"Just, How to Save a Life"
Hetalia © Hidekazu Himaruya
HetaOni © Tomoyoshi
Warning : Typo(s), Fail!Romance, bloody scene tapi gak begitu berdarah-darah dll
"Berbicara biasa."
"Bahasa asing/Berbisik." (tergantung konteks kata)
'Berbicara dalam hati.'
Listening to : Safe and Sound by Taylor Swift
.
.
.
.
.
.
.
Chapter One : That Mansion...
~~.~~
Sebuah mansion tua yang berada di gunung
Hanya tiga jam perjalanan,
Jika kau berjalan kaki dari gedung World Meeting
.
Tidak ada yang tahu sudah berapa lama mansion itu ada disana
Ataupun siapa yang pernah tinggal disana.
Rumornya mansion itu...
...berhantu.
.
Lima personifikasi – Italy, Germany, Japan, Prussia dan Indonesia – berjalan menuju mansion itu.
"Vee~ ternyata benar-benar disini." Kata Italy.
"Kukira ini hanya rumor belaka saja." Kata Japan. "Aku tidak menyangka kalau rumor itu ternyata benar."
"Tempatnya juga tidak begitu buruk." Kata Prussia.
"Lumayan untuk sebuah ekspedisi." Kata Nesia. "Mungkin lain kali akan kuajak anggota ASEAN yang lain untuk berkeliling mansion ini."
"Kupikir tidak ada yang menarik disini." Germany akhirnya berkomentar.
"Bagaimana kalau kita mengeceknya saja dari luar lalu kembali?" usul Japan.
"Veee~ kita kan sudah bersusah payah untuk menemukannya, bagaimana kalau kita masuk terlebih dahulu?"
"Kalau begitu, kita melihat ke dalam sebentar dan setelah itu kita langsung kembali." Kata Nesia menyetujui usul Italy.
"Akan kubuka pintunya." Japan berjalan menuju pintu besar itu, tangannya bergerak menuju kenop pintu tapi sebelum ia memutarnya, sang personifikasi negara matahari terbit ini melirik ke arah Italy yang kini menundukkan wajahnya dengan raut muka yang menyatakan kemarahan dan kebencian akan sesuatu. 'Itaria-kun...'
KREEEK – dan pintu mansion itu pun terbuka.
"Mansion ini lebih bersih dari yang kuperkirakan." Kata Italy.
"Mungkin, ada orang yang pernah tinggal disini." Kata Nesia.
"H-Hey, bisakah kita kembali sekarang?"
"Kenapa West? Takut? Kan sudah ada pawang hantunya disini." Kata Prussia sambil menunjuk ke Nesia, sang pawang hantu.
PRANG! – sebuah suara benda yang pecah yang cukup untuk membuat semua orang terkejut.
"K-Kita benar-benar harus pergi dari sini sekarang." Kata Germany mencoba untuk membujuk teman serta kakaknya itu.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, itu hanya suara benda yang pecah." Kata Japan. "Aku akan mengeceknya."
"Japan, aku ikut!" kata Nesia menyusul personifikasi yang pernah menjadi motherlandnya walaupun hanya sebentar.
"Kalian berdua hati-hati!" kata Prussia mengingatkan. "Dan Nesia, jangan cari alasan buat modus ke Japan ya~"
Dan Nesia akan melempar kedua pisaunya jika tidak ditahan oleh Japan.
~~.~~
"Keluar dari sini akan kupastikan kalau si tukang narsis itu menerima siksaan dariku!" kata Nesia.
Japan tertawa pelan. "Nesia-chan, apa kau merasakan sesuatu yang mistis di mansion ini?" mencoba untuk mengalihkan topik pembicaraan adalah tindakan yang tepat jika tidak sang personifikasi di sebelahnya ini akan mulai membicarakan kutukan yang harus diberikan ke si tukang narsis itu.
Nesia menjepit dagunya dengan tangan kanannya. "Sejujurnya, aku tidak merasakan hal-hal seperti itu disini hanya saja..." langkah kaki Nesia terhenti.
"Doushite, Nesia-chan?"
"..." Nesia diam sebentar. Matanya yang berwarna hitam itu menatap ke bawah. "Sepertinya hanya perasaanku saja, jangan dipikirkan." Katanya sambil mengibaskan tangannya.
"..." Japan menatap personifikasi yang ada di hadapannya. "...Sou desuka."
Mereka berdua kembali berjalan hingga sampai di ujung lorong dan sebuah dapur.
"Dapurnya besar juga." Kata Nesia takjub.
"Nesia-chan, lihat ini." Panggil Japan sambil menunjuk ke sebuah...
