-Cinta Salah Alamat-
Matahari sudah naik. Cahanya menerobos jendela kaca kamar yang sang empu masih berdengkur dengan memeluk mesra gulingnya. Selimutnya sudah tidak beraturan, bahkan piyamanya juga tersibak. Suara deru knalpot motor yang mondar mandir dijalanan tidak membuatnya bangun dari tidurnya. Sepertinya nyenyak sekali. Sesekali posisinya berubah. Beberpa cetak pulau bangka menghias sprei bantalnya. Kecap mulutnya acap terdengar.
"DIOOOOON! BANGUUUUUUUN!" Suara seorang perempuan menggelegar membuat seluruh benda bergetar hebat. Ah, berlebihan sekali rasanya. Dion yang masih berkelana dalam mimpinya yang telah berhasil merampok baling baling bambu Doraemon seperti tidak terganggu. Sesekali mulutnya mengucap 'Doraeeeemon'.
Seseorang perempuan cantik yang sudah berumur berdecak kesal melihat anaknya tidak juga bangun. Dia memungut selimut tebal Dion yang terjatuh. Sesekali bibirnya tersenyum saat mendengar anaknya mengigau 'Doraemon'. Tokoh kartun kesukaan anaknya. Seekor kucing berwarna biru. Yang membuat heran adalah, kucing biru itu takut pada tikus?
"Dion sayang, bangun naaak.." Sang ibu mengguncang tubuh Dion pelan. Dion hanya bergerak sebentar. Lalu terlelap lagi.
"Ya sudahlah.." ibu Dion menghela nafas, ia sudah tahu betapa susahnya membangunkan Dion di hari libur. "Padahal tadi Ibu mau membelikan kamu jam weeker Doraemon buat ganti Jam weekermu yang di bawa Adit." Sepertinya Dion punya radar tersendiri. Begitu mendengar kata Doraemon, dia menlinjak dengan wajah blo'onnya.
"Eh? Beneran?" tanya Dion memastikan.
"Iya, sayanng. Makanya cepat bangun, mumpung kamu libur, mama juga libur. Kita ke mall."
"Oh, sprei juga ya ma, bosen nih pake yang ini." Dion menunjukkan bantalnya yang berbekas ilernya. Ew.
"Hahahaha, kamu sudah kelas 2 SMA masih saja ngiler?" mamanya tertawa keras. Dion manyun dan ngedumel nggak jelas.
"Iya, nanti mama belikan juga. Yang itu biar di cuci sama Mbok Iyah. Sekarang kamu mandi dulu sana." Perintah mamanya. Dion turun dari ranjang. Menyambar handuk bergambar Doraemon dan melesat ke kamar mandi. Mama Dion mulai merapikan kamar anaknya, dan melepas sprei bantal serta guling. Tidak lupa ranjangnya.
"Aku ingin terbang bebas
Di angkasa
Hei… baling baling bambu
La… la… la….
Aku sayang sekali…
Doraemon…
La… la… la….
Aku sayang sekali… doraemon.."
Suara gemericik air beradu dengan suara Dion yang agak sumbang. Menyanyikan lagu favoritenya. Soundtrack Opneing Doraemon versi Indonesia. Sesekali dia berteriak seperti orang gila.
"DORAEEEEEEEMON!"
Dion menghela nafasnya lelah. Seharian ia berkeliling mall dengan mamanya beli ini itu. Tidak lupa berbagai benda bercorak Doraemon pasti diembatnya. Dia melirik sprei tempat tidurnya. Doraemon dan Nobita terbang dengan baling baling bambunya. Jam weeker berbentuk Doraemon yang telinganya digigit tikus dengan ekspresi yang membuat orang tertawa. Komik. DVD.. haha, ia tertawa akan kemaniakkannya dengan Doraemon.
Dion menikmati semilir angin di balkon kamarnya. Matanya menatap rumah sebelah yang sepertinya ramai. Banyak barang barang dari mabil diangkat masuk. "Orang baru?" pikirnya. Matanya hanya mengawasi orang yang mondar mandir membawa barang untuk dibawa masuk ke rumah. Rumah sebelah memang sudah lama kosong. Tidak beberapa lama, hanya hampir 2 minggu. Katanya, sang pemilik bangkrut. Dan rumahnya di jual. Matanya menatap sesosok gadis yang terlihat anggun dengan rambutnya yang panjang teruai.
"Kak Sam, bantuin Achan bawa ini donk. Berat niiiih!" Gadis cantik berteriak nyaring. Oh, namanya Acha toh. Wah, cantik kayak bidadari yang jatuh di iklan, batin Dion memperhatikan dari atas balkon.
Lalu keluar pria dewasa berkacamata yang menggerutu. Sedangkan Acha hanya cekikikan. Dion tersenyum melihatnya. Dion masuk kembali ke kamar. Dan mencuci kakinya di kamar mandi. Lalu menguap sebentar.
"Achan.." ucapnya sebelum tertidur. Hembusan angin menina bobokannya dengan lembut.
"Jadi Achan nginap 2 hari sama Mama Papa juga?" Seorang lelaki dengan kacamatanya menyuap makanannya. Matanya melirik kedua orang tuanya yang juga sedang makan.
"Iya, mumpung Achan masih libur. Besok minggu pulang kok, tenang saja. Achan nggak bakal menjadikan Kak Sam pembantu kok salam di rumah baru ini, hihihi." Gadis bernama Achan cekikikan melihat kakaknya melotot. Pria berkacamata yang bernama Sam itu mendengus.
"Sam, nanti kamu ngajar di sekolah mana?" Tanya mamanya.
"SMA 4 Ma." Jawab Sam.
"Jangan ngecengin murid cewek ya Kak, hihihi." Achan kembali cekikikan saat kakaknya tersedak. Sam melotot, Achan menjulurkan lidahnya mengejek. Kedua orang tua mereka hanya tersenyum.
"Udah ah, kalian ini. Sana balik kamar masing masing." Papa mereka melerai kedua adik kakak yang seperti perang dingin itu.
Samuel Adriansyah. Ia meletakkan kacamatanya di meja nakas samping tempat tidurnya. Dia tidak mengalami minus mata. Tapi dia suka memakai kacamata, karena menurut mamanya dia cocok. Seperti tokoh favorite mamanya yang entah siapa ia lupa. Sam memperhatikannya dirinya sendiri dipantulan cermin. Tinggi.. dia memiliki tinggi diatas 180. Dia memegang wajahnya, 'Hmmm, bahkan Aku lebih tampan daripada choi Siwon yang suka diilerkan oleh Achan." Ucapnya ideal. Berat badannya sesuai dengan tingginya. Jadi dia tidak gemuk, juga tidak kurus. Ah, menjabarkan penampilan seorang Sam itu tidak habisnya. Dia akan bernarsis sampai kaca pecah.
"Awas, kuntilanaknya ngiler loh, hihihi." Dan terdengar cekikikan Achan dari luar yang membuat Sam melotot kesal. Shit, umpatnya. Dia beranjak membaringkan tubuhnya. Dia hanya memakai celana jeans setelah show narsisnya tadi. Dan menarik selimut. Mengangkat banyak barang dan dikerjai adiknya membuat badannya lelah.
