Balesan review XD :

uzugakure no satoy

Iya, akhirnya up date XD. Review again? ^^

lavender bhity-chan

Hmm, saya nggak tahu sih ini udah cepet atau belum, semoga cepet ya . Review? XD

Ini lanjutannya ^^, reviewnya ditunggu lagi

aeon zealot lucifer

Makasih dibilang makin keren XD, ini lanjutan ceritnya, semoga masih bikin penasaran, heheheh. Review? XD

j

Ini lanjutannya XD, review again? ^^

GazzelE VR

Jawabannya ada di chap ini, silahkan baca aja ^^. Reviewnya ditunggu

Yumi Murakami

Gaara dulu suka sama mate Naruto? Kasih tau nggak ya #dilempar ke kutub. Kakashi kakak Sakura? Jawabannya ada di sini kok XD. Naruto kapan sadar? Bentar lagi sadar kok, sabar ya, hehehehe. Reviewnya ditunggu ^^

naruhimeazura

Makasih udah suka sama fic ini , yang penting kan sekarang review, nggak apa-apa kalo telat XD, semoga nanti mau review lagi ^^. Ini udah di up date secepet yang saya bisa XD. Review again? :3

Yukori Kazaqi

Iya mate Naru yang dulu itu Natsuki, tadinya memang mau Shion tapi karena beberapa alasan jadinya nggak jadi tapi dia tetep ada sih di fic ini. Ok, review? XD

vii-chan

Hahahaha, dosa dong kalo bikin mati penasaran XD. Ini udah up date secepet yang saya bisa, semoga suka ya^^. Reviewnya ditunggu lagi XD.

Iya dia mate Naruto, kalo bingung nanti ada penjelasannya kok tapi di chap depan #dilempar ke Alaska. Yosh, review? XD

.9

Mata Naruto yang orange bentuknya kaya kalo dia mau jadi kyuubi jadi bukan mata kodok, di chapter satu udah dijelasin kok, coba baca lagi deh XD. Reviewnya ditunggu lagi

Anaatha Namikaze

Makasih buat semangatnya, udah dilanjut nih XD. Review again? ^^

Megu-chan

Siapa si lucifer? Jawabannya ada di chap ini XD. Hahaha, emang ada yang beda sih, saya agak kebawa style orang lain gara-gara ngeditin cerita temen #author aneh. Makasih buat semangatnya, semoga ini termasuk cepet up datenya. Reviewnya ditunggu XD.

Brian 123

Ini chapter selanjutnya, makasih udah mau nunggu . Review again? ^^

SyHinataLavender

Siapa Hyuuga Natsuki? Jawabannya di chap ini kok, silahkan baca di bawah ^^. Review?

Guest 1

Ini udah up date secepet yang saya bisa, semoga nggak lumutan lagi ya XD. Reviewnya ditunggu XD

Yourin Yo

Iya mate Naruto yang dulu itu Natsuki, review again? XD

orchideeumi

Yang Gaara suka itu Natsuki? Hmmm, jawaban lebih jelasnya ada di chapter depan #dilempar. Ini udah up date, semoga termasuk cepet ya, hehehehe. Ya udah deh panggil yang kamu enak aja XD. Review? ^^

Kyoanggita

Siapa Natsuki? Jawabannya ada di chapter ini kok XD. Siapa Hinata? Ada di chapter depan, jadi stay tune aja ya, hehehehe. Semoga ini termasuk cepat deh ^^. Reviewnya ditunggu lagi XD

IndoSedSarSupMie Ichiraku

Hmmm, belum tahu sih mau sampe chapter berapa, yang jelas kurang dari 20 kok XD. Review? ^^

Dilaedogawa 12

Ini chapter 9 nya, makasih udah mau nunggu dan follow . Review again? XD

Kharai'chan

Akhirnya kamu bikin akun juga ya, hehehehe. Jangan panggil senpai deh, tua banget kayaknya #nggak sadar umur. Makasih buat semangatnya XD. Reviewnya ditunggu ^^

hime-chan 1301

Maaf kalo up datenya kelamaan, semoga yang ini nggak terlalu lama ya XD. Review again? XD

ryuuka nana

Ini udah up date XD, maaf kalo nggak terlalu panjang ya m(_ _)m. Yosh, review?

Kurara

Makasih buat semangatnya XD, review? ^^

Blue NaNadia

Nggak apa-apa kok baru review, semoga mau review lagi ya # XD. Makasih udah mau nunggu, saya emang agak lama kalo nulis, hehehehe, makasih juga buat semangatnya. Semoga chapter ini nggak terlalu lama ^^. Review again? XD

Guest 2

Ini udah lanjut , review? XD

Sun for The Dark © cherry aoi

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Genre : Fantasy, Romance

Rated : T

AU, Alternative Universe

Gaje, abal, typo bertebaran, OOC.

Summary : Bisakah kegelapan mendapatkan sinarnya kembali? Jawab pertanyaanku jika memang masih ada cahaya untuk orang-orang yang sudah jatuh dalam kegelapan sepertiku. Tak akan ada cahaya yang sama bagi kegelapan, hanya ada kesendirian bagi kegelapan. Aku adalah kegelapan, bukan matahari seperti yang kau katakan.

.

.

.

Chapter 9 : Truth of Her

.

.

.

Ketika berada di sini, aku tidak bisa mengenali siapa diriku yang sebenarnya. Semua kenyataan yang muncul tiba-tiba membuatku tidak mengerti apa pun, sebenarnya rahasia apa yang tidak ku tahu? Siapa sebenarnya dirku?

Ketika Hinata menyebutkan nama gadis itu, ekspresi orang-orang yang ada di sekitarnya terlihat begitu berbeda. Mereka tampak begitu terkejut ketika mendengar nama Natsuki, sementara pemuda berambut pirang yang ada di samping Hinata tiba-tiba saja mematung. Rahang pemuda itu mengeras ketika mendengar nama Natsuki keluar dari bibir Hinata, pandangannya berubah menjadi kosong seperti pandangan Tenten kemarin.

