Yup, sudah ter-update :D

Kaya'nya chapter sebelumnya alurnya terasa dipercepat ya? -,-

Tapi kali ini tidak. Natsu akan coba sekuat tenaga supaya alurnya perfect!

Mana typo juga banyak -,-

Emang sih ya, kurang bagus ceritanya (ToT)/

Tapi…

#lupakan xD

Naruto is not mine, it's Masashi Kishimoto's sensei.

.

.

.

.

.

Kimi ni Todoke

"Kau si-siapa?"

"Sasuke. Sasuke Uchiha."

"A-apa... ada y-yang bisa kubantu?"

"Siapa namamu?"

.

.

.

.

.

"Kenapa aku harus menolong orang yang tidak kukenal?" Cetus Sasuke tajam.

Kesalahan besar untuk si kepala desa pirang itu, jangan pernah menyuruh Sasuke Uchiha untuk menolong.

Mendengar nada bicara Sasuke yang tidak mengenakkan di telinga, Tsunade menatap si Uchiha bontot.

"Jaga bicaramu, GAKI." Tsunade menekankan baik-baik kata gaki agar sampai ke telinga si pantat ayam brengsek –begitulah pikiran Tsunade.

Kesalahan besar untuk Sasuke Uchiha, jangan pernah adu mulut dengan si nenek tua. Tapi pada dasarnya semua keluarga Uchiha pemberani, -kelewat berani- Sasuke kembali merancang kata-kata pedas yang siap diluncurkannya untuk counterattack.

"Jawab saja pertanyaanku, OBAA-SAN."

Menghela napaslah Tsunade menghadapi anak ingusan satu ini. padahal baru 1 jam yang lalu mereka bertemu, dan sekarang keadaan di antara mereka berdua bisa diibaratkan seperti air dan minyak.

"Gadis ini adalah seorang yatim-piatu. Ia… selalu dikucilkan oleh warga di desa ini. dia gadis yang baik dan jujur, bahkan dia adalah gadis yang sabar."

"Apa hubungannya denganku?"

"Kau datang ke desa ini untuk melakukan riset kan? Mempelajari strata kelas social bawah? Maka gadis itu cocok menjadi bahan risetmu."

Ada benarnya juga

"Baiklah. Siapa nama gadis itu?"

Tsunade tersenyum penuh kemenangan. Sambil menaruh dagunya di tangan yang sudah berada diatas meja, Tsunade berkata pelan;

"Hyuuga Hinata."

Tidak perlu penjelasan macam-macam lagi, Sasuke segera keluar dari kantor kepala desa yang ke-5 itu. Mengambil payung hitam miliknya, Sasuke berjalan dengan elegannnya di jalanan utama desa Konoha yang bersih dari sampah namun basah.

Selama 1 tahun Sasuke akan tinggal di tempat dokter handal- bertangan dingin- andalan Konoha, di rumah keluarga Haruno.

Mungkin lebih baik apabila Sasuke langsung pergi ke klinik Haruno.

.

.

.

.

.

.

Merasa hujan semakin deras, petir semakin sering menyambar, Hinata buru-buru pulang. Walaupun basah-basah, Hinata tidak peduli, ia hanya ingin menenangkan pikirannya yang sudah berantakan.

Terima kasih kepada penduduk desa yang bermulut racun itu.

Entah kenapa, Hinata menghentikan larinya. Ia berhenti seketika saat mendengar suara anak laki-laki yang sedang menangis. Karena rasa ingin tahu yang besar, gadis ini mencari-cari asal suara misterius itu.

Saat diperiksanya daerah selokan nan kotor, Hinata menemukan seorang anak laki-laki yang basah kuyup sambil menangis, memperlihatkan giginya yang masih ompong.

Betapa terkejutnya Hinata! Anak laki-laki itu adalah Konohamaru!

Cucu kesayangan almarhum kepala desa ke-3; Hiruzen Sarutobi.

"Ng… Ko-Konohamaru… -kun? Ke-kenapa kau menangis?"

Si bocah menangis terisak-isak sembari menggosok-gosok matanya yang sudah merah. Otomatis, Hinata langsung mengelus-elus kepala si bocah.

"Huweeeee! Pisang la-lapis coklatku –hiks- jatuuuh!"

Ingin rasanya Hinata menertawakan alasan konyol Konohamaru. Tapi kan Hinata bukan tipe gadis berhati jahat, jadi si gadis baik hati ini menepuk kepala Konohamaru dengan pelan layaknya seorang ibu.

"Lututmu terluka. Lukanya juga bessar sekali, loh. Ayo kita ke klinik Sakura-chan!"

Tersenyum setelah mendengar ajakan Hinata, Konohamaru tersenyum lebar seraya menunjukkan gigi-gigi susu yang ada ompongnya.

"Arigatou, Nee-san!"

.

.

.

.

.

.

Akhirnya si Uchiha bontot sudah sampai di depan pintu gerbang klinik Haruno.

