Balasan review XD :
Kurara
Iya itu menma, maaf sebelumnya nggak bisa up date kilat m(_ _)m. Makasih sarannya, udah tak tambahin genrenya XD. Review again? ^^
iaansl
Di chap ini ada hints matenya Naruto kok, scene battle? Ada dan semoga nggak mengecewakan ya #pundung. Yang muncul di depan sasusaku? Iya itu Sai. Soal Tenten ada di chap depan #dilempar, buat Temari sama Gaara mereka sebenernya bukan kaum campuran, jadi nggak semua anggota ANBU itu kaum campuran. Yosh, reviewnya ditunggu XD.
Brian123
Yang datang siapa? Tenang di chap ini kejawab kok XD. Review? ^^
Nggak apa-apa kok baru review, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali XD. Rencananya sih pengen cepet-cepet sampe ending, doakan aja segera selesai #dilempar ke hawai. Ok, reviewnya ditunggu XD
Nirina-ne Bellanesia
Gomen nggak bisa flash up date m(_ _)m, semoga chap ini nggak mengecewakan ya. Review again?
Kuntua
Pertempuran? Tenang aja ada kok XD. Reviewnya ditunggu lagi ^^
Rahmadi HLW
Makasih udah mau nunggu up datenya XD, semoga chap ini juga bisa memuaskan. Review again? XD
Cakacaka
Yosh, ini lanjutannya. Reviewnya ditunggu
HyuNami NaruNata
Makasih sebelumnya , maaf nggak bisa up date kilat nih m(_ _)m. Review again? XD
bluerose
Iya Hinata bisa merasakan aura, gaara ngomong sama siapa? Ayo tebak dong #dilempar sandal. Siapa yang dicintai Gaara? Ada hintsnya kok di chap ini XD. Kenapa Tenten ada dipihak musuh? Jawabannya ada di chap depan, so stay tune ya XD. Ok, review again?
amichy
Makasih nih sebelumnya XD, maaf kalau up datenya lama m(_ _)m, perlu cari ilham dulu #pundung. OK, reviewnya ditunggu ^^
orchideeumi
Gaara pengkhianat? Di chap ini dijelasin kok. Nggak perlu pake anda, formal banget kayaknya XD. Di chap ini uda dijelasin tapi kalo masih kurang jelas semuanya ada di chap depan. Yosh, review? XD
Yourin Yo
Makasih buat semangatnya XD, review? ^^
Yumi Murakami
Minata sama Kushina? Kemungkinan besar mereka nggak muncul soalnya udah terlalu banyak make chara nih #didemo. Ok, reviewnya ditunggu ya XD
aeon zealot lucifer
Naruto bakal nyadar atau nggak? Dia bakal sadar kok nanti #dirasengan. Teman lama? Ada di chap ini XD. Review again?
Megu-chan
Maaf sebelumnya nggak bisa up date kilat m(_ _)m, semoga chap ini nggak mengecewakan . Reviewnya ditunggu XD
Anaatha Namikaze
Makasih sebelumnya udah dibilang keren XD, rentan up date biasanya dua minggu sekali tapi sekarang terganggu karena beberapa hal. Ok, ditunggu reviewnya ^^
Karizta-chan
Ini kelanjutannya semoga masih seru ya XD, review again?
Uchiha Hime is Poetry CeLemoet
Mate Naruto? Ada hintsnya di sini XD. Naruto nggak sadar perasaannya? Emang kan dia baka #dirasenshuriken. Maaf nggak bisa up date kilat m(_ _)m, yosh, review? XD.
Sun for The Dark © cherry aoi
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Genre : Fantasy, Romance
Rated : T
AU, Alternative Universe
Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.
Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.
.
.
.
Chapter 8 : Declaration of War
.
.
.
Tidak ada orang yang pernah tahu bagaimana masa depan kita, sama sepertiku yang tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang aku tahu aku hanya ingin bersamamu, jadi bolehkah aku menjadi orang yang egois sekali ini saja?
Sepasang amethyst milik Hinata masih mengamati sosok gadis berambut cokelat bercepol dua yang berada di belakang pemuda yang menculiknya. Tatapan Tenten masih saja kosong sama seperti terakhir kali Hinata bertemu dengannya, gadis bercepol itu juga tak bergeming meskipun Hinata berulang kali menyebut namanya. Sementara itu Uzumaki Naruto masih berusaha mengenali siapa pemuda berambut hitam yang begitu mirip dengan dirinya, ia benar-benar tak mengingat pemuda itu tapi sebaliknya pemuda itu sepertinya begitu mengenalnya.
"Tenten-chan! Ini aku, Hinata!," teriak Hinata untuk kesekian kalinya.
"Hentikan Hinata, percuma kau memanggilnya. Gadis itu sedang tidak sadar," kata Sakura yang entah sejak kapan sudah berada di samping Hinata.
"Ma-maksud Sakura-chan apa?"
"Dia tidak memiliki kesadaran, semua gerakannya diatur oleh pengguna mantra," balas Sakura.
