Yo, semua, balas review dulu ya XD

Rahmadi HLW

Makasih buat semangatnya XD. Semoga chap ini nggak mengecewakan ya #nyengir a la Naruto. Ok, ditunggu reviewnya lagi ^^

fajar jabrik

Hmmm, jawaban pertanyaan kamu bakal ada di chap-chap selanjutnnya, paling cepet chap besok. Berdoalah chap depan semuanya terjawab #dilempar ke hawai. Review again? XD

Brian123

Sebenernya saya aja penasaran tiap kali mau lanjutin fic ini gimana kelanjutannya #dasar orang aneh. Ok, review please

Kurara

Nggak apa-apa kok, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali XD. Makasih dibilang bagus #melayang-layang. Tenten matenya Neji? Secara teknis sih bukan soalnya Neji kan dari klan Hyuuga yang darah murni lucifer tapi ada kejutan tentang mereka nanti #woi itu mah spoiler. Hinata makhluk apa? Jawabannya ada di chap selanjutnya, so ikutin terus fic ini ya #kicked. Yosh, ditunggu lagi reviewnya ^^

Kuntua

Chap awal emang membingungkan sih, saya juga yang nulis rada ambigu #author aneh #dilempar. Semoga bisa menikmati fic ini ya XD. Review again, please

Fox

Nggak bisa up date kilat kan saya bukan petir XD #kicked. Ok, review lagi? XD

Jibakutai

Yup, memang ada hubungannya Hinata sama mate Naruto sebelumnya. Yosh ini udah lajut XD. Review? ^^

Yamashita Hyuuga

Wah, maaf nggak bisa kilat yah, gentian sama utang saya yang lain nih #ketahuan banyak utang fic. Sip, ini lanjutannya XD. Review again? XD

orchideumi

Pertanyaan kamu jawabannya ada di chap depan, so stay tune aja ya XD #dirasengan. Ok, review again, please

bluerose

Yup, Neji satu klan sama Hinata tapi dia lucifer bukan manusia. Siapa Hinata? Next chap kok, tunggu aja ya XD. Review again? ^^

Yourin Yo

Ini lanjutannya, semoga nggak mengecewakan ya XD. Review again, please? ^^

Eiji Namikaze

Wah, makasih nih dikasih 5 bintang #tebar confetti. Hahaha, tenang aja nggak usah di death glare, saya juga bukan penggemar sad ending kok tapi lebih suka ending gantung #dilempar ke Alaska, bercanda kok XD. Buat ending saya masih abu-abu, so, berdoalah saya dapet ilham happy ending^^. Ok, reviewnya ditunggu lho XD.

Kyoanggita

Ini termasuk lama nggak ya? Gomen kalau lama soalnya gentian sama fic multi chap saya yang lain m(_ _)m. Yosh, review again?

Yumi Murakami

Masa sih ini yang pertama OOC? 0.o, semoga OOCnya masih dalam kadar yang bisa diterima deh^^. Ok, review again, please? XD

Nyanmaru

Kisah mereka berdua emang nyesek dulu sih #dirasengan #dijyuuken. Mate Naruto OC apa canon? Jawabannya ada di chap depan, jadi tetap ikutin aja fic ini. Soal Gaara dia emang cakep sih #kicked, yang rambut silver? Kasih tau nggak ya? #dilempar, iya itu Kakashi. Ditunggu reviewnya lagi ya XD

iaansl

Mate Naruto? Jawabannya next chap, so stay tune aja yah XD. Perang mode lucifer? Saya juga pengen gitu tapi nulis scene action itu susah-susah gimana gitu tapi saya bakal usahaain kok . Ok, review again? ^^

Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Supernatural, Fantasy

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

.

Chapter 7 : Old Friend

.

.

.

Aku tidak akan menjadi egois untuk bisa bersamamu, aku tahu tidak mungkin menggantikan posisinya di hatimu. Jadi, biarkan aku menjadi sahabatmu saat ini, menjadi teman, tempatmu bersandar, tempatmu berbagi lukamu.


Hinata cukup terkejut dengan kesibukan di pondok kayu tempat tinggal Naruto, ia pikir para agen khusus seperti Naruto dan teman-temannya tidak akan disibukkan dengan kegiatan pagi hari seperti menyiapkan sarapan. Saat ini ia tengah menatap sosok wanita pirang berkucir empat yang tengah berkutat di dapur, sesekali wanita itu membuat beberapa benda berterbangan ke arahnya, sebenarnya tidak hanya wanita itu yang sibuk, tiga orang kurcaci dengan apron tampak sibuk membereskan beberapa tempat di pondok.

"A-ano, Temari-san, apa ada yang bisa ku bantu?," tanya Hinata pada wanita itu, rasanya tidak sopan jika ia tidak membantu wanita itu dan hanya berdiam diri menunggu sarapan siap.

"Tidak perlu, Hinata-chan, lagi pula para kurcaci sudah membantuku. Kau tamu di sini, sebaiknya kau duduk saja di meja makan," jawab Temari yang masih sibuk dengan kegiatan memasaknya. Hinata masih cukup canggung dengan suasana di tempat ini, ia baru mengenal beberapa orang saja dan sekarang harus ikut sarapan bersama seluruh penghuni pondok ini.

"Hinata-chan? Kenapa kau diam?," suara Temari membuyarkan lamunan Hinata tentang penghuni pondok ini.

"E-etto, a-aku hanya kepikiran tentang penghuni pondok ini. Aku baru mengenal Temari-san dan Naruto-sensei saja."

