Title: Affection
Writer: Shou
Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)
Pairing(s): AoKise. KagaKuro
Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.
Rating: T
Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.
Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.
A/N: Uhm, ternyata sudah sampai sini ya? Wow, akhirnyaa. Jujur aja, chapter ini dan chapter selanjutnya adalah adegan yang pertama kali dipikirkan ketika aku memutuskan untuk menulis fanfic AoKise. Jadi ketika akhirnya sampai disini, 'woah, akhirnya~!' rasanya ingin teriak seperti itu, hahaha. Oke, happy reading~
Air mata berhenti mengalir di kedua pipi Kise.
"Dan Kise, jangan pernah percaya pada rumor seperti itu. Jangan. Pernah. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita perjuangkan, bodoh sekali percaya pada hal seperti itu"
Kedua mata Kise melebar, mulutnya terbuka—terkejut Aomine bisa berpendapat seperti itu. Melihat Kise masih terdiam menatapnya, Aomine menggaruk kepalanya sebentar lalu tangannya kembali beralih pada Kise. Memeluk tubuh semampai Kise perlahan, sampai akhirnya pelukan itu mengerat pada tubuh Kise. Surai pirang Kise sedikit menggelitik wajahnya, harum Kise pun menelisik masuk ke dalam indera penciumannya. Ah, Aomine suka mendekap Kise seperti ini.
"Aku tak akan membiarkan hal yang kau takutkan itu terjadi, Kise"
Ya, tak akan pernah.
"Aku mencintaimu"
Chapter 6
Riuh suara penonton. Riuh suara tepuk tangan.
Gadis bersurai pirang itu tengah termangu memandang sosok pria yang tengah berada di tengah lapangan. Kedua manik emasnya pun bergerak ke kanan dan ke kiri, mengikuti gerakan pria berkulit gelap tersebut. Tak jarang pula kedua matanya membelalak takjub, atau dirinya yang menahan napas sejenak—atau seruan penyemangat yang keluar dari bibir ranumnya ketika melihat gerakan-gerakan yang diperlihatkan oleh sang ace. Dunk, lay up, bahkan formless shoot andalan sang ace tak henti-hentinya membuat dada si pirang berdesir menyenangkan.
Ah, Kise sangat menyukai sosok itu.
Peluit panjang pertanda berakhirnya pertandingan berbunyi. Papan skor menunjukkan angka 152 lawan 47, dan tentu kemenangan berpihak pada tim sang ace pujaan Kise. Riuh suara dan tepuk tangan pun kemudian bergema hebat di dalam gelanggang olahraga dimana mereka berada. Kise dan Kuroko berdiri dari duduknya, mereka pun tak henti-hentinya bertepuktangan, menunjukkan rasa bahagia atas kemenangan yang dicapai kekasih mereka.
Ralat. Bagi Kise, 'suami'-nya.
"Ne, Kurokocchi, kau lihat? Aominecchi sungguh hebat!" seru Kise gembira. Tak pula melupakan senyuman indah miliknya saat mengajak Kuroko, sahabatnya, untuk berbicara. "Ah, Kagamicchi juga hebat! Kau lihat buzzer beat-nya? Woah, mereka berdua dalam satu tim memang tak terkalahkan!" lanjut Kise. Sementara di sebelahnya, Kuroko masih menatap si rambut merah yang berada di bench, tengah menyeka peluh yang mengalir deras di wajahnya dengan menggunakan seragam tim basketnya. Tatapannya melembut, senyum pun terlukis di wajah yang biasanya tak berekspresi itu. "Ya. Ia memang sangat hebat" ujar Kuroko tanpa melepaskan pandangan matanya terhadap Kagami.
Kise tersenyum.
Tak beda dengan dirinya yang menyukai sosok Aomine ketika bermain basket, ia yakin Kuroko pun merasakan hal yang sama. Merasa begitu bahagia ketika melihat kekasihnya men-dribble bola basket yang ada di tangannya, melakukan pass kepada teman timnya, atau memasukkan bola tersebut ke dalam ring lawan. Semua gerakan yang ditunjukkan di lapangan memang benar-benar mempesona.
Kise masih ingat betul masa-masa SMA mereka, ketika Aomine mewakili Touou dan Kagami mewakili Seirin bertanding satu sama lain. Intensitas pertandingan saat itu benar-benar kental, membuat seluruh penonton yang menyaksikannya menahan napas karena tegang. Kefokusan pertandingan itu masih terpaku jelas di ingatan Kise. Namun kini Aomine dan Kagami bermain dalam tim yang sama, kadang membayangkan betapa hebatnya tim basket itu kelak saja tak bisa.
