"Just, How to Save a Life."

Hetalia © Hidekazu Himaruya

HetaOni © Tomoyoshi

Warning : Fem!Indonesia, OOC (maybe), typo(s), Fail!Romance, Bloody scene tapi gak begitu berdarah-darah dll.

Pairing : Sesuai mood Author. Biasanya cuman di satu scene gak satu chapter.

"Berbicara biasa."

"Bahasa asing/Berbisik." (tergantung konteks kata)

'Berbicara dalam hati.'

Listening to : Chikai by Eiko Shimamiya.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter Two : That Hand In the Library...

.

"Ca-Cambuk Doitsu-san?" mata Japan terbelalak seolah tak percaya. "Ka-Kau yakin, Nesia-chan?"

"Ya. Kau bisa mengeceknya kalau kau mau, Japan." Kata Nesia sambil menyerahkan cambuk itu.

Japan mengambil cambuk itu, memperhatikannya dengan teliti. Tidak salah lagi. Ini benar-benar cambuk milik sang ketua dari grup Axis itu. "Lalu, kenapa senjatanya bisa ada disini?"

"Mungkin dia pernah kesini sebentar lalu menaruh cambuknya itu di atas tempat tidur dan lupa untuk mengambilnya lagi." Tebak Nesia.

"Orang seperti Doitsu-san lupa untuk mengambil barangnya kembali? Itu aneh." Kata Japan, ia sudah hafal dengan sifat temannya itu. "Dimana dia sekarang?"

"Yang pastinya tidak ada di ruangan ini. Walaupun luas tapi tidak ada satu pun tempat yang bisa dipakai untuk bersembunyi." Kata Nesia. "Bagaimana kalau kita keluar dan mengecek ruangan yang lain?"

Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruangan yang berada di sebelah mereka hanya saja posisinya berada di pojok kanan lorong. Dua personifikasi itu sekarang menatap pintu itu. Japan menelan ludah. "Bagaimana, Nesia-chan?"

Yang dipanggil menundukkan kepala, memejamkan matanya sebelum akhirnya kembali menatap sang lawan bicara. "Firasatku mengatakan kalau ada seseorang di dalamnya."

"Mungkin itu, yang kau maksud itu adalah Doitsu-san, Nesia-cha—"

"Atau monster abu-abu itu. Lagipula itu hanya firasat, belum tentu itu benar." Potong Nesia.

"...ya, mungkin saja." Japan memegang kenop pintu tapi, "Ano, Nesia-chan tolong jangan mencengkram pundakku seperti itu, 'jarinya menusuk'."

"Ah ya." Kata Nesia sambil mengendurkan cengkramannya.

Japan menatap kenop pintu itu sebelum akhirnya memutarnya. Terus, ada bunyinya,

KRIEEETT!

Germany kejepit.(?)

[AN : Becanda, becanda! Lupakan saja hal tadi! Anggap saja kejadian kejepit itu gak ada!]

~~.~~

Japan menatap kenop pintu itu sebelum akhirnya memutarnya. Di dalamnya sama seperti ruangan sebelumnya. Ruang tidur. "Tidak ada apa-apa disini, Nesia-cha—" kata Japan. "Nesia-chan, kenapa kau gemetaran seperti itu?"

Nesia menunjuk ke sebuah tirai yang berada di pojok. "Be-Bergerak. Tirai itu tadi bergerak sendiri."

"Mungkin itu karena angin yang berhembus?"

"Japan, disini tidak ada jendela mana mungkin ada angin yang berhembus." Bantah Nesia.

"...tunggu disini." Japan berjalan perlahan menuju tirai itu, tangan kanannya telah ada di pegangan katananya sementara tangan kirinya kini telah berada di ujung tirai itu, bersiap untuk menariknya.

SRET! – dan tirai itu benar-benar ditarik hingga terlepas. Ada seseorang di sana dan tentu membuat mata hitam Japan membulat. "Doitsu-san!"

