Balas reviewnya

nakato-san

Tenang aja, ini uda dilanjutin kok XD. Review again ^^?

fajar jabrik

ok, bakal terus up date kok . Inspirasi? Inspirasinya nyangkut waktu saya ngelamun habis ngerjain try out bahasa indonsia XD. Review lagi ya ^^

hanazonorin444

Yosh, ini lanjutannya. Review again? XD

Kuntua

Saya mau ralat dikit nih, mate itu bukan tutornya kaum campuran, mereka itu seperti pasangan buat kaum campuran biar kaum campuran bisa stabil. Kelebihan mate? Akan dijelaskan lebih lanjut di chap mendatang^^. Reviewnya ditunggu

liQuiDa

Gomen nggak bisa up date kilat m(- -)m. Reaksi mereka ada disini kok tapi buat sasusaku ada di next chap . Ditunggu reviewnya lagi ^^

bluerose

Neji sama Hinata? Di chap ini uda ada sedikit petunjuk soal hubungan mereka. Soal Hinata dan Naruto jawabannya next chap, so stay tune aja XD #kicked author. Review again

Yourin Yo

NHnya udah saya banyakin nih, semoga suka deh XD. Review again ^^

Kyoanggita

Makasih udah suka cerita yang membingungkan ini XD. Ditunggu reviewnya lagi XD.

Nyanmaru

Saya juga geregetan sendiri sebenernya pas nulis XD. Yup, aslinya si Naruto kaya di canon cuma karena matenya uda nggak ada aja jadi kaya gini #dirasenggan. Penasaran sama Sakura? Nantikan chap selanjutnya ya :3. Danzou emang punya tampang antagonis sih #dilempar Danzou. Oh iya, makasih buat koreksian typonya. Ditunggu reviewnya lagi XD.

Ramadi HLW

Makasih dibilang keren ficnya #melayang-layang. Ok, ini lanjutannya, review lagi ya ^^.

Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Fantasy

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

.

Chapter 5 : A Chance for Me

.

.

.

Tidak ada yang aku tahu tentangmu, tentang masa lalumu, tentang sosok lain yang membuatmu begitu terluka. Tapi berikan aku satu kesempatan untuk tetap berada di sisimu meskipun aku tahu aku tidak akan pernah bisa menggantikan posisinya dihatimu.

.

.

Para dewan masih bertahan di hutan tempat Naruto mengamuk, pemuda berambut pirang itu sekarang tengah tak sadarkan diri setelah perubahan wujudnya. Di sebelahnya sekarang ada gadis berambut indigo yang tampak khawatir padanya, padahal sudah ada Tsunade yang jelas berkompeten sebagai healer untuk memeriksa keadaan pemuda itu. Tatapan penuh selidik masih diarahkan pada Hinata, dewan Camp of Fire masih tidak mengerti kenapa gadis itu bisa membuat Naruto kembali ke wujud asalnya. Mereka mulai berspekulasi dengan berbagai kemungkinan, termasuk menyangkut pautkan gadis itu dengan organisasi yang tengah berperang dengan mereka.

"Apa kita perlu menginterogasi gadis itu?," tanya Sasori, pria berwajah baby face itu masih mengamati Hinata dan Naruto. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi sekarang, seharusnya Naruto tetap berada dalam mode lucifernya sampai fajar tapi kehadiran gadis itu membuat Naruto berubah menjadi normal sebelum waktunya. Tentu saja hal itu tidak wajar bagi kaum campuran, seharusnya hanya kehadiran mate yang membuat mereka kembali ke wujud normalnya.

"Ku rasa sebaiknya kalian menyelidiki gadis itu dulu, sepertinya dia juga tidak tahu apa-apa tentang masalah ini," saran Jiraiya.

"Shikamaru sudah mengirim seseorang untuk menyelidiki gadis itu," kata Sasuke yang kini sudah bergabung dengan para dewan, pria emo itu kini tengah ikut mengamati Hinata dan sahabatnya.

"Aa, bocah Nara itu ya, kalau begitu kita tinggal menanyakannya pada Shikamaru nanti. Lebih baik sekarang kalian membawa Naruto kembali ke kediamannya," saran Tsunade yang sudah selesai memeriksa pemuda berambut pirang itu. Naruto kembali dalam kondisi stabil, tidak ada luka yang cukup berarti, hanya saja sepertinya pemuda itu belum sadar hingga saat ini.

"Lalu bagaimana dengan gadis itu? Kita biarkan dia kembali ke asrama atau bagaimana?"

"Ku rasa sebaiknya dia menemani Naruto, mengingat hanya dia yang bisa menstabilkan Naruto sekarang," kata Tsunade yang tengah mengamati gadis berambut indigo itu sekali lagi. Ada sebuah tanda tanya besar dalam kepala wanita itu, bagaimana mungkin gadis lain bisa membuat Naruto kembali stabil? Seharusnya seorang kaum campuran hanya terikat pada satu mate, tidak ada lagi mate yang akan muncul jika mate sebelumnya sudah tiada.

