Extraordinary Love Story
Disclaimer : Semua karakter bukan milik saya. Mereka milik JK. Rowling. Terima Kasih kepada JK. Rowling.
"Hei apa yang kau lakukan!" Hermione kaget bukan kepalang. Dengan gemetar ia menurunkan tangannya. Keringat dingin tiba – tiba saja bercucuran dari tubuh mungilnya. Dia menarik nafas panjang. Mencoba mencari setitik keberanian dan perasaan tenang –yang sayangnya tak kunjung ia dapatkan-.
"Bukan apa – apa, sir. Maafkan saya" Hermione menjawab dengan tanpa membalikkan badan. Dia sama sekali tidak punya nyali untuk melihat siapa yang akan menjadi 'malaikat pencabut nyawanya' saat ini. Hermione mencoba berlari. Bukan maksudnya menjadi pengecut. Tapi sama sekali tidak lucu apabila ia dikeluarkan dari Hogwarts hanya karena masalah sapu terbang. Akan menjadi berita yang bagus untuk digosipkan bukan? Ah Hermione tak ingin memusingkannya lagi, yang ia mau hanya lari dan menyembunyikan wajahnya. Namun, baru beberapa langkah Hermione berlari, tangan kecil menggenggam tangannya. ini pasti tangan 'malaikat pencabut nyawanya'! Siapa lagi yang ada di lapangan ini selain Hermione dan 'dia'. Tapi tunggu! Tangan kecil! Tangan itu kecil! Tangan itu terlalu kecil untuk ukuran tangan prefek dan ketua murid, apalagi Professor. Hermione cukup pintar untuk menyadari hal aneh ini dengan cepat. Secepat refleksnya sekarang untuk membalikkan badan melihat empunya tangan yang sedang menggenggamnya. Mata Hermione membulat tak percaya, terkejut dengan apa –atau tepatnya siapa- yang sedang dilihatnya sekarang. Bukan tatapan marah yang ia dapat, tapi tatapan wajah-menahan-tawa dari seorang bermata abu – abu. Yah lagi – lagi Draco Malfoy.
"Malfoy?" Draco tak dapat lagi menahan tawa. Lengkingan tawanya kini meledak amat keras. Untung saja dia sedang bersama Hermione yang super brilliant. Dengan sigap Hermione segera memasang mantra peredam suara yang untung saja sudah ia pelajari tadi siang.
"Tak ada yang lucu, Malfoy!" Draco tidak membalas satupun perkataan Hermione. Draco sangat terlihat 'bahagia' dengan apa yang baru ia lihat. Terlihat dari tawanya yang semakin menjadi – jadi dan tangan kiri yang memegang perutnya kesakitan. Tangan kanannya? Masih menggenggam Hermione. Kenapa Hermione tak protes?
"Oh, baiklah Tuan Malfoy. Kalau kau hanya ingin menertawaiku, aku akan kembali ke asrama sekarang juga!"
"Oke oke Hermione aku selesai," Draco berusaha di sela tawanya yang sedikit demi sedikit mereda.
"Kau tak tau suaramu tadi sangat lucu, Granger!"
"Jangan mulai lagi, Malfoy!"
"Bukan apa – apa, sir. Maafka-" Draco menirukan suara Hermione tadi. Namun terpotong karena wajah masam dan tatapan tajam Hermione yang secara cuma – cuma diberikan kepadanya.
"Baiklah, apa yang kau lakukan Granger?" Hermione tidak menjawab, hanya sedikit menggerakkan kepalanya ke arah sapu disampingnya.
"Sapu? Kau belajar terbang? Demi Merlin Granger!"
"Apa yang salah, Malfoy?" Draco menggelengkan kepalanya dan Hermione keheranan.
"Ikut aku!" Draco mengambil sapu terbang Hermione dan yang terjadi kemudian adalah Draco menarik tangan yang sejak tadi digenggamnya. Yang ditarik hanya menunjukan wajah kebingungan dan sayangnya kebingungan itu tak berkurang saat Draco sudah menghentikan langkahnya –langkah Hermione juga-. Langkah mereka berhenti di Lapangan Quidditch. Tempat yang paling jarang Hermione kunjungi.
"Granger?" Draco membuka suara setelah sesaat hening terjadi.
"Hm?"
"Kau sadar tidak tangan kita dari tadi belum terlepas?" Hermione –entah sudah yang keberapa kali- terkejut. Dengan refleknya lagi ia melepaskan tangannya yang daritadi bersatu dengan Draco. Dan Demi Jenggot Merlin, Hermione melihat wajah kecewa dari Draco. Hanya sedetik mungkin sebelum air mukanya berubah kembali.
