Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Fantasy

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

.

Chapter 2 : The Academy

.

.

Kadang-kadang aku bertanya-tanya apa arti sebenarnya rumah itu? Apakah tempat dimana kau merasa bahwa tempat itu adalah tempat yang pantas untukmu, atau tempat dimana orang-orang lazimnya tinggal?


Hinata POV

Aku tidak mengerti, jika memang mereka hanya agen pemerintah kenapa mereka bisa melawan makhluk seperti Siren? Apa mereka dilatih untuk melawang mahkluk-makhluk fantasi macam itu? Tapi rasanya manusia normal tidak bisa mengeluarkan kilatan listrik seperti yang dilakukan teman Uzumaki-san. Dan kenapa aku harus masuk Akedemi Shinobi? Aku tidak tahu akademi apa itu, aku bahkan tidak punya keahlian apapun. Semua ini hanya membuatku semakin bingung.

"Akademi akan dimulai besok, sebaiknya kau bersiap sebelum siswa akademi berdatangan," kata pemuda itu.

"Ta-tapi, aku masih tidak mengerti maksud Uzumaki-san. Kenapa aku harus ikut akademi itu? Aku bahkan tidak memiliki keahlian apapun."

"Alasan pertama, yang membawa temanmu bukanlah makhluk sembarangan. Yang kedua kau punya keahlian meskipun aku belum tahu apa itu." Kenapa dia menyebut pemuda yang menculik Tenten dengan sebutan makhluk itu? Apa dia bukan manusia? Dan keahlian apa yang aku punya? Selama ini aku tidak pernah becus dalam hal apapun, selalu gagal di semua hal yang ku kerjakan. Bisakah aku yang selalu dianggap gagal menyelematkan Tenten-chan?

"Apa Uzumaki-san tidak salah? Aku hanya orang gagal, apakah aku bisa menyelamatkan Tenten-chan?," tanyaku, selama ini semua orang selalu menganggapku aneh karena sering menjauhi sesuatu tiba-tiba. Bahkan banyak di antara mereka yang tak menghiraukan keberadaanku, aku hanya dianggap seperti angin lalu.

"Kau tahu, semua orang pernah gagal tapi orang yang mau bangkit dan mencoba lagi bukan orang gagal. Ah, satu lagi, panggil saja aku Naruto."

Saat menatap matanya, entah bagaimana aku bisa percaya bahwa apa yang dikatakannya benar. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku percaya aku bisa melakukan sesuatu, setidaknya ada orang lain yang juga percaya.

Normal POV

Suara derap langkah kaki yang terdengar ketika sepatu beradu dengan lantai kayu membuat dua kepala itu menoleh, mendapati sosok gadis berambut pirang beriris jade yang tengah tersenyum ke arah mereka. Rambut pirang gadis itu diikat empat, sementara tubuhnya dibalut dress berwarna hitam yang panjangnya di atas lutut. Gadis itu, gadis yang tadi pagi Hinata lihat ketika ia pertama kali sadar. Siapa gadis cantik itu? Apakah dia kekasih Naruto? Ah, Hinata heran dengan dirinya yang tiba-tiba ingin tahu segala sesuatu tentang Naruto.

"Baiklah sepertinya kalian sudah bicara, Hinata sebaiknya kau ikut aku. Biarkan bocah rubah ini mengurus rumah," katanya pada Hinata. Decihan pelan terdengar dari pemuda berambut pirang yang ada di samping Hinata.

"Temari-nee, kenapa bukan Teme saja yang beres-beres? Aku baru pulang dari misi," kali ini Naruto terdengar seperti merajuk.

"Hari ini giliranmu, Baka. Jangan mencoba kabur," ucap gadis yang dipanggil dengan nama Temari sebelum menarik tangan Hinata pelan, menjauhi Naruto.

Dua gadis itu berjalan menyusuri kompleks bangunan dengan berbagai gaya, Hinata masih saja berjalan di belakang gadis itu dengan menundukkan kepala. Sungguh, ia ingin tahu apa hubungan gadis pirang itu dengan Naruto. Masih banyak pertanyaan yang menggelayuti pikirannya, termasuk pertanyaan siapa sebenarnya Naruto itu.

"A-ano, sebenarnya Anda ini siapa?," tanya Hinata takut-takut ketika mereka sudah menjauh dari pondok kayu.

"Ah, aku lupa memperkenalkan diri ya. Namaku Sabaku Temari, salah satu agen di sini."

"Aku masih tidak mengerti, ke-kenapa agen seperti kalian bisa mengalahkan Siren?," tanya Hinata dengan suara pelan, ia takut menyinggung Temari.

"Sepertinya Naruto belum menjelaskan semuanya padamu ya, baiklah akan ku jelaskan sambil mencari keperluanmu," balas Temari yang kini kembali menarik tangan Hinata menuju sebuah bangunan besar yang mirip seperti istana Versailles.

Sekalipun dari luar bangunan itu terkesan kuno, ternyata di dalamnya berbeda 180 derajat. Ketika gadis berambut indigo itu masuk, ia langsung disambut beberapa robot yang berukuran sebesar kucing tengah sibuk membereskan ruangan. Beberapa kali ia melihat hal-hal yang tak lazim seperti manusia yang terbang menggunakan sapu, atau kucing hitam yang melayang-layang di udara. Ia makin tak mengerti dengan tempat ini, semuanya terkesan aneh. Bagaimana bisa hal yang dianggap takhayul berkeliaran bebas di antara alat-alat canggih?