"Kalian tidak berkepentingan di tempat ini, sebaiknya kalian segera keluar," perintah Pain pada sekelompok orang berpakaian serba hitam yang dipimpin sosok pemuda berambut hitam dengan coretan di kedua pipinya.
"Tenang-tenang, seharusnya para dewan tidak perlu seperti itu. Kami hanya datang berkunjung," balas si rambut hitam.
"Siapa kau? Apa maumu?!," teriak Naruto lantang, ia benar-benar tak mengerti dengan sikap Dark Heaven. Untuk apa mereka repot-repot membuat sebuah ledakan? Seharusnya jika mereka ingin menyerang Camp of Fire, mereka akan bertindak lebih hati-hati lagi, penyerangan Dark Heaven kali ini benar-benar berbeda.
"Ckckckck, sepertinya ingatanmu memang memburuk ya, Nii-san. Kami hanya ingin mengambil gadis itu, jadi serahkan dia baik-baik maka kami akan pergi dengan damai," jelas pemuda yang tengah menunjuk ke satu arah, Hyuuga Hinata.
Rahang Naruto mengeras, ia benar-benar muak dengan pemuda berambut hitam yang ada dihadapannya. Siapa pemuda itu? Kenapa ia berani memanggilnya dengan sebutan Nii-san? Dan lagi untuk apa dia mengincar Hinata? Semua pertanyaan itu berputar-putar di kepala Naruto.
"Dia anggota Camp of Fire, kami tidak akan menyerahkannya begitu saja padamu."
"Begitu? Kalau begitu aku akan mengambilnya sendiri," balas si rambut hitam.
Detik itu juga orang-orang berpakaian serba hitam yang ada di belakangnya berloncatan berusaha mengambil gadis berambut indigo yang ada di sebelah Sakura. Hinata hanya bisa menatap orang-orang yang berloncatan ke arahnya, entah kenapa ia sama sekali tidak bisa bergerak. Keringat dingin mulai turun melalui kedua pipinya, ia benar-benar takut, firasatnya mengatakan orang-orang ini bukanlah orang baik terutama pemuda berambut hitam wajahnya mirip dengan Naruto. Aura milik orang itu terasa begitu pekat, Hinata seolah merasa lehernya seperti tercekik ketika merasakan aura pemuda itu.
Hembusan angin yang begitu kencang menerpa sekeliling Hinata ketika orang-orang itu berada di dekatnya, sebagian dari orang berbaju hitam itu terpental ke belakang beberapa meter sementara sisanya masih melayang-layang di udara. Sepasang amethyst itu kembali melebar kala menyadari siapa dewa penyelamatnya kali ini, masih sosok yang sama yang sudah menolongnya berulang kali, Uzumaki Naruto.
"Langkahi dulu mayatku jika kalian ingin menyentuhnya. Shikamaru-nii, hentikan jurusmu, kau membuat Hinata tidak bisa bergerak. Sakura, bawa pergi Hinata dari sini," perintah pemuda berambut pirang itu, sepasang blue sapphire miliknya kini berubah warna menjadi orange, memancarkan hawa membunuh.
"Ta-tapi," cicit Hinata pelan, ia merasa semua ini tidak benar. Seharusnya ia bisa berada di samping pemuda itu, membela dirinya sendiri dan bukannya harus pergi menyelamatkan diri seperti seorang pengecut. Selain itu, Hinata ingin tahu alasan orang-orang itu, kenapa mereka begitu menginginkan dirinya? Padahal ia hanyalah orang biasa yang tidak terlalu menonjol.
"Bawa Hinata sekarang Sakura, ini bukan urusan para calon agen," kata sosok pemuda mirip Sasuke yang entah sejak kapan sudah berada di sebelah gadis berambut merah muda itu.
"Ayo, Hinata," ajak Sakura pada gadis berambut indigo itu. Hinata hanya bisa menatap sekilas wajah Naruto sebelum Sakura membawanya pergi dengan kecepatan di luar akal sehat.
Para dewan yang ada di belakang Naruto mulai berjalan ke sisi Itachi, ini adalah tanggung jawab mereka sebagai seorang dewan, melindungi Camp of Fire apa pun resikonya. Seringai mulai terpatri di wajah kedua kubu, bagi mereka ini bukanlah sekedar perseturuan antara dua kubu, ini adalah ajang pembuktian siapa yang membuat keputusan yang lebih tepat. Sudah menjadi rahasia umum jika Camp of Fire dan Dark Heaven memiliki sebuah hubungan yang aneh, anggota masing-masing organisasi terkadang adalah orang-orang yang berhubungan baik saudara, sahabat, bahkan kekasih tapi mereka justru memilih berada di kubu yang berseberangan.
"Lama tak jumpa adikku," sapa Kisame sambil menyeringai, samehada miliknya teracung pada sosok pemuda bertaring yang tengah melayang dihadapannya.
"Yo, kakak," balas Suigetsu sambil menyeringai.
"Pergi dari tempat ini sekarang selagi masih ada kesempatan," kata Pain memperingatkan untuk terakhir kalinya. Kata-kata sang ketua dewan seperti sebuah tanda untuk memulai pertarungan, detik itu juga para agen ANBU segera turun menempatkan posisi mereka melawan Dark Heaven.
