Sekai de ichiban taisetsuna hito wa anata…..

Rated : T in this chap

Cast : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto,

Hyuuga Neji x Sabaku no Gaara,

Shikamaru Nara x Inuzuka Kiba,

Hatake Kakashi x Umino Iruka

Uchiha Sasuke x ….

Sabaku no Gaara x…..

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre : Romance, Drama,Hurt/Comfort, dll maybe

Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat,OC, Smut, Song fic, Badfic, Many Typo (s) maybe, and Secret?….

Note: Sebelumnya biar lebih enak sebaiknya membalas beberapa review dulu ya, ok cekidot:

~devilojoshi: wah begitukah menurut anda? kalau begitu ku ucapkan terimakasih hehe..^^ mungkin akan menjurus kearah vamfic juga nantinya. Kalau merah itu bisa sasuke bisa shishui juga bisa kyuubi, nyehehe, silahkan tebak, yang pasti ini sangat mudah jawabannya ada di chap ini hehe, yosh, makasi udah review.. and selamat menikmati ya..^^

~devilluke ryu shin: wah pertanyaannya sama Shin san, hmm, mungkin juga vampire, mungkin juga drakula, atau hanya karena sasu kelainan?*plaak ga nyambung. nyehehe.. yosh ditunggu aja kelanjutannya ya, makasi udah review, selamat menikmati..^^

~onyx shappireSEA: hmm,, mungkin ia mungkin juga tidak coz ku juga masih bingung mau diarahin kemana hehehe.. yaps ditunggu aja, makasi udah review. selamat menikmati ^^

~neko-tan: nyehehe.. kemarin ga sempet mata udah ngantuk banget pengen langsung berlabuh aja, yosh ini dah update kok, hmm. makasi udah review and selamat menikmati ya…^^

~BlackXX: ya ini udah tak panjangin kok, nyehehe… yaps ini fic yang pertama kali ku publish, khukhukhu ga apa apa, santai aja kayak di pante, nyehehe… mungkin ia mungkin juga ngga hehehe..*dzigh jawaban apaan tuh? oh ku rasa bukan, jawabannya ada di chap ini hehe… yaps masama, makasi juga udah review, selamat menikmati ^^

Dan juga untuk minna yang udah memfav ataupun memfollow fic ini ku ucapin

:Doumo arigato gozaimasu:

M(^0^)M

"Mengapa kau melindungi ku selama ini,

kau mungkin telah tersakiti karena aku.

Bermain dengan mu dan terganggu olehmu

Sungguh, aku kejam kepadamu

Tapi aku tidak pernah menyukaimu

Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu

Aku mencintaimu, bodoh

Aku ingin bersamamu

Aku hanya ingin mengirim kata-kata ini kepada mu dengan jujur dari hatiku"

CHAPTER 4

"Hhaa…" helaan nafasku terdengar dilorong ini. Tanganku berhenti menyapukan kain pembersih dikaca jendela yang berada dihadapanku. Pikiranku melayang ke malam sebelumnya, malam dimana aku merasakan hal yang paling buruk dalam hidupku! Shit! Yang anehnya ketika pagi tadi aku terbangun yang aku temukan adalah hal yang biasa terlihat olehku saat bangun, suasana kamar yang rapi, angin yang berhembus, selimut yang masih berada rapi diatas tubuhku. Tak terlihat sebuah kondisi dimana barang-barang di dekat ranjangku jatuh bertebaran dilantai, selimut dan juga sprei yang berantakan dan jendela yang terbuka lebar seperti yang kuperkirakan. Aneh! Padahal aku jelas-jelas merasakan ada seseorang saat itu, yang membuatku sangat takut dengan pancaran dari kedua mata yang beriris merah itu. Ya, baru pertama kali ini aku melihat ada manusia yang mempunyai iris berwarna semerah darah seperti itu, atau jangan-jangan ia memakai kontak lens, opsi yang sempat kupikirkan saat ini. Dan anehnya juga, Kiba tak mendengar hal aneh yang terjadi didalam kamar kami, sempat kutanyakan ketika kami memakai seragam kerja kami, ia hanya menjawab,Hah? Kau pasti ngelindur Naruto. Mana ada suara berisik di kamar kita, suara gemerisik sekecil apapun itu tak terdengar, ah, palingan kau mengigau." ujarnya padaku seakan hal yang aku katakana hanya sebuah mimpi.