"Ah, soal itu ya. Mereka memang tidak terlalu sering berada di akademi, hanya Naruto dan Sasuke yang menjadi tutor yang lainnya lebih sering mendapatkan misi di luar," jelas Temari sambil tetap berkonsentrasi pada masakannya.

"A-apa wanita di sini hanya Temari-san?," tanya Hinata lagi, sejujurnya ia sendiri bingung kenapa harus menanyakan hal ini? Ia seperti tengah memancing Temari menceritakan soal mate Naruto padahal ia sendiri tahu itu hanya akan menyakitinya, ah, rasanya Hinata makin tidak mengerti dengan dirinya sendiri.

"Sebenarnya dulu tidak tapi sekarang ya, aku satu-satunya wanita di rumah ini."

Hinata kembali menunduk, merenungi kata-kata Temari. Dulu ada wanita lain di tempat ini, wanita yang menjadi mate Naruto, wanita yang membuatnya merasa sesak ketika mengingat Naruto. Hinata tahu dia tidak mungkin menggeser posisi wanita itu di hati Naruto tapi rasa sesak dan sakit karena keberadaan wanita itu membuatnya lelah. Kadang ia berpikir akan lebih baik jika ia tidak bertemu Naruto, tidak mengenal perasaan sakit seperti ini, dan tidak mengenal perasaan menyenangkan yang menyusup dalam hatinya ketika bersama pemuda itu.

"Nah, sudah selesai!," kata Temari sambil meletakkan piring terakhir, bau harum masakan wanita itu menyebar ke seluruh ruangan, menggoda untuk segera dicicipi.

"Ta-tapi belum ada yang datang," cicit Hinata pelan, bayangan makan pagi berama para anggota pasukan khusus membuatnya semakin canggung apa lagi jika ingat ada orang itu.

Ya, orang itu, orang berambut merah yang bernama Gaara, orang yang mengancamnya tempo hari. Ia tidak tahu alasan apa yang membuat pemuda berambut merah itu mengancamnya padahal mereka baru dua kali bertemu, ketika malam perkenalan dan ketika ia tidak sengaja bertemu pemuda itu di koridor asrama. Pemuda itu sepertinya juga tidak menyukai Naruto, tiap kali Gaara menyebut nama Naruto pasti terselip nada benci atau kilatan amarah dari sepasang jade milik pemuda itu. Hinata kembali memandang Temari, wanita pirang itu memiliki marga yang sama dengan Gaara, bukankah itu berarti mereka ada hubungan saudara? Apakah Temari tahu kenapa Gaara mengancamnya?

"A-ano, Temari-san. Apa Temari-san bersaudara dengan Gaara-san?," tanya Hinata takut-takut, ia memang takut menyinggung masalah ini.

"Ah, kau sudah mengenal Gaara? Aku kakaknya, dia adik bungsuku."

Hinata makin enggan membahas ancaman Gaara tempo hari, kakak pemuda itu sudah terlalu baik padanya. Mungkin biarkan saja ancaman itu menjadi rahasianya sendiri, mungkin saja jawaban dari pertanyaannya akan muncul dengan sendirinya.

"Haaah, kenapa mereka lama sekali? Apa mereka sudah tertular penyakit malas Shikamaru? Ku kira mereka sudah bangun dari tadi," omel Temari sambil beranjak menuju ke depan, mungkin gadis itu berniat membangunkan para pria.

"Oh ya, Hinata-chan, bisa tolong kau bangunkan Naruto? Kadang-kadang dia sulit bangun," tambah Temari sebelum benar-benar menghilang dari hadapan Hinata.

Kata-kata Temari tadi membuat gadis berambut indigo itu mematung di tempat, membangunkan Naruto?

BLUSH

Sebuah semburat merah kini menghiasi paras cantik gadis itu, sebuah perasaan hangat menyusup dalam hatinya. Gadis berambut indigo itu menundukkan kepalanya, memainkan jari telunjuknya ke atas bawah berulang kali berusaha menetralkan degupan jantungnya yang tiba-tiba di atas normal. Mengabaikan rasa sesak dan sakit yang mungkin akan ia rasakan, gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya ke arah kamar sang tutor. Hinata ingat betul bahwa pemuda berambut pirang itu sudah bangun tadi pagi, jadi mungkin ia tidak perlu masuk ke dalam kamar pemuda itu. Perlahan, gadis itu mengulurkan tangannya, mengetuk pintu kamar pemuda itu beberapa kali.

TOK! TOK! TOK!

"Sensei, apa Sensei sudah bangun?," tanya Hinata sambil tetap mengetuk pintu kayu dihadapannya, berharap Naruto segera membuka pintu itu. Sayangnya pemuda berambut pirang yang juga tutor Hinata itu tidak segera keluar dari kamarnya, bahkan tidak menjawab pertanyaan Hinata. Apa dia kembali tidur?

"Sensei? Naruto-sensei?," panggil Hinata sekali lagi dan lagi-lagi tidak ada balasan apa pun dari dalam kamar pemuda itu. Tangan Hinata yang sedari tadi mengetuk pintu kamar Naruto perlahan turun menuju ke arah kenop pintu.

Gelap. Itulah yang pertama kali Hinata lihat ketika membuka pintu kamar Naruto, tidak ada cahaya dalam kamar pemuda berambut pirang itu. Kaki jenjang Hinata melangkah masuk tanpa sadar, sepasang amethyst milik gadis itu menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan gelap itu, berusaha mencari sosok pemuda berambut pirang. Hawa dingin tiba-tiba saja terasa menusuk kulit Hinata padahal ketika ia masuk tadi tidak ada hawa dingin semacam ini.

GREPP!

