Title: Affection
Writer: Shou
Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)
Pairing(s): AoKise. KagaKuro
Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.
Rating: T
Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.
Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.
A/N: Uhm, bagi yang menunggu konflik atau greget, mohon bersabar. Dalam chapter ini masih menjelaskan masa lalu mereka. Tapi, yeah, aku sudah memberikan beberapa hints untuk chapter ke depannya. Dipersilakan untuk menebak-nebak dahulu, hehe.
"Uhh, Daiki?"
"Ya?"
"Kenapa kau memperhatikan sosokku di sebuah majalah jika kau bisa memperhatikan sosokku secara langsung?" tanya Kise yang akhirnya membuat Aomine berpaling dari majalahnya dan menatap balik Kise.
Mereka berdua terdiam. Saling memandang.
Tak lama kemudian, Aomine menutup majalahnya dan menarik bibirnya, menampakkan sebuah senyuman. Seketika Kise bergidik, merasa ada yang salah dengan senyum Aomine.
"Hmm.. Kau benar juga.."
"Be-Benar, kan? Kalau begi—ah!" Kise terkejut. Aomine bangkit dari duduknya dan kini ia tengah menggendong Kise—bridal style.
"Daiki! A-Apa yang kau lakukan?" seru Kise, semburat merah pun mulai muncul di wajahnya.
"Ini yang kau mau, bukan?" tanya Aomine, namun Kise hanya menunduk malu sebagai jawabannya. Sambil menggendong Kise, Aomine pun melangkahkan tungkainya menuju kamar mereka.
Dan pintu kamar pun tertutup.
Chapter 4
Aomine Daiki membuka kedua matanya.
Mengerjapkannya beberapa kali sampai kedua matanya terbiasa dengan cahaya, setelah itu ia bangkit untuk duduk di atas ranjangnya. Ia menggaruk kepalanya lalu terdiam sejenak—mengumpulkan semua memori di kepalanya. Mengingat sesuatu, ia menoleh ke arah sang gadis pirang—yang hinggap di memorinya itu—berada.
Gadis pirang itu terlihat cantik sekali. Kedua matanya terkatup, menyembunyikan kedua manik emas di baliknya. Namun keindahan kedua mata itu tergantikan oleh bulu mata halus nan lentik yang tentu menyempurnakan kecantikannya. Sementara surai-surai pirangnya tergeletak begitu saja di atas bantalnya, beberapa helainya pun menutupi sebagian wajah putihnya. Tubuhnya naik-turun secara perlahan, napasnya sangat teratur. Bahunya pun terlihat menyembul dari balik selimut, memperlihatkan sedikit putih halus tubuhnya.
Kedua manik biru tua itu akhirnya beralih ke wajah sang gadis. Aomine terdiam memandangnya, iapun menumpukan tangan kirinya di atas bantal dan menyanggah kepalanya. Tangannya yang bebas terulur, jemarinya membelai lembut surai pirang Kise—memainkannya perlahan. Aomine pun memindahkan surai-surai yang menutupi wajah Kise ke belakang telinga, membuat seluruh wajah Kise terlihat dalam pandangannya.
Aomine tersenyum. Tertegun pada pemandangan yang ada di hadapannya.
Ah, tak ada yang lebih membahagiakan dari ini semua.
"Uhm.. Dai..ki?"
Aomine mengerjapkan kedua matanya mendengar Kise memanggil namanya—yang membuatnya menghentikan kegiatan 'mengagumi Kise'-nya.
"Ah, aku membangunkanmu?"
"Tidak, tak apa. Jam berapa sekarang?" tanya Kise—sembari mengerjapkan kedua matanya—yang sontak membuat Aomine mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding di kamar mereka. "Jam delapan. Kau ada acara hari ini?" tanya Aomine yang segera dijawab dengan anggukan oleh Kise. "Iya, ada pemotretan di Harajuku jam sebelas. Ah, aku harus siap-siap" lanjut Kise. Iapun segera bangkit dari tidurnya.
