Sekai de ichiban taisetsuna hito wa anata…..
Rated : T+ in this chap
Cast : Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto,
Hyuuga Neji x Sabaku no Gaara,
Shikamaru Nara x Inuzuka Kiba,
Hatake Kakashi x Umino Iruka
Uchiha Sasuke x ….
Sabaku no Gaara x…..
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama,Hurt/Comfort, dll maybe
Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat,OC, Smut, Song fic, Badfic, Many Typo (s) maybe, and Secret?….
Dan juga untuk minna yang udah memfav ataupun memfollow fic ini ku ucapin
:Doumo arigato gozaimasu:
M(^0^)M
"Mengapa kau melindungi ku selama ini,
kau mungkin telah tersakiti karena aku.
Bermain dengan mu dan terganggu olehmu
Sungguh, aku kejam kepadamu
Tapi aku tidak pernah menyukaimu
Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu
Aku mencintaimu, bodoh
Aku ingin bersamamu
Aku hanya ingin mengirim kata-kata ini kepada mu dengan jujur dari hatiku"
CHAPTER 5
Hari ini suasana sedikit tegang di dalam manor nan megah milik keluarga Uchiha, bagaimana tidak semua pelayan berkeliaran kesana kemari tanpa henti semenjak 4 jam yang lalu.
Hal ini dikarenakan sang putra tertua keluarga ini akan pulang kembali dan menetap dimanor ini setelah sebelumnya pergi menjalankan salah satu cabang Uchiha Corp. Maka dari itu, semua pelayan disibukkan dengan acara penyambutan yang akan dilakukan malam nanti.
Tentunya aku dan Kiba pun ikut serta, namun karena kami berdua adalah pelayan baru dan tak mempunyai basic sebagai seorang pelayan kami berdua hanya ditugasi membantu di dapur.
Yah, tak apa juga sih lebih enak membantu didapur dari pada kesana kemari berbaur didalam aula nan megah ini, yang ada kakiku nanti bengkak karena terlalu banyak berjalan—dan aku bisa dengan puas memandangi makanan-makanan yang akan disajikan hehe~.
Sedari tadi mataku terus menatap kearah Iruka jisan yang terlihat sangat sibuk mengurusi dekorasi aula nan megah ini, menyuruh ini dan itu, memeriksa segala kekurangan yang terlihat olehnya, membuat pelayan- pelayan senior diatasku menghela nafas akibat 'kekejaman' Iruka-jisan.
"Naruto, apa yang kau lakukan? Kembali ke tempatmu!" serunya tiba-tiba mengagetkanku yang tengah bengong memandangi tindakannya.
"Eh? Ah, baik Jisan, hehe" akupun berlari kecil kearah dapur tempatku seharusnya bekerja.
"Dasar bocah itu," walaupun cukup jauh dari Jisan tapi telingaku masih bisa mendengar apa yang ia katakan. Dan akupun hanya tersenyum.
4 MENIT SEBELUM ACARA DIMULAI
"Ayo,ayo cepat bersiap, Tuan muda sebentar lagi akan memasuki ruangan!" Iruka memanggil semua pelayan yang ada di ruangan itu untuk segera berbaris dengan rapi, seperti apa yang telah mereka lakukan dalam latihan beberapa jam sebelumnya.
"Naruto! Rapikan dasimu!"
"Kiba berhenti memainkan jarimu!"
"Kau!"
"….."
"Ya, kau no urut 12 sebelah kananku! Tegakkan punggungmu!"
"Kakashi! Berhenti membaca buku itu!"
"Haa~ kalian benar-benar menguras tenagaku,"
Ya seperti itulah ia mengatur dengan sangat-sangat perfect sikap seharusnya pelayan berdiri menyambut sang majikan.
Ia hanya bisa menghela nafas ketika mendapat tatapan 'Ya, Iruka aku tahu' dari pelayan-pelayan yang ia komentari.
Namun lain halnya dengan si pemuda bersurai pirang itu, ia hanya tertawa melihat sikap yang jarang ia lihat dari sang paman itu.
