Title: Affection

Writer: Shou

Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Kise-fem), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Kuroko-fem)

Pairing(s): AoKise. KagaKuro

Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.

Rating: T

Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.

Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.

A/N: Ano, mohon maaf bgt buat yang sebelumnya. Aku salah memasukkan rating, harusnya ratingnya T bukan M. Gomen ne~ Maa, karena aku adalah penggemar fluff, jadi sepertinya fanfic ini tetap menjadi fanfic fluff, keh keh.


"Eh? Uhh, umh. Lalu, sejak kapan kau membeli majalah dimana di dalamnya ada aku?"

"Ugh, umh.. sejak.. kita mempunyai hubungan khusus..?" jawab Aomine, semburat merah pun muncul di kulit gelapnya. Ya, dia selalu menyembunyikan keberadaan majalah-majalah dimana terdapat Kise di dalamnya karena ia tak mau disudutkan seperti ini. Aomine tidak suka jika ia disudutkan mengenai hal-hal romantis macam ini.

"…uhu..huhu" mata Aomine membelalak. Ia segera menoleh dan mendekati Kise yang mulai menitikkan air matanya, lalu memutar kedua bola matanya."Cih, kenapa kau menangis? Aku salah?" tanya Aomine, tak tahu harus berbuat apa.

"Uhu..huhu.. aku tak menyangka kau begitu peduli padaku, Daiki. Bahkan dulu, ketika aku selalu memberi majalah-majalahku padamu, kau sama sekali tak menanggapinya. Tapi sekarang.. uuh.." mendengar pernyataan Kise, Aomine hanya mendengus. Iapun membelai rambut pirang ikal milik Kise dan menariknya perlahan, membiarkannya bersender di dadanya. Tangannya yang bebas pun ia pindahkan ke tubuh Kise untuk memeluknya.

"Itu kan cerita lama. Apa salahnya jika aku ingin mengetahui pekerjaan istriku?"


Chapter 2

Matahari kembali bersinar keesokan harinya. Ditemani kicauan burung kecil, cahayanya masuk melalui celah-celah ventilasi jendela dan menerangi mata seorang pria berkulit gelap yang masih terkatup. Merasa terganggu oleh sinarnya, mata sang pria mengerjap, gerakan pun dapat terlihat pada tubuhnya, mengulet beberapa saat lalu iapun bangkit dari tidurnya.

"Ki—Ryouko?" panggilnya, melihat ke ranjang mereka, tempat dimana biasanya Kise masih terlelap disana. Namun pagi ini, entah mengapa Aomine tidak menemukan sosok sang istri di sampingnya.

Ya, istri-nya.

Ia segera menoleh ke arah pintu, setelah merasa mendengar sebuah suara dari luar kamar. Sambil menguap dan menggaruk-garuk kepalanya, ia bangkit dari ranjang dan berjalan ke luar kamar mereka—kamarnya dan Kise. Disanalah ia menemukan sosok si pirang, sedang membelakanginya, menghadap ke arah kompor gas berada dengan mengenakan sehelai celemek bergambar matahari—yang biasa ia pakai. Rambut pirang ikalnya yang terikat satu di sebelah kanan tampak makin bersinar terkena sinar matahari yang menelusup masuk ke apartemen mereka.

Pemandangan pagi yang begitu indah.

Aomine pun tersenyum melihat sosok Kise di pagi hari itu, ia lalu melangkahkan kakinya mendekati Kise dan meletakkan dagunya di pundak Kise, membuat Kise sedikit terlonjak.

"Daiki! Ohayou~ kau mengejutkanku!"

"Ya, ya. Makan apa kita pagi ini?"

"Ugh! Kau belum menggosok gigimu? Bau~ Sikat dulu gigimu atau aku takkan memberimu makan pagi, Daiki" pinta Kise sambil mengerucutkan bibirnya, seperti biasanya. "Asal kau mau menemaniku menyikat gigiku" balas Aomine dengan senyum nakalnya.