Gadis itu tersentak kala merasakan sebuah sentuhan di pundaknya disusul sebuah tarikan yang membuatnya menabrak sesuatu yang cukup empuk. Tubuhnya kini terbaring di tempat yang cukup empuk, ia merasakan hembusan nafas menerpanya dari atas, kedua tangannya terkunci membuatnya tidak bisa bergerak. Takut. Ia benar-benar takut, siapa yang ada di atasnya sekarang? Ingatan tentang pertemuannya dengan Gaara kembali mengisi kepala Hinata, apakah yang ada di belakangnya sekarang adalah Gaara? Tapi bukankah ini kamar Naruto?

"Siapa kau?," tanya suara di belakang Hinata.

"K-kau yang siapa? Kenapa kau ada di kamar Naruto-sensei?," Hinata balik bertanya pada sosok yang tengah berada di atasnya.

"Naruto-sensei? Hinata? Kau kenapa ada di sini?," kali ini suara itu sedikit melunak.

Tiba-tiba saja ruangan itu berubah menjadi terang, membuat Hinata bisa melihat siapa sosok yang tengah menindihnya, sosok pemuda berambut pirang yang membuatnya merasakan berbagai perasaan aneh. Rona merah mulai menjalari kedua pipi putih gadis itu kala ia menyadari jaraknya dan Naruto yang begitu dekat, ia bisa melihat kedua blue sapphire itu tengah menatapnya dengan intens seolah membawanya ke dimensi lain.

"Na-naruto-sensei," panggil Hinata pelan.

Mereka berdua masih berada dalam posisi yang sama, Naruto mengurung gadis itu dengan kedua lengannya. Jarak mereka yang semakin sempit membuat Hinata bisa merasakan hembusan nafas pemuda dihadapannya, rasanya benar-benar memabukkan. Ketika nafas mereka bertabrakan Hinata merasakan sebuah kehangatan yang berbeda, rasa hangat yang ia rasakan sekarang seperti sebuah obat atas rasa sakit yang ia derita ketika mengingat mate Naruto. Kedua mata milik pemuda berambut pirang itu terpaku pada pemandangan di bawahnya, tepatnya pada bibir gadis itu yang berwarna kemerahan. Entah mengapa pandangannya tak bisa lepas dari bibir Hinata, bibir gadis itu tampak basah, begitu menggoda.

BRAK!

"Naruto! Kau-! Eh, Hinata-chan?," suara Temari membuat keduanya saling membuat jarak, Naruto segera berdiri sedangkan Hinata kini terduduk di ranjang pemuda itu. Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya lagi, rasanya begitu malu karena Temari memergoki mereka berdua dalam posisi yang cukup-ehm-dekat. Rona merah di pipi Hinata seolah enggan hilang membuatnya semakin manis saja sementara Naruto hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Gomen, sepertinya aku mengganggu," kata Temari sebelum berlalu meninggalkan keduanya.

Keheningan melanda ruangan itu, baik gadis itu maupun Naruto enggan memulai pembicaraan. Naruto sendiri merasa bingung dengan dirinya, jujur saja ia selalu merasa kehilangan kontrol atas dirinya sendiri ketika bersama Hinata. Ia merasa begitu nyaman ketika berada di dekat gadis itu, ia juga merasa aman membiarkan dirinya kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Naruto menggelengkan kepalanya pelan, berusaha menyingkirkan semua pemikiran absurd yang tadi menghinggapi kepalanya. Ia hanya memiliki satu mate, hanya matenya, tidak ada yang lain.

"Sebaiknya kita segera ke ruang makan, Tema-nee pasti sudah menunggu."

.

.

.

"Jadi, apa yang akan kita lakukan?," tanya Hinata pada sang tutor, sekarang mereka berada di salah satu training field yang ada di Camp of Fire. Hinata memandang bingung ke arah anak panah dan busur yang ada dihadapannya. Ia belum pernah menyentuh kedua benda itu, yang ia tahu beberapa anak di sekolahnya menggunakan kedua benda itu dalam salah satu kegiatan ekstra kulikuler.

"Latihan."

"Di Camp of Fire kita tidak hanya menggunakan kekuatan super natural seperti milikmu, kita juga wajib menggunakan senjata," tambah pemuda itu.

"Lalu, kenapa panah? Bukankah ada banyak senjata?"

"Entahlah, ku rasa kau cocok memegang panah," balas Naruto, ia memang tidak tahu alasannya memilih panah sebagai senjata untuk Hinata padahal senjata itu dulunya pernah dipakai oleh matenya. Apakah ia terlalu bernostalgia karena Hinata memiliki mata yang sama dengan matenya? Entahlah, ia tidak tahu alasannya.

TRANG!

DOR!

Suara logam yang saling beradu dan suara tembakan membuat Hinata mengalihkan pandangannya, mendapati dua warna berbeda tengah saling beradu senjata. Biru gelap dan merah muda. Uchiha Sasuke dan Haruno Sakura tengah bertarung di salah satu sudut training field. Hinata begitu kagum dengan kemampuan Sakura, gadis itu tidak hanya cantik tapi juga lihai dalam menggunakan senjata. Gadis berambut merah muda itu begitu lihai menggunakan shot gun di tangan kanannya dan sebuah katana di tangan kirinya, gadis itu tampak begitu tangguh jika dibandingkan dirinya.

"Kau kenapa Hinata?," tanya pemuda berambut pirang di sampingnya, sepertinya Naruto menyadari perubahan raut wajah Hinata.

"A-aa, tidak, tidak apa-apa."

