Title: Affection
Writer: Shou
Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)
Pairing(s): AoKise. KagaKuro
Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.
Rating: T
Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.
Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.
A/N: Untuk readers diluar sana yang sudah review, hontou ni arigatou gozaimashita! Dan yang belum, diharap review yaa, hehe. Ah, karena sepertinya ada yang salah tanggap, aku akan menjelaskan bahwa huruf italicmenandakan masa lalu, apa yang dipikirkan oleh Aomine serta untuk penekanan ^w^
"Kisee—!"
"Ahaha~ Sampai jumpa nanti, Aominecchi~!" seru Kise—setelah Aomine melonggarkan telapak tangannya yang menutup mulut Kise. Kise pun mengecup pipi Aomine cepat, lalu berlari menjauh sambil tersenyum lebar. Aomine tahu, matahari kini memang bersinar terang, namun entah mengapa ia merasa senyum Kise lebih menyilaukan bagi dirinya.
Menyadari dirinya menjadi pusat perhatian, ia berbalik dan memberikan tatapan tajam pada seluruh orang yang melihatnya. Orang-orang yang di sekitarnya pun segera berbalik setelah bergidik ngeri karena ditatap oleh Aomine. Aomine pun akhirnya kembali melangkahkan kakinya menuju ke fakultasnya, ke kelasnya.
Meski memalukan—sangat memalukan, Aomine tersenyum setelahnya.
Kami masih kuliah dan kami belum mempunyai pekerjaan tetap. Apartemen kami pun apartemen biasa dan sangat sederhana. Meski begitu, kami sangat bahagia.
Chapter 3
Hari ini, begitu cerah.
Matahari kembali bersinar, angin bertiup secara berkala sehingga membuat sebuah lonceng bergemerincing—walaupun tak tahu dari mana asalnya, ia bisa mendengar suara gemerincing itu. Ah, atau memang hanya perasaannya saja mengingat kini Jepang tengah dalam masa musim panas.
Ia mendengus melihat pemandangan yang hanya bisa ia lihat dari jendela kelasnya. Iapun menopang dagunya dengan telapak tangannya, melihat keluar kelas. Ia merasa telah begitu bosan dan enggan mendengarkan dosennya berceloteh tentang pekerjaan mereka di masa mendatang, betapa pentingnya para pemuda Jepang untuk bersikap tangguh, atau tentang masa depan Jepang yang ada di tangan mereka—ya, apapun itu, Aomine sudah sangat enggan mendengarkan celotehan dosennya.
Aomine kini tengah memutar-mutar pulpen yang berada di jemarinya. Melirik sesaat ke dosennya, kemudian kembali menatap pemandangan di luar jendela. Seketika ia tersenyum.
Hari itu pun, langit begitu cerah seperti hari ini.
.
.
Dentuman bola basket terdengar menggema di seluruh gym. Demikian dengan bunyi decit sepatu yang mengiringi dentuman bola basket—begitu berirama.
"Aomine!" seru Midorima, pemuda berkacamata itu yang mencoba menarik perhatian Aomine yang tengah men-dribble bola basket, mencoba melewati semua pemain yang ada di hadapannya. Midorima berharap Aomine mengerti—untuk memberikan pass kepadanya, namun Aomine terus berkelit menghindari pemain-pemain di hadapannya tanpa memberikan bola oranye tersebut kepada Midorima. Dengan beberapa langkah kemudian, Aomine telah memasukkan bola basket ke dalam ring lawan, membuatnya memperlihatkan senyum lebar dan deretan gigi putihnya ke seluruh pemain di gym tersebut.
"Aomine, kau terlalu memaksakan diri. Bagaimana kalau—"
"Ah, maaf maaf. Aku hanya ingin mencoba hasil latihanku saja. Berikutnya aku akan memberikan bola untukmu" jawab Aomine ringan, dan otomatis membuat Midorima mendengus ringan menanggapi jawaban dari teman satu timnya tersebut, lalu membetulkan posisi kacamatanya.