"Apa kau sudah tahu, Orochimaru?," tanya wanita berambut pirang itu seraya mendekat ke arah Orochimaru, ia cukup penasaran dengan gadis indigo itu.

"Kita harus memeriksa data pelepasan kekuatannya, jika dugaanku benar maka kita harus memperketat penjagaan Camp of Fire."

Sesosok pemuda berambut merah tampak menatap tak suka ke arah Hinata yang tengah membantu memapah Naruto, rahanganya mengeras, buku-buku jarinya makin memerah karena terlalu keras mengepalkan tangan. Ia sudah pernah memperingatkan gadis itu, jadi ia tidak akan segan-segan lagi mengingat gadis itu lebih memilih mengabaikan nasehatnya.

"Sepertinya kau tampak kesal, Sabaku," kata sebuah suara membuat pemuda itu menoleh mendapati sesosok pria berambut perak yang juga tengah mengamati gadis itu.

"Lebih baik Anda pergi, Sensei. Ku rasa ini bukan urusan Anda."

"Tenang dulu, Gaara, aku tidak akan ikut campur. Aku hanya melakukan bagianku sekarang," balas pria berambut perak yang dipanggil Sensei itu.

"Maksud Anda?"

"Ada pesan dari organisasi itu, mereka bilang ingin bertemu denganmu besok," kata pria itu sebelum menghilang dalam kegelapan malam, menyisakan Gaara yang masih setia menatap tajam ke arah gadis berambut indigo yang makin menjauh.

"Kita lihat saja seberapa kuat kau bisa bertahan, Hyuuga Hinata."

.

.

.

Naruto merasa seperti berada di dimensi lain, tidak ada apapun selain cahaya putih dan hamparan bunga lavender. Kemanapun ia memandang hanya ada bunga berwarna ungu itu, sesekali hembusan angin menerpa tubuhnya membuatnya terbuai dengan sebuah perasaan nyaman merambati hatinya seolah menahannya agar tetap berada di tempat ini. Rasanya ia ingin berada di sini lebih lama, menikmati segala kedamaian dan kesunyian yang ditawarkan tempat ini.

"Naruto…, Naruto…," sebuah suara sayup-sayup terdengar membuat pemuda berambut pirang itu mengedarkan pandangannya, mencari si pemilik suara. Suara itu terdengar begitu familiar untuknya, suara seorang gadis yang berulang kali memanggil namanya.

"Siapa?," gumamnya pelan, siapa yang memanggil namanya dengan nada penuh harap?

Sepasang blue sapphire itu melebar ketika mendapati sesosok gadis yang begitu familiar untuknya, gadis berambut panjang dengan sepasang amethyst yang mirip dengan milik Hinata. Ia tahu betul siapa gadis itu, satu-satunya gadis dalam hidupnya, matenya.

"Ka-kau, apa ini benar-benar kau, my mate?," tanya pemuda itu bertubi-tubi seolah masih tak percaya dengan kehadiran sosok yang ada dihadapannya, bukankah seharusnya sosok itu sudah tidak bisa ia lihat lagi?

"Naruto."

Suara itu lagi, suara yang membuat pemuda itu kembali mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ada sesuatu yang berbeda ketika ia mendengar suara itu, ada perasaan hangat yang menelusup dalam hatinya. Tapi bukankah seharusnya ia merasakan perasaan ini pada matenya? Lalu kenapa ia tidak merasakan apa-apa? Padahal matenya ada dihadapannya, tersenyum simpul seperti dulu.

"Sebenarnya apa yang terjadi?," tanyanya lagi. Belum hilang keterkejutannya atas kehadiran matenya, sepasang blue sapphire itu kembali terbelalak kala menyadari kehadiran sosok gadis lain. Seorang gadis berambut indigo panjang yang tengah menatapnya dengan sepasang amethyst teduh, Hyuuga Hinata. Dua gadis itu berdiri dihadapan Naruto, dua gadis yang memiliki warna mata yang sama, matenya dan seorang gadis yang membuat hatinya goyah.

"Naruto," panggil suara itu untuk kesekian kalinya, pemuda itu baru menyadari siapa pemilik suara itu. Hinata. Gadis itu yang berulang kali memanggilnya namanya, membuatnya merasakan sebuah kehangatan asing yang bahkan belum pernah ia rasakan saat bersama sang mate dulu.

"Tidak, tidak," gumamnya pelan, berusaha mengenyahkan semua pemikiran itu. Ia hanya akan setia pada satu gadis, pada matenya. Tidak ada gadis lain yang bisa mengggantikan matenya, tidak sekalipun gadis itu memiliki mata yang sama dengan sang mate.

