Naruto belongs to Masashi Kishimoto
STORY : BELONGS TO ME ^^
Rated : T
Genre : Romance-comedy, a lil bit Hurt.
Warning : Gaje, OOC, AU, Typo(s), dll
Don't Like Don't Read! ^^
Happy reading minna-san ! ^^
~Kinouye presents…
LOVE AND PHOTOGRAPH
Chapter 5
Kehidupan itu tak semudah seperti apa yang kita pikirkan. Setelah ada jalan mulus dan lurus, tak lama ada jalan berkelok dan berbatu. Setelah ada tawa, kadangkala ada duka. Setelah ada air mata, ada tawa bahagia. Dan seterusnya.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
SAKURA POV
Memang benar, tak ada yang bisa menebak takdir. Entah bahagia, kecewa, kehilangan, suka, duka, tangis, tawa, semuanya berbaur mengisi kehidupan. Perlahan ku selami semua kata itu di pikiranku, juga hatiku.
Aku memang baru bangun, kira-kira satu jam yang lalu aku tidur. Setelah tersadar sepenuhnya, aku menoleh ke arah pria di sampingku. Pria berambut hitam yang belakangnya seperti, err… bokong ayam, Uchiha Sasuke.
Merasa ada yang memperhatikan, bocah Uchiha itu berbalik menatapku. Masih dengan wajah stoic dan onyx yang membiusku beberapa saat. Lalu, dia kembali menyetir. Aku yang tersadar, buru-buru mengalihkan pandanganku ke kaca mobil. Mendadak aku teringat dengan mimpiku barusan. Pipiku memanas dan mungkin kini warnanya hampir sama dengan rambutku.
Kami-sama, entahlah, aku bermimpi ada sesuatu yang kenyal dan basah yang menempel di bibirku. Kalian mengerti kan? A kiss. Tapi kenapa harus seorang Uchiha Sasuke? Aaa… Kami-sama, kenapa dia yang merebut ciuman pertamaku meski itu hanya sebuah mimpi? Well, itu hanya mimpi, Sakura. Jangan berlebihan!
Kupejamkan lagi kedua mataku perlahan, lalu kubuka lagi perlahan. Kuhembuskan nafasku, mencoba mencerna keadaan. Kurenungi setiap moment dalam hidupku, sampai seperti sekarang, duduk di samping pria yang ku benci. Oke! Err… Mungkin, itu dulu, eh? Err… Tolong jangan tanya macam-macam! Entahlah, aku juga tidak tahu, apa aku memang benar-benar membencinya?
Lalu, bagaimana dengan menghabiskan waktu seharian di taman bermain dan tepi danau? Aaa…! Kugelengkan kepalaku menepis semua kebingungan. Kulirik bocah Uchiha di sampingku malu-malu. Tunggu? Untuk apa aku malu? Cmon Sakura! Sakura Haruno, bukankah kau bilang kau benci dia? Ck, Merepotkan!
Si bocah Uchiha kembali menatapku dan mengernyitkan alis bingung. Aku hanya tersenyum lebar dengan memperlihatkan gigiku yang berjejer rapi, mencoba menghalau perasaan yang tak bisa ku mengerti. Ku lirik jarum jam yang berdetak di pergelangan tanganku.
Lalu Sasuke berkata, "Sekitar satu jam lagi kita sampai. Kau tak tertarik untuk kembali menjadi Snow White mendadak, Pinky?" ujarnya sambil terkekeh. Aku hanya merengut kesal. Ya, aku memang sering ketiduran kalau bepergian dengan 'menumpang' mobil seperti ini.
SASUKE POV
Hidup memang tak bisa kutebak. Sekelebat bayang kehidupanku muncul, menari-nari di pikiranku. Kenapa harus di saat seperti ini? Saat aku bersama seorang Sakura? Kulirik bocah Haruno itu sebentar. Haruno? Sepertinya, aku pernah mendengar nama itu. tapi kapan? Di mana? Ah, sudahlah. Kulirik dia sejenak, Ck! Dia tidur rupanya. Sepertinya, dia memang kelelahan karena kejadian kemarin.
