MY STRONGNEST

.

.

.

CAST :

PARK JUNGSOO

LEE DONGHAE

AND

OTHER CAST

.

.

.

Semua tokoh milik kepunyaan diri mereka masing-masing

Saya cuman minjem doang

Tapi ini cerita punya saya hasil dari pikiran yang seberapa ini..

.

.

.

Saya balik lagi dengan cerita yang gak kalah menariknya *emg ada yang menarik.

No bash !

Jangan baca kalau gak suka
Walau ceritanya jelek minta sarannya ya reader tapi yang membangun.

Disini anggep aja Leeteuk & Heechul seumuran

Kibum & Kyuhyun seumuran dibawah Leeteuk

Donghae yang paling muda

Ati-ati banyak typo(s) bertebaran

And then …

Happy Reading ^^

.

.

.

Flashback ~Leeteuk~

"hyung, Hae lapar", ucap Donghae yang menghentikkan langkahnya.

Bukan kah Leeteuk juga tahu kalau sedari tadi dia dan Donghae belum mengisi perutnya walau dengan segelas air. Karena dia juga tak punya uang untuk hany membeli sekedar air minum untuk sang dongsaeng.

"Hae tunggu disini eoh. Jangan kemana-mana. Tunggu sampai hyung datang. Arra?", peringat Leeteuk pada Donghae dan menyuruh Donghae untuk duduk dibangku dekat semak-semak tersebut.

"hyung, Hae takut", rengek Donghae.

"ssstt hyung akan kembali. Bukankah Hae lapar eoh?", ucap Leeteuk dan akhirnyapun Donghae melepas sang hyung untuk mencari makanan.

Leeteuk pun mencari makanan dikeramayan orang yang berlalu lalang. Dengan langkah yang ragu-ragu dia melihat-lihat kearah para penjual yang ada disitu.

"YA! Jangan menghalangi para pembeli. Pergi sana pencuri", penjual itupun menyuruh Leeteuk untuk pergi dan mendorong tubuh kecil itu kasar.

Leeteuk yang takut pun segera bergegas pergi meninggalkan tempat itu. mencari lagi makanan yang akan dimakan untuk Donghae nya. Tak apa jika hanya makanan sisa orang-orang itu, yang penting Donghae bisa makan malam ini.

Leeteuk menatap sendu terhadap orang yang memakan makanan tersebut. Teringat akan Donghae yang belum mengisi perutnya. "tunggu Teuki hyung ne Hae", gumam Leeteuk lirih.

Sebenarnya dia tak tega meninggalkan Donghae sendirian disana. Tapi kalau seandainya Donghae ikut dengannya, bukankah Donghae akan kelelahan. Leeteuk tak mau sampai Donghae kelelahan dan akan sakit.

"ada apa nak? Kenapa kau melihat kesini mulu?", tanya pedagang tersebut.

"ahjussi, bolehkah aku membantumu dan sebagai imbalannya bolehkah aku meminta 1 porsi makanan itu", tanya Leeteuk ragu. Ragu apakah akan diterima ataukah dia akan mendapatkan penghinaan lagi.

"oh ne baiklah. Cepat bantu aku", ajak Ahjussi pedagang tadi. Leeteuk yang senang pun melayani dengan giat. Membayangkan wajah sang dongsaeng yang akan senang jika dia membawa makanan.

Tanpa terasa Leeteuk telah mengerjakan pekerjaannya dan mendapatkan upah 2 porsi makanan. Cukup lebih banyak untuk dia dan dongsaeng nya malam ini. Dan dia juga merasa terlalu lama meninggalkan Donghae sendirian. Leeteuk pun bergegas menuju ketempat dia meninggalkan Donghae dengan membawa makanan yang sudah dia dapatkan.

Dengan langkah gembira Leeteuk membawa kantong yang berisi makanan. Dia membayangkan wajah polos sang dongsaeng yang akan tersenyum melihat dia membawa makanan. Dengan sedikit berlari dia menuju tempat Donghae.

Namun saat dia sampai, tak ditemuinya Donghae yang dia suruh duduk didekat semak tersebut. Dengan perasaan yang sangat khawatir dia mencari dongsaengnya.