Namun seketika Kise berhenti karena mengingat sesuatu. Ia kembali merekatkan selimut ke tubuhnya dan melirik ke arah Aomine yang tengah menatapnya.
"Uhm, Daiki? Bisa berbalik?" pinta Kise malu-malu. Aomine yang mengerti akan apa yang dimaksudkan oleh Kise hanya terkekeh dan bangkit dari ranjangnya. Iapun mengalihkan pandangannya dari Kise dan melangkahkan kedua tungkainya ke luar kamar setelah mengambil celana jeans selututnya.
"Aku tunggu di meja makan" ujarnya sebelum akhirnya pintu kamar kembali tertutup.
xxx
Harajuku. Pukul 10.00.
Aomine melirik jam tangannya sekilas, menyadari mereka datang sejam lebih cepat. Ia lalu mengedarkan pandangan ke sekitarnya, mencari sebuah tempat yang tepat untuk mereka. Merasa sudah menemukannya, Aomine kembali memandang Kise yang tengah merangkul lengannya.
"Ryou—ehem, Kise, sebaiknya kita ke restoran disana. Kita baru makan roti, jadi sebaiknya kita kesana" ajak Aomine yang sontak membuat sebuah senyuman merekah di wajah Kise. "Iya!" jawab Kise sambil mengeratkan rangkulannya. Mereka pun berjalan menuju restoran di seberang jalan.
Seiring mereka berjalan berdampingan, semakin banyak pasang mata yang memandang mereka. Memandang mereka dari atas sampai ke bawah, tak sedikit pula yang diselingi bisik-bisik iri. Pria maupun wanita, semua terpikat akan kecantikan Kise, tak dapat pula mereka mengalihkan pandangannya dari Kise. Kise bagai menghisap seluruh pandangan yang ada di sekitarnya.
Aomine mengesah.
Ia tahu betul banyak pasang mata yang memandang mereka—memandang Kise lebih tepatnya. Aomine berusaha mengabaikannya—namun ia tak bisa, terlebih banyak sekali pasang mata pria yang mengeratkan pandangannya kepada Kise. Kise-nya.
Memikirkan hal itu tentu membuat Aomine mengepalkan telapak tangan yang berada di balik saku jeans-nya.
"Ah, ano, Kise Ryouko-san? Bisa berfoto bersama?" pinta seorang gadis bersurai pendek. Ia menengahi seorang teman gadis dan teman lelakinya. Mereka tersenyum ceria ke arah Kise, berharap Kise mengabulkan permintaan mereka.
"Tentu saja~" jawab Kise ringan. Senyum model pun terpampang di wajahnya seraya melepaskan kaitan lengannya pada lengan Aomine, mendekati kumpulan fans-nya. Aomine kembali mengesah, namun ia hanya pasrah dan sedikit menjauh dari mereka—memberikan mereka kesempatan untuk berfoto bersama Kise. Sekali lagi, Kise-nya.
Aomine bersender pada dinding sebuah toko, mengaitkan kedua lengannya di depan dada. Pandangannya tetap terkunci pada sosok Kise, sekaligus mengamati segala macam pandangan di sekitarnya yang tertuju pada Kise. Jika seorang wanita, ia merasa tak ada masalah. Namun jika seorang pria.. Oh, tentu Aomine akan menatap pria itu garang. Aomine benar-benar tak suka ada pria lain yang menaruh pandangannya pada Kise.
Pandangan Aomine akhirnya kembali terfokus pada Kise. Sekarang, Kise tengah berganti-ganti pasangan untuk berfoto. Pertama dengan si gadis bersurai pendek yang tadi mengajak Kise untuk berfoto bersama. Kedua dengan gadis bersurai hitam panjang yang sedikit lebih tinggi dari Kise. Dan ketiga..
Aomine kembali mengepalkan kedua tangannya dan memicingkan kedua matanya.