"Nah, kita sudah sampai," kata Temari menyadarkan Hinata dari berbagai pikiran yang mengambang dalam otaknya. Di depan mereka ada sebuah pintu penuh dengan ukiran rumit, di kanan dan kirinya ada sepasang penjaga bertubuh mungil mirip dengan kurcaci-kuracaci yang ada di dongeng putri salju. Hanya saja sepasang makhluk mini itu menggenggam senjata laras panjang yang ukurannya normal, tampak lucu ketika melihat mereka.

"Kata sandi," sahut salah satu kurcaci.

"Wind always blows sin."

Ketika kalimat itu keluar dari bibir Temari, kedua pintu itu terbuka menampilkan sebuah ruangan besar dengan berbagai barang yang ada di dalamnya. Ruangan besar itu sudah seperti super market serba ada, bedanya di tempat itu tidak ada bahan makanan atupun barang-barang yang cepat busuk. Amethyst milik Hinata menyelusuri ruangan itu, sepanjang yang ia lihat hanya ada rak-rak berisi gadget, pakaian, senjata tapi ada beberapa rak aneh yang berisi sapu, bola kristal, kertas-kertas bertulisakan huruf-huruf aneh bahkan ada beberapa tongkat seperti yang pernah ia lihat dalam beberapa film bertemakan penyihir.

"Baiklah, Hinata-chan. Sebaiknya kita segera mencari perlengkapanmu," ajak Temari sambil menarik tangan Hinata cepat. Temari membawa gadis itu menyusuri beberapa rak, ia sibuk memilih-milih beberapa pakaian untuk Hinata sedangkan gadis itu masih saja terbengong-bengong dengan tempat ini. Rasanya ia selalu mendapatkan berbagai kejutan sejak bertemu dengan Naruto, mulai dari Siren sampai harus masuk ke Akademi Shinobi. Omong-omong tentang Akademi Shinobi, beberapa pertanyaan kembali mengisi kepalanya.

"A-ano, Temari-san. Se-seperti apa Akademi Shinobi?," tanya gadis itu pada Temari yang masih saja sibuk mengambil beberapa baju dan mencocokannya dengan ukuran tubuh Hinata.

"Akademi Shinobi ya? Ku rasa itu tempat yang menyenangkan. Tenang saja Hinata-chan, kau pasti akan mendapatkan banyak teman di sana, apalagi saat malam perkenalan."

"Malam perkenalan?," ulang Hinata lagi.

"Ya, nanti malam adalah malam perkenalan. Semua siswa akademi akan mendapatkan tutornya masing-masing dan mendapatkan teman sekamar," jelas Temari yang masih tersenyum, sepertinya gadis berkucir empat itu benar-benar menikmati momen kebersamaannya dengan Hinata.

"Teman sekamar? Jadi, a-aku tidak akan pulang?," tanya Hinata lagi, ia benar-benar bingung sekarang. Bagaimana ia bisa masuk ke akademi sedangkan ia belum memberitahu apa pun pada keluarganya, bagaimana jika sang ayah atau adiknya mencarinya? Kepalanya benar-benar pusing sekarang, seharusnya ia tidak mengambil keputusan cepat untuk masuk ke dalam akademi itu.

"Tenang saja, tak perlu khawatir tentang keluargamu. Semua sudah diurus."

"Bagaimana bisa?," tanya Hinata lagi, ia tak terlalu puas dengan jawaban dari gadis bermata jade itu.

"Dalam peraturan kami, tidak ada anggota keluarga atau orang terdekat yang tahu jika kami memiliki identitas lain di sini. Biasanya untuk para siswa akademi akan disediakan android pengganti dalam kehidupan normal mereka."

Android pengganti? Hinata benar-benar takjub sekaligus takut dengan tempat ini. Ia tetap masih tak mengerti organisasi seperti apa yang tengah ia masuki. Anehnya, ia tetap ingin berada di tempat ini, entah karena alasan apa, entah karena Naruto, Tenten atau justru dirinya sendiri. Entahlah, ia benar-benar tak tahu, yang Hinata tahu ia seperti menemukan tempatnya sendiri ketika berada di sini.

.

.

.

Suasana pondok yang tadi pagi sempat ramai karena celotehan Temari kini mendadak sepi, hanya ada satu sosok pemuda berambut pirang dengan mata sebiru samudra yang tengah menatap rerimbunan pohon yang menutupi daerah ini. Pekerjaannya sudah selesai beberapa menit yang lalu, tapi entah kenapa ia ingin tetap berada di pondok dan enggan melangkah ke markas pusat. Ia ingin di sini, di tempat sunyi sambil menikmati hembusan angin favoritnya. Kedua matanya terpejam merasakan hempasan angin pada tubuhnya, ia selalu menyukai angin, entah mengapa ia merasa angin selalu membuatnya tenang terbuai dengan sentuhan lembut sang angin.

"Di sini kau rupanya," sebuah suara berat membuat kedua kelopak mata itu terbuka, menampilkan kembali sepasang blue sapphire yang memandang dedaunan yang kini bergoyang dipermainkan angin.

"Ada apa? Bukankah seharusnya kau ada di markas?"

"Ini juga rumahku, baka. Aku boleh datang kapan saja," lanjut suara berat yang ada di belakang Naruto. Pemuda berambut pirang itu mendengus pelan, memang benar apa yang dikatakan sosok di belakangnya. Pondok kecil ini bukan miliknya seorang melainkan tempat tinggal bersama satuan khusus tempatnya bergabung.

"Seharusnya kau ada di markas pusat sekarang, mereka menunggu laporanmu," tambah suara itu, sesekali bau asap rokok memenuhi indra penciuman pemuda Uzumaki itu.