Kini, semua itu sudah terjadi—tentu meninggalkan segudang perasaan takjub dalam diri Kise.
"Kise-san, Kagami-kun dan Aomine-kun memanggil kita. Sebaiknya kita ke bench" ajak Kuroko membuyarkan lamunan Kise. Setelah mengangguk pelan, Kise mengikuti langkah Kuroko untuk menuju ke bench. Dengan beberapa langkah saja, Kise dan Kuroko akhirnya sampai di bench—mengingat Kise dan Kuroko duduk di bangku penonton paling depan. Kise melangkahkan kakinya menuju Aomine dan Kuroko melangkahkan kakinya menuju Kagami.
"Aominecchi, selamat atas kemenanganmu~ Kau benar-benar keren-ssu!" seru Kise riang seraya merangkul lengan sang ace. Mendengar pujian Kise, Aomine mengangguk setuju, "Yeah, aku tahu" jawab Aomine yang membuat Kise terkikik pelan lalu menyenderkan kepalanya ke lengan Aomine dengan manja.
"Oi, Kise. Aku berkeringat. Jangan bersender padaku seperti itu" ujar Aomine, bermaksud menasihati Kise agar peluh kotornya tak menyentuh tubuh wangi Kise. Namun Kise tak menggubris nasihat Aomine. Ia justru makin mendekatkan tubuhnya pada Aomine yang membuat seluruh anggota timnya menoleh padanya.
"Ehem! Kalian semakin mesra ya, Ki-chan~" ledek Momoi, sang manajer tim, seraya melirik menggoda kepada pasangan yang tengah menjadi pusat perhatian itu. Dipandang seperti itu, Aomine segera merapal kalimat sanggahan kepada Momoi. Namun tentu, bagi semua orang yang melihatnya, sanggahan tersebut hanya bentuk dari sifat malu Aomine.
"Aomine-kun, ini tempat umum, tolong jangan bermesraan disini" kini Kuroko—yang berada di sebelah Kagami—menambahkan komentar, tentu dengan raut wajah datarnya. Membuat Kise makin tersenyum lebar dan Aomine, "Diam kau, Tetsu!" menggertak Kuroko dengan semburat merah menghiasi wajahnya.
"Kise-chin, kau hari ini datang bawa snack tidak?" tanya Murasakibara sang center, menjauh dari topik dan berhasil membuat Kise tertawa pelan. "Atsushi, seka dulu peluhmu" perintah Akashi, sang kapten, yang sontak membuat pria bersurai ungu itu terdiam.
Merasa kesal karena menjadi pusat perhatian, Aomine segera mengambil tasnya dan merangkul pundak Kise menjauh dari kerumunan tim basketnya—tanpa berkata apa-apa. Kise yang menyadari sikap –malu— Aomine, hanya menoleh sekilas ke belakangnya dan tersenyum kepada semua anggota tim, pamit pulang menggantikan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh Aomine.
Semua anggota tim, beserta Kuroko dan Momoi pun tersenyum membalas sikap Kise.
"Kagami-kun"
Kagami yang tengah meneguk minuman untuk melepaskan dahaganya menoleh pada Kuroko, menundukkan wajahnya untuk menatap biru langit milik Kuroko yang berada di sebelahnya. Merah pun bertemu dengan biru langit, mereka saling menatap pasangannya dan terdiam sesaat. Kagami pun mengangkat kedua alisnya, gestur untuk bertanya apa yang yang ingin Kuroko katakan padanya.
"Kapan kita akan seperti mereka?"
Kagami yang masih menegak minumannya menautkan kedua alisnya, kepalanya pun ia miringkan ke samping—tak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Kuroko. Menyadari kekasihnya tak mengerti apa yang ia maksudkan, Kuroko berdeham pelan dan mencoba menerangkan pernyataannya dengan bahasa yang jauh lebih mudah.
"Maksudku, kapan kau akan melamarku?"
Kagami tersedak minumannya dan lengkingan suara Momoi menggema di dalam gelanggang olahraga.
xxx
Kise terduduk di kursi meja makan, telapak tangannya memangku dagunya, bibir ranumnya menyenandungkan sebuah lagu dengan pelan. Kakinya yang menggantung di bawah meja ia ayunkan perlahan, berusaha mengusir rasa bosannya. Ia melirik ke arah kamar mandi berada, menggumamkan 'Daiki lama sekali', lalu kembali menatap langit-langit apartemennya.