Sebuah sinar putih yang begitu terang tiba-tiba saja muncul di antara kedua gadis itu, sinar yang begitu menyilaukan membuat Naruto menutup kedua blue sapphire mililknya. Pemuda berambut pirang itu merasakan tubuhnya seolah tertarik oleh sinar itu, menjauh dari kedua gadis itu, menjauh dari dimensi yang membuatnya nyaman.

"sei, Naruto-sensei," panggil suara itu pelan. Suara itulah yang pertama kali didengar oleh Naruto, suara yang sama yang berulang kali memanggilnya tadi.

Sepasang mata bak samudra miliknya mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menyadari dimana tempatnya sekarang, yang pertama kali ia lihat adalah warna cokelat dengan tekstur mirip kayu. Ia baru menyadari jika sekarang ia berada di kamarnya sendiri, kepalanya terasa pusing ketika ia mencoba bangkit dari posisi berbaringnya.

"Sensei tidak apa-apa?," tanya suara itu lagi.

Kepala pirang itu menoleh ke arah gadis bermata amethyst yang tengah menatapnya cemas, amethyst milik gadis itu mengingatkannya pada mimpinya tadi. Ia tidak menyangkal jika Hinata dan matenya memiliki mata yang sama tapi jauh dalam hati kecilnya, ia merasakan sebuah perbedaan ketika menatap amethyst milik Hinata. Ada sebuah perasaan baru yang begitu berbeda ketika menatap gadis itu, seperti sebuah perasaan protektif yang begitu besar, perasaan ingin menjaga yang lebih besar dari pada ketika bersama matenya.

"Kau ada di sini, Hinata?," kata Naruto separuh bertanya, ia tidak menyangka jika gadis itu berada di kamarnya. Bukankah seharusnya Hinata ada di asrama akademi?

"E-etto, katanya lebih baik aku ada di sini."

Lebih baik ada di sini? Memangnya kenapa Hinata lebih baik berada di sini? Seingat Naruto ia hampir mencelakai gadis itu ketika ia masih berada dalam mode lucifer.

"Siapa yang menyuruhmu?," tanya Naruto lagi, ia tidak habis pikir, bagaimana bisa para dewan membiarkan Hinata berada bersamanya? Padahal jelas-jelas ia bisa membahayakan Hinata jika tidak diawasi.

"Kami yang meminta gadis itu agar bersamamu, bocah."

Naruto mengubah direksi pandangannya, mendapati sosok wanita dewasa yang begitu ia kenal. Blue sapphire miliknya mengerjap beberapa kali, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Bukankah seharusnya wanita itu tahu bahaya yang akan dihadapi Hinata jika gadis itu bersama dengan Naruto? Lalu kenapa mereka tampak santai-santai saja seolah tidak akan terjadi sesuatu yang buruk.

"Apa baa-chan tidak salah bicara? Bukankah kondisiku sekarang tidak stabil?," tanya Naruto lagi mengabaikan Hinata yang tampak bingung dengan pembicaraan mereka.

"Kau lupa siapa yang membuatmu kembali ke wujud semula? Gadis Hyuuga itu yang membuatmu kembali stabil dan ku rasa lebih baik ia bersamamu sekarang sampai kami selesai menyelediki," jelas wanita berambut pirang itu.

"Menyelidiki apa?," kejar Naruto lagi.

Tsunade hanya bisa terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Naruto, ia tidak mungkin mengatakan semua hal yang tengah diperbincangkan para dewan dan kedua rekannya. Di sisi lain, ia juga tahu Naruto bukanlah tipikal orang yang akan diam begitu saja, pemuda itu pasti akan terus menuntut untuk diberi penjelasan.

"Kau akan tahu nanti ketika semuanya sudah jelas," kata Tsunade sebelum pergi meninggalkan ruangan itu. Kaki jenjang milik wanita bersurai pirang itu melangkah menuju markas pusat, tempat kedua rekannya berada. Sebisa mungkin ia akan menghindari kontak dengan Naruto. Ia tidak mungkin menceritakan semuanya sekarang.

"Kau tidak menceritakannya bukan?," tanya sebuah suara dingin yang begitu familiar di telinga wanita berambut pirang itu. Tsunade mendengus kesal menatap sosok yang tengah berada dihadapannya, sosok pria berambut hitam dengan kulit pucat yang hampir menyerupai mayat.

"Aku tidak sebodoh Jiraiya, Orochimaru. Kau tenang saja."

"Lagi pula, apa kau yakin dengan legenda itu?," tambah wanita pirang yang kini lebih memilih menyandar pada salah satu pohon, membiarkan rambutnya dibuai oleh hembusan angin.

"Itu bukan legenda, Tsunade. Kau jelas tahu banyak tentang keluarga Hyuuga."