"Natsuki? Kau bilang Natsuki?," ulang Naruto, sepertinya pemuda itu tidak percaya bahwa Hinata bertemu dengan Natsuki.

"I-iya, namanya memang Hyuuga Natsuki."

"Seperti apa gadis itu?," kejar Naruto lagi.

"D-dia gadis berambut hitam dengan mata yang mirip denganku. Ah, dia juga memiliki sebuah tato phoenix berwarna merah di lengan kirinya."

Naruto masih separuh tak percaya pada kata-kata Hinata, tidak mungkin Natsuki yang ditemui Hinata adalah Natsukinya. Lagi pula, seingatnya Natsuki yang dikenalnya tidak pernah memberi tahu siapa pun tentang marganya, selama ini Natsuki hanya memperkenalkan diri dengan nama kecilnya. Sayangnya semua ciri-ciri yang disebutkan gadis berambut indigo itu mengarah pada Natsuki.

Orochimaru mengamati gadis itu dari atas hingga bawah, tidak ada yang tahu apa yang tengah dipikirkan salah satu pendiri Camp of Fire itu. Tatapan pria berambut panjang itu seperti tengah menilai Hinata, sementara kedua rekannya masih terdiam di tempat. Ketiganya jelas tidak memperkirakan bahwa hal ini akan terjadi, mereka tidak tahu jika Hinata akan bertemu dengan gadis itu.

"Apa kau yakin dia Natsuki?," tanya Naruto untuk kesekian kalinya, kali ini suara pemuda itu meninggi. Blue sapphire milik Naruto menatap tajam ke arah Hinata, membuat gadis itu merasa ketakutan dengan tatapan Naruto.

"Sasuke, bawa Naruto keluar."

Tanpa menunggu lama pemuda raven itu segera menyeret Naruto keluar, ia jelas paham alasan Orochimaru menyuruhnya membawa pergi Naruto. Pertemuan Hinata dengan gadis itu jelas mempengaruhi kestabilan Naruto, mereka tidak bisa membiarkan Naruto yang jelas-jelas dalam masa tidak stabil mendengar cerita tentang gadis itu. Masih segar kejadian beberapa bulang lalu ketika para agen ANBU membahas kematian Natsuki, ketika Naruto mendengarnya, pemuda itu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Ia mengamuk, merusak hampir separuh Camp of Fire seorang diri. Amukan pemuda berambut pirang itu baru terhenti setelah ketiga pendiri Camp of Fire datang untuk membelenggunya. Sejak saat itu semua pembicaraan tentang Natsuki dilarang, tidak ada satu pun agen yang boleh membahas kematian gadis itu.

"Lepas, lepaskan aku, Teme!," teriak Naruto berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Sasuke. Ia ingin tahu kenapa Hinata bisa bertemu dengan Natsuki? Kenapa Natsuki menemui Hinata dan bukan dirinya? Bukankah Natsuki tidak mengenal Hinata?

"K-kenapa Naruto-sensei?," tanya Hinata dengan nada khawatir, ia tidak tahu kenapa Naruto tiba-tiba bersikap seperti ini? Apakah ada hubungannya dengan gadis bernama Natsuki itu? Ah, tiba-tiba saja ia teringat kata-kata terakhir Natsuki sebelum ia menghilang.

Belum sempat ada yang menjawab pertanyaan Hinata ketika tiba-tiba Sasuke menghilang membawa pemuda berambut pirang yang masih meronta-ronta, meninggalkan Hinata bersama ketiga pendiri Camp of Fire dan sesosok gadis berambut merah muda. Hinata baru menyadari bahwa ia sekarang berada di kamarnya, sebenarnya apa yang terjadi ketika ia tak sadarkan diri? Dan lagi kenapa ia bisa tiba-tiba pingsan?

"Apa aku juga harus pergi?," tanya Sakura tibat-tiba memecah kesunyian yang merayapi ruangan itu. Memang aneh Sakura masih diperbolehkan berada di ruangan itu sementara tidak ada satu pun dewan Camp of Fire yang berada di sana.

"Tidak, kau tidak perlu pergi lagi pula ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan."

"Sekarang, katakan Hinata, apa yang dikatakan Natsuki padamu?," tanya sosok pria berambut putih panjang dengan gaya mirip landak, kali ini wajahnya tampak begitu serius berbeda dengan kesehariannya yang bisa dibilang selalu berpenampilan konyol.

"Di-dia bilang keluarga Hyuuga terbagi menjadi dua garis keturunan, lucifer dan manusia," jawab Hinata yang kini menundukkan kepalanya, gadis berambut indigo itu tidak mampu menatap ketiga pendiri Camp of Fire yang kini seperti menginterogasinya. Ia juga masih separuh tidak percaya bahwa keluarganya berbeda dari manusia normal lainnya, itukah sebabnya ia selalu merasa tidak normal?

Tsunade menghela nafas pelan, ia memang sudah menduga cepat atau lambat Hinata akan tahu rahasia tentang keluarga Hyuuga tapi ia tidak menyangka jika Natsuki sendiri yang memeberi tahu gadis itu. Natsuki. Mengingat nama itu membuatnya merasa bersalah, seandainya saja ia bisa mencegah para dewan yang memulai perang, pasti gadis itu masih hidup. Diliriknya lagi sosok Hinata yang masih terdiam, seolah tengah memikirkan sesuatu, mungkin saja gadis itu masih belum menerima kenyataan bahwa keluarganya sedikit berbeda.