"Katakan Granger kenapa kau nekat melanggar hampir sepuluh peraturan hanya untuk latihan terbang?" ucap Draco seakan tak ada yang terjadi. Seakan dia tak melihat wajah merah Hermione.
"Hanya kau bilang? Aku hampir dipermalukan didepan kelas karena pelajaran sialan ini. Dan Malfoy, tepatnya 12 peraturan yang bisa aku langgar," Draco mendengus. Cukup kesal dengan tingkah 'teman rahasianya' ini.
"Dengar Granger," Draco berjalan mendekati Hermione. Memperpendek jarak diantara mereka. Memperkencang detak jantung milik Hermione.
"Setiap orang pasti punya kelebihan dan kelemahan. Aku tak perlu bertanya tentang kelebihan, kau punya itu. Sangat banyak bila boleh ditambah," Draco diam sejenak, memperhatikan senyum manis dan semu merah yang kini ada di wajah Hermione. Sayang saja ia tak bisa melihatnya lebih jelas karena Hermione sedang menatap rumput lapangan. Menyembunyikannya eh?
"Dan mungkin ini, sapu terbang ini, adalah kelemahanmu Granger,"
"Tapi selagi kita bisa mencoba, tidak salah kan?"
"Iya sih, tapi dengan mempertaruhkan nyawamu di Hogwarts?"
"Merlin Malfoy, aku sudah memikirkannya. Aku sudah mempertimbangkan detensi dan apapun segalanya yang akan terjadi. Kau tidak mengerti Malfoy, bagaimana perasaanku, bagaimana keadaanku. Bayangkan saja jika semua orang yang kau lihat sudah berhasil melakukan sesuatu dan kau tidak dapat apa – apa. Ditambah ejekan teman – teman. Merlin! Aku hanya ingin menjadi yang terbaik dari yang terb-"
"Baiklah!" Draco mengangkat tangannya. pertanda ia sudah tak kuat mendengar celotehan-cepat-satu-napas Hermione.
"Kalau itu maumu, baiklah Granger!" Draco melemparkan sapu terbang yang dipegangnya ke samping Hermione. Hermione hanya menutup mulutnya dengan tangan, takut mengatakan yang salah. Draco mulai melangkahkan kakinya. Awalnya Hermione mengira Draco akan pergi meninggalkannya. Tapi ternyata sangat salah. Draco malah bergerak kebelakang Hermione. Hermione dapat merasakan napas Draco menggesek lehernya. Wangi mint itu tercium hidung gadis mungil itu. Hal yang tak disangka kembali adalah Draco mengambil tangan kanan Hermione yang sebelumnya digunakan untuk menutup mulutnya sendiri. Perlahan. Sangat perlahan. Hanya dengan sentuhan itu Hermione merasa ada sesuatu yang bergetar didirinya. Entah. Hermione tak pernah membacanya di buku. Salah satu syaraf otak Hermione memerintahkannya untuk menengok. Dan inilah dia sekarang, menatap mata kelabu favoritnya. Sedang menatapnya hangat. Cukup menghangatkan cuaca dingin yang sebenarnya sedang mengitari mereka. Senyum simpul kini terpampang di wajah Hermione, dan di wajah Draco pula sebenarnya. Draco meluruskan tangan Hermione. Menjulurkan tangannya ke atas sapu. Persis yang diajarkan Madam Hooch.
"Katakan UP Granger,"
"A..aku takut tak bisa Malfoy"
"Tenang Granger, tak akan yang mengejekmu saat ini," Hermione memalingkan wajahnya ke arah sapunya. Ia mengambil napas panjang lalu mengamati sapunya lagi.
"UP!" Sangat pelan. Hermione mengucapkannya hampir mirip desisan. Sapunya tidak bergerak, apalagi berguling atau naik ke tangannya. Hal ini membuat ia kecewa, ia melirik tangan yang sedang memeganginya. Senyum simpul yang tadi sempat ada kini hilang.
"Kau kurang perasaan Granger, anggap sapu itu kekasihmu"
"Hah? Kau gila Malfoy. Mana mungkin aku berpacaran dengan sapu terbang!"
"Itu hanya perumpamaan Granger," Draco memutar kedua manik kelabunya. Seakan akan ingin berkata demi-salazar-gadis-ini-argh!