"Ini akan menyenangkan, Naruto-nii," kata pemuda berambut hitam itu sebelum meloncat ke arah Naruto. Dari tangan pemuda itu muncul sebuah pedang dengan pendar cahaya berwarna merah, tiba-tiba saja pemuda itu sudah berada di hadapan Naruto dan mengayunkan pedangnya.
"Siapa kau sebenarnya?," tanya Naruto yang tengah menahan laju pedang pemuda berambut hitam itu, ia seperti membangun sebuah tembok tak kasat mata yang berpendar berwarna biru ketika bersentuhan dengan pedang milik musuhnya.
Lagi-lagi pemuda berambut hitam itu hanya memberikan sebuah seringaian mengejek sebagai jawaban, ia kembali membenturkan pedangnya sebelum menjawab,"Kau lupa? Baiklah akan aku ingatkan siapa aku, namaku, Uzumaki Menma."
Sepasang mata berwarna orange milik Naruto melebar kala pemuda berambut hitam itu menyebutkan namanya, detik itu juga Menma kembali mengayunkan pedangnya pada perisai milik Naruto. Sebuah retakan kecil terbentuk pada perisai milik pemuda pirang itu. Keduanya sama sekali tidak mempedulikan keadaan kacau di sekitar mereka, bahkan para anggota Dark Heaven sepertinya melupakan tujuan awal mereka untuk mengambil Hinata.
"Inikah kekuatanmu, Nii-san? Menggelikan," ejek Menma sambil mengayunkan kembali pedangnya.
PRANGG!
DOR!
Bersamaan dengan hancurnya perisai milik Naruto sebuah peluru menyerempet bahu Menma, kedua pemuda itu mundur beberapa langkah. Bahu mereka turun naik berusaha mencari pasokan oksigen lebih banyak, titik-titik berwarna merah jatuh ke permukaan tanah. Dua pemuda itu sama-sama terluka, lengan atas Naruto mulai mengucurkan darah sementara Menma meringis menahan sakit pada bagian kakinya.
"Serahkan saja gadis itu dan kami akan pergi dengan damai, bukankah dia bukan siapa-siapa? Kenapa kau harus membelanya?," tawar Menma pada pemuda berambut pirang dihadapannya.
Naruto POV
Semua yang dikatakan pemuda itu memang benar, Hinata memang bukanlah siapa-siapa dalam hidupku, aku memang baru mengenalnya dalam hitungan hari. Hinata hanyalah calon agen yang harus ku asuh tapi keberadaannya benar-benar membingungkanku. Dia yang seharusnya tidak berarti untukku tapi aku tidak ingin dia terluka, bukankah itu aneh? Seharusnya aku tidak memiliki perasaan seperti itu lagi, seharusnya perasaan itu hanya untuk mateku, lalu kenapa aku memiliki perasaan semacam ini pada Hinata? Pada gadis yang seharusnya bukanlah siapa-siapa bagiku.
"Bagaimana dengan tawaranku Nii-san? Kau berminat?," tanyanya untuk kesekian kalinya.
Masih ada hal yang mengganjal, kenapa mereka menginginkan Hinata? Dia hanya calon agen yang tidak sengaja ku temukan lagi pula Hinata masuk ke Camp of Fire hanya untuk menyelamatkan si gadis bercepol dua yang dibawa Neji. Apa Dark Heaven tahu sesuatu tentang Hinata? Dan kenapa pemuda bernama Menma itu memiliki marga yang sama denganku? Bahkan dia memanggilku dengan sebutan Nii-san.
"Untuk apa kau menginginkan Hinata?"
"Kau tidak tahu? Gadis itu adalah kunci agar tidak ada lagi kaum campuran seperti kita, jika kau pintar lebih baik kau menyerahkannya pada kami maka tidak ada lagi kaum campuran dan penderitaan karena tidak memiliki mate," jelasnya.
Apa lagi ini? Aku sama sekali tidak mengerti kata-katanya, apa maksudnya dengan tidak ada lagi kaum campuran? Tapi kenapa Hinata yang menjadi kuncinya?
"Rencanamu hanya akan menghancurkan keseimbangan dunia, bukankah itu sama saja menghancurkan semuanya?," sebuah suara yang cukup familiar mengalihkan pemuda bernama Menma itu, tanpa melihat aku sudah tahu bahwa itu adalah Shikamaru-nii. Sepertinya dia tahu rencana Dark Heaven yang berhubungan dengan Hinata dan lagi kenapa tadi Shikamaru-nii mengunci bayangan Hinata? Seperti sengaja mengumpankan Hinata pada mereka.
"Kau tidak tahu apa-apa, apa kau mengerti rasa sakit kaum campuran yang kehilangan matenya?," tanyanya lagi.
Ya, Shikamaru-nii memang bukan kaum campuran, tidak semua agen ANBU termasuk kaum campuran. Mereka mungkin tidak mengerti bagaimana rasa sakit yang dialami kaum campuran yang tidak memiliki mate tapi selama aku bersama mereka, aku belajar satu hal. Mereka memahami rasa sakit yang kami rasakan, kami seperti berbagai sedikit rasa sakit kami pada teman-teman kami di sini.
