Balas review dulu ya ^^

hm

maaf baru bisa up date sekarang m(- -)m, ditunggu reviewnya lagi ya ^^

Fran Fryn Kun

Mhmhmh, soal Gaara udah ada hints kan di chap sebelumnya gimana perasaan dia ke Hinata? Buat lebih jelasnya tunggu aja chap depan ^^. Yosh, review again?

Guest

Maaf kalo bikin bingung, saya aja yang nulis juga bingung #plakk. Ok, review? XD

naqyu-qyu-qyu

Maaf sebelumnya kalo bikin nggak ngerti , makasih udah dibilang menarik. Review?^^

Guest

Ini udah ada lanjutannya, semoga bilang suka deh XD. Review? ^^

Izkaa love NH

Maaf baru up date m(- -)m, review ^^?

holmes950

Ini lanjutannya, semoga nggak mengecewakan ya ^^. Review, please ^^

bluerose

Soal mate kejawab di chap ini, terus kalo soal kekuatannya Hinata dan siapa Gaara mungkin ada di chap depan #ini orang gimana sih masa nggak tahu? OK, review? ^^

Yourin Yo

Terbang nih dibilang bagus banget XD. Maaf sebelumnya nggak bisa up date sekilat mungkin m(- -)m dan makasih buat koreksian typonya, saya emang nggak jago dalam hal ketelitian. Yosh, review?

Nyanmaru

Hmmm, kekuatan Naruto ya? Dia emang punya kekuatan tapi bukan kekuatan kaya Kyuubi sih, buat lebih jelasnya ada di chap depan ^^. Sebenernya Itachi sama Kisame bukan tutor mereka itu dewannya kalo Sasuke sama Naruto baru tutor, soal musuhnya di chap ini udah sedikit dikeluarin. Soal Tenten, tunggu aja deh ^^. Review again? ^^

.

.

.

Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Fantasy

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

'blablabla' dalam buku

"blablablabla" percakapan

.

.

Chapter 4 : You're Pandora Box

.

.

Kau adalah sebuah kotak pandora, aku begitu ingin mengetahu semua tentangmu tapi kau seperti membangun sebuah dinding yang tak kasat mata di antara kita. Mungkin semakin lama aku akan semakin tenggelam dalam semua misterimu.


'Camp of Fire. Begitulah nama tempat ini, tempat dimana para agen Konoha berkumpul sekaligus menjadi markas pusat. Selain itu di dalam camp juga ada Akademi Shinobi bagi para calon agen yang akan dididik dalam hitungan tahun, ada tiga kelas di akademi, Chuunin, Jounin dan terakhir Anbu. Anbu dikenal sebagai kelas khusus bagi para pemilik kekuatan istimewa, mereka juga mendapatkan perlakuan dan latihan khusus'

Itulah yang tertulis pada buku yang dibaca Hinata, gadis berambut indigo itu tengah mempelajari seluk beluk organisasi ini. Ia jelas tidak ingin buta dengan segala hal yang berhubungan dengan camp dan Akademi Shinobi, jadilah ia membaca buku tentang sejarah tempat ini yang didapatnya dari Temari.

"Hinata-chan, kau sudah mendapat kamar?," sapa gadis bubble gum yang tersenyum cerah pada Hinata. Memang setelah pencarian tutor mereka beberapa jam yang lalu, Hinata dan Sakura menjadi dekat. Gadis berambut merah muda itu bahkan tampak seperti telah mengenal Hinata sejak lama dan membuat Hinata untuk pertama kalinya memiliki teman selain Tenten.

"Be-belum, bagaimana dengan Sakura-chan?"

"Aku juga belum, hei, bagaimana kalau kita sekamar?," tawar Sakura pada gadis berambut indigo itu cepat, kebetulan dia belum menemukan teman sekamar yang cocok.

"Uhm," balas Hinata dibarengi sebuah anggukan.

Kedua gadis itu berjalan meninggalkan lobby camp sambil tertawa-tawa mengabaikan sepasang mata yang menatap salah satu dari mereka dengan tajam. Mereka hanya belum menyadari tak selamanya Camp of Fire bebas dari bahaya, kadang ada bahaya yang mengintai diam-diam di tempat teraman sekalipun. Bukankah terkadang orang dalam justru lebih berbahaya dari orang luar?

"Sepertinya kau sudah mengenal tutormu," kata Sakura yang tengah merapikan tempat tidurnya, Hinata masih tenggelam dengan buku yang ada ditangannya sejak beberapa jam yang lalu.

"A-aa, karena dia aku bisa ada di sini."

"Benarkah? Kau pasti sangat beruntung Hinata-chan, Uzumaki-sensei salah satu lulusan terbaik di Akademi Shinobi," kata gadis merah muda yang kini duduk di sebelah Hinata.

"Lulusan terbaik?," Hinata kini membeo ucapan Sakura, ia memang masuk ke Akademi Shinobi karena Naruto tapi ia tak mengenal pemuda itu secara mendalam. Hinata hanya tahu bahwa Naruto seorang agen yang telah menolongnya dari makhluk bernama Siren dan sekarang menjabat sebagai tutornya.

"Uhm, ku dengar dia masuk dalam salah satu satuan khusus bersama Uchiha-sensei. Apa kau tidak tahu tentang dirinya?," kejar Sakura, sepertinya gadis beriris viridian itu begitu tertarik membicarakan Naruto dan Hinata. Ia kini seperti tengah mempromosikan pemuda pirang itu pada Hinata, seperti layaknya biro jodoh yang tengah bekerja.