Suara tepukan terdengar, membuat Aomine dan Midorima berbalik melihat siapa yang menepukkan kedua telapak tangannya.
"Mari kita mulai kembali latihannya. Daiki, pastikan kau melihat keberadaan di sekitarmu" ujar Akashi, sang kapten, memberi instruksi yang dijawab dengan anggukan oleh Aomine.
Permainan kembali dimulai. Aomine dan Midorima yang menjadi satu tim dalam latihan ini pun akhirnya memperlihatkan kerjasama mereka. Namun akibat kecerobohan yang dilakukan temannya yang lain, bola basket keluar dari garis lapangan—memberhentikan latihan mereka untuk sementara. Melihat bola basket yang terus menggelinding ke luar gym, Aomine pun berlari kecil untuk mengejarnya.
"Biar aku saja yang mengambilnya" ujar Aomine sambil berlari kecil ke luar gym. Ia mengikuti bola oranye yang menggelinding tersebut sampai akhirnya bola itu berhenti, terantuk sesuatu di depannya. Melihat itu, Aomine segera mengambil bolanya dan bersiap berbalik kembali menuju gym.
Namun seketika itu, ia melihatnya.
Melihat Kise Ryouko berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Berdiri membelakanginya.
Rambut pirang ikal sepunggungnya menari perlahan ditiup angin. Tubuhnya yang tinggi langsing bergerak mengikuti irama tungkainya berjalan. Begitu anggun. Meski hanya melihatnya dari belakang, Aomine tahu, Kise Ryouko adalah gadis yang sangat mempesona.
Dengan matanya yang tetap terpaku pada sosok gadis itu, tanpa sadar, Aomine menggerakkan tangannya yang memegang basket dan melemparnya ke arah si gadis pirang.
"Aduh!" seru si gadis pirang. Sejurus kemudian, ia memegangi kepalanya yang terkena lemparan bola basket—membuat Aomine sadar dan dengan segera berlari mendekati si pirang. "Ah, maaf maaf" balas Aomine sambil mengangkat tangannya—sebuah gestur untuk memohon maaf kepada lawan bicaranya. "Hey, bukankah kau adalah Kise-chan, model terkenal itu?" lanjut Aomine. Namun di hadapannya, Kise hanya menggerutu pelan lalu melemparkan bola basket itu kepada Aomine.
"Thanks!" ujar Aomine kemudian berbalik, berlari kembali menuju gym.
Aomine tersenyum. Ya, meski Kise tak menjawab apapun yang ia katakan, Aomine terlihat begitu puas. Ia tersenyum sambil berharap Kise akan terus menatapnya. Ia tersenyum sembari berharap Kise akan mengikutinya ke dalam gym. Iapun berharap Kise terus mengikutinya. Kemanapun dan sampai kapanpun.
Dan..
.. harapannya pun terkabul.
.
.
Aomine terkikik pelan mengingat masa lalunya. Bibirnya pun terlihat berkedut-kedut menahan senyum, lalu menyenderkan tubuhnya pada punggung kursi di belakangnya. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya kemudian ia memejamkan kedua matanya.
Tarik napas.
Hembuskan.
Tarik napas.
Hembus—
Seketika ia bangkit. Ia segera membereskan semua buku yang ada di atas meja, memasukkannya ke dalam tas ransel beserta semua alat tulisnya. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah pintu kelasnya.
"Aomine! Apa yang kau pikir kau lakukan? Kau mau keluar dari kelasku?" gertak dosen yang melihat Aomine ingin keluar dari kelasnya. Namun tak lama kemudian, bel berbunyi, menandakan bahwa kegiatan kuliah mereka selesai sampai disini.
"Baiklah, Sensei. Kelas sudah selesai. Terima kasih" ujar Aomine sambil berlalu pergi. Ia tak peduli pada dosen di belakangnya yang terlihat masih menggerutu melihat tingkahnya.
Aomine tidak peduli. Sembari membetulkan tas ransel yang ia panggul, Aomine terus berlari, ia terus melangkahkan tungkainya dengan cepat untuk menemui Kise yang berada di fakultas sebelah.