Karena udara dingin yang menusuk, Sasuke segera menarik ke bawah tali lonceng kecil yang ada di depan klinik bersih yang berbau obat-obatan tersebut.

Di luar begini saja bau obat sudah tercium. Bagaimana kalau di dalam? Mungkin lebih parah.

Tapi bukan Sasuke Uchiha namanya kalau tidak mengeluh. Di setiap perbuatan yang merepotkan atau merugikan untuknya, maka siapkan tutup telinga agar tidak mendengar keluhan tajamnya. Yah, untung saja kebiasaan mengeluhnya tidak separah Shikamaru Nara–rekan bisnis keluarga Uchiha-.

Kembali ke cerita…

Kok lama sekali?

Dengan geram –akibat kedinginan- Sasuke kembali menarik kasar tali lonceng malang milik keluarga Haruno. Belum sempat Sasuke mau menarik kembali tali itu, suara seorang perempuan terdengar dengan lantangnya dari dalam rumah.

"Chotto!"

Bisa didengar, pintu klinik itu terbuka dengan kasarnya.

"Tidak sabaran seka-…"

Voila! Dihadapan Sasuke kini ada seorang gadis dengan warna rambut teraneh yag pernah ia lihat. Merah jambu pucat yang dibiarkan tergerai indah sampai pinggangnya.

"…-li sih… E-eh… Errr…"

"Sasuke Uchiha, penumpang sementara di rumahmu."

Si gadis masih tercengang dengan hadirnya Sasuke. Mulutnya terbuka-tutup layaknya ikan koi di rumah Sasuke. Wajahnya juga berubah warna menjadi merah muda seperti rambutnya sendiri.

Menunggu jawaban yang tak kunjung diberi, Sasuke menyilangkan tangannya di depan dada. Ya ampun si gadis pink ini bukannya mempersilahkan sang tamu masuk, dia malah terdiam menatapi wajah Sasuke. Bukannya Sasuke mau sombong, tapi Sasuke sudah tahu tanda-tanda kalau seorang perempuan atau gerombolan perempuan menatapnya seperti itu.

Itu tandanya… mereka jatuh cinta pada pandangan pertama padanya.

Bagaimana Sasuke tidak mau tahu? Hampir semua gadis-gadis bahkan guru wanita pun jatuh hati sama si Uchiha. Jangan salahkan Sasuke, salahkan wajah tampan dengan topeng es miliknya itu.

"Boleh masuk?" merasa tulang-tulangnya mulai ngilu, Sasuke langsung saja menerobos masuk ke dalam klinik tanpa menunggu persetujuan gadis yang sedang melamun di depan pintu klinik.

Sesampai di dalam klinik, Sasuke segera merasa nyaman. Sofa berwarna coklat tua dan ditambah juga perapian yang menempel di dinding tepat di depan Sasuke sedang menduduki sofa tersebut.

"Ehm… Sasuke-kun mau minum t-teh?"

Rupanya gadis ini sudah sadar dari mimpi siang harinya.

Tapi memang pada dasarnya Sasuke dingin kepada orang yang baru ia temui, ia tidak menjawab pertanyaan tadi. Malah ia yang bertanya "Darimana kau tahu namaku?". Ia menatapi sang gadis dengan bola mata hitam kelam miliknya yang lagi-lagi berhasil membuat rona merah muda muncul di kedua pipi si gadis pengkhayal –Sasuke menamakannya seperti itu di dalam pikirannya-.

"Ayah dan Ibuku menceritakan tamu yang akan datang dari kota Tanzaku. Dia seorang mahasiswa."

"Oh,"

"Aku Sakura Haruno. Semoga kita bisa menjadi lebih dekat, Sasuke-kun…"

"Hn."

"Benarkah? Berarti aku boleh memanggilmu SASUKE saja? Boleh ya?"

Memainkan ujung rambut pink-nya, si gadis kembali tersipu. Tak lupa menaruh tangan sebelahnya di belakang dan menekukkan kaki sebelah, sedangkan yang sebelah lagi tetap lurus. Dia juga menatap Sasuke dengan mata emerald jernih miliknya –yang sayangnya harus diakui dengan predikat indah oleh Sasuke.

Tipikal wanita pemaksa.

"Terserahmu, onna."

Dengan tersenyum riang, Sakura segera menuju ke dapur untuk membuat teh hijau panas yang akan dibuatnya dengan segenap cinta.

Setelah Sakura sudah tidak terlihat, Sasuke memutuskan melihat-lihat isi rumah Haruno. Rumah ini lebih codong ke nuansa barat, beda dengan rumah Sasuke yang masih mempertahankan keaslian adat rumah Jepang pada umumnya.

Di atas sebuah buffet, terletak sebuah foto berbingkai. Foto itu berisi 5 orang anak kecil, salah satunya Sakura senidir. Berarti ini foto lama milik Sakura dan teman-temannya.