Tapi aku yakin, sangat sangat yakin sosok itu benar-benar datang ke kamar kami. Dan dia.. dia.. dia melakukan itu padaku! Sialan!

WHUUZZZ…

Tiba-tiba angin berhembus dari arah jendela disebelahku yang kini terbuka lebar.

'Tsk, perasaan tadi jendela itu tertutup. Kok bisa ya?' batinku heran, seketika membuatku berhenti memikirkan kejadian itu. Perlahan kudekati jendela besar yang terbentang di sisi sebelah kiri lorong ini.

"Dasar, angin merepotkan." ujarrku sambil meraih pinggir jendela yang terbuka lebar itu, berusaha untuk menutupnya. Namun, gerakanku terhenti, tanganku gemetar pegangan pada salah satu sisi jendela kukencangkan, matta beriris biru ku membulat lebar, kali ini hal yang kutatap membuatku ingin segera bersembunyi di dasar bumi. Di bawah sana, sosok itu, sosok yang tadi kupikirkan memandang kearahku, menatapku sambil menyeringai seperti yang ia lakukan kemarin malam padaku, kulihat ada pergerakan dibibirnya saat ini.

Gerakan yang merangkai beberapa huruf menjadi beberapa kata, kakiku semakin lemas tak kuat lagi menahan bobot tubuhku yang kaku karena menahan rasa takut yang luar biasa. Kubiarkan tubuhku merosot kelantai lorong ini, kubekap mulutku sendiri berusaha mengurangi getar ketakutan yang kurasakan.

'Kau milikku Naruto..'

Kumpulan kata kata itulah yang dapat kubaca dari gerakan bibir sosok itu. Kata kata yang mengandung sebuah pernyataan yang mungkin tak akan bisa ku hindari suatu hari nanti.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz z

"Kyaaa! Sasuke sama!"

"Kyaa!"

"Minggir! Jangan dorong dorong sialan!"

"Kau yang minggir jelek, tak ada gunanya kau disini! Kau hanya merusak pemandangan saja, huh!"

"Diam kau! Wanita jalang!"

"Dasar jelek!"

"Wanita hina!"

"Setan sialan!"

Dan berbagai bentakan-bentakan dan juga umpatan-umpatan yang saling dilemparkan oleh para gadis yang kini tengah berkerumun didepan pintu gerbang sekolah bertitle International di kota ini, Konoha International High School. Sekolah yng berisikan siswa siswa dari kalangan menengah keatas dan juga sekolah dimana terdapat kumpulan orang orang yang berhati beku.

Bukannya kalangan menengah kebawah tidak bisa berada disekolah ini, hanya saja jika ada dari kalangan menengah kebawah yang bersekolah disini mereka harus benar benar menyiapkan dirinya menghadapi makhluk-makhluk yang betitlekan kejayaan orang tua mereka. Tak ingin mengambil resiko dengan kehidupan sekolah yang tak akan tenang ditempuh selama tiga tahun mereka- kalangan menengah kebawah- lebih memilih mengundurkan diri seandainya mereka diterima ataupun dianjurkan oleh sekolah terdahulunya untuk memasuki sekolah ini, lebih baik aman dari pada celaka.

Nah, kini di depan gerbang yang menjulang tinggi hampir setara dengan tinggi pohon kelapa itu, terparkir dengan apik mobil- mobil mewah, dimulai dari deretan terdepan ada Maybach Landaulet dan diikuti beberapa mobil hitam dibelakangnya.

Perlahan pintu mobil-mobil mewah itupun terbuka menampakkan kaki yang dibalut sepatu hitam mengkilat dan juga celana berbahan dasar kain yang palin berkualitas tinggi bermotif kotak-kotak berwarna abu-abu.

"KYAAA!" teriakan para siswa itupun membahana begiru melihat sosok yang turun dari mobil itu dan melangkah memasuki gerbang sekolah.

Sosok yang sejak tadi diteriakkan itu kini berjalan dengan angkuh tanpa menoleh sedikitpun kearah lain hanya menatap lurus kedepan. Tentunya diikuti oleh orang orang yang berpakaian hitam- hitam layaknya bodyguard.

"Sampai kapan kau akan mengikutiku, Kakashi?!" ujarnya bernada kesal kepada seseorang yang selalu mengekornya dari kediamannya hingga ketempat ini.

"Ini sudah menjadi tugas saya, Sasuke sama." ujarnya sedikit membungkuk horamat kepada sosok didepannya.

"Che!" dengusnya kesal kemudian meneruskan langkahnya yang tadi terhenti.