Takut dan takut. Itulah perasaan Leeteuk ketika tak menemukan Donghae disekitar situ. Apakah Donghae menunggu terlalu lama? Dan Donghae mencoba menyusulnya.

"Hae! Donghae ya!", teriak Leeteuk memanggil Donghae. Namun sang dongsaeng ternyata tak menyahut sama sekali.

"Hae dimana eoh!", teriak Leeteuk yang tengah menangis.

.

.

.

Tanpa terasa air mata meluncur begitu saja dari mata Leeteuk. Selalu saja saat mengingat masa-masa itu dia akan menangis. Sama hal nya seperti sekarang ini bukan. Leeteuk yang tegar berubah menjadi lemah saat mengenang sang dongsaeng

Bukan takdir ini yang dia inginkan. Kenapa waktu itu tak dia biarkan saja keluarga Cho dan Kim mengurus mereka. Sama saja bukan. Walaupun mereka berpisah tapi tahu akan keberadaan masing-masing. Tidak dengan sekarang.

Keegoisannya lah yang tak ingin berpisah dari sang dongsaeng membuat dia tak lagi bertemu dengan nya.

Tok

Tok

Tok

Suara ketukan pintu membuat Leeteuk tersadar dan buru-buru menghapus air matanya. Dia tak mau terlihat lemah didepan orang lain.

"apa yang kau temukan?", tanya Leeteuk to the point.

"ini data-data yang sajangnim minta", orang tadi pun memberikan berkas-berkas pada Leeteuk.

"baiklah, kau boleh keluar. Terima kasih untuk kerja kerasmu", ucap Leeteuk dan orang tadi pun segera keluar.

Dengan hati-hati, Leeteuk membuka amplop yang baru saja dia terima. Perasaan was waspun timbul begitu saja di hatinya. Dan tanpa membuang waktu Leeteuk segera membaca apa isi nya.

Perasaan senang, rindu dan juga sedih bercampur menjadi satu dalam benaknya. Ternyata benar, namja itu adalah Donghaenya. Bukan hanya sebatas nama saja yang sama. Namun dia benar-benar Donghae, dongsaengnya yang sudah lama dia cari. Senangnya bukan Leeteuk akhirnya. Namun senyum yang terkembang itupun sedikit memudar saat dia tahu, sang dongsaeng. Buta!

"sesibuk itu kah sampai kau tak mendengar", ujar Heechul yang tiba-tiba masuk. Membuat Leeteuk berhenti menatap kertas-kertas itu.

"aku sudah mengetuk pintu sajangnim", ujar Heechul lagi yang tahu apa yang ingin Leeteuk katakan.

"aish kau ini", kesal Leeteuk.

"aah dasar orang sibuk", ejek Heechul yang sudah merebahkan dirinya di sofa. Tak sopan eoh? Ya begitulah Heechul. Dan bukankah ini perusahaan keluarga Kim? Tentu ini milik appanya.

"aku tak akan sibuk jika putra sulung keluarga Kim menerima jabatan ini. Bukannya lebih memilih menjadi seorang desaigner", sindir Leeteuk pada Heechul. Dan Heechul yang mendengar adanya nada sindiran mendelik sebal pada Leeteuk.

"aku tak mau berdebat denganmu sajangnim", ucap Heechul acuh.

"tumben kau kemari. Ada apa denganmu?", tanya Leeteuk heran.

"entahlah? Hanya merindukanmu saja", jawab Heechul.

Dan keduanya pun mengobrol dengan santai tanpa memikirkan beban pikiran masing-masing. Leeteuk yang sudah menemukan Donghaenya. Dan Heechul yang merasa telah menemukan Donghae.

.

.

.

"ne baiklah. Awasi lagi mereka", ucap Sungmin dan memutuskan sambungan teleponnya.

"hyung, kau kah itu?", tanya Donghae yang kebetulan mendengar suara Sungmin.

"ne saengi. Hyung merindukanmu", ucap Sungmin. Dan tak lupa untuk memberikan pelukan dan sedikit usapan lembut dirambut Donghae

"padahal hyung baru menemuiku kemarin", kesal Donghae terhadap tingkah posesif Sungmin.