Tapi bukan wajah Sakura yang menarik perhatiannya, melainkan wajah tersenyum seorang gadis yang sedang malu-malu seraya memainkan kedua telunjuknya. Gadis teraneh tapi termanis yang seumur-umur hidupnya pernah dilihat dengan bola mata Sasuke sendiri.

Gadis yang tidak terlalu menonjol, tapi senyumannya berhasil menimbulkan getar di hati pangeran Uchiha. Mumpung Sakura belum muncul, bolehlah dia melihat wajah gadis pemalu itu lebih lama.

CRING CRING CRING

Ups! Lonceng di depan rumah berbunyi, berarti ada orang! Buru-buru Sasuke menaruh kembali foto itu sebelum Sakura kembali dari dapur untuk membuka pintu. Dan ternyata benar dugaan Sasuke. Sakura langsung berlari dari dapur menuju ke pintu depan.

"Hai! Chotto matte ne~"

Membuka pintu, Sakura mempersilahkan tamu atau pasien –entahlah- segera masuk ke dalam rumahnya. Merasa penasaran karena suara tamu tersebut adalah suara seorang perempuan, dan juga tangisan nyaring seorang bocah laki-laki.

Diliriknya dari balik tirai, dan betapa terkejutnya Sasuke!

Perempuan yang datang tadi adalah…

Gadis pemalu di foto jadul Sakura yang berhasil menggetarkan hati batu milik Sasuke Uchiha!

Oh! Apa yang harus ia perbuat? Mendatanginya lalu mencium tangannya kayaknya seorang gentlemen barat? Tidak, tidak. Absolutely NO!

Menatapi gadis itu sampai dia sadar kalau ada yang memperhatikannya? Tidak! Bisa-bisa ia dianggap lelaki mesum! Jatuhlah martabat keluarga Uchiha!

Apa yang harus aku lakukan?

Masih sibuk berkutat dengan berbagai cara jitu menyapa si gadis pemalu, Sasuke tidak memperhatikan seorang anak kecil yang berada di samping gadis bermata putih keunguan dengan rambut biru dongker itu.

Tiba-tiba…

"Huweeeee! Kakiku SAKIIIT!" teriak bocah laki-laki bergigi ompong yang memakai syal putih panjang. Seketika itu pula, mata Sasuke terbelalak melihat si bocah. Tangannya tiba-tiba saja berkeringat.

Ano kozo wa…

Jantungnya berdebar-debar lebih kencang dari biasanya saat pikiran itu terlintas di kepala berisi otak genius miliknya.

Itu…

.

Itu bukan putranya kan?

.

.

.

.

.

.

Saat Sakura sudah pergi ke klinik di sebelah yang menempel dengan rumah Haruno, Hinata berjalan ke ruang tamu karena Sakura menyuruhnya untuk menunggu sebentar.

Bermaksud menghanngatkan dirinya di depan perapian, seorang pria berambut hitam dan warna bola mata yang senada dengan rambutnya, datang menghampiri Hinata. Kalau boleh mengakui, pria ini terukur tampan, sangat tampan. Belum lagi aura dingin yang semakin menambah pesona pria itu.

"Kau si-siapa?"

"Sasuke. Sasuke Uchiha."

"A-apa... ada y-yang bisa kubantu?"

"Siapa namamu?"

.

.

.

.

.

TBC~

Wew! Akhirnya berhasil Natsu update! Sudah otak mandet ide, minder lagi! Habis, fi-fic karangan para senpai keren banget! Langsung deh, nyali Natsu langsung menciut :p

Stop with the curcol, Natsu mau ngebales review-review dari unlog-in readers:

Mery chan: makasih review-nya~ uhuhuhu, beres, berees.. pokoknya ini happy ending deh!

Ulva-chan: makasih review-nya~ oohohoh tentu, tentu… pasti happy ending, kok. 100% guarantee!

Gini, bang Sas kan ngambil tentang kemasyarakatan :D jadi riset tentang kehidupan social masyarakat gitu~

Miss rukawa: makasih review-nya~ okeh! Natsu juga gak kuat kok. Maklum, ane Hina-Hime lover!

N: nanti ada part tersendiri Neji. Makasih ya review-nya~ xD

ryu uchiha: makasih review-nya yaa~ yup! Sasgay the savior!*ups*

Yo'i! tunggu aja tanggal mainnya. Jeng jeng jeng~

Kim ji jae: makasih review-nya~

-Sasuke: Hn. Tenang saja.-

Woookeh! Selesai Natsu ngetik fic ini, Natsu akan segera lanjutin Tetangga Cantik! (kalau yang belum tahu TC, silahkan dibaca dan di-review yaa~)

Oh iya, ada yang mau ide baru untuk fic? Pas banget Natsu dapet ide yang MUNGKIN bagus untuk SasuHina. Kalau ada yang mau adopsi ide Natsu, silahkan PM! XD

PS: JANGAN LUPA REVIEW YANG BUANYAAAAAK