"Piring pecah?" ucap Nesia begitu melihatnya. "Kelihatannya ini yang membuat kegaduhan tadi."
Japan mengambil sebuah pecahan piring itu dengan tangan kirinya sementara tangan yang satunya lagi masuk ke sakunya berusaha mencari sesuatu. 'Kelihatannya aku meninggalkan sapu tanganku di World Meeting.'
"Kalau kau perlu sapu tangan," Nesia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dengan gambar bunga melati miliknya, "pakai saja punyaku."
"H-Hai. Arigato gozamaisu, Nesia-chan." Kata Japan. "Lebih baik kita kembali atau Doitsu-san akan kerepotan menjaga kakaknya dan Itaria-kun."
Nesia tertawa pelan. "Kalau begitu ayo, bisa habis kesabaran Germany mengingat kelakuan dua orang itu." Nesia menggandeng tangan Japan sementara yang digandeng hanya bisa merona pipinya.
~~.~~
"!?"
Betapa terkejutnya mereka, ketika sampai di tempat mereka berawal. Tiga orang itu lenyap, tak berbekas.
"K-Kemana mereka semua?" tanya Nesia panik.
"Mungkin mereka keluar duluan dan meninggalkan kita berdua disini." Kata Japan sambil berjalan ke arah pintu.
"Cih! Si tukang narsis itu pasti yan—!"
BRAK! – kata-kata Nesia terpotong ketika ia mendengar suara dobrakan pintu.
"Japan?" Nesia berjalan menuju pintu. "Ada apa?"
"Pintunya—" Japan memutar kenop pintu itu sekali lagi, "—terkunci."
"!?" Nesia tersentak ketika mendengar pernyataan itu. "T-Tunggu dulu sebentar, terkunci? Tapi bukankah tidak ada satupun dari kita yang memiliki kunci sebelumnya dan pintu ini awalnya tidak terkunci kan?!"
Japan mencoba untuk tetap tenang. "Kalau pintu ini terkunci dan tidak ada seorang pun dari kita yang memiliki kunci itu berarti—" Japan melihat ke sekeliling, "—Itaria-kun, Doitsu-san dan Prusshia-san masih ada di dalam sini."
"Jadi, kita harus mencari mereka dulu?" tanya Nesia.
"Mau bagaimana lagi. Mereka daritadi ada disini jadi mereka bisa menjelaskan apa yang terjadi." Kata Japan.
Dua personifikasi ini mulai mencari teman mereka, mencoba membuka setiap pintu yang ada di lantai satu itu tapi,
'Aneh, semua pintu di lantai ini terkunci.' Pikir Japan.
"Japan, apa kau bisa membuka salah satu pintu yang ada disini?" tanya Nesia.
Japan menggeleng. "Di ujung lorong sana ada belokan, mungkin mereka ada disana."
Nesia mengangguk dan berjalan duluan. Namun ketika sang personifikasi itu mengintip ke balik tembok, dia dengan cepat menarik kepalanya lagi dengan nafas yang tidak teratur dan matanya yang terbelalak seolah baru saja melihat sesuatu yang mengerikan. Melihat itu, Japan langsung berlari dengan sekuat tenaga menuju Nesia.
"Nesia-chan!" pekik Japan lalu dia berlutut hingga sejajar dengan personifikasi yang ada di hadapannya yang sekarang sedang terduduk. "Ada apa?! Nesia-chan?!". Nesia tidak menjawab, ia menaruh kedua tangannya di kepalanya dan seketika itu pula sebuah gambaran muncul di pikirannya.
Darah.
Darah.
Dan dua sosok mahluk hidup, yang satu adalah monster berwarna abu-abu dan yang satunya lagi...
Tergeletak. Tak bernyawa.
Sosok yang masih hidup itu sudah jelas telah membunuh sosok yang satunya lagi. Sosok yang terbujur kaku itu memakai seragam tentara putih tapi darah kini mendominasi warna seragamnya. Rambutnya berwarna hitam dan pendek juga ada sebuah katana disampingnya. Nesia segera mengetahui siapa sosok itu,
Japan.
Pikiran Nesia kembali ke dunia nyata, seketika itu pula tubuhnya berkeringat dingin. Tindakan Nesia membuat Japan semakin bingung, memangnya apa yang dibalik tembok ini sehingga personifikasi yang sudah terbiasa dengan hal-hal mistis ini ketakutan setengah mati? Japan hendak akan berdiri dan melihat ke balik tembok tapi,
GREP! – Nesia memegang tangannya, menahannya dengan erat agar ia tidak pergi ke balik tembok itu.
