Title: Affection

Writer: Shou

Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko)

Pairing(s): AoKise. KagaKuro

Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.

Rating: T

Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.

Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.

A/N: Pertama, aku harus mengucapkan maaf karena sudah lama tidak melanjutkan fanfic ini. Sejak masuk kuliah lagi, tugas menumpuk dan hampir tiap hari ada ujian. Jadi, well, mohon dimengerti *bow


Aomine berdeham.

"Jadi.. maukah kau menikah denganku?"

Kise menangkupkan kedua telapak tangannya untuk menutup mulutnya—terkejut akan apa yang telah diucapkan oleh Aomine. Kedua mata Kise membulat dan air mata mulai kembali menggenang disana. Entah sejak kapan Kise menunggu hari ini datang. Entah sejak kapan Kise memimpikan Aomine akan melamarnya seperti ini. Meski yang ada di dalam bayangan Kise adalah dirinya dan Aomine yang berada di restoran Perancis, berlatar musik romantis, lalu Aomine melamarnya disana.

Namun Kise pun telah lama menyadari bahwa hal romantis seperti itu bukanlah sifat yang dimiliki kekasihnya. Kise pun sadar, sudah lama ia sadar bahwa ia tak peduli dimana pun ia berada asal bersama Aomine, itu semua sudah cukup.

"Kau benar-benar tidak romantis ya, Aominecchi.." ujar Kise seraya menyeka air mata yang mengalir halus di pipinya. "Yeah, aku tahu" jawab Aomine canggung sambil menggaruk punggung lehernya—malu. Kise terkekeh pelan begitu melihat semburat merah terlihat di kedua pipi Aomine. Senyum merekah di wajah Kise sampai akhirnya ia melingkarkan kedua tangannya di leher Aomine dan berbisik disana.

"Sudah menjadi impianku untuk menjadi istrimu, Aominecchi"


Chapter 7

Di tengah kerumunan orang yang berjalan santai hanya, ada seorang pemuda yang berlari dengan seluruh kekuatannya.

Bulir peluh sudah mengalir deras dari dahinya. Jersey seragam tim basketnya sudah basah oleh peluh yang terus menerus mengalir tanpa henti. Napasnya pun berderu hebat, begitu pula dengan detak jantungnya yang berpacu liar. Tas sport yang ia panggul di pundaknya berayun kesana kemari mengikuti cepat gerak tubuhnya, hingga terkadang menabrak orang yang ada di sekitarnya.

Meski begitu, ia tak peduli.

Aomine terus berlari menuju rumah sakit dimana Kise berada. Ia bagai tak mempedulikan bus yang berlalu lalang—yang seharusnya ia naiki untuk mencapai tempat tujuannya. Namun semua itu tak ada dalam logika Aomine. Ia lebih mempercayai kekuatan kakinya untuk segera sampai.

Sesaat sebelum Aomine merasa napasnya akan habis, akhirnya gerbang rumah sakit Tokyo masuk ke dalam ruang lingkup pandangannya. Dengan tenaga yang tersisa, ia berlari ke meja resepsionis untuk menanyakan nomor kamar Kise dirawat dan kembali berlari begitu sudah mengetahuinya.

"RYOUKO—!" Aomine berteriak memanggil nama Kise seraya membuka paksa kamar rawat Kise. Dada bidangnya naik turun mengikuti alunan datak jantungnya yang masih berderu dengan liar dan peluh masih mengalir dengan derasnya. Sementara seorang pria tengah baya berjas putih dan wanita muda yang ia kenal sebagai manajer Kise berbalik menatapnya. Namun mata biru lautnya masih mencari sosok wanita muda yang ia khawatirkan. Ia melihat Kise tengah terbaring di sebuah ranjang putih. Tubuh semampainya tertutupi selimut berwarna senada dengan kamar rawat tersebut, namun wajahnya berpaling ke arah jendela yang berada di seberang tempat dimana Aomine berdiri.

Aomine segera mengalihkan pandangannya kepada pria tengah baya berjas putih.

"Sensei! Bagaimana keadaan Ryouko?!" tanya Aomine—yang mirip seperti menggertak—seraya mencengkram kedua pundak sang dokter. Sang dokter hanya terkejut sesaat namun tak lama kemudian ia membenarkan kembali letak kacamatanya. Sementara itu, Aomine melihat dari sudut matanya bahwa sang manajer hanya mengalihkan wajahnya darinya—membuat dada pemuda berkulit gelap tersebut sedikit mencelos, takut akan kenyataan yang terjadi pada diri istrinya.

"Sudah tujuh minggu. Se—"

"APA?! Di-Dia sakit apa?!" pekik Aomine, yang akhirnya membuat sang manajer berdecak pelan lalu memegang bahu Aomine, "Kise-chan hamil, Aomine-kun"

...

Apa?

Pemuda bersurai biru gelap itu segera mengalihkan pandangannya ke arah si gadis pirang. Ternyata Kise tengah memandanginya dengan menutup sebagian wajahnya dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya. Sedari tadi ia mengamati gerak-gerik suaminya dari balik selimut, sedangkan Aomine hanya terdiam.