Ia mengetukkan jari telunjuk di pipi persolennya, pikirannya melayang mengingat bahwa besok adalah hari ulang tahun Aomine. Kise menghela napas mengingat bahwa dirinya belum menemukan hadiah yang cocok untuk Aomine. Kise ingat pada hari ulang tahunnya Aomine memberikan kalung perak sederhana untuknya. Dan mengingat tabiat Aomine, Kise bisa membayangkan sosok Aomine saat membeli kalung tersebut—Aomine pasti menghela napas berkali-kali, membuang rasa malunya, sampai akhirnya masuk ke dalam toko untuk membeli kalung untuknya.
Kise terkekeh pelan membayangkannya. Seorang Aomine Daiki, dengan harga dirinya yang tinggi serta dengan sikap acuh tak acuhnya seperti itu masuk ke dalam toko perhiasan wanita. Dan semua itu demi dirinya.
Baiklah, Kise tak dapat berhenti tersenyum membayangkannya.
Kise mengetuk dahinya pelan. Kesal pada dirinya sendiri karena pikirannya justru melambung memikirkan hadiah Aomine untuknya, bukan hadiah untuk Aomine darinya! Kise merutuk pelan pada dirinya dengan pikiran yang mudah teralihkan.
"Ukh—" Kise mengatupkan kedua bibir ranumnya, telapak tangannya pun ia letakkan disana. Rasa itu kembali datang. Rasa mual, pening, dan—ah, Kise tak bisa mendeskripsikan perasaan ini. Kise pun akhirnya meletakkan kepalanya di atas meja dengan telapak tangan yang masih menangkup mulutnya—berharap rasa mual itu segera hilang.
"Ukh, Daiki.." lirih Kise pelan.
…
"Ryouko?" suara rendah milik Aomine sontak membuat Kise menegakkan tubuhnya, menatap Aomine, dan tentu, menampilkan senyum model miliknya. Ia tersenyum manis kepada Aomine, lalu beranjak dari kursinya. Ia melangkahkan kedua kakinya mendekati Aomine, sedikit berjinjit untuk meraih handuk yang tergantung di pundak Aomine, lalu memakainya untuk mengeringkan helai rambut Aomine yang basah.
Melihat ada yang aneh pada diri istrinya, Aomine mengulurkan jemarinya dan menyentuh pipi Kise perlahan. Mengelusnya lembut disana, lalu membawanya mendekati wajah Aomine. Aomine pun membungkuk perlahan, mendekatkan wajahnya pula kepada Kise, membuat Kise sedikit terkejut.
"Ada yang kau sembunyikan dariku, Ryouko" bisik Aomine pelan, bukan sebuah pertanyaan melainkan sebuah pernyataan. Ia tak memerlukan jawaban dari Kise untuk menjawab misteri dari sikap Kise. Aomine tahu ada yang disembunyikan oleh Kise hanya dengan melihatnya sekilas.
Merasa tak mau mengkhawatirkan suaminya, Kise menggeleng pelan dan kembali menampilkan seulas senyum di wajahnya. "Kau bicara apa, Daiki? Aku tak menyembunyikan apapun" jawabnya dengan sekuat tenaga menahan rasa mual yang melanda tenggorokannya.
Aomine menghela napas.
Aomine tahu ada yang disembunyikan oleh Kise, namun iapun tak dapat memaksa Kise untuk menyampaikan hal tersebut padanya. Menjalin hubungan selama bertahun-tahun membuat Aomine sadar akan sifat buruk Kise yang tak bisa berubah ini. Kise takkan membahas apa yang tak mau ia bahas. Ia akan terus menyembunyikan hal tersebut atau akan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Daiki, besok kau ada acara?"
Benar saja. Aomine akhirnya mendecih pelan menanggapi Kise. Ia hanya menautkan kedua alisnya dan memejamkan kedua matanya sejenak, lalu kembali menatap Kise. Jemarinya pun kini beralih untuk memainkan helai pirang milik Kise. Sementara tangannya yang bebas ia letakkan di pinggang si pirang. Sedangkan Kise meletakkan wajahnya di dada Aomine, merasa nyaman disana.
Namun seketika Aomine menyadari sesuatu. Iapun membelalakkan kedua matanya.
"Ryouko.."
"Hm?"