Keluarga Hyuuga awalnya memiliki keturunan kaum campuran tapi tetua keluarga Hyuuga yang merupakan kaum lucifer lebih memilih untuk membunuh keturunan kaum campuran. Mereka melakukan pembantaian selama beberapa tahun dengan dalih membersihkan keturunan mereka. Ketika banyak pihak yang memprotes, akhirnya jalan lain dipilih oleh para tetua. Mereka memutuskan untuk memasangkan kaum campuran dengan kaum lucifer murni atau manusia, mengabaikan aturan bahwa kaum campuran harus bersama mate mereka. Setelah beberapa tahun rencana mereka berhasil, keluarga Hyuuga memiliki dua garis keturunan, kaum lucifer murni dan manusia biasa. Keturunan Hyuuga yang manusia tidak tahu menahu tentang dua garis keturunan apalagi tentang mereka yang berbagi kehidupan dengan kaum lucifer.

"Kau tidak percaya padanya?," tanya Orochimaru pada gadis itu, pria berambut panjang itu akhirnya kembali angkat bicara.

"A-aku ingin percaya tapi rasanya begitu sulit."

"Sayangnya semua yang dikatakan Natsuki memang benar, ceritanya terlalu panjang yang jelas keluarga Hyuuga memiliki dua garis keturunan yang berhubungan. Kekuatan keturunan lucifer akan sempurna ketika keturunan Hyuuga yang manusia mati, bukankah di keluargamu sering terjadi kematian misterius?"

Apa yang dikatakan Orochimaru memang benar, seingat Hinata banyak kerabatnya yang tiba-tiba saja meninggal tanpa alasan yang jelas. Selain itu, kematian di keluarga Hyuuga terjadi setiap tahun, membuat orang-orang di sekitar keluarga Hyuuga mulai berspekulasi. Beberapa orang menganggap hal itu terjadi karena keluarga Hyuuga dikutuk sementara sisanya menganggap hal itu adalah sesuatu yang wajar, bukankah setiap makhluk hidup memang akan menghadapi kematian?

"Tapi, kenapa Natsuki-san mengatakan kalau aku berbeda dari keluarga Hyuuga yang lainnya?," pertanyaan inilah yang sedari tadi berkeliaran di benak Hinata. Jika Natsuki dan dirinya memang berbagi kehidupan, bukankah seharusnya Natsuki berusaha membunuhnya sejak dulu? Lagi pula gadis itu baru menampakkan diri sekarang, ketika Hinata berada di Camp of Fire.

"Kau akan tahu nanti, sebaiknya sekarang kau beristirahat. Sakura, kau ikut kami."

.

.

.

"Sialan kau, Teme! Kenapa membawaku ke tempat ini?," amuk Naruto pada sahabat berambut ravennya, pemuda beriris blue sapphire itu kini tengah terikat di salah satu pohon yang ada di training field. Disekeliling tubuhnya melilit sebuah tali dengan pendar berwarna keperakan, ketika Naruto berusaha memberontak tali itu akan mengalirkan arus listrik yang membuat pemuda itu kembali diam.

Bahu Naruto naik turun, tubuhnya terasa begitu sakit karena terlalu banyak dialiri listrik bertegangan rendah, rasanya sendi-sendinya kaku tidak bisa digerakkan lagi. Blue sapphire miliknya menatap sosok pemuda berambut mirip pantat ayam yang tengah menatap ke arah danau di training field, pemuda itu tampak tengah memikirkan sesuatu sampai-sampai mengabaikan Naruto yang sedari tadi meronta.

"Teme! Lepaskan aku!," teriak Naruto lagi. Pemuda itu benar-benar frustasi dengan keadaannya sendiri, seharusnya tadi ia bisa melepaskan diri dari Sasuke dan tidak berakhir di tempat ini. Seharusnya ia bisa bertanya pada Hinata tentang Natsuki, tentang gadis yang telah pergi darinya.

"Tenanglah, Dobe. Kau akan memancing para dewan datang, keadaanmu bisa lebih buruk dari ini jika mereka datang."

Pemuda berambut pirang itu mendengus kesal mendengar kata-kata Sasuke, semua yang dikatakan bungsu Uchiha itu memang benar. Jika para dewan menganggapnya berbahaya mereka justru akan segera menahannya, artinya kesempatannya untuk bertanya pada Hinata akan semakin kecil. Naruto hanya bisa menghela nafas pendek, pikirannya kembali melayang pada kata-kata Hinata, mengingat kembali nama seorang gadis yang disebutkan Hinata.

Naruto POV

Aku tidak mengerti bagaimana bisa Hinata bertemu dengannya, jika memang benar Hinata bertemu dengannya berarti Hinata bertemu dengan roh Natsuki. Ini benar-benar aneh, aku tidak bisa menemui roh Natsuki meskipun aku sudah pernah mencoba pergi ke neraka. Roh Natsuki tidak pernah terlihat sejak ia pergi dariku dan sekarang ia justru menemui Hinata. Kenapa dia harus menemui Hinata? Kenapa dia tidak menemuiku? Bukankah ia tidak mengenal Hinata sebelumnya? Apa yang sebenarnya terjadi, Natsuki?

"Dobe, aku tahu kau ingin bertanya pada Hinata tentang dia tapi bisakah kau bersabar? Aku akan mencari tahu."

Cih, sejak kapan Teme jadi perhatian seperti ini? Menawarkan diri untuk membantuku. Ya, aku memang ingin bertanya pada Hinata apa yang terjadi ketika dia bertemu roh Natsuki, aku ingin bertanya kenapa Natsuki lebih memilih bertemu dengan Hinata dari pada bertemu denganku. Apa kau tahu, Natsuki? Aku benar-benar merindukanmu, tidak bisakah kita bertemu? Kau bisa menemui Hinata dalam wujud rohmu tapi kenapa kau tidak bisa menemuiku?