Hinata hanya membalas pertanyaan Sakura dengan sebuah gelengan, ia memang tidak tahu apa-apa mengenai Naruto. Seperti keluarganya, umurnya, bagaimana sifat pemuda itu, ia begitu awam dengan tutornya. Meskipun begitu, sebenarnya Hinata sangat ingin mengetahui semua tentang Naruto, ia begitu penasaran dengan pemuda beriris blue sapphire itu.

"Baiklah, akan ku tunjukkan sesuatu yang menarik padamu."

Gadis berambut sewarna musim semi itu beranjak dari duduknya, ia memejamkan matanya sesaat berusaha berkonsentrasi. Sakura seperti menggumamkan sesuatu ketika sebuah buku melayang-layang menuju ke arah gadis itu, bagi orang biasa tentu kejadian ini mengejutkan tapi toh Hinata tak terlalu terkejut setelah mengalami serangkaian kejadian bersama Naruto. Buku yang tengah melayang itu seperti buku usang yang tak pernah tersentuh, ujung-ujungnya bahkan sedikit menguning. Dalam hitungan detik buku itu sudah jatuh di tangan Sakura.

"A-apa itu, Sakura-chan?," tanya Hinata sambil beberapa kali mengerjapkan matanya, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini kenyataan. Sakura tidak segera menjawab pertanyaan Hinata, ia hanya terdiam dan kembali duduk di sebelah gadis berambut indigo itu.

"Buku ini berisi data para tutor, coba kita lihat," jawab Sakura sembari menelusuri nama tutor Hinata, jemarinya menemukan nama Uzumaki Naruto bersebelahan dengan tutornya sendiri, Uchiha Sasuke.

Hinata mengamati buku itu dengan seksama, ada sedikit keheranan dalam benaknya, kenapa Sakura bisa mendapatkan buku itu? Bukankah gadis berambut merah muda itu juga calon agen seperti dirinya tapi Sakura justru bisa mendapatkan data para tutor. Sayangnya semua pertanyaan itu hanya bisa tersimpan dalam benak Hinata, untuk kali ini gadis itu lebih tertarik mengenai data diri milik Uzumaki Naruto.

Jauh dari kedua gadis yang ada di asrama Akademi Shinobi, tengah berkumpul sekelompok orang yang mengelilingi meja berbentuk lingkaran. Jubah awan merah mendominasi ruangan itu menyisakan beberapa orang yang mengenakan setelah jas hitam putih sebagai kaum minoritas.

"Sebaiknya kita segera memulai rapat, Pain," kata salah seorang pria bercadar yang tengah pada pemuda berambut orange dengan piercing menghiasi wajahnya, di sebelah pria itu ada sosok Sarutobi Hiruzen yang tengah menghisap rokoknya.

"Bagaimana keadaannya?," pemuda berambut orange itu mulai buka suara, bertele-tele memang bukanlah gayanya.

"Sejauh ini masih aman-aman saja, belum ada gerakan mencolok dari organisasi itu. Hanya saja aku masih bingung kenapa mereka menculik teman gadis itu," kata sosok pemuda berambut merah dengan sepasang mata hazel yang membingkai wajah baby facenya.

"Mungkin ada sesuatu yang belum kita tahu, percepat penerjemahan buku itu. Perketat penjagaan pada Akademi, ku rasa ada sesuatu yang mulai bergerak," perintah pemuda yang dipanggil Pain itu.

"Apa menurutmu ini tidak terlalu berlebihan, Pain? Apa kau mencurigai para calon agen itu?," suara berat khas pria paruh baya mengisi ruangan itu. Kepulan asap memenuhi ruangan kala Hiruzen melepaskan cerutu miliknya.

"Hanya pencegahan, Hiruzen-sama. Sebenarnya aku ingin memanggil 'mereka' lagi."

Pria paruh baya itu menghela nafas pelan, benar apa yang dikatakan Pain, situasti sekarang ini membuat mereka harus selalu waspada. Jika saja kejadian tiga tahun yang lalu tidak terjadi, mungkin saja mereka tidak perlu terjebak dalam situasi macam ini, harus menyelidiki berbagai artefak dan buku kuno serta bertahan dari gempuran sebuah organisasi. Mungkin salah para dewan yang dulu menjabat hingga menimbulkan berbagai masalah seperti sekarang, ia sedikit beruntung karena kali ini bekerja sama dengan para dewan yang baru, yang tentunya memiliki pemikiran lebih fleksibel dan terbuka, tidak kolot seperti pendahulu mereka.

"Bagaimana dengan gadis itu? Apa Anda sudah melihatnya?," tanya pemuda berambut hitam panjang yang kini ikut bergabung dengan Hiruzen dan Pain.

"Aa, aku sudah melihatnya Itachi. Seperti yang kalian katakan mata mereka begitu mirip, aku bahkan hampir salah mengenali."

Itachi hanya mengangguk-angguk setuju, hampir semua orang yang bertemu dengan Hinata mengatakan bahwa gadis itu mirip dengan 'orang itu'. Mengingat Hinata membuat Itachi teringat dengan kejadian beberapa saat yang lalu, saat ia mengikuti adiknya.

"Apa ada berita baru?," tanya Pain pada Itachi setelah Hiruzen meninggalkan ruangan itu, pria tua itu harus mengecek keamanan akademi sebelum beristirahat dirumahnya.

"Aku melihat sesuatu yang menarik tadi, kau tahu Naruto adalah tutor gadis itu. Bukankah ini semakin menarik?"

"Awasi mereka, laporkan jika dia lepas kendali lagi," perintah Pain pada si Uchiha sulung itu.

"Pain, lusa malam bulan purnama," kata sosok wanita berambut biru di dekatnya.