"Jadi hanya itu tujuanmu?," tanyaku cepat.
"Tentu saja."
End Naruto POV
Kali ini pemuda berambut pirang itu bergerak cepat, belum ada satu detik ia telah berada dihadapan Menma, mengacungkan revolver miliknya ke arah pemuda yang memimpin Dark Heaven. Uzumaki Menma hanya menyeringai melihat sikap Naruto, di sekelilingnya sudah ada para anggota Dark Heaven yang mengarahkan senjata pada Naruto sementara di sisi Naruto agen ANBU dan dewan Camp of Fire menghalangi mereka. Ia benar-benar menikmati penyambutan Camp of Fire ini, tidak sia-sia menyusupkan beberapa orang di organisasi pemerintah. Seperti dugannya, pertarungan ini benar-benar menarik.
"Ku rasa cukup sampai di sini, kita akan bertemu lagi ketika gerhana matahari mucul dan akan ku pastikan itu adalah akhir dari Camp of Fire," kata Menma sebelum akhirnya menghilang dari hadapan anggota Camp of Fire dan para dewan.
.
.
.
Hinata tidak tahu sudah berapa lama ia berlari, ia hanya mengikuti langkah kaki Sakura yang menarik tangannya sementara tangan Sakura yang kosong menggenggam sebuah tongkat. Kedua bahu Hinata turun naik seiring usahanya untuk meraup oksigen sebanyak mungkin, sejujurnya ia tidak mengerti kenapa ia harus melarikan diri? Bukankah ia calon agen Camp of Fire? Seharusnya dia bisa ikut bertarung bersama para agen, seharusnya ia bisa tetap berada di samping Naruto, dan seharusnya ia bisa menyelamatkan Tenten.
"Sa-sakura-chan, kita akan pergi ke mana?," tanya Hinata di tengah nafasnya yang terengah-engah.
"Kita akan pergi ke markas bawah tanah, ku rasa di sana tempat yang paling aman untukmu. Bertahanlah Hinata-chan, sebentar lagi kita akan sampai."
Beberapa meter di depan mereka tampak sebuah gerbang yang terbuat dari tanaman, beberapa bunga berwarna kuning mempercantik gerbang itu. Itukah markas bawah tanah yang dikatakan Sakura? Tapi sepertinya tidak terlihat seperti sebuah markas justru tampak seperti sebuah taman bunga. Di belakang gerbang itu terlihat beberapa bunga yang tengah bermekaran sementara sisanya masih berbentuk kuncup, sisanya tumbuhan berwarna hijau yang menambah keasrian tempat itu. Tiba-tiba saja langkah kedua gadis itu terhenti, amethyst milik Hinata melebar ketika melihat pemandangan dihadapannya.
"Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah seharusnya kalian bersama agen lainnya?," tanya Sakura. Gadis itu menatap dua sosok dihadapannya dengan pandangan tajam penuh selidik, nada bicaranya bahkan berubah seperti sedang bertemu dengan seorang musuh.
"Kami hanya ingin mengecek keselematan Hyuuga Hinata," balas sosok berambut perak yang hampir seluruh wajahnya tertutupi masker. Viridian milik Sakura berkilat penuh kebencian kala menatap sosok itu, sepertinya ia tidak menyukai salah satu pelatih Camp of Fire itu.
"Ingin mengecek keselamatan Hinata atau ingin membawanya pada Dark Heaven?"
Amethyst milik Hinata melebar ketika mendengar kata-kata Sakura, apa maksudnya dengan membawanya pada Dark Heaven? Bukankah dua sosok yang ada dihadapannya sekarang ada di pihak Camp of Fire? Terlebih lagi Kakashi adalah salah satu pelatih Camp of Fire, mungkinkah dua orang itu berkhianat? Hinata menatap sosok pemuda berambut merah yang ada di sebelah Kakashi, tatapan dari sepasang jade itu masih sama, masih menyimpan kilatan amarah. Sayangnya, Hinata masih bisa melihat kesedihan ketika jade itu menatapnya, seperti ada sebuah kerinduan yang mendalam ketika sepasang mata milik Gaara bersirobok dengan amethyst miliknya.
"Aku tidak mengerti maksud ucapanmu, Nona Haruno, apa yang kau bicarakan?," tanya Kakashi.
"Berhentilah bermain-main di depanku! Kau tidak perlu berpura-pura menjadi pelatih Camp of Fire!," bentak Sakura pada Kakashi, tongkat yang ada di genggaman Sakura kini teracung ke arah Kakashi.
Hinata POV
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud kata-kata Sakura-chan? Semua ini benar-benar membingungkan. Aku tidak tahu apa yang terjadi saat ini, aku juga tidak tahu kenapa Dark Heaven ingin menangkapku padahal aku bukanlah petarung yang hebat seperti para agen atau pasukan khusus.
"Kau tidak mengerti apa-apa, Nona Haruno. Sebaiknya serahkan gadis yang ada di belakangmu itu pada kami," kata Gaara dingin.