"Sepertinya Teme sukses dengan calon agen asuhannya itu, dia temanmu bukan?," tanya Naruto lagi. Hinata hanya menjawab dengan sebuah anggukan, pikirannya sekarang kembali diselimuti sebuah tanda tanya besar, apakah ia cukup pantas berada di sini?

"Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan, Hinata?" Direksi pandangan gadis berambut indigo itu teralih pada pemuda pirang di sebelahnya, sang tutor tampak menatapnya penuh tanya, ada sebersit kekhawatiran yang terlihat di sepasang blue sapphire milik tutornya.

"A-aku hanya berpikir apakah aku pantas berada di sini? A-aku tidak memiliki kemampuan apa pun," jawab Hinata pelan, ia tidak mengerti, kenapa ia begitu lemah ketika berhadapan dengan sepasang mata sebiru lautan milik Naruto? Mata pemuda itu seolah memaksanya untuk mengatakan semua pikirannya pada pemuda itu.

Sebuah helaan nafas pendek terdengar dari pemuda itu sebelum ia berujar,"Kau pernah mengatakan hal itu ketika pertama kali aku memintamu masuk akademi. Kau tahu, kau memiliki sebuah kemampuan, kemampuan yang entah bagaimana bisa membuatku merasakan berbagai perasaan yang seharusnya tak ku rasakan lagi. Kau spesial, ada sesuatu pada dirimu yang membuatmu lebih dari yang lainnya."

"Apa?," cicit Hinata pelan, kepala gadis itu kembali menunduk tak ingin bertatapan dengan sepasang blue sapphire milik Naruto.

Sebuah tangan membuat kepala Hinata yang tadinya menunduk menjadi mendongak, membuat sepasang amethyst milik gadis itu berhadapan dengan sepasang blue sapphire. Kedua pipi milik gadis itu sekarang terasa hangat, ia sangat yakin sekarang wajahnya semerah kepiting rebus, lagi-lagi jaraknya terlalu dekat dengan Naruto. Ia memang tidak pernah terbiasa dengan jarak seperti ini tapi ia jelas menikmati kedekatannya dengan Naruto.

"Ketulusanmu, keberanianmu, semua yang ada dalam dirimu adalah hal yang istimewa."

"Uzumaki-sensei? Hinata-chan? Kalian sedang apa?," sebuah suara kembali membuat Naruto dan Hinata terpisah, gadis berambut indigo itu merasa seperti déjà vu. Tadi pagi hal yang sama juga terjadi, bedanya tadi pagi mereka tertangkap basah oleh Temari dan sekarang tertangkap basah oleh sosok berambut merah muda, Sakura.

"E-etto, kami tidak melakukan apa-apa," balas Hinata gugup, rasanya begitu malu mengalami kejadian seperti ini lagi.

"Apa yang sedang kau lakukan, Dobe?"

"Aku akan mengajari Hinata menggunakan ini, Teme," jawab Naruto sambil menunjuk ke arah panah dan busur yang ada di dekatnya.

Pemuda berambut raven itu sedikit heran dengan pilihan Naruto, dari sekian banyak senjata yang ada, kenapa harus panah dan busur? Bukankah itu berarti Hinata akan memakai senjata yang sama seperti yang digunakan oleh mate Naruto?

"Sasuke-kun, kau kenapa?," tanya Sakura pada pemuda berambut raven itu.

"Sasuke-kun?," ulang Naruto mengikuti kata-kata gadis berambut merah muda itu, sebelah alis si pirang itu terangkat tinggi, sejak kapan sahabat temenya itu dipanggil dengan sufiks-kun?

"Sejak kapan kau memanggilnya dengan sebutan seperti itu?," tambah si pemuda pirang itu.

"Sejak tadi pagi," jawab Sakura polos tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya Naruto, sepertinya tutor Hinata itu belum puas dengan jawaban Sakura.

"Ayo pergi, Sakura," ajak Sasuke pada gadis itu, sebelah tangannya yang tak menggenggam katana segera menarik tangan gadis itu menjauh dari Hinata dan Naruto.

"Apa yang sebenarnya terjadi?," gumam Naruto pelan.

Sementara Naruto sibuk dengan berbagai pertanyaan mengenai sahabatnya dan Sakura, Hinata justru merasakan sebuah aura berbeda. Aura kelam tapi terasa begitu tipis seolah ingin menghilang, samar-samar ia merasakan aura yang familiar untuknya, seperti milik Naruto saat pemuda itu berubah dalam mode lucifer. Aura-aura itu seperti tengah bergerak mendekat.

"Se-sensei, apa Naruto-sensei merasakan sesuatu?," tanya Hinata membuat Naruto memandangnya penuh tanya, apa maksud gadis itu?

"Maksudmu apa, Hinata?"

"A-aku merasakan aura aneh tapi begitu tipis," jawab gadis itu separuh tak yakin karena aura yang tadi ia rasakan semakin tipis.

Naruto tampak masih menatap lekat gadis berambut indigo itu, tampaknya pemuda pirang itu tengah menimbang-nimbang pernyataan Hinata barusan. Ia memang tidak merasakan aura aneh sejak tadi tapi mengingat kehadiran Suigetsu dan Juugo tempo hari, bisa jadi apa yang dikatakan Hinata benar.

"Nanti aku akan melapor, sebaiknya sekarang kita berlatih dulu. Kau ingin menyelamatkan temanmu bukan?," putus Naruto, baginya ini yang terbaik. Belum tentu jika ia bisa mengendalikan dirinya sendiri ketika ia bertemu si pemilik aura aneh itu, lagi pula masih ada Hinata yang harus ia urus.

"Ba-baik, sensei."