"Kau bertambah gemuk"
Pernyataan Aomine sontak membuat Kise tersentak. Refleks, iapun melepaskan pelukan Aomine dan menjauhkan dirinya dari Aomine. Wajahnya memerah karena malu, iapun segera meraba bagian tubuh sekitar pinggangnya untuk mempertegas apa yang telah disampaikan oleh Aomine. Tak lama kemudian wajahnya memucat, menyadari bahwa pernyataan Aomine benar adanya. Melihat sikap Kise, Aomine terkekeh pelan dan kembali memeluk istrinya. Kise sempat ingin melepaskan diri dari Aomine, mengingat lemak di tubuhnya bertambah. Namun tentu gerakan Kise terkunci di bawah dominan Aomine. Aomine tak mau melepaskan pelukannya terhadap Kise. Yaa, perubahan kecil pada tubuh Kise seperti itu tentu tak membuat perasaan Aomine berubah.
"Da-Daiki, tak masalah aku bertambah gemuk?" tanya Kise akhirnya di dalam pelukan suaminya. Aomine mendengus pelan. Ia membenamkan wajahnya di surai pirang milik Kise, menghirup wangi shampoo Kise dan mengelusnya perlahan. "Aku tak peduli pada hal kecil seperti itu, bodoh" jawabnya di sela-sela ritual melepas lelahnya. Bagi Aomine yang baru saja selesai bertanding basket, hal yang membuatnya kembali rileks bukanlah menegak air minum isotonik, tidur seharian, atau berendam di air panas. Memeluk Kise seperti sudah cukup bagi Aomine.
"Mou~ Daiki, jawab dulu pertanyaanku.." ujar Kise berbisik, merasa napasnya tertahan karena Aomine makin mengeratkan pelukan mereka. Hembus napas Aomine pun halus terdengar di telinga Kise, membuatnya menarik napas sesaat. "Ah, besok? Karena hari ini aku menang, tentu besok aku kembali bertanding" jawab Aomine datar, masih memainkan helai pirang milik Kise. Masih membenamkan wajahnya diantara surai pirang milik Kise. Mendengar jawaban dari Aomine, Kise melepaskan dirinya dari pelukan Aomine secara perlahan. Kedua manik emas miliknya pun menatap sendu kepada Aomine, membuat Aomine sedikit terkejut melihat ekspresi Kise tersebut.
"Ne, Daiki. Bisakah esok hari kau menemaniku saja?" rajuk Kise manja. Kedua matanya masih terkunci menatap Aomine—namun dengan ekspresi yang berbeda. Kedua mata indah yang dihiasi bulu mata lentiknya membulat ketika menengadah menatap Aomine. Lengannya pun ia letakkan melingkar di leher suaminya. Dan Kise tak lupa mengeratkan tubuhnya pada tubuh Aomine. Hal tersebut tentu membuat Aomine terpaku sesaat menyadari Kise sedang –mencoba— merayunya. Aomine akhirnya berdeham setelah menghela napas, mengembalikan dirinya kepada kenyataan mengingat Aomine memang tak bisa lepas dari jeratan maut milik Kise ini.
"Tak bisa, Ryouko. Aku adalah ace di timku, ingat?" ujar Aomine setelah sekuat tenaga menahan keinginannya untuk tergoda dalam jeratan milik istrinya. Dan untuk menghindari hal tersebut, Aomine mengalihkan wajahnya untuk menatap ke luar jendela apartemennya dan melihat langit yang sudah menggelap, menunjukkan bahwa matahari telah kembali ke peraduannya.
Kise menggembungkan kedua pipinya menyadari bahwa ia tak berhasil menjerat Aomine kali ini. Iapun akhirnya melonggarkan jarak antara dirinya dan Aomine, tak lupa menurunkan kedua lengannya, lalu melangkahkan kakinya menjauh dari Aomine. Kise kembali duduk di atas kursi meja makan, kembali memangku dagunya dengan masih menggembungkan kedua pipinya. Melihat tingkah Kise yang sedang merajuk, Aomine hanya terkekeh pelan lalu mengikuti gerakan Kise dan duduk di sebelahnya.