Pria berambut orange itu akhirnya ikut menghela nafas pendek, betapa rumitnya menjadi seorang ketua dewan. Ia memang mewarisi semua kekacauan yang ditimbulkan para dewan pendahulu yang kini sudah pensiun dari masa jabatan mereka, mungkin ia memang harus mempercepat semuanya.

"Konan, Sasori, Deidara, panggil tiga orang itu kembali. Aku ingin mereka sudah ada di sini lusa," perintahnya cepat.

.

.

.

Biasanya Hinata hanya akan keluar rumah saat sekolah, sepulang sekolah ia akan menghabiskan hari dengan berada di rumah karena sering dianggap aneh dan dijauhi. Sebaliknya, sekarang ini Hinata menghabiskan hari dengan berada di luar rumah, berada di antara orang-orang yang mungkin dianggap aneh oleh manusia biasa.

"Ohayou, Hinata-chan. Ayo cepat, kita harus segera ke training field," ajak Sakura yang langsung menyeret Hinata tanpa mempedulikan raut bingung dari gadis berambut indigo itu.

Training field yang terletak di belakang gedung akademi kini telah dipenuhi para calon agen beserta tutor mereka, di sana tepatnya di depan barisan para calon agen berdiri sosok pemuda yang menjadi atensi Hinata sekarang. Pemuda berambut pirang jabrik dengan sepasang iris blue sapphire yang membingkai wajahnya, Uzumaki Naruto, pemuda yang berulang kali menyelamatkannya juga tutornya di Akademi Shinobi. Alam bawah sadar Hinata mencoba mengingat apa yang semalam ia baca bersama Sakura, tentang identitas sebenarnya dari pemuda berkulit tan itu.

'Uzumaki Naruto salah satu agen ANBU, berusia 19 tahun merupakan salah satu kaum campuran.'

Hanya itu yang tertulis pada biodata Naruto, sangat sedikit yang dicantumkan di sana. Terhitung ada beberapa tutor yang memang hanya memiliki sedikit data, seperti Uchiha Sasuke, Nara Shikamaru, Sabaku Temari, Sabaku Gaara, serta seorang gadis bernama Shion. Ketika Hinata mencoba bertanya pada Sakura, gadis berambut merah muda itu hanya mengangkat bahu tanda bahwa ia tak tahu apa-apa. Kini lengkap sudah rasa penasaran yang menggunung di hati Hinata membuatnya terus berpikir siapa Naruto yang sebenarnya, kata campuran dalam buku itu membuatnya bertanya-tanya tentang pemuda Uzumaki itu.

"Kau baik-baik saja?," suara yang begitu familiar di telinga Hinata membuyarkan lamunannya. Pemuda itu telah berdiri dihadapannya sekarang, Hinata berjengit mendapati jaraknya yang hanya beberapa sentimeter dari Naruto. Sejak kapan pemuda itu sudah berada dihadapannya?

"A-aa," balasnya tergagap, rasa gugup memang selalu menghampirinya tiap kali berada di samping Naruto.

"Ohayou gozaimasu minna, agenda hari ini adalah survival. Kalian akan dikurung di dalam sana selama 24 jam," kata salah satu instruktur yang menggunakan masker menutupi separuh wajahnya sambil menunjuk sebuah gedung di belakangnya, para tutor tentunya sudah mengenal pria itu. Hatake Kakashi, salah satu instruktur handal yang dimiliki Akademi Shinobi, satu tahun yang lalu ia mengundurkan diri dan sekarang ia justru kembali padahal dalam aturan seharusnya ia tidak diperbolehkan kembali lagi.

"Kau siap?," tanya Naruto pada gadis itu, sejujurnya pemuda itu sedikit takut harus menjadi tutor Hinata. Ia begitu takut jika nanti tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan berakhir dengan melukai gadis itu, ah, Naruto benar-benar tak mengerti dengan dirinya saat ini. Bukankah seharusnya ia tidak lagi memiliki perasaan seperti ini? Seharusnya sekarang ia tengah membayar harga mahal karena telah kehilangan matenya, lalu kenapa ia jadi merasa memiliki kewajiban untuk melindungi Hinata?

"Se-sebenarnya itu ruangan apa?," kini Hinata justru balik bertanya.

"Kau akan tahu nanti."

Satu per satu pasangan tutor dan calon agen memasuki gedung yang serupa dengan gedung pencakar langit yang ada di kawasan industry Konoha, bedanya tidak ada satupun jendela pada gedung itu hanya ada satu buah pintu tempat mereka masuk. Hinata mengamati gedung itu sekali lagi, bagaimana jika nanti ia tidak bisa keluar? Atau mungkin ini terakhir kalinya ia merasakan sinar matahari? Ah, sepertinya sekarang ia terlalu paranoid.

"Hinata-chan, ayo masuk," kata Sakura riang sambil menarik lengan gadis berambut indigo itu. Pria emo di belakang Sakura hanya mendengus sebal melihat tingkah si gadis merah muda yang mengacuhkannya.

"Kau baik-baik saja?," tanya Sasuke setelah kedua gadis itu berjalan agak jauh dari mereka.

"Tenang saja, aku baik-baik saja, Teme"

"Ingat, lusa bulan purnama," tambah Sasuke lagi, onyx milik pemuda itu masih setia menatap gadis merah muda yang tengah tertawa bersama Hinata.

"Aku tahu."

Naruto mengikuti arah pandangan Sasuke menuju dua gadis itu, bukan, ia bukan mengamati gadis merah muda itu, ia hanya tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok gadis berambut indigo dengan iris amethystnya. Ia tak mengerti kenapa bisa terjebak dalam situasi rumit ini, ah, kenapa ia tiba-tiba merasakan perasaan itu lagi? Perasaan yang membuatnya merasa memiliki kewajiban untuk memantau tiap gerak-gerik gadis itu, memastikan bahwa gadis itu tak boleh terluka seujung kuku pun. Tidak, ia tidak boleh memiliki perasaan ini, tidak setelah ia gagal menjaga matenya. Seharusnya ia hanya setia pada matenya, harusnya ia kini menanggung semua kesalahannya.