Ya, memikirkan Kise membuat Aomine ingin segera bertemu dengannya. Kise memang sudah bagaikan candu baginya.
Mendengar bel berbunyi, seluruh mahasiswa pun segera membereskan peralatan kuliahnya dan segera keluar dari kelas. Hal itu pun tak luput bagi Kise. Ia kini tengah membereskan semua peralatan kuliahnya dan memasukkannya ke dalam tas pundaknya. Setelah itu, ia segera memanggul tas di pundaknya tersebut dan berbalik kepada Kuroko yang berada di sampingnya.
"Kurokocchi~ Kau langsung pulang?" tanya Kise ramah.
"Hm? Ah, aku ada perlu dengan Kagami-kun" jawab Kuroko. Namun ketika mendengar jawaban dari Kuroko, Kise memicingkan kedua matanya lalu dengan cepat melebarkan kedua matanya, menyadari sesuatu.
"Ara! Jangan-jangan kalian mau kencan? Ii na~ Ah ya! Kau tahu, kemarin aku baru tahu bahwa ternyata Aominecchi membeli majalahku! Maksudku, majalah dimana terdapat aku! Aku senang sekali!" ujar Kise terlihat begitu bahagia. Namun di sampingnya, Kuroko hanya memutar kedua bola matanya, sadar kalau ia terperangkap dalam curahan hati dari sahabatnya ini. Ia hanya diam, berharap Kagami cepat datang dan membawanya keluar dari 'perangkap kecil' milik Kise ini.
"Ne, Kurokocchi, apa kau dengar?" tanya Kise kembali diiringi bibirnya yang kembali mengerucut. Di hadapannya, Kuroko tetap terlihat acuh tak acuh. Tapi tak lama kemudian, Kuroko terlihat sedikit mendongakkan kepalanya, melihat kepada seseorang yang berada di belakang Kise.
"Aomine-kun, bisa kau bawa Kise-chan kembali?" ujar Kuroko yang segera membuat Kise berbalik dan menemui Aomine yang berada di belakangnya. Senyum lebar pun ia tujukan pada Aomine, "Aominecchi!" serunya gembira. Namun begitu ia menyadari apa yang dikatakan Kuroko tadi, ia segera kembali kepada Kuroko dan mencibir, "Kurokocchi, hidoi-ssu~"
"Hah? Apa Kise mengganggumu, Tetsu? Maafkan dia. Dia memang tak berubah dari dulu" tanggap Aomine terhadap ucapan Kuroko—tampak tak memiliki rasa enggan untuk 'berkomplot' dengan Kuroko untuk 'mengerjai' Kise.
"Aominecchi, hidoi-ssu! Ah! Kagamicchi!" mendengar nama Kagami disebut, Kuroko serta Aomine berbalik mencari sosok Kagami. Dan disanalah Kagami berdiri, tengah berjalan mendekati mereka. Si rambut merah hanya mengangkat sebelah tangannya dan berdiri di sebelah Kuroko.
"Yo! Ada apa?"
"Ne, Kagamicchi! Kau tahu, Aominecchi dan Kurokocchi jahat sekali padaku. Kurokocchi tak mau aku ada disini dan Aominecchi menganggap aku mengganggu. Apakah benar begitu, Kagamicchi?" rengek Kise yang spontan 'menggelantungi' lengan si pria rambut merah tersebut. Melihat pemandangan itu, Aomine berdecak dan segera menarik lengan Kise untuk menjauh dari Kagami.
"Kisee—! Ayo pulang" ajak Aomine sambil merangkul pundak Kise. Iapun tak lupa menatap garang ke arah Kagami, seolah-olah memperingatinya agar ia tak lagi berdekatan dengan Kise. Sementara Kise hanya melambaikan tangannya dan tersenyum kepada Kuroko dan Kagami.