"Aku sedang malas, Shikamaru-nii. Memangnya aku tidak bisa mendapat libur satu hari?," tanya si pemuda mirip rubah dengan mimik muka memelas membuat sosok pemuda berambut nanas yang sedari tadi bersandar di pintu masuk memutar mata bosan. Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya kala si pemuda berambut nanas melepaskan rokok yang ia hisap.

"Kau ini agen pemerintah, memangnya ada libur untukmu. Mendokusai," gerutu pemuda yang dipanggil dengan nama Shikamaru.

Naruto kembali mendengus, kali ini suaranya lebih keras dari sebelumnya. Ia memang seharusnya tidak membicarakan masalah markas pusat dengan salah satu seniornya yang terkenal jenius ini, percuma saja bicara pada Shikamaru yang ada dia hanya akan mendapat ceramah panjang lebar. Sekalipun Shikamaru terlihat begitu pemalas, pemuda itu sebenarnya sangat berdedikasi pada pekerjaannya sebagai agen.

"Hei, Naruto. Apa kau yakin akan baik-baik saja dengan keberadaan gadis itu?," tanya Shikamaru pelan, terselip keraguan dalam pertanyaan pemuda itu. Pemuda berambut nanas itu takut menyinggung masalah yang cukup sensitive menyangkut Naruto.

"…."

Hening menyelimuti mereka, tak ada jawaban dari Naruto dan tak ada lontaran pertanyaan lainnya dari Shikamaru. Senior Naruto itu cukup mengerti jika pemuda pirang itu tak mau membahas masalah menyangkut gadis berambut indigo yang sempat menggegerkan para penghuni pondok.

Flash back mode on

BRAKK….

Suara pintu depan yang dibuka paksa membuat beberapa kepala yang ada di ruang santai mendongak, mendapati sosok pemuda bermata sebiru samudra tengah menggendong seorang gadis berambut indigo yang tak sadarkan diri. Beberapa pasang mata yang ada di sana terbelalak tak percaya, bahkan sesekali menggosok mata mereka berulang kali seolah mencoba menyelidiki apakah pemandangan dihadapan mereka nyata. Pemuda berambut pirang itu masih berada di depan pintu masuk, kedua bahunya naik turun berusaha meraup oksigen lebih banyak sementara tatapan matanya seolah memerintah sosok-sosok yang tengah berdiri menatapnya untuk segera membantunya.

"Siapa dia, Naruto? Kenapa kau membawanya?," cerocos Temari yang pertama kali menghampiri Naruto dan gadis dalam gendongan pemuda itu.

"Cepat panggilkan Nona Tsunade, mungkin saja ada organ dalam yang terluka!," suara itu membuat beberapa mata menatap heran ke arah Naruto, dalam kepala mereka tengah berkecamuk satu pertanyaan, kenapa Naruto begitu peduli pada gadis yang tengah tak sadarkan diri itu?

"Tenanglah, dobe. Ku rasa dia hanya kelelahan, biarkan Temari-nee saja yang memeriksanya, dia juga healer meskipun bukan kemampuan utamanya," Sasuke yang kini berdiri di sebelah Naruto mencoba memberi saran. Jika boleh jujur, pemuda itu juga sama bingungnya seperti Temari dan yang lainnya. Ia ingat jelas betapa paniknya pemuda berambut pirang itu kala menyadari gadis bernama Hinata itu pingsan setelah di serang oleh sosok pemuda berambut cokelat.

"Bawa dia ke dalam," sebuah perintah meluncur dari sosok berambut nanas yang membuat Temari mendongak, menatap pemuda yang lebih muda tiga tahun darinya.

"Kau akan mengijinkanku menyembuhkannya?"

"….."

Pemuda berambut nanas itu diam tak menjawab, dari sudut matanya ia mengamati Naruto yang masih saja menatap cemas ke arah gadis berambut indigo itu. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Naruto mencemaskan seorang gadis, sepengetahuannya Naruto sudah mengabaikan segala perasaan yang berhubungan dengan lawan jenisnya sejak peristiwa itu, lalu apakah yang dihadapannya ini bukan Naruto?

"Ku mohon, Shikamaru-nii," lagi-lagi pemuda beriris blue sapphire itu membuat Shikamaru semakin meragukan kenormalannya. Naruto yang biasanya tak mungkin akan memohon demi seorang gadis setelah pemuda itu kehilangan gadis paling berharga dalam hidupnya.

"Baiklah."

Flash back mode off

"Entahlah aku tidak tahu, rasanya aku seperti tidak bisa mengendalikan diriku sendiri ketika melihatnya terluka. Bukankah itu tidak normal?," kata Naruto akhirnya, ia memang mengakui keanehan yang dialaminya ketika bersama dengan Hinata. Saat ia bersama gadis itu rasanya semua kenormalan yang ia miliki lenyap seketika, ia seperti bukan dirinya yang biasanya. Naruto sendiri bingung kenapa ia bisa membawa Hinata ke tempat ini bahkan meminta gadis itu untuk masuk dalam Akademi Shinobi.

"Kau harus bertanggung jawab, dobe. Sebentar lagi rapat dimulai," sebuah suara berat nan dingin menginterupsi perbincangan mereka berdua. Sosok pemuda emo berambut raven tengah beridiri di salah satu dahan pohon menatap Naruto dan Shikamaru dengan kedua onyxnya layaknya elang yang tengah mengincar mangsanya.

"Huh, dasar, Teme. Baiklah aku akan segera ke sana," balas Naruto cepat sebelum akhirnya menghilang dalam hitungan detik, meninggalkan Shikamaru dan Sasuke.