Wanita berambut pirang itu kembali membisu, ia tahu apa yang tengah dibicarakan rekannya. Hyuuga. Nama itu jelas tidak asing buatnya dan sekaligus membuatnya membuka kembali rahasia kelam keluarga itu. Dalam keluarga Hyuuga sebenarnya ada dua keluarga, yang satu adalah Hyuuga yang dikenal sebagai penduduk sipil, termasuk gadis berambut indigo yang bersama Naruto dan yang satu lagi adalah keluarga kaum lucifer. Awalnya keluarga itu termasuk kaum campuran tapi tetua kaum lucifer justru memisahkan mereka menjadi dua kubu, satu kubu dipasangkan dengan manusia biasa yang kemudian menghasilkan keturunan manusia sementara kubu lainnya dipasangkan dengan lucifer berdarah murni tak peduli dengan masalah mate.

"Tapi bukankah kau bilang gadis itu berbeda? Kau bilang gadis itu bukan kaum campuran, bukan lucifer tapi bukan juga manusia," kata Tsunade.

"Memang, tapi aku masih belum yakin."

"Sekalipun sudah melihat data pelepasan kekuatannya? Kau jelas tahu jika gadis itu berbeda dengan keluarganya," komentar Tsunade.

"Jika dia memang mewarisi kekuatan itu, kenapa Dark Heaven tidak tahu? Bukankah salah satu keturunan Hyuuga ada di sana?," balas Orochimaru cepat. Pria berkulit pucat itu tahu Dark Heaven memiliki Neji, salah satu keturunan Hyuuga yang memiliki darah lucifer. Bukankah seharusnya Neji bisa merasakan kekuatan gadis berambut indigo itu? Paling tidak seharusnya pemuda itu tahu tentang legenda yang ada di klannya.

"Sudahlah, sebaiknya kita segera menambah pengamanan Camp of Fire. Biarkan mereka tidak tahu apa-apa untuk sekarang ini," tambah Orochimaru lagi.

"Aku hanya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi di sini," gumam Tsunade pelan.

.

.

.

Sepasang amethyst milik Hinata masih asyik mengamati pemuda berambut pirang yang tengah menikmati hembusan angin, padahal pemuda itu tengah memejamkan matanya, seolah berusaha mengabaikan Hinata yang ada di sampingnya. Gadis berambut indigo itu tidak sepenuhnya mengerti alasan mengapa dirinya harus bersama Naruto tapi ia cukup menikmati kedekatannya dengan sang tutor. Tapi Hinata tahu meskipun ia berada dalam jarak yang cukup dekat dengan Naruto, pemuda itu tetap terasa jauh untuknya, seperti masih ada sebuah dinding kokoh yang dibangun oleh pemuda berkulit tan itu.

"A-ano, sebenarnya kemarin Sensei kenapa?," tanya Hinata memecah keheningan, sebenarnya ia sudah tahu jawabannya dari penjelasan Sakura kemarin tapi ia tetap ingin mendengarnya sendiri dari Naruto. Ia ingin pemuda itu menceritakan semuanya, berbagi beban yang ditanggung pemuda itu selama ini.

"Kau sudah melihatnya bukan? Aku bukanlah manusia, aku separuh lucifer, kaum campuran. Separuh lucifer yang terkutuk karena tidak bisa menjaga matenya," jawab Naruto dengan nada getir. Selalu ada luka yang terbuka ketika ia mengingat matenya, mungkin ini bagian dari penderitaanya secara psikis dan tentu saja penderitaan ini tidak cukup jika dibandingkan dengan kesalahannya. Kesalahan terbesar dalam kehidupannya.

"Me-memangnya apa yang terjadi pada mate Sensei?"

"Mateku pergi karena kesalahanku, aku yang terlalu bodoh dan dia yang terlalu memikirkan orang lain," balas Naruto ambigu, Hinata tidak mengerti kata-kata pemuda berambut pirang itu. Tapi gadis bermata amethyst itu bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari setiap kata-kata Naruto, entah kenapa ia merasa sakit ketika mendengar Naruto menceritakan seseorang yang begitu berarti untuk pemuda itu. Ada rasa nyeri yang mengganggunya, rasa nyeri yang membuatnya ingin segera pergi dari tempatnya sekarang.

"Ku rasa mate Sensei sangat mencintai Sensei," gumam Hinata pelan sambil menunduk, memainkan kedua jemarinya pelan. Kali ini bukan karena gugup tapi karena ia ingin mengalihkan perhatiannya, agar ia tidak merasakan sakit seperti tadi, agar ia masih bisa berada di sini.

"Aku lebih mencintainya."

Kali ini bukan hanya rasa sakit, ada perasaan lain yang mulai menggerogoti Hinata. Rasa sesak seolah membuatnya tidak bisa bernafas lagi, rasa sakit itu kian menjadi membuat matanya memanas tanpa sebab yang pasti. Hinata benar-benar tidak mengerti kenapa ia bisa merasakan perasaan seperti ini pada Naruto? Seharusnya ia sudah tahu bahwa di hati pemuda itu sudah ada seseorang yang lebih berarti, seseorang yang membuat pemuda itu sekacau ini.