"Mou~ Padahal aku sudah sikat gigi. Baiklah" Kise pun segera mematikan kompornya sebentar, lalu menarik tangan Aomine untuk mengikutinya ke wastafel.

Wastafel mereka berada di depan kamar mandi. Wastafelnya berbentuk biasa, sama saja seperti wastafel yang berada di apartemen lain. Namun Aomine dan Kise selalu tersenyum melihat wastafel mereka. Disana, terdapat satu mug yang di dalamnya terdapat dua sikat gigi berwarna biru tua dan kuning. Sikat gigi itu saling bersender, saling menopang untuk dapat berdiri di dalam mug tersebut. Mungkin bagi orang lain, pemandangan ini bukanlah hal yang istimewa—sikat gigi? Apa yang dapat membuatmu bahagia hanya karena melihat sikat gigi?

Tapi pemikiran itu tak berlaku bagi Aomine dan Kise.

Mereka menyadari bahwa kedua sikat gigi itu seperti mereka, berbeda namun saling menopang keberadaan pasangannya. Berbeda, namun berada dalam wadah yang sama. Adakah hal lain yang lebih membahagiakan dibandingkan seatap dengan orang yang paling kau cintai dan terus bersamanya?

Ya, seperti inilah awal hari mereka. Kise yang mempersiapkan sarapan, Aomine yang menggoda Kise, lalu mereka yang menyikat giginya bersama di wastafel sambil membicarakn aktivitas apa saja yang akan mereka lakukan pada hari itu. Hal-hal yang sederhana namun membahagiakan.

Setelah selesai dari rutinitas menyikat gigi, Kise kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Namun langkah Kise berhenti ketika jemari Aomine menyentuh pipi Kise yang putih.

"Aku sudah menyikat gigiku, mana kecupan selamat pagi untukku?" tanya Aomine, tetapi seperti tidak memerlukan jawaban, ia lalu mengecup lembut bibir Kise yang ranum. Kedua pipi Kise pun berubah warna menjadi kemerahan, yang membuatnya terlihat semakin cantik. Matanya masih terbuka—terkejut, namun setelah keterkejutannya menghilang, iapun membalas kecupan Aomine—suaminya. Lembut.

"Umh.." mendengar Kise menggumam, Aomine melepaskan kecupannya.

"Ya?"

"A-Aku harus menyiapkan sarapan. Kau tak mau telat, bukan?"

"Aku tak peduli"

"Tapi aku peduli! Sensei pagi ini cukup tegas pada mahasiswanya yang datang terlambat. Dan aku tak tahu harus bagaimana menyampaikan alasan mengapa aku datang terlambat, Daiki.."

"Ng.. bagaiman kalau 'suamiku mencumbuku tadi pagi sehingga aku tak bisa melepaskan diri'?" saran Aomine yang segera dibalas pukulan ringan di kepalanya. Kise yang berwajah makin merah pun berlari ke dapur sementara Aomine hanya tersenyum melihat tingkah laku istrinya.

Ya, mereka sangat bahagia.

-

Bangun pagi, sarapan, dan berangkat ke kampus bersama. Ya, keseharian mereka memang seperti itu. Namun kali ini, entah mengapa, Kise terlihat sedikit canggung berjalan berdampingan dengan Aomine. Ia berulang kali melirik ke arah Aomine yang dimulutnya tersumpal roti buatannya. Ketika Aomine mendapati Kise tengah melihat ke arahnya, Aomine menghentikan langkahnya dan menatap Kise.

"Ada apa?"

"Ah, tidak.." mendengar jawaban Kise, Aomine membetulkan tali tas ranselnya lalu kembali melangkahkan kakinya, tak begitu mempermasalahkan apa yang sebenarnya terjadi pada Kise. Kalau memang ada hal penting, pasti Kise akan mengatakan padanya dan tidak akan menyembunyikan sesuatu darinya, bukan?