"Perumpamaan yang buruk Malfoy"
"Baik, baik, nona banyak protes. Anggap saja sapu ini sesuatu yang kau sayangi. Entah itu kucing, anjing, bukumu, atau uang sekoper, terserahlah. Bayangkan benda itu akan menghampirimu saat kau panggil,"
"Aku tak pernah membacanya, itu benar?"
"Kau ragu padaku eh, Granger? Coba saja," Hermione akhirnya mempraktekkannya. Tak ada salahnya, bukan? Hermione membayangkan sapu itu adalah kucing gemuknya yang akan melompat ke tangannya karena ia membawa snack kucing terenak sepanjang masa. Hermione tersenyum sesaat.
"UP!" Mata Hermione berbinar, ia berhasil! Ya! ia berhasil! Hermione membalikkan badan, menatap 'guru terbang'-nya. Hermione menggerakkan sapunya. Memberi bukti bahwa ia berhasil.
"Jangan senang dulu kau, sapu itu gunanya untuk terbang, bukan hanya untuk dipanggil naik ke tanganmu," Hermione menelan ludah, ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Naik ke sapu sekarang!" suruh Draco dengan seringai khas miliknya.
"Malfoy, aku rasa ini sudah cukup. Apalagi ini sudah larut ma-"
"Tidak tidak Granger, naik sekarang. Atau ternyata singa Gryffindor juga bisa takut?" Draco menyeringai lagi. Yang di beri seringai malah melotot padanya tajam. Ah kena kau Granger!
"Aku, tak akan takut Slytherin!" Hermione menekankan kata terakhir dari yang ia ucapkan. Telunjuknya yang indah menunjuk – nunjuk dada Draco. Ya, Draco yang daritadi seringainya tak kunjung hilang.
"Buktikan Granger! Tapi ingat jangan tinggi – tinggi! Condongkan badanmu kedepan untuk turun,"
"Aku sudah membaca!" Draco tak membalas. Yang ia lakukan saat ini adalah memegang tongkat yang ada di jubahnya erat – erat. Ia tak mau ada yang terjadi pada Hermione. Hei ini aneh!
Hermione menaiki sapunya, menjejakkan kaki kecilnya di tanah, dan voila ia terbang sekarang. Hermione tertawa begitu senang. Ia berputar – putar mengelilingi lapangan Quidditch, walau dengan pelan karena sapunya yang sangat ketinggalan jaman. Yah meskipun pelan, beberapa kali jantung Draco hampir copot, Hermione yang sedikit tergelincir penyebabnya. Sudah lelah, akhirnya Hermione memutuskan untuk turun. Tongkat Draco sudah siap, mempersiapkan hal terburuk yang akan terjadi. Namun tongkat itu akhirnya nganggur karena Hermione dapat mendarat dengan sangat mulus, ditambah bibirnya yang terus membentuk senyum kecil.
"Bagaimana, professor?" Hermione menekankan kata terakhirnya, kali ini untuk menggoda Draco.
"Lumayan, untuk pemula sepertimu," Draco mengusap dagunya. Memberikkan ekspresi seperti berpikir. Pemandangan ini disambut tawa renyah dari Hermione.
"Kau mau ke asrama Malfoy?"
"Ah nanti saja, sudah terlanjur basah, sekalian saja,"
"Baiklah, kita kesana yuk!" Hermione menarik tangan Draco ke arah tribun di sebelah barat. Draco hanya menurut. Tanpa saling tau, senyum masing – masing mereka sedang mengembang.
-o0o-
Hening.
Sangat hening.
Sesaat setelah mereka duduk bersebelahan dan Hermione merapalkan mantra peredam suara, tak ada diantara mereka saling bicara. Hanya senyum mereka yang tak kunjung terhapus. Entah mereka saling sadar atau tidak.
"Emm… Malfoy," Hermione akhirnya memecah hening. Suatu keharusan memang.
"Hm?"
"Aku .. terima kasih" Draco menengok ke arah Hermione. Menikmati ekspresi dari gadis yang daritadi bersamanya.
"Untuk apa?"
"Segalanya, bantuanmu saat pelajaran terbang dan menjadi guru privat terbangku contohnya,"
"Bukan masalah, Granger"
Hening.
Kembali hening.
"Em Malfoy?"
"Apalagi Granger?"
"Bagaimana bisa kau menemukanku di lapangan tadi?"
"Aku mengikutimu"
"Me.. mengikutiku?"
"Yah, tadi aku lihat kau di koridor menuju pintu kastil. Dan tingkahmu yang berjalan bolak – balik membuatku penasaran hal konyol apa yang akan kau lakukan," Hermione memasang wajah cemberutnya, dan memukul lengan Draco pelan. Membuat Draco tertawa.