Baik Naruto maupun Hinata tidak menyadari sepasang mata tengah memperhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan tatapan penuh amarah. Sepasang mata itu memincing tak suka ketika menatap rona merah yang tercetak di wajah Hinata saat gadis itu menatap Naruto.

"Harusnya kau tidak berada di sini," sebuah suara dingin membuat pengintaian sosok itu terhenti, si pemilik suara menatap tak suka ke arah sosok itu. Sosok pengintai itu justru menyeringai ketika menyadari siapa orang yang mengganggu kegiatannya, sosok pemuda berambut merah dengan tato 'ai' di dahi.

"Heh, apa pedulimu?," tanya sosok itu.

"Kau hanya menjemput kematianmu jika tetap berada di sini, para pendiri Camp of Fire jelas memiliki kepekaan yang lebih tinggi dari pada mereka."

Gaara hanya mendengar suara dengusan nafas dari sosok itu, ia tahu tujuannya dan tujuan sosok itu jelas berbeda tapi dia akan melakukan apa saja asal semua rencanya bisa terwujud. Termasuk bekerja sama dengan sosok dihadapannya, tuan muda baru Dark Heaven.

"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Ingat, kami akan datang lagi, persiapkan semuanya," kata sosok itu sebelum pergi meninggalkan Gaara seorang diri.

Direksi pandangan pemiliki jade itu berubah arah, kini ia menatap sosok berambut pirang yang tengah mengajari seorang gadis berambut indigo. Ia memang membenci sosok berambut pirang itu, Uzumaki Naruto, orang yang telah membuatnya kehilangan seorang gadis yang begitua ia cintai.

"Kita lihat sejauh apa takdir mengikatmu dengan gadis itu, Uzumaki."

.

.

.

"Kenapa kau membawaku pergi?," rutuk Sakura pada pemuda berambut raven yang ada dihadapannya. Gadis merah muda itu jelas kesal karena si rambut raven tiba-tiba membawanya pergi padahal ia masih ingin melihat manisnya interaksi Naruto dan Hinata. Sakura menggembungkan pipinya kesal sambil menghindari onyx dihadapannya.

"Lebih baik kau ikut aku dari pada mengganggu mereka."

"Tapi aku ingin melihatnya, Sasuke-kun!," rajuk gadis berambut merah muda itu pada pemuda Uchiha di sampingnya. Tidak ada lagi jarak di antara mereka seperti sebelumnya, Sakura bebas merajuk seperti apa pun pada pemuda itu. Semua ini terjadi karena Sasuke sudah mengerti semuanya, pemuda itu sudah mengetahui siapa sebenarnya gadis di sampingnya itu.

Flash back mode on

Malam sudah sepenuhnya berlalu ketika Sakura tiba di asrama akademi, ia sedikit menyesali perbuatannya yang meninggalkan Hinata begitu saja, menyesali kenapa ia berbicara terlalu banyak dihadapan Uchiha Sasuke. Sejujurnya ia tidak berniat meninggalkan Hinata begitu saja tanpa penjelasan, hanya saja inilah caranya untuk membantu Hinata, membantu gadis itu untuk bisa menemukan takdirnya. Helaan nafas pendek terdengar kala ia memutar kenop pintu kamarnya, kamar itu masih sama, gelap dengan jendela yang tertutup rapat. Meskipun saat ini matahari sudah menggantikan bulan, kamar itu tetap saja gelap, Sakura menggunakan kekuatannya untuk membuat kamar ini tetap dalam kondisi gelap.

KLIK!

Sepasang viridian milik Sakura melebar ketika tiba-tiba ruangan menjadi lebih terang, bukan, bukan dia yang menyalakan penerangan. Lagi-lagi sepasang mata hijau itu melebar karena terkejut akan kehadiran sosok lain di ruangan itu, sesosok pemuda berambut emo yang tengah duduk, menatapnya dengan sepasang onyx sekelam malam dengan tatapan menuntut.

"Kenapa Senpai ada di sini?," tanya Sakura setelah ia berhasil menguasai keadaan, mengabaikan degupan jantungnya yang menggila akibat kehadiran pemuda itu.

"Kau yang menyuruhku datang menemuimu jika aku sudah tahu."

Dalam hati, gadis berambut merah muda itu separuh merutuki kemampuannya dalam mengingat sesuatu. Bukankah ia sendiri yang menyuruh Sasuke menemuinya jika pemuda itu sudah tahu siapa dirinya yang sebenarnya?

"Jadi, Senpai sudah tahu?," tanya Sakura, berusaha memastikan apa yang akan mereka bahas untuk kedua kalinya.

"Hn."

Sakura memang sudah tahu semua ini akan terjadi tapi tetap saja ia tidak bisa menetralkan degupan jantungnya yang melebihi normal ketika bersama pemuda beriris sekelam malam itu. Sejak ia tahu tentang benang merah yang mengikatnya dan Sasuke, Sakura merasa seperti sudah tahu segalanya tentang pemuda itu padahal mereka baru bertemu ketika ia masuk ke akademi.

"Dari mana kau tahu kalau kau adalah mateku?," pemuda itu kembali buka suara, sejak tahu kenyataan tentang Sakura, pertanyaan itu terus menerornya. Normalnya, kaum campuran lah yang lebih tahu keberadaan matenya tapi sekarang justru terbalik, matenya yang menemukan dirinya.

"Kau tahu tentang peramal delphi?"

Sasuke mengerutkan alisnya sejanak, peramal delphi? Bukankah mereka adalah peramal yunani kuno? Setahunya peramal delphi sudah sangat jarang ditemukan, mereka lebih suka menyembunyikan kemampuannya atau bahkan menghilangkan kemampuan itu. Lalu apa hubungannya gadis dihadapannya dengan peramal delphi?