"Da-Daiki.."

"Huh?"

"Ah, ti-tidak.." Kise terdiam, tidak melanjutkan apa yang ia ingin katakan. Iapun memperlambat langkahnya, mau tak mau membuat Aomine menjadi gerah melihatnya. "Kau mau mengatakan apa padaku? Cepat katakan" tanya dan pinta Aomine pada akhirnya. Sementara Kise terlihat memainkan ujung denim yang dikenakannya. Kepalanya tertunduk, matanya pun melihat jalan yang berada di bawahnya.

Mata Kise pun akhirnya bergerak ke kanan.

Ke kiri.

Ke kanan lagi.

Lalu akhirnya kembali menatap Aomine.

"Maukah kau menggandeng tanganku sampai di kampus?" ujar Kise akhirnya. Mendengar permintaan Kise, Aomine membelalakkan kedua matanya lalu terkikik setelahnya. "Ke-Kenapa?" tanya Kise kembali. Aomine tak menjawab apapun, tak merespon pertanyaan dari Kise. Ia hanya menggandeng tangan Kise dan mengajaknya berlari.

"Ayo cepat, kau tak mau terlambat, bukan?"

Kise tersenyum. Manis sekali. Sampai-sampai Aomine merasa ia adalah pria paling beruntung di dunia. Oke, Aomine tahu hal itu memang klise, namun itulah yang ada di pikirannya sekarang. Dengan terus merasakan hal yang dianggapnya klise itu—namun merupakan kenyataan—mereka terus berlari berirama menuju stasiun, mengejar kereta yang pintunya hampir saja tertutup, lalu mengatur napas mereka agar kembali teratur setelah berada di dalam kereta. Keduanya bernapas lega ketika menyadari mereka akan tepat waktu sampai di kampus kemudian saling melemparkan senyum ke pasangannya.

Menyadari kereta yang mereka naiki penuh sesak, Aomine menarik Kise perlahan menuju pojokan pintu kereta. Dengan tubuhnya yang atletis, ia melindungi Kise agar tidak menerima desakan dari pengguna kereta selain mereka. Namun karena kereta benar-benar penuh sesak, maka kini tak ada jarak diantara tubuh mereka. Sampai-sampai detak jantung Aomine maupun Kise benar-benar terasa satu sama lain. Entah karena habis berlari atau karena kedekatan tubuh mereka.

Merasakan sesuatu, mata Aomine sedikit membelalak. Ia merasakan kedua tangan Kise berada di punggungnya. Ya, Kise tengah memeluknya. Hangat dan begitu nyaman. Aomine maupun Kise dapat merasakan hal itu. Kemudian, Aomine mendekatkan wajahnya ke telinga Kise.

"Kita berada di tempat umum, kau tahu?" bisik Aomine menggoda Kise. Namun bukannya melonggarkan pelukannya, Kise justru makin mempererat pelukannya. "Aku tak peduli" bisik Kise—yang membuat Aomine terkikik pelan. Puas dengan jawaban dari Kise.

Di depan kampus, dengan jemari yang masih bertaut, mereka terhenti.

Kise terdiam. Aomine pun terdiam.

Tarik napas.

Hembuskan.

Tarik napas.

Hembus—

"Baik, kita kembali berbeda marga disini"

"Ya"

"Maafkan aku, Daiki. Percayalah, ini bukan kemauanku. Agensi modelku bilang, kalau masyarakat tahu statusku yang sudah menikah denganmu—"

"Ya, ya, aku sudah mengerti. Aku menerima kondisi itu dan tetap menikahimu, bukan?"

Kise tersenyum.

"Daiki, aku mencintaimu. Sangat"

"Ya, ya. Aku tahu"

-

-

"Hei, kau sudah tahu? Model pendatang baru, Kise Ryouko, pindah ke sekolah ini!"

"Benarkah? Ke Teikou? Ia di kelas mana?"