Beberapa menit kemudian pintu besar bercat putih itupun terbuka, saatnya untuk penyambutan sang majikan pun tiba. Semua telah bersiap diposisinya masing-masing, termasuk juga Iruka.
TAP
TAP
TAP
"SELAMAT DATANG, ITACHI-SAMA," mereka dengan serempak mengucapkan kata-kata tersebut dengan gesture tubuh yang telah di instruksikan sebelumnya.
"Terima kasih, senang bisa kembali," ujar sosok itu yang saat ini belum terlihat oleh para pelayan itu.
Sosok itu—yang disebut Itachi—melangkah menuju ruangan yang telah disiapkan sebelumnya.
Dan dimulailah acara penyambutan tersebut, tugas besar pertama bagi snag pelayan baru—Naruto dan Kiba.
SETELAH ACARA SELESAI…
"Huaaaa….. akhirnya…"
"Akhirnya….!"
"Tsukareta na~ minna,"
Para pelayan akhirnya menikmati waktu istirahat mereka, acara yang dipersiapkanpun sangat lancar. Dan nampaknya para majikanpun puas terhadap acara yang disuguhkan. Dan itu adalah suatu kebanggaan bagi mereka para pelayan dan juga menjadi nilai plus untuk mereka.
"Iruka-jisan hebat!" ujar sosok pirang itu memeluk sosok pamannya.
"Sugee, Jisan memang yang terbaik, hehe," ditimpali oleh sang sahabat, Kiba.
"Arigatou, ini juga berkat kalian," ia tampak sangat senang akan hasil kerjanya bersama rekan-rekannya yang lain menampakkan hasil yang sangat bagus.
"Yare~ yare~ kalian seharusnya tidak membuatku cemburu, bocah," sosok bersurai silver itu tiba-tiba menginterupsi kegiatan bocah-bocah yang masik memeluk sang pujaan hati (?).
"Maksudmu?" ujar Iruka tak begitu perduli. Ia hendak melangkahkan kakinya menuju ke tempat peristirahatannya setelah semua pekerjaan berat itu selesai ia dan rekan-rekannya kerjakan. Belum ada beberapa langkah dari tempatnya sebuah kecupan singkat yang tiba-tiba melayang begitu saja ke pipinya. Dan kini terpoleskanlah warna pink yang terlihat cukup jelas dipipinya.
"APA-APAAN KAU, KAKASHI!" ia mengusap-usap pipinya dengan cukup keras menghilangkan jejak si pria bersurai silver dengan masker yang kini melangkah dengan santainya meninggalkan Iruka beserta yang lainnya dengan wajah cengo akibat tindakan tak terduga dari pria yang seperti hantu itu.
.
.
"Haa~ tadi cukup seru tapi lumayan juga, nee Kiba?" Naruto menengokkan kepalanya kearah Kiba yang masih sibuk dengan acara melepas kancing pada lengan kemeja putihnya, sedangkan jas pelayan yang berwarna hitam itu ia sampirkan di bahu kanannya.
"Kakiku serasa ingin lepas dari tempatnya, aku tak menyangka pekerjaan ini cukup sulit tak seperti yang pernah kubayangkan," sahutnya kepada Naruto. Ia membuka beberapa kancing kemeja bagian kerah hingga dua kancing kebawah, menampakkan lekukan leher dengan tetesan keringat hasil bekerja tadi.
"Ya, kurasa aku akan mandi dulu baru tidur, kau?" kedua tangan tan Naruto membuka kancing jas pelayannya perlahan, ia lepas kemudian ia lipat memanjang.
"Aku ingin bermain sebentar, baru tidur hehe~" ia tertawa kecil menanggapi pertanyaan dari sahabatnya itu.
"Haa~ kurasa Akamaru pasti sudah tidur, bayangkan ini jam berapa? Ya sudah aku mandi dulu kalau begitu, jha~" dilangkahkannya kaki berpantovel hitam mengkilat itu menuju kekamarnya, meninggalkan Kiba yang beralih ke jalur lain, jalur yang diperuntukkan untuk hewan peliharaan—Akamaru si anjing putih milik Kiba tinggal di sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk hewan, itu adalah salah satu syarat jika ia tetap ingin menjadi pelayan di sini.