Mendapat tatapan garang dari Aomine membuat Kagami berpikir apakah ada kesalahan yang ia lakukan? Ia hanya terdiam heran dan berbalik kepada Kuroko sesaat setelah Aomine dan Kise sudah tak terlihat oleh matanya.
"Oi, Kuroko! Kenapa Aomine menatapku seperti itu?" mendengar Kagami bertanya seperti itu, Kuroko hanya mendengus pelan dan menatap kekasihnya tersebut.
"Aomine-kun cemburu padamu, Kagami-kun"
"Huh? Cemburu kenapa?"
"Karena Kise-kun menyentuhmu" jawab Kuroko yang baru ingat bahwa kekasihnya terkadang bodoh untuk urusan seperti ini. Sama sekali tidak peka. Bahkan Kagami tidak sadar bahwa Kuroko pun sedikit kesal melihat Kise merengek seperti itu pada Kagami. Melihat Kuroko yang tiba-tiba terdiam lalu menghela napas, Kagami menggaruk kepalanya. Ia memutar bola matanya sampai akhirnya ia menggapai kepala Kuroko dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Oke, aku tahu kau juga cemburu. Tapi apakah itu perlu, Kuroko? Kau sudah tahu bahwa di mata Kise hanya ada Ahomine itu, bukan? Dan seharusnya kau pun tahu siapa yang—ehem, ada di mataku" ujar Kagami, berusaha menenangkan kekasihnya. Namun melihat semburat merah yang muncul di wajah Kagami, justru ia yang terlihat tidak tenang dan perlu ditenangkan.
Melihat warna wajah kekasihnya yang berubah, Kuroko hanya bisa tersenyum dan meraih punggung Kagami. Dengan begini, ia merasa begitu tenang. Kuroko merasa begitu sangat bahagia hanya dengan seperti ini—Kagami yang berada di sampingnya. Tak lama kemudian, Kuroko pun melepaskan pelukan mereka.
"Kagami-kun"
"Ya?"
"Kau sudah siap bertemu dengan orangtuaku?"
"Ugh, uhh, yeah. Kurasa" mendengar pertanyaan Kuroko, tiba-tiba Kagami kembali tegang, teringat janjinya untuk menemui orangtua Kuroko. Mereka sudah cukup lama menjalin hubungan, memang sudah saatnya ia menemui keluarga kekasihnya untuk meminta restu.
Restu?
Mendengar kata tersebut saja sudah membuat Kagami malu.
xxx
Mereka berdua menghentikan langkah. Keduanya tengah memandang pintu cokelat sebuah rumah berwarna krem. Setelah saling pandang dan tersenyum, si pirang pun akhirnya membuka pintu yang berada di hadapan mereka.
"Tadaima~!" seru Kise.
"Ara, Ryouko, Daiki! Okaeri~" sapa seorang wanita tengah baya yang segera berlari kecil menghampiri kedua tamunya lalu memeluk si pirang dengan sayang. Ia lalu mengajak kedua tamunya masuk sambil melepaskan celemek yang tengah dikenakannya. Wanita tengah baya tersebut terlihat begitu anggun. Dengan surai pirang dan mata emasnya yang terlihat bercahaya, ia terlihat begitu cantik meski kerut halus sudah mulai muncul di wajahnya. Segala sesuatu yang dimiliki oleh wanita tengah baya itu persis seperti apa yang dimiliki oleh Kise. Oh, baiklah, wanita tengah baya itu pun bernama 'Kise'.
"Okaasan sehat? Bagaimana dengan Otousan?" sapa Aomine sambil memandangi 'reuni kecil' yang berada di hadapannya. Iapun segera duduk di sofa ruang keluarga begitu Okaasan mempersilakannya duduk.
"Kami berdua sehat. Benar-benar sehat! Ah, sebentar, Okaasan akan panggil Otousan dulu" jawab Okaasan lalu berlari kecil menaiki tangga, menuju ruangan yang diyakini adalah tempat dimana Otousan berada. Melihat wanita tengah baya yang begitu ceria itu, Aomine tersenyum sembari melihat istrinya yang telah duduk di sebelahnya.
