Sekai de ichiban taisetsuna hito wa anata…..
Rated : T in this chap
Cast : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto,
Hyuuga Neji x Sabaku no Gaara,
Shikamaru Nara x Inuzuka Kiba,
Hatake Kakashi x Umino Iruka
Uchiha Sasuk x ….
Sabaku no Gaara x…..
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama,Hurt/Comfort, dll maybe
Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat,OC, Smut, Song fic, Badfic, Many Typo (s) maybe, and Secret?….
"Mengapa kau melindungi ku selama ini,
kau mungkin telah tersakiti karena aku.
Bermain dengan mu dan terganggu olehmu
Sungguh, aku kejam kepadamu
Tapi aku tidak pernah menyukaimu
Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu
Aku mencintaimu, bodoh
Aku ingin bersamamu
Aku hanya ingin mengirim kata-kata ini kepada mu dengan jujur dari hatiku"
CHAPTER 3
"Fugaku sama, mereka sudah datang."
"Biarkan mereka masuk" ucap seorang lelaki paruh baya yang kini tengah duduk dikursi di sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja.
"Baik fugaku sama" ujar seorang butler sembari mengundurkan diri dari ruangan itu.
"Silahkan, Fugaku sama sudah menunggu anda sekalian" ucap sang butler keluarga uchiha.
"Hhe-eh, arigatou gozaimasu" jawab tiga orang pemuda yang tak lain adalah Iruka, Naruto, dan Kiba. Kemudian dengan arahan dari sang butler menuju keruangan sang pemimpin.
Sesampainya didepan sang kepala keluarga merekapun ditinggalkan oleh butler tersebut.
"Jadi, bocah ini yang ingin kau pekerjakan iruka?" Tanya Fugaku langsung pada Iruka.
"Ya, Fugaku sama, pemuda yang berambut pirang yang bernaman Naruto ini yang ingin saya pekerjakan disini, " jawab iruka sekilas melirik kearah Naruto. Yang dilirik merasa sedikit risih dengan tatapan yang seolah mengintimidasi dari sosok lelaki paruh baya didepannya itu.
"Be..benar Tuan, perkenalkan saya Naruto. Namikaze Naruto," sahut Naruto masih tetap menundukan kepala.
"Hm.. lalu pemuda yang disebelahnya, dia siapa Iruka?" sahut Fugaku yang kemudian beralih menatap pada Kiba.
"Ah.. perkenalkan saya Inuzuka Kiba, dan ini Akamaru" ucapnya menjawab pertanyaan dari Fugaku sambil menunjukkan Akamaru yang berada di genggamannya.
"A..anou.. Fugaku sama, dia adalah sahabat Naruto, dan karena dia mendengar saya akan membawa Naruto kemari dia ingin ikut bersama kami, maafkan saya bila saya tidak memberitahukannya terlebih dulu pada anda Fugaku sama," ucap iruka untuk menjelaskan alasan kenapa ada anak selain Naruto yang ikut bersamanya.
"Baiklah, sepertinya dia bisa diandalkan. Dan sekarang kalian boleh pergi." ucap Fugaku kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada setumpuk kertas-kertas dokumen yang berada di meja kerjanya itu.
"Terimakasih Fugaku sama, saya permisi," pamit Iruka kepada Fugaku diikuti oleh Naruto dan juga Kiba.
Sesampainya diluar ruangan..
"Nee.. jisan,, aku rasa kalau aku terus disana tidak baik untuk jantungku jisan hii.." ujar Naruto sambil bergidik ngeri setelah berhasil mengurangi ketegangan yang dirasakannya didalam ruangan tersebut.
"Hahaha, dasar pengecut kau, lihat aku, apanya yang tegang, hha? dasar" balas Kiba.
"Kau saja yang terlalu cuek Kiba, perasaanmu itu terbuat dari batu, makanya tak merasakan suasana tegang tadi," jawab Naruto yang tengah berjalan dibelakang Iruka menuju kediamannya yang baru.
"Sudah, sudah, Kiba apa yang dikatakan Naru tadi ada benarnya, memang kebanyakan orang-orang bertemu dengan Fugaku sama, pasti juga akan merasakan hawa seperti yang Naruto rasakan, jisan rasa kau tidak termasuk kedalam kategori orang-orang yang sensitive terhadap situasi seperti itu, ne Kiba?" ucap Iruka menengahi perdebatan antara mereka.
