Title: Affection

Writer: Shou

Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)

Pairing(s): AoKise. KagaKuro

Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.

Rating: T

Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.

Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.

A/N: Uh, uh, sebenarnya aku ingin meminta maaf atas suatu kesalahanku. Maaf, aku salah memberikan panggilan dari Kuroko untuk Kise. Baru sadar kalau sebenarnya panggilan untuk perempuan dari Kuroko itu pakai –san, bukan –chan. Gomen nasai~ Jadi mulai chapter ini, Kuroko memanggil Kise dengan 'Kise-san' yaa..


"Aku juga menyukaimu, Aominecchi. Sangat" jawaban yang terucap dari Kise pun merupakan hal yang sangat dinanti-nanti Aomine selama beberapa bulan ini. Aomine benar-benar lega, bahagia— ah, semua perasaan menjadi satu saat itu. Aomine pun akhirnya melepaskan pelukannya, berusaha menatap iris emas milik Kise. Menatapnya dalam, menelisik keindahannya. Kise kini menggenggam erat kaos Aomine, masih terisak pelan di hadapannya. Perlahan, Aomine meletakkan jemarinya di pipi Kise, menangkupnya, dan mengajaknya mendekati wajah Aomine. Bibir ranum Kise bertemu dengan bibirnya. Lembut bibir itu menyapu bibirnya.

Pagi hari. Di dalam gym. Dentuman bola basket. Decit sepatu. Pernyataan cinta. Degup jantung Kise yang terdengar. Poni pirang Kise yang menggelitik wajah. Ciuman pertama mereka.

Ya, awal bagi mereka.


Chapter 5

Gelap.

Begitu gelap hingga ia harus terdiam sesaat untuk mengerti sebenarnya apa yang tengah terjadi. Kedua matanya pun mengerjap beberapa kali hingga akhirnya ia mulai bisa melihat dalam kegelapan. Mencoba mengerti keadaan yang menyelimutinya, ia melangkahkan kedua tungkainya, menjelajahi kegelapan. Ia terus berjalan—perlahan, mulai berlari kecil, hingga kesabarannya telah habis dan akhirnya berlari dengan sekuat tenaganya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan, lalu ke kiri—ia tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi, tapi ia tahu, ia tengah kehilangan sesuatu—Seseorang.

"Sial, sial! Sebenarnya kau ada dimana, hah?!" pekiknya frustasi, tetap berlari dalam kegelapan. Bulir peluh mulai meluncur di dahinya, di wajahnya. Napasnya mulai tersengal, berlari telah menjadi hal yang berat jika bersamaan dengan rasa frustasi. Tak lama kemudian, telepon genggamnya berdering. Ia berhenti berlari, melihat ke tangannya sendiri yang ternyata tengah menggenggam telepon genggam. Dengan ragu, ia membuka flip-nya, menekan sebuah tombol, dan sebuah pesan pun terpampang di layar telepon genggam biru tuanya.

'Aominecchi, tolong'

Sontak, Aomine menggertakkan giginya. Jantungnya berdebar cepat, wajahnya menjadi panas, amarahnya tersulut begitu melihat pesan dari Kise. Ia frustasi, ia telah berlari sejauh ini dan ia masih belum menemukan Kise. Tidak. Aomine benci jika Kise tak ada dalam jangkauannya. Aomine benci jika Kise tak ada dalam pelukannya.

"KISEE—!"

..

"Hm? Ada apa, Daiki?" tanya gadis bersurai pirang itu. Kedua mata emasnya melebar, bertanya-tanya mengapa suaminya berteriak memanggil namanya dalam tidurnya. Tubuh langsingnya membungkuk, mensejajarkan pandangannya dengan Aomine yang tengah terbaring di ranjangnya. Tak lama setelah itu, Kise menautkan kedua alisnya, menyadari sesuatu. "Daiki, peluh mengalir deras dari dahimu. Kau kenapa? Mimpi buruk?" lanjutnya. Namun Aomine masih terdiam, kedua matanya melebar, manik biru tuanya menatap kekosongan. Jantungnya pun berdetak kencang, begitu kencang sampai ia merasa sesak.

Aomine menyeka peluh yang mengalir di wajahnya dengan kaos yang ia kenakan. Iapun akhirnya terduduk di atas ranjangnya, mencoba menenangkan dirinya. Di sampingnya, Kise masih berdiri dengan tatapan khawatir kepadanya. Kedua alisnya pun masih bertaut, ia masih belum tenang jika Aomine belum menjawab pertanyaannya.