"Ayolah, Ryouko. Jangan merajuk seperti itu. Kau pun besok ada pemotretan, bukan?" bisik Aomine mencoba mengembalikan mood Kise seperti semula. Iapun mengulurkan jemarinya untuk mengelus puncak kepala Kise. Jika dalam keadaan seperti ini, Aomine merasa bahwa ia lah yang harus mengalah pada keegoisan Kise. Namun pertandingan esok hari adalah pertandingan yang penting. Ia menyadari betul bahwa timnya membutuhkan dirinya untuk meraih kemenangan. Dan Aomine tak dapat membayangkan amarah Akashi yang ditujukan padanya jika ia tak hadir dalam pertandingan dengan alasan 'Aomine tak dapat membantah Kise ketika Kise telah menjeratnya'.
Oh, mau taruh dimana wajah Aomine?
Aomine mencoba menatap wajah Kise yang dipalingkan ke arah dimana ia tak bisa melihatnya. Ia menatap Kise dari kiri, Kise memalingkan wajahnya ke kanan. Ia menatap Kise dari kanan, Kise memalingkan wajahnya ke kiri. Sungguh kekanakan, membuat urat kemarahan muncul di dahi Aomine. Aomine mengesah dan akhirnya bangkit dari duduknya, menyerah untuk mengembalikan mood Kise kembali ke semula.
Merasa Aomine telah menjauh darinya, Kise kini justru berbalik pada sosok Aomine yang telah menyingkir dari sisinya. Kise menatap sosok Aomine yang berjalan menuju kamar kosong yang tidak dipakai. Kise menatap sendu sosok Aomine yang telah masuk ke dalam kamar kosong tersebut.
Bahu Kise bergetar. Pandangannya memburam, air mata mulai menetes perlahan melewati pipi porselennya. Ia akhirnya meletakkan kepalanya di atas meja—hanya menenggelamkan wajahnya di sela-sela kedua lengannya.
Kise tidak tahu mengapa dirinya jadi sensitif seperti ini. Sebenarnya ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Aomine pada hari ulang tahun suaminya, hanya ingin berbagi kebahagiaan di hari istimewa Aomine. Namun mengapa hasilnya seperti ini?
Akhirnya Kise melangkahkan kaki ke kamarnya. Kamar mereka. Dan tertidur dengan air mata masih mengalir dari matanya.
xxx
Kise terbangun ketika kedua matanya disepuh sinar matahari. Ia mengerjapkan keduanya perlahan sampai akhirnya ia bangkit dari ranjangnya, melangkahkan kedua tungkai jenjangnya untuk keluar dari kamar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok yang sangat ingin ia temui saat ini. Namun yang ia temukan hanyalah secarik kertas di atas meja makan.
Aku pergi lebih dulu, tanding pukul 11.00. Ada pemotretan, bukan? Hati-hati di jalan.
-Daiki
Kise menghela napas lega. Ia lega menyadari Aomine peduli padanya meski semalam ia sudah bersikap kekanakan. Sangat kekanakan. Kise segera bersumpah dalam hatinya jika ia bertemu dengan Aomine nanti, ia akan segera meminta maaf dan memberinya kecupan hangat.
Kise tersenyum lembut sebelum menaruh secarik kertas tersebut pada tempat semula dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
xxx
Berayun perlahan, helai pirang tersibak dengan indah, bergerak kesana-kemari, menghadap lensa kamera atau membelakanginya. Tubuh semampainya meliuk perlahan—mengikuti arahan sang fotografer. Mata emasnya kadang menatap sendu, namun tak jarang pula mata indah itu menatap tajam.
Helai pirangnya tak luput dari tarian sederhana yang dihasilkan oleh tiupan angin atau sebagai dampak dari gerakan-gerakan ringan yang ia lakukan. Dan tentu, warna pirang itu tampak menambah kesempurnaan wajah yang dianugerahi kepadanya dan terlihat begitu menawan pada kulit porselennya.
Diikuti oleh suara shutter, gerakan demi gerakan terlihat begitu halus—meski sebenarnya jemari lentiknya tengah bersusah payah mengibaskan gaun indah yang berat. Iapun tetap menampilkan senyum indahnya meski ia telah lelah mengayunkan gaunnya.
Lokasi pemotretan yang berada di luar ruangan membuat terik matahari secara langsung menyorot tubuhnya, membuat peluh Kise secara samar mulai terlihat. Pening pun mulai menjalari Kise, membuat kulit porselennya makin terlihat pucat. Tak selesai dengan itu, rasa mual kembali merajai tenggorokannya.
Segala rasa itu bercampur dengan lelah mengayunkan gaun indah, tentu diperparah dengan teriknya sinar matahari. Tak lama setelah itu, pandangannya memudar. Tubuh Kise terlihat gontai sampai akhirnya terjatuh.