"Maafkan aku karena memiliki pikiran semacam itu, my mate," bisiknya pada angin yang tengah berhembus.

Sekalipun hanya bisikan pemuda berambut raven di sebelahnya jelas mendengar semuanya. Sasuke menghela nafas pendek, sebagai seorang sahabat-walaupun ia tak mau mengakuinya-ia ikut prihatin atas apa yang diderita Naruto saat ini. Tapi ia tak bisa melakukan apa-apa karena saat ini ia juga tengah merasakan penderitaan karena belum bertemu matenya, ia memang hanya terbelenggu rindu pada mate yang belum ia temukan sedangkan Naruto harus menerima luka hati yang begitu dalam karena kehilangan mate sesuatu yang setimpal karena tidak bisa menjaga matenya. Ah, Sasuke jadi teringat pembicaraanya dengan Shikamaru kemarin tentang temuannya.

Flashback mode on

"Aku ingin memberi tahu sesuatu padamu," kata Sasuke pada pemuda berambut nanas yang usianya lebih tua satu tahun darinya.

"Hoahm, memangnya ini soal apa sampai kau mengganggu tidurku?"

"Naruto," jawab Sasuke cepat, nama pemuda pirang itu sanggup membuat kesadaran Shikamaru kembali on seketika. Saat ini prioritas mereka memang menstabilkan Naruto, jadi informasi sekecil apapun akan sangat berarti bagi penyelidikan mereka.

"Dia menjadi tutor gadis itu dan lagi ada sesuatu yang berbeda ketika dia menatap gadis itu," tambah si bungsu Uchiha.

Pemuda berambut nanas yang hobi tidur itu tertegun mendengar ucapan si bungsu Uchiha, inikah permainan takdir? Atau ada seseorang yang sengaja mengaturnya? Pertanyaan itu membuat pikiran Shikamaru melayang pada organisasi yang tengah bersitegang dengan mereka. Apakah ini perbuatan mereka? Jika diingat-ingat dari cerita Naruto, semua kecurigaan memang tertuju pada organisasi itu. Hanya saja masih ada sesuatu yang mengganjal untuk Shikamaru, kenapa organisasi itu menangkap teman Hinata? Dan pada akhirnya hanya ada satu kesimpulan dari semua pertanyaan itu, apakah Hinata ada hubungannya dengan organisasi itu?

"Mungkin kita harus mulai menyelidiki gadis itu," gumam Shikamaru pelan, ia tidak akan membiarkan ada musuh dalam selimut dalam camp.

"Tapi siapa yang akan menyelidikinya?"

Itulah intinya sekarang, siapa yang akan menyelidiki gadis itu. Ia dan Temari jelas tidak mungkin, mereka sedang dalam misi dari para dewan untuk menerjemahkan buku kuno yang berhubungan dengan Naruto, Sasuke sendiri jelas sibuk dengan calon agen asuhannya. Lalu, siapa yang akan menyelidiki Hinata?

"Biar aku yang mencari orangnya, kau awasi saja Naruto dan gadis itu."

Flashback mode off

Jadi sekarang Sasuke hanya bisa memastikan bahwa ia cukup dekat untuk mengawasi sahabat dobenya dan gadis itu. Mungkin bukan hal yang sulit mengingat calon agen asuhannya begitu dekat dengan gadis itu.

"Sepertinya mereka sudah terlalu jauh, ayo masuk, Teme," ajak Naruto pada sahabatnya yang masih terdiam.

Pemuda berambut pirang itu mengejar langkah gadis berambut indigo yang sudah sampai di depang gerbang, tak perlu berlama-lama, bahkan waktu yang ia pakai tidak sampai satu detik. Bukan hal yang mengherankan bagi para calon agen atau para petugas yang sudah lama berada di camp, mereka memaklumi jika Naruto memang bukan bagian dari manusia biasa, sama seperti kebanyakan agen ANBU.

"Na-naruto-sensei, sejak kapan ada di sini?," tanya Hinata masih dengan ciri khas bicara terbata miliknya.

"Baru saja, ayo masuk," ajak Naruto.

Langkah kecil Hinata mengikuti Naruto yang sudah lebih dulu masuk ke dalam gedung itu, seketika itu juga kedua amethyst miliknya terbelalak. Gedung ini benar-benar di luar perkiraannya, jika dari luar tampak seperti gedung biasa bahkan seperti gedung tua yang sudah lama ditinggalkan ternyata di dalamnya sungguh berbeda. Ruangan dalam gedung itu dirancang seperti layaknya hutan rimba, penuh dengan pepohonan tersembunyi dari sinar matahari bahkan ada beberapa hewan yang berkeliaran di sana. Samar-samar indra pendengaran Hinata disambut oleh berbagai suara kicauan burung seolah mereka memang sengaja bersenandung untuk menyambut kehadiran para calon agen. Hinata masih separuh tak percaya ada tempat semacam ini, bagaimana bisa mereka membuat sebuah hutan dalam tempat tertutup?

"Selamat datang para calon agen, dalam latihan kali ini misi kalian adalah menemukan identitas kalian," sebuah suara bergema di dalam gedung itu, hanya ada suara tak ada sosok si pemilik suara membuat para calon agen mengedarkan arah pandangannya berusaha menemukan si pemilik suara.