"Ka-kalau begitu, seharusnya Sensei bisa hidup lebih baik lagi agar mate Sensei bisa bahagia di sana," kata gadis itu dengan suara tertahan.

Hinata POV

Rasanya begitu sakit, lebih sakit daripada tertusuk pisau atau tertusuk jarum. Perih, sakit, sesak tapi anehnya aku masih bisa berkata seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah aku baik-baik saja. Apakah sakit yang ku rasakan sama seperti sakit yang dialami Naruto-sensei? Ah, seharusnya aku tidak perlu membandingkannya. Ketika aku melihat mata sensei malam itu, aku bisa merasakan luka yang sensei rasakan. Luka karena ditinggalkan oleh matenya. Aku masih tidak mengerti untuk apa ada mate jika nantinya kaum campuran seperti sensei terluka? Kata Uchiha-sensei, mate ada agar kaum campuran merasakan kasih sayang. Apakah kasih sayang itu yang menstabilkan mereka? Tapi bukankah kasih sayang bisa diberikan oleh siapa saja?

"Aku tahu itu tapi berapa kali pun aku mencoba hidup lebih baik tetap saja rasanya sulit, kau tahu, rasanya seperti mayat hidup yang tidak bernyawa, seperti tidak memiliki hati," kata Naruto-sensei setelah agak lama terdiam.

"Ta-tapi mate sensei pasti sedih, dia pasti tidak akan senang jika sensei terus seperti ini."

Naruto-sensei tertawa ketika mendengar kata-kataku tapi anehnya aku bisa melihat air mata yang mengalir dari sepasang mata sebiru samudra itu. Awalnya hanya seperti titik kecil di ujung matanya tapi perlahan menganak sungai, membuat sebuah aliran air mata. Aku belum pernah melihat seorang laki-laki menangis, ku pikir seorang laki-laki akan menghindari sebuah tangisan tapi sensei mungkin berbeda. Berbeda karena mengalami luka yang terlalu banyak, aku ingin sensei membagi lukanya, tidakkah terasa sesak jika menanggung semua luka itu sendirian?

"Kenapa kau menangis, Hinata?," tanya Naruto-sensei padaku.

Menangis? Aku menangis? Aku bahkan baru menyadari jika ada aliran liquid yang menuruni wajahku. Sejak kapan aku menangis?

End Hinata POV

"A-aku tidak tahu, sensei. Aku tidak tahu," jawab Hinata yang masih berleleran air mata.

Melihat gadis itu menangis membuat Naruto mengingat kejadian saat berada di gua, saat gadis itu menangis karena dia. Dan sekarang gadis itu kembali berurai air mata, apakah kali ini Hinata menangis untuk alasan yang sama? Untuk seseorang seperti dirinya? Rasanya ia ingin tertawa karena pemikiran itu tapi sayangnya ada sebagian dari dirinya yang merasakan sakit ketika gadis itu menangis. Ah, sekarang Naruto benar-benar tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia terlalu lelah memikirkan semua alasan ini, bisakah ia sekarang berhenti memikirkan semua alasan itu? Bisakah ia memperlakukan Hinata selayaknya gadis lain tanpa dipusingkan dengan semua perasaan aneh ini?

"Ku rasa aku sudah lelah."

"Lelah? Maksud Sensei apa?," tanya Hinata yang tengah menyeka air matanya. Pemuda berambut pirang itu mendekati Hinata, tangannya terulur untuk menyeka air mata gadis itu. Ya, ia sudah lelah dengan semua pertanyaan itu, mungkin lebih baik seperti ini.

"Berhentilah menangis, kau terlalu sering menangis di tempat ini. Ku rasa lebih baik kau kembali, lupakan saja semua yang pernah ku katakan. Aku akan membawa temanmu kembali, kau tunggu saja."

Sepasang amethyst itu melebar kala mendengar kata-kata pemuda berambut pirang itu. Apakah Naruto sedang mengusirnya secara halus? Tapi kenapa? Ia tidak ingin pergi, ia ingin berada di sini. Tepat ketika tangan Naruto selesai menyeka tangisnya, Hinata segera menarik tangan itu pelan, meminta perhatian dari Naruto.

"Katakan, kenapa Sensei lelah? Apa Sensei lelah mengajariku? Apa Sensei lelah dengan keberadaanku?," tuntut gadis itu, rasa sesak itu kembali mendera dada Hinata. Lebih dari rasa sesak yang ia rasakan tadi, mendesak air matanya keluar lebih banyak.

"Bukan, aku lelah membuat sebuah dinding di antara kita."

Dinding. Sejak awal di antara mereka memang ada sebuah dinding tak kasat mata yang dibentuk pemuda itu. Hinata ingin melewati dinding itu, bukan karena ia ingin menggantikan posisi mate Naruto. Ia hanya ingin pemuda itu membagi lukanya, sejujurnya Hinata tidak mengerti kenapa ia mau melakukan semua ini, yang ia tahu ia hanya ingin meringankan luka pemuda itu.