Pekik suara manajernya adalah suara terakhir yang ia dengar.
xxx
Peluit berbunyi.
Semua pemain di lapangan memindahkan fokus pandangannya ke bench. Aomine menautkan kedua alisnya melihat Momoi berada di samping wasit, menyadari timnya meminta time out. Ada apa? Kerja tim Aomine dan Kagami tengah pada puncaknya, defense Murasakibara pun tak dapat ditembus. Dengan kata lain, mereka sama sekali tak melakukan kesalahan.
Lalu mengapa?
"Oi, Satsuki! Kenapa menghentikan permainan?" tanya Aomine sembari menyeka peluh dengan pakaian yang ia kenakan. Sementara rekan timnya mengambil botol minum mereka dan menegaknya hingga tandas.
Aomine makin mengerutkan dahinya ketika melihat raut wajah teman masa kecilnya itu panik. Keringat dingin mulai mengalir di dahinya. Momoi membuka bibirnya dengan ragu, lalu menutupnya kembali. Ia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak tahu harus memulai dari mana.
"Momoi, sebenarnya ada apa?" tanya Kagami kemudian, menggantikan Aomine dan rekan timnya. Momoi yang tengah panik tersebut akhirnya menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Aomine-kun, tadi manajer Ki-chan menelponku" kedua alis Aomine terangkat begitu mendengar nama Kise disebut. Kini telinganya fokus mendengarkan cerita Momoi. "Dia sudah mencoba menelponmu, namun tak diangkat. Manajer-san akhirnya membuka phonebook di telepon genggam Ki-chan dan menemukan nomorku" lanjut Momoi, tak segera mengungkapkan inti dari ceritanya.
Urat amarah mulai muncul di dahi Aomine. Momoi ingat bahwa Aomine bukan orang yang sabar, bukan?
"Langsung saja ke intinya, Satsuki!" seru Aomine seraya menggaruk punggung lehernya, tak suka dibuat menunggu. Momoi akhirnya kembali menghelas napas dan berkata, "Ki-chan pingsan dan dibawa ke rumah sakit Tokyo. Kata pelatih kau bisa—" belum sempat Momoi menyelesaikan kalimatnya, Aomine telah mengambil tasnya dan bergegas pergi dari sana. Sebelum berlari ke luar dari gelanggang olahraga, Aomine berbalik ke Kagami dan berseru, "Aku serahkan semuanya padamu, Kagami!"
Kagami mengangguk tegas dan hal itu membuat Aomine lega. Sementara teman-temannya yang lain berseru agar Aomine berhati-hati di jalan, meminta dirinya untuk tenang. Aomine hanya tersenyum singkat dan melangkahkan kakinya cepat menuju rumah sakit Tokyo.
'Sial, sial, sial'
Aomine terus mengumpat dalam hatinya. Menyesal karena ia tak ada disana ketika Kise tumbang. Kesal karena semalam mereka bertengkar kecil. Kesal karena pagi ini ia tidak sempat memeluk tubuh Kise.
Jantung Aomine berdegup kencang ketika sekelibat ingatan masa lalunya melintas di kepalanya. Peristiwa di masa lalu yang sebenarnya sudah ia kubur dalam-dalam—dimana Kise menampilkan raut wajah mengerikan itu. Aomine mengepalkan kedua tangannya, menggertakkan giginya, dan terus berlari sekuat tenaga.
Aomine sudah berjanji akan melindungi Kise.
Ia tak mau Kise tak berada dalam bahaya lagi.
"RYOUKO—!"
xxx
Bulan februari, musim dingin mulai menuju ke musim semi.
Meski begitu, asap putih masih terlihat ketika ia menghembuskan napasnya. Syal yang melingkar di lehernya pun melonggar, mulai merasa hawa musim semi yang bersahabat akan datang. Jaket yang ia kenakan pun tipis, tak setebal awal musim dingin, meski malam hari seperti ini suhunya merendah.
Aomine bersenandung pelan setelah keluar dari toko perhiasan wanita. Ia melangkahkan tungkai jenjangnya dengan santai seraya menepuk-nepuk saku jaketnya. Senyum terulas di bibirnya, teringat sebuah kotak kecil yang berada di saku jaketnya. Setelah menerima honor pertamanya sebagai pemain basket professional, Aomine segera pergi membelinya. Ia tak sabar akan reaksi yang akan ditunjukkan Kise ketika Aomine memberikan 'hadiah kecil' itu padanya. Sembari mengulaskan senyum, Aomine membayangkan mata indah Kise akan membulat, lalu air mata menggenang disana, lalu kedua pipinya merona, lalu Kise akan memeluknya, lalu—
Aomine terkekeh pelan membayangkan hal itu.