"Ah, ya, aku mimpi buruk" bisik Aomine perlahan. Desah beratpun keluar dari mulutnya, lega kalau yang baru saja ia alami itu adalah mimpi belaka. Namun Aomine masih merasa belum tenang jika Kise—

Aomine melihat kedua tangannya, sebelum akhirnya kedua tangannya itu menggapai Kise dan membawanya ke dalam pelukan Aomine.

—berada dalam pelukannya. Aomine akhirnya mendesah lega—lega karena Kise ada di hadapannya, di dalam pelukannya, dan Kise adalah miliknya. Kise yang sebenarnya tak mengerti apa yang tengah terjadi pada Aomine hanya tersenyum dan membalas pelukan Aomine. Mengeratkannya sampai merasa Aomine tenang dalam pelukannya.

Aomine benar-benar merasa tenang, jika Kise berada dalam pelukannya.

xxx

Sarapan sudah siap. Pakaian yang akan dikenakan oleh Aomine sudah siap. Membersihkan apartemen pun sudah. Membangunkan Aomine pun sudah—bahkan ia tengah mandi sekarang. Kise tersenyum puas akan semua pekerjaan istri yang sudah ia kerjakan dengan baik di hari liburnya. Ah, ia ingat ada satu hal lagi yang belum ia kerjakan. Iapun menanggalkan celemeknya, menggantungkannya di dinding dapur, dan berlari kecil menuju kamarnya.

Di hadapan sebuah meja ia terhenti. Ia membungkukkan tubuhnya untuk meraih laci dari meja tersebut, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil. Kise membukanya perlahan dan melihat sebuah perak kecil berbentuk lingkaran disana. Sinar matahari yang menyusup ke dalam kamarnya pun memantul di perak kecil tersebut, membuatnya makin terlihat cantik. Kise tersenyum bahagia melihatnya. Jemarinya terulur perlahan, menyentuh perak itu, mengaguminya sesaat sampai akhirnya ia mengeluarkannya dari kotak tersebut. Diangkatnya cincin perak tersebut, ia pandangi secara seksama, dan memakainya di jari manisnya.

Kise bahagia. Benar-benar bahagia.

Meski semua orang yang melihatnya secara spontan tahu bahwa cincin itu tidak bisa dikatakan cincin mewah, bukan cincin berhias berlian, bukan pula cincin mahal yang biasa ia lihat di televisi. Namun sekali lagi, Kise tak peduli akan hal itu. Menyadari bahwa Aomine lah yang telah memberikan cincin itu padanya, meminangnya, membantunya mengenakan cincin tersebut sambil mengikat janji.. Ah, Kise tak dapat berpikir hal lain yang lebih membahagiakan daripada ini.

"Ryouko?" sapa Aomine yang membuat Kise berbalik cepat, tak lupa menyembunyikan jemarinya yang berhiaskan cincin pernikahan mereka. Ia malu untuk mengakui bahwa setiap pagi, Kise selalu menyempatkan diri untuk mengenakan cincinnya, mengaguminya sesaat, sampai akhirnya ia letakkan kembali di dalam kotak kecil dan disimpannya di dalam laci. Kise pun malu untuk mengakui, betapa ritual kecilnya ini akan menyemangatinya sepanjang hari, betapa inginnya ia terus memakai cincin tersebut, dan betapa inginnya ia berkata bahwa ia telah menjadi milik Aomine seutuhnya. "Kau sedang apa?" tanya Aomine kembali.

"Eh, ah, tidak. Tak apa" jawab Kise ragu-ragu. Dan bukan Aomine namanya jika ia tak mengetahui bahwa ada yang disembunyikan oleh Kise. Ia melihat dengan jelas bahwa Kise menyembunyikan sesuatu di belakangnya, dan dengan sigap Aomine meraih tangan Kise. Aomine membelalakkan kedua matanya seraya melihat perak berkilauan yang melingkar di jari manis Kise.

"Ryouko, kenapa kau mengenakan cincin pernikahan kita?" tanya Aomine heran, yang sontak membuat Kise mengernyitkan dahinya. Kise pun menatap Aomine tajam seraya berkata, "Apakah salah jika aku mengenakannya? Daiki, aku sangat ingin memakainya kemana pun aku pergi. Aku ingin menyatakan secara tak langsung pada dunia bahwa aku adalah milikmu dan kita telah bersama. Namun karena peraturan bodoh dari agensi-ku—" ujar Kise yang akhirnya terpotong oleh gelak tawa Aomine yang menggema di seluruh kamar mereka. Kise menggembungkan pipinya, merasa sedikit kesal karena Aomine menertawainya.