Saat kuingat hal yang kulalui bersamanya kemarin, ada sebuah perasaan yang tak ku mengerti. Entah kenapa, ada perasaan ingin melindungi bocah bodoh itu. Ada sesuatu yang berbeda dari kebanyakan gadis yang ku temui. Dia memang tidak berparas elok dan berbody seperti seorang model. Justru, dia bertubuh kecil, pendek, bukan fashionista dan tidak berpakaian seperti gadis kebanyakan, tak lupa kaca mata minus kotak besar yang bertengger di hidung bangirnya.
Aku tersenyum geli. Dia lucu dan… menarik. Ya, dia cantik, sangat cantik, menurutku.
Honestly, aku sangat senang bisa mengenalnya. Bisa bertemu gadis aneh dan menarik. Sebenarnya, aku sangat senang ketika dia mengajakku ke taman bermain, apalagi melihat raut mukanya yang lucu ketika kami harus memakai kaos couple. Ah, untungnya dia mau ketika aku ajak beristirahat sebentar di tepi danau. Meski dengan yaa… sedikit ancaman dan paksaan, eh?
Sejenak aku bisa merasakan ketenangan dari berbagai masalah di rumah. Menghilang sejenak dari kejenuhan di 'kantor' dan kolega bisnisku. Kolega bisnis? Bukankah aku seorang model? Ya, memang. Sudahlah, aku sedang malas membahas hal ini.
Perjalanan memakan waktu setengah jam lagi. Sepertinya dia sudah bangun. Kulirik bocah Pink di sampingku sebentar, kukernyitkan alis mataku heran. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terpejam. Ck! Dasar bocah aneh. Ah, hilang sudah waktu setengah jam untuk mengerjainya. Baka! Kenapa tadi dia harus tidur? Tapi, setidaknya aku menang satu poin darinya. Poin apa? Ck! Jangan bertanya apa-apa. Cukup aku saja yang tahu.
Dan hey! Untuk apa dia memandangiku barusan? Ku tatap kembali dan… mata emeraldnya? Sejak kapan dia mempunyai umm… mata emerald berwarna hijau yang… sangat indah? Sayang sekali, dia buru-buru memalingkan mukanya ke arah kaca mobil. Hey Nona Pinky! apa kau lebih tertarik dengan kaca lamborghini-ku daripada aku Uchiha Sasuke pemiliknya?
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
Menjelang siang, seorang pria berkulit putih pucat berdiri sambil mengamati persiapan party. Ya, pria tampan yang khas dengan senyum palsu namun sangat mempesona gadis-gadis normal yang melihatnya. Dia tampak senang dengan melihat dekorasi dan konsep birthday party-nya kali ini. Tak salah dia memilih EO milik temannya, Sabaku no Gara untuk mengurus party yang di adakan di hotel bintang lima di kawasan pantai Akira.
Shimura Sai, pria yang termasuk dalam jajaran pria tampan dan elite di Jepang. Salah satu pemilik perusahaan gadget berkualitas dan terkenal baik di Jepang bahkan internasional.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
Setelah memastikan bahwa persiapan party selesai, dia pergi dengan mengendarai BMW-nya menuju butik seorang perancang pakaian ternama. Karena, baru kali ini dia sempat fitting baju yang dia pesan khusus untuk party kali ini. Sebelumnya, asistennya lah yang mengurus semua keperluan pria tampan ini.
"Selamat datang, apa ada yang bisa kami bantu, Tuan?" beberapa wanita terlihat menggerubunginya saat dia datang.
"Saya ingin menemuni designer di butik ini, sekalian fitting baju untuk party saya," ujarnya dengan senyum palsu yang membuat para pegawai di butik ini mati berdiri.