"Yeiy,, Iruka jisan memihakku,, wekkk Kiba kalah hehehe" seru Naruto kegirangan karena sebagian yang dia ungkapkan disetujui oleh jisannya.
"Dasar Iruka jisan selalu membela naruto, huh." ambek Kiba atas argument dari Iruka.
"Hahaha, sudah terima saja, kali ini kamu yang kalah Kiba, weekkk" ejek Naruto sambil menjulurkan lidahnya pada kiba.
"Narutoooo,, awas kau nanti!" seru Kiba yang kini tengah berlari mengejar Naruto.
Tanpa mereka sadari, seorang tengah menatap mereka, ah bukan mereka tapi seseorang….
Hanya seseorang yang tengah menarik perhatiaannya, seseorang yang kini berlari bersama temannya, menampakkan senyum tulus dan murni yang serasa tak pernah tersentuh pekatnya kepedihan, mata yang bersinar menampakkan warna biru cerah secerah langit yang tak berawan, kulit tan yang terbakar sinar matahari, rambut pirang cerah yang berkibar seiring tiupan angin, dan bibir tipis dan berwarna merah secerah dan semerah buah ceri, ya dia adalah Naruto, pemuda yang kini tengah diperhatikan oleh dua pasang bola mata yang berwarna merah semerah darah dari ruangan yang tidak akan terlihat oleh mereka. Seulas seringaian terlukis di wajah pemuda bermata merah berkulit putih seputih porselen itu yang masih menatap tindak tanduk dari si pemuda pirang.
"Hitam dan putih, merah dan biru, siang dan malam… aku dan dia" bisik sang pemilik mata berwarna merah itu..
"Khukhukhu,,,, hahahahahha….hhaaa..ahhahaaa.. HAHAHAHAHHAHHA!" terdengar deru suara tawa yang terdengar sangat menyeramkan keluar dari sosok itu, membuat siapapun yang akan mendengarnya hanya bisa bergidik ngeri.
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
"Kakashi." ujar suara seseorang
"Anda memanggil saya, Fugaku sama?" jawab suara itu menanggapi panggilan yang diajukan kepadanya.
"Bagaimana dengan dia?" ujar sosok itu lagi bertanya pada orang yang kini menunduk didepannya.
"Saya rasa sudah jauh lebih baik, Fugaku sama. Hanya saja.. kerusakan kali ini lebih parah dari sebelumnya," ujar sosok yang bernama lengkap Hatake Kakashi itu pada kepala keluarga Uchiha ini.
"Tch, bocah itu." ujarnya kesal mendengar jawaban yang diberikan.
"Perketat penjagaan padanya, jangan sampai ia mengamuk seperti ini lagi." ujarnya tegas memberi perintah pada Kakashi.
"Baik, Fugaku sama." jawabnya
"Jangan biarkan ia lepas kendali lagi, Kakashi. Aku tak ingin rahasia yang sudah kujaga selama ini terbongkar hanya karena ulah dari bocah ingusan seperti dia!" ujarnya sangat tegas, terdapat nada yang mengandung sedikit rasa marah didalamnnya.
"Baik." ujarnya.
"Pergilah." ujar sang kepala keluarga pada Kakashi.
"Dan satu lagi, aku ingin kau menyelidiki seseorang." ujarnya tiba-tiba, kali ini membalikkan tubuhnya kemudian mengambil sebuah kertas yang berisikan sebuah foto dan juga data-data mengenai seseorang.
"Selidiki dia, berikan informasi secepat yang kau bisa padaku." ujarnya lagi.
"Baik, Fugaku sama," jawab Kakashi mantap, mengambil kertas yang tadi diberikan Fugaku padanya, melipat dan meletakkannya di salah satu saku jas hitamnya.
"Saya permisi, Fugaku sama," ujarnya lagi setelah menyelipkan kertas itu, kemudian melangkah meninggalkan sang kepala keluarga disana.
zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz
"Nah, ini kamarmu bersama Kiba dan disebelahnya adalah kamarku," ujar Iruka jisan padaku menunjuk salah satu kamar dengan pintu besar berwarna coklat didepanku.