Sungmin memang posesif terhadap Donghae. Sangat menyayanginya bahkan mau menjaganya. Sama halnya dengan sang hyung yang dia tak tahu dimana sekarang. Dia sangat tahu pasti hyungnya masih mencarinya saat ini. Karena dia tahu Leeteuk adalah hyung yang akan selalu menjaganya dalam keadaan apapun.

'kau sekarang pasti tampan ne hyung' batin Donghae sedih. Dia akan sangat sedih bila mengingat hyung nya. Jangan dikira Donghae tak mencarinya. Walaupun Donghae tak bisa melihat namun dia tetap mencari keberadaan Leeteuk dengan bantuan Sungmin.

Namun sepertinya waktu dan takdir belum mempertemukan mereka lagi. Sungmin selalu bilang padanya kalau Leeteuk yang mereka cari tidak bisa ditemukan. Hanya berdoa dan terus berdoalah yang Donghae yakini agar bisa bertemu dengan sang hyung.

"gwencahana Hae", panggil Sungmin yang melihat Donghae tengah melamun. Walaupun mata itu selalu kosong, tapi Sungmin tahu kapan saat Donghae termenung atau menanggapi dirinya.

"anni hyung. Aku hanya teringat Teuki hyung saat Minni hyung memperhatikan ku", jelas Donghae yang mendengar suara khawatir Sungmin.

"Mianhae Donghae-ya", ucap Sungmin. 'aku tidak bisa mengatakan sejujurnya padamu' lanjutnya dalam hati.

"ne aku tahu. Minnie hyung sudah membantuku sampai sekarang pun aku sangat berterima kasih hyung", ucap Donghae yang berusaha untuk fokus melihat kearah Sungmin.

"Donghae-ya, lebih baik kau jangan pergi berkerja dulu ne", ujar Sugmin setelah lama terdiam.

"waeyo hyung?", tanya Donghae yang bingung. Apa tandanya dia dpecat oleh Sungmin?

"hyung hanya tak ingin kejadian kemarin terulang lagi. Jangan buat hyung khawatir. Arra?", jelas Sungmin. Dan Donghae yang tidak ingin membuat hyungnya itu kecewa, mengikuti saja perkataannya. Walaupun juga dia bingung dengan alasan yang Sungmin berikan. Bukan kah sudah biasa ada yang menghinanya pikir Donghae.

.

.

.

Sudah sejak sejam yang lalu Leeteuk duduk di restoran ini. Dia meluangkan waktunya untuk hanya bertemu dengan Donghae. Dia juga tak boleh gegabah dengan segala kemunculannya. Bagaimana kalau Dongahe berfikiran kalau dirinya tak pernah mencari Donghae.

Dan Leeteuk memutuskan untuk mendekati semuanya dari awal. Mendekati Donghae. Namun sudah lama dia menunggu sampai makanan yang dia pesan sudah habis. Orang yang ditunggu-tunggunya tak kunjung datang.

"apakah dia tak bekerja?", gumam Leeteuk lirih.

Leeteuk pun memutuskan untuk bertanya pada pelayan yang sedang lewat dihadapannya.

"apakah pelayan yang bernama Donghae tak ada?", tanya Leeteuk pada pelayan tersebut.

"oh kukira dia tak masuk. Ada apa kau mencarinya? Aku bisa panggilkan Sungmin-ssi, dia hyungnya", ujar pelayan itu ramah.

"bolehkah?", tanya Leeteuk.

"tak apa. Sungmin-ssi itu orang nya ramah. Dia pasti mau berbicara denganmu", ucap pelayan itu lagi.

Pelayan tersebutpun kedalam ruangan karyawan setelah mendapat persetujuan Leeteuk yang ingin menemui Sungmin. Leeteukpun menunggu Sungmin yang mungkin sedang ada perkerjaan menurutnya.

'mungkin dia sedang sibuk' pikir Leeteuk.

Puk~

Tanpa terasa ada yang menepuk bahu Leeteuk. Dan dilihatnya Sungmin yang tengah tersenyum dengan ramahnya pada Leeteuk. Tanpa canggung pun Leeteuk membalas senyum tersebut.

"ada apa tuan mencari saya?", tanya Sungmin.

"ah panggil saja Leeteuk", ucap Leeteuk.

"ne kalau begitu panggil aku Sungmin juga. Ada apa mencari ku Leeteuk-ah?", tanya Sungmin lagi.