"Kalau begitu jangan membuat dinding di antara kita."

"Aku tidak bisa mengkhianati mateku, Hinata," balas Naruto yang sepertinya mulai frustasi.

"Sensei tidak mengkhianati mate Sensei, anggap saja ini ucapan terima kasihku karena Sensei sudah menyelamatkanku berulang kali, aku akan menjadi tempat Sensei berbagi luka, hanya itu," kata Hinata.

Sekarang Naruto benar-benar bisa melihat perbedaan amethyst milik Hinata dengan milik matenya. Ada keyakinan yang begitu kuat yang terpancar dari amethyst milik Hinata, tidak hanya itu ada keberanian dan ketulusan yang tersimpan dalam mata itu. Seperti dugan Naruto sebelumnya, Hinata bukanlah gadis penakut dan gagal seperti yang dianggap orang lain. Inilah Hinata yang sebenarnya, gadis berani yang begitu tulus. Lalu, haruskah ia membuat gadis seperti Hinata terluka? Tapi ia juga tidak bisa mengkhianati matenya, matenya hanya satu dan tidak akan pernah tergantikan.

"Entahlah, Hinata. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana."

.

.

.

"Apa kau sudah benar-benar menyelidikinya, Shikamaru-nii?," tanya sosok pemuda berambut raven yang masih sibuk berkutat dengan berbagai lembaran kertas dihadapannya. Shikamaru hanya bisa menguap menanggapi pertanyaan Sasuke, ia benar-benar merindukan tidur berkualitasnya.

"Hoahm, sudahlah Sasuke, berapa kalipun kau membacanya semua tulisan itu akan tetap sama saja."

"Tapi aku tidak mengerti kenapa Hinata bisa membuat dobe kembali normal," balas Sasuke cepat. Ia harus tahu semuanya, mungkin saja Hinata adalah kunci dari kestabilan Naruto, kemungkinan selalu ada bukan?

"Hei, kau ingat kata-kata terakhir mate Naruto sebelum meninggal?," tanya Shikamaru tiba-tiba, membuat kening pemuda Uchiha itu mengeriyit tak mengerti.

"Tentu saja aku ingat, Shikamaru-nii."

Flashback mode on

Camp of Fire porak poranda, menyisakan puing-puing bangunan yang menjadi saksi betapa dahsyatnya pertarungan yang telah terjadi di sana. Di beberapa sudut masih tersisa api yang berkobar-kobar, tidak hanya api yang berwarna merah tapi juga api berwarna hitam yang tak akan mudah dipadamkan. Mayat-mayat berserakan di beberapa tempat, mereka korban pertarungan antara dua organisasi yang telah lama berseteru, Camp of Fire dan Dark Heaven. Dua kubu berlawanan yang tidak pernah satu visi.

Sosok gadis berambut panjang dengan sepasang amethyst yang membingkai wajahnya tampak kesakitan, darah segar keluar dari mulutnya. Meskipun keadaannya tampak sekarat, gadis itu tetap tersenyum simpul pada sosok pemuda berambut pirang yang tengah menangisinya. Senyumnya tidak pudar sekalipun darah yang keluar dari tubuhnya semakin banyak.

"K-ka-kau tidak perlu me-menangis, Na-naruto."

"Hentikan, jangan banyak bicara, Tsunade baa-chan akan segera mengobatimu. Kau pasti akan selamat," kata pemuda berambut pirang itu.

Wajah gadis dipangkuan Naruto semakin pucat membuat warna merah dari darahnya semakin terlihat jelas, ini bukanlah pemandangan yang Naruto inginkan. Ia jelas menginginkan akhir yang bahagia untuk matenya, jika bisa biar dia saja yang sekarat asal jangan matenya.

"Ka-kau tahu, matemu yang sebenarnya akan muncul ketika aku pergi," kata gadis itu pelan sambil tetap tersenyum.

"Apa maksudmu?! Jangan bicara seperti itu, hanya kau mateku!" Gadis itu menggeleng pelan membuat Naruto makin bingung, tidak hanya Naruto, rekan-rekannya sesama pasukan khusus ANBU juga tampak tak mengerti arti kata-kata gadis itu.

"Su-suatu sa-saat nanti, a-akan ada gadis yang menjadi mataharimu, ga-gadis yang benar-benar matemu, Naruto."

Flashback mode off

Sasuke jelas ingat kejadian itu, setelah mengatakan hal itu, mate Naruto menghembuskan nafasnya yang terakhir. Tidak hanya Naruto yang berduka kala itu, seluruh anggota Camp of Fire ikut berduka. Gadis yang dicintai Naruto bukan satu-satunya korban yang kehilangan nyawa, ada puluhan agen dan calon agen yang ikut pergi bersama mate Naruto. Camp of Fire jelas kehilangan banyak anggota dan mengalami rugi secara materiil tapi sosok Uzumaki Naruto lebih terluka baik secara fisik maupun psikis dan luka itu masih terbawa hingga saat ini.