Pemuda teman dari kedua gadis itu kini tengah berfoto dengan Kise. Dan dengan santai menaruh lengannya di pundak Kise, merangkulnya dengan mesra. Kise terlihat sedikit terkejut, namun ia tetap menampakkan senyum modelnya, tetap menjaga image-nya sebagai model cantik nan baik hati. Namun tak begitu dengan Aomine. Ia akhirnya mendekati Kise, menatap garang kepada pemuda tersebut, dan merangkul pundak Kise untuk mendekati tubuhnya.
"Sudah selesai, Kise?" tanya Aomine—berusaha bernada dan bersikap sesopan mungkin. Kise hanya mengangguk sebagai jawabannya. Gadis-gadis itupun mengikuti gestur Kise. Namun pertanyaan Aomine yang terkesan sopan tersebut tidak terdengar demikian oleh si pemuda. Pemuda tersebut menundukkan kepalanya, tak mau bertemu pandang dengan kedua mata biru tua yang tengah mengintimidasinya. Ia tetap menunduk sambil mengikuti teman-temannya yang berjalan menjauh dari Aomine dan Kise.
Aomine mendecih.
"Hm? Ada apa, Aominecchi?"
"Aku tak suka ada pria lain yang menyentuhmu, Kise" aku Aomine yang segera disusul dengan suara Kise yang terkikik pelan. "Kenapa kau tertawa?" tanya Aomine kemudian, tampak risih dengan tanggapan Kise yang seperti meremehkan dirinya.
"Oh, ayolah Aominecchi~ Aku seorang model dan tak boleh menolak kasar fans-ku. Akupun tak menyangka ia akan merangkulku. Lagipula.." Kise menghentikan ucapannya. Ia kembali menoleh pada gerombolan fans-nya tadi yang tengah melirik ke arahnya. Melirik ke arah Aomine lebih tepatnya. "Lihatlah, Aominecchi. Para gadis itu kini tengah menatapmu. Sebagai seorang gadis, aku tahu apa yang mereka pikirkan tentangmu—dan hal itupun membuatku kesal" lanjut Kise dengan menggembungkan kedua pipinya.
Aomine menghela napas.
"Kisee—, tapi mereka tak menyentuhku, bukan?"
"Ukh~ tapi tetap saja~"
"Kisee—"
"Ah, begini saja. Karena kita impas, jadi, maafkan aku ya~?" rayu Kise dengan tatapan manisnya. Kedua mata emasnya menengadah menatap Aomine. Senyuman yang tentu berbeda dengan 'senyuman model' itupun tertuju padanya. Oh tentu, dengan pemandangan yang ada di hadapannya itu, Aomine tak akan bisa menjawab 'tidak'. Aomine hanya mendesah ringan lalu melingkarkan tangannya di pinggang Kise—merekatkan Kise ke tubuhnya.
"Baiklah. Tapi kau tetap berhutang satu ciuman denganku, Kise"
xxx
"Kise-chan, coba hadap kesini"
"Kise-chan, tersenyumlah"
"Kise-chan, peluklah ini"
Arahan demi arahan sang fotografer terdengar. Begitupula dengan suara shutter kamera yang lensanya tertuju pada Kise. Kise kini sedang berpose menuruti semua perintah yang ia dengar. Tersenyum manis khas model, berputar perlahan—membuat pakaian yang ia kenakan menari dengan lembut, atau menatap tajam ke arah lensa kamera berada.
Bagi Aomine, ke semuanya adalah dunia yang tak ia kenal. Dunia yang Aomine kenal adalah dunia dimana ke semuanya adalah tentang basket. Yang ia tahu adalah bagaimana cara men-dribble, cara memasukkan bola basket ke dalam ring lawan, atau bagaimana memenangkan sebuah pertandingan basket. Meski begitu, Aomine merasa tak ada salahnya mengenal dunia Kise. Lagipula Kise pun tak keberatan mengenal dunia Aomine.