"Kau benar-benar mirip ibumu. Aku seperti melihat dirimu di masa mendatang, Ryouko" bisik Aomine. Mendengarnya, Kise hanya tersenyum dan balas membisiki Aomine. "Ya, banyak yang berkata begitu. Semua berkata kami sangat mirip. Ah! Kau tidak jatuh cinta pada ibuku, kan?" tanya Kise yang segera dibalas dengan cubitan ringan di pipi Kise. "Tidak mungkin, bodoh. Kalian tetap terlihat berbeda di mataku" jawab Aomine yang disusul dengan senyuman di wajah Kise.
"Ryouko, Daiki! Ayo kesini, kalian belum makan, bukan?" seru Okaasan dari meja makan di sebelah ruang keluarga. Di sisinya, terlihat pria tengah baya sedang berdiri tegap. Tersenyum melihat anak dan menantunya. Ayah Kise tidak bisa disebut sebagai pria yang begitu tampan. Bisa dibilang, secara fisik ia tak sebanding dengan Ibu Kise yang terlihat begitu cantik dan sangat mempesona. Rambut hitam legam dan matanya yang teduh—meski ditutupi dengan kacamata, membuat Ayah Kise memiliki pesonanya sendiri.
"Okaasan, apa ini? Sudah kubilang Okaasan tak perlu menyiapkan apa-apa untuk kami. Kami jadi merepotkan.." ujar Kise ketika melihat banyak sekali hidangan mewah di meja makan. Ia sebenarnya tak suka jika orangtuanya terlalu melebihkan segala sesuatunya jika ia dan Aomine datang. Ia tak mau terlihat seperti sepasang suami istri yang belum mapan mampir ke rumah orangtuanya untuk meminta makan. Kise benci berpikir begitu. Melihat raut wajah anak gadis satu-satunya, sang ibu hanya tersenyum dan mengelus surai pirang anaknya.
"Apa salahnya jika orangtua ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya? Dan Okaasan mempersiapkan ini semua bukan untuk memanjakan kalian. Semua ini untuk kebahagiaan kami sendiri"
"Kebahagiaan kalian?"
"Ya, kami bahagia jika melihat kalian bahagia. Apakah itu salah?" tanya Okaasan lembut. Membuat Kise menunduk malu, isak tangis pun terdengar—membuat Aomine mendengus pelan dan membelai surai pirang itu lembut. Lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
Melihat pemandangan di hadapan mereka, Otousan merangkul pundak Okaasan lembut. Orangtua Kise kini merasa mereka adalah orangtua yang paling berbahagia—melihat gadis kecil mereka sudah memiliki orang yang bisa menggantikan tugas mereka.
Tugas sebagai seseorang yang bisa membahagiakan putri mereka.
xxx
"Jadi.. kapan kalian berencana memberi kami cucu?"
Aomine tersedak. Kise menjatuhkan sumpitnya.
"O-Otousan! Otousan mengejutkanku!" seru Kise dengan semburat merah mewarnai wajahnya. Iapun kini tengah menuangkan air minum, memberikannya pada Aomine yang berada di sampingnya—masih terbatuk-batuk akibat tersedak.
"Kenapa? Otousan salah apa?" tanya Otousan dengan raut wajah tak bersalah. Oh, memang ia tak bersalah. Apa salahnya menanyakan 'keberadaan' cucu kepada anaknya yang sudah menikah?
"Benar, Ryouko, Daiki! Kenapa reaksi kalian seperti itu? Oh, ayolah~ Okaasan tak sabar menggendong cucu pada usia muda! Umur kalian memang masih dua puluh, namun apa salahnya menjadi orangtua muda?" sahut Okaasan membuat Kise menunduk malu, menyembunyikan wajah merahnya.
"Bagaimana, Daiki? Apa rencanamu?" tanya Otousan dengan tatapan lurus kepada menantunya. Dilihat seperti itu, mau tak mau Aomine pun memberikan jawabannya.