"Ah, maaf, maaf. Bukan begitu maksudku. Haa.. Aku tak menyangka kau begitu frustasi karena tak bisa memakai cincin itu" jelas Aomine sembari menyeka bulir air mata yang menggenang di bawah matanya—akibat terlalu banyak tertawa.

"Daiki~ Kau tak mengerti perasaanku-ssu~" rajuk Kise pelan sambil menyenderkan dahinya di dada bidang Aomine, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

"Haha, baiklah aku mengerti," Aomine melayangkan pandangannya ke arah jam dinding di kamarnya, "Kau ada pemotretan hari ini?" tanya Aomine yang segera dibalas dengan gelengan kepala Kise. "Aku juga tak ada latihan hari ini. Bagaimana kalau kita ke taman kota?"

"Eh?"

"Dan, kau boleh memakai cincin itu seharian penuh, aku juga akan memakainya. Ah, jangan lupa menyamar" ujar Aomine yang sontak membuat Kise memekik bahagia. Kise pun melingkarkan lengannya di tubuh Aomine, mengeratkan pelukannya. Ia sangat bahagia, berulang kali ia mengucapkan terima kasih pada Aomine—yang dibalas dengan gumaman singkat.

"Ah, Daiki, bolehkah aku mengajak Kurokocchi dan Kagamicchi?" pinta Kise seraya melonggarkan pelukannya, iapun menengadah untuk menatap Aomine.

"Sesukamu, Ryouko. Ah, aku lapar. Cepatlah bersiap-siap, aku menunggumu di meja makan"

"Hai~!" ujar Kise riang. Seraya langkah tungkai Aomine terdengar menjauh, Kise membuka lemari pakaiannya dan memilih pakaian apa yang akan ia kenakan untuk kencan mereka ini. Ah, maksudnya double date ini. Namun sesaat pandangan Kise teralih ke kalender yang tergantung di sebelah lemari. Ia mengamatinya dan tersenyum melihat sebuah tanggal dengan lingkaran berbentuk hati disana. Sudah hampir lima bulan mereka bersama, dan sebentar lagi ulang tahun Aomine.

Kise mengetuk-ngetuk dahinya pelan sambil berpikir hadiah apa yang akan ia berikan tahun ini pada Aomine. Namun Kise tidak menyadari satu hal. Satu hal yang terlewat dari kegiatan melihat kalender.

xxx

"Geh! Sekali lagi, Aomine!"

"Ha? Ini sudah yang ke sekian, Bakagami!"

"Diam kau, Ahomine! Lawan aku!"

Seruan demi seruan, ledekan demi ledekan pun keluar dari mulut Aomine dan Kagami. Mereka tengah asyik bermain one on one hingga tak peduli dengan sekitar mereka. Tak peduli dengan napas mereka yang sudah tersengal, tak pula peduli dengan peluh yang sudah mengucur deras dari dahi mereka. Dan..

"Haa~ Akhirnya jadi seperti ini ya, Kurokocchi. Mereka mengabaikan kita" keluh Kise sambil mendengus pelan. Ia tengah duduk dengan memeluk kakinya di pinggir sebuah lapangan basket. Matanya masih menatap sosok Aomine meski ia tengah mengajak Kuroko untuk berbicara. Melihat Kise menekuk wajahnya, Kuroko hanya mengangguk pelan dan kembali meneguk vanilla shake-nya.

Bukan ini yang sebenarnya Kise inginkan. Ia ingin kencan mereka—double date mereka terlaksana dengan baik. Pergi ke taman bermain, misalnya. Atau pergi ke Sea World, melihat keindahan dunia bawah laut dengan segala jenis penghuninya. Atau pergi berbelanja di Shibuya, atau—

Kise kembali menghela napas. Ah sudahlah, Kise tak mau memikirkan kencan romantis ala dirinya, sebenarnya melihat Aomine bermain basket saja sudah merupakan kebahagiaan terbesar bagi Kise. Melihatnya men-dribble bola oranye itu, langkah kakinya yang terlihat gesit melewati Kagami, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan indahnya. Kise tersenyum melihat pemandangan di hadapannya.