.
"Kurasa dengan sedikit berendam badanku bisa rileks," Ia membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan, di lepasnya kemeja berwarna putih itu diikuti dengan celana kain berwarna hitamnya tak lupa juga dengan boxer berwarna orange miliknya, ia rapikan pakaian-pakaiannya itu barulah ia menuju ke kamar mandi, berendam dalam bath tub yang disediakan disetiap kamar di manor ini—di tiap kamar milik pelayan disediakan kamar mandi berfasilitaskan layaknya hotel.
Ia mencelupkan kakinya di air hangat dalam bathtub, perlahan ia masukkan tubuhnya hingga air terlihat memenuhi permukaan bathtub, beberapa ada yang mengalir keluar membasahi lantai kamar mandi.
"Hmmm~ enaknya~" ia meregang senang mendapati hangatnya air yang menyentuh dan meresap kedalam celah-celah di kulit tannya. Ia membasuh badannya, mencipak-cipakkan air ke tubuh bagian atasnya—dari leher hingga dada.
GREKK
Suara pintu kamar mandi yang terbuka perlahan.
"Cepat sekali kau Kiba? Bagaimana apakah Akamaru sudah tidur?" Naruto berucap sambil terus membasuh tubuhnya dengan air dalam bathtub tersebut.
TAP
Suara langkah kaki yang perlahan mendekat…
TAP
Selangkah…
TAP..
Dua langkah…
Masih tak ada jawaban juga dari sang sahabat, merasa heran dengan keheningan yang tiba-tiba dan adanya aura aneh yang ia rasakan menyerang tengkuknya, ia membalikkan tubuhnya yang tadi memunggungi pintu kamar mandi.
"Kenapa hanya di—" Naruto menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya membelalak kaget, tadinya ia kira itu adalah sahabatnya Kiba namun ternyata perkiraannya salah, itu bukan Kiba, bukan. Itu, sosok itu, sosok yang beberapa hari ini selalu membuatnya ketakutan dan merasa dihantui kini tengah berdiri tepat di hadapannya memandangnya nyalang.
"Kkhhh…" suaranya tercekat, padahal beberapa saat yang lalu ia merasa tak haus tapi kini ia sepertinya membutuhkan air minum berliter-liter untuk menghilangkan rasa hausnya yang membuat tenggorokannya terasa sangat kering.
TAP..
Sosok itu semakin melangkah maju, jarak antara sosok itu dengan Naruto hanya sekitar 3 langkah kaki orang dewasa dan jarak yang sempit itulah yang membuat ia merasa disituasi yang menyuruhnya untuk segera melompat ke jurang atau memilih untuk dimakan sang singa—dua pilihan yang sama sekali tak menguntungkan.
TEP..
Ia tempelkan punggugnya dengan sisi kepala bathtub, ditekukknya kaki kecilnya ia meraba-raba sekelilingnya mencari benda yang bisa setidaknya ia gunakan untuk perlawanan nantinya.
"Me—menjauh dariku!" ia tergagap mengucapkan sebuah gertakan dengan suara tercekik miliknya saat ini. Masih dengan mencari sebuah benda yang sekiranya bisa ia gunakan untuk melempar sosok didepannya yang kini hanya berjarak 2 langkah kaki dengan pinggiran bathtub.
"Aku datang meminta 'Hak'ku," sosok itu melangkah satu langkah kedepan membuat Naruto semakin ketakutan dan kedinginan—walaupun kini ia berendam di air hangat tapi perasaan takutnya yang membuat tubuhnya serasa membeku.
"A—apa maksudmu? Dan siapa kau? Aku tak mengenalmu!" ia melemparkan sabun batangan yang ia lihat dan sigap ia gapai dengan cepat kearah sosok itu—tentu saja bisa dihindari dengan sangat mudah olehnya.
"Ja—jangan mendekat!" ia sudah kehabisan akal untuk mengusir mahkluk tak dikenal dihadapannya ini.