"Tidakkah kau merasa janggal dengan kata-katanya sebelum meninggal?," tanya Shikamaru lagi.

"Ya, hampir semua orang bingung dengan kata-katanya. Bukankah bagi kaum campuran hanya ada satu mate? Tidak ada mate lain setelah matenya meninggal."

"Tapi coba kita pikir lagi, Sasuke. Jika dia bukan mate Naruto yang sebenarnya, berarti ada kemungkinan bahwa Hinata adalah mate Naruto. Bukankah dengan begitu semua yang terjadi akan masuk akal?," Shikamaru memulai analisisnya.

"Seandainya dugaanmu benar, kenapa dia bisa selamat setelah Naruto menghisap darahnya? Kau jelas tahu jika kaum campuran menghisap darah orang yang salah, maka orang itu kemungkinan besar mati."

"Naruto baru menghisap darahnya sebelum kita melawan Dark Heaven, semua kemungkinan itu ada, Sasuke," kata Shikamaru.

"Semua itu belum pasti, Shikamaru-nii. Kau lihat sendiri keadaan Naruto setelah matenya pergi, itu jelas bukan tipuan, jadi 'dia' memang mate Naruto."

Pemuda Uchiha itu memijat pelipisnya, lelah sekaligus bingung, itu yang ia rasakan sekarang. Semua misteri tentang Hinata memaksanya dan Shikamaru bekerja lebih ekstra, kepalanya seperti akan pecah, terlebih lagi ketika mengingat seseorang. Seorang gadis berambut merah muda yang kehadirannya justru menjadi candu untuk pemuda Uchiha itu, ia masih belum menemui Sakura meskipun ia tahu apa yang dimaksud gadis berambut bubble gum itu. Sejujurnya Sasuke ingin segera menemui gadis itu tapi perintah dari para dewan untuk menyelidiki Hinata membuatnya tertahan di tempat ini bersama Shikamaru.

"Omong-omong, kau bilang akan mengirim seorang mata-mata untuk gadis itu," kata Sasuke membuat si pemuda berambut nanas itu menoleh ke arahnya.

BRAKK!

"Ohayou, nanas!," teriak seorang gadis berambut pirang yang tengah berkacak pinggang di ambang pintu.

"Ku rasa dia sudah datang, Sasuke kenalkan dia Yamanaka Ino, agen dari kelas Jounin."

Bungsu Uchiha itu mengamati sosok gadis yang masih setia berkacak pinggang di ambang pintu, gadis berambut pirang dengan model pony tail. Jika dia memang agen dari kelas Jounin maka bisa dipastikan gadis itu adalah manusia biasa, satu alis Sasuke terangkat bingung, apakah gadis itu benar-benar bisa diandalkan?

"Hei, Tuan Tampan kenapa kau terus melihatku? Jangan-jangan kau menyukai ku ya," tanya gadis itu. Sasuke mendengus kesal, percaya diri sekali gadis itu.

"Kau tidak perlu bicara yang tidak penting, laporkan saja hasil kerjamu," balas pemuda irit bicara itu.

"Dia benar, Ino."

"Baiklah-baiklah, kalian tidak sabaran sekali sih," kata gadis yang dipanggil Ino itu, ia membuka flip ponselnya, seketika muncul sebuah monitor digital yang menampilkan sosok gadis berambut indigo dengan sepasang amethyst yang menghiasi wajahnya. Hyuuga Hinata.

"Aku sudah menyelidiki keluarganya, hanya keluarga biasa tapi ada sebuah rumor yang beredar di kalangan beberapa tetuanya. Katanya setiap keluarga Hyuuga memiliki pasangan seorang iblis-,"

"Iblis?," potong Shikamaru cepat.

"Diam dulu, nanas. Iya, mereka bilang setiap keluarga Hyuuga memiliki pasangan seorang iblis karena kutukan pendahulu mereka. Ah, ada satu legenda lagi yang ada dibicarakan keluarga Hyuuga."

"Apa?," tanya Sasuke, sepertinya pemuda Uchiha itu mulai tertarik dengan legenda keluarga Hyuuga.

"Mereka bilang ada keturunan Hyuuga yang istimewa, dia berbagi kehidupan dengan pasangan iblisnya. Jika salah satu dari mereka mati maka kekuatan itu akan sempurna," jawab Ino. Shikamaru dan Sasuke terdiam, kedua pemuda itu terdiam setelah mendengar penuturan informan mereka.

"Sasuke, apa menurutmu ada keluarga Hyuuga ada hubungannya dengan kaum lucifer?," tanya Shikamaru. Seingatnya kaum lucifer sering diidentikan sebagai iblis, mungkinkah iblis yang dimaksud dalam legenda keluarga Hyuuga itu adalah kaum lucifer?