"Kau tahu, Teme. Aku benar-benar iri padamu," gumamku pelan, sayangnya Sasuke tetap bisa mendengar suaraku. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya apa yang sedang ku bicarakan.

"Kau bisa melihat matemu, bisa berada di sampingnya. Sedangkan aku? Bahkan ia tidak mau menemuiku dalam wujud roh."

Normal POV

Pemuda berambut raven itu tertegun mendengar kata-kata Naruto, ia mengerti sahabatnya itu begitu terluka karena tidak bisa bertemu dengan matenya lagi. Mate Naruto memang telah tiada tiga tahun yang lalu, ketika para dewan Camp of Fire memutuskan untuk menyerang markas Dark Heaven. Natsuki. Itu adalah nama mate Naruto, gadis yang membuat sahabatnya itu merasakan luka yang begitu dalam saat ini. Lima tahun yang lalu, ketika Natsuki pertama kali menginjakkan kaki di Camp of Fire, Sasuke bisa melihat dengan jelas tatapan memuja dari sepasang blue sapphire milik Naruto. Natsuki memang gadis yang cukup cantik, buktinya gadis itu menjadi salah satu primadona di Camp of Fire. Tidak hanya itu, gadis itu juga dikenal sebagai salah satu agen terbaik yang dimiliki Camp of Fire, tidak ada yang meragukan kemampuannya.

Sasuke masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi Naruto di hari kematian Natsuki, pemuda berambut pirang itu seperti zombie. Naruto seperti kehilangan separuh nyawanya, ia hanya diam menatap tubuh tak bernyawa Natsuki dengan tatapan kosong. Setelah Natsuki meninggal, Naruto benar-benar berubah, ia bukan lagi Naruto yang ceria dan penuh semangat bahkan Sasuke lupa kapan terakhir kali ia melihat Naruto tertawa lepas atau pun tersenyum tulus tanpa beban.

"Dia pasti punya alasan, Dobe," komentar Sasuke pada akhirnya, ia bukanlah tipe orang yang bisa menasehati seseorang dengan kalimat panjang lebar yang menghibur tapi ia tahu bagaimana luka yang diderita Naruto saat ini.

"….."

Ada satu hal yang masih mengusik pikiran Sasuke, entah mengapa ia merasa Natsuki memiliki hubungan dengan Hinata. Rasanya janggal roh Natsuki menemui Hinata padahal selama ini roh mate Naruto tidak pernah menampakkan diri pada siapa pun, termasuk pada pemuda berambut pirang itu. Fakta bahwa Hinata dan Natsuki memiliki warna mata yang sama membuat hipotesisnya menguat. Awalnya ia dan para dewan menganggap bahwa kesamaan itu hanyalah sebuah kebetulan tapi legenda yang diceritakan Ino membuatnya menyadari sesuatu.

"Hei, Dobe. Apa menurutmu Natsuki seorang Hyuuga?," tanya pemuda beriris onyx itu memecah kesunyian di antara mereka berdua.

"Entahlah, aku tidak tahu. Tidak ada yang tahu apa marga Natsuki, selama ini dia hanya menyebutkan nama kecilnya."

Otak pemuda Uchiha itu kembali mencoba mengingat kejadian di kamar Hinata, gadis berambut indigo itu mengatakan ia bertemu seorang gadis bernama Hyuuga Natsuki. Semua ciri-ciri yang disebutkan Hinata memang mengarah pada Natsuki yang dikenalnya, mungkinkah Natsuki adalah garis keturunan lucifer dari keluarga Hyuuga? Jika memang Natsuki dari garis keturunan lucifer bisa saja gadis itu berbagi kehidupan dengan Hinata yang juga keturunan keluarga Hyuuga. Kemungkinan lainnya bisa jadi Natsuki bukanlah mate Naruto yang sebenarnya seperti dugaan Shikamaru beberapa hari yang lalu.

.

.

.

Sesosok gadis bercepol dua tampak tengah duduk di sebuah bangku taman, di sekelilingnya beberapa bunga mulai menampakkan kuncupnya. Beberapa kupu-kupu kecil berterbangan di sekelilingnya, sesekali suara cicit burung terdengar. Pandangan gadis itu kosong seolah tak memiliki fokus, ia hanya diam tak bicara sepatah kata pun, bahkan ia tidak bergerak, seperti sebuah patung. Tak jauh dari tempat gadis itu duduk, sesosok pemuda berambut cokelat tengah mengamatinya. Pandangan matanya melembut ketika menatap gadis itu, seolah gadis itu adalah sebuah hadiah yang begitu berharga.

"Kau benar-benar seperti orang gila, Neji," sebuah suara membuat kegiatan pemuda berambut cokelat itu terhenti, lewat ekor matanya ia sudah tahu siapa yang mengganggu aktivitasnya.

"Aku tidak butuh pendapatmu, Kabuto."

Sosok yang dipanggil Kabuto mendekati Neji yang masih bertahan di posisinya, pemuda berkaca mata itu menggelengkan kepalanya pelan seolah tak paham dengan tingkah laku Neji. Menurutnya Neji tidak perlu mengamati gadis itu sampai seperti ini, bukankah gadis itu berada di bawah mantranya? Gadis itu tidak akan mungkin meninggalkan markas Dark Heaven selama masih berada di bawah mantranya. Ia juga tidak mengerti dengan sikap Neji yang terlalu berlebihan padahal gadis itu hanyalah sandra di sini.

"Ckckck, bukankah kau seharusnya berterimakasih karena aku sudah mau repot-repot menggunakan mantraku pada gadis itu?," tanya Kabuto dengan nada meremehkan sementara pemuda bermata amethyst di sebelahnya tampak tak terpengaruh seolah tidak mendengarkan ucapan Kabuto.

"Kau tahu, aku tidak mengerti dengan seleramu. Untuk apa membawa seorang gadis manusia?"