'Yare~ yare~ tingkahmu semakin mengesalkan saja, Sasuke sama,' ujar pria bermasker itu dalam hati melihat tingkah sosok yang masih berjalan sangat angkuh didepannya itu.

BRUKK

Tiba-tiba ada seorang siswi yang tak sengaja menabrak sosok angkuh itu. Siswi yang memiliki surai coklat memakai kaca mata dan juga berkepang dua itu serasa mendapat durian runtuh setelah tak sengaja seseorang menyenggol dirinya. Dalam hati siswi itu berjengit senang, mengucapkan terimakasih pada seseorang yang mendorong tubuhnya tadi.

"Pergi dariku sampah." desisi sosok yang kini berada sangat dekat dengan siswi itu.

"Maafkan aku Sas-" ujar siswi itu terpotong setelah menatap sosok didepannya itu. Mata merah berkilat alis yang bertekuk dan juga entah mengapa rasanya ia melihat sesuatu yang runcing menyembul dibalik bibir itu. Seketika itu juga bulu kuduk siswi itu meremang, tangan yang tadinya menyandar didada itu kini gemetar, matanya terbelalak, nafasnya tercekat dan juga air mata yang perlahan mengalir.

"Maaf sebaiknya anda berhati-hati nona," ujar seorang pria bermasker yang kini meraih salah satu lengan gadis itu untuk menjauh dari tuannya agar tak terjadi sesuatu yang bisa membuat kericuhan dipagi hari yang cerah ini.

"Aa… aaa.." hanya itu yang keluar dari mulut gadis itu, setelahnya iapun tak sadarkan diri di lengan pria bermasker itu.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz zzzz

"Gaara!" teriak salah Neji memanggil sahabatnya itu.

"Ada apa?" ujarnya tak berselera menatap kearah Neji, kemudian kembali menekuni kegiatan membolak balik koran yang terbit hari ini.

"Sasuke datang! Hari ini dia masuk sekolah lagi!" seru Neji bersemangat (sangat OOC, bayangin semangat yang ada pada Lee)

"Yang benar?! Lalu dimana? Dimana dia?" seru Gaara yang langsung mengalihkan perhatiaanya pada Neji Dan kemudian terdengar suara pintu yang terbuka, menampakkan sosok orang yang tengah dibicarakan oleh mereka berdua.

GRAAKK

TAP TAP TAP

Langkah kaki sosok itu terdengar memasuki ruangan itu, melangkah menuju kearah mereka berdua, lebih tepatnya kearah pemuda berambut merah bata yang kini berdiri sambil menatap kearahnya.

"Aku datang." ujar sosok itu begitu sampai didepan Gaara, menatap sebentar pemuda berambut merah itu dan kemudian mengecup singkat bibir sang pemuda berambut merah, yang tentunya membuat sosok bersurai merah itu kaget luar biasa menerima perlakuan yang tiba-tiba ini. Neji yang melihat kejadian ini merasa sedikit tak terima atas perlakuan sosok bersurai hitam itu kepada sosok bersurai merah disampingnya.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Gaara sambil mengusap bibirnya kasar dengan kedua tangannya. Menatap nyalang kearah sosok bersurai hitam didepannya.

"Hadiahmu yang sudah menamparku kemarin," ujarnya santai kemudian melangkah menuju salah satu kursi empuk diruangan itu, kursi yang khusus didesain untuk para keturunan dari orang terkaya se-Konoha.

"Brengsek!" umpat Gaara kesal masih sambil mengusap bibirny yang kini Nampak sedikit merah.

"Hentikan itu, lihat bibirmu semakin merah!" seru Neji menghentikan aksi Gaara walaupun masih sedikit kesal dengan kejadian yang tak terduga itu.

"Hn," dengus Sasuke menyandarkan tubuhnya di kursi yang kini ia duduki.

"Apa yang membuatmu berubah pikiran ha?" ujar Gaara menanyakan alasan mengapa si pemuda berambut raven ini tiba- tiba datang ke sekolah padahal kemarin ia sendiri melihat keadaan si pemuda yang mm.. bisa dibilang tak biasa. Nah, kalau sudah begitu pemuda berambut raven ini pasti tak akan beranjak dari kamarnya apalagi untuk datang kesekolah, dan ini tumben sekali ia datang dengan tingkah yang menurutnya sedikit aneh.

"Hanya ingin merubah suasana." ujarnya masih santai yang kali ditatap heran oleh dua orang pemuda yang berada didepannya.