"Mungkin saja, Shikamaru-nii."

"Tapi aku merasa ada yang aneh dengan cerita tentang keturunan Hyuuga yang istimewa itu."

"Lebih baik kita menghubungi 'orang itu', Sasuke," tambah Shikamaru yang mulai merapikan kertas-kertas di atas meja, sepertinya legenda itu menjadi sebuah titik terang untuk si pemuda berambut nanas.

"Kau saja yang menghubunginya, aku harus menemui seseorang," kata Sasuke sebelum menghilang dalam hitungan detik.

"Kemana dia?," tanya Ino yang memang baru kali ini melihat kejadian macam itu.

"Menemui matenya, gadisnya."

.

.

.

Gadis berambut indigo itu masih bertahan di kediaman milik pasukan khusus hanya saja gadis itu lebih memilih menghindari tutornya, Uzumaki Naruto. Perdebatannya dengan Naruto beberapa jam yang lalu membuatnya lebih memilih menjauhi pemuda itu. Hinata tidak tahu apa yang merasukinya hingga ia berani berbicara seperti itu pada Naruto, dia yang baru saja mengenal Naruto justru ingin menjadi sandaran bagi pemuda itu. Ia tahu itu bukanlah hal yang mudah, Naruto jelas membangun sebuah dinding tak kasat mata diantara mereka berdua. Hinata tahu Naruto tidak ingin mengkhianati matenya tapi gadis itu memang tidak ingin menggeser posisi mate Naruto. Ia sadar tidak akan pernah bisa menyamai mate pemuda itu apa lagi menggeser posisi mate Naruto di hati pemuda pirang itu.

"Kau masih di sini?," sebuah suara yang begitu familiar di telinga Hinata membuat gadis itu menoleh, mendapati wajah tutornya berada beberapa centimeter dari wajahnya. Refleks semburat merah mewarnai kedua pipi chubby Hinata, membuat paras gadis itu semakin manis.

"A-aa, mereka bilang aku harus tetap di sini sampai mereka memanggilku lagi."

"Sepertinya para dewan terlalu berlebihan," kata Naruto yang tengah menatap sebuah gedung yang menjadi pusat Camp of Fire, markas pusat milik para dewan. Entah apa yang mereka pikirkan hingga membuat Hinata tetap berada disisi Naruto.

"…."

Suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua, rasanya Hinata masih canggung berada dalam radius yang cukup dekat dengan Naruto setelah pembicaraan mereka beberapa jam yang lalu. Naruto sendiri sepertinya lebih suka dengan suasana seperti ini, sunyi tanpa suara.

"Hinata."

"Y-ya, ada apa sensei?," tanya gadis itu cepat.

"Mungkin kau benar," kata pemuda itu ambigu. Gadis berambut indigo dihadapan Naruto jelas tidak mengerti dengan kata-kata pemuda itu, benar dalam hal apa?

"Tentang dinding yang ku buat dan tentang mateku," tambah pemuda itu.

"Ma-maksud, sensei?."

"Aku sudah lelah membuat dinding diantara kita tapi aku juga tidak bisa membiarkanmu masuk begitu saja. Pada akhirnya aku sudah memutuskan sesuatu, aku akan mencoba menerimamu sebagai sahabat, sama seperti Temari-nee dan partnerku yang lainnya," jelas pemuda berambut pirang itu.

Sahabat. Dengan menjadi sahabat Naruto, Hinata bisa menjadi tempat pemuda itu berbagai luka. Tidak apa-apa, baginya semua itu sudah cukup. Cukup satu kesempatan untuknya agar bisa tetap berada di sisi pemuda itu, ia tidak akan berharap lebih karena ia tahu hanya ada satu mate untuk kaum campuran seperti Naruto.

.

.

.

TBC

.

.

.

Haalllooo semuanya (^^)/, apa ada yang merindukan fic ini? Maaf saya nggak bisa up date kilat dan justru lama up datenya m(- -)m, sebenernya minggu kemaren saya mau up date, udah banyak ide di kepala saya yang mau ditulis tapi berhubung ada sesuatu masalah yang membuat mood saya turun drastis, semuanya jadi kacau balau. Ok, gimana dengan chap ini? Apa sudah bisa menjawab pertanyaan kalian? Atau justru bikin kalian tambah bingung? Saya juga makin bingung sih #author aneh. Sedikit spoiler buat chap depan, akan ada pertemuan antara Hinata dan Tenten, dan mungkin pertemuan para agen Camp of Fire dengan Dark Heaven. Makasih buat para readers, readers yang uda review, yang uda follow dan fave fic ini, dan juga buat para silent reader yang sudi membaca fic saya #semoga sudi meriview juga. Yosh, cukup sekian cuap-cuap saya, silahkan tinggalkan jejak kalian di fic ini agar saya bisa memperbaiki kesalahan chap ini di chap depan ^^.

.

.

^^ Review? ^^