"aku hanya. Apakah dongsaeng mu bernama Donghae?", tanya Leeteuk.

"ne benar. Ada apa menanyakannya? Apakah dia pernah berbuat salah", tanya Sungmin tenang. Dia tahu akan tiba waktunya, saat ada seseorang yang menanyakan tentang dongsaengnya. Tapi dia juga tak mengira secepat ini pergerakkan Leeteuk.

"bolehkah aku menemui nya?" pinta Leeteuk.

"untuk apa? Kalau kau tidak memberi alasan, aku tidak akan percaya padamu. Aku tak mau kau berbuat jahat padanya", ucap Sungmin yang mulai menghilangkan senyum ramahnya.

"hanya ingin bertegur sapa saja. Aku hanya ingin berterima kasih padanya telah menolongku waktu itu", kekeh Leeteuk yang merasa mendapat penolakkan dari Sungmin untuk menemui Donghae.

"kalau begitu akan ku sampai kan terima kasihmu pada dongsaengku. Dan kurasa dia tak bisa menemui seseorang yang asing", jelas Sungmin sarkatis.

"kalau begitu aku permisi dulu tuan", ucap Sungmin dan kembali keruangannya.

Leeteuk yang melihat gelagat Sungmin pun menjadi curiga. Ada apa dengan Sungmin? Bukankah saat pertama bertemu dia sangat ramah. Tapi kenapa saat dia ingin bertemu Donghae mendapat penolakkan dari Sungmin. Walaupun secara halus tentunya.

Tanpa memikirkan apa yang terjadi, Leeteuk segera pergi dari tempat tersebut. Karena tak berhasil untuk bertemu dengan Donghae.

Kalau dia tak diizinkan untuk menemui Donghae. Bukankah masih banyak jalan.

.

.

.

"kalau ada yang mencari Donghae bilang saja dia sudah tak bekerja lagi disini. Arra!", ujar Sungmin pada pelayan yang tadi menyampaikan salam Leeteuk.

Sungmin pun menjadi resah. Apakah dia akan kehilangan dongsaeng nya lagi? Donghae akan dibawah oleh hyungnya yang asli. Dan meninggalkan dia yang sudah sangat menyayangi Donghae.

"andwae ini tak bisa dibiarkan", gumam Sungmin.

Bukan Sungmin tak senang Donghae bertemu dengan hyung nya yang selama ini mereka cari. Namun Sungmin tak ingin Donghae meninggalkannya begitu saja. Dia tak ingin lagi ditinggalkan dongsaengnya lagi.

Cukup sekali karena kesalahan bodohnya. Dia akan mempertahankan Donghae. Bagaimanapun caranya. Walaupun sempat ada rasa bersalah karena telah membuat Donghae seperti itu, namun sekarang perasaan sayang itu semakin tumbuh.

"Donghae milikku. Dia dongsaengku", ujar Sungmin datar.

"awasi pergerakkan mereka. Buang semua yang sudah mereka dapatkan", ucap Sungmin pada orang yang sedang diteleponnya.

.

.

.

Tok

Tok

Tok

Ketuka pintu tersebut mengganggu sang pemilik kamar yang sedang sangat bersantai. Dengan raut wajah kesalnya diapun membuka pintu kamarnya sedikit kasar.

"ya ada apa", ujar Heechul kesal saat membuka pintu tersebut.

"eh Teuki", ucap Heechul setelah tau siapa yang mengganggunya.

"Chulie bolehkah aku masuk? Apa aku mengganggu mu?", tanya Leeteuk meminta persetujuan Heechul.

"ne ne silahkan. Walaupun kau menggangguku tentunya," jawab Heechul setengah bercanda.

"aku menemukannya Chulie", ucap Leeteuk setelah mereka sudah duduk ditempat masing-masing namun masih ada didalam kamar Heechul.

"nugu?", tanya Heechul.

"uri Donghae. Aku sudah menemukannya", jawab Leeteuk yang sulit mengartikan eksperinya.

"jinjja? Bukankah ini kabar yang bagus. Kkaja kita temui dia sekarang. bawa Donghae pulang. Dan kita akan berkumpul lagi bersama", ujar Heechul antusias.