"Kau salah satu dari mereka?," tebak pemuda itu.

"Bukan, aku penyihir celtic kuno. Ada peramal delphi yang berbaik hati menunjukkan apa takdirku dan benang merah kita," jelas gadis itu sambil tersenyum simpul, senyum yang terus menghantui Sasuke selama beberapa hari ini.

"Kau percaya begitu saja?"

"Aku membaca pikirannya sendiri jadi aku percaya ramalan itu," jawab gadis berambut merah muda itu.

Sasuke tahu hanya ada satu cara untuk membuktikan semuanya, ia harus menghisap darah gadis itu tapi kejadian yang dialami Naruto membuatnya dilema. Sekarang ia merasa takut, takut jika Sakura bernasib sama seperti mate Naruto. Jauh dalam hatinya ia memang merasaksan sebuah perasaan baru pada gadis berambut merah muda itu tapi apa yang dirasakannya sekarang bukanlah bukti absolut bahwa gadis itu adalah matenya. Pemuda berambut raven itu bangkit dari duduknya, melangkahkan kakinya ke arah gadis berambut merah muda itu.

"Lalu, bagaimana kau bisa tahu banyak tentang Camp of Fire?," kata bungsu Uchiha itu sambil memerangkap tubuh Sakura di antara kedua lengannya. Onyx miliknya kini berhadapan dengan sepasang viridian milik Sakura, debaran jantungnya menjadi satu-satunya melodi yang bisa ia dengar.

"Apa aku harus menjawabnya?," lirih gadis itu. Ada keraguan dalam kata-kata gadis itu dan semua itu jelas membuat Sasuke semakin bimbang.

"Kenapa kau tidak mau menjawab?"

"….."

Jarak di antara keduanya semakin menipis, Sakura merasa seperti tersihir ketika menatap sepasang mata sekelam malam milik pemuda dihadapannya. Ia tahu hal itu jelas tidak mungkin, Sasuke bukanlah penyihir seperti dirinya, pemuda itu adalah kaum campuran, matenya. Awalnya ia memang tidak memperkirakan akan menjadi mate seorang kaum campuran tapi ketika ia membaca ramalan itu, ia sudah merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasa telah terikat dengan pemuda dihadapannya ini, ada sesuatu pada diri Sasuke yang membuatnya tidak bisa menjauh dari pemuda itu. Inikah yang dinamakan cinta?

"Kau yakin kau adalah mateku?," tanya pemuda itu lirih, hembusan nafasnya dan gadis itu saling bertabrakan menimbulkan sensasi memabukkan bagi keduanya. Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban atas pertanyaan Sasuke.

"Kau tahu apa akibatnya jika aku menghisap darahmu dan kau bukan mateku?"

"Aku tahu, kematian."

Bungsu Uchiha itu sedikit menjauhkan wajahnya dari gadis itu, menatap lekat sepasang mata hijau meneduhkan milik Sakura. Gadis ini tahu konsekuensinya, lalu apa lagi yang ia ragukan? Apakah ia takut Sakura akan bernasib sama seperti mate Naruto? Tapi gadis dihadapannya dan mate Naruto jelas berbeda.

"Aku….. tidak ingin membunuhmu," bisik pemuda itu pelan, sekali pun dalam tiap kata yang terucap dari bibirnya terselip nada dingin dan datar, Sakura tahu pemuda itu benar-benar tulus mengucapkannya.

Gadis itu mendongak, membuat dahi mereka bersentuhan. Ada rasa hangat yang menjalar di pipinya kala menatap wajah tampan Sasuke dari jarak dekat, sekarang pasti pipinya sudah semerah tomat. Ia tahu pemuda itu meragukannya, awalnya ia juga ragu ketika membaca ramalan itu tapi kemudian ia mempercayainya. Percaya bahwa dirinya dan Sasuke terikat sebuah benang merah yang justru menurut Sasuke sebuah kutukan.

"Kau bisa membuktikannya, aku ingin kau membuktikannya," gumam gadis itu. Ia ingin Sasuke sama seperti dirinya, percaya bahwa mereka memang terikat dengan sebuah ikatan antara kaum campuran dan matenya.

"Jika aku ma-hhmmpf," gadis berambut merah muda itu belum menyelesaikan kalimatnya tapi pemuda berambut raven dihadapannya sudah membungkam bibirnya.

Dingin. Lembut. Itu yang Sakura rasakan ketika bibirnya bersentuhan dengan bibir Sasuke, rasa dingin itu terasa begitu pas dengan bibir hangat miliknya. Lidah Sasuke menjilat bibir gadis itu berulang kali, seperti meminta ijin untuk masuk ke dalam mulut gadis berambut merah muda itu. Menuruti instingnya, Sakura perlahan mengalungkan kedua tangannya pada leher pemuda itu dan mulai membuka mulutnya. Kebutuhan akan oksigen membuat keduanya mengakhiri pagutan mereka, bungsu Uchiha itu sempat menjilat ujung bibirnya merasakan rasa manis yang tertinggal. Mungkin rasa manis dari gadis dihadapannya adalah satu-satunya rasa manis yang ia tolerir.

"Aku ingin kau membuktikannya," kata gadis itu sekali lagi sambil mengambil oksigen sebanyak mungkin.

"Kenapa kau keras kepala?"

"Aku ingin kau tahu bahwa ini bukan kutukan tapi benang merah yang menghubungkan kau dan aku."