Sejak pertama kali kami bertemu, Gaara memang tidak pernah menyukaiku. Tatapannya selalu menyiratkan kebencian yang mendalam padaku, penuh amarah tapi aku bisa melihat kesedihan ketika mata kami bertemu. Aku tidak pernah tahu apa pun tentangnya tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda pada Gaara, dia terluka. Mungkin memang dia tidak seperti Uzumaki-sensei, dia bukanlah seorang kaum campuran yang akan menderita luka begitu dalam ketika kehilangan matenya tapi dia juga terluka, entah karena apa.
Normal POV
"Hadapi aku jika kalian ingin mendapatkan Hinata," kata Sakura yang kini bersiap dengan sebuah shot gun di tangan kanannya, ia segera mengambil posisi dihadapan Hinata berusaha menghadang dua laki-laki itu. Pemuda berambut merah yang ada di sebelah Kakashi segera mengeluarkan shot gun revolver dan mengarahkannya pada Sakura sementara Kakashi masih memandang Sakura dengan tatapan penuh kesedihan.
"Aku tidak ingin bertarung denganmu, Sakura," gumam Kakashi pelan.
"Hentikan sandiwaramu, Kakashi nii-san."
Tanpa ragu gadis berambut merah muda itu segera menarik pelatuk shot gun miliknya tepat ke arah kepala Kakashi, sayangnya refleks pria itu lebih cepat, ia menghindar sepersekian detik dari peluru itu. Dengan kecepatan yang tak kasat mata Kakashi sudah berada di samping Sakura, mengarahkan samurai miliknya tepat pada leher gadis berambut merah muda itu. Sepasang viridian Sakura terbelalak menyadari posisinya kali ini, ia kecolongan, seharusnya dia bisa lebih berhati-hati ketika menghadapi Kakashi.
"Sakura-chan!," teriak Hinata, gadis bermata amethyst itu segera mendekat berusaha membantu Sakura agar terlepas dari Kakashi, sayangnya ia tak menyadari bahaya yang mengintai dirinya.
Tiba-tiba saja Hinata tidak bisa menggerakkan tubuhnya, rasanya seperti terikat tali yang begitu erat hanya saja ia merasakan tekstur kasar mirip pasir yang menjerat tubuhnya. Sepasang amethyst milik gadis itu menjelajah tubuhnya sendiri, pandangannya kemudian terpaku pada lilitan pasir yang ada di pergelangan kakinya, ia jelas tahu siapa yang membuatnya tak bisa bergerak. Pemuda bertato 'ai' yang sedari tadi di samping Kakashi kini sudah beralih ke belakang Hinata, cengkeraman pasir pemuda itu semakin erat saja seolah tak peduli dengan Hinata yang mulai kesakitan.
"Lepaskan Hinata!," kata Sakura penuh penekanan, sorot matanya menatap benci pada pemuda berambut merah yang berjalan mendekati Hinata, gadis Hyuuga itu masih berusaha memberontak agar lepas dari jeratan pasir-pasir Gaara sayangnya setiap ia berontak maka jeratan pasir itu semakin kuat.
"Bukankah sudah ku katakan sebaiknya kau menjauhi Uzumaki? Inilah akibatnya jika kau tetap bersamanya, Nona. Seharusnya kau mendengarkanku saat itu," kata Gaara dingin, kedua tangan milik pemuda berambut merah itu mengepal kuat hingga membuat buku-buku jarinya memutih.
Ini keputusannya, ia akan mengikuti rencana Dark Heaven, membawa gadis berambut indigo yang terjebak dalam pasirnya kepada Tuan muda Dark Heaven. Gaara tidak sepenuhnya mengerti rencana mereka tapi paling tidak ia tahu Dark Heaven membutuhkan gadis yang ada dihadapannya untuk sebuah rencana baru, sebuah rencana membangun dunia baru tanpa kaum campuran dan semua penderitaan mereka. Ia tidak peduli dengan rencana itu, sama tidak pedulinya dengan nasib gadis itu, ia hanya ingin membalas apa yang telah dilakukan Naruto padanya. Ini balasan karena pemuda itu membuatnya kehilangan gadis yang begitu ia cintai, paling tidak pemuda berambut pirang itu akan terlambat menyadari betapa pentingnya gadis Hyuuga itu dalam benang takdirnya.
"Sebaiknya bereskan gadis itu, Sensei, tuan muda itu tidak terlalu suka menunggu," kata Gaara dingin, sebelah tangannya kini berusaha menyeret Hinata agar mengikuti langkahnya.
"Lepas! Lepaskan aku!," teriak Hinata yang masih berusaha meronta mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Gaara, sebaliknya pemuda berambut merah itu tampak menulikan indra pendengarannya berusaha tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan Hinata.
Sakura masih saja diam di tempatnya, gadis berambut merah muda itu masih memandang sinis ke arah Kakashi. Keduanya tak menyadari jika ada sepasang mata sehitam malam yang tengah memperhatikan mereka dari rerimbunan pohon, pemilik mata sehitam malam itu kini mengalihkan direksi pandangannya menuju gadis berambut indigo yang masih berontak dari Gaara. Mata sekelam malam itu melebar beberapa detik ketika menatap Hinata, detik selanjutnya ia melanjutkan pengamatannya pada Kakashi dan Sakura.