"Ba-baik Tuan, akan saya panggilkan," ujar salah seorang dari mereka. Mengusir kebosanan, Sai berkeliling dan melihat hasil rancangan terbaru dari si designer. Sayangnya, dia lupa nama designer ini. Melihat hasil rancangan terbarunya, sepertinya dia designer berbakat dan berpengalaman, batin Sai. Dia membayangkan seorang pria gendut dengan berbagai acsesoris, rambut palsu, dan berpakaian sexy. Hiiy.. Sai bergidik ngeri. Lalu, terdengar suara seseorang yang berjalan ke arahnya sambil mengomel.
"Oke, aku tahu di mana dia sekarang? Ck! Kenapa dia baru fitting seka-"
"Aaaaaaaaa!"
BRUGH!
Cup! Guess what?
Kedua insan yang berlainan jenis itu masih bertahan dengan posisinya. Pria berkulit putih pucat yang terbaring di lantai dan seorang wanita berambut pirang di atasnya. Semua pegawai yang kebanyakan para gadis berteriak histeris. Setelah sadar dengan apa yang terjadi, keduanya membelalak kaget dan buru-buru berdiri.
Flashback on
Yamanaka Ino, seorang designer di butiknya, CROWN, sedang sibuk mendesign untuk persiapan fashion show dan untuk photo shoot dalam rangka peluncuran design terbarunya. Lalu, salah satu pegawainya memberitahukan kalau ada orang yang akan fitting baju untuk party. Ino ingat dua minggu lalu asisten si klien memesan tuxedo untuk main agenda di birthday party.
Ino kesal karena merasa diremehkan sebagai designer, karena biasanya klien yang akan fitting baju minimal seminggu sebelum acara datang ke butiknya. Dengan polosnya dia mengomel dan marah-marah sehingga dia tidak memperhatikan lantai di mana dia melangkah, lalu menginjak sebuah kain semi sutra yang licin, akhirnya terpeleset dan menubruk orang di depannya. Dan… orang itu adalah, siapa lagi kalau bukan Shimura Sai?
Flashback off
Para pegawai butik masih bengong dengan mata membelalak tak percaya karena kejadian barusan. Karena malu melihat para pegawai yang masih menontonnya, sontak Ino pergi dengan menarik Sai ke ruangannya. Sai hanya menurut pasrah karena masih kaget dengan apa yang terjadi padanya. Ino mengusap-ngusap bibirnya kasar, sedangkan Sai hanya diam. Sejujurnya, Sai masih kaget dan jantungnya masih berdebar tak karuan di balik wajah cool-nya saat ini. Tak ada kata yang terucap dari keduanya untuk beberapa saat.
"Hey! Kenapa kau membawaku ke sini!" Sai memprotes gadis di depannya.
"Aaa… diamlah sebentar Tuan, apa kau mau menjadi tontonan mereka?" tuding Ino dengan menunjuk ke arah pintu.
"Kami-sama, kenapa ciuman pertamaku harus seperti itu, dengan pria yang bahkan tak ku kenal," ujar Ino dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar Sai.
"Nona, tidakkah kau lupa mengatakan satu hal atas kejadian memalukan barusan?" tanya Sai sambil mendekati Ino yang terduduk lesu karena malu.
"Apa maksudmu? Aaa… aku lupa, aku harus bertemu dengan klien yang akan fitting!" Ino berdiri dengan mengacuhkan Sai. Tapi, Sai sempat menahan tangan kiri Ino yang hendak pergi.
"Nona! Minta maaf dulu padaku! Tunggu, kau bilang tadi akan bertemu dengan klien-mu yang akan fitting?" ujar Sai kemudian sambil menatap Ino penuh selidik.
"Ba-baiklah. Sumimasen… sudah cukup, huh? Sekarang lepaskan tanganku!" ujar Ino balas menatap Sai. Sai hanya menyeringai lalu menlepaskan tangan Ino yang kemudian berjalan keluar dari ruangannya. Sai mengikutinya dari belakang seolah tak terjadi apa-apa. Jadi ini sang designer kita, hmm… aku kira…, batin Sai sambil tersenyum tipis.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
Ino menghampiri salah satu pegawainya. Lalu dia menanyakan orang yang kan fitting baju hari ini. Sambil menelan ludah, pegawai itu menunjuk ke belakang Ino. Ino menatapnya heran, di belakangnya hanya ada pria di insiden tadi, yang kini sedang tersenyum tipis.