Bagaimanapun juga, sosok itulah yang membuatnya jatuh cinta pada Aomine.

"Oi, Kise! Kau tak mau ikut bermain? Kita bisa bermain two on two dengan Tetsu" seru Aomine di sela-sela permainannya melawan Kagami. Mendengar itu, Kise segera bangkit dari duduknya, namun terhenti. Entah mengapa ia merasa enggan untuk bermain basket kali ini. Kalau dipikir-pikir, Kise pun merasa tidak enak badan belakangan ini. Ia merasa tubuhnya melemah, ia tak bersemangat dalam mengerjakan apapun, kadang iapun merasa kepalanya terasa pening.

"Ukh, aku tak enak badan, Aominecchi. Kau bermain bertiga saja dengan Kagamicchi dan Kurokocchi" jawab Kise yang membuat Aomine menautkan kedua alisnya. Aomine melepaskan bola basket yang ada di tangannya dan berjalan mendekati Kise. "Kau tak apa, Kise?" tanyanya khawatir. Namun sebelum Aomine sampai di samping Kise, Kuroko dengan sigap menaruh telapak tangannya di dahi Kise.

"Kau tak apa, Kise-san? Kau tidak demam" tanyanya lembut, terlihat sama khawatirnya dengan Aomine. Kise menggelengkan kepalanya lalu tersenyum lembut. "Aku tak apa-ssu~" jawabnya riang. Namun bagi Aomine, Kise di hadapannya tak seriang biasanya. Aomine tahu ada yang salah dari diri Kise.

Aomine menangkup wajah Kise dengan kedua telapak tangannya lalu menengadahkannya untuk menatap wajah Aomine. "Kau benar tak apa, Kise? Apa sebaiknya kita pulang saja?" tanya Aomine terlihat begitu khawatir, namun Kise menggeleng keras sebagai jawabannya. "Aku tak apa. Sungguh. Saa—lebih baik kau bermain dengan Kagamicchi dan Kurokocchi" ujar Kise sambil mendorong punggung Aomine pelan, menyuruhnya untuk kembali ke lapangan. Senyum pun merekah di wajah Kise, berusaha meyakinkan Aomine bahwa ia benar-benar sehat, tak ada yang salah dari dirinya.

"Kau tak apa, Kise?" kali ini pertanyaan terdengar dari mulut Kagami yang masih berada di tengah lapangan. Kise segera memalingkan wajahnya ke arah Kagami dan membuat bentuk 'O' dengan ibu jari dan telunjuknya pada Kagami—gestur yang menjelaskan bahwa ia baik-baik saja.

"Nah, Kurokocchi, sebaiknya kau ke tengah lapangan juga. Aku rindu melihat kalian bermain bersama" ujar Kise dengan seulas senyum pada wajahnya, membuat Kuroko tak dapat menjawab apa-apa. Akhirnya Kuroko berlari ke tengah lapangan, bergabung dengan Aomine dan Kagami.

Kise kembali duduk dengan memeluk kedua kakinya. Sambil bersenandung pelan, ia mengunci sosok Aomine dalam matanya. Seruan kecil kadang keluar dari mulut Kise ketika Aomine memasukkan bola ke ring. Kadang matanya membelalak lebar ketika melihat ignition pass yang dikeluarkan oleh Kuroko, atau ketika Kagami memasukkan bola basket dengan dunk andalannya.

Ah, Kise rindu dengan pemandangan di hadapannya ini.

"Ukh—"

Kise menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Tiba-tiba ia merasa mual, merasa bahwa ia akan segera muntah. Kise menahannya dengan sekuat tenaga, ia tak mau terlihat sakit dan membuat Aomine khawatir. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, peluh pun meluncur dari dahinya.

Tarik napas.

Hembuskan.

"Haa~" Kise menghela napasnya. Ia sudah dapat mengatasinya, iapun segera menyeka peluh yang mengalir di wajahnya. "Ada apa ini sebenarnya?" tanya Kise, tanpa merasa perlu mendapatkan jawaban dari siapapun.

xxx

Kise berjalan perlahan sambil menundukkan kepalanya.

Kise tak menyangka akan seperti ini akhirnya. Semalam ia baru diberi tahu oleh kedua orangtuanya, mereka akan pindah ke Kanagawa. Dan karena itu pula, Kise akan bersekolah disana setelah lulus dari Teikou. Seingatnya, Aomine telah memutuskan untuk masuk ke Touou Gakuen yang berada di Tokyo, dan tentu ini berarti mereka akan berpisah.