GREPP..
Tangan tan kecil miliknya kini tengah berdada di genggaman sosok itu, tanpa ia sadari sosok itu sudah ikut memasukkan tubuhnya kedalam bathtub tempat ia berada. Kedua bola mata birunya semakin membelalak lebar, nafasnya memburu, sebuah ketakutan yang teramat sangat kini menyerang tubuhnya—menggigil dengan getaran yang cukup keras di bawah kuasa sosok itu.
"Lepaskan, hiks!" air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, takut menatap sosok bermata merah dengan bintik hitam di atasnya saat ini.
"Tidak sebelum aku mendapat 'Hak'ku," sosok itu berucap hal yang sama dan sama sekali tak di mengerti oleh Naruto.
Merasa permintaanya tak akan dipenuhi, ia memberontak sekuat yang ia bisa, tangan dan juga kakinya ia gerakan ke sembarang arah, itu cukup membuahkan hasil. Pegangan sosok itu di kedua tangan tan miliknya sedikit melonggar ketika kaki kecilnya tak sengaja menendang bagian privat milik sosok itu. Menemukan sebuah celah untuk kabur ia segera mendorong keras sosok itu. Ia bangkit kemudian akan berlari meninggalkan bathtub, tapi..
BRUK
Ia terjatuh dengan posisi bagian perut kebawah masih berada di bathtub sedangkan bagian perut keatas berada di luar bathtub. Posisi yang samak sekali tak menguntungkan baginya.
"Apa yang mau kau lakukan?!" ia merasa sebuah tangan putih pucat itu meraba bagian punggungnya hingga keatas, menarik bagian tubuh atasnya hingga tegak—posisi saat ini Naruto menumpukan kedua lututnya dalam bathtub berisi air hangat itu sedangkan tubuh atasnya berdiri tegak dengan tangan putih pucat milik sosok itu melingkar di pinggang ramping milik Naruto.
"Lepas…ahh…" ia merasa geli ketika nafas hangat sosok itu menyentuh bagian belakang telinganya, tangan tan miliknya masih berusaha melepaskan lingkaran tangan pucat milik sosok tersebut di pinggangnya—membuatnya risih dengan tangan tersebut.
"Lepas! Ngg.." ia mendesah tak kuasa menahan sensasi yang ditimbulkan oleh benda kenyal tak bertulang dan basah itu yang bermain-main disekitar leher tan miliknya. Tangan pucat itu mulai menggerayangi bagian perut Naruto, mengitari bagian pusar yang sedikit ditumbuhi rambut itu dengan pelan.
"Nggg…." Naruto menggigit bibir bawahnya menahan desahan yang kemungkinan akan ia keluarkan lagi.
Nampaknya sosok yang tengah bermain-main dengan leher tan didepannya itu merasa tak senang karena Naruto tak mengeluarkan desahan yang sempat ia keluarkan tadi. Sosok itupun menghentikan kegiatan sementaranya di sekitar leher, ke tarik dengan sedikit keras kepala pirang Naruto menghadapkan wajah tan yang kini terdapat semburat pink samar itu tepat kearahnya. Sedetik kemudian sosok itu meraup bibir mungil milik Naruto dengan cukup ganas. Sebelah tangan pucatnya menahan kepala pirang yang mencoba berontak itu dengan kuat sedangkan sebelah tangannya lagi ia turunkan hingga mencapai dan menyentuh sedikit bagian privat milik Naruto.
"NGGGG!" mata biru sapphire itu membelalak ketika dirasa bagian bawahnya bersentuhan—ah, lebih tepatnya disentuh—oleh sesuatu. Ia gelengkan kepalanya kekiri kanan berusaha melepas pagutan kasar dari sosok bermata merah itu. Nihil, pagutan di bibir cherry miliknya semakin keras, memberikan rasa kesemutan berlebihan di areal sana pada si pemilik.
"Kau sudah kutandai sejak saat itu, jadi bersikap baiklah padaku, Tuanmu!" ia berucap disela-sela kegiatannya memagut bibir cherry milik Naruto. Sedangkan Naruto hanya bisa menatap lemas kearah sosok bermata merah yang tak ia ketahui sama sekali.