"tapi", ujar Leeteuk ragu. Dan membuat Heechul pu merasa ada sesuatu yang sedang tidak beres dengan semua ini.

"orang itu tak mau aku menemui Donghae", ucap Leeteuk lesu.

"nugu?", tanya Heechul kesal.

"Lee Sungmin. Orang yang merawatnya", jawab Leeteuk.

"MWO? Lee Sungmin?", ucap Heechul kaget.

"ne dia. Donghae ada bersamanya. Dan dia tak mau aku bertemu dengan Donghae", ucap Leeteuk.

"tunggu tunggu jangan bilang kalau Donghae itu. Pelayan buta itu", ujar Heechul yang mengingat ingat tentang Sungmin. Siapa yang tak tahu tentang Sungmin? Dia adalah anak dari pengusaha sukses dan diapun sama suksesnya.

"kau tahu Chulie", tanya Leeteuk.

"anni, Cuma saja aku merasa pelayan itu uri Donghae. Namun aku tak berani memberi kita semua harapan", jelas Heechul.

"benar dia Chulie. Aku sudah menyelidikinya". Ucap Leeteuk.

"kita akan membawa Donghae pulang hyung", ucap sebuah suara yang tiba-tiba muncul.

"Kibum ah", ucap keduanya

"aku sudah mendengarnya. Dan saat aku melihat pelayan itu pun, aku merasa mengenalnya", jelas Kibum.

"tapi jangan kita bilang dulu pada eomma dan appa", ucap Heechul. Dan mendapat anggukkan dari Leeteuk dan Kibum.

Mereka memikirkan rencana apa yang akan bisa membawa Donghae pulang. Berkumpul lagi bersama sama mereka.

.

.

.

"hyung waeyo?", tanya Donghae yang tak mendengar suara Sungmin. Bukankah biasanya Sungmin akan selalu bercerita apa yang tengah dia lihat? Namun sekarang Sungmin seolah tak bisa mengeluarkan suaranya.

"gwenchana Hae. Apakah Hae menyayangi hyung?", tanya Sungmin pada Donghae.

"ne aku sangat menyayangi hyung", jawab Donghae.

"kalau Hae sudah bertemu dengan Teuki hyung, apa Hae akan meninggalkan hyung eoh?", tanya Sungmin.

"apakah hyung sudah bertemu dengan Teuki hyung?", tanya Donghae balik tanpa menjawab pertanyaan Sungmin.

"anniyo Hae. Hahaha jadi apa yang akan kau lakukan nanti setelah bertemu dengan Teuki hyung?", tanya Sungmin dengan tawa nya.

"tentunya kita akan tinggal bersama eoh? Aku, Teuki hyung dan Minnie hyung", jawab Donghae. Membayangkan kalau dia harus tinggal bersama kedua hyungnya yang sangat menyayanginya. Bukankah akan lebih indah?

Namun berbanding terbalik dengan apa yang tengah dirasakan Sungmin saat ini. Bagaimana kalau nantinya Donghae akan meninggalkannya? Walaupun nanti Donghae akan bahagia bertemu dengan hyungnya, namun bagaimana dengan dirinya? Haruskah dia kehilangan lagi?

"hyungie", panggil Donghae lagi pada Sungmin.

"hyung akan lebih berusaha ne", jawab Sungmin akhirnya.

.

.

.

Sudah seminggu ini Donghae tidak diizinkan keluar oleh Sungmin. Dengan alasan agar Donghae tak mendapat masalah. Tapi itu membuat Donghae sangat-sangat bosan. Tinggal sendirian dirumah yang ditempatinnya. Tanpa boleh keluar sedikitpun.

Harusnya dia bekerja sekarang. Mengantarkan makanan pada pelanggan. Walaupun yang dia tahu pasti dia sangat menyusahkan karena tidak bisa mencatat pesanan pelanggan.

Hahhahahhaa

Donghae jadi tahu kenapa Sungmin tak memngizinkannya lagi bekerja. Karena keadaannya. Tapi dia juga tak menyalahkan Sungmin yang melarangnya. Bukan bukan Sungmin malu akan dirinya, namun Sungmin selalu melindunginya.

Persis dengan Teuki hyungnya tentukan? Mereka keduanya sama. Sama-sama menjaga dia tanpa mau membuat dirinya merasakan sakit.