"Identitas?," gumam Hinata pelan, ia tak mengerti apa maksud suara itu, bukankah setiap orang sudah memiliki identitas? Untuk apa mereka masih harus mencari identitas? Hinata tersentak dari semua pemikirannya kala tangan Naruto menggenggam jemarinya, menarik Hinata mengikuti langkahnya. Hangat. Itulah yang Hinata rasakan ketika berada di dekat Naruto, pemuda berambut pirang itu seperti matahari untuknya, matahari yang begitu penting dalam setiap tarikan nafasnya. Sekalipun pemuda itu masih menjadi misteri bagi Hinata, entah mengapa ketika berada di dekat Naruto seperti ini, Hinata merasa seperti sudah mengenal Naruto sebelumnya.

"Na-naruto-sensei," cicit Hinata pelan, separuh hatinya ingin tetap bergandengan seperti ini tapi separuhnya lagi justru ingin bertanya tentang apa yang dibacanya semalam. Ia ingin mengenal sosok Uzumaki Naruto yang sebenarnya, bukan hanya karena pemuda itu adalah tutornya tapi karena dari awal ia merasa ada yang berbeda ketika menatap sepasang mata sebiru samudra milik Naruto. Ia ingin seperti para calon agen lainnya yang dekat dengan tutornya, ia ingin seperti Sakura yang terlihat normal-normal saja ketika bersama tutornya.

"Ada apa?"

"E-etto, tidak apa-apa," jawab Hinata cepat. Ya, sepertinya rasa ingin tahunya kalah dengan rasa malunya tiap kali ditatap sepasang blue sapphire milik Naruto.

Mereka berdua terus berjalan membelah hutan, mencari identitas yang dimaksud oleh suara tadi. Sebenarnya Hinata hanya mengikuti Naruto, pemuda itu sedari tadi hanya bungkam dan dia sendiri juga tidak berani bertanya lebih jauh. Bibirnya serasa kelu tiap kali ingin bertanya pada pemuda itu dan ketika ia menatap mata sebiru samudra milik Naruto semua pertanyaan yang ada di kepalanya menghilang begitu saja.

"Hati-hati, tanaman di sini berbeda dengan tanaman yang pernah kau lihat," kata Naruto mengingatkan, sebagai seorang agen ia sudah hafal mati dengan hutan ini. Memang ada beberapa jenis tumbuhan yang sengaja dimutasikan untuk menjadi alat latihan bagi para calon agen, ada tumbuhan pemakan daging bahkan bunga yang mengeluarkan gas beracun. Semua itu untuk melatih para calon agen ANBU yang memang memiliki tugas khusus, mereka diharuskan menghadapi berbagai musuh yang tidak biasa.

"Ma-maksud, Sensei?"

"Ada bunga yang mengeluarkan gas beracun dan tumbuhan pemakan daging, berhati-hatilah," jelas Naruto.

BRUK!
Tiba-tiba saja Naruto berhenti melangkah, membuat Hinata harus menabrak punggung pemuda berambut pirang itu. Naruto kembali menajamkan seluruh indranya, ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres di sini, sepersekian detik sebelumnya ia sempat menangkap siluet seseorang dan dia sama sekali tidak mengenali bau yang ditinggalkan siluet itu.

"Ada apa?," tanya Hinata yang tak kunjung mendapatkan penjelasan dari tutornya itu. Naruto masih saja terdiam hanya saja kali ini lebih awas terhadap sekelilingnya, blue sapphire miliknya menatap tajam salah satu sudut hutan membuat Hinata makin bertanya-tanya.

"Tetap berdiri di belakangku, sepertinya ada penyusup," gumam pemuda itu pelan. Gadis berambut indigo itu segera mencengkeram ujung jaket Naruto seraya mendekat beberapa langkah, amethyst miliknya mengamati setiap sudut, ingin tahu penyusup macam apa yang bisa masuk ke Camp of Fire. Setahunya Camp of Fire memiliki banyak jebakan dan sudah dipagari dengan mantra tertentu, pastinya orang yang bisa menyusup ke tempat ini bukanlah manusia biasa.

"Wah, wah, lihat ini. Sepertinya Tuan Uzumaki sudah menemukan pengganti matenya ya," sebuah suara membuat Hinata makin mengeratkan cengkeramannya, Naruto sendiri sudah menyiapkan kuda-kuda untuk menyerang si pemilik suara. Salah satu tangan pemuda berkulit tan itu bergerak ke balik jaketnya, berusaha mengambil revolver yang ada di sana.

"Oi, oi, tahan dulu, bocah, tidak perlu mengeluarkan senjata," tambah suara lain, kali ini suara itu terdengar bersamaan dengan munculnya dua siluet dihadapan Hinata dan Naruto. Siluet itu seperti sosok pria berbadan tinggi besar dan yang satunya lebih pendek dengan postur tubuh yang lebih kurus, pria yang lebih kurus tampak tengah memamerkan seringainya pada Naruto.

"Apa mau kalian sebenarnya?"

"Hanya ingin menyapa, bukan begitu, Juugo?," kata sosok pemuda yang kini jelas terlihat, menampakkan sosok pemuda berambut putih kebiruan yang tengah memamerkan giginya yang bergerigi tajam. Di balik punggung sosok itu tergantung sebuah pedang yang cukup besar, membuat Hinata bertanya-tanya apakah orang ini berniat jahat?

"Kenapa kalian bisa ada di sini?," tanya Naruto dingin, tatapan pemilik blue sapphire itu kian berkilat tajam membalas seringai sosok tadi.

