasil menangkap sinar-sinar yang ada disekitarnya. Sinar mentari pagi menerobos melalui jendela, sesekali terdengar suara burung yang tengah merait melodi pagi. Seingatnya tempat ini bukanlah tempat tidurnya, apa lagi rumahnya. Tempat ini begitu asing, dimana ini? Kenapa ia bisa berada di tempat ini? Kepala Hinata terasa pusing ketika mencoba bangun dari posisi berbaringnya.
"Ah, kau sudah bangun rupanya," sapa sesosok gadis berambut pirang yang diikat empat, gadis itu kini tengah membelakangi Hinata sepertinya sedang sibuk menyiapkan sesuatu.
"I-ini dimana?"
"Ini rumah kami, Naruto yang membawamu ke sini," ucapnya, ia menyerahkan segelas air pada Hinata. Gadis berambut indigo itu masih mencoba mengingat semua kejadian sebelum ia sampai di tempat ini. Ia pulang bersama Tenten, kemudian mereka masuk ke dalam rumah tua, Siren yang mencekik Tenten dan terakhir pemuda bermata amethyst yang membawa sahabatnya.
"Tenten! Dimana Tenten-chan?," serunya panik, dalam ingatannya ia hanya sempat melihat Tenten dibawa oleh seorang pemuda entah siapa.
Sebuah lengan menepuk bahu Hinata pelan, gadis bermata jade yang ada di samping Hinata tersenyum tulus seolah menenangkan gadis itu. Gadis berambut indigo itu mencoba mengatur kembali nafasnya, ia berusaha menenangkan diri. Perlahan ia mengambil gelas yang disodorkan si gadis pirang, meminum isinya dengan pelan.
"Kau sudah sadar?," tanya sebuah suara yang begitu familiar di telinga Hinata, di sana, di pintu masuk sesosok pemuda bermata sebiru samudra tengah menatapnya.
"Sebaiknya kau jelaskan semuanya, Naruto," kata gadis berambut pirang itu sambil beranjak dari duduknya, meninggalkan Hinata seorang diri bersama Naruto.
"Se-sebenarnya tempat apa ini, Na-naruto-san?," tanya Hinata sambil menunduk, ia masih terlalu bingung untuk bisa memahami semua kejadian yang kemarin ia alami.
"Ikut aku," bukannya menjawab pemuda berambut pirang itu justru menyuruh Hinata mengikutinya.
Hinata mengikuti langkah Naruto keluar kamar, ternyata bangunan yang ditempati Hinata adalah sebuah pondok kayu yang cukup besar. Ketika ia keluar dari kamar, sudah ada sebuah ruangan yang terisi beberapa sofa berwarna hitam dan sebuah meja. Sebuah perapian tampak terisi dengan bekas kayu yang terbakar, di sebelah perapian tertata buku-buku dalam sebuah lemari kaca besar. Tak hanya itu, beberapa pigura yang terpajang tampak mempermanis ruangan itu. Gadis bermata amethyst itu masih mengikuti Naruto, sepertinya pemuda itu menuju ke luar bangunan.
"Kau ada di Camp, tempat tinggalku," kata Naruto. Di hadapan Hinata kini terhampar beberapa bangunan dengan design yang berbeda-beda, ada bangunan bergaya khas jepang, ada yang bergaya eropa, victorian, ada juga yang hanya berupa rumah pohon, bahkan ada bangunan besar seperti sebuah universitas berdiri megah seolah menjadi pusat bangunan lainnya.
"Camp? Aku tidak mengerti."
Naruto mendengus kesal ketika mendengar jawaban Hinata, sepertinya pemuda itu tak terlalu ingin menjelaskan semua hal yang belum Hinata tahu.
"Ini tempat tinggal para agen khusus pemerintah Konoha, kami semacam agen khusus milik pemerintah Konoha," jelas Naruto.
"…" Tampaknya Hinata masih berusaha mencerna semua kata-kata Naruto, gadis itu masih diam di tempatnya sambil mengamati sekeliling.
"Jika kau ingin menyelamatkan sahabatmu, kau harus masuk ke Akademi Shinobi."
.
.
.
TBC
.
.
Ok, pertama balas review dulu :
Hidan cantik
Masalah Sasusaku? Baca aja terus dan Sasusaku akan muncul dengan sendirinya XD. Kalau banyak yang minta akan dicepetin munculnya ^^
Akari Yuka
Makasih udah dibilang bagus :), tapi maaf kalo chap ini mengecewakan m(_ _)m. Naruto dan Sasuke yang sebenarnya udah sedikit dijelaskan di chap ini, tapi masih ada identitias lain dari mereka. Boleh minta reviewnya lagi? XD
Makasih ceritanya udah dibilang keren, semoga chap ini nggak mengecewakan ^^. Maaf juga nggak bisa up date kilat. Reviewnya ditunggu XD
Fran Fryn Kun
Bikin penasaran ya? Berarti author sukses dong XD. Gomen nggak bisa up date kilat karena beberapa alasan, ok ditunggu reviewnya lagi ^^
Moeyoko-chan AndevilavenderS69
Makasih atas koreksian dan favenya XD. Kalo soal typo mohon maklum ya, solanya author bukan orang yang teliti sih, hahahaha #sok bela diri. Maaf juga karena nggak bisa up date kilat. Ditunggu reviewnya lagi ^^
lavender sapphires chan
Siapa Naruto di chap ini uda sedikit dijelasin, tapi nanti akan ada identitas lainnya kok. Matenya Naruto? Siapa ya? Author juga bingung nih #kan lo yang bikin woi! Soal Hinata, Naruto dan matenya tunggu chap depan ya XD. Yosh, boleh minta review lagi? XD
Yukkiteru-sama
Wah jangan dipanggil senpai dong, kan kita sama-sama belajar :) panggil cherry aja deh. Ok, ini uda lanjut ^^. Jangan lupa review ya XD
Cicikun Syeren
Maaf baru bisa up date sekarang, soalnya kehidupan di dunia nyata sedang krisis #sok sibuk. Soal mate bakal dibahas chap depan, soalnya chap ini fokus ke pertemuannya NaruHina dulu. Sedikit bocoran aja nih #authornya ember nih, mate itu pasangan. Review lagi, please XD
yure
Makasih udah dibilang menarik :) review lagi? ^^
Haiiii semuanya, apa ada yang merindukan fic ini? #teriak pake toa. Sebelumnya author minta maaf karena baru bisa up date, padahal sebenernya mau di up date setelah UN. Untuk chapter selanjutnya akan di publish kalau masih ada yang minat baca fic ini dan setelah author selesai UN. Gimana readers? Apakah chap ini sudah menjawab beberapa pertanyaan kalian? Atau tambah bingung? Atau fic ini makin ngaco?
Sekali lagi maafkan author yang otaknya sedang agak nggak beres setelah Ujian Sekolah #plak #sok curhat. Oh iya, author juga minta maaf kalo ada kesalahan dalam mengetik nama para reviewer di atas. Jika ada kekurangan akan diperbaiki di chap depan kalau masih ada yang berminat baca fic ini. Nah, buat para readers yang baik silahkan kembali mereview, boleh mengkritik, kasih saran, protes, flame juga boleh asal logis ya XD yang bingung juga boleh tanya kok ^^.
Ok, silahkan tinggalkan jejak kalian XD
.
.
^^ Review ? ^^