"Sepertinya kau juga seorang mate kaum campuran, Sakura. Kau menerimanya?," tanya Kakashi yang entah mengapa terdengar begitu sendu, berbanding terbalik dengan Sakura yang menatapnya remeh seolah keberadaan Kakashi adalah sesuatu yang salah.
"Ku rasa itu bukan urusanmu, cepat lepaskan aku dan kembalikan Hinata!"
Hatake Kakashi menatap gadis yang masih ditawannya dengan pandangan sendu, sebisa mungkin ia tidak ingin melawan Sakura apa lagi melukai gadis berambut merah muda itu. Sayangnya ia sudah memilih jalan ini, jalan yang ia lalui sekarang bukanlah jalan lurus seperti prinsipnya dulu, jalan yang sekarang ia pilih adalah jalan yang mungkin akan membawanya pada kehancuran. Tapi hanya dengan jalan ini ia bisa mendapatkan orang yang ia cintai lagi, dengan jalan ini ia tidak akan kehilangan lagi dan dengan jalan ini tidak akan ada lagi kaum campuran.
"Tidak ada gunannya mengubah dunia, yang mereka tawarkan padamu hanya kebahagiaan semu, Nii-san. Tidakkah kau mengerti, semua hanya kepalsuan," tambah Sakura, kali ini terselip nada penuh luka dalam suara gadis itu.
"Kau tidak mengerti, Sakura, ini jalan yang aku pilih. Mungkin nanti kita akan bertemu sebagai musuh dan aku tidak akan bisa menyebutmu sebagai adikku tapi paling tidak kau sudah memiliki pemuda yang akan selalu menjagamu, semoga kau dan Sasuke bahagia," bisik Kakashi di telinga Sakura.
Tepat sebelum pria berambut perak itu menghilang, sekelebat bayangan berwarna hitam mengambil tubuh Sakura, menjauhkan gadis berambut merah muda itu dari Kakashi. Sebuah bayangan lain segera membawa gadis berambut indigo yang ada tengah meronta setelah sebelumnya membuat pemuda berambut merah yang ada di dekat gadis itu terpental beberapa meter. Pemuda bertato 'ai' itu meringis menahan sakit, ujung bibirnya mengeluarkan liquid berwarna merah kental dengan bau anyir.
"Sok pahlawan lagi, Uzumaki. Kau pikir ada gunannya menyelematkan gadis itu?," tanya Gaara sarkastis. Tentu saja ia menyadari aura penyelamat Hinata, Uzumaki Naruto, lagi-lagi pemuda berambut pirang itu mengganggu urusannya.
"Apa yang kau lakukan? Kau ingin membawa Hinata pada mereka?!," teriak Naruto pada pemuda berambut merah itu, sepertinya pemuda beriris blue sapphire itu masih tidak percaya bahwa Gaara berada di pihak Dark Heaven. Ia benar-benar tidak pernah berpikir jika seorang Sabaku Gaara menjadi informan bagi musuh Camp of Fire, apa lagi berniat menyerahkan Hinata pada organisasi itu.
"Kenapa? Bukankah dia bukan siapa-siapa untukmu? Kau bahkan baru mengenalnya."
"Ku rasa kau tahu pasti bahwa mereka berdua terikat, tuan Sabaku," sebuah suara membuat Gaara dan Naruto menoleh, sesosok pemuda berambut ebony tampak memamerkan senyumannya pada kedua pemuda itu sementara di sebelahnya gadis berambut merah muda masih menatapnya tak percaya. Sakura tidak menyangka jika sosok lucifer dihadapannya itu mau repot-repot menolongnya.
"Ku pikir ini bukanlah urusan seorang lucifer, sejak kapan lucifer tertarik pada urusan kaum campuran?," Gaara balik bertanya pada sosok pemuda penuh senyum itu, kehadiran pemuda berambut ebony itu jelas tidak ia perhitungkan.
"Tentu saja menjadi urusan kaum lucifer mengingat kau ingin mengubah dunia kami."
"Tunggu dulu, sebenarnya apa maksud pembicaraan kalian? Aku sama sekali tidak mengerti dan kenapa Kakashi-sensei menyandera Sakura?," tanya Naruto bertubi-tubi. Pemuda berambut pirang itu memang tidak tahu apa pun, ia langsung menuju ke tempat Hinata setelah Dark Heaven meninggalkan area Camp of Fire. Ia masih tidak mendapatkan informasi apa pun, tentang pemuda berambut hitam yang memanggilnya Nii-san juga tentang Dark Heaven yang begitu menginginkan Hinata dan sekarang ia dihadapkan dengan Gaara yang mengkhianati Camp of Fire.
"Kau tidak perlu tahu, Uzumaki. Cepat serahkan gadis itu," balas Gaara cepat.
TRANG!