-
-
"Aominecchi, sekali lagi! Ayo one on one lagi~!" pinta Kise menggema di seluruh gym yang lengang. Peluh keringat sudah meluncur deras di wajahnya, napasnya pun sudah tersengal-sengal dengan hebatnya, namun Kise tetap tak mau menyerah. Ia kembali berlari mengejar bola oranye yang tengah menggelinding di bawah ring, membawanya kembali ke hadapan Aomine.
"Hah? Jangan bercanda, Kisee—! Kita sudah one on one selama lima jam. Sudah larut, ayo pulang" keluh Aomine sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Iapun segera mengatur napasnya agar stabil kembali.
"Ayolah, Aominecchi~ Sekali saja, ya? Ya? Ya?"
"Tidak"
"Aominecchi~ Ya? Ya~?"
"Tidak"
"Aominec—"
"Sudah larut, Kisee—, Seorang gadis tak boleh pulang larut malam!"
"Ukh.. Baiklah.." Kise menyerah. Ia menaruh bola oranye tersebut ke dalam keranjang lalu kembali ke bench dimana ia menaruh semua barang-barangnya. Kise duduk di bench sambil mengatur napasnya, iapun mengambil handuk putih untuk mengelap peluhnya. Rambut panjang ikal yang tadi ia ikat pun ia gerai, membiarkan surai pirangnya kering tertiup angin—karena peluh membuatnya sedikit basah. Setelah dirasa napasnya sudah membaik, Kise pun memasukkan semua barangnya ke tas dan memanggul tasnya tersebut.
"Baiklah, aku pulang. Sampai besok, Aominecchi~!"
"Tunggu! Aku akan mengantarmu pulang" seru Aomine yang sontak membuat kedua tungkai Kise berhenti melangkah.
"Eh?"
"Sebentar, aku bereskan semuanya dulu"
"Ti-Tidak perlu repot-repot, Aominecchi. Aku bisa pulang sendiri, tak usah—"
"Yak, sudah selesai. Ayo pulang" ujar Aomine sambil mengamit tasnya dan ia sampirkan di pundaknya. Tungkainya pun tengah membawanya ke luar dari gym.
Kise hanya diam.
Orang lain bilang, Aomine adalah pemuda paling kasar yang pernah mereka temui.
Orang lain bilang, Aomine adalah pemuda paling angkuh yang pernah mereka temui.
Dan orang lain bilang, mata Aomine adalah mata yang paling mengerikan yang pernah mereka temui.
Namun mengapa Kise tak merasakan hal itu semua?
Kise menyukai Aomine yang bersikap apa adanya seperti itu.
Kise menyukai Aomine sifat Aomine yang percaya diri seperti itu.
Dan
Kise menyukai mata tajampenuh integritas milik Aomine yang seperti itu.
Terlebih lagi dengan sikap Aomine terhadapnya seperti sekarang. Membuat Kise hanya dapat terdiam terpaku. Terlihat tenang, namun sebenarnya pundaknya bergetar hebat. Terlihat datar, namun sebenarnya deru jantung di dadanya sudah sangat sulit untuk dikendalikan. Tak tertinggal, napasnya pun tercekat di tenggorokan, membuatnya sulit bernapas dan lidahnya terasa begitu kelu.
Kise hanya memandang punggung Aomine—yang telah berjalan mendahuluinya. Ia menggigit bibir bawahnya. Mengambil napas, lalu dihembuskan. Matanya terpejam sesaat, sampai akhirnya ia melangkahkan tungkainya untuk mengejar sosok Aomine yang telah menambah jarak dengannya.
Ya..
Kise menyukai Aomine.
xxx
"Aominecchi, bisakah kita mampir ke Convenience Store dulu? Ada yang harus kubeli" izin Kise. Setelah mendapat anggukan tanda setuju dari Aomine, Kise pun melangkahkan kedua tungkainya ke dalam Convenience Store dengan riang. Di belakangnya, Aomine hanya mengikuti langkah Kise. Melihat Kise yang berjalan ke arah counter makanan ringan berada, Aomine hanya tersenyum dan melangkahkan kakinya ke counter majalah. Ia ingat majalah Mai-chan terbit hari ini.