"Ta-Tapi, Otousan, bagaimana dengan pekerjaan Ryouko sebagai model? Kurasa segalanya akan menjadi rumit jika Ryouko—ehem, hamil" jawab Aomine gugup. Semburat merah pun menyusul timbul di wajahnya—dan, Aomine bersyukur akan kulit gelapnya sehingga semburat itu tak begitu terlihat.
"Well, kalau begitu pernikahan kalian harus secara resmi diumumkan. Toh Otousan rasa pernikahan kalian nantinya akan tercium juga oleh publik. Bagaimana?" tanya Otousan, dari suaranya, terdengar sedikit nada menggoda.
"Ba-Bagaimana a-apanya?" tanya Kise, tergagap.
"Memberikan kami cucu~" jawab Okaasan riang.
"Ka-Kami—"
"Akan kami pertimbangkan" ujar Aomine cepat, memotong kalimat Kise. Terkejut atas jawaban Aomine, Kise membelalakkan kedua matanya. Wajah yang sebelumnya sudah dihiasi semburat merah kini makin terlihat merah. Akhirnya ia hanya menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
Kise sama sekali tak menyangka Aomine akan memberi jawaban seperti itu.
xxx
Setelah bersilahturahmi dengan orangtuanya, Kise mengajak Aomine pulang—mengingat kereta terakhir akan segera berangkat jika mereka tak segera pulang ke apartemen mereka. Dengan pelukan hangat dari kedua orangtuanya, Kise berpamitan diiringi dengan Aomine yang tengah membungkuk hormat kepada orangtuanya.
Pukul 11.00. Disinilah, di apartemen sederhana, mereka tengah berada.
"Daiki~" panggil Kise—yang baru saja selesai mandi, sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk. Sementara pria yang tengah duduk di sisi meja—yang ia panggil, tetap tak menanggapi panggilannya.
"Daiki~ Daiki~!" ulang Kise.
"Hm?" tanggap Aomine akhirnya. Meski ia tetap tak menatap Kise—tengah sibuk membalik halaman demi halaman majalah yang sedang ia baca. Tangannya pun tengah menopang wajahnya, ia terlihat begitu larut ke dalam majalah yang ada di hadapannya. Melihat suaminya tak bergerak untuk memperhatikannya, Kise mendekati Aomine dan duduk di sisi meja di hadapan suaminya. Iapun segera melirik ke majalah yang tengah dibaca Aomine.
"Uhh, Daiki?"
"Ya?"
"Kenapa kau memperhatikan sosokku di sebuah majalah jika kau bisa memperhatikan sosokku secara langsung?" tanya Kise yang akhirnya membuat Aomine berpaling dari majalahnya dan menatap balik Kise.
Mereka berdua terdiam. Saling memandang.
Tak lama kemudian, Aomine menutup majalahnya dan menarik bibirnya, menampakkan sebuah senyuman. Seketika Kise bergidik, merasa ada yang salah dengan senyum Aomine.
"Hmm.. Kau benar juga.."
"Be-Benar, kan? Kalau begi—ah!" Kise terkejut. Aomine bangkit dari duduknya dan kini ia tengah menggendong Kise—bridal style.
"Daiki! A-Apa yang kau lakukan?" seru Kise, semburat merah pun mulai muncul di wajahnya.
"Ini yang kau mau, bukan?" tanya Aomine, namun Kise hanya menunduk malu sebagai jawabannya. Sambil menggendong Kise, Aomine pun melangkahkan tungkainya menuju kamar mereka.
Dan pintu kamar pun tertutup.
Kyahaa~
Akhirnya chapter 3 selesai diantara waktuku mengerjakan tugas UAS yang bahkan BELUM SELESAI! /jedokinpala
Entah mengapa, aku kurang puas akan chapter ini. Sepertinya ada yang kurang =3=
Meski begitu, review dari kalian—saran maupun kritik, benar-benar kutunggu sehingga aku bisa lebih semangat mengerjakan fanfic ini~! ^O^/