'Kiba! Siapapun tolong!' batinnya menjerit meminta pertolongan.
"Tak akan ada yang bisa mengganggu acara kita saat ini, jadi bersikap baiklah~" dengan datar ia mengucapkan kata-kata tersebut membuat Naruto semakin cemas dan takut. Ia ingin memberontak namun tenaga yang ia punya jauh dari sosok yang tengah memeluknya saat ini.
"It's Show Time, sayang~" nada sing a song itu mengakhiri percakapan singkat diantara dua mahkluk yang berdekatan dengan sangat intim itu.
SLURRPP
Jilatan di lehernya membuat Naruto bergidik ngeri, rasa takutnya semakin membuncah, keringat perlahan mengalir di pelipisnya hingga mendarat mulus di ceruk lehernya. Tangan tannya masih sibuk menjauhkan tangan pucat milik sosok itu yang kini sudah sampai di bagian 'sangat privat' miliknya. Dadanya naik turun dengan cepat, nafasnyapun memburu, rasa dingin yang lebih dingin menyentuh lehernya. Ia menutup mata takut.
Sosok itu menempelkan taringnya di atas permukaan kulit berwarna tan milik Naruto. Ia menggesekkan taring tajam miliknya pelan diatas permukaan kulit itu.
Sebelah tangan pucat milik sosok itu menekan kepala pirang milik Naruto itu kesamping, semakin memperlihatkan leher jenjang yang sangat menggoda itu. Dan sebelah tangannya masih setia dengan tubuh bagian bawah milik Naruto.
PLUP
Taring itu tertancap dengan manis di perpotongan leher tan milik Naruto, memberikan rasa sakit yang menyengat di areal tersebut. Naruto hanya meringis akibat perbuatan sosok itu.
GLUK
GLUK
GLUK
Hanya suara 3 tegukan itu yang kini terdengar di dalam kamar mandi tersebut.
Naruto hanya menatap nanar langit-langit diatasnya, air mata miliknya kini jatuh dari pelupuk matanya, mengalir melewati pipi chubbynya, tubuhnya melemas seketika—tak ada lagi perlawanan darinya.
Setelah tiga tegukan itu berakhir, sosok bermata merah tersebut perlahan menarik taringnya dari dalam leher Naruto, menyisakan sedikit darah segar disana yang perlahan menetes dan jatuh diatas lubang bekas gigitan miliknya, ia jilat darah segar yang sedikit tertempel disisi bibirnya, sebelah tangannya sudah ia lepaskan dari bagian bawah Naruto.
"Hiks… hiks…" masih dengan memejamkan matanya serta tubuh lemasnya, ia menangis.
Sosok itu meraba bekas gigitan miliknya, menciumnya lembut. Naruto yang masih menangis semakin mengencangkan isakannya.
Perlahan ia menarik kepala pirang itu menghadap kearahnya, diusapnya bibir cherry yang terlihat sedikit membengkak itu dengan lembut, kemudian sebuah kecupan singkat mendarat tepat diatas bibir cherry itu sontak membuat si pirang terdiam sesaat.
"Setiap tengah malam aku akan selalu mengunjungimu," ia berucap sambil menatap intens kearah Naruto. Ia kecup lagi bibir cherry itu.
Semakin lama semakin keras, dari kecupan berubah menjadi lumatan.
"Ngggghhhh~" tubuh lemasnya masih tak bergerak menerima ciuman panas dari sosok tersebut.
"Mmmmmngghhh…" nafasnya semakin menipis, ia benar-benar membutuhkan oksigen saat ini, tapi nampaknya sosok tak dikenal itu belum ingin melepaskan lumatan-lumatan yang ia lancarkan di bibir itu, malah semakin menambah ganas lumatannya.
Wajah Naruto yang kini berubah semakin merah karena hampir kehabisan nafas, walaupun begitu tak jua ada tanda-tanda pagutan bibir itu akan diselesaikan oleh sosok—tak dikenal— tersebut. Beberapa detik kemudian barulah pagutan itu berakhir, terlihat benang-benang saliva menggantung diantara kedua bibir berbeda kepemilikan tersebut.