Aomine membalik halaman demi halaman majalah dewasa yang berada di tangannya. Menyadari sesuatu, ia menautkan kedua alisnya. Aneh, ia merasa sama sekali tidak tertarik dengan majalah yang selalu ia tunggu-tunggu itu. Dibaliknya kembali halaman demi halaman, namun Aomine tetap menemukan dirinya tak tertarik sama sekali dengan Mai-chan. Aomine sempat terdiam sesaat, namun pada akhirnya ia mengembalikan majalah itu pada tempatnya, tak jadi membelinya meski ia telah rela menabung sisa uang jajannya.
"Aominecchi~! Aku sudah selesai~ Ayo pulang-ssu~!" seru Kise riang sembari melambaikan kedua tangannya. Melihat Kise di hadapannya, Aomine merasa dadanya berdesir—sebuah desiran yang begitu menyenangkan. Aomine hanya tersenyum tipis dan menggaruk kepalanya yang tak gatal ketika mendekati Kise. Mereka pun kembali berjalan berdampingan.
Aah, aku tahu apa alasannya..
"Nih, Aominecchi. Tanda terima kasihku karena kau mau mengantarku pulang—ehem, lagi" ujar Kise sambil mengulurkan tangannya kepada Aomine, memberinya sebatang es krim favorit Aomine. "Thanks" jawab Aomine, segera membuka bungkus es krimnya dan mengisapnya cepat. Begitu pula dengan Kise.
"Ne, Aominecchi~"
"Huh?"
"Aku belakangan ini berpikir, rasanya akan enak sekali ya kalau sebenarnya aku terlahir sebagai lelaki"
Aomine tersedak oleh es krimnya.
"B-Bodoh! Apa maksudmu?!" pekik Aomine setelah berhasil mengeluarkan es krim dari mulutnya. Ia benar-benar terkejut akan apa yang telah diutarakan oleh Kise, apapun alasannya.
"Habisnya~ Kalau aku adalah lelaki, aku bisa satu tim denganmu, Aominecchi. Kita bisa terus berlatih kapan saja tanpa harus menunggu waktu latihan inti kita berakhir. Selama ini aku harus ikut latihan dengan tim basket putri, sementara kau ikut tim basket putra, bukan?" jelas Kise. Aomine hanya mengerutkan dahinya lalu memicingkan matanya kepada Kise.
Oi, oi, Kisee—, aku sudah bersyukur kau terlahir seperti ini.
"Jangan bercanda, Kisee—" tanggap Aomine yang kembali mengisap es krimnya dengan tenang. Mencoba tak mempedulikan akan apa yang ia anggap sebagai omongan iseng Kise.
Kalau kau lelaki, perasaanku padamu ini akan menjadi tabu. Aku bersyukur kau adalah seorang perempuan, Kise.
"Ah, tapi kalau aku lelaki, aku tak bisa menyukaimu ya, Aominecchi? Haa~ syukurlah aku terlahir sebagai perempuan~!" sekali lagi, Aomine merasa es krimnya tersangkut di tenggorokan. Ia terbatuk untuk beberapa kali sampai akhirnya berbalik menghadap Kise—yang masih terlihat santai saja meski ia sudah mengatakan sesuatu yang—ukh, membuat deru jantung Aomine berpacu lebih cepat.
"…"
"…"
"Ki-Kise?"
"A-AH! Aku harus segera pulang, ha-ha-ha. Baiklah Aominecchi, terima kasih sudah mengantarku, sampai besok-ssu~!" seru Kise yang segera berlari menjauh dari Aomine. Sementara Aomine masih terdiam, mencerna apa yang baru saja Kise katakan padanya. Es krim di tangannya sudah mulai mencair. Lelehannya mengalir ke jemarinya, mengikuti jalur-jalur ototnya yang sedikit menyembul.