Flash back mode off

"Aku baru tahu kau sudah menemukan matemu, Sasuke," sebuah suara menginterupsi kegiatan Sasuke dan gadisnya itu, refleks, pemuda Uchiha itu mengalungkan tangannya ke arah pinggul Sakura. Insting protektifnya sebagai seorang kaum campuran membuatnya bertindak seperti itu padahal Sakura bukanlah gadis yang tidak bisa menjaga dirinnya sendiri.

"Kau," desis Sasuke tak suka, onyx miliknya menatap sosok dihadapannya dengan tatapan mengintimidasi sayangnya sosok itu justru memamerkan senyuman tanpa dosa khas miliknya.

"Dia siapa, Sasuke-kun?," tanya Sakura sambil menatap Sasuke dan pemuda dihadapannya bergantian.

"Hanya teman lama, Nona Jelek."

TWITCH

Sebuah perempatan muncul di dahi gadis berambut musim semi itu, sosok pucat dihadapannya benar-benar memancing emosi. Memangnya ada seorang gadis yang mau dicap jelek?

"Kenapa kau berkeliaran di sini? Seharusnya kau langsung ke menemui Shikamaru."

"Tadinya aku memang ingin langsung menemui pemuda pemalas itu tapi tanda di leher gadismu membuatku berhenti," balas sosok pemuda berkulit pucat yang masih saja mempertahankan senyumannya. Disinggung mengenai tanda di lehernya membuat Sakura refleks menyentuh tanda itu, bekas taring Sasuke saat pemuda itu menghisap darahnya. Tanda itu tidak akan pernah hilang, itu adalah bukti bahwa Sakura adalah mate seorang Uchiha Sasuke dan gadis itu membalas perasaan pemuda berambut raven di sebelahnya.

"Ku kira itu bukan urusan para lucifer," kata Sasuke dingin.

"Setidaknya menjadi urusanku seorang teman lama."

.

.

.

Aura kelam yang dirasakan Hinata tidak menghilang begitu saja melainkan timbul tenggelam, kadang aura gelap itu muncul begitu kuat kadang aura itu begitu tipis. Gadis bermata amethyst itu tidak lagi membicarakan aura yang ia rasakan pada Naruto. Ia merasa akan ada sesuatu yang buruk jika pemuda itu terlibat lebih jauh dengan aura yang ia rasakan.

"Kau masih memikirkan aura itu?," tanya si pemuda berambut pirang itu tiba-tiba membuat Hinata tersentak kala menyadari sosok pirang itu sudah berada di sebelahnya.

"U-uhm, sedikit."

"….."

"Na-naruto-sensei, mate Sensei seperti apa?," tanya Hinata hati-hati, ia tahu topik ini cukup sensitif bagi Naruto tapi ia ingin tahu seperti apa gadis yang memiliki posisi penting di hati tutornya.

Awalnya pemuda itu menatap Hinata dengan tatapan aneh, seperti menilai gadis berambut indigo itu tapi kemudia sebuah kurva senyuman muncul dari wajah pemuda itu. Hinata merasa aliran darahnya kini berpindah ke area pipinya, rasanya wajahnya memanas ketika menatap senyum itu. Untuk pertama kalinya, ia bisa melihat sang tutor tersenyum sekalipun ia tahu senyuman itu bukan untuknya, sekalipun ia tahu senyum itu menyimpan sejuta kegetiran yang dirasakan Naruto.

"Dia cantik, kuat dan berani. Satu-satunya gadis yang tidak menyebutku dengan sebutan bodoh, gadis yang terlalu memikirkan orang lain," jawab pemuda itu.

"….."

"Kalian memiliki mata yang sama," tambah Naruto.

Hinata POV

Rasa sakit itu datang lagi, untuk kesekian kalinya. Aku tahu yang ku lakukan benar-benar bodoh, sudah jelas aku akan merasa sakit jika Naruto-sensei membahas matenya tapi aku tetap saja memancingnya agar menceritakan gadis itu. Sayangnya, Naruto-sensei hanya bisa tersenyum ketika mengingat gadis itu. Sensei, bisakah Sensei tersenyum karena aku? Tertawa lepas karena aku bukan karena mate Sensei?

Ah, kenapa aku jadi memikirkan hal yang tidak mungkin? Kaum campuran hanya setia pada satu mate dan Naruto-sensei sudah memiliki matenya. Aku tidak perlu memikirkan hal egois semacam itu, cukup seperti ini saja, cukup berada di dekat Naruto-sensei dan menjadi tempatnya bersandar. Bagiku itu sudah cukup.

"Tapi meskipun warna mata kalian sama, aku tetap merasa kau memiliki mata yang berbeda dari miliknya."

"Maksud Sensei apa?," tanyaku padanya.

"Matamu lebih memancarkan keberanian dan ketulusan, aku… suka amethyst milikmu."

Benarkah itu? Apa aku tidak salah dengar? Naruto-sensei bilang dia suka mataku? Apa yang ada di sebelahku ini benar-benar Naruto-sensei?

"Hei, Hinata. Kenapa wajahmu merah sekali?," tanya Naruto-sensei sambil mengamati wajahku.

Normal POV

"E-etto, mungkin karena panas Sensei," jawab Hinata cepat sebelum pemuda pirang itu mempersempit jarak di antara mereka.

"Sebaiknya aku segera melapor pada Shikamaru-nii tentang aura itu, mungkin saja ada penyusup lagi," kata Naruto sambil beranjak dari posisi duduknya.

"Kau mau ikut?," tambah pemuda itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Hinata.

Sepasang amethyst itu mengengadah, menatap ragu blue sapphire dihadapannya.

BOOOM!