Tanpa menunggu lama Sakura segera mengarahkan senjatanya ke arah Kakashi, refleks pria berambut perak itu segera menangkis serangan Sakura. Naruto sendiri segera membentuk perisai yang terlihat seperti angin di sekitarnya membuat pasir-pasir milik Gaara berterbangan di udara. Blue sapphire milik Naruto kini berganti menjadi berwarna orange menatap tajam ke arah Gaara, sementara pemuda berambut ebony itu kini membantu Naruto menyerang Gaara.
"Kau masih bisa mundur, masa depanmu akan berbeda."
"Cih, aku tidak perlu nasehat seorang lucifer sepertimu," kata Gaara yang kini mengarahkan shot gun revolver miliknya pada pemuda berambut ebony yang kini menempelkan sebuah pisau belati di lehernya.
Sebuah cahaya yang begitu menyilaukan membuat kedua pemuda itu saling menjauhkan diri, fokus mereka kini berganti ke arah gadis yang bersembunyi di balik tubuh Naruto. Tubuh gadis itu tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya yang begitu menyilaukan, awalnya cahaya putih kemudian berubah warna menjadi cahaya hitam pekat seperti sebuah bayangan, terus berganti dengan begitu cepat. Sepasang mata orange milik Naruto masih tidak mempercayai pemandangan dihadapannya, kenapa Hinata bisa mengeluarkan cahaya berwarna hitam dan putih berulang-ulang? Siapa sebenarnya gadis itu?
Pandangan Hinata terlihat kosong, gadis itu seperti tak memiliki fokus. Sesekali kilatan cahaya berwarna hitam dan putih saling menyambar ke arah tubuh Hinata, membuat Naruto harus menjaga jarak dengan gadis itu. Sakura yang masih melawan Kakashi kini beranti mengamati Hinata yang kini tengah berubah, gadis itu tampak mengayunkan tongkatnya beberapa kali. Detik selanjutnya sebuah kembang api berwarna hijau muncul di udara seperti sebuah tanda peringatan.
"Apa yang kalian lakukan? Cepat ringkus gadis itu, dia bisa membuat Camp of Fire hancur!," perintah sebuah suara dingin yang begitu familiar di telinga Naruto. Sosok para pendiri Camp of Fire bermunculan satu demi satu, ketiganya segera membentuk sebuah segel yang memunculkan sebuah rantai berwarna keperakan. Rantai-rantai itu segera membelit tubuh Hinata yang tengah meronta, entah mengapa Naruto seperti merasakan sebuah déjà vu. Ia pernah berada di situasi yang sama seperti Hinata, dibelenggu karena dianggap membahayakan tapi kenapa gadis itu dianggap berbahaya?
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
.
.
.
Hinata merasa tubuhnya kebas, ia tidak bisa merasakan apa-apa. Ketika ia membuka mata, ia sudah berada di tempat yang begitu aneh, tempat itu mirip seperti papan catur, ada bidak berwarna hitam dan putih yang saling mengisi. Kemana pun Hinata melihat tidak ada apa pun, hanya warna hitam dan putih yang saling mendominasi.
"Dimana ini? Kenapa aku bisa ada di tempat ini?," tanya Hinata lirih. Ia benar-benar tak mengerti kenapa tiba-tiba ia bisa berada di tempat ini, seingatnya ia sedang berada di balik punggung Naruto, lalu kenapa sekarang ia berada di tempat aneh seperti ini?
"Kau memang benar-benar cantik ya, Hinata," sebuah suara lembut membuat Hinata terkejut, gadis berambut indigo itu menyapukan pandangannya ke seluruh tempat itu, berusaha mencari si pemilik suara.
"Aku ada di sini"
Sepasang amethyst milik Hinata melebar ketika ia menoleh ke belakang, dihadapannya kini sudah ada sesosok gadis cantik berambut hitam dengan mini dress berwarna putih yang membalut tubuhnya. Sudut-sudut bibir gadis itu tertarik membentuk sebuah kurva senyuman, sepasang amethyst milik gadis itu menatap Hinata dengan sorot mata yang melembut. Gadis itu benar-benar cantik, seperti seorang malaikat, kulitnya seputih susu dengan bibir pink yang alami.
"S-siapa kau?," tanya Hinata, ia kembali mengamati kembali amethyst milik gadis itu, menyadari kemiripan mata mereka berdua.
"Namaku Hyuuga Natsuki."
"Hyuuga?," ulang Hinata, ia tidak ingat memiliki kerabat bernama Natsuki bahkan ia baru pertama kali bertemu dengan gadis itu. Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa wajahnya begitu familiar? Hinata seperti pernah bertemu dengan gadis itu tapi dimana? Kapan ia bertemu gadis itu?
"Ya Hyuuga, garis keturunan lucifer murni. Sebenarnya kita berbagi kehidupan, Hinata."
"Berbagi kehidupan? A-apa Natsuki-san?," kejar Hinata, ia benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan gadis bernama Natsuki itu.
"Kau tahu, sebenarnya ada klan Hyuuga dibagi menjadi dua, garis keturunan lucifer murni dan garis keturunan manusia biasa. Setiap manusia dari klan Hyuuga berbagi kehidupan dengan seorang lucifer, jika manusia itu mati maka kaum lucifer Hyuuga akan sempurna. Jika yang manusia masih hidup maka kekuatan kaum lucifer tidak sempurna, terbelenggu separuh."