"Apa? Jawaban apa itu? Tsk, kemarin kau membuat emosi kami naik dan sekarang kau bersikap aneh, sebenarnya apa yang sedang terjadi padamu Uchiha?" ujar Gaara kali ini sudah berhenti dari keadaan cengonya.

"Jangan. Ucapkan. Marga. Itu. Di depanku." ujar Sasuke dengan penuh penekanan, tak suka akan panggilan yang duberikan oleh Gaara, disertai dengan tatapan tajam kearahnya.

"Aa. Ok, ok, maaf, aku tak akan menyebutnya lagi." ujarnya merasakan hawa yang tak enak berada ibelakang tubuh Sasuke.

"Lalu apa alasanmu tiba-tiba berubah seperti ini?" kali ini Neji yang berujar menatap Sasuke.

"Tak ada alasan apapun, dan jangan tanyai aku lagi," ucap Sasuke kali ini merebahkan kepalanya kemudian menutup perlahan kelopak matanya menenggelamkan kedua iris onyx yang tadi terpancar.

"Sepertinya kita tak usah mengganggunya lagi, Gaara. Aku tak ingin kena semprot lagi kali ini, masih terlalu pagi untuk memulai hari," bisik Neji kedekat Gaara memberi instruksi agar tak mengganggu pemuda didepannya ini lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh mereka. Gaara pun langsung bungkam masih menatap lurus kearah sosok yang kini tengah memejamkan matanya itu. Banyak sekali pertanyaan yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Gaara pada sosok itu, namun memang sepertinya untuk saat ini ia harus mengurungkan dirinya untuk menanyai sosok itu.

"Haa… ya sudah sebaiknya kita tinggalkan ia dulu, kembali ketempatmu Neji," ujar Gaara yang kini beranjak dari hadapan Sasuke menuju kearah tempat duduknya yang berada didepan yang juga diikuti oleh Neji disampingnya. Begitu bergerak selangkah ia mendengar sesuatu yang samar diucapkan oleh Sasuke.

'Aku menemukannya..'

Langsung ditatapnya sosok yang masih asyik memejamkan matanya itu, bingung.

"Ada apa Gaara?" ujar Neji mengagetkannya.

"Oh.. Umm, tak apa." ujarnya membalas ucapan Neji kemudian melangkah lagi menuju kearah tempat duduknya.

'Apa maksudnya?' batin Gaara masih memikirkan ucapan samar dari Sasuke.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz zzzzzz

"Naru?" ujar seseorang berjalan mendekati sosokku yang masih duduk sambil memeluk kedua lututku.

"Hoi! Naru?! Kau kenapa?" ujar Kiba padaku, terdengar heran melihatku.

"Kiba! Kiba! Aku melihatnya lagi! Sosok itu! Sosok itu menatapku lagi sambil menyeringai Kiba! Aku takut! Takut!" ujarku dengan suara yang terdengar lirih dan juga takut. Ya, saat ini aku sangat ketakutan. Ternyata sosok itu nyata, tadi aku melihatnya lagi. Apa yang kukatakan pada Kiba ternyata benar, aku tidak mengkhayal sama sekali. Tubuhku menggigil, bukan karena kedinginan namun karena rasa takut yang masih menyerangku.

"Apa yang kau katakan Naru? Sungguh aku sama sekali tak mengerti. Sikapmu hari ini sungguh aneh, sebaiknya kau istirahat saja dikamarmu." ujar Kiba yang masih heran dengan sikapku yang menurutnya aneh, dan juga berusaha menenangkan diriku.

"Dia! Dia datang Kiba! Dia mengatakan sesuatu yang aneh padaku! Entah mengapa aku sangat ketakutan, aku bisa merasakan hawa buruk dari orang itu." seruku masih dengan suara lirih.

"Sudahlah Naru, tenangkan dulu dirimu, sebaiknya kita kekamar dulu, nanti kumintakan izin pada Iruka jisan,"ujarnya padaku sambil mengelus lembut kepalaku.

"Jangan. Aku tak ingin berada sendirian di kamaritu, Kiba. Sudah aku tak apa-apa." ujarku kali ini dengan lebih tenang, aku tak ingin berada sendirian lagi untuk saat ini apalagi dikamar itu, aku tak ingin ia datang lagi dan berbuat hal buruk padaku. Tidak!

"Biarkan aku ikut bekerja denganmu Kiba. Aku takut sendiri.'' mohonku padanya.