Suara pria berkucir itu terdengar begitu meremehkan, membuat rahang Neji mengeras menahan amarah. Kedua tangannya mengepal kuat hingga memutih, ia tidak terima dengan kata-kata Kabuto meskipun ia tahu semua itu memang benar. Awalnya ia tidak tahu apa yang membuatnya membawa gadis berambut cokelat itu ke markas utama Dark Heaven padahal ia jelas tahu bahwa dirinya dan gadis itu berbeda. Gadis itu manusia biasa sementara dirinya adalah seorang lucifer, gadis itu adalah penduduk sipil sedangkan dia adalah salah satu anggota organisasi mafia terbesar di Konoha.

Sebenarnya ia menculik gadis itu untuk sebuah misi tapi yang terjadi selanjutnya ia justru meminta bantuan Kabuto untuk memantrai gadis itu agar tetap berada di sampingnya. Ketika pertama kali melihat wajah gadis bercepol dua itu, Neji merasa begitu berbeda. Jantungnya berdetak melebihi normal seolah berlomba keluar dari dadanya, ada perasaan hangat yang begitu asing ketika ia menatap sepasang mata berwarna cokelat milik gadis itu. Ia belum pernah merasakan perasaan semacam itu sebelumnya ketika berhadapan dengan para gadis lucifer berdarah murni seperti dirinya.

"Dia berbeda," jawab permuda bermata amethyst itu akhirnya, ia memang tidak ingin Kabuto tahu sebuah kenyataan, bahwa sebenarnya ia telah jatuh hati pada seorang gadis manusia. Jika orang lain di markas ini tahu, ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Mungkin saja nyawa gadis itu akan terancam, terlebih lagi jika para tetua di keluarganya tahu. Jadi, ia akan menyembunyikan semuanya sekarang, setidaknya sampai ia tahu rencana apa yang akan dilakukan tuan muda Dark Heaven yang baru.

"Ternyata kalian ada di sini," suara itu membuat Neji dan Kabuto segera menoleh, mereka membungkukan badan ketika berhadapan dengan si pemilik suara.

"Apa ada yang bisa kami bantu, Tuan muda?"

Sosok yang dipanggil Tuan muda itu kini memamerkan sebuah seringai licik yang membuat Neji dan Kabuto menatapnya penuh tanya. Memang tidak pernah ada yang tahu apa yang ada dalam pikiran pemimpin Dark Heaven yang baru, tuan muda mereka seperti sebuah puzzle yang begitu rumit. Mungkin itu sebabnya dia bisa membunuh pemimpin Dark Heaven sebelumnya dan melakukan kudeta.

Sebelumnya memang tidak ada yang pernah menyangka jika pemuda bermarga Uzumaki itu mampu menggulingkan kekuasaan pemimpin Dark Heaven sebelumnya. Ketika pemuda itu pertama kali menginjakkan kaki di Dark Heaven, ia hampir mengalahkan sepasukan mafia terlatih. Tentu saja hal itu membuat Menma lebih mudah mendekati Bos Dark Heaven sebelumnya, kemudian memanfaatkan kesempatan yang ada untuk melakukan kudeta besar-besaran.

"Panggil dua mata-mata kita, persiapkan perang melawan Camp of Fire. Ah, jangan lupa persiapkan juga rencana penangkapan gadis itu."

Pemuda berambut hitam itu segera meninggalkan keduanya, sekilas ia melirik ke arah gadis berambut cokelat yang berada tak jauh dari mereka. Uzumaki Menma kembali menyeringai ketika menyadari bahwa rencananya akan berhasil, ia akan mencapai tujuannya sebentar lagi.

"Aku benar-benar tidak mengerti, kenapa kita harus menangkap gadis itu?," tanya Neji, ia memang tidak tahu apa alasan Menma yang ingin menculik gadis itu. Pemuda berambut hitam itu memang tidak pernah membicarakan apa pun tentang gadis itu, ketika rapat ia hanya menyinggung rencana penyerangan Camp of Fire.

Rencana penyerangan Camp of Fire ketika gerhana matahari terjadi adalah sebuah kesepakatan yang dibuat oleh Menma dengan seluruh anggota Dark Heaven, itu adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kepercayaan Dark Heaven. Awalnya memang terjadi beberapa kali pergolakan di Dark Heaven ketika Menma mulai menjabat sebagai pemimpin baru, banyak anggota yang membangkang, mencoba melakukan kudeta. Kebanyakan dari mereka justru tewas di tangan pemuda itu, menyisakan beberapa kelompok yang akhirnya menuntut sebuah perjanjian. Mereka akan mempercayai Menma, asal pemuda berambut hitam itu berhasil melenyapkan musuh utama Dark Heaven, Camp of Fire.

"Kau akan tahu nanti, Neji."

.

.

.

Haruno Sakura memandang kosong ke arah langit berwarna biru yang memayunginya, pikirannya melayang pada masa lalunya. Alasannya berada di sini bukan hanya untuk memenuhi undangan Camp of Fire, ada alasan lain yang membuatnya datang ke tempat ini. Untuk kesekian kalinya, gadis beriris viridian itu menghela nafas hari ini, rasanya ia begitu lelah dengan semua ini. Sepasang viridian milik gadis itu terpejam menikmati hembusan angin yang kebetulan lewat, menikmati kesejukan yang ditawarkan oleh alam. Sebuah tepukan ringan di bahunya membuat kedua matanya terbuka, seulas senyum ia berikan pada sosok yang mengusiknya.

"Kau ada di sini, Sasuke-kun," sapanya pada pemuda minim ekspresi yang kini duduk di sebelahnya.

"Hn."

Pemuda berambut raven itu tampak begitu berbeda hari ini, sepertinya ada sesuatu yang mengusik adik Uchiha Itachi itu. Sakura mengangkat sebelah alisnya ketika mengamati pemuda yang menjadi matenya itu, aneh, tidak biasanya Sasuke seperti ini.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Kau terlihat berbeda," komentar Sakura akhirnya, ia benar-benar penasaran kali ini.