"Aku kira koridor itu sepi, ternyata tidak juga ya, untung kau yang melihatku" Hermione menghembuskan napasnya dengan kasar. Isyarat kekesalannya.
"Koridor yang itu memang sangat sepi Granger,"
"Lalu mengapa kau lewat koridor itu? Aaaah! Aku tau! Kau suka tempat yang sepi – sepi ya, wah aku tak menyangka kau suka sesuatu berbau mesum Draco Malfoy,"
"Kau yang mesum, Granger. Aku sedang berpikir di san-"
"Pffft kau berpikir Malfoy?" ejek Hermione dengan nada sangat mencela.
"Diamlah Granger, bukan hanya kau yang punya otak. Tempat sepi memang paling enak untuk berpikir kan?"
"Berduaan dengan kekasih juga bisa,"
TAK! Jitakan yang 'lumayan' keras mendarat sempurna di kepala Hermione. Membuat wajah cemberut Hermione muncul lagi. Dan tawa Draco juga meledak lagi. Otomatis.
"Maaf, maaf," Hermione mengucapkannya dengan nada kesal. Tak seperti permintaan maaf sepasang kekasih yang ketauan selingkuh. Hah?
Hening.
Lagi – lagi hening.
Aku sudah bosan menulis kata hening.
"Memang apa yang kau pikirkan Malfoy?" DEG. Jantung Draco seakan berhenti berdetak. Kini ingatannya memutar satu hal buruk yang ia harapkan tak terjadi. Harry Potter menjadi seeker termuda, dan itu karena dia. Karena kebodohannya. Karena kejahilannya. Argh! Semua pikiran itu menghujam bersamaan. Tak memberi kesempatan bagi Draco untuk menghindar.
"Malfoy?" Hermione menyadari perubahan air muka Draco. Walau daritadi diam terjadi, wajah Draco tak pernah sedatar ini. Wajah ini adalah wajah saat pertama kali mereka bertemu.
"Eh? Tak ada apa – apa,"
"Ini jelas sekali ada apa – apa Malfoy. Ceritakanlah,"
"Kita teman kan?" tambah Hermione. Draco menghembuskan napasnya, hampir seperti Hermione.
"Aku sedang memikirkan, Harry Potter,"
"Jangan bilang tentang kejadian Remembrall milik Neville,"
"Kau tau?"
"Harry dan Ron yang cerita, tapi demi Merlin Malfoy! Kenapa kau melakukan hal ini?"
"Hal ini apa? Sudah jelas Granger, Gryffindor Slytherin, dan begitulah," Draco menunjuk Hermione saat ia mengatakan Gryffindor.
"Pasti ada alasan, Malfoy. Selain tentang asrama, pasti ada hal lain kan?"
"Kebencian, apakah itu kurang cukup Granger?"
"Bagaimana bisa kau membenci seseorang yang baru saja kau temui?"
"Ini tradisi Granger jadi terima sajalah!" Atmosfer diantara mereka memanas sehingga Hermione memilih diam. Membiarkan Draco mengambil napas dan meredakan emosinya.
"Kau tau Malfoy, aku selalu merasa ada yang salah, selalu ada yang salah ketika teman – teman asramaku membicarakan asramamu, terutama membicarakanmu. Mereka bilang kau menjengkelkan, kau jahat, dan yang tak pernah angkat bicara saat mereka membicarakanmu, karena .. karena.." Hermione terdiam sejenak, dapat dilihatnya Draco mencoba mencerna kata demi kata yang terlontar dari bibir Hermione.
"Draco Malfoy yang kukenal tak seperti yang mereka katakan," 9 kata barusan sangat pelan Hermione ucapkan, tapi dengan duduk bersebelahan tak mungkin Draco tidak mendengarnya.
"Aku pernah menganggap bahwa mungkin teman – temanku hanya iri kepadamu, mana mungkin seorang anak baru beberapa hari sudah membuat ulah dan dibenci seisi asrama. Itu peganganku Malfoy, peganganku sebelum saat itu,"
"Saat itu?"
"Saat Ron dan Harry bercerita tentang keusilanmu yang akhirnya tadaaa membuat Harry menjadi seeker,"
"Aku .. ah kau harus tau Granger, Gryffindor-Slytherin, air-api, langit-bumi bukanlah gurauan. Hal itu adalah tradisi dari dulu. Dari jaman ayahku-pun sudah begitu. Aku bersikap beda padamu karena kau tau aku membuat-"
"Pengecualian untukku, aku tau Malfoy, tapi mengapa aku? Apa yang kau harapkan dari orang seperti aku?"