"Ge-Germany?" Nesia berjalan cepat menuju dua personifikasi itu. "Disitu kau rupanya!"

Germany diam. Dia hanya gemetaran sembari menggertakan giginya.

"He-Hey, Germany? Kau tidak apa-apa?" tanya Nesia.

Japan berpikir sebentar. "Nesia-chan. Kau tunggu disini sebentar bersama Doitsu-san, aku akan mencari air mungkin itu bisa membuatnya kembali tenang."

"Tunggu dulu. Sendiri?! Apa tidak berbahaya?!" kata Nesia. "Bagaimana kalau kau bertemu dengan mahluk abu-abu itu?!"

Japan menatap personifikasi yang sekarang tengah menatapnya dengan raut muka yang panik dan khawatir. Ia pun menghela nafasnya. "Daijōbu, Nesia-chan." Japan lalu mengambil sebuah gelas kosong yang berada di atas sebuah rak. "Aku tidak akan lama kok lagipula aku sudah tahu dimana letak keran air."

Nesia menatap sang personifikasi negara matahari tebit itu dengan tatapan yang kurang yakin akan jawaban yang barusan diterimanya. Ia melihat ke arah Germany lalu kembali ke Japan. "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa, berteriaklah maka aku akan kesana."

"Justru aku yang harusnya mengatakan hal seperti itu kepadamu, Nesia-chan." Kata Japan.

"Apa katamu?"

"Lupakan saja. Aku pergi dulu." Japan pun menghilang dari balik pintu.

~~.~~

Japan turun ke lantai satu sembari memikirkan apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini. 'Coba aku ingat-ingat pertama, kita semua kesini hanya untuk melihat-lihat mansion ini lalu ada suara benda pecah, aku dan Nesia-chan mengeceknya. Ketika kami kembali, yang lain tidak ada di tempat lalu secara misterius pintu mansion ini terkunci ketika kami sedang mencari mereka, Nesia-chan melihat sesosok monster berwarna abu-abu setelah itu kami berdua naik ke lantai dua dan menemukan cambuk serta Doitsu-san. Apa ini sebenarnya? Apa mansion ini sebenarnya adalah sebuah tempat simulasi yang sudah disiapkan oleh bos kita semua?' Langkah Japan berhenti lalu dia menjitak kepalanya sendiri. "Haha. Tidak mungkin. Seandainya iya, tidak perlu kan memakai monster abu-abu itu."

Japan pun akhirnya sampai di dapur besar, tempat dimana ia menemukan sumber suara benda pecah tadi. Ia pun berjalan menuju ke tempat wastafel tapi ketika ia membuka kerannya. "Airnya tidak keluar. Mungkin aku harus mencoba ke wastafel yang ada di kamar mandi."

Japan kembali berjalan menuju ke kamar mandi tapi kali ini, ia merasakan aura yang begitu mencekam. Sesekali ia melihat ke belakang, merasa seperti ada yang mengikuti tapi tidak ada siapa-siapa di belakangnya. 'Aku terkejut melihat Nesia-chan yang sudah biasa merasakan hal-hal mistis atau Doitsu-san yang biasanya tidak begitu takut dengan hal seperti itu, ketakutan setengah mati setelah melihat monster abu-abu itu. Kuakui, monster itu memang sedikit menyeramkan tapi kalau sampai dua orang itu ketakutan setelah melihatnya berarti monster itu tidak bisa dianggap remeh.'

CKREK – Japan membuka pintu kamar mandi dan segera menuju ke wastafel yang ada disitu, membuka kerannya sambil mengetuk-ngetuk kerannya agar airnya keluar dan, "Syukurlah, masih ada airnya kukira mansion tua ini tidak akan ada air bersi—" Japan memperhatikan air yang kini ada di gelas itu dengan seksama. "Apa ini benar-benar bersih?"