Pemuda berambut raven itu memilih diam, sejujurnya ia memang tengah memikirkan sesuatu yang membuatnya gusar. Tentang kemungkinan bahwa Natsuki bukanlah mate Naruto dan tentang pembicaraan Sakura dan Kakashi yang ia dengar ketika penyerangan Dark Heaven. Ya, sebenarnya Sasuke ada di sana ketika Naruto dan Sai melawan Gaara dan Kakashi. Awalnya ia memang ingin menolong matenya tapi kemudian ia mendengar pembicaraan gadisnya dengan Kakashi.

Ia tidak mengerti kenapa Sakura memanggil pelatihnya dengan sebutan Nii-san, padahal setahunya marga keduanya jelas-jelas berbeda. Secara fisik Kakashi dan Sakura juga tampak berbeda, lalu ada hubungan apa keduanya? Jika mantan pelatihnya itu tidak membelot pada Dark Heaven, mungkin ia tidak akan segusar ini. Terlebih lagi, Sakura belum menjawab pertanyaannya tempo hari ketika ia akhirnya membuktikan bahwa gadis itu adalah matenya.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Sakura," kata Sasuke akhirnya yang justru membuat gadis berambut merah muda itu mengangkat alis tinggi-tinggi karena tak mengerti arah pembicaraan Sasuke.

"Pertanyaan apa?"

"Bagaimana kau bisa tahu banyak hal tentang Camp of Fire?," tanya Sasuke, pandangan pemuda itu masih fokus ke depan.

Gadis beriris viridian itu terdiam, tidak menyangka jika pemuda itu akan bertanya hal itu lagi. Ia bingung harus menjawab apa, haruskah ia jujur pada Sasuke? Tapi bagaimana jika pemuda itu nanti justru salah paham dan menjauhinya? Ia tidak bisa jauh dari Sasuke sekarang, rasanya begitu terluka jika jauh dari pemuda itu. Ah, inikah efek menjadi mate seorang kaum campuran?

"…."

Sakura masih belum menjawab pertanyaan Sasuke, membuat pemuda itu semakin gusar. Ada banyak kemungkinan yang ia pikirkan, termasuk kecurigaan jika Sakura ikut terlibat dalam rencana Dark Heaven. Ia benar-benar tidak ingin kecurigaannya terbukti, jika seandainya Sakura ada di pihak Dark Heaven, sanggupkah ia melawan gadis itu?

"Aku pernah bercerita padamu salah satu sahabatku menjadi mate kaum campuran," kata gadis itu tiba-tiba, pernyataan Sakura sama sekali tidak menjawab pertanyaan bungsu Uchiha itu. Membuat pemuda itu semakin bertanya-tanya tapi Sasuke lebih memilih diam dan mendengarkan cerita gadis merah muda di sampingnya.

"Sebenarnya semua itu bohong, bukan sahabatku yang menjadi mate kaum campuran tapi kakakku. Apa kau tahu siapa kaum campuran yang menjadi mate kakakku?"

"Hatake Kakashi?," tebak Sasuke sebelum gadis itu sempat menyebutkan sebuah nama. Gadis beriris viridian itu tersenyum lemah pada Sasuke, seolah membenarkan jawaban pemuda itu.

Sasuke tahu Kakashi adalah seorang kaum campuran, seingatnya mantan pelatihnya itu keluar dari Dark Heaven karena ingin membangun keluarga kecil dengan matenya. Karena itu ia cukup terkejut ketika mendapati pria berambut perak itu kembali ke Camp of Fire. Ia sempat bertanya-tanya alasan apa yang membuat Kakashi kembali menjalani profesinya, apalagi ada aturan di Camp of Fire bahwa pelatih yang keluar tidak akan bisa kembali lagi tapi Kakashi justru bisa kembali ke posisinya. Mungkinkah semua ini ada hubungannya dengan mate Kakashi?

"Awalnya mereka berdua hidup bahagia, menikah bahkan hampir dikaruniai seorang anak jika saja semua itu tidak terjadi," tambah gadis itu, viridiannya kini menatap penuh luka, ada sebersit kesedihan di sana.

"Apa maksudmu?"

"Setahun yang lalu, ada sekelompok orang tak dikenal yang tiba-tiba menyerang rumah kakakku. Saat itu Kakashi-nii sedang tidak di rumah dan aku masih belajar mengendalikan kekuatanku, sementara kakakku tidak memiliki kemampuan sepertiku. Kami mencoba melawan mereka tapi akhirnya kami kalah. Satu-satunya yang ku ingat sebelum tak sadarkan diri adalah teriakan kakak yang memanggil namaku."

Wajah gadis itu kini benar-benar tampak sedih, tidak ada lagi binar di sepasang viridian miliknya. Sasuke cukup menyadari beban yang dirasakan gadisnya, Sakura pasti merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kakaknya. Tanpa dijelaskan lagi, ia tahu ini adalah jawaban dari pertanyaannya. Sakura tahu banyak hal mengenai Camp of Fire karena Kakashi adalah kakak iparnya, pria berambut perak itu pasti menceritakan banyak hal tentang tempat kerjanya. Sayangnya masih ada satu hal yang mengganjal, kenapa Sakura tidak menceritakan semuanya sejak awal?

"Aku tidak menceritakan padamu karena aku ingin menyadarkan Kakashi-nii, meskipun sekarang dia ada di pihak yang berbeda, dia tetap orang yang dicintai kakakku. Para dewan sebenarnya sudah tahu siapa aku, mereka memberikan kesempatan padaku untuk menyadarkan Kakashi-nii tapi sepertinya aku gagal," jelas Sakura seolah mengerti apa yang dipikirkan pemuda beriris onyx di sebelahnya.