"Un," ujarku padanya.
"Istirahatlah dulu, nanti kalau sudah waktunya makan malam, kalian akan jisan panggil." ujar Iruka jisan padaku.
"Hai!" ujarku dan juga Kiba bersamaan.
Aku dan Kibapun melangkah memasuki sebuah ruangan didalam manor Uchiha ini, ruangan yang menjadi kamar kami.
"Whoaahh… Kamar ini lebih besar dari rumahku Kiba!" ujarku mungkin terdengar sedikit norak.
"Ya, kau benar. Lihat! Kasurnya empuk Naru! dan juga hei ada kamar mandinya didalam, tch, ini sih kita seperti menginap di hotel berbintang tujuh!" serunya yang ternayata tak kalah norak dengan diriku.
Aku hanya dapat berdecak sangat kagum, memang aku terdengar norak, wajar saja aku hanya datang dari sebuah desa yang terpencil sama sekali belum pernah melihat yang namanya tempat seperti yang ada dihadapanku sekarang.
Cukup lama aku tertegun, meneliti setiap barang dan sudut yang ada didalam kamar ini. Kurasa ini terlalu berlebihan menurutku, kamar seorang pelayan tak seharusnya seperti kamar hotel berfasilitas lengkap itulah pikiranku saat ini, walaupun aku tinggal didesa terpencil tapi setidaknya aku tak begitu bodoh untuk tahu apa saja yang seharusnya didapat oleh seorang pekerja apalagi pelayan.
Aku langsung tersadar kembali dari lamunanku karena suara sahabatku yang berteriak takjub melihat isi didalam kamar mandi itu. Haa, ya sudah, yang penting aku bekerja dengan serius ditempat ini, batinku.
Kuletakkan barang-barang yang tadinya kami bawa di salah satu almari yang terletak diantara tempat tidur, yang merupakan pemisah antara ranjang yang satu dengan yang satunya lagi. Almari ini cukup besar, dan juga setelah kulihat isinya, banyak sekali terdapat seragam pelayan disana, langsung saja kumasukkan pakaian-pakaian ku dan juga Kiba kedalam almari itu.
Setelahnya akupun merebahkan diriku diranjang yang kurasakan sangat- sangat empuk itu, tanpa basa basi lagi kupejamkan mataku seketika itu juga aku terlelap, kubiarkan saja Kiba dengan aksi noraknya itu dan setelahnya aku tak tahu apa lagi yang tengah ia lakukan bersama Akamaru dalam hal mengeksplore kamar baru kami.
zzzzzzzzzzzzzzzz
"Jisan, besok jam berapa aku harus bangun?" tanyaku kali ini pada Iruka jisan, sekarang kami tengah berada di sebuah ruangan, katanya ini adalah ruangan makan khusus untuk pelayan di manor ini. Tadi juga aku sempat mengenalkan diriku pada pelayan-pelayan yang lain, mereka ternyata sangat ramah sekali padaku, aku senang, setidaknya aku tak merasa cemas lagi kalau-kalau aku tak diterima disini.
"Kalau untuk itu, disetiap kamar sudah dipasangi alat untuk membangunkan para pelayan, jadi kau tenang saja Naru." ujar Iruka jisan padaku sambil menyendokkan potongan daging padaku.
"Arigatou." ujarku padanya.
"Hemm, kalau begitu besok aku langsung berkumpul bersama yang lainnya ya Jisan?" tanyaku kali ini padanya sambil menyantap potongan daging dipiringku.
"Ya, setelah alarm dibunyikan, kau harus langsung mempersiapkan diri kemudian setengah jam dari alarm pertama akan ada alarm kedua yang menandakan semua pelayan harus berkumpul di aula di seberang gedung ini, setelahnya kita baru akan memulai pekerjaan kita, nah kau menegrtikan Naru?" jelasnya padaku.
"Mmm.. hebat, praktis sekali hehe," tanggapku.
"Tapi jam berapa biasanya jam itu berbunyi Jisan?" kali ini Kiba yang bertanya pada Iruka jisan.
"Hem? Mungkin sekitar pukul 3 atau 4 dini hari nanti." ujarnya datar.
"Hiiee?" ujarku kaget bersamaan dengan Kiba.