Ah, tapi Aomine tahu, hadiah itu takkan ia berikan sampai Aomine sudah memiliki tabungan yang cukup untuk menjamin masa depan mereka. Karena itu, Aomine memang takkan memberikan hadiah itu dalam waktu dekat. Yaah, mungkin beberapa bulan ke depan, atau bahkan beberapa tahun ke depan. Ia hanya tiba-tiba merasa harus membeli hadiah itu sekarang, tak tahu mengapa.
Aomine kini memandang langit gelap di atasnya. Memutar pikirannya, menebak-nebak apa yang sedang dilakukan oleh kekasihnya. Apakah ia sudah selesai pemotretan? Apakah ia sudah sampai di rumah? Apakah—
Kedua alis Aomine terangkat ketika merasa telepon genggamnya bergetar di sakunya. Dengan malas, ia mengeluarkannya dari saku dan membuka flip-nya. Matanya sedikit berbinar membaca nama 'Kise' pada layar telepon genggamnya. Dengan segera, ia membuka pesan dari Kise.
20/02/12 21:03
From: Kise Ryouko
Aominecchi, tolong
Kedua alis Aomine bertaut seketika. Tak biasanya Kise mengiriminya pesan tanpa emoticon-emoticon aneh khasnya. Atau tak biasanya Kise mengiriminya pesan tanpa berbasa-basi dahulu. Bukan. Bukan itu yang membuat Aomine menautkan kedua alisnya. Dengan segera, Aomine mengirim balasan untuk Kise.
20/02/12 21:04
To: Kise Ryouko
Oi, Kise. Ada apa? Dimana kau sekarang?
Aomine tanpa sadar mengetuk-ngetukkan ibu jarinya pada telepon genggamnya, tak sabar menunggu balasan dari Kise. Ia kini hanya bisa merutuki Kise karena lama sekali membalas pesannya—ah, Aomine hanya merasa seperti itu.
20/02/12 21:06
From: Kise Ryouko
Dekat café Monochrome. Cepatlah.
Aomine melebarkan kedua mata biru lautnya. Pesan dari Kise yang tak biasa itu kini membuat jantungnya berderu. Tanpa menunggu detik berikutnya, Aomine segera melangkahkan kedua tungkainya untuk berlari. Ia tak peduli telah menabrak beberapa orang yang berada di jalan, ia tak peduli pada makian orang di sekitarnya yang merasa terganggu karena Aomine telah menabrak mereka dengan kasar. Aomine. Tidak. Peduli.
xxx
Napas Aomine memburu. Dadanya naik turun dengan frekuensi yang cepat. Peluh sudah mengalir deras dari dahinya. Namun ia tak sempat mengatur napasnya atau untuk beristirahat. Pemandangan di hadapannya lah yang menyebabkan itu semua.
Rahangnya seketika mengeras. Kedua tangannya mengepal. Iapun menggertakkan giginya.
Di sebuah gang kecil, di hadapannya, Kise berada. Namun bukan itu yang membuat amarah Aomine mengudara. Seorang pria tengah baya tengah menggenggam lengan Kise dengan kasar dan tangannya lain tengah menggenggam pinggang si pirang agar mendekati tubuh pria itu. Tak lama kemudian, pria mesum itu menarik jaket yang dikenakan Kise sehingga sekilas pundak porselen miliknya terlihat.
Tak perlu menunggu detik selanjutnya sampai akhirnya Aomine menarik tubuh pria tengah baya itu untuk menjauhi Kise dan meninjunya tepat di wajah. Tak lupa meninjunya di bagian perut. Di wajah lagi. Kemudian menendang perut si pria menggunakan lututnya. Lalu—
"A-Aominecchi, sudah.. cu-cukup.." lirih suara Kise menghentikan aksi membabi buta Aomine. Dengan kasar, Aomine menghempaskan tubuh pria tengah baya itu ke aspal. Beruntunglah pria itu karena Kise menghentikan aksi Aomine.