~~.~~

TOK TOK – suara ketukan pintu itu menyadarkan Nesia yang dari tadi mencoba untuk berbicara dengan Germany. 'Siapa itu?' Nesia mempersiapkan pisaunya dan membuka sedikit pintunya ketika ia melihat baju militer putih, ia menghela nafas lega. Segera ia membuka pintu hingga hampir sepenuhnya. "Kau mengagetkanku, Japan." Kata Nesia.

"Gomennasai. Aku sudah mendapatkan airnya." Kata Japan sambil menunjukkan gelas yang sudah berisi air.

"..." Nesia menatap air itu. "Aku tidak yakin kalau air itu aman untuk diminum. Kau sudah mencobanya?"

"Belum. Karena itu aku memberikannya ke Doitsu-san." Kata Japan.

Salah satu alis Nesia terangkat. "Kau menggunakan temanmu sendiri sebagai kelinci percobaan?"

Japan berjongkok di depan Germany. "Doitsu-san. Aku membawakanmu air. Minumlah, mungkin ini bisa membuatmu tenang kembali."

'Dia benar-benar serius memberikannya!' pikir Nesia.

Germany mengambil gelas itu dan langsung meminum airnya. "Japan, apa ini benar-benar air?"

"Kalau dilihat dari warnanya, yah itu memang air." Kata Japan sementara Nesia hanya ber-sweetdrop ria.

"Hey Germany, kenapa kau bisa ada di ruangan ini? Bukannya tadi kau ada di lantai satu bersama yang lain?" tanya Nesia langsung to the point.

"Ah ya. Maaf soal keadaanku tadi, kami memang berada di lantai satu untuk menunggu kalian berdua tadi. Tapi—" Germany menelan ludah. "—ada monster abu-abu yang menyerang kami."

"!?"

"Setelah itu, kami terpencah tak tentu arah dan aku pun berakhir disini." Kata Germany mengakhiri ceritanya.

Nesia menggigit jempolnya. 'Tak kusangka mereka bertiga juga bertemu dengan monster abu-abu itu.'

Japan melihat tingkah laku Nesia yang tidak biasa itu. "Bagaimana kalau kita mencari Itaria-kun dan Prusshia-san sekarang?" tanya Kiku.

"Maaf tapi kelihatannya aku tidak bisa." Kata Germany. "Aku masih perlu waktu untuk menenangkan diriku dulu."

"Kalau begitu, kami saja yang mencari. Kau, istirahatlah disini Germany." Kata Nesia.

"Danke. Oh, tunggu dulu sebentar aku menemukan kunci ini sewaktu berlari. Mungkin ini akan berguna untuk kalian." Kata Germany sambil memberikan kunci itu ke Japan. "Kalian berdua berhati-hatilah." Germany masuk ke dalam sebuah pintu besi yang berada dibalik tirai tadi.

"..." Japan memperhatikan kunci itu dengan teliti. "1F. Library."

"1F ya? Berarti kunci itu untuk salah satu ruangan di lantai satu." Kata Nesia sambil keluar dari ruangan itu diikuti oleh Japan.

~~.~~

"Kuncinya cocok dengan pintu yang ini." Kata Japan, ia bersiap untuk memutar kuncinya. Dia melirik ke arah wanita yang ada di sebelahnya yang menatap pintu dihadapannya dengan mata kosong. "Nesia-chan, kau tidak apa-apa?"

"Ah iya. Aku tadi melamun, tee-hee~" kata Nesia sambil menjitak pelan kepalanya sendiri.

Japan hanya menghela nafasnya melihat tingkah laku Nesia yang terkadang masih kekanak-kanakan. Dan pintu pun dibuka, Japan masuk duluan sementara Nesia dibelakang untuk menutup pintu tapi ketika wanita itu menutup pintunya, laki-laki berkebangsaan Jepang itu merasakan sesuatu dibelakangnya, segera ia menoleh tapi tak ada siapa pun. 'A-Apa itu tadi?'

"Japan, ada apa?" tanya Nesia. "Kau terlihat panik."

"Ah, tidak. Tidak apa-apa." jawab Japan.

Bohong.

Terlihat jelas di wajahnya dan Nesia bisa membacanya.