Gadis itu memang memiliki sebuah perjanjian dengan dewan Camp of Fire, para dewan tidak menangkap Kakashi padahal mereka sudah tahu bahwa pria itu berada di pihak Dark Heaven. Mereka memberikan kesempatan pada Sakura untuk menyadarkan pria itu tapi jika pada akhirnya gadis berambut bubble gum itu gagal, mereka akan mengeksekusi Kakashi seperti yang seharusnya.

"Jadi Itachi-nii tahu identitasmu?," tanya Sasuke yang dijawab dengan anggukan gadis itu. Sekarang ia paham kenapa Anikinya itu mencoba menghentikannya ketika ia ingin menolong Sakura. Ya, sebenarnya Sasuke berniat menolong Sakura yang saat itu tengah melawan Kakashi sekaligus menanyakan maksud pembicaraan gadisnya dengan Kakashi tapi Itachi justru menghalanginya dan menyuruh Sai untuk menolong Sakura.

Flash back mode on

"Sebaiknya kau tidak ke sana, Otouto," kata Itachi yang entah sejak kapan sudah berada di salah satu dahan pohon, ikut mengamati pertarungan yang tengah terjadi.

"Kenapa? Mateku ada di sana, aku tidak bisa diam di sini."

"Lebih baik kau menuruti kata-kataku, biarkan Sai yang menolong matemu. Sebaiknya kau ikut denganku," jelas Itachi ambigu.

Awalnya Sasuke tidak ingin mengikuti kata-kata kakanya, ia ingin tetap menolong Sakura tapi kemudian otak jeniusnya mengingatkannya bahwa sang kakak adalah salah satu dewan di tempat ini. Otoritas yang dimiliki Itachi bisa saja membuatnya dikeluarkan dari Camp of Fire jika membangkang perintah si sulung Uchiha. Ia tidak bisa keluar dari Camp of Fire sekarang, karena matenya ada di tempat ini dan ada sebuah misi yang harus ia selesaikan.

Flash back mode off

Perlahan, tangan besar Sasuke mengelus helaian merah muda milik Sakura, berusaha menenangkan gadis itu. Pemuda beriris onyx itu tidak terlalu pandai berkata-kata, ia tidak punya kata-kata puitis untuk membuat gadisnya kembali ceria tapi ia lebih suka menunjukkan perhatiannya dengan tindakan, itu lebih efektif menurutnya. Sepasang viridian itu kini beralih menatapnya, ia bisa mata itu kini berkaca-kaca seperti tengah menahan tangis.

"Kau masih belum gagal, masih ada satu kesempatan lagi."

"Kapan? Kesempatan terakhirku adalah kemarin tapi aku justru tidak bisa memanfaaatkannya dengan baik," kata Sakura, tetes-tetes liquid bening kini menuruni kedua pipinya, mengalir turun kemudian jatuh bebas tanpa ingin melawan gravitasi. Kedua tangan Sasuke menyentuh pipi gadisnya, mengusap aliran air mata itu dengan kedua ibu jarinya. Pemuda itu merasakan sakit yang begitu dalam ketika melihat matenya menangis, rasanya seperti terserang jurusnya sendiri.

"Saat gerhana matahari, di pertempuran terakhir antara Camp of Fire dan Dark Heaven."

.

.

.

Kabar bahwa Sabaku Gaara dan Hatake Kakashi membelot pada Dark Heaven cepat tersebar, hampir seluruh anggota dewan dan agen ANBU sudah mengetahui berita itu. Sebagian besar dari mereka awalnya tidak percaya jika dua agen itu menjadi mata-mata Dark Heaven, termasuk kakak perempuan Gaara, Sabaku Temari. Gadis berambut pirang itu seharian ini tampak begitu murung, ketika ia mendengar berita bahwa adiknya kini memihak Dark Heaven, gadis itu tampak tidak terbaca. Tidak ada yang tahu apa yang ada di benak sulung Sabaku itu, Temari pergi dari ruang rapat para dewan setelah mendengar semuanya. Gadis beriris jade itu lebih memilih kembali ke tempat tinggal mantan pasukan khusus, berusaha menghindari berita tentang adiknya yang berkhianat.

"Sampai kapan kau akan seperti ini?," sebuah suara membuat Temari menoleh sekilas, ditatapnya sosok berambut nanas yang ada dihadapannya sejenak. Ia tahu pemuda itu mengkhawatirkannya sekalipun pemuda berambut nanas itu menatapnya dengan tatapan bosan.

"Pergilah, aku butuh waktu sendiri."

Shikamaru melangkahkan kakinya mendekati gadis berambut pirang itu, meskipun gadis itu menyuruhnya pergi ia tetap tidak bisa meninggalkan Temari seorang diri. Gadis itu jelas membutuhkannya sekarang, ia mengakui bahwa Temari adalah gadis yang kuat, bahkan semua orang tahu hal itu. Sayangnya, gadis itu melupakan satu hal, Temari tetap seseorang yang membutuhkan sandaran ketika ia terlalu lelah dengan semua kenyataan yang ada.

"Kau tidak perlu bertingkah sok tegar seperti itu, aku bukan orang yang baru sehari mengenalmu," kata Shikamaru yang kini duduk di sebelah gadis berkucir empat itu, ia melirik sekilas gadis di sebelahnya, sekedar memastikan bagaimana ekspresi gadis itu.

"Ada apa denganmu? Kau tidak seperti Shikamaru yang ku kenal," komentar gadis itu, berusaha mengubah topik pembicaraan. Ia tahu Shikamaru ingin membahas masalah adik bungsunya, mungkin juga pemuda itu sedang mencoba menghiburnya meskipun dengan cara yang aneh dan wajah mengantuk khas pemuda itu.