'Gila! jam 3 pagi? Itu sih 6 jam dari sekarang!' batinku mengerang.
"Tidak salah jisan? Itukan sebentar lagi?" ujar Kiba yang masih kaget.
"Tidak, tidak. Hal ini wajar kok, nanti kalian juga akan terbiasa. Oh, dan jam malam untuk pelayan itu tinggal 2 jam lagi dari sekarang, saat itu kita semua sudah harus beristirahat," ujar Iruka lagi.
"….." hening aku hanya menatap kearah Kiba yang juga tengah menatap kearahku saat ini, bingung.
"Nah, ayo cepat selesaikan makan kalian, sebentar lagi kita harus melakukan sesuatu sebelum jam malam habis." ujar Iruka yang sudah bangkit dari duduknya sambil membawa alat makan di tangannya. Ya, disini sehabis kita makan, piring bekas makan kita dicuci sendiri dan dibawah piring itupun tertulis inisial nama kita, diletakkannya pun berurutan menurut urutan nomor kamar yang kita tempati, biasanya setiap pelayan mendapat selusin perangkat makan seperti, piring gelas, sendok, dll.
Akupun dengan cepat menghabiskan sisa makananku yang tinggal sedikit, setelah habis akupun bangkit dan mengikuti Iruka jisan kearah tempat pencucian tentunya bersama Kiba yang ternyata juga melakukan hal yang sama sepertiku.
zzzzzzzzzzzzzzzzzz
"Nah, sekarang kalian tidurlah, sebentar lagi jam malam kita habis. Siapkan tenaga kalian untuk besok, Ok!"ujar Iruka pada kami.
"Un!" balas kami bersamaan.
"Oyasumi, Naruto, Kiba." ujar Iruka jisan sambil mencium kening kami berdua.
"Oyasumi Jisan~" ujar kami bersamaan kemudian memaskui kamar yang pertama kali ini kami tempati.
"Oyasumi Naru." ujar Kiba padaku sambil menaikki ranjang di sebelahku.
"Un, oyasumi mo Kiba, Akamaru~" ujarku membalas salamnya.
"Ugh…" ujarku lirih kurasakan ada sesuatu yang menimpaku saat ini, berat dan juga sedikit dingin.
"Nnnghh…" rintihku lagi, kali ini bukan hanya berat, namun kurasakan juga ada sesuatu yang bergerak naik turun di leherku, kenyal dan basah?
Perlahan kubuka kelopak mataku, gelap…
Kukerjapkan lagi kelopak mataku berusaha mencari sesuatu yang dari tadi menggangguku.
'DEG!'
Dadaku berdetak sangat cepat kali ini, matakupun terbelalak lebar.
Kini dengan sinar yang temaram dapat sedikit kulihat sesuatu yang menggangguku sejak tadi itu ternyata seseorang!
Sontak aku langsung menarik selimutku yang entah sejak kapan tersingkap, seketika itu juga kudorong tubuhnya menjauh dari atas tubuhku, nafasku memburu, perasaan takut kini menjalari dadaku. Tanganku sedikit gemetar, kueratkan genggaman tanganku pada selimut itu.
"Siapa kau?!" bentakku padanya, berusaha menjaga agar suaraku tak terdengar takut.
"….." diam, sosok itu hanya diam memandangiku, aku hanya bisa melihat warna matanya yang berkilat merah dengan sebuah seringaian yang menurutku sangat seram, seringaian yang ia sunggingkan untukku.
"Si..Siapa kau?!" bentakku lagi padanya, kali ini aku tak bisa menjaga suaraku agar tak bergetar.
Dia tak menjawab, hanya memandangiku dengan tatapan matanya itu. Aku semakin beringsut mundur menempelkan punggungku kekepala ranjang, tanganku semakin gemetar. Perlahan ia melangkah mendekatiku, aku semakin takut.
Anehnya ayunan langkahnya sama sekali tak terdengar dan juga Kiba yang tertidur disampingku tak juga menyadari kedatangan orang asing dikamar ini tengah malam seperti ini pula.
'Sial! Kiba mengapa kau tak bangun?!' rutukku dalam hati begitu kulihat sahabatku tidur dengan pulasnya sambil memeluk Akamaru, seperti orang mati.