"Bagaimana menurutmu Sasuke?," tanya Shikamaru sambil menghembuskan asap rokok untuk kesekian kalinya. Pemuda berambut nanas yang lebih tua dua tahun dari Sasuke itu mencoba mencari tahu pandangan si pemuda raven tentang sahabat pirangnya.

"Mata gadis itu terlalu mirip dengannya, aku merasakan sesuatu akan terjadi," katanya sambil memejamkan kedua matanya, menyembunyikan dua onyx yang mampu menjerat lawannya dalam ketakutan yang luar biasa. Helaan nafas kembali terdengar dari Shikamaru, ia membenarkan perkataan Sasuke. Mata gadis itu memang sangat mirip dengan seseorang dari masa lalu Naruto dan itulah yang menjadi masalahnya, dengan kondisi Naruto yang masih sama setiap harinya belum tentu mereka bisa mengendalikan pemuda itu. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas mereka tahu ada binar dalam blue sapphire milik Naruto ketika ia menatap gadis itu.

.

.

.

Suasana malam di Dark Forest selalu ditemani kabut pekat dan suara hewan-hewan malam, tak jarang suara lolongan serigala terdengar seolah memperingatkan para manusia agar tidak masuk ke dalam hutan. Para manusia yang terlalu menyombongkan keberaniannya dengan memasuki Dark Forest akan melihat siluet-siluet bak zombie yang mencoba menghalau mereka, Dark Forest seperti daerah yang tak ingin terjamah oleh manusia. Tapi, malam ini semua berbeda. Tepat tengah malam suara kendaraan mulai memenuhi hutan yang dianggap angker itu, mobil-mobil mewah dan mobil sport berjejer rapi membentuk barisan. Sosok-sosok berjubah hitam mulai turun satu per satu dari deretan mobil itu, wajah mereka tertutupi tudung berwarna senada dengan jubah mereka.

Sosok-sosok itu berjalan beriringan menuju gerbang Dark Forest, mengabaikan segala tanda peringatan yang ada dan suara lolongan serigala yang makin menjadi-jadi. Mereka berhenti berjalan ketika sudah berada di depan gerbang Dark Forest, perlahan tangan-tangan itu terangkat mengacungkan sebuah lembara berwarna putih dengan tinta emas untuk setiap tulisannya. Bersamaan dengan itu, tanah yang mereka pijak mulai bergoyang, dihadapan mereka tak ada lagi pagar kayu yang tak terawat terganti dengan sebuah gerbang yang tinggi menjulang.

"Selamat datang para calon agen, selamat datang di Akademi Shinobi," sebuah suara berat khas kakek-kakek terdengar, membuat mereka menoleh serentak. Mendapati sosok seorang kakek yang mengenakan jubah dan topi tengah melayang tepat di atas mereka, wajah kakek itu menyiratkan kebijaksanaannya.

"Malam ini adalah malam perkenalan bagi kalian, silahkan ikuti aku menuju ruang pertemuan."

Sosok-sosok berjubah hitam itu mengikuti sang kakek tanpa bertanya, hanya ada suara derap langkah sepatu yang menjadi simfoni malam itu. Tepat dihadapan mereka kini sudah berbaris sekumpulan pria dan wanita berpakaian serba hitam, kakek itu menempatkan dirinya di depan.

"Perkenalkan, aku adalah Hiruzen Sarutobi, kepala Akademi Shinobi. Dan mereka yang ada di belakangku ini, adalah tutor bagi kalian," katanya sambil menunjuk kumpulan pria dan wanita yang berpakaian hitam.

"Lepaskan jubah kalian!," perintah seorang pria berwajah hiu dengan pedang besar yang ada di punggungnya. Mereka mulai menanggalkan jubahnya masing-masing membiarkan sinar bulan menyinari sosok asli mereka. Secara fisik mereka sama seperti manusia biasa, dengan tubuh normal dan alat indra yang lengkap. Tak jarang ada yang begitu rupawan hingga mampu menarik perhatian lawan jenisnya.

"Kau sedang mencari apa, dobe?," tanya Sasuke pelan, pemuda itu cukup tahu sopan santun di acara formal semacam ini.

"….." Tak ada sahutan dari sahabat pirangnya membuat pemuda raven itu mendengus kesal, tak biasanya si pirang itu mengacuhkannya dan sibuk mneyapukan pandangan ke seluruh calon agen. Ah, mungkinkah Naruto tengah mencari gadis itu?

"Kalau yang kau cari adalah gadis itu, dia akan datang bersama Temari."

"Apa? Kenapa begitu, Teme? Bukankah itu menyalahi aturan?," tanya si pirang tak mengerti.

"Entahlah, dewan yang memutuskan seperti itu. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi."

Kedua pemuda itu kembali mengarahkan direksi pandangannya ke arah sosok pria paruh baya yang masih saja berpidato kepada para calon agen. Tatapan mereka jelas berbeda 180 derajat jika dibandingkan dengan para calon agen yang tengah khawatir pada nasib mereka malam ini, para tutor jelas lebih berpengalaman menghadapi malam perkenalan dibandingkan mereka.

"Malam ini kalian akan memilih tutor, bukan kami yang menentukan tapi benang takdir yang akan membawa kalian pada tutor masing-masing," jelas Hiruzen, pria tua itu mengangkat tangannya, seketika itu juga beberapa helai benang merah jatuh di depan para calon agen dan barisan yang ada di belakang Hiruzen. Tak ada yang tahu siapa yang memegang ujung benang itu, bahkan Hiruzen sekalipun. Bukankah sudah dikatakan bahwa tutor mereka ditentukan oleh takdir?