"Mana orangnya, Tayuya?" tanya Ino sekali lagi.
"Dia, Nona Ino. Shimura Sai, yang memesan tuxedo untuk party. Orang di belakang anda, yang tadi berci-"
"Apaaa?" Ino membelalak kaget. Klien-nya adalah pria yang tadi berciuman dengannya dengan tak sengaja? Pria yang tadi jadi sasaran kekesalannya? Habislah dia.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
NORMAL POV
Mentari semakin terik menyinari bumi. Jarum jam menunjukan pukul sebelas tepat. Satu jam lagi, mereka –Sasuke an Sakura- akan sampai di pantai Akira. Sakura yang bosan lalu mencoba menyalakan music di mobil Sasuke dan tepat saat itu pun Sasuke mempunya pikiran yang sama. Dan… tangan kiri Sasuke dan tangan kanan Sakura bersentuhan saat mereka mencari kaset di dashboard mobil. Keduanya bertatapan tajam. Dan dengan bersamaan pula menarik tangan mereka masing-masing dari dashboard.
Alhasil, music pun tak jadi bergaung di Lamborghini hitam itu.
"Sasuke, aku bosan! Masih lama tidak?" kata Sakura sambil mencari buble gum di tas postman-nya. Sasuke melirik Sakura dari ekor matanya. Sakura membuat balon dari permen karetnya yang senada dengan warna rambutnya. Cih, dasar bocah! Batin Sasuke sambil tersenyum. Ada saja ulah Sakura yang membuat dia menyunggingkan bibirnya.
"Sabarlah Pinky, aku juga sudah bosan semobil denganmu!" jawab Sasuke tanpa mengalihkan perhatiannya karena focus menyetir.
Tiba-tiba, mobil mereka berhenti.
"Chiken Butt! apa yang terjadi? Kau mau membawaku ke mana lagi huh? Berhen-"
"Diamlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya ada yang bermasalah," ujar Sasuke sambil keluar dari mobilnya. Tanpa babibu, Sakura pun mengikutinya.
Sasuke membuka bagian depan mobilnya. Lalu, asap keluar dari sana. Sakura kaget dan khawatir. Sasuke hanya menghela nafas, lalu sibuk mengotak-atik mesin mobilnya. Sakura hanya memperhatikan di samping Sasuke sambil mengunyah permen karet.
"Sakura! ambilkan aku-"
Puff!
Sakura yang sedang membentuk balon dengan permen karetnya kaget karena Sasuke yang tiba-tiba berteriak di hadapannya. Sasuke yang setengah berdiri dan membungkukan badannya, hampir terkena balon permen karet Sakura yang meletus (?). Sasuke yang menatap kesal dengan mata onyx-nya, sedangkan Sakura hanya nyengir lebar dengan membentuk tangannya seperti huruf V.
"Cih! Ambilkan aku air!" Sasuke kembali sibuk menjadi montir dadakan. Bisa-bisanya dia lupa mengecek mobil sebelum bepergian. Lalu, Sasuke mencoba men-stater mobilnya lagi. Hasilnya nihil. Sasuke pun kembali mengecek berbagai mesin di bagian depan.
"Ini Sasu-!"
"Aaa.. kenapa kau malah menyiramku! Kau ini bisa serius tidak?" kata Sasuke sedikit kesal karena Sakura tak sengaja menjatuhkan air minum ke badan Sasuke yang sedang mengecek bagian bawah mobil.
"Iya gomen, aku kan tidak sengaja Sasuke-kun! Ups!" tanpa sadar Sakura memanggilnya dengan embel-embel kun! lalu, dia merutuki dirinya sendiri. Sasuke hanya tersenyum geli, setidaknya di tengah hawa panas ini ada hiburan tersendiri baginya, Haruno Sakura.