"Tentu saja ingin menemui gadis yang ada di belakangmu dan ingin menyapamu," jawab sosok bertubuh tinggi besar yang kini berjalan mendekati Naruto. Tubuh Hinata gemetar menatap dua sosok pria dihadapannya, ia merasakan aura yang begitu pekat hampir sama seperti milik pemuda yang menculik Tenten. Mungkinkah mereka mengenal pemuda berambut cokelat yang menculik Tenten? Tapi bagaiamana caranya mereka bisa menyusup dalam camp?

"Bagaimana kalian bisa masuk ke tempat ini?," tanya Naruto seolah tahu pertanyaan yang ada dalam pikrian Hinata.

Naruto POV

Bagaimana bisa mereka ada disini? Seharusnya sekalipun mereka bisa menyusup akan ada tanda peringatan yang berbunyi, paling tidak seharusnya aku bisa merasakan aura mereka. Selain itu mereka bilang ingin menemui Hinata, apakah ini ada hubungannya dengan gadis yang mereka culik?

"Mudah saja menyusup ke dalam Camp of Fire yang kalian banggakan, kami hanya perlu sedikit bantuan. Dan voila, kami ada di sini."

"Hentikan basa-basinya Suigetsu, kita harus segera membawa gadis itu, Tuan Muda sudah menunggu," kata si pria tinggi besar dengan rambut orangenya.

Cih. Tuan muda katanya? Siapa lagi itu? Aku tidak tahu jika sekarang organisasi mereka punya pimpinan baru, memangnya dimana si tua bangka itu?

"Lebih baik kalian segera pergi dari sini sebelum para agen berdatangan."

Memang lebih baik menghindari pertarungan dari pada harus menimbulkan kerusakan besar karena area sempit di sini, lagi pula gadis itu bukanlah tipe manusia yang bisa melihat pertarungan dari jarak dekat. Sebaikanya aku segera memanggil Teme, hah, omong-omong soal Teme dia juga tidak merasakan aura mereka padahal biasanya dia yang paling peka terhadap aura-aura seperti milik mereka.

"Pergi kau bilang? Kami harus mendapatkan sesuatu dari gadis di belakangmu itu sebelum meninggalkan tempat ini," balas si Suigetsu cepat, cih, benar-benar merepotkan orang ini.

"Me-memangnya a-apa yang kalian inginkan dariku?," aku bisa mendengar suaranya bergetar, pegangan tangannya pada jaketku juga semakin erat meskipun ia kini berada di sampingku. Aku tahu sebenarnya dia bukanlah orang gagal yang tidak bisa apa-apa, sekalipun sepertinya dia gadis penakut tapi sebenarnya dia adalah gadis paling berani yang pernah ku temui setelah mateku. Ah, kenapa aku sekarang membandingkannya dengan mateku? Mateku adalah satu-satunya, tidak ada yang bisa menggantikannya sekalipun sekarang ia tidak lagi ada di sampingku.

End Naruto POV

"Kami hanya ingin membawa tubuhmu sesuai permintaan Tuan muda kami," jawab Suigetsu cepat, tangan kirinya bergerak cepat mengambil pedang yang sedari tadi berada di punggungnya. Tidak berbeda dengan Suigetsu, Juugo juga segera mengambil kuda-kuda untuk menyerang Naruto, sebuah tanda berwarna kehitaman menyebar ke tubuh pria itu. Refleks Naruto kini berada dihadapan Hinata, revolver kesayangannya kini telah teracung tepat ke arah dua penyusup itu. Sepasang blue sapphire milik Naruto kini telah berubah warna menjadi orange dengan tatapan dingin yang haus akan darah, seringai tak lepas dari wajah pemuda berambut pirang itu ketika menatap kedua musuhnya. Hormon adrenalinnya seolah terpacu tiap kali ia berada dalam situasi macam ini, memang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah hanya saja situasi macam ini membuatnya lebih hidup.

"Kalian terlalu banyak bicara," kata pemuda itu seraya maju ke depan tangannya yang bebas mengeluarkan sinar kebiruan, jika dilihat lebih dekat sinar itu seperti pusaran angin yang membentuk sebuah bola. Juugo yang berada dihadapan Naruto segera membentuk sebuah benteng pertahanan dari bagian tubuhnya yang mencuat keluar sementara Suigetsu mencoba menyerang Naruto yang tengah terfokus pada Juugo.

BLARR!

Suara ledakan tercipat ketika pusaran angin yang ada di tangan Naruto mengenai tubuh Suigetsu, asap menyelubungi tubuh dua penyusup itu sementara Naruto kembali ke posisi awalnya. Normalnya orang yang terkena serangan itu tidak akan bertahan lama, hanya saja yang terjadi sekarang tubuh Suigetsu meleleh seperti lilin yang terkena air dan justru bisa kembali ke bentuk semula tanpa satu pun luka sedangkan Juugo melepaskan bagian tubuh yang terluka seolah bagian itu tidak penting. Kali ini justru Juugo yang maju menghadapi Naruto, mata pria itu menyiratkan kebencian yang begitu dalam pada Naruto, Hinata jelas bisa melihat itu.

"Mati kau!," teriak Juugo yang tengah mengarahkan tinjunya sayangnya Naruto segera menghindarinya, membawa Hinata dalam dekapannya menjauh. Tanah tempat Naruto dan Hinata berpijak tadi kini telah berlubang akibat pukulan Juugo, Hinata hanya bisa menutup kedua matanya rapat-rapat menyerahkan semua kepercayaannya pada Naruto.

"Sebaiknya kalian pergi sekarang," desis Naruto tajam, sebelah tangannya masih mendekap Hinata erat.