Beberapa detik berselang sampai akhirnya ia melangkahkan tungkai jenjangnya ke arah Kise, berhenti disana beberapa saat, lalu memegang kedua pundak istrinya. Gadis bersurai pirang tersebut masih mengikuti Aomine untuk terdiam, ia masih takut akan reaksi apa yang akan disampaikan oleh pria di hadapannya jika sudah berhasil mengumpulkan semua kesadarannya.

"Da-Daiki..?"

"Ryouko, kau..?"

"Uhm.. ya.." jawab Kise ragu-ragu, masih merasa takut. Takut akan Aomine yang akan memarahinya seperti sang manajer yang terpaksa harus mengubah jadwal pekerjaannya, atau takut akan amarah suaminya karena telah membuatnya khawatir, atau dalam situasi yang paling parah—suaminya tak menginginkan janin yang ada di dalam rahimnya.

Aomine dan Kise menikah dalam usia yang terbilang sangat muda untuk ukuran masyarakat Jepang. Pada tahun dimana mengikuti upacara kedewasaan, mereka telah memutuskan untuk menjalani pernikahan. Pada umumnya, pemuda-pemudi seumuran mereka masih senang bermain-main, masih senang akan kebebasan dan kedewasaan yang baru mereka raih. Mengingat hal ini—meski telah saling mengikat janji—Kise merasa wajar saja bila Aomine belum siap menjadi seorang ayah. Kise merasa jika Aomine memintanya untuk menggugurkan janinnya pun adalah hal yang wajar, mengingat pula pekerjaannya sebagai seorang model ternama.

Meski ia mengetahui semua hal tersebut..

..tetap saja.

Kise sangat bahagia ketika begitu sadar, seorang dokter berjas putih memberinya selamat atas kehamilannya. Meski butuh beberapa detik untuk mencerna semua yang terjadi, Kise akhirnya mengerti semuanya. Ia mengerti sebab mengapa selama ini ia sering merasa pening, mual, bahkan merasa begitu posesif terhadap Aomine. Ia juga menyadari mengapa belakangan ini ia terasa sangat emosional terhadap segala sesuatunya. Ia merasa sedih karena tak dapat menemukan hadiah ulang tahun untuk suaminya, menangis hebat karena pertengkaran kecil, atau merasa tak bersemangat karena Aomine tak berada di sisinya.

Ya, kehamilan ini menjelaskan semuanya.

Belum berakhir Kise melamunkan peristiwa yang terjadi padanya, ia merasakan tubuh hangat Aomine memeluknya. Gadis itu sedikit terhenyak, terkejut karena Aomine memeluknya, lalu otaknya kembali berputar untuk memikirkan apa arti dari reaksi yang diberikan suaminya. Tak lama setelah itu, Kise kembali terkejut ketika lirih suara rendah Aomine menyapu telinganya.

"Syukurlah, Ryouko. Syukurlah.."

Kedua mata emas pun melebar. Ia masih tidak mengerti sehingga ia melonggarkan pelukan Aomine terhadap dirinya. Manik emas itu menatap biru laut dalam-dalam, mencari apakah ada rasa tidak senang akan hal yang tengah terjadi di dalamnya. Akan tetapi Kise tak menemukan hal itu. Ia hanya menemukan kebahagiaan disana.

"Kau tak mempermasalahkan kehamilanku, Daiki?" tanya Kise takut.

"Kau bercanda? Aku akan menjadi seorang ayah. Ayah, Ryouko! Tentu aku senang!" seru Aomine terlihat bahagia, senyum pun merekah disana—membuat wajah Kise berseri-seri. Rasa lega dan bahagia merajai hati wanita yang akan segera menjadi seorang ibu itu. Refleks, ia memeluk tubuh Aomine. Genggaman tangan Kise pada jaket seragam basket Aomine makin lamat makin erat—sampai ia pun dapat merasakan detak jantung Aomine yang melonjak bahagia, merasakan hangat tubuh Aomine, dan merasakan rasa sayang yang meluap hanya untuknya.

"Oh iya, Daiki.." sapa Kise lembut seraya melepaskan pelukannya.

"Ya?"

"Selama ulang tahun, Daiki. Maaf aku tak sempat mempersiapkan kado untukmu" lirih Kise, kecewa akan kegagalannya dalam membalas kado dan gagal untuk memberikan kejutan manis untuk suaminya. Ia hanya dapat tertunduk menatap kasur yang ada di bawahnya.

Melihat wajah murung sang model, sang ace mengesah pelan dan mengelus ubun kepala Kise dan memainkan surai pirangnya dengan ringan, "Ryouko, kehamilanmu adalah kado ulang tahun terindah untukku. Terima kasih" ucapnya tulus. Jemari yang sebelumnya bermain dengan surai pirang milik Kise kini telah beralih ke pipi porselen dan membawanya untuk memberi kecupan disana.

Ah, kebahagiaan kembali datang menghampiri pasangan suami istri itu.

xxx

Musim pun kembali berganti. Terik panasnya musim panas kini berganti menjadi lembabnya musim gugur. Langit yang sebelumnya sangat cerah, kini agaknya menggelap. Adapun merahnya daun momiji mulai menghiasi seluruh Jepang, menciptakan pemandangan eksotis bagi warganya. Tak berbeda pula dengan suhunya. Suhu Jepang lambat laun merendah, menciptakan kesejukan setelah sekian bulan merasakan panas terik yang mendera.