Suara-suara berisik mulai terdengar, ada yang mulai mengeluh, mencoba memprotes, ada juga yang menganggap ini sebagai tantangan. Sementara calon agen mulai berisik layaknya para lebah pekerja, para tutor justru menghilang satu per satu meninggalkan ruangan.

"Hei, kemana para tutor itu pergi?," tanya seorang pemuda berambut cokelat dengan tato segi tiga di kedua pipinya, di sebelahnya seekor anjing putih tampak asik dengan benang-benang merah yang menjulur.

"Ku rasa ini waktunya mencari para tutor," sambung seorang gadis beriris viridian, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, berharap menemukan sesuatu.

"Kenapa tidak memakai kekuatanmu saja, eh, Sakura," balas sosok gadis berambut merah darah dengan kaca mata yang membingkai wajahnya.

"Urusai, Karin. Tidak perlu kau beri tahu, aku sudah tahu."

Gadis yang dipanggil Sakura itu masih mengerucutkan bibirnya sebal, ia masih kesal pada kata-kata rekan berambut merahnya itu. Sementara Karin justru terkikik geli menatap wajah Sakura, gadis itu tak habis pikir bagaimana bisa calon agen macam Sakura masih bisa bertingkah kekanak-kanakan seperti itu. Beberapa calon agen sudah keluar dari aula dan memulai pencarian mereka, sementara Sakura masih berkutat dengan benang di sekelilingnya.

"A-ano, su-sumimasen. A-apa kau siswa akademi?," tanya sebuah suara lembut pada Sakura, membuat kepala merah jambu itu menengadah menatap heran ke arah sosok bermata amethyst dihadapannya.

"Ya, kau juga?," balas Sakura yang mendapati gadis dihadapannya juga tengah membawa seutas benang berwarna merah.

Gadis itu hanya mengangguk cepat, tipe pemalu, itulah yang ada di pikiran Sakura ketika pertama kali melihat gadis berambut indigo itu. Sekalipun pemalu entah mengapa Sakura bisa merasakan sesuatu yang berbeda ketika berada di dekat gadis itu, seperti aura hangat sekaligus lembut ketika ia menatap sepasang amethyst itu.

"Apa kau sudah bertemu tutormu?," tanya Sakura lagi, ia mencoba memulai pembicaraan mengingat gadis di sebelahnya ini pemalu.

"Tutor?" Jawaban gadis itu kontan membuat alis Sakura terangkat tinggi-tinggi, apa gadis ini tidak tahu soal tutor? Sedikit mengherankan mengingat dalam surat undangan semuanya sudah dijelaskan.

"Ya, tutor. Orang yang akan membimbingmu selama di akademi, apa kau tidak tahu?"

Hinata kembali menggeleng pelan, ia memang tidak tahu apa-apa mengenai Akademi Shinobi. Temari hanya sempat memberi tahunya sedikit mengenai malam perkenalan juga sistem di akademi yang mewajibkan para siswanya untuk tinggal di camp, sama seperti para agen. Gadis berkucir empat itu langsung pergi meninggalkannya ketika mereka sampai di pintu gerbang aula, jadilah ia menghampiri Sakura yang paling dekat dengannya tadi.

"Ne, kita belum berkenalan kan, namaku Sakura, Haruno Sakura. Kau?," tanya gadis berambut sewarna musim semi itu pada Hinata.

Hinata POV

Aku merasakan sesuatu yang berbeda dari gadis di sampingku itu, entahlah, aku juga tak tahu apa itu. Haaah, sepertinya kebiasaan anehku kembali muncul. Apakah hidupku harus selalu seperti ini? Selalu merasakan hal-hal aneh dari setiap orang dan kemudian dijauhi karena dianggap aneh?

"A-aku Hyuuga Hinata," balasku cepat. Hei, tunggu dulu, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh lagi sekarang? Tiba-tiba saja aku merasakan hawa dingin yang begitu pekat mendekat, rasanya leherku seperti tercekik karena hawa itu. Apakah gadis di sebelahku ini tidak merasakannya? Atau memang aku yang semakin aneh?

"Sepertinya kau bisa merasakannya ya?," tanyanya pelan sambil menepuk bahuku lembut. Hah? Apa katanya tadi? Kau juga bisa merasakannya? Berarti bukan hanya aku yang aneh?

"Apa kau bisa melihatku?," tanya sebuah suara wanita yang seolah berbisik di telingaku. Aku mengedarkan pandangannya ke penjuru koridor, tak ada orang hanya ada beberapa robot penjaga, lalu itu suara siapa?

"Hei, aku di sini," kata suara itu lagi.

Refleks aku menoleh ke arah kanan, mendapati sosok transparan berambut merah di sebelahnya. Aku merasa bumi yang menjadi pijakanku menghilang kala bersirobok dengan iris ruby sosok itu, tubuhku gemetar karena takut, bagaimana bisa aku melihat sosok seperti itu? Sosok gadis itu sebenarnya cukup cantik, dengan rambut berwarna merah dan iris ruby yang membingkai wajahnya hanya saja tubuhnya yang transparan membuatku tak bisa berkata apa-apa.

"Karin, kau menakutinya, bodoh! Ah, kau bisa melihatnya Hinata-chan?," tanya gadis berambut merah muda yang tampak santai-santai saja dengan penampakan sosok gadis berambut merah itu.

"Ma-maksud, Sakura-san apa?," aku balik bertanya, rasanya begitu aneh ketika mendengar kata-katanya tadi. Ia mengatakannya begitu normal dan efeknya padaku sebaliknya, membuatku benar-benar merasa seperti memiliki seorang teman, dalam artian yang berbeda tentu saja.