"Baiklah kalau itu keinginanmu, ayo. Pekerjaanku sudah menanti." ujarnya sambil menarik sebelah tanganku, akupun berdiri dan mengikutinya walaupun masih kurasakan sedikit rasa takut didadaku saat ini.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz zzzzzzz

"Kakashi." ujar Fugaku pada bawahannya itu lewat sambungan telepon.

"Ya, Fugaku sama?" jawabnya.

"Bagaimana keadaannya saat ini, apakah ia berbuat kekacauan lagi?''

"Saya rasa belum sampai membuat kericuhan Fugaku sama hanya 'hampir' membuat sedikit kericuhan," ujarnya menekankan kata 'hampir' didalam kalimatnya.

"Hn. Jangan sampai kau lengah mengawasinya." ujar Fugaku datar.

"Baik Fugaku sama," ujarnya mengakhiri percakapannya dengan sang tuan.

'Haa… kalau begini jadinya aku yang tak punya waktu menikmati hidup,' bisiknya lirih pada dirinya sendiri.

zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz zzzz

TENG TENG

Suara dentingan logam beradu, yang membuat semua pelayan di dalam manor langsung menoleh ke asal suara.

"Jisan, ada apa ini?" ujarku pada Iruka jisan yang juga menolehkan kepalanya kesumber suara.

"Ada pemberitahuan dari kepala pelayan, mungkin salah satu Tuan Muda sudah pulang." ujarnya padaku.

"Oh," hanya itu komentar yang kukeluarkan.

Dan kali ini terdengar suara berat seorang pria yang ternyata memang memberikan sebuah pengumuman.

"Kepada seluruh pelayan yang bekerja saat ini, 17 menit lagi Sasuke sama akan menuju ke Manor ini, diharapkan bagi yang masih bekerja untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan datang ke halaman depan, seperti biasa kita akan menyambut kedatangan Sasuke sama. Sekian pemberitahuan ini, Terima kasih." ujar suara itu.

"Nee, jisan apa setiap yang bernama Sasuke sama itu harus kita sambut?" ujar Kiba pada Iruka jisan, terlihat ada nada bingung dalam suaranya. Pertanyaan yang juga ingin kutanyakan, karena aku belum begitu mengenal apa saja kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh para pelayan di manor ini untuk tuan mereka.

"Benar, dan bukan hanya beliau saja, masih ada Tuan Muda yang lainnya, saudara Sasuke sama yang saat ini tidak berada di Manor ini. Dan tentunya ini juga berlaku bagi keluarga Uchiha yang lain." papar Iruka jisan menjelaskan pada kami.

"Ooh.." ujar kami mengerti.

"Kalian harus cepat terbiasa dengan segala sesuatu yang baru bagi kalian disini, Kiba, Naruto. Karena masih banyak hal yang belum kalian ketahui mengenai Manor dan juga isinya ini." ujar Iruka jisan lagi padaku dan pada Kiba.

"Sip boss!" seru kami berdua bersamaan.

"Anak pintar, nah ayo kita kehalaman depan sekarang." ujar Iruka jisan pada kami lalu melangkah menuju kearah halaman depan manor ini, tentunya diikuti oleh kami berdua.

"Kau berdiri disebelah Kiba, Naru." ujar Iruka jisan padaku sambil memberi arahan dimana aku harus berdiri.

"Un," ujarku mengerti kemudian mengambil posisi disebelah Kiba.

"Nanti begitu Sasuke sama melewati kita, kalian tundukan kepala kalian dan ucapkan 'Selamat Datang, Sasuke sama' padanya. Kalian mengerti?" ujar Jisan padaku dan Kiba yang langsung mendapat anggukan pasti dari kami berdua.

TAP TAP TAP

Terdengar langkah kaki yang keluar dari dalam sebuah mobil mewah yang berhenti cukup jauh dari tempat kami berada. Ya dapat kupastikan itu adalah langkah kaki dari orang yang tadi dibicarakan dan yang sedang kami sambut, begitu ia melangkah memasuki tengah barisan pelayan disisi kiri dan kanannya, secara bersamaan semua pelayan menundukkan kepala dan mengucapkan kalimat sambutan untuk orang itu. Aku dan Kiba pun menundukkan kepalaku. Tapi karena aku baru kali ini menyambut seseorang seperti ini, aku agak sedikit kelabakan karena gerakanku tak seirama dengan para pelayan yang lainnya. Dan karena aku kelabakan menundukkan kepalaku secara tak sengaja-bukan maksudku- menginjak salah satu kakiku sendiri yang tentu saja menyebabkan aku terjerambab kedepan, langsung saja kututup mataku, membayangkan rasa sakit yang akan aku terima dengan membentur lantai berkeramik dibawahku saat ini, dan dapat kudengar pula pekikkan kaget dari Kiba dan juga Iruka jisan untukku.