Senyuman pun pada akhirnya merekah di wajahnya.
xxx
Pagi hari yang cerah, ia memutuskan untuk bangun dan berangkat lebih cepat ke sekolahnya. Namun bukan menuju kelasnya, ia menuju gym yang berada di halaman belakang sekolah. Ia berlari kecil menuju gym. Namun ketika sudah mendekati gym, ia justru memperlambat langkahnya. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya memanas. Ia hanya membatu ketika telah sampai di depan pintu gym yang sedikit terbuka.
Tarik napas.
Hembuskan.
Baiklah, ia bisa melakukan ini.
Kise melongokkan kepalanya ke pintu gym, berusaha mengintip dari balik celahnya. Mata emasnya melirik ke kanan, lalu ke kiri. Baiklah, belum ada yang datang. Kise bisa bersiap-siap dulu sebelum ia datang. Tim basket hari ini dijadwalkan ada latihan pagi, karena itu ia datang pagi. Ah, tidak. Bukan berarti ia harus datang sepagi ini, bahkan ketika cahaya matahari baru sayup-sayup terlihat. Kise hanya ingin.. menenangkan dirinya disini, dengan men-dribble bola basket dan melakukan beberapa shoot. Mendengarkan dentuman bola basket dan decitan sepatu basket membuatnya tenang. Ya, sempurna—
"Kise?"
–atau tidak. Mendengar suara rendah itu menggema di seluruh ruangan gym yang begitu lengang, jantung Kise kembali berdetak kencang. Dadanya berdesir hangat dan wajahnya kembali memanas. Tak lupa, kedua kakinya pun secara tiba-tiba kehilangan kekuatannya—membuat Kise sedikit goyah ketika berdiri.
Oh, bagaimana ia bisa lupa kalau pintu gym tadi sudah terbuka? Sudah pasti ada seseorang yang mendahuluinya!
"A-Ah, Aominecchi. Ohayou-ssu~" sapanya gugup pada pemuda berkulit gelap yang kini tengah menghampirinya. Pemuda itu menghampirinya sembari men-dribble bola basket di tangannya—menciptakan sebuah gema dari dentuman bola basket. Suara yang seharusnya dapat membuat Kise tenang, namun tidak untuk kali ini.
"Kau datang pagi sekali, Kise"
"Y-Ya, begitulah. Ha-ha-ha" jawab Kise terbata. Melihat Aomine yang makin mendekatinya, Kise hanya bisa merutuk dalam hatinya. Oh, terkutuklah Aomine yang tiba-tiba menjadi rajin datang lebih cepat hari ini! Tak lupa Kise mengutuk tubuh tegap dan proporsional Aomine yang makin mendekatinya, mengutuk segala sesuatu yang ada pada di diri Aomine yang membuat Kise makin merasa kehilangan kekuatannya untuk berdiri dengan mantap.
Aomine hanya melirik sesaat untuk mengetahui ada yang tidak beres dengan Kise. Aomine tahu, Aomine tahu pada saat seperti apa Kise kehilangan dirinya sebagai gadis secerah matahari. Ah, Aomine ingat betapa menyilaukannya Kise ketika wajah gadis itu memantulkan sinar matahari senja. Membuat dada Aomine sesak karenanya.
Dentuman bola basket, bunyi decit sepatu, deru napas—semua menggema di gym yang begitu lengang, mengisi kesunyian yang diakibatkan dua insan yang saling tak membuka suaranya. Aomine tetap bermain dengan basketnya, sementara Kise masih terdiam, memalingkan wajahnya ke lantai gym, memikirkan sesuatu.
"Ano, Aominecchi. Semalam, a-aku hanya bercanda, ha-ha" ujar Kise, memecah kesunyian di antara mereka. Aomine berbalik sesaat, menatap wajah Kise yang masih menatap lantai gym.
"Tentang kau yang terlahir sebagai lelaki?" tanya Aomine sambil lalu, sambil men-dribble bola basketnya dan melemparnya ke ring—yang tentu saja masuk.