"Mendokusai na, kau juga tidak seperti biasanya."

Seulas senyum tipis tercetak di wajah cantik gadis beriris jade itu, ia tahu Shikamaru bukan tipikal pemuda romantis yang akan menghiburnya dengan ribuan kata manis tapi ia jelas tahu jika pemuda itu tidak ingin ia terus bersedih. Sejujurnya ia benci dirinya sendiri yang sekarang terlihat begitu lemah dihadapan orang lain tapi sekarang ia benar-benar merasa terpukul. Temari tidak pernah menduga jika adik bungsunya akan bertindak sejauh itu, selama ini ia pikir Gaara sudah bisa melupakan semuanya tapi ternyata Gaara masih menyimpan semua lukanya.

"Ku rasa dia bukan anak kecil yang harus kau khawatirkan," komentar Shikamaru.

Temari POV

Aku tahu Gaara bukan lagi anak kecil yang harus setiap saat tapi aku jelas tidak bisa membiarkan adikku berada di Dark Heaven. Ku pikir dia sudah melupakan semua hal tentang lukanya dan Natsuki tapi kenapa dia tiba-tiba berkhianat? Aku tidak mungkin diam saja dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padahal adikku jelas dalam bahaya. Dark Heaven bukan tempatnya, dia tidak seharusnya berada di sana.

"Dia pasti punya alasan," tambah Shikamaru.

"Hanya ada satu alasan yang membuatnya jadi seperti ini," balasku cepat, ya, hanya ada satu alasan, ramalan itu, ramalan Natsuki.

Sebelum meninggal Natsuki sempat memberitahu Gaara sebuah ramalan, akan ada seorang gadis yang menjadi sumber kegelapan sekaligus sumber cahaya, gadis itulah mate Naruto yang sebenarnya. Awalnya ku pikir itu hanyalah sebuah candaan, rasanya mustahil membayangkan Natsuki bukanlah mate Naruto tapi kedatangan gadis itu membuat semua yang dikatakan Natsuki menjadi kenyataan. Hanya saja, aku masih belum mengerti apa yang Natsuki maksud dengan sumber cahaya sekaligus sumber kegelapan?

"Apa pun alasannya, dia tetap adikmu. Kalau kau ingin menyadarkanya, kau tahu harus bagaimana."

Gaara, sebenarnya apa yang ada dalam pikiranmu? Apa kau benar-benar memutuskan untuk bergabung dengan Dark Heaven?

Normal POV

BRAKK!

Suara pintu yang dibuka secara paksa membuat sepasang kekasih itu bersiap dengan kuda-kuda mereka, sayangnya yang muncul dihadapan mereka adalah sesosok gadis berambut pirang lainnya dan sesosok pemuda berambut ebony. Wajah gadis itu tampak luar biasa kesal sementara pemuda berambut ebony itu menyunggingkan senyuman tanpa dosa seolah tidak terjadi apa-apa. Shikamaru dan Temari kembali merileks, ternyata yang muncul dihadapan mereka adalah Yamanaka Ino dan Shimura Sai.

"Mendokusai na, kau bisa membuka pintu dengan lebih sopan, Ino," omel Shikamaru sambil memutar bola matanya bosan. Gadis berambut pirang yang diikat satu dengan gaya pony tail itu justru makin mengeluarkan aura hitam, seolah terganggu dengan kata-kata sahabat sejak kecilnya itu.

"Salahkan si senyum palsu ini, nanas! Dia membuatku naik darah!"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, kau memang terlihat jelek, Nona," kata Sai yang masih menampakkan senyumannya. Temari hanya bisa menghela nafas pendek, pemuda berambut ebony itu memang tidak pernah berubah sejak dulu.

"Cukup, jangan bertengkar lagi. Sebenarnya ada kepentingan apa kalian datang ke sini?"

"Ah, masalah itu. Para dewan memintaku mengantarkan mayat hidup ini padamu, katanya kau yang mengundangnya ke sini. Sebenarnya siapa sih dia sampai aku harus mengantarnya segala?," jelas Ino, nada kesal jelas terlihat dari setiap kata yang keluar dari mulutnya. Yah, gadis mana yang tidak kesal jika dikatai jelek oleh seorang pemuda?

Shikamaru memandang pemuda berambut ebony itu dengan seksama, Shimura Sai, salah satu petinggi kaum lucifer. Ia cukup beruntung Sai mau datang ke Camp of Fire, biasanya para petinggi lucifer enggan berurusan dengan dunia manusia. Shikamaru tidak tahu apa alasan Sai hingga mau datang ke Camp of Fire, entah karena hubungannya dengan Sasuke di masa lalu atau karena hal lain.

"Dia lucifer, Ino. Petinggi lucifer lebih tepatnya," balas Temari.

"A-apa?!"

"Ada sebuah rahasia yang akan ku katakan padamu. Ini tentang gadis Hyuuga itu, mungkin juga tentang Uzumaki Naruto," kata Sai mengabaikan keterkejutan Ino, sepasang mata hitam miliknya menatap serius ke arah pemuda berambut nanas dihadapannya. Sudah saatnya ia menceritakan semua rahasia itu.

.

.

.

TBC

.

.

.

Hai semua, semoga kali ini up datenya nggak terlalu lama ya ^^. Di chap ini pertanyaan kalian tentang siapa mate Naruto udah terjawab kan XD, di sini saya memang pake OC tadinya mau pakai Shion tapi dengan beberapa pertimbangan akhirnya nggak jadi. O iya, di chapter kemaren saya lupa nambahin kalau Natsuki punya tato phoenix, bayangin aja dia punya ya #dilempar. Yosh, silahkan tinggalkan jejak kalian di fic ini biar saya bisa tahu kekurangan chapter ini XD. Oh iya, selamat idul fitri buat yang merayakan XD.

.

.

.

^^ Review? ^^