"Hn, tak apa Sakura-chan!" Sasuke mulai menggodanya lagi. Dan air minum yang di bawa Sakura kembali mengguyur Sasuke. Kali ini, Sakura sengaja melakukannya karena dia kesal. Lalu, Sasuke berdiri dan menatap Sakura tajam. Sakura kembali nyengir.
"Cih! Kau membuat bajuku basah kuyup!" ujar Sasuke.
Rupanya dia ingin main-main, oke! batin Sasuke sambil menyeringai. Dengan sigap dia merebut botol air minum yang dipegang Sakura dan mengguyur balik Sakura. Alhasil, terjadilah guyur-guyuran di antara mereka.
"Kau!" Sakura menggeram dan berjinjit mencubit keras pipi Sasuke. Sasuke balas mencubit pipi chubby Sakura. Sakura memukul-mukul bahu Sasuke keras. Lalu, Sasuke melepaskan cubitannya.
KLIK!
Sakura tak mau kehilangan moment ini. Dia memotret Sasuke yang belepotan dengan oli. Lalu Sasuke mengoleskan oli di pipi Sakura dan balas memotretnya. Sakura kembali mengguyurkan air dan alkhirnya Sasuke kembali membalasnya.
Karena kaos putih Sasuke sudah kotor karena terkena oli dan basah di guyur Sakura, Sasuke membukanya tepat di depan Sakura. Sakura langsung sweatdrop melihatnya, badan Sasuke yang lumayan sixpack dengan kulit putih dan mulus tanpa cacat.
"Apa! jangan bilang kau terpesona karena melihatku!" ujar Sasuke sambil menghampiri Sakura, masih dengan telanjang dada dengan tubuh belepotan oli. Terpikir untuk menggodanya kembali saat ini. Sakura yang kaget langsung lari, sayangnya tangannya berhasil ditahan Sasuke.
"Kau!" Sakura menggeram dan berjinjit mencubit keras pipi Sasuke. Sasuke balas mencubit pipi chubby Sakura. Kali ini, terjadilah aksi cubit mencubit pipi masing-masing. Untungnya, tidak banyak mobil yang lewat di jalanan karena merupakan area terpencil. Sakura memukul-mukul bahu Sasuke keras. Lalu, Sasuke melepaskan cubitannya. Karena tidak hatit-hati, Sasuke menginjak botol minuman dan…
BRUGH!
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
Mereka terdiam dan terpejam sejenak. Lalu, mereka membuka mata mereka masing-masing bersamaan. Tak ada sepatahpun kata, hanya mata yang bicara. Onyx dan emerald. Saling menghipnotis dan si pemilik saling mengagumi satu sama lain. Yang membuat Sakura blushing, adalah keadaan mereka sekarang. Yup! Adegan klise memang. Sasuke terjatuh dengan Sakura di bawahnya.
"Ha… hahaha!" Sasuke tertawa lepas. Sakura kaget, baru kali ini dia melihat seorang Uchiha tertawa seperti ini. Lalu, Sakura pun tertawa. Tidak, mereka tidak gila, tenang saja.
"Wajahmu!" keduanya saling menunjuk satu sama lain. Lalu keduanya tertawa bersamaan melihat wajah masing-masing yang kotor dan hitam-hitam terkena oli karena aksi saling cubit tadi.
Ketika mereka sadar dan menghentikan tawa mereka, bibir mereka hanya terpisah sejauh 3cm. Mereka kembali terdiam, dan Sasuke mulai mempersempit jarak antara mereka dan yup! Bibir mereka bertemu. Sebuah ciuman singkat. Lalu, Sasuke berdiri sambil menarik Sakura untuk berdiri juga.
"Umm… sebaiknya aku ganti baju dulu!" ujar Sasuke sambil menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal sambil membuka pintu mobilnya dan memakai kaos ganti. Sasuke terlihat gugup karena hal yang barusan terjadi dan tidak pernah terpikir sebelumnya.