Sebuah suara ledakan membuat keduanya menatap kepulan asap yang ada di arah timur, sebelah alis Naruto terangkat heran menatap titik yang kini dipenuhi asap berwarna hitam itu. Sementara Hinata justru merasakan aura itu menguat, aura kelam seperti milik pemuda yang menculik Tenten.

"Sensei, aura di tempat itu semakin kuat," kata Hinata, gadis itu melirik pemuda pirang dihadapannya. Ekspresi pemuda itu kini berubah 180 derajat, sepasang blue sapphire itu kini lebih gelap memancarkan hawa membunuh dan amarah di dalamnya. Tangan Naruto mengepal kuat menahan gejolak amarah yang tengah dirasakannya. Apa yang dikatakan Hinata benar, aura itu memang semakin kuat, aura milik seseorang yang paling ia benci.

Raungan alarm tanda bahaya di Camp of Fire menggema di seluruh sudut tempat itu, para calon agen segera di evakuasi sedangkan para agen ANBU segera menuju lokasi kejadian. Para penghuni Camp of Fire tahu, yang mereka hadapi bukanlah orang biasa. Aura yang menguar dari tempat itu seperti sebuah sura tantangan perang bagi para ANBU, mereka jelas mengenali aura yang ada di tempat itu.

"Bagaimana mereka bisa masuk? Bukankah semuanya sudah diperketat?," tanya sosok berambut orange dengan tindikan di wajahnya, Pain jelas tidak mengerti bagaimana bisa orang-orang itu kembali menyusup? Keamanan Camp of Fire sudah diperketat sejak saat itu tapi kali ini mereka kembali kecolongan atau memang ada penyusup di antara mereka?

"Bukankah ini bagus, Pain? Bertemu teman lama tidak buruk," kata Kisame yang sudah menggendong pedang kesayangannya, bagi pria mirip hiu itu ini adalah kesempatan bagus. Ia akan membereskan urusannya dengan organisasi itu.

"Tidak bagus jika mereka sudah menemukan apa yang mereka cari."

"Kita akan tetap menjalankan rencana?," tanya wanita berambut pirang panjang pada rekannya yang berkulit pucat.

"Ya, sekarang saatnya menyambut teman lama, Tsunade," balas Orochimaru sambil menatap kepulan asap hitam yang kian membumbung tinggi. Sepertinya teman lama mereka ingin mengumumkan perang.

"Apa kita harus mengurung bocah itu?," tanya Jiraiya yang entah sejak kapan sudah berada di samping Orochimaru.

"Ku rasa tidak perlu, ada yang bisa mengendalikan bocah itu."

Kepulan asap akibat ledakan tadi mulai menghilang, menyisakan sebuah lubang besar di permukaan tanah. Beberapa siluet mulai muncul dari kepulan asap tipis itu, membuat para agen ANBU yang ada di sana segera memasang kuda-kuda.

"Wow, tidak ku sangka sambutan kalian semeriah ini," kata sesosok pemuda berambut hitam, di belakangnya sudah ada beberapa orang yang cukup familiar bagi para anggota ANBU, teman lama mereka.

"Apa yang kalian inginkan?," tanya sosok berambut pirang yang merangsek maju ke depan, giginya bergemeletuk menahan amarah ketika menatap sosok seorang pemuda di antara orang-orang itu.

"Tenang, tenang, kau seharusnya senang bisa bertemu denganku, Uzumaki Naruto," balas si rambut hitam.

"Siapa dia, Dobe?," tanya Sasuke pada sahabatnya itu, pemuda berambut hitam itu tampaknya tahu banyak tentang sahabat dobenya.

Naruto memincingkan matanya, mencoba mengenali siapa pemuda bermbut hitam itu. Sepasang blue sapphire miliknya terbelalak ketika menatap wajah pemuda yang mirip dirinya itu, bedanya pemuda itu memiliki warna rambut hitam sedangkan rambutnya sendiri berwarna pirang. Siapa pemuda itu sebenarnya?

"Kenapa kalian datang ke tempat ini?," tanya sang ketua dewan, ia tidak suka jika wilayahnya diusik apa lagi oleh orang-orang dari organisasi ini.

Hinata yang ada di belakang Naruto mengamati sosok-sosok dihadapannya satu per satu, direksi pandangannya terhenti pada sosok pemuda berambut cokelat panjang yang memiliki mata seperti miliknya. Amethyst milik Hinata melebar kala mendapati siapa yang ada di samping pemuda itu.

"Tenten-chan!"

.

.

.

TBC
.

.

.

Yeaaayy, betapa senangnya saya bisa menulis kata TBC di fic ini. Entah kenapa saya seneng bisa menyelesaikan chap ini meskipun saya nggak tahu hasilnya memuaskan di hati para readers atau nggak. Sesuai janji saya, para agen udah ketemu sama Dark Heaven dan Hinata udah ketemu sama Tenten #ketawa nista. Nggak terasa udah sampe chapter 7, chapter yang membuat saya bingung sejujurnya. Awalnya saya mau masukin sedikit penjelasan tentang Hinata tapi akhirnya saya masukin ke chap selanjutnya karena mau bikin some thing romance buat para chara di sini #sok romantis, so maaf kalo scene nya rada-rada aneh sepertinya sudah banyak dugaan tentang siapa matenya Naruto, saya nggak mau jawab sekarang biar readers nebak-nebak #dilempar. Ok, cukup sekian obrolan gaje saya, silahkan tinggalkan review, saran, kritik, apa pun deh, mau tanya juga boleh. Review kalian adalah tambahan semangat saya buat ngetik fic ini.

.

.

.

^^ Review? ^^