Aura yang kian pekat kembali dirasakan oleh Hinata, hanya saja aura ini terasa berbeda dari sebelumnya. Terselip sebuah kesedihan dan rasa sakit dalam aura yang kali ini ia rasakan, lebih kuat bahkan membuatnya kembali gemetar. Hinata tahu aura ini bukanlah milik kedua penyusup yang kini tengah bersiap menyerang lagi, aura ini milik pemuda dihadapannya, milik Uzumaki Naruto. Ada sebuah dorongan yang kuat yang membuat Hinata ingin meredam kesedihan dan rasa sakit itu, semua itu seolah menjadi sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Kedua amethyst milik Hinata kini terbuka, direksi pandangannya terkunci pada satu sosok, Uzumaki Naruto. Pemuda itu memang terlihat berbeda dengan sepasang mata orange yang menatap tajam penuh nafsu membunuh, ia merasa ini bukan Naruto, bukan Naruto yang telah menyelamatkannya meskipun pemuda itu sering bersikap dingin. Rasa sesak mendera gadis itu, rasanya ia begitu terluka ketika melihat Naruto seperti ini. Gadis berambut indigo itu merubah posisinya, ia kini berada dihadapan Naruto, memandang sepasang mata orange milik pemuda itu dengan intens.

"Apa yang dia lakukan?," gumam Juugo pelan, ia tidak tahu alasan Tuan muda mereka menginginkan gadis itu dan yang lebih membuatnya bingung adalah sikap Naruto pada gadis itu. Ia tahu Naruto telah kehilangan matenya ketika peristiwa tiga tahun yang lalu, ia bahkan berada di tempat kejadian menyaksikan kematian gadis yang dicintai Naruto. Seharusnya Naruto tidak lagi memiliki perhatian ataupun perasaan khusus pada seorang gadis, tapi kenyataannya pemuda itu mati-matian melindungi gadis itu bahkan sampai menggunakan kekuatannya.

"Minggir Hinata," kata pemuda itu setengah membentak, ia harus segera menghabisi mereka berdua.

"Be-berhenti."

Sepasang iris orange itu menatap tak suka ke arah Hinata, merasa gadis itu mengganggu kesenangannya padahal ia belum melukai salah satu dari mereka. Hinata sendiri justru meraih tubuh pemuda itu, mendekapnya erat seolah ingin berbagai semua penderitaan yang pemuda itu rasakan.

"Minggir atau kau akan terluka!," bentaknya, bukannya menyingkir Hinata justru menatap pemuda itu lagi, amethystnya kini dipenuhi liquid yang siap tumpah.

Pendar cahaya itu kembali muncul, sama seperti ketika Naruto dan Sasuke menghadapi Siren bersama Hinata. Hanya saja kali ini Naruto ikut merasakan pancaran cahaya itu, begitu hangat, menangkan seolah membuatnya merasa nyaman. Pemuda itu memejamkan matanya berusaha menikmati pancaran cahaya dari tubuh gadis itu, berbanding terbalik dengan Juugo dan Suigetsu yang semakin tidak bisa melihat Naruto dan gadis itu. Kedua penyusup itu merasakan sebuah aura yang begitu kuat seolah membuat mereka harus tunduk dan patuh pada apapun yang diperintahkan si pemilik aura itu.

"Hinata-chan!," sebuah suara teriakan membuat Juugo dan Suigetsu saling berpandangan, detik selanjutnya mereka berdua segera menghilang ketika merasakan aura khas milik seorang musuh lama, Uchiha Sasuke.

.

.

.

"Bagaimana Uchiha-sensei? Mereka pingsan," kata gadis merah muda yang tengah berjongkok memeriksa nadi dua orang berbeda gender itu. Sasuke menghela nafas pendek, pemuda berambut raven itu berjalan mendekati sahabat pirangnya, memapahnya menuju sebuah gua yang tak jauh dari tempat itu. Di belakangnya Sakura berusaha menyeret Hinata yang juga tak sadarkan diri, gadis itu menatap wajah Hinata yang sedikit basah dengan raut kekhawatiran. Pandangan Sakura beralih pada punggung tegap sang tutor, tadi ketika mereka tengah dalam pencarian 'identitas' tiba-tiba saja Sasuke berlari begitu saja tanpa berkata apapun. Ia baru bisa menyusul pemuda Uchiha itu ketika mereka hampir sampai di tempat Hinata dan Naruto.

"Ku rasa mereka akan siuman sebentar lagi," kata pemuda itu setelah merebahkan Naruto di lantai gua. Pemuda Uchiha itu melangkahkan kakinya keluar mengabaikan tatapan penuh tanya dari Sakura, kedua onyx miliknya terpejam sedetik kemudian kembali terbuka berganti dengan titik berwarna hitam yang berputar cepat. Sasuke mengarahkan pandangannya ke seluruh penjuru hutan mencoba mencari sisa-sisa keberadaan pelaku penyerangan Naruto.

"Mata itu…., Sensei?," tanya Sakura yang tiba-tiba saja sudah berada di samping Sasuke, secepat kilat pemuda itu mengganti warna matanya yang merah darah menjadi onyx seperti sedia kala. Ia mendesah pelan, tidak ada yang bisa ditemukan dan sekarang sepertinya Sakura sudah tahu makhluk macam apa dirinya.

"Apa Sensei termasuk kaum campuran?," tanya Sakura lagi, ada binar dalam mata hijaunya itu seolah ia telah menemukan hadiah paling berharga.

"Hn."

"Sugoi, baru kali ini aku bertemu langsung dengan kaum campuran seperti Sensei," kata gadis itu sambil tersenyum manis membuat pemuda di sebelahnya separuh tersentak. Bagaimana bisa Sakura mengatakan hal seperti itu? Ia berkata seolah-olah seperti tengah bertemu separuh malaikat padahal yang ada di sebelahnya adalah separuh iblis.

"Maksudmu?"