Kise mendecih.

Mengapa Tuhan senang sekali menjahilinya? Sudah setahun Kise dan Aomine bersama dan hubungan mereka baik-baik saja. Namun mengapa? Mengapa di saat semuanya terasa membahagiakan justru hal ini harus terjadi? Kise tidak mau berpisah jauh dengan Aomine. Terpikirkan saja tidak pernah.

Kise menghela napas.

Sudahlah, daripada memikirkan hal tersebut, ia tak mau datang terlambat saat latihan basket atau Akashi akan menyuruhnya berlari keliling sekolah sebanyak sepuluh kali. Ukh, membayangkannya saja Kise bergidik ngeri.

xxx

"Sudah ditetapkan bahwa orang yang akan menjadi partner Aomine Daiki adalah Kuroko Tetsuna" ujar Akashi tegas. Semua anggota tim basket Teikou bersorak untuk Kuroko yang berhasil menjadi partner Aomine. Semua berbahagia untuk Kuroko. Namun tidak dengan Kise.

Bukan.

Bukan Kise tidak menyukai Kuroko. Bukan itu. Kise hanya menyadari bahwa tahun terakhirnya di Teikou—bersama Aomine di Teikou, akan beralih menjadi 'kenangan terakhir masa SMP Aomine bersama dengan Kuroko', bukan dengannya. Bukan Kise akan yang selalu bersama Aomine di gym. Bukan Kise yang berlari berdampingan dengan Aomine, saling mendukung di lapangan dan berjuang bersama untuk mendapatkan kemenangan.

Bukan Kise.

Kise hanya memandang Kuroko dengan tatapan kosong. Senyum ceria tak lagi muncul di wajahnya, hanya senyum getir yang ada disana. Ia hanya memandang kosong ketika Aomine mendekati Kuroko dan merangkul pundaknya, tak lupa tersenyum lebar pada Kuroko—partner-nya.

Hati Kise mencelos. Ia menggertakkan giginya, tak lupa mengepalkan kedua tangannya.

"Haa, waktu kami berdua akan berkurang.." gumam Kise lalu berbalik mengambil tasnya.

xxx

Tahun terakhir mereka di Teikou tentu ingin Kise lewati dengan kebahagiaan. Dan rasanya hari ini adalah hari yang tepat untuk mewujudkannya. Hari ini adalah hari dimana terdapat festival budaya di Teikou, tiap kelas menampilkan berbagai macam pertunjukkan ataupun membuka berbagai kedai di kelas masing-masing. Sekolah Teikou pun ditata sedemikian rupa hingga terlihat indah. Semuanya terlihat begitu meriah. Namun bukan hal itu yang membuat Kise begitu bahagia. Semua hal itu bukan menjadi alasan mengapa Kise menampilkan senyum yang begitu indah di wajahnya.

Kise sudah mendengar rumor ini sejak tahun lalu, namun waktu itu ia belum menjalin hubungan dengan Aomine, karena itu, Kise tidak bisa mewujudkannya. Namun tahun ini—Kise yakin bisa mewujudkannya bersama Aomine.

Setiap tahun, festival Teikou mengadakan Stamp Rally. Satu kelompok terdiri dari dua orang, mereka akan berlari dari satu pos ke pos lain untuk mendapatkan stamp di kartu yang mereka bawa. Namun sebelum mendapatkan stamp, mereka harus melakukan apa yang diminta oleh panitia Stamp Rally. Terdengar sangat menyenangkan. Ditambah lagi, ada hadiah sepatu basket yang selama ini diinginkan Aomine. Aomine pasti senang mendapatkannya. Dan bagi Kise, rumor 'istimewa' itu adalah hal yang paling diinginkannya di atas segalanya.

'Pasangan yang menang dalam Stamp Rally akan menjadi pasangan yang bahagia selamanya'.

Kise terkekeh pelan membayangkan ia dan Aomine memutuskan tali di garis finish. Iapun tersenyum membayangkan bahwa pasangan yang akan bahagia selamanya adalah ia dan Aomine. Dengan begitu, meski mereka akan bersekolah di tempat yang berbeda dan jarang bertemu, mereka akan baik-baik saja. Aah, Kise sudah sangat tidak sabar untuk mengajak Aomine untuk ikut serta dalam Stamp Rally. Yaa, walaupun Aomine akan segera mendecih mendengar rumor yang ia puja itu.