"K-Kumohon, j-jangan pergi kesana." Pinta Nesia dengan suara yang gemetar.
"N-Nesia-chan, sebenarnya ada apa?" tanya Japan kembali berlutut di depan Nesia.
"A-Aku melihatnya." Kata Nesia. "A-Aku melihat kau—" Nafas Nesia semakin tidak teratur, dia mencoba untuk tenang tapi tidak bisa. Kejadian yang muncul di pikirannya itu seolah nyata, "—mati. Kau akan mati jika pergi ke balik tembok itu, Japan! Jadi kumohon, ja—!"
CUP – sebuah kecupan hangat mendarat di dahi Nesia yang membuatnya merona.
"Sudah tenang?" tanya Japan dan Nesia mengangguk. "Nesia-chan , apa kau lupa? Kita adalah nation, kita akan mati jika negara kita sudah menghilang dari bumi ini tapi jangan khawatir—" Japan memeluk Nesia dengan erat, lalu ia berbisik di telinganya, "aku akan melindungimu." Personifikasi matahari terbit itu melepaskan dan menempelkan dahinya ke Nesia. "Aku janji."
Entah apa yang terjadi, Nesia kembali tenang. Nafasnya mulai teratur. Japan mengulurkan tangannya, membantu sang personifikasi yang ia kasihi itu untuk berdiri.
~~.~~
Japan mencoba untuk mengintip dari balik tembok itu, ia melihat monster abu-abu itu. Dengan tangan kanannya, dia segera menarik katananya dan melompat keluar dari tempat persembunyiannya tapi yang ia lihat sekarang membuat matanya terbelalak.
"K-Kemana monster itu?" tanya Japan. Dia memasukkan kembali katananya. "Nesia-chan, disini sudah aman, tidak ada apa-apa."
Nesia keluar dari balik tembok itu. "Lalu, bagaimana dengan dua pintu yang ada di depan itu?"
Japan mengecek salah satunya. "Yang ini kamar mandi." Lalu ia berjalan ke arah pintu yang satunya lagi. "Yang ini terkunci."
"Ini adalah pintu terakhir di lantai satu, bagaimana kalau kita ke lantai dua?" tanya Nesia.
"Hai. Mungkin mereka ada di lantai dua karena—" dengan cepat Japan menghentikan ucapannya, ia tidak ingin mengingatkan Nesia soal monster tadi itu, "—mereka ingin bermain petak umpet, bisa saja." Lalu ia tertawa.
"Huh?"
Mereka berdua kemudian menaiki tangga kayu itu menuju ke lantai dua. "Aman." Kata Japan.
"Jadi ruangan mana yang akan kita lihat dulu, Japan?" tanya Nesia.
"Bagaimana kalau yang ini dulu?" kata Japan sambil membuka salah satu pintu yang ternyata adalah sebuah kamar tidur. "Luas juga."
"Aku yakin, ada yang pernah tinggal disini." Kata Nesia. "!?"
"Ada apa, Nesia-chan?"
Nesia berjalan menuju ke sebuah tempat tidur dan menyentuh sebuah benda. "I-Inikan—" Nesia mengangkat benda itu, Japan langsung terbelalak begitu melihatnya, "—cambuknya Germany."
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Beres! /Lari-lariGaje. Akhirnya yang terpilih adalah Fem!Indonesia, terima kasih buat yang ngevote! Sekarang jawab review dulu,
Codename Sailor D : saya coba deh JapNesnya tapi gak tau bisa apa enggak. Saya lemah sama masalah romance T_T
Tornado Muter2 : Kalau yang HetaSchool! Semester 1! Updatenya kalo gak akhir bulan ini, mungkin awal Juli yah tapi ditunggu aja yak!
Star-BeningluvIndonesia : Tergantung situasi sih dia bisa pakai sihir apa enggak. Tapi entar liat aja deh, oke?
Nats Kazucchi : Gak apa-apa kok, saya juga baru nyadar XD. Main HetaOni sih belum tapi kalau cuman ngeliat orang maen di Youtube sih sering. Boleh juga tuh, bisa tolong kirim link-nya lewat PM, temen saya juga nyari soalnya.
And That's all. Kalo gak salah, di game itu kalau misalnya kita salah milih suatu pilihan, si Steve bakalan ngebunuh kita (maksudnya bukan kita yang main gamenya tapi karakter yang lagi kita jalanin) nah, saya mencoba buat si Nesia bisa ngeliat saat-saat kalau misalnya pilihan yang dipilih salah.
Akhir kata, silakan mereview :D.
Next Chapter : That Hand In the Library.