"Tenang saja, semua orang di sini juga bisa merasakan kehadiran Karin dan melihatnya. Dia hanya arwah yang tersesat yang sementara ini bersamaku. Omong-omong, kau tahu, Akademi Shinobi adalah tempat untuk orang-orang seperti kita," jelasnya sambil mengamati sekeliling, seolah tengah mencari sesuatu. Sesekali ia memainkan benang merah yang terikat erat di jari kelingkingnya.

Ends Hinata POV

Normal's POV

Gadis berambut indigo itu tampak melebarkan kedua amethyst miliknya kala mendengar pernyataan Sakura, ia seperti tengah mencerna semuanya. Temari memang tak menjelaskan detail yang satu ini, ia sendiri awalnya menduga bahwa Akademi Shinobi hanyalah sekolah untuk para calon agen. Lalu apakah ini jawaban dari segala keheranannya saat berada di rumah tua yang berisi Siren itu?

"Sepertinya kau memang masih belum tahu apa-apa ya, Hinata-chan. Baiklah, aku akan menjelaskannya, lagi pula sepertinya tutorku lebih suka menghilang," lanjut Sakura. Hinata hanya bisa mengangguk cepat, jujur saja ia memang tak tahu apa pun dan membutuhkan informasi selengkap-lengkapnnya tentang tempatnya sekarang berdiri.

"Ne, ini adalah akademi untuk para calon agen. Di sini ada tiga kelas khusus, untuk calon jounin, chunin dan terakhir untuk calon ANBU. Chunin adalah agen junior dan jounin adalah agen khusus, tentu saja kedua kelas itu hanya untuk manusia biasa."

"Ma-manusia biasa? A-apa maksudnya orang-orang normal?," tanya Hinata sambil memainkan jemarinya, ia gugup dengan kenyataan yang akan di dengarnya.

"Aa, untuk mereka yang memiliki sesuatu yang istimewa ada kelas ANBU. Dan kau termasuk ke dalam kelas itu."

.

.

.

Suara daun yang bergesekan karena tertiup angin terdengar layaknya simphoni yang khusus diperdengarkan di malam perkenalan, di antara rerimbunan pohon sesosok pemuda tampak tengah berdiri di salah satu pohon. Sosok berambut raven itu memejamkan matanya khidmat seolah tengah mendegarkan, di jari kelingkingnya terikat sebuah benang panjang yang tak diketahui ujungnya.

"Kau ada di sini rupanya," sebuah suara membuat kedua kelopak mata itu terbuka, menampilkan sepasang onyx kelam yang seolah tak memiliki dasar. Lewat ekor matanya, pemuda itu menatap bosan ke arah bayangan hitam yang melayang-layang di sekitarnya.

"…"

"Merindukan matemu, eh, Sa-su-ke-chan," eja sosok bayangan gelap yang kini ada di sebelah Sasuke. Pemuda berambut raven itu segera mencabut katana yang ia pegang, secepat kilat menusuk bayangan itu tepat di jantungnya. Tak ada suara teriakan yang terdengar, hanya suara daun yang bergersekan yang mengisi kekosongan malam. Bayangan hitam itu perlahan memudar, menampilkan sosok pemuda berambut panjang yang terikat dengan sepasang lekukan di sekitar mata onyxnya. Jubah awan merah yang melapisi tubuh tegap pemuda itu berkibar-kibar ditiup oleh angin malam.

"Baka Aniki."

"Hei, berhenti memanggilku seperti itu, Baka Otouto. Hormatilah Anikimu ini, aku termasuk dewan lho, Sasu-chan," balas pemuda berkucir itu membuat Sasuke memutar bola matanya bosan. Kadang-kadang Sasuke berpikir bahwa pria dihadapannya ini mungkin bukan kakak kandungnya, bayangkan saja, seorang Uchiha Itachi bisa terlihat begitu tidak Uchiha seperti ini.

"Kau belum bertemu calon agen asuhanmu? Ckckckck, kerja yang tidak professional, Sasu-chan," lanjut Itachi sambil berdiri di sebelah sang adik.

"Bukankah mereka yang harus mencari? Sejak kapan aku harus repot-repot mencari? Seperti babby sitter saja," ketus Sasuke. Ya, pemuda bermarga Uchiha ini memang tidak terlalu suka dengan tugas menjadi tutor. Baginya menjadi tutor adalah tugas yang menyebalkan, ia lebih suka dikirim ke sarang yakuza atau kalau perlu menangani beberapa kasus teroris internasional.

"Selalu saja begitu, kau tahu mungkin saja kau akan bertemu matemu di sini. Ya, siapa tahu."

Mate. Mengingat kata itu membuat Sasuke kembali merasakan perasaan yang sama ketika ia berada di depan para calon agen tadi, entah bagaimana jantungnya berdetak melebihi normal seolah siap meloncat keluar kapan saja. Pemuda itu juga merasakan keanehan lain, ia seperti merasakan kerinduan yang begitu dalam sekaligus perasaan nyaman yang menyelubungi hatinya. Menurutnya perasaan itu begitu absurd, tak ada satupun yang ia mengerti.

"Kalau kau sudah menemukannya, jangan pernah biarkan dia pergi darimu," Itachi kini duduk di sebelah sang adik, menatap bulan yang mulai terisi penuh.

"Aku tahu."