Tentu indahnya musim gugur tak akan dilewati pasangan muda Aomine.

Setelah Kise dikabarkan tengah mengandung dan keluar dari rumah sakit, setiap sore, Aomine selalu mengajak istrinya untuk berjalan ringan di dekat apartemen mereka sembari mengagumi indahnya daun momiji. Setelah peristiwa tumbangnya Kise di lokasi pemotretan, para kru dan agensi Kise memberinya istirahat selama sebulan penuh dari pekerjaannya. Hal inilah yang dimanfaatkan penuh oleh Aomine untuk selalu berada di sisi Kise.

Aomine berusaha membuat suasana hati Kise selalu berada pada kebahagiaan dan nyaman. Rasa mual dan pening tentu masih datang menghampiri sang model, hal itu pula lah yang menjadi alasan Aomine selalu mengajak Kise untuk menghirup udara musim gugur yang cukup sejuk dengan tujuan setidaknya mengurangi morning sickness-nya.

Agaknya usaha Aomine berhasil. Rasa mual Kise berkurang, pening pun sudah jarang melandanya. Berjalan di sore hari di kala angin bertiup sepoi-sepoi, genggaman jemari Aomine pada jemarinya, rangkulan Aomine yang selalu menjaganya, lalu senyum Aomine yang hanya tertuju padanya..

Kise takkan meminta lebih. Segala sesuatunya telah mencapai kesempurnaan. Apa lagi yang Kise butuhkan selain suaminya?

"Moshi-moshi,"

Lamunan Kise buyar ketika mendengar suara Aomine di sebelahnya. Aomine ternyata tengah berbicara melalui telepon genggam birunya. Melihat raut wajahnya yang santai, Kise segera tahu bahwa orang yang menelepon sang ace adalah orang yang dikenalnya.

Sang model masih terus memperhatikan raut wajah Aomine; kedua alisnya terangkat, decihan terdengar pelan dari mulutnya, lalu senyuman ringan, setelah itu Aomine kembali menatap Kise.

"Oi, Ryouko. Tetsu ingin berbicara denganmu" ujar Aomine seraya menyerahkan flip birunya kepada Kise. Senyum segera merekah di wajah cantik Kise ketika mendengar nama pasangan kekasih itu. Dengan riang, ia mengamit flip biru Aomine dan ia tempelkan di telinganya.

"Moshi-moshi~ Ada apa-ssu?" sapa Kise riang.

"Moshi-moshi. Kise-san, bagaimana keadaanmu? Maaf karena kami tak sempat menjengukmu di rumah sakit" sapa Kuroko di seberang sana. Meski terdengar datar, Kise dapat mendengar nada khawatir yang dilontarkan oleh Kuroko, sahabatnya, yang membuatnya terkekeh pelan. Senang akan kepedulian mantan rekan setimnya ketika SMP.

"Daijoubu-ssu~ Tak apa, Kurokocchi. Aku pun segera keluar dari rumah sakit keesokan harinya, bukan hal besar"

"Syukurlah," terdengar desah lega yang Kuroko lontarkan, "Ah, Kise-san, minggu depan Kiseki no Sedai beserta Kagami-kun dan Takao-san akan berkumpul di Maji Burger, kau bisa datang?"

Mendengar ajakan Kuroko, Kise tak dapat menyembunyikan senyum bahagia yang segera terlukis di wajahnya. Bertemu dengan semua anggota Kiseki no Sedai beserta Kagami dan Takao? Tak mungkin Kise akan melepaskan kesempatan ini! Mungkin ia sering bertemu dengan Akashi dan Murasakibara jika datang ke pertandingan Aomine, namun tak pernah ada kesempatan untuk berbicara santai dengan mereka. Terlebih lagi dengan Midorima dan Takao. Sebagai mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Tokyo, Midorima dan Takao sulit sekali dihubungi bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar.

Lalu, apa Kise akan melewatkan kesempatan berharga ini?

"Aku pasti datang-ssu!" seru Kise gembira, membuat Aomine mendesah ringan menyadari Kise yang telah menyetujui reuni kecil mereka.

"Oi, Kise! Jangan lupa bawa Aomine!" terdengar suara Kagami yang berseru di belakang suara Kuroko, yang segera dijawab oleh Kise dengan seruan bahwa ia pasti akan pergi bersama Aomine apapun yang terjadi.

Seruan riang Kise adalah hal terakhir yang Kuroko dengar sebelum akhirnya keduanya menutup sambungan telepon diantara mereka.

"Oi, Ryouko, bukankah kau harus beristirahat penuh? Aku tak mau kondisi tubuhmu menurun dan membahayakan janin yang berada dalam kandunganmu, kau tahu itu?" tanya Aomine seraya berdecak pelan. Kise hanya tersenyum menyadari Aomine yang mengkhawatirkannya. Sambil merangkul lengan Aomine, Kise melancarkan rayuannya agar pemain basket pujaannya itu memberinya izin untuk datang ke reuni kecil minggu depan.