"Ya. Ah, tapi begini saja lebih baik" jawab Kise setengah berbisik, merasa sedikit lega karena Aomine memfokuskan ingatannya pada pernyataan itu, bukan pernyataan—ehem, cintanya yang tak langsung. Aomine kembali berbalik pada Kise, mengabaikan bola basketnya yang tengah menggelinding di bawah ring basket.
"Huh? Mengapa? Bukankah sebelumnya kau terlihat kesal dengan kodratmu?"
"Ah, tidak. Kurasa begini lebih baik"
"Hee~ Begitukah? Lalu apa alasanmu mengubah pemikiranmu itu?" tanya Aomine sembari menyeka peluh yang mengalir di dahinya—dengan kaos yang dikenakannya.
"Uuh~ Tidak. Bukan apa-apa"
Kesunyian kembali merajai gym. Kise tetap menatap lantai gym di bawahnya, sambil memainkan ujung baju seragamnya. Manik emasnya melirik ke kanan, lalu dengan ragu melirik ke kiri. Terlihat begitu gugup menyembunyikan fakta sebenarnya. Sementara Aomine masih menyeka dahinya serta mengatur napasnya yang memburu. Ia memandang Kise, memerhatikannya dari atas hingga ke bawah, mencoba menelisik apa yang tengah dipikirkan oleh gadis yang berada di hadapannya. Menyerah, Aomine menggaruk kepalanya—mencoba mengeluarkan keputus-asaannya atas gerak-gerik yang diberikan oleh Kise.
"Begini saja Kise, bagaimana kalau kita buat kesepakatan?" ujar Aomine akhirnya, memecah kesunyian diantara mereka. "Eh? Kesepakatan?" tanya Kise, kini kedua manik emasnya menatap manik biru tua milik Aomine.
"Ya. Kau tak perlu terlahir sebagai lelaki—tak perlu mengubah kodratmu, kau tetap bisa bermain basket denganku, kita tetap mempunyai waktu untuk one on one, dan kau bisa menjadi pacarku. Bagaimana?"
"Ide yang bagus, Aominecchi~!"
"Yeah, aku tahu ideku selalu bagus"
"..."
"…"
"EEH?!" pekik Kise menggema di dalam gym. Aomine sedikit mengerutkan dahinya, terkejut atas lengkingan yang menusuk ke dalam telinganya. Di wajah Kise, kini telah muncul semburat merah—yang terlihat sangat kentara pada kulit porselennya. Kedua tangannya diangkat dan diturunkan bergantian—terlihat gugup dan tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dan tak perlu dipertanyakan lagi seberapa liarnya jantung Kise berpacu. Oh, tentu begitu pula dengan jantung Aomine.
"Uhm, ba-bagaimana, Kise?" tanyanya setelah merasa jantung liarnya berhasil ditaklukkan.
"Eh Eeh? A-Aku.. EEH? Aominecchi.. kau..?"
"Huh? Aku kenapa?"
"Kau.. Memang kau menyukaiku?" Aomine mengangkat kedua alisnya lalu segera menautkannya. Apa selama ini perhatiannya kepada Kise kurang? Atau waktu mereka untuk one on one selama ini masih kurang banyak? Maksud Aomine, bagaimana si bodoh ini tidak tahu bahwa dirinya menyukai si pirang?!
Aomine mengacak rambutnya, merasa frustasi. Momoi bilang, kalau Aomine ingin memberi sinyal rasa sukanya pada Kise, ia harus lebih memerhatikan Kise, bersikap sangat baik padanya, meladeni tantangan one on one dari Kise, atau mengantarnya pulang setiap hari.
Tunggu, apa Satsuki salah?
"Kau pikir kenapa selama ini aku mau meladenimu, hah?!" pekik Aomine akhirnya, sudah benar-benar frustasi akan situasi seperti ini. Oh, Aomine rela dihukum Akashi untuk lari keliling sekolah sebanyak dua puluh kali daripada harus menghadapi situasi dimana pernyataan cintanya berakhir karena kebodohan dari gadis yang ia sukai!