Aomine melangkahkan kedua tungkainya dengan gontai. Wajahnya memucat, pandangan matanya menjadi sayu melihat tubuh Kise yang bergetar hebat di hadapannya. Sedangkan Kise yang merasa begitu shock dengan apa yang telah terjadi akhirnya terduduk di atas aspal. Isak tangis mulai terdengar, air mata pun terlihat mengalir deras di kedua pipinya. Melihat hal itu membuat hati Aomine mencelos. Iapun mengulurkan kedua tangannya dan memeluk tubuh Kise.
Selama beberapa menit, Aomine maupun Kise tak mengeluarkan suara setidaknya untuk saling menyapa atau menanyakan kabar. Kesunyian menyelimuti mereka kalau Kise tak terisak. Sementara Aomine sibuk mengumpat dalam hatinya. 'Sial sial sial', Aomine tak pernah merasa amarahnya membuncah seperti ini.
Mengapa? Mengapa hal ini harus terjadi pada Kise? Kalau Aomine tidak datang tepat waktu, Kise akan—
Tidak. Aomine tak mau memikirkan hal itu.
Aomine hanya berpikir bagaimana caranya agar di hari mendatang hal ini takkan terjadi lagi. Aomine berpikir bagaimana caranya agar Kise selalu aman, selalu berada dalam jangkauannya, dan tak pernah lagi melihat tubuh Kise bergetar hebat karena ketakutan seperti tadi. Aomine tak mau hal ini terjadi lagi.
Tiba-tiba Aomine teringat sesuatu.
Dengan perlahan, ia melonggarkan pelukannya terhadap Kise dan menatapnya tajam. Tangannya kini tengah merogoh saku jaketnya dan menggenggam erat kotak kecil yang berada disana. Aomine mengambil napas dalam-dalam lalu ia hembuskan. Kise yang masih terisak hanya memiringkan kepalanya, bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya.
"Kise, aku tahu ini bukan waktu yang tepat," Aomine mulai memecahkan keheningan di antara mereka. "Tapi aku tak mau hal buruk terjadi lagi padamu dan aku akan merasa lega kalau kau berada dalam jangkauanku," lanjut Aomine. Sementara Kise mulai menghentikan isaknya dan menatap Aomine serius. Mata emasnya memandang biru laut milik Aomine, menunggu kelanjutan pembicaraan Aomine kepadanya.
Aomine mengangkat kotak kecil yang ia genggam. Perlahan, ia membuka kotak kecil itu dan memperlihatkan lingkaran perak kecil yang bersinar disana. Kise sempat menahan napasnya melihat cincin perak tersebut, lalu ia kembali menatap Aomine.
Aomine berdeham.
"Jadi.. maukah kau menikah denganku?"
Kise menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menutup mulutnya—terkejut akan apa yang telah diucapkan oleh Aomine. Kedua mata Kise membulat dan air mata mulai kembali menggenang disana. Entah sejak kapan Kise menunggu hari ini datang. Entah sejak kapan Kise memimpikan Aomine akan melamarnya seperti ini. Meski yang ada di dalam bayangan Kise adalah dirinya dan Aomine yang berada di restoran Perancis, berlatar musik romantis, lalu Aomine melamarnya disana.
Namun Kise pun telah lama menyadari bahwa hal romantis seperti itu bukanlah sifat yang dimiliki kekasihnya. Kise pun sadar, sudah lama ia sadar bahwa ia tak peduli dimana pun ia berada asal bersama Aomine, itu semua sudah cukup.
"Kau benar-benar tidak romantis ya, Aominecchi.." ujar Kise seraya menyeka air mata yang mengalir halus di pipinya. "Yeah, aku tahu" jawab Aomine canggung sambil menggaruk punggung lehernya—malu. Kise terkekeh pelan begitu melihat semburat merah terlihat di kedua pipi Aomine. Senyum merekah di wajah Kise sampai akhirnya ia melingkarkan kedua tangannya di leher Aomine dan berbisik disana.
"Sudah menjadi impianku untuk menjadi istrimu, Aominecchi"
Woaah, akhirnya chapter ini selesai juga. Rasanya aku menghabiskan berhari-hari untuk menyelesaikan satu chapter ini saja. Well, karena ini chapter yang kutunggu-tunggu, jadi wajar saja kalau harus dipikirkan baik-baik.
Ah, untuk yang sudah me-review, sekali lagi terima kasih banyak! *bow* Kalian lah yang membuatku bersemangat meneruskan fanfic ini. Ah, dan untuk yang review-nya tak kubalas, mohon maaf karena aku tak tahu harus membalasnya dimana. Mohon dimaklumi.
Nah, seperti biasa, exchange equivalent. Review selalu ditunggu~