"A-hai! Umm… bagaimana de-dengan mobilnya, Chicken Butt? A-aku mau jalan-jalan dulu ya sebentar, err sekalin mencari bantuan. Ya! Mencari bantuan!" masih dengan jantung yang berdetak kencang, Sakura berusaha mencairkan suasana dan tersenyum lebar. Hal barusan merupakan hal yang sangat tidak dia duga. Berciuman di bawah terik matahari, di pinggir jalan, dengan seorang Sasuke! Kami-sama… apa yang kau pikirkan Haruno Sakura!
Sasuke hanya ber-hn ria. Lalu, dia mulai sibuk kembali dengan mesin mobilnya. Sakura beranjak pergi untuk menenangkan hatinya dengan dalih mencari bantuan.
Bodoh, apa yang barusan kau lakukan, Sasuke?dia kan hanya seorang gadis pendek, kecil, aneh? Kenpa kau sampai berdebar tidak karuan seperti ini? batin Sasuke.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
15 minutes later….
"Done! Akhirnya bisa jalan juga. Pinky? Ah dia kemana?" akhirnya, berkat kerja kerasnya, mobilnya kini bisa digunakan lagi. Itu artinya, perjalanan bisa dia lanjutkan.
Sakura yang sudah putus asa mencari bantuan, kembali ke tempat mobil Sasuke mogok tadi. Lalu, dia mendengar Sasuke memanggilnya dan melambaikan tangannya.
"Pinky! Mobilnya bisa kuperbaiki! Cepat kita lanjutkan perjalanan!" ujar Sasuke berteriak. Lalu, Sakura berlari ke arahnya.
"Be-benarkah? Aaa… arigatou Kami-sama! Sasuke kau hebat!" refleks Sakura memeluk Sasuke karena senang. Jantung Sasuke mulai berdetak kencang. Lalu, Sakura melepaskan pelukannya.
"Tunggu apalagi, baka! Ayo kita pergi! Akira beach! I'm coming!" ujar Sakura dengan ceria dan menarik tangan Sasuke ke mobil. Sepertinya, Sakura sudah bisa mencairkan suasana dan mungkin lupa dengan insiden barusan? Sudahlah.
Cih! baka! batin Sasuke sambil tersenyum.
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
Skip time…
"Akhirnya kita sampai!" Aaa… Sasuke aku tidak sabar untuk hunting foto di sini!" ujar Sakura kegirangan. Sasuke hanya ber-hn ria dan mengeluarkan koper mereka dari mobil.
"Wooi! Teme! Sakura!" dari kejauhan tampak seorang pria berambut duren yang memakai kaos putih dengan celana pendek khas pantai melambaikan tangannya ke arah mereka. Disusul kemudian oleh seorang wanita bermata indigo yang memakai flowers dress di atas lutut dengan topi lebar yang menghiasi rambut ungunya sambil tersenyum.
"Mana Sasori, Naruto?" tanya Sakura. Sasuke yang mendengar Sakura menanyakan Sasori mendecih tak suka.
"Oh! Dia sedang menemui Sai. Kau akan datang 'nanti malam' kan, Teme? Aku akan mengajak Hinata-chan," bisik Naruto sambil merangkul Sasuke. Sakura yang bingung dengan percakapan Naruto hanya melengos tak peduli dan segera mengobrol dengan Hinata. Namun sebuah tangan menahannya.
"Tunggu, Pinky! Ikut aku!"
~^v^v^v^v^v^~~^v^v^v^v^v^~
To be continued…
Gomen, masih nekat publish fict abal kek gini minna masih banyak typo, maap juga kalo gaje, alur kecepetan dan ceritanya kurang panjang hehe~
Makasih buat yang udah pada baca dan review di chap 4, gomen ne… nanti saya balas review kalian di chap 6 ya ^^ *ditendangreviewers*
Review dari kalian sangat berharga dan jadi motivasi Kinouye buat terus nulis.
So, mind to review?
Best regards,
~Kinouye…