"Hhaa… haaa.. hhh… ngg.. haaa..hhaaa.." dengan sekuat tenaga ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya memasukkan seluruh oksigen itu kedalam paru-paru miliknya. Belum sempat ia bernafas lega, ia merasakan tangan putih pucat itu mulai menggerayangi dadanya, menggapai-gapai nipple berwarna buah persik miliknya. Perasaan takut yang masih bersarang di tubuhnya kini bereaksi lagi terhadap sentuhan seduktif milik sosok tak dikenal itu.
"Naruto? Kau dimana?" sebuah suara khas sahabatnya membuat pergerakan sosok tak dikenal itu berhenti. Dan ketika Naruto hendak memalingkan wajahnya kebelakang sosok itu sudah tak berada disana. Tubuhnya yang memang masih terasa lemas terjatuh ke bathtub—yang kini berisiair yang telah mendingin.
"Hoi, Naru!" ujarku memanggil sahabatku—Naruto, tapi tak ada juga jawaban darinya.
'Apa dia keluar ya?' pikirku, kugaruk bagian tengkukku yang gatal.
"Ah, ya sudah kalau begitu. Hmm.. jadi mari kita TIDURR YEIYY~'' aku langsung melompat keatas ranjang empukku. Menenggelamkan wajahku di bantal, menghirup aroma khas dari bantal yang kupeluk saat ini.
PLEK
Kubalikkan tubuhku—telentang, menatap langit-langit kamar yang cukup tinggi—yah walaupun atap rumahku didesa tak setinggi ini sih.
'Tapi, kenapa pintunya dibiarkan setengah terbuka ya?' masih mencerna keadaan yang kudapat ketika aku memasuki kamar kami—terasa cukup aneh.
"Haa, rasanya aku ingin mandi sekarang," langsung kubangkitkan tubuhku dari posisi tidurku, kulangkahkan kakiku menuju almari di sebelah ranjangku, kuambil sehelai piyama serta handuk bersih yang akan kugunakan untuk mandi, barulah aku beranjak menuju ke arah kamar mandi.
"ASTAGA! NARUTO!" pekikku kaget, kujatuhkan semua barang yang kubawa ke kamar mandi, segera ku hampiri tubuh sahabatku yang setengahnya masih berada di bathtub namun kepalanya terkulai lemas dipinggir bathtub.
"HOI! NARUTO! BANGUN! HOI!" seruku panic melihat keadaannya saat ini, terlebih tak ada respon yang ia berikan padaku ketika kutampar pipinya cukup keras.
"Dasar, anak ini kenapa sih?! bisa-bisanya pingsan di dalam kamar mandi, ck!" kuangkat tubuh yang tan miliknya—setelah melilitkan sebuah handuk di tubuhnya—kupapah ia menuju kearah ranjang miliknya.
BRUKK
Tubuh tan miliknya berhasil mendarat dengan selamat di atas ranjang empuk ini.
Kutempelkan sebelah tanganku di dahinya—mengecek suhu tubuhnya, untunglah tak begitu panas. Ku selimuti tubuhnya dengan selimut yang telah tersedia di ranjang ini.
'Untung saja aku menemukanmu, kalau tidak….' Batinku lega. Ku tarik selimut berwarna putih itu hingga ke lehernya.
"Hm? Apa ini?" sedikit aneh dengan sebuah tanda merah di leher miliknya. Dua buah tonjolan berwarna merah terdapat disana.
"Apa di gigit nyamuk?" pikirku menebak tanda itu—ukurannya cukup kecil namun jika diraba akan terasa ada dua buah tonjolan disana, dan lagi di sekitar tanda tersebut dihiasi juga warna memar kebiru-biruan samar.
"Ah, besok sajalah ku tanya, sebaiknya sekarang aku mandi~" setelah menyelimuti dan memastikan keadaannya akupun menuju kamar mandi—melanjutkan acara mandiku yang belum sempat kumulai sama sekali.