Dan bukan Kise kalau tak dapat meluluhkan hati Aomine.

xxx

Musim dingin. Malam hari. Pelukan hangat Aomine pada tubuhnya.

Mungkin hanya hal itu yang Kise ingat. Ia takkan pernah mau mengingat kejadian mengerikan itu lagi. Ia takkan pernah mau mengulang kejadian itu dalam kepalanya. Ia takkan mau mengingat betapa menakutkannya kejadian yang baru saja melandanya.

Takkan pernah.

Namun Kise akan selalu mengingat kejadian setelahnya. Ia akan selalu mengingatnya meski jadwal pekerjaannya memenuhi otaknya. Ia akan selalu mengingatnya meski tahun demi tahun terlewati. Dan ia akan selalu mengingatnya meski lupa telah merajainya ketika ia berusia sudah senja kelak.

Kise mengangkat tangan kirinya. Dipandanginya dengan seksama sebuah lingkar perak yang melingkar indah di jari manisnya. Senyum dan rona merah pun segera menghiasi wajahnya mengingat kejadian itu. Malu, bahagia, terharu. Ya, segalanya telah bercampur menjadi satu ketika menyadari bahwa Aomine, kekasihnya, telah melamarnya. Kise benar-benar tidak menyangka bahwa hal yang selama ini diimpikannya terjadi begitu cepat. Ia sama sekali tidak mengira bahwa Aomine telah membelikannya cincin dan siap melamarnya.

Kise terkekeh pelan menyadari sisi romantis dari Aomine.

Kise menengadahkan kepalanya, melihat langit berbintang di atasnya. Kepulan asap putih keluar dari mulutnya, menyadarkannya malam makin membuatnya merasakan dinginnya musim pada bulan januari. Tak lama kemudian, Kise tersenyum. Ia mengucapkan terima kasih dalam hatinya kepada Tuhan karena telah mengabulkan impiannya secepat ini. Tak lupa ia berjanji bahwa ia akan menjadi istri yang sempurna bagi Aomine sebagai rasa syukurnya.

Aomine sedikit terhenyak begitu menyadari Kise tengah menyandarkan kepalanya pada lengannya. Meski tak dapat melihat raut wajah kekasihnya, Aomine tahu bahwa Kise tengah tersenyum. Mungkin sudah menjadi kebiasaan Kise jika ia tengah mengalami kebahagiaan, ia akan bermanja dengan bersender pada Aomine. Dan dengan gestur yang ditunjukkan Kise, Aomine pun akhirnya ikut tersenyum. Tak lupa ikut merapalkan ucapan terima kasih kepada Tuhan atas karunia yang ia terima.

Oh, sejak kapan Aomine mempunyai sisi sensitif seperti ini?

xxx

Semua terdiam.

Kise hanya tertunduk setelah menceritakan semuanya. Menceritakan pengalaman terburuknya setelah pulang dari lokasi pemotretan, seberapa takutnya ia, sampai akhirnya Aomine datang untuk menyelamatkannya. Tubuh rampingnya kini bergetar samar, membuat hati Aomine kembali mencelos ketika melihatnya.

Aomine menggertakkan giginya, berusaha membuang bayangan sosok Kise yang tengah diserang oleh pria tengah baya mesum itu. Kedua alisnya bertaut, berusaha menghapus memorinya akan peristiwa yang mengerikan tersebut.

Pria bersurai biru laut itu kini menggenggam jemari Kise, berharap rasa takut wanita muda tersebut lenyap. Agaknya usaha Aomine berhasil ketika menyadari gemetar tubuh Kise perlahan menghilang. Bulir air mata yang sebelumnya mengalir di kedua pipi porselen Kise pun kini telah berhenti. Ya, Aomine berhasil membangkitkan semangat kekasihnya.

Di hadapan pasangan kekasih itu, kedua orangtua Kise terdiam. Masih terlihat sangat terkejut akan peristiwa yang baru saja dialami 'gadis kecil'nya. Bola mata keduanya terbelalak, degup jantung mereka menjadi lebih cepat, serta bulir air mata mulai mengalir di kedua pipi sang ibunda. Seperti itulah, suasana ruang tamu kediaman keluarga Kise pun mendadak kelam.

Kesunyian seketika berhenti ketika ayah Kise membungkuk di hadapan Aomine. Tarikan napas pun terdengar dari pemuda bersurai biru laut. Sementara kedua wanita bermarga Kise hanya terdiam, tak mengerti apa yang dimaksud oleh ayah Kise dengan membungkukkan tubuhnya kepada Aomine.

"Aomine-kun, sebagai ayah dari Ryouko, saya sungguh berterima kasih. Saya benar-benar tak dapat membayangkan jika kau tak ada disana. Sungguh, terima kasih banyak" lirih ayah Kise, terdengar serak pula karena menahan gemetar tubuhnya. Pria tengah baya bersurai hitam itu menundukkan kepalanya dalam-dalam sehingga rambut menutupi wajahnya, serta kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Terlihat jelas bahwa ia bersungguh-sungguh untuk menyampaikan rasa bersyukurnya pada pemuda di hadapannya.