"Ah, itu Aominecchi~!" seru Kise riang ketika melihat sosok Aomine di tengah kerumunan siswa Teikou. Ia segera berlari menuju tempat Aomine berada dan akhirnya sadar Aomine tengah bersama Kuroko dan Momoi. Samar-samar, ia mendengar Aomine yang tengah berbicara dengan Kuroko dan Momoi.

"Oh, itu. Tumben sekali Tetsu mau ikut dalam acara seperti itu" ujar Aomine menanggapi Kuroko yang akan ikut berpartisipasi dalam Stamp Rally. Kise mengangkat kedua alisnya, terkejut ternyata Kuroko pun akan ikut dalam acara yang ingin sekali Kise ikuti ini.

"Begitukah? Kupikir akan menyenangkan. Hadiahnya pun bagus" jawab Kuroko, tetap dengan wajah tanpa ekspresinya. Merasa sepemikiran dengan Kuroko, Kise pun ikut mengomentari Kuroko.

"Eeh~? Kurokocchi akan ikut berpartisipasi? Wah, mari berjuang~!"

"Ah, Kise-san. Ya, aku takkan kalah"

"Tunggu. Memang hadiahnya apa?" tanya Aomine sedikit tidak mempedulikan kedatangan Kise, membuatnya menggembungkan kedua pipinya. Yang ditanya pun terdiam sesaat sampai akhirnya menjawab, "Sepatu basket model LeBron James"

"Benarkah?! Aku sudah lama menginginkannya! Panitia memberikannya?" pekik Aomine.

"Kau bisa mendapatkannya kalau kau menang"

"Baiklah! Tetsu, berpasanganlah denganku" ajak Aomine riang. Namun ajakan yang terkesan akrab antar sahabat itu membuat Kise tersentak. Hati Kise kembali mencelos, degup jantungnya terdengar makin cepat.

Apakah Aomine tak mengerti apa yang ia maksudkan itu? Aomine mengajak Kuroko? Walaupun rumor itu tidak ada, mengapa ia tak mengajak Kise saja? Tak sadarkah Aomine jika disampingnya ada Kise?

Pertanyaan demi pertanyaan menerjang Kise. Kedua tangannya mengepal, berusaha menahan perasaan cemburu yang membuncah dalam dadanya. Sekali lagi, Kise bukannya tidak menyukai Kuroko, bukannya Kise tidak menyukai keberadaan Kuroko.

Namun..

Sikap Aomine membuat Kise ragu.

xxx

Setelah berakhirnya Stamp Rally dan berakhir dengan kekalahan, Aomine dan Kise membeli yakisoba untuk memperbaiki mood mereka setelah kalah. Mereka membawa kantung plastik berisi tiga puluh bungkus yakisoba. Terlihat banyak memang, namun mengingat nafsu makan Aomine yang bisa disebut berlebih itu, rasanya tak masalah.

"Oi, Kise! Kita mau makan dimana?" tanya Aomine sambil mengikuti langkah Kise, tak tahu Kise akan membawa mereka kemana. Di sampingnya, Kise bersenandung riang. Kise mencoba sedikit melupakan perasaan kesal—ehem—cemburu yang ia pendam. Mencoba mengeluarkan kepercayaan yang selama ini ada terhadap Aomine, kekasihnya.

"Ke atap sekolah, Aominecchi~ Aku ingin makan bersamamu di bawah langit yang indah" jawab Kise sambil melangkahkan kedua tungkainya untuk menaiki tangga. Aomine hanya mendecih pelan. Kekasihnya ini memang pecinta sesuatu yang bersifat romantis.

Kedua tungkai Kise tiba-tiba terhenti di depan pintu menuju atap sekolah. Samar-samar, ia mendengar suara Kuroko yang tengah berbicara dengan Momoi. Ia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu sampai akhhirnya ia mendengar pernyataan Kuroko yang—

"Aku tak tertarik dengan sepatu basket. Aku hanya ingin memberikan sepatu basket itu untuk Aomine-kun karena aku tahu ia sudah lama menginginkan sepatu model LeBron James"

membuat Kise tersentak hebat. Kantung plastik berisi yakisoba jatuh begitu saja dari genggamannya. Air mata mulai menggenang hingga menetes per bulirnya. Pundaknya pun bergetar akibat menahan suara tangisnya. Dengan sigap, ia berbalik menjauhi tempat itu. Dia terus berlari menjauhi tempat dimana Kuroko berada, ataupun Aomine.