"hyung beogoshipeo", gumam Donghae entah pada siapa. Mungkin pada kedua hyungnya yang selalu menjaganya tersebut. Kenyataannya Donghae sangat menyayangi keduanya.

"tapi aku bosan", ucapnya. Dan Donghae pun tak menyadari kalau sejak tadi ada yang tengah memandanginya. Mellihat dari tempat yang tidak jauh, bagaimana ekspresi Donghae. Masih persis sama seperti dulu.

"nugu?", panggil Donghae pada orang yang tengah memperhatikannya. Donghae tahu ada yang sedang memperhatikannya sejak tadi mungkin.

Dengan tongkatnya, Donghae pun berjalan mendekati orang tersebut. Diapun juga tak tahu kenapa kakinya melangkah begitu saja. Bagaimana kalau nantinya orang itu adalah orang jahat? Tapi sepertinya Donghae tak memimikrkan itu.. buktinya dia tetap melangkahkan kakinya dibantu oleh tongkatnya.

"hyung kau kah itu?", tanya Donghae lagi dan orang yang memperhatikannya pun nampak kaget dengan panggilan tersebut.

"ne Hae, ini hyung", ucap suara seseorang.

"minnie hyung!", ujar Donghae ceria. Dan membuat orang yang sejak tadi memperhatikannya berubah menjadi sendu.

"kkaja Hae kita masuk. Diluar dingin", ajak Sungmin pada Donghae. Dan mulai untuk menuntun Donghae mengikutinya.

"Hae, ini Teuki hyung datang", gumam lirih Leeteuk yang melihat Donghae berjalan menjauhinya.

.

.

.

"jadi apa yang akan kita lakukan?", tanya Heechul memecahkan keheningan, karena semenjak tadi aura dimobil menjadi muram.

"mollayo?", jawab Leeteuk lesuh.

Kibum dan Heechul hanya memandang sendu Leeteuk. Mereka pun sama merasakan sakit tapi bukankah Leeteuk yang akan merasakan lebih sakit. Keduanya berfikir untuk memutuskan mencari jalan agar bisa bertemu dengan Donghaenya.

"kurasa kita harus mencari tempat tinggal Sungmin-ssi", ucap Kibum setelah lama berfikir.

"maksudmu Bummie?", tanya Heechul yang bingung. Untuk apa mencari rumah Sungmin kalau nyatanya Donghae tinggal disini.

"kurasa Sungmin-ssi akan membawa Donghae kerumahnya. Bukankah dia tak ingin kita bertemu Donghae?", jelas Kibum dan mendapat anggukan dari Heechul. Sedang Leeteuk hanya berusaha mencerna perkataan Kibum.

'bukankah lebih baik kalau kita merawatnya bersama' batin Leeteuk memikirkan tingkah Sungmin.

"baiklah, kita akan mencari tahu dimana rumah Sungmin-ssi", putus Heechul akhirnya.

"bagaimana menurutnmu Teuki hyung", tanya Kibum pada Leeteuk yang hanya diam dan menerawang didalam rumah tersebut. Rumah tempat dimana Donghae berada sekarang.

"kurasa idemu baik Bummie", jawab Leeteuk akhirnya.

Dan mereka pun memutuskan untuk kembali pulang. Mencari informasi yang lebih banyak tentunya. Untuk bersama dengan Donghae lagi.

.

.

.

Akhirnya setelah membujuk Donghae dengan seribu macam cara, Sungmin bisa membawa Donghae pulang kembali bersamanya. Tentunya dengan sebuah persyaratan. Donghae akan keluar rumah jika dia merasa bosan. Pasalnya sang hyung tak mengizinkannya untuk bekerja lagi.

"nah, sekarang kau tunggu disini ne. Hyung akan membuatkan mu makanan", ucap Sungmin dan meninggalkan Donghae.

Donghae yang merasa Sungmin menjadi lebih posesif membuatnya sangat-sangat bingung. Sungmin tak pernah berperilaku seperti ini, memaksanya untuk melakukan apa yang Donghae tidak ingini.