Aomine terhenyak.

Ia sama sekali tak menyangka akan apa yang tengah dilakukan ayah Kise. Memang benar, ia lah yang telah menolong Kise, menyelamatkannya, dan dengan seluruh penjagaan ketatnya terhadap Kise, ia mengantarnya pulang. Akan tetapi, Aomine tetap saja terkejut menerima perlakuan seperti ini dari ayah Kise.

Setelah sempat terdiam karena terkejut selama beberapa saat, sang ace akhirnya menghampiri ayah Kise dan berusaha membuatnya kembali menegakkan tubuhnya. Aomine merasa tak pantas menerima perlakuan seperti itu dari pria tengah baya yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Dengan hati-hati dan tak menghilangkan rasa hormatnya, pemuda itu membantu pria tengah baya di hadapannya untuk kembali menatapnya sejajar.

Aomine memejamkan kedua matanya.

Tak lupa, ia menggertakkan giginya, tak lupa pula ia mengepalkan kedua tangannya. Ia berulang kali merapalkan mantra untuk memantapkan hatinya, meneguhkan dirinya sendiri untuk melangkah. Aomine tak mau mengalami hal ini di kemudian hari, dan baginya hanya satu cara agar hal itu tak terjadi lagi.

Ya, hanya satu.

"Kise-san, saya berjanji akan selalu menjaga Ki—Ryouko. Saya juga berjanji tak akan membiarkan air matanya kembali mengalir. Saya juga bersedia menghabiskan waktu saya untuknya," ujar Aomine penuh kemantapan hati, "Karena itu," Aomine menelan ludah, "Bersediakah anda menyerahkan putri anda kepada saya?"

Ruang tamu kembali sunyi. Sementara Aomine hanya tertunduk terpaku, peluh pun mulai mengalir ringan di dahinya.

Oh, salahkah ia karena sudah meminta putri orang lain untuk menjadi miliknya? Salahkah ia dalam memilih waktu dan kondisi? Atau salahkan ia karena telah meminta hal yang sangat penting di saat umurnya bahkan belum mencapai dua puluh?

Ya, apapun kesalahannya, semua ucapannya tak dapat ia tarik kembali.

Bunyi langkah kaki ayah dan ibu Kise yang mendekatinya membuat Aomine sedikit berjengit. Jantungnya pun tak lupa melupakan tugasnya untuk berdetak lebih cepat. Aomine hanya bisa pasrah jika ternyata ia diusir karena telah meminta hal yang tidak mungkin. Ia juga hanya bisa pasrah jika ia menerima pukulan dari ayah Kise—walaupun Aomine tahu ayah Kise bukan tipe pria yang suka menggunakan kekerasan.

"Angkat kepalamu, Aomine-kun" pinta ibu Kise pelan, entah dengan suara lembut atau dengan suara marah—Aomine sudah tak dapat membedakannya lagi. Setelah menelan ludah untuk kedua kalinya, Aomine mengangkat kepalanya dan menatap kedua orangtua Kise dengan mantap. Apapun jawabannya, ia sudah siap. Meski ia ditolak, ia akan terus berusaha keras agar kelak keberadaannya akan diterima sebagai pendamping Kise. Ya, Aomine yakin akan hal itu.

"Kami percayakan putri kami padamu, Aomine-kun. Kami percaya kau dapat menjaga putri kami"

Mulut Aomine menganga.

Sedetik kemudian, ia baru menyadari tangan kedua ayah Kise berada di pundaknya. Senyum pun merekah di wajah orangtua Kise. Mereka tampak lega seraya mengatakan hal tersebut, jangankan rasa marah, sebesit rasa khawatir saja tidak tampak disana. Semuanya berjalan lancar, tak ada pukulan yang dilayangkan untuk Aomine, tak ada makian, tak ada pula seruan untuk menyuruhnya keluar dari kediaman keluarga Kise.

Hal pertama yang pemuda biru laut itu lakukan ketika menyadari semuanya berjalan lancar adalah menghela napas lega. Detak jantungnya pun perlahan kembali normal, berganti dengan desiran nyaman di dadanya. Kise, kekasihnya, akan segera menjadi pendampingnya. Sama seperti Kise, Aomine pun tak menyangka hal itu terjadi begitu cepat. Ia tak menyangka Kise akan menjadi miliknya seutuhnya secepat ini.

Di sampingnya, gadis bersurai pirang tersenyum manis padanya. Wajah porselen yang sebelumnya pucat, kini telah dihiasi rona merah di kedua pipinya. Seperti Aomine yang merasa lega dan bahagia, Kise pun merasakan hal yang sama. Ia begitu bahagia menyadari impiannya akan segera terkabul, refleks, ia pun menyandarkan kepalanya pada puncak lengan kekasihnya.

Tanggal menikah, gaun pengantin, tamu yang akan diundang, dan segala hal yang perlu mereka siapkan mulai berputar di kepala Kise.