Tentu saja dia tahu tentang kutukan bodoh yang menjerat kaumnya dari masa ke masa, ia tidak mungkin lupa itu. Kaumnya yang sudah menemukan mate harus menjaga matenya meskipun matenya tak pernah meninginkan keberadaan mereka. Jika kehilangan sang mate maka akan ada bayaran setimpal yang harus diderita sepanjang eksitensi, luka yang terus menghantui dari waktu ke waktu dan hanya akan sembuh jika sang mate kembali.

KROSAK

Sebuah suara membuat Uchiha Sasuke mengalihkan direksi pandangannya, tangannya sudah siap mencabut katana dari sarungnya. Berbanding terbalik, sang Uchiha sulung justru tampak tak bergerak dan masih menikmati keindahan malam, seolah tak terancam dengan suara yang terdengar.

"Aish, dimana aku sekarang? Ide gila Karin memang tidak bisa di andalkan," gerutu sosok berambut bubble gum yang tengah berjalan di antara rerimbunan semak belukar. Onyx itu mengamati dengan seksama, atensinya tersedot pada sosok merah muda itu. Rasanya seperti menemukan gravitasi yang lebih kuat ketika menatap sosok itu. Ia menggeleng pelan, mencoba mengenyahkan segala pemikiran aneh yang sempat mampir di kepalanya. Ia bahkan tak tahu siapa gadis itu, bisa saja gadis merah muda itu seorang penyusup.

KYAAA….!

Kurang dari satu detik sosok berambut raven itu sudah ada di samping gadis berambut merah muda yang sedari tadi menarik atensinya, lengan kekar pemuda itu begitu pas melingkari pinggang gadis yang hampir saja jatuh ke jurang. Ketika dua mata berbeda itu bersirobok seperti ada sebuah magnet yang membuat keduanya tak melepaskan pandangan masing-masing, tak menjauh tapi justru semakin mendekat.

"Hei, Sasuke, apa yang kau lakukan?," suara Itachi membuat kedua kepala itu menoleh dengan ekspresi berbeda. Ekspresi seperti ingin membunuh dari Sasuke dan ekspresi malu-malu dari si gadis merah muda yang tengah buang muka.

"Hn, aku menolongnya." Sepertinya sifat Uchihanya sudah kembali lagi.

"Aa, arigatou sudah menolongku," kata gadis itu, jika bukan karena Sasuke sudah pasti ia akan kehilangan nyawa sebelum akademi dimulai.

"Ah, lihat, sepertinya kau sudah menemukan tutormu, gadis manis," kata Itachi sambil menunjuk benang merah yang kini memendek membuat Sasuke dan si gadis merah muda harus terus berdekatan. Benang merah itu memang dirancang akan memendek ketika tutor dan calon agen yang terikat bertemu, benang itu juga hanya bisa terlepas setelah tutor dan calon agen asuhannya bertemu.

"Benar! Yatta akhirnya aku menemukan tutor! Aku Haruno Sakura, yoroshiku."

"Hn, Uchiha Sasuke."

"Uhmm, Uchiha sensei, bisakah aku menolong temanku mencari tutornya?," tanya Sakura pada tutor barunya.

"Teman?"

"Ya, namanya Hyuuga Hinata dan sepertinya dia masih awam dengan tempat ini. Lagi pula aku merasakan sesuatu yang berbeda ketika berada di dekatnya," jelas Sakura.

Hyuuga Hinata. Nama itu seperti memberi Sasuke sebuah ide yang menurutnya akan berhasil, gadis itu belum menemukan tutornya dan si baka dobe itu juga belum menemukan calon agen asuhannya. Jika semua hipotesanya soal Hinata dan Naruto benar seharusnya tebakannya kali ini tak akan salah. Dan jika nanti perkiraannya benar mungkin sahabatnya itu bisa menemukan sinarnya lagi, mungkin.

"Baiklah, dimana dia sekarang?," tanya Sasuke akhirnya.

"Ku rasa dia berada di dekat sini, Hinata-chan, kau ada dimana?," teriak Sakura. Gadis itu berjalan sembari berteriak memanggil nama Hinata, meninggalkan Sasuke yang masih setia menatap punggung kecilnya.

"Kau tampakm aneh, Otouto. Kenapa menatap gadis itu terus, eh?," tanya Itachi yang mulai menyadari bahwa sepasang onyx milik adiknya selalu menatap gadis bernama Haruno Sakura itu.

"Entahlah, ada yang aneh saat aku melihatnya."

Sulung Uchiha itu tersenyum ketika mendengar jawaban sang adik, mungkin saja adiknya itu telah menemukan apa yang dicarinya selama ini, ya mungkin saja Uchiha Sasuke telah menemukan matenya. Semuanya masih mungkin karena ada beberapa hal yang harus dibuktikan dan tentunya tak bisa dilakukan sekarang karena Sasuke belum menyadari kemungkinan itu.

"Aku pergi dulu, sampai jumpa saat rapat dewan," tambah Sasuke yang segera pergi menyusul Sakura.

"Menarik. Benar-benar menarik," gumam Itachi pelan sebelum ia menghilang bersama ribuan gagak yang tiba-tiba muncul mengerubunginya.

.

.

.

Hinata masih saja berjalan tanpa arah dan tujuan, ia hanya mengandalkan kakinya yang berjalan entah kemana. Ia terpisah dengan Sakura ketika si gadis merah muda itu merasakan keberadaan tutornya, ia sendiri tak tahu harus mencari ke mana. Tadinya Hinata berencana menelusuri benang merah miliknya, sayangnya menurut Sakura benang itu sudah diberi mantra agar memendek ketika tutor dan calon agen bertemu dan akan tetap memanjang selama si calon agen belum bertemu langsung dengan tutornya.