"Mereka bilang makhluk campuran seperti Sensei harus memiliki mate kan? Aku selalu kagum pada kisah kalian dan mate itu," tambah Sakura lagi, hah, rupanya gadis ini tipikal gadis pemimpi pengharap happy ending seperti layaknya cerita-cerita dongeng.

"Itu kutukan, untuk apa kau mengagumi kutukan kami?"

"Aku tahu, jika orang seperti Sensei kehilangan mate maka akan menderita luka sepanjang eksistensi kalian bahkan sebelum bertemu matenya mereka akan didera rasa tersiksa yang sama kuatnya," jelas Sakura seolah mengerti penderitaan kaum campuran seperti Sasuke, viridian gadis itu menerawang seolah tengah mengingat sesuatu.

Sasuke POV

Aku tidak masih tidak mengerti kenapa dia begitu kagum pada kutukan sialan itu, apa dia tidak bisa melihat Naruto yang menjadi korban kutukan dari leluhur kami? Kaum darah murni yang tak pernah mau ada campuran dalam silsilah mereka, membiarkan kami larut dalam luka sepanjang eksistensi. Mereka bilang mate ada agar bisa mengontrol kekuatan kami, membuat kami tetap stabil sepanjang eksistensi. Tapi sayangnya harga yang dibayar begitu mahal, kami harus menjaga mate kami tak peduli apakah mereka memiliki perasaan yang sama seperti kami atau justru lebih memilih orang lain. Hanya ada beberapa dari kaum campuran yang bisa hidup bahagia bersama mate mereka, sebagian besar justru harus menanggung luka seperti Naruto atau hanya bisa memandang mate mereka dari jauh. Itachi-nii salah satu yang beruntung bisa hidup bersama matenya, bahkan sekarang istrinya tengah mengandung. Jika meminjam istilah Shikamaru-nii, kutukan ini merepotkan.

"Kau seperti tahu banyak soal kami," gumamku pelan tapi toh gadis itu mendengarnya.

"Uhm, sudah ku katakan aku kagum pada cerita kalian tentang mate. Menurutku itu bukan kutukan tapi sebuah benang merah yang telah terikat di antara kaum campuran dan mate mereka," katanya menjelaskan dan lagi-lagi sambil tersenyum.

Argh, kenapa senyumnya selalu saja sama? Selalu mengganggu dan tidak mau hilang dari pikiranku. Dan kenapa detak jantungku menjadi di atas batas normal? Tidak mungkinkan kalau aku terkena serangan jantung? Dan ketika melihat matanya….., argh, sudah-sudah semua ini membuatku gila.

"Menurutku mate hanya alat bagi leluhur kami untuk menghancurkan kami pelan-pelan, agar keturunan darah murni tidak akan pernah mencoba bersatu dengan manusia."

"Justru Sensei beruntung bisa mencintai sedalam itu, Sensei bisa mencintai mate Sensei dengan tulus tanpa ingin memiliki sekalipun mate Sensei tidak mencintai Sensei. Aku pikir kaum campuran seperti Sensei memiliki hati yang lebih tulus dari pada manusia," kata gadis itu sambil menatap langit-langit gendung.

Aneh. Gadis ini benar-benar aneh, baru kali ini aku menemukan orang dengan pemikiran seaneh ini. Dia seolah begitu memahami keadaan makhluk sepertiku yang tidak memiliki pilihan lain, memahami betapa kacaunya kehidupan para kaum campuran. Mungkin dia ada benarnya, mungkin.

End Sasuke POV

"Aku ingin bertanya bagaimana bisa kau mengetahui sedetail itu? Seingatku kaum campuran selalu menyembunyikan semua hal tentang kutukan kami," tanya Sasuke lagi, pemuda itu memang merasa ganjil karena Sakura tahu banyak mengenai mate dan kaum campuran.

"Sahabatku adalah mate seorang kaum campuran, aku tahu banyak dari dia."

"Pantas," gumam Sasuke pelan.

"Sensei," panggil Sakura sepertinya ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, sayangnya Sasuke seperti gusar mendengar panggilan itu.

"Bisakah kau tidak memanggilku dengan Sensei? Aku bahkan hanya berbeda satu tahun darimu."

"Tapi terasa aneh jika memanggil namamu saja karena kau tutorku, bagaimana dengan Senpai?," tawar gadis merah muda itu. Sasuke hanya menjawab dengan dengusan yang diartikan Sakura sebagai persetujuan.

"Apa Uzumaki-Sensei juga kaum campuran?," tambah si gadis berambut sewarna musim semi itu.

"Hn."

"Apa dia sudah bertemu matenya?," kejar Sakura lagi.

"Dia…. sudah tidak ada di dunia ini lagi."

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai semua, maaf karena nggak bisa nepatin janji buat up date kilat karena urusan dunia nyata yang menumpuk ditambah jadwal tambahan buat persiapan ujian tertulis buat masuk kuliah. By the way apakah chap ini sudah menjawab pertanyaan kalian soal mate? Saya harap udah walaupun nggak yakin juga. Ada yang tanya umur Naruto berapa dan disini sudah terjawab, umur Naruto kira-kira 19 tahun sama kaya Sasuke. Terima kasih buat para readers, reviewer dan juga para silent reader yang terhormat karena udah mau ngikutin fic saya yang membingungkan XD. Silahkan tinggalkan jejak keberadaan kalian dengan meninggalkan review dan seperti biasa kalau reviewnya lebih sedikit saya bakalan lama up date. Bukannya saya gila review tapi saya pengen tahu apa yang kurang biar bisa diperbaiki dichap depan. Ok, cukup sekian cuap-cuapnya

.

.

.

^^ Review ^^