Kise sudah tak sabar untuk menyandang gelar sebagai nyonya Aomine.

xxx

Musim dingin sudah hampir mencapai akhirnya. Salju sudah tak lagi turun, suhu pun perlahan menghangat. Orang-orang yang berlalu lalang tak lagi memakai jaket tebal dengan syal melingkar di leher mereka, kini semuanya kompak untuk hanya memakai jaket tipis. Begitupula dengan kedua sejoli yang tengah berdiri di depan rumah yang sederhana namun asri.

Aomine berdecak ringan seraya mengacak-acak rambutnya.

Pemuda yang telah menjadi pemain basket profesional itu masih tak mau melangkahkan kedua tungkainya, bahkan untuk mengetuk pintu atau sekedar berkata 'tadaima' saja ia masih ragu. Ia menoleh kepada gadis pirang yang ada di sampingnya, lalu mendengus pelan. Gadis yang ada di sampingnya ini adalah kekasihnya—yang sudah ia lamar dan mendapatkan izin dari orangtua gadis tersebut—yaa, lebih kurangnya Aomine telah mendapatkan gadis impiannya, hanya selangkah lagi dan sempurnalah sudah. Namun tampaknya kebodohan tak jua lepas darinya.

Aomine lupa memberi tahu orangtuanya sendiri bahwa ia sudah melamar kekasihnya.

Aomine. Sama. Sekali. Lupa.

Ia kini sudah dapat membayangkan sosok kedua orangtuanya yang terpaku sesaat, lalu ayahnya akan memberinya senyuman dingin seraya memiting kepalanya, lalu ibunya yang akan segera mendaratkan pukulan di kepalanya, lalu keduanya akan menundukkan kepala Aomine dengan paksa di hadapan Kise dan meminta maaf atas omong kosong yang telah anaknya sampaikan pada Kise dan keluarganya.

Ah, Aomine bahkan sudah bisa merasakan sakit di ubun kepala yang akan segera ia terima.

"Aominecchi?" Kise membuyarkan lamunan Aomine seketika. Kepalanya ia miringkan sedikit ke samping, bertanya-tanya tentang apa yang tengah dipikirkan sang ace. Kedua mata emas itu menatap biru laut milik Aomine, lalu berkedip perlahan—membuat bulu mata lentiknya menari ringan. Angin yang berhembus dalam frekuensi yang lambat kini membuat surai pirang Kise mengayun indah. Ya, pemandangan di hadapan Aomine memang begitu indah, hingga memunculkan rona merah di wajah dan desiran hangat pada dadanya.

Aomine berdeham.

Tangan berwarna gelap akhirnya menggandeng pergelangan tangan berwarna porselen. Ia sudah memantapkan dirinya, sama seperti ketika ia datang ke hadapan orangtua Kise untuk melamarnya. Atau mungkin lebih dari itu, ia tahu benar apa yang akan dilakukan orangtuanya jika ia salah dalam menyampaikan hal ini. Aomine akhirnya menarik napasnya, lalu menghembuskannya sebelum membuka pintu rumahnya.

"Tadaima" ujar Aomine—berusaha setenang mungkin sehingga tak memunculkan kecurigaan berlebihan pada orangtuanya—seraya melangkah ke genkan lalu membuka alas kakinya. Kise yang berada di belakangnya mengikuti sikap Aomine dan membereskan letak alas kaki mereka dengan rapi. Kemudian, mereka masuk ke ruang tamu dan pemuda berkulit gelap itu mempersilakan Kise untuk duduk di sofa berwarna biru dongker, sementara ia pergi mencari dimana kedua orangtuanya berada.

Setelah sosok kekasihnya hilang dari pandangannya, Kise bersenandung ringan sembari mengetuk-ngetukkan telapak kakinya ke lantai. Ia merasa sangat nyaman berada di kediaman keluarga Aomine. Kise suka sekali menelusuri sudut demi sudut ruang tamu ini—seluruh rumah ini dengan matanya. Ia suka sekali mencari bekas-bekas masa kecil Aomine di rumah ini. Misalnya seperti ia menemukan goresan garis-garis di kayu daun pintu. Mungkin jika tak memperhatikannya dengan seksama, tak ada seorang pun yang mengerti makna di balik goresan tersebut. Namun tak begitu dengan Kise.

Kise bangkit, mendekati daun pintu ruang tamu, dan berjongkok di depannya.

Dengan sekali tatap ia segera mengerti makna di baliknya. Ia dapat membaca dengan jelas tulisan hiragana di samping goresan garis-garis itu. 'Daiki 3 tahun', atau di atasnya terdapat tulisan 'Daiki 4 tahun', lalu makin ke atas maka umur yang tertulis pun bertambah. Kise mengeluarkan dengus tawa ketika ia menyadari perubahan tulisan 'Daiki' yang ada di daun pintu tersebut. Di umur ke sepuluh, tulisan 'Daiki' yang sebelumnya memakai huruf hiragana berganti menjadi huruf kanji. Kise dengan mudah dapat menebak jika saat itu Aomine baru saja dapat menulis namanya sendiri dengan memakai huruf kanji.

Menemukan hal-hal kecil seperti ini membuat dada Kise menghangat. Mencarinya, menemukannya, lalu menganalisanya sementara ia dikelilingi oleh aroma tubuh Aomine membuatnya menerima kebahagiaan. Bagi Kise, ritual kecilnya ini membuatnya merindukan rumah ini lebih dari apapun.