Sungmin akan selalu mengabulkan semua yang Donghae pinta. Bukan seperti ini yang dia pinta bukan. Sama saja halnya dia dikurung, tak boleh kembali bekerja. Dan itu sangat membosankan. Ketika kau hanya bisa melihat gelap dan kau hanya tinggal tanpa adanya suara-suara. Tentu bosan bukan?

Untung saja Sungmin masih mengizinkan untuk sekedar keluar. Walau dengan jurus yang dia punya. Menangis tentu saja.

"kkaja Hae kita makan", ajak Sungmin menuntut Donghae untuk makan.

Dan keduanya makan dengan suasana yang sangat hangat. Dengan diselipi canda dan tawa.

.

.

.

"ne hyung, aku baik-baik saja". Ucap Donghae pada Sungmin yang tengah meneleponnya.

"..."

"hyung juga harus bekerja bukan. Aku bukan anak manja eoh", rajuk Donghae.

"..."

"aiishh hyung. Hyung aku akan ketaman. Bolehkah?", pinta Donghae.

"..."

"hyuuuuung", rengek Donghae.

"..."

"gomawooo hyung ! saranghae", teriak Donghae girang. Akhirnya Sungmin mengizinkannya untuk pergi keluar. Ya, walaupun hanya taman didepan kompleks rumah mereka. Tapi, tak apa bukan.

Setelah bersiap-siap yang memakan waktu sebentar, akhirnya Donghae berangkat. Dia juga tak lupa membawa tongkatnya dan jaket. Tentunya itu saran dari sang hyung.

.

.

.

Sesampainya Donghae di taman. Dia segera ingin mencari tempat duduk. Meraba-raba sekitar agar menemui bangku. Donghae merasa taman yang dia tempati tak ramai oleh orang biasanya. Dia juga tak mendengar suara anak-anak yang sedang bermain.

Tanpa menunggu waktu lama, Donghae sudah menemukan bangku yang cocok untuk dia duduki. Nyaman pikirnya. Dia juga sudah lama tak keluar sendiri. Bahkan Sungmin tak mengajak nya untuk keluar, malah tetap menyuruhnya untuk tinggal dirumah saja.

"seperti nya taman ini sedang sepi", gumam Donghae pada dirinya sendiri. Pasalnya tak ada orang disekitarnya.

"apakah hanya ada aku sendiri?", ucap nya lagi.

"kau tak sendiri", ucap suara yang menyapanya.

"eh nugu ya?", bingung Donghae.

"Hae", panggil orang itu tanpa menjawab pertanyaan Donghae. Dan Donghae pun semakin bingung. Apakah orang ini mengenalnya? Apakah dia tetanggaku pikir Donghae.

"Hae. Ini Teuki hyung, Hae", ucap orang itu yang ternyata Leeteuk. Donghae hanya bisa terdiam mendengar apa yang diucapkan orang tersebut.

"hy..yyuu..ung?", tanya Donghae tak percaya.

"ne ini hyung, Hae", ucap Leeteuk yang kini sudah tepat berada didepan Donghae. Tanpa menunggu lagi Leeteuk menumpahkan segala rasa rindunya.

Dipeluknya tubuh kecil Donghae. Seakan tak ingin lagi dia ingin lepaskan. Tak ingin lagi kalau Donghaenya akan meninggalkannya.

"beogoshipeo", ucap keduanya.

Dan kedua nya menangis senang karena bisa bertemu dengan saudaranya. Perasaan senang mendominasi. Walaupun air mata berurai tapi dalam hati mereka sangat sangat bahagia dengan apa yang terjadi sekarang.

Dan jauh dari tempat mereka berada terlihat seseorang yang menatap dengan tatapan sendu. Tanpa menunggu waktu lama pun dia pergi meninggalkan tempat tersebut.

.

.

. tebecehhh !

Akhirnya selesai juga chap ini.

Makin gajeh kah? Sinetron kah?

Tapi yang penting saya sudah lanjutin, hehehehe..

Makasih banyak banyak dan buanyaaaaaak yang masih mau REVIEW ini cerita~

Yang faporit sama mollow juga jeongmaaal gomawo ne~

Dan bolehkah saya meminta para reder yang sudah membaca, untuk memberikan REVIEW nya *mumpung lagi bulan puasa loh* *buat baik banyak banyak*

And then

gamsaHAE~~~