"ITALY! PRUSSIA!" Nesia meneriakkan dua nama itu. Tapi nihil, tidak ada yang menjawab. "Mereka tidak ada disini." Suara kertas yang dibolak-balik dapat terdengar di telinganya. "Japan, kau sedang apa?"

"Aku sedang mencari informasi mengenai mansion ini. Mungkin saja ada informasi mengenai–" Japan membaca salah satu kertas yang ada di meja. "—monster abu-abu itu."

Nesia berjalan mendekati pemuda Jepang itu. "Japan, ini hanya perkiraanku saja. Aku yakin monster itu seperti—" ia melihat ke sekeliling. "—arwah yang tidak tenang, mungkin?"

"Nesia-chan, aku tidak yakin kalau monster itu adalah arwah yang tidak tenang." Kata Japan. "Kecuali hantu-hantu yang ada di tempatmu baru aku percaya."

"Pffft. Aku masih ingat waktu kau dan yang lain datang ke Lawang Sewu." Nesia tertawa. "Muka kalian pucat sekali. Hahahahaha."

Japan hanya memerah mukanya, mengingat kejadian memalukan itu.

SREK SREK – pelan, tapi terdengar jelas di telinga kedua orang itu. Suara gesekan yang semakin mendekati mereka berdua. Nesia menghentikkan tawanya, berusaha untuk mencari sumber suaranya.

Tidak dari kanan.

Tidak dari kiri.

Tidak juga dari balik tiang-tiang penyangga.

Lalu darimana?

Satu tarikan nafas. Dua tarikan nafas. Tiga, empat, lima dan terus berlanjut. Suasana semakin mencekam. Suara detak jantung mereka sendiri dapat terdengar. Kepala Japan menoleh perlahan ke arah Nesia. Ia melihatnya.

Sebuah tangan.

Berwarna abu-abu dengan cakarnya yang tajam.

Siap untuk mencengkram kepala wanita itu.

"NESIA-CHAN! DI BELAKANGMU!"

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued...

.

.

.

.

.

#Nyanyi dulu bentar

Ramadhan tiba, Ramadhan tiba, Ramadhan tiba.

Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan, Marhaban Ya Ramadhan.

Saya tau ini telat tapi saya mau ngucapin : Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Bagi Yang Menjalankan!

Akhirnya bisa update setelah serangkaian halangan yang menyerang. Mulai dari MOPDB SMA yang jadi lebih mirip kayak pelatihan militer, Sanlat yang untungnya udah selesai, Writer-Block sampe jatuh-bangun gara-gara sakit flu.

Jawab review dulu yok!

Star-BeningluvIndonesia : Iya, disitu ada download linknya. Tapi, kenapa?! Gak bisa didownload! Webnya gak mau kebuka! /Bersimpuh di tengah hujan.

Saya in FFland : Awalnya pas saya buka vote, saya kira bakal pada milih Male!Indonesia ternyata banyak yang milih Fem!Indonesia. Senjata Indonesia itu pisau kombat gitu sama paling dia nyerangnya pake jurus-jurus silat. Kalo soal plotnya mungkin ada yang berubah ada yang enggak. Tergantung juga sih, hehhehehe.

Garuda of Future : Pairing di fic ini yah sesuai sama mood author. Kalo moodnya lagi pengen bikin JapNes ya nanti ada di salah satu scene, kadang bisa berubah jadi GerIta atau tiba-tiba berubah lagi jadi PrusNes. Pokoknya random lah, gak bisa ditentuin. Biasa, buta yang namanya romance.

Everly De Mavis : Ini udah diupdate, selamat menikmati~

Oh ya, buat yang nunggu fanfic HetaSchool! Semester 1! Itu saya hiatus sampe ulang tahunnya Nesia. Kalo yang Aku dan Abangku ditunggu ya sama yang 地球Quest juga, oke?

Akhir kata, boleh saya kritik dan saran untuk chapter ini?

Next Chapter : That Dark Room With the Monster Inside...