PLUK

'Empuk?' pikirku, merasakan sesuatu yang terasa empuk.

'Lho? Seharusnya kasar, tapi kenapa jadi empuk?' ujarku dalam hati masih belum berani membuka mataku.

"Sa..Sasuke sama?!" jerit beberapa pelayan yang tentu saja membuatku langsung membuka kedua mataku menampakkan kedua iris sapphire yang kini terbelalak kaget memandang iris onyx didepanku.

"Sa.. Sa.. Sasuke... sama?" ujarku pelan pikiranku masih belum sepenuhnya kembali.

"Hn," jawab sosok yang berada dibawahku.

Tentu saja aku merasakan sesuatu yang empuk dan bukannya kasar, itu karena sekarang aku tengah berada diatas sesosok pemuda berwajah seputih porselen dengan iris onyx yang masih menatapku datar, sosok yang sejak tadi kami tunggu, Sasuke sama, sang tuan muda keluarga Uchiha.

Kutarik tubuhku kebelakang secepatnya setelah mengetahui sosok yang yang tadi entah secara tak sengaja atau memang ia menolongku agar tak membentur lantai, dan kupastikan opsi kedua pasti salah. Menyadari kesalahan yang kuperbuat langsung kutundukkan kepalaku sedalam dalamnya dan mengucapkan kata maaf berungkali, namun tak berani untuk menatap sosok yang kini telah berdiri dan menepuk-nepuk celananya yang sedikit berdebu.

"Maaf, Maafkan saya Sasuke sama. Saya mohon maafkan saya, sekali lagi maafkan saya.' ujarku memohon.

"…" tak ada tanggapan apapun dari sosok itu. Keringatku dingin semakin menjalar turun dipelipisku, takut memikirkan hal palin terburuk yang mungkin saja terjadi.

'Bodoh! Dasar bodoh kau Naru!' umpatku dalam hati.

Tap Tap Tap..

Yang kudengar hanya suara langkah kaki yang menjauhi tempatku berdiri saat ini, bingung. Kuangkat kepalaku perlahan yang kutemukan hanya tatapan kasian dan lega dari pelayan lainnya.

Eh? lalu dimana Sasuke sama? pikirku. Kemudian kutolehkan kepalaku kearah suara langkah kaki itu. Rupanya kali ini aku selamat, kukira aku akan dihukum dihari pertamaku bekerja, aku hanya mendesah lega, kuberikan sebuah senyum pada sosok yang tadi kutimpa secara tak sengaja itu.

'Deg'

Jantungku berdetak lebih cepat. Seulas senyum yang tadi sedikit terkembang dibibirku kini memudar. Astaga! Seringaian itu! Seringaian sosok yang kutakutkan itu kali ini tersungging di bibir orang yang sedang kutatap.

'Sa..suke sama?' bisikku lirih karena rasa takut yang dengan segera menjalar didadaku.

"Hoi, Naru?! Kau tak apa-apa? Wajahmu pucat." ujar Kiba mengagetkanku.

"Umm.. tidak, aku tidak apa-apa Kiba." ujarku padanya berusaha untuk tak terdengar bergetar.

"Hm, ya sudah, ayo kita harus melanjutkan pekerjaan kita tadi," ujarnya lagi padaku yang kini tengah beranjak dari tempat ini.

"Baik," ujarku menatap punggung sahabatku itu.

'Tidak. Tidak. Itu tidak mungkin Sasuke sama, warna matanya lain, tak semerah sosok itu. Tapi…'

'Tapi seringaian tadi benar benar mirip dengan sosok itu, dan perasaanku tiba-tiba takut.' perangku dalam hati memikirkan semua yang tadi terlihat oleh mataku. Aku tak mungkin salah lihat, mataku masih normal.

Dan tak mungkin kalau perasaan yang kurasakan saat ini juga salah, Takut. Sangat takut….

::Tsuzuku::

Bagaimana? apakah chap ini sudah sedikit panjang?

Selamat mereview dan terimakasih sudah membaca fic ini. minna~

akhir kata

Jaa, nee…