"Contekan PR mungkin?" Seringai itu akhirnya terlihat lagi. Hermione sangat senang melihatnya, mengingat beberapa saat yang lalu wajah datar-lah yang ada di kulit pucat Draco.
"Enak saja," cibir Hermione walau sebenarnya ia ingin mengetahui alasan sebenarnya.
"Aku sudah bilang kau menyenangkan Granger," ucap Draco seakan tau isi hatinya.
"Menyenangkan bagaimana sih? Kita baru kenal beberapa hari Malfoy,"
"Yah, dari awal kita bertemu, kau tau tingkahmu lucu saat menabrakku? Dan percayalah setelah itu aku merasa selalu melihatmu di setiap mataku melihat. Oh ya! saat kau mencuri pandang di upacara seleksi, bahkan ketika makan, aku rasa aku meny.. eh aku rasa kau menyenangkan untuk dilihat dan diajak bicara,"
"Cara bicaramu seperti aku adalah fans terbesarmu, ah tidak kau yang fans terbesarku!" Hermione tertawa renyah lagi. Ah pemandangan yang indah.
"You wish Granger!"
Hening.
Merlin hilangkan kata hening!
Baiklah sunyi.
"Berhentilah bertindak bodoh Malfoy, tak bisakah kau hanya menyimpan bencimu dalam hati? Tanpa harus mengungkapkannya dengan tindakan. Aku bukan membela asramaku Malfoy, aku hanya tak ingin kau.. kau menyesal," Entah mendapat suara setan darimana hingga pembicaraan –pemecahan hening atau sunyi, entahlah!- mereka kembali serius. Padahal mereka baru saja saling melemparkan candaan, bukan?
"Kau benar, aku menyesal," desisan datar Draco. Desisan yang mampu membuat bulu kuduk Hermione berdiri.
"Granger?" Hermione menoleh, menemukan mata abu – abu yang penuh harap.
"Akankah kau menjauhiku setelah kau tau bahwa aku… aku..-"
"Kau apa? Menjengkelkan? Jahat? Ayolah Malfoy, aku tak peduli. Yang aku tau, Malfoy yang kukenal adalah orang yang menyenangkan, baik, dan guru privat yang gratis," Hermione terlihat serius awalnya. Membuat bibir Draco membentuk senyuman maut paling sempurna. Tapi di 4 kata terakhir, senyum itu hilang diiringi dengusan.
"Kau janji?" Draco menawarkan kelingkingnya yang segera disambut Hermione tanpa suara. Hanya senyuman.
"Emm Malfoy, omong – omong bagaimana cara kita masuk ke kastil nanti?"
"Sudah kupikirkan, tenang saja Granger. Bukan hanya kau yang punya otak disini," Hermione tertawa, begitu juga Draco. Mereka hanyut dalam hening em sunyi kembali. Namun kali ini sunyi yang berbeda. Berbeda. Karena ada suatu hal yang sudah terselesaikan di hati masing – masing mereka.
TBC
-o0o-
Lalalalalala akhirnya chapter ini selesai juga! Disini jam 11.16 pm. Dan aku sedang galau karena ranking turun jadi yah *ah sudahlah*. Btw terima kasih sangat sangat sangat yang sudah mereview me-follow, me-favorite FF abal ini. Demi, aku hampir gak lanjut kalau gak ada support kalian. Bukan manja, atau haus support, atau blablabla. Tapi emang aku ngerasa chapter 1 itu kelewat setelah melihat support kalian, wah seneng banget. Maaf alay saya author baru jadi senior masih dibutuhin banget!
Oh ya chapter ini aku persembahin buat Aihtum yang secara gak langsung udah ngasih semangat kembali baca FF dan akhirnya aku nulis FF. Walau beda jurusan sih. Aku Dramione dia Kyumin. Buat yang suka Kyumin, dia tau semua FF kece. Aku bisa tanyain kok
ini balasan review kalian :
esposa malfoy : makasih, ini lanjutannya, tetep review ya :)
Ryoma Ryan :serius ga aneh? Wah aku jadi seneng bacanya! Makasih loh makasih. Ayo dong nulis, pasti aku baca :D tetep review ya :)
Constantinest : hehe makasih kak :) tetep review ya kak :D
Ms. Loony Lovegood : makasih ya kak, koreksi kakak berguna banget buat aku :D tetep review ya kak:)
diya1013 : ini lanjutannya, makasih, tetep review ya :)