"Di kelas sebelah. Setelah bel pulang ayo kita kesana!"

Aomine menguap lebar mendengar pembicaraan teman sekelasnya.

Aomine tak peduli dengan apapun. Aomine pun tak peduli dengan pelajaran di sekolahnya sehingga iapun sering tertidur di kelas, membuatnya sering dipanggil ke ruang guru. Namun sekali lagi, Aomine tak peduli. Ia hanya ingin bel pulang sekolah cepat berbunyi dan bermain basket kembali bersama rekan-rekannya.

Bel pulang akhirnya berbunyi.

Aomine dengan sigap membereskan buku-bukunya—yang sebenarnya sama sekali tak ia gunakan, lalu berlari ke luar kelas. Sebelum berlari menuju gedung gym dimana ia biasa berlatih basket, Aomine melirik ke kelas sebelah yang sedari tadi ramai. Disana ia melihat, di tengah kerumunan, berdirilah seorang gadis berkulit putih, berambut pirang ikal, dan tersenyum manis. Begitu mempesona.

Aomine merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun pada akhirnya ia hanya berbalik, mengabaikan apa yang telah terjadi pada dirinya.

-

-

"..minecchi? Aominecchi?"

Aomine mengerjap.

Ia kembali menatap Kise yang berada di sebelahnya, menatap Kise yang baru saja membuyarkan ingatan masa lalunya. Aomine kemudian sadar bahwa ia masih menggenggam jemari Kise dan tersenyum ketika menyadari hal itu.

Ah, dia sudah menjadi milikku.

"Ada apa?"

"Um, Kurokocchi baru saja menelponku. Mata kuliah pertama diadakan di luar kelas, jadi aku harus segera kesana. Kau bagaimana?"

"Hm.. aku ke kelas sekarang"

"Baiklah. Jemput aku di kelas ketika selesai kelas ya, Aominecchi~"

"Ya, ya"

Setelah saling melambaikan tangan, mereka berdua berbalik, saling memunggungi pasangannya masing-masing. Namun Kise tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali berbalik menghadap Aomine.

"Aominecchi~!" mendengar namanya kembali dipanggil, Aomine pun berbalik.

"Huh?"

"AKU MENCINTAIMU, AOMINECCHI~!" seru Kise sambil melambaikan kedua tangannya dan berjingkat-jingkat ringan. Panik, sadar kalau banyak orang di sekitar mereka, Aomine segera berlari mendekati Kise dan menutup mulut Kise dengan telapak tangannya. Mencegah Kise mengatakan hal-hal memalukan lagi di depan umum.

"Kisee—!"

"Ahaha~ Sampai jumpa nanti, Aominecchi~!" seru Kise—setelah Aomine melonggarkan telapak tangannya yang menutup mulut Kise. Kise pun mengecup pipi Aomine cepat, lalu berlari menjauh sambil tersenyum lebar. Aomine tahu, matahari kini memang bersinar terang, namun entah mengapa ia merasa senyum Kise lebih menyilaukan bagi dirinya.

Oh, jatuh cinta membuatnya selalu berpikiran klise.

Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, ia berbalik dan memberikan tatapan tajam pada seluruh orang yang melihatnya. Orang-orang yang di sekitarnya pun segera berbalik setelah bergidik ngeri karena ditatap oleh Aomine. Aomine pun akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju ke fakultasnya, ke kelasnya.

Meski memalukan—sangat memalukan, Aomine tersenyum setelahnya.

Kami masih kuliah dan kami belum mempunyai pekerjaan tetap. Apartemen kami pun apartemen biasa dan sangat sederhana. Meski begitu, kami sangat bahagia.


Uwaaah, untuk siapapun yang menunggu KagaKuro, maaf, karena mengalir begitu saja, pada akhirnya mereka tidak muncul di chapter ini, ehee~

Review selalu ditunggu~ `w`/