"Kisee—!" seru Aomine, yang akhirnya ikut berlari—mengejar Kise. Aomine sudah tak peduli dengan perutnya yang lapar atau yakisoba-nya yang terjatuh—tergeletak begitu saja di lantai. Kini ia hanya peduli dengan Kise. Tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Kise—oh, memang ada apa di balik pintu menuju atap sekolah? Aomine benar-benar tak mengerti apa yang sedang terjadi pada Kise.

Secepat apapun Kise berlari—oh, terkutuklah Aomine sang Ace Teikou. Aomine dengan mudahnya mengejar Kise dan menggapai pergelangan tangannya, mengajaknya untuk berhenti di koridor yang tak ada siapapun. Napas mereka berdua sedikit tersengal, membuat mereka harus mengatur napas dahulu sebelum akhirnya membuka suara.

"Oi, Kise! Kau kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Aomine di sela-sela napasnya yang memburu. Di hadapannya, Kise terus membelakanginya, masih tak mau berbalik untuk menatap Aomine. Pundaknya bergetar, membuat Aomine makin mengerutkan dahinya. "Oi, Kise! Jawab aku!" seru Aomine.

Kise berbalik, dan tentu membuat Aomine tersentak. Wajah Kise merah padam, air mata mengalir deras melewati kedua pipi porselennya, dan tatapan matanya.. oh, Aomine benci melihat pemandangan yang ada di hadapannya ini.

"Kenapa kau mengejarku, Aominecchi? Sebaiknya kau pergi menemui, Kurokocchi saja" ujar Kise akhirnya, di sela-sela tangisnya. "Ha? Apa hubungannya dengan Tetsu?" tanya Aomine tidak mengerti. Kise terus terisak sambil menyeka air matanya yang mengalir. Ia sudah tak tahu lagi harus bagaimana. Kelak, Aomine dan Kuroko akan bersekolah di Tokyo, meski beda sekolah. Sementara dia di Kanagawa. Sendiri. Berbeda sekolah menjadi hal yang genting bagi Kise. Karena bahkan ketika Kise ada di samping Aomine, pemuda itu memilih Kuroko dibandingkan dirinya. Dan begitupula dengan Kuroko. Bagaimana jika mereka telah berbeda sekolah?

Ah, entah sejak kapan Kise menjadi sensitif seperti ini. Kise benci ini semua.

"Kau lebih memilih Kurokocchi untuk menjadi pasanganmu saat Stamp Rally—oh, meski pada akhirnya kau terpaksa berpasangan denganku. Maaf aku mengganggumu, Aominecchi. Sana, kembalilah pada 'Tetsu'-mu" ujar Kise sarkastik lalu membuang mukanya, tak mau bertatapan langsung dengan Aomine. Mendengar itu, Aomine menggertakkan giginya dan berseru, "Apa yang kau katakana, Kise?! Jangan bercanda!"

"Aku tak bercanda, Aominecchi! Pergilah, aku merelakanmu" ujar Kise berbisik di sela isak tangisnya. Wajahnya menunduk, berusaha menyembunyikan wajah penuh air matanya. Melihat sosok Kise di hadapannya, Aomine mulai melonggarkan genggaman tangannya lalu terdiam sesaat, mencerna apa yang telah dikatakan oleh Kise, kekasihnya.

"Kau serius, Kise? Tak apa jika aku pergi?" tanya Aomine sedikit berbisik, membuat suaranya terdengar sangat rendah dan begitu serius—yang tentu membuat Kise bergidik. Kise tentu tak berpikir akan baik-baik saja jika Aomine pergi dari sisinya. Tentu Kise tak berpikir bahwa ia rela melepaskan Aomine dari genggamannya. Kise benci. Kise benci berpikir Aomine menjauh darinya—lepas dari pandangannya.

Akhirnya Aomine melepaskan genggaman tangannya pada Kise lalu berbalik menjauh dari Kise. Kise sontak mengangkat kepalanya, menatap punggung Aomine yang berjalan menjauh darinya. Ia mengerutkan dahinya, air mata kembali menetes di kedua pipinya. Tidak. Kise tidak menginginkan ini.

Kise menggapai tubuh Aomine dan memeluknya erat. Ia bohong jika ia merasa merelakan Aomine adalah jalan terbaik bagi mereka berdua. Apapun yang terjadi, Kise takkan mau merelakan Aomine untuk Kuroko—untuk siapapun.