"Ryouko-chan? Ara, sudah lama tidak bertemu~!" seru nyonya Aomine seraya memeluk tubuh langsing Kise yang masih sibuk berjongkok menganalisa goresan-goresan di kayu daun pintu. Terkejut, Kise akhirnya jatuh terduduk di lantai selagi menerima pelukan hangat dari ibu Aomine.

Menerima pelukan sama artinya dengan menerima segenap kasih sayang dari lawan yang tengah memelukmu. Mungkin seperti itulah yang sedang Kise rasakan. Refleks, kedua lengannya pun terangkat untuk membalas pelukan hangat dari ibu yang telah melahirkan pria terhebat ke dunia ini. "Maaf aku sudah jarang datang kesini, Obasan~" ujar Kise dengan riang, agaknya terbawa akan sikap ramah yang ditujukan oleh wanita cantik di hadapannya.

Dengan terlepasnya pelukan terhadapnya, Kise dapat melihat dengan jelas wanita yang berada di hadapannya. Wanita tersebut memiliki rambut hitam legam sepundak bergaya bob-gothic, yang kadang menari perlahan mengikuti gerak tubuhnya. Kedua bola matanya berwarna senada dengan surainya, hitam dan memiliki tatapan yang tajam. Wajah ovalnya pun menambah aura tegas yang ibu Aomine keluarkan dari dalam dirinya. Pendeknya, seorang ibu yang ada di hadapan Kise itu benar-benar menawan.

Aomine berdecak melihat sikap ibunya terhadap Kise. Dengan sigap, ia segera membantu Kise untuk berdiri, tak lupa ia pun membantu ibunya—meski dengan tampang enggan yang justru membuatnya menerima pukulan ringan dari ibunya tersebut, sementara Kise hanya terkikik pelan melihatnya.

Kise perlahan menghentikan tawa renyahnya lalu melirik ke arah ibu Aomine berada. Wanita yang ada di hadapannya ini memang begitu cantik, meski tatapannya tajam sama seperti anaknya dan membuatnya terlihat sedikit mengintimidasi. Namun ia menganggap semua itu adalah kelebihan dari sang calon mertua. Dan dengan tinggi yang semampai, Kise yakin sekali ibu Aomine sebenarnya dapat bekerja seperti dirinya, sebagai model dan dapat dengan mudah mencapai puncak ketenaran. Akan tetapi wanita tersebut memilih kehidupan sebagai wanita karir, menekuninya, dan mendapat jabatan yang tinggi di sebuah perusahaan ternama. Ya, selain ibunya, Kise sangat mengagumi ibu dari Aomine.

"Lama tak jumpa, Kise-san" sapa seorang pria tengah baya bersurai biru tua, persis seperti milik sang ace. Matanya pun tak kalah tajam, namun memiliki aura yang berbeda. Jika Aomine memiliki aura mengintimidasi, sang ayah memiliki aura yang begitu lembut. Senyum hampir tak pernah hilang dari wajah tampannya yang sudah menampilkan kerutan. Jika Kise merasa ibu Aomine adalah bulan—yang menerangi dalam kegelapan, maka ayah Aomine adalah matahari yang tetap menjaga terangnya hari dalam hari yang cerah. Kise merasa nyaman berada di sisi keduanya.

"Lama tak jumpa, Ojisan" balas Kise seraya membungkuk hormat, tak lupa menampilkan senyum di wajah cantiknya. Sementara di sebelah Kise, Aomine masih merasa gelisah karena berpikir dengan cara apa ia akan menyampaikan hal itu. Ia menaruh kepalan tangannya di hadapan mulutnya, menautkan kedua alisnya, dan kembali memutar otaknya.

Memang, ibu Aomine terlihat lebih keras dan mengintimidasi jika mengetahui bahwa anaknya telah melamar seorang gadis tanpa memberi tahu kedua orangtuanya terlebih dahulu. Yaa, ia akan menerima dua atau tiga pukulan dari ibunya. Sudah biasa. Namun kengerian yang sebenarnya terletak pada ayahnya. Meski senyum hampir tak pernah lepas dari wajahnya, tak pernah ada seseorang yang dapat meredakan amarah sang ayah—selain ibunya, tentu saja. Ayahnya bagai iblis yang tertidur, begitu mengerikan. Ugh, membayangkannya saja ia sudah bergidik ngeri.

"Nah, Daiki. Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya sang ayah, membuat Aomine berjengit. Ya, apapun yang terjadi nanti, ia harus melakukannya. Ia memejamkan kedua matanya, menarik napas panjang, lalu ia hembuskan dengan satu tarikan napas. Manik biru laut memandang warna manik yang sama dengannya dan manik hitam bergantian.

"Baba, Oyaji* –ugh, Okaasan, Otousan, aku akan menikah dengan Ryouko" seru Aomine tegas.

...

Apa?