"Kau manis." ujar sosok itu padaku yang langsung mendapat tatapan dariku.
"Apa maksudmu?! Siapa kau?! Mau apa kau disini hah?!" seruku padanya, kali ini ketakutan yang semakin lama semakin keras kurasakan kulawan dengan bekal nekad.
Kini sosok itu semakin mendekat padaku, aku bingung, tanpa pikir apapun lagi aku langsung bangkit dari sana berusaha menjauh dari sosok itu, berlri menuju kamar sebelah, ya kamar Iruka jisan, ia pasti akan menolongku dari makhluk mengerikan yang entah datang dari mana ini.
'GREP'
Sayangnya langkahku kalah cepat oleh makhluk mengerikan ini, ia menahanku, mencengkram kedua lenganku hanya dengan menggunakan satu tangannya, aku berontak, menendangnya menggeliat apapun itu yang bisa menjauhkan diriku dari makhluk ini, tapi nihil. Percuma, makhluk ini terlalu kuat bagiku saat ini.
Kali ini aku dapat melihat wajahnya dengan jelas, wajah tampan seputih porselen itu dengan dua buah iris merah yang menatapku penuh nafsu saat ini, dan juga terdapat sebuah taring yang mencuat kedua sisi mulutnya.
"Ka.. kau! Mau apa kau?! Lepas! Lepaskan aku! Kiba! Iruka jisan! Tolong aku!" teriakku kali ini tak lagi dapat menyembunyikan rasa takut yang menyerangku.
"Aku hanya ingin mengunjungi mu, dan juga mencicipi sedikit aroma manisnya dirimu." ujarnya didekat telingaku, hembusan nafasnya menggelitikku.
"Hen.. hentikan! Apa yang akan kau lakukan brengsek!" teriakku kali ini tak lagi memperdulikan rasa takut yang kurasakan, malah amarahku kini memuncak. Aku merasa dilecehkan oleh sosok diatasku ini.
Kali ini ia menjilat leherku dengan sedikit merobek piyama yang kukenakan, akupun berontak tak terima dengan perlakuan yang kuterima saat ini.
"Hentikan! Lepaskan aku, Brengsek!" jeritku masih berusaha berontak menggerakkan tubuhku kesana kemari agar aku terlepas darinya.
"Tenanglah. Jika kau semakin berontak rasanya akan semakin sakit, manis." ujarnya padaku masih dengan kegiatannya menjilat leherku.
"Brengsek! Kubilang lepaskan! Kau manusia biadab! Binatang!" umpatku padanya. Kali ini kurasakan ia menghentikan aksi menjilat leherku, ia mengangkat tubuhnya perlahan memandangku masih dengan mata berkilat berwarna merah itu dan tanpa kusadari kali ini ia menempelkan bibirnya yang terasa dingin itu pada bibirku. Sontsk saja mataku terbelalak penuh, luar biasa kaget dengan apa yang ia lakukan. Akupun semakin berontak, namun ia semakin menekan dan melumat bibirku, dapat kurasakan taringnya membentur bibirku keras yang mengakibatkan sedikit lecet dipinggirnya.
"Kau semakin manis, sayang," ujarnya setelah melepas pagutan kekerasan itu dari bibirku, kulihat ia menjilat sedikit bibirnya, kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku sangat sangat shock.
"Selamat makan," ujarnya dengan seringaian yang semakin lebar ia keluarkan.
"ARRGGHHHHH!" jeritku kemudian kurasakan sesuatu menembus kulit leherku, perih dan sakit. Aku hanya dapat berteriak dan setelahnya aku tak sadarkan diri tak tahu apa yang telah terjadi padaku saat ini.
"Kau milikku Namikaze Naruto, hanya milikku.. haha HAHAHAHAHA!" teriak sosok itu yang telah selesai dengan apa yang ia lakukan.
::Tsuzuku::
Yuhuuuu…. ^^
Oh ya, ini remake dari fic pertama yang "Ku" buat….
Ceritanya tetep sama tapi mungkin lumayan banyak perubahan yang terjadi didalamnya, hehe…
Gimana? gimana?
yosshhh…
selamat mereview dan terimakasih sudah membaca fic ini. hehehe…
akhir kata
Jaa, nee…