"La~ la~ la~ laa~" senandungku riang hingga terdengar samar ketika ku tutup pintu kamar mandi.
"Nggg~" sosok pirang yang tengah terbaring diatas ranjang itu melenguh pelan—masih dengan mata terpejam. Raut wajahnya nampak ketakutan, kedua alisnya hampir menyatu, keringat mengalir dipelipisnya, serta air mata yang juga mengalir perlahan dari pelupuk matanya.
SHIUUUSSS~~
Suara angin yang melewati jendela yang kini terbuka dengan lebar.
Menampakkan sesosok mahkluk yang tengah berjongkok di sana sambil menatap kearah sosok pirang yang masih memejamkan matanya diatas ranjang.
GREKKK
GRITTTT~
Suara pergerakan engsel jendela serta suara tekanan kuat disisi jendela yang di timbulkan oleh sosok tersebut.
Ia melompat setelah dirasa puas melihat sosok pirang yang sudah ia tandai untuk yang kedua kalinya. Bersamaan dengan itu angin kencang bersembus semakin keras hingga menjatuhkan sebuah vas bunga yang pada awalnya terposisikan dengan cantik diatas meja, kini berserakan di lantai dalam kegelapan yang hanya dihiasi sinar temaran lampu yang berada diluar sana.
Sebelum pergi sosok tersebut memberikan seringai senang miliknya kepada sosok pirang—yang untungnya masih dalam keadaan mata terpejam.
.
"Tanda ketiga kau akan jadi milikku sepenuhnya, Naruto."
::Tsuzuku::
Holla ketemu lagi dengan ku-chan disini hohoho~
Maaf remake yang kelima ini baru ku update minna~ ku harapkan semoga minna bisa menikmati sajian ini—jangan sampai enek ya~ hehe
Yaps ku mau balas review dulu lah:
Dark : hehe makasi ya udah review dark-san~ ini udah update kok, maaf lama ya~
MoodMaker : hehe makasi ya udah review moodmaker-san~ hmm, maaf mungkin chap ini masih pendek, ide lagi buntu nih hehehe~ sasuke itu vampire kok.. hohoho ^^
Sawada hiigura : salam kenal juga hii-chan~ makasi udah review ya~ ada lhoo tapi karena ku-nya suka yang Sasunaru, ya pair itu mendominasi lah~ hehehe yaps benar sekali sasuke itu vampire kok~
hanazawa kay : hoho` makasi ya udah review kira-san~ tapi ga semua kok Uchiha jadi vampire hanya gol tertentu aja hehe~ owh ntu si sasu mah vampire baru gede makanya labil gitu xexexe *dirajam Sasuke
nasusay : makasi ya udah review nasusay-san~ ini udah update tapi maaf nih lama hehe~ yaps suke itu vampire kok~
Guest: maksih ya udah review guest-san~ ini udah dilanjutin kok hehehe~
knightry rosewel : makasih ya udah review rosewel-san~ Cuma jadi vampire kok hohoh~ ini udah update tapi maaf nih lama ya..
onyx shappireSEA: Gyyaaa~ jangan jambak rambut onyx-san~ hehee ini udah update kok tapi maaf lama ya, makasi juga udah review lho hehe, maaf juga kurang panjang xexexe
.Micha007 : hehee jawaban commentnya~
1. makasi udah dibilang bagus hehe~
2. ini udah update tapi maaf lama ya misa-kun~ n thanks for reviewnya hohoho
sheren : hehee ya ga apa apa sheren-san~ makasi juga udah review ya~ silakan dinikmati~ hohoho.
devilojoshi: yaps hehhee~ wah itu rahasia loshi-san~ nanti di jabarin kok di chap selanjut, selanjut, selanjutnya~ hehe makasi ya… ini udah lanjut kok hehehe silakan dinikmati ya~^^
Thanks berat buat yang mem-foll dan/atau mem-fav fic ini yang tak bisa ku sebutkan satu-satu~ terimakasih ya minnasama~
akhir kata
Jaa, nee…