"Ugh, ja-jadi aku sudah melamarnya dan sudah datang menemui orangtua Ryouko. Jadi, be-begitulah.." ujar Aomine mulai tergagap. Untuk beberapa detik, suasana begitu sunyi, tak ada yang berbicara meski Aomine dapat dengan jelas mendengar suara detak jantungnya. Dan seperti yang sudah ia bayangkan, pukulan segera ia terima tanpa terelakkan dari ibunya beserta pertanyaan-pertanyaan mengintimidasi tentang bagaimana kehidupan Aomine dan Kise di masa mendatang, atau bagaimana Aomine akan menghidupi Kise, atau bagaimana dengan umur mereka yang terlampau masih muda. Ya, ya, Aomine sudah mengantisipasi ini, jadi ia hanya tenang mendengar ocehan sang ibu. Tak ketinggalan, ayahnya pun ikut memiting kepala Aomine sembari tersenyum tanpa berkata apa-apa—membuatnya makin terlihat seram. Lalu keduanya akan memaksa Aomine untuk menundukkan kepalanya di hadapan Kise dan meminta maaf atas kelancangan anaknya karena telah mengucapkan hal yang tidak wajar.

Deham Kise akhirnya menghentikan 'keakraban' yang tengah terjadi dalam keluarga Aomine.

"Anoo.. maaf mengganggu, tapi Aominecchi," Kise kembali berdeham, "Daiki tidak bersalah. Ia mungkin terpaksa melamar saya karena ingin melindungi saya," kedua orangtua Aomine menautkan alisnya, "Saya akan menjadi istri yang baik bagi Daiki, jadi saya mohon, restuilah kami" pinta Kise dengan suara yang begitu lembut namun ketegasan tak hilang dari suaranya. Ia pun membungkukkan tubuhnya, terlihat begitu serius. Namun Aomine hanya mendengus keras, melepaskan dirinya dari pitingan ayahnya lalu menjitak ubun Kise.

Kise yang terkejut akan perlakuan Aomine, kembali menegakkan tubuhnya dan menatap kekasihnya yang tengah terlihat marah padanya. Kise mengerutkan dahinya. Aomine marah padanya? Mengapa? Ia hanya berusaha agar Aomine lepas dari amarah orangtuanya, bukankah seharusnya Aomine berterima kasih padanya?"

"Dasar bodoh! Siapa yang terpaksa menikahimu, hah?!"

Kise mengedipkan matanya beberapa kali—tak mengerti akan apa yang dimaksud oleh Aomine.

"Aku takkan mau menikah dengan terpaksa, kau tahu, bodoh? Aku akan menikahimu karena ini keputusanku, meski kau tak mau, aku tetap akan menikahimu!" Aomine lalu mendecih dengan wajahnya yang mulai memerah, entah karena kesal atau karena malu, Kise tak tahu dengan pasti. Namun yang ia ketahui sekarang adalah pemuda berkulit gelap di sebelahnya itu serius akan dirinya, serius dengan apa yang telah ia ucapkan, serta serius dengan hubungan diantara mereka. Bagi Kise semua itu sudah cukup.

Mengganti Kise, kini Aomine membungkuk di hadapan orangtuanya, "Mungkin aku memang masih belum dewasa—sikapku masih sangat kekanakan dan mungkin aku memang belum bisa menghidupi Ryouko untuk hidup mewah dari honorku kini. Namun aku serius akan keputusanku. Aku harap Otousan dan Okaasan mengerti" kini Aomine yang memohon kepada orangtuanya. Melihat sikap anak lelakinya, ibu dan ayah Aomine hanya saling tatap lalu menghela napas ringan secara bersamaan. Keduanya tersenyum sampai akhirnya sang ayah menepuk pundak Aomine pelan.

"Jadilah pria dewasa, Daiki. Bahagiakanlah Kise-san dan anak-anakmu kelak" Aomine mengangkat kepalanya, memandang ayah dan ibunya yang tengah tersenyum padanya dengan bergantian. Wajahnya berseri setelah mendengar nasihat ayahnya. Ia pun segera mengalihkan pandangannya pada si pirang, lalu tersenyum lebar padanya.

Kise yang sempat terkejut karena menerima pukulan tepat di ubunnya, kini hanya tersenyum bahagia. Mereka berdua tersenyum lega, bersyukur atas semuanya. Aomine telah melamarnya, kini restu dari orangtua kedua belah pihak pun telah mereka peroleh. Apa lagi yang Kise harapkan?

Kebahagiaan sudah menanti mereka.


Well, akhirnya selesai di sela-sela iblisnya kehidupan kuliah. Percayalah, nikmati saja kehidupan SMA, jangan berdoa cepet-cepet lulus kuliah ya, nikmati sajaa~ oke, saya berasa sudah sangat tua.

Oke, untuk 'Baba' dan 'Oyaji', jujur, aku tak tahu Aomine memanggil orangtuanya seperti apa. Namun mengingat sikap 'berandalan' Aomine, aku yakin sekali ia agak tidak sopan memanggil kedua orangtuanya. Di Jepang, mungkin memang banyak yang memanggil orangtuanya dengan 'Baba' dan 'Oyaji', tapi panggilan seperti itu sebenarnya tidak sopan. Yaa, bisa dibilang artinya 'Nenek' dan 'Bapak tua'. Ahaa, wajar sih kalau Aomine berkata seperti itu.

Mind to review?