Gadis berambut indigo itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja ia dengar. Rasanya seperti sebuah mimpi mendengar seseorang bercerita bahwa keluargamu terbagi menjadi dua kelompok, lucifer dan manusia. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak pada kata-kata Natsuki, sebelumnya ia tidak tahu apa-apa tentang garis keturunan Hyuuga yang terbagi. Rasanya benar-benar sulit untuk dipercaya tapi Hinata begitu ingin mempercayai kata-kata gadis itu, entah kenapa ia merasa yakin gadis itu tidak mungkin menipunya.
"Ja-jadi, Natsuki-san i-ingin membunuhku?," tebak Hinata, gadis itu lagi-lagi memamerkan sebuah senyuman lembut pada Hinata seolah berusaha menenangkan gadis berambut indigo itu.
"Tidak, aku sudah mati. Lagi pula kita berdua berbeda dari keturunan Hyuuga lainnya."
Hinata POV
Natsuki-san bilang dia sudah mati? Lalu tempat apa ini? Apakah ini surga? Atau neraka? Dan lagi kenapa Natsuki-san bilang kami berbeda dari keturunan Hyuuga yang lainnya? Semua ini begitu tiba-tiba, aku bahkan tidak tahu kenapa keluargaku memiliki garis keturunan yang berbeda.
"Kau terlihat bingung, Hinata. Apa ini terlalu tiba-tiba?," tanya gadis itu membuyarkan semua pemikiranku, ia kembali tersenyum untuk kesekian kalinya. Ketika melihatnya tersenyum aku seperti merasakan sentakan rasa bahagia sekaligus rasa sakit yang begitu dalam.
"E-etto, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Rasanya Natsuki-san begitu familiar untukku."
"Tentu saja begitu, kita terikat. Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan, begitu juga sebaliknya. Kita terikat, akan selalu merasa pernah bertemu padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya," jelas Natsuki-san seolah tahu semua pertanyaan yang ada di kepalaku.
"Baiklah, waktuku sudah hampir habis. Akan ada orang lain yang menjelaskan semuanya, Hinata. Ah, aku hampir melupakan sesuatu, berjanjilah padaku, jaga orang itu baik-baik, dia sudah terlalu lama terluka."
Setelah mengatakan hal itu, tubuh Natsuki-san berangsur-angsur menjadi transparan. Berulang kali aku memanggil namanya tapi Natsuki-san hanya tersenyum padaku, yang aku lihat terakhir kali adalah kegelapan dan senyuman Natsuki-san.
"-nata, Hinata-chan! Hei, dia sudah sadar," samar-samar aku mendengar suara Sakura-chan memanggil namaku berulang kali. Perlahan aku melihat seberkas sinar yang begitu menyilaukan hingga membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Hal pertama yang ku lihat adalah sesosok pemuda berambut pirang yang menatapku dengan wajah yang begitu khawatir dan penuh tanya. Sosok yang sudah berulang kali menolongku, sosok yang membuatku merasakan perasaan sakit begitu dalam, sosok yang membuatku ingin tetap berada di sisinya sekali pun aku terluka, Naruto-sensei.
Normal POV
"Apa kau baik-baik saja, Hinata? Kau tidak terluka bukan?," tanya Naruto bertubi-tubi sementara gadis bermata amethyst itu tengah berusaha untuk duduk. Di sekeliling mereka sudah ada para pendiri Camp of Fire yang ditemani Sasuke sementara sosok gadis berambut merah muda tengah asyik mengamati Hinata dan Naruto.
"A-aku baik-baik saja, sensei," cicit Hinata.
"Apa yang terjadi ketika kau pingsan? Beberapa kali kau menggumamkan sesuatu," selidik Tsunade pada gadis itu. Memang ketika ia memeriksa Hinata yang tak sadarkan diri, gadis itu beberapa kali menggumamkan sesuatu.
"Aku bertemu seorang gadis, Hyuuga Natsuki."
.
.
.
TBC
.
.
.
Errr, bingung mau ngomong apa, saya tahu udah lama banget nggak up date fic ini #pundung di pojokkan. Ada banyak hal yang bikin chapter ini molor dan saya ngerasa chapter ini agak hancur, maaf buat kehancuran chapter ini m(_ _)m. Chapter ini ada OC namanya Natsuki, bayangin aja dia mirip sama Hinata tapi rambutnya hitam dan lebih pendek dari rambut Hinata di shippuden. Mungkin readers udah bisa nebak siapa Natsuki #dilempar sandal. Ok, terima kasih buat yang udah mau membaca chap ini, buat yang udah review, fave dan follow, kalian yang saya tetep nulis meskipun sering saya delete lagi XD. Review kalian bener-bener berarti buat saya karena itu penyemangat buat melanjutkan fic ini, so, sebagai pembaca yang baik silahkan tinggalkan review kalian biar saya tahu apa yang harus saya perbaiki buat chapter depan ^^.
.
.
.
^^ Review? ^^