"Eh.. ta-tapi.. Kukira kau menyukai Kurokocchi.." ujar Kise berbisik, masih dengan wajah yang merah membara—yang kini tengah ia tutupi setengah dengan punggung tangannya. Aomine hanya berdecak dan menggaruk telinganya. Oh ayolah, Kuroko hanya pasangan latihan Aomine, tidak lebih. Tak tahukah Kise akan hal itu? Apakah Kise tak tahu dari drama roman picisan yang sering ia tonton?—bahwa perasaan Aomine kepada Kuroko tidak lebih dari sekedar partner latihan?
Ah, Aomine ingat sesuatu!
Aomine melangkahkan tungkainya perlahan, mendekati Kise. Melihat itu, Kise sempat terlihat ingin melangkahkan kakinya mundur, namun begitu biru tua itu menatap tajam ke warna emasnya, Kise membatu. Warna emasnya tak bisa lepas dari si biru tua. Kise merasa si biru tua mengisap seluruh pandangannya, mengisap saraf-saraf dalam diri Kise sampai ia tak bisa bergerak. Kise merasa kedua tungkainya melemas, hampir terjatuh di lantai kalau Aomine tak segera meraih bahunya. Aomine mengangkat jemarinya, menangkup wajah cantik Kise dalam genggamannya. Mendekatinya perlahan, membuat jantung mereka kembali liar. Benar-benar tak dapat dikendalikan. Di saat Kise berpikir bibir Aomine akan bertemu dengan bibirnya, Aomine justru beralih ke telinga Kise dan berbisik dengan suara amat rendah disana.
"Kise, aku menyukaimu"
Seketika itu, Kise sudah benar-benar tidak merasakan kedua tungkainya. Aomine yang tak siap untuk menangkap Kise, membuatnya terduduk lemas di lantai gym. Kedua matanya melebar, air mata mulai menggenang disana. Suara isakan pun terdengar tak lama setelahnya. Aomine mendengus. Aomine berjongkok di hadapan Kise, ia menangkup punggung kepala Kise, membawanya ke dalam pelukannya. Aomine mengelus ubun Kise dengan lembut, serta memainkan surai pirang ikal milik Kise.
"A-Aku pikir.. kau tak menyukaiku. Kau sangat mempesona, kau sangat tampan, dan kau sangat keren, Aominecchi.." aku Kise di sela-sela isak tangisnya. Aomine mendesah dan memutar kedua bola matanya. Tak tahu apakah ia harus senang atau bingung mengingat Kise masih tenggelam dalam tangisannya.
"Aku juga menyukaimu, Aominecchi. Sangat" jawaban yang terucap dari Kise pun merupakan hal yang sangat dinanti-nanti Aomine selama beberapa bulan ini. Aomine benar-benar lega, bahagia— ah, semua perasaan menjadi satu saat itu. Aomine pun akhirnya melepaskan pelukannya, berusaha menatap iris emas milik Kise. Menatapnya dalam, menelisik keindahannya. Kise kini menggenggam erat kaos Aomine, masih terisak pelan di hadapannya. Perlahan, Aomine meletakkan jemarinya di pipi Kise, menangkupnya, dan mengajaknya mendekati wajah Aomine. Bibir ranum Kise bertemu dengan bibirnya. Lembut bibir itu menyapu bibirnya.
Pagi hari. Di dalam gym. Dentuman bola basket. Decit sepatu. Pernyataan cinta. Degup jantung Kise yang terdengar. Poni pirang Kise yang menggelitik wajah. Ciuman pertama mereka.
Ya, awal bagi mereka.
Uwaah akhirnya chapter ini selesai. Hmm.. banyak flashback-nya ya? Haha, biarlah, alurnya memang maju-mundur kok, hehe.
Ah, jangan lupa, review membuatku ingin cepat-cepat melanjutkan fanfic ini dan membuatku makin semangat mengerjakannya. Arigatou~ ^O^/