Langkah Aomine terhenti. Ia melihat lengan yang melingkar di tubuhnya, melihat lengan kecil itu bergetar hebat ketika memeluknya. Ia juga dapat merasakan detak jantung Kise yang berpacu begitu cepat melalui punggungnya. Akhirnya ia menghela napas.

"Kise, kau bersedia berkata sejujurnya padaku? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Aomine sambil mencoba melepaskan pelukan Kise perlahan dan berbalik menatapnya. Kise awalnya masih menunduk, menyembunyikan wajahnya. Namun setelah beberapa isak tangis, akhirnya warna emas itu bertemu dengan biru tua milik Aomine. Kise akhirnya bercerita semuanya, tentang rencana keluarganya yang akan pindah, tentang rumor Stamp Rally, tentang betapa Kise tak tenang jika berada jauh dari Aomine, sampai betapa cemburunya ia pada Kuroko. Semua ia keluarkan tanpa tersisa pada Aomine, mengeluarkan semua penat dalam dirinya.

Aomine mendengus.

"Kau pikir Tetsu menyukaiku atau aku menyukai Tetsu, huh? Kau juga berpikir ketika sekolah kita berbeda hubungan kita akan berakhir? Dan kau percaya pada rumor itu?" tanya Aomine dengan sikap acuh tak acuh. Anggukan pun menjadi jawaban Kise. "Omong kosong" lanjut Aomine yang membuat kedua alis Kise bertaut. Kise tetap menatap Aomine, terdiam tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Aomine.

Aomine menghela napas.

"Kise, Tetsu hanya partner dalam bermain basket, tidak lebih. Kau tentu tahu siapa yang—ehem, aku suka"

Kedua iris emas masih menatapnya lekat.

"Dan—meski beda sekolah, bukan berarti kita tak dapat bertemu, bukan? Aku bisa naik kereta untuk menemuimu, Kise"

Air mata berhenti mengalir di kedua pipi Kise.

"Dan Kise, jangan pernah percaya pada rumor seperti itu. Jangan. Pernah. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita perjuangkan, bodoh sekali percaya pada hal seperti itu"

Kedua mata Kise melebar, mulutnya terbuka—terkejut Aomine bisa berpendapat seperti itu. Melihat Kise masih terdiam menatapnya, Aomine menggaruk kepalanya sebentar lalu tangannya kembali beralih pada Kise. Memeluk tubuh semampai Kise perlahan, sampai akhirnya pelukan itu mengerat pada tubuh Kise. Surai pirang Kise sedikit menggelitik wajahnya, harum Kise pun menelisik masuk ke dalam indera penciumannya. Ah, Aomine suka mendekap Kise seperti ini.

"Aku tak akan membiarkan hal yang kau takutkan itu terjadi, Kise"

Ya, tak akan pernah.

"Aku mencintaimu"


Haa~ akhirnya chapter ini selesai juga. Entah kenapa aku lebih lama mengerjakan chapter ini jadi, maaf yang sudah menunggu *bow

Dan, untuk yang sudah mendengar Kuroko no Basuke Drama Theater 2nd Games—ya, aku mengambil setting festival Teikou dari sana. Ketika aku mendengarnya di kala bingung mau nerusin fanfic ini seperti apa, eh mendengar itu langsung 'TING!', "Ah, ini ada hints AoKise juga!", pikirku. Hahaha, luar biasa. Hidayah datang tiba-tiba segera setelah mendengar Drama Theater itu.

Untuk nafsu makan Aomine—sebenarnya aku tak tahu apa dia memang makan banyak atau tidak. Namun mengingat Kise adalah perempuan dengan porsi makan yang sedikit, sementara Aomine adalah lelaki dalam masa pertumbuhan—baiklah, sudah tentu Aomine makan banyak, hahaha.

Untuk Kise, aku tahu ia terkesan sangat labil di chapter ini. Ah biarlah, selain sebuah hubungan penuh kecemburuan, sifat Kise yang dere-dere seperti itu kurasa lekat dengan sifat cemburu.

Untuk yang sudah me-review, hontou ni arigatou! Terima kasih atas dukungan kalian semua, semua review kalian membuatku bersemangat untuk cepat-cepat meneruskan fanfic ini.

Ah, overall, tentu saran dan kritik sangat diterima demi kelangsungan fanfic ini. Review sangat ditunggu, sankyuu~ `w`/