"Apa tempatku memang bukan di sini?," bisiknya pelan. Tak ada jawaban untuknya, hanya ada suara hembusan angin malam bercampur dengan melodi dari hewan-hewan malam. Tiba-tiba saja tubuh gadis itu menegang kala mendengar sebuah suara aneh, seperti suara gemerisik ketika pasir diterpa angin. Refleks ia bersikap defensif menghadapi berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi, entah mengapa ia merasakan aura yang begitu berbahaya ketika mendengar suara itu.

"Siapa kau?," sebuah suara dingin dari belakang membuatnya berjengit, sejak kapan sudah ada orang di belakangnya? Kenapa ia tidak bisa melihat orang itu datang? Sosok dibelakangnya hanya berdiam diri tanpa melakukan apa pun tapi Hinata merasakan kedua kakinya dililit sesuatu, rasanya seperti sedang dililit ular hanya saja strukturnya terlalu kasar mirip dengan pasir.

"Kau yang siapa?," tanyanya setengah takut, Hinata separuh merutuki dirinya sendiri karena balik bertanya. Seharusnya sekarang ia melarikan diri sejauh mungkin, siapa yang tahu jika ternyata sosok di belakangnya ini seorang penjahat atau mungkin seperti Siren yang tempo hari berniat membunuhnya?

"Kau terlau bertele-tele, Nona. Katakan siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa ada di Camp?"

Camp? Jika orang ini tahu mengenai Camp berarti dia mungkin bukan orang jahat seperti perkiraan Hinata sebelumnya tapi bukankah sedikit aneh jika orang dari Camp tidak tahu bahwa malam ini adalah malam perkenalan para siswa akademi?

"Lepaskan dia Gaara," sebuah suara lain yang cukup familiar di telinga Hinata membuat gadis berambut indigo itu menoleh ke arah kanan. Di sana ia mendapati sosok pemuda berambut pirang yang pernah menyelematkannya dua kali, ah, sepertinya ia kembali diselamatkan oleh pemuda Uzumaki itu.

"Ingin sok pahlawan, eh, Uzumaki," balas sosok itu, lilitan di kaki Hinata bukannya mengendur justru semakin kencang membuat gadis itu meringis sakit karenanya.

"Dia salah satu siswa akademi, Gaara. Malam ini malam perkenalan," kata Naruto lagi, pemuda itu tampaknya tengah mengambil kuda-kuda bersiap untuk kemungkinan terburuk jika sosok di belakang Hinata tak melepaskan gadis itu.

Perlahan lilitan di kaki Hinata mulai mengendur membuat gadis itu refleks berlari ke arah Naruto, ia bersembunyi di belakang punggung Naruto terlalu takut berhadapan dengan sosok yang dipanggil Gaara. Naruto sendiri tampak tak keberatan dengan reaksi Hinata, hal ini jelas membuat dahi Gaara mengeriyitkan dahi sekaligus penasaran. Apa yang terjadi selama ia pergi misi?

"Hinata-chan!," sebuah pekikan membuat tiga kepala itu menoleh mendapati sesosok gadis berambut merah muda setengah berlari menghampiri gadis berambut indigo itu, di belakangnya sudah ada sosok pemuda bertampang stoic, Uchiha Sasuke.

"Sa-sakura-chan," sedikit menemukan keberanian, Hinata keluar dari tempat persembunyiannya. Ia kini beridiri di sebelah Naruto dan bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang tadi menyerangnya, pemuda berambut merah darah dengan tattoo 'ai' di dahinya. Ketika amethyst milik Hinata bersirobok dengan jade milik pemuda itu, Hinata melihat jade itu melebar karena terkejut kemudian tatapannya berganti menjadi tatapan penuh kesedihan bercampur kilatan benci.

"Hei, Hinata-chan, lihat sepertinya kau menemukan tutormu," tambah Sakura, gadis itu seolah mengabaikan atmosfer tak mengenakkan yang tercipta di antara ketiga pria yang mengelilinginya dan Hinata. Ya, ketiga pemuda itu seperti tengah mengeluarkan aura berbahaya milik mereka masing-masing entah untuk alasan apa.

Gadis berambut indigo itu mengangkat kelingkingnya, ia mendapati benang merah yang terikat di kelingkingnya memendek. Amethyst milik Hinata beralih mengamati kelingking pemuda berambut pirang di sebelahnya, bagaimana bisa benang merah di antara mereka terhubung? Sepertinya lagi-lagi ia harus berurusan dengan Uzumaki Naruto.

.

.

.

TBC

.

.

Hai minna, lama nggak ketemu nih XD. Sesuai janji saya kembali up date setelah UN yang untungnya udah lewat, sedikit bersyukur karena nggak mengalami penundaan seperti teman-teman di Indonesia bagian tengah. Yosh, gimana tanggapan kalian mengenai chap ini? Secara pribadi saya masih merasa kurang dibeberapa bagian, semoga readers masih bisa memaklumi kalo ada kesalahan m(- -)m. Silahkan tinggalkan review, saran, kritik apa pun yang membangun. Semakin banyak review maka semakin cepat saya up date, kalau reviewnya dibawah chap kemaren maka semakin lama up datenya. Yosh, segini aja omongan saya XD.

.

.

.

Thanks for

Hidan cantik. Kirana Yumei. kunoichisyafira. Fran Fryn Kun. Riyuni Young. lavennder sapphires chan. Yukkiteru-sama. Cicikun Syeren. yure. Ren'Zt DHy. Hyuna Uzuhi. Arunonymous. Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi. And All silent readers.

.

.

.

^^ Review, please ^^