Title: Affection
Writer: Shou
Fandom/Characters: Kuroko no Basket/Aomine Daiki, Kise Ryouko (Fem!Kise), Kagami Taiga, Kuroko Tetsuna (Fem!Kuroko), Midorima Shintarou, Takao Kazuna (Fem!Takao), Akashi Seijuurou, Murasakibara Atsushi, Momoi Satsuki.
Pairing(s): AoKise. KagaKuro, maybe MidoTaka
Disclaimer: Kuroko no Basuke adalah milik Fujimaki Tadatoshi. Yang saya miliki hanyalah fanfic ini.
Rating: T
Summary: Jatuh cinta adalah hal yang begitu indah. Namun pernikahan membuat segalanya menjadi lebih indah.
Warnings: AU—Fluff attack! Fluff. Fluff everywhere.
.
.
"Jadilah pria dewasa, Daiki. Bahagiakanlah Kise-san dan anak-anakmu kelak" Aomine mengangkat kepalanya, memandang ayah dan ibunya yang tengah tersenyum padanya dengan bergantian. Wajahnya berseri setelah mendengar nasihat ayahnya. Ia pun segera mengalihkan pandangannya pada si pirang, lalu tersenyum lebar padanya.
Kise yang sempat terkejut karena menerima pukulan tepat di ubunnya, kini hanya tersenyum bahagia. Mereka berdua tersenyum lega, bersyukur atas semuanya. Aomine telah melamarnya, kini restu dari orangtua kedua belah pihak pun telah mereka peroleh. Apa lagi yang Kise harapkan?
Kebahagiaan sudah menanti mereka.
.
Chapter 8
.
Langit pada musim gugur memang begitu redup, angin pun bertiup pelan yang memberikan kesan begitu kelam. Namun tentu hal itu sama sekali tak memperngaruhi perasaan bahagia yang tengah Kise rasakan.
Kise menyesap milkshake-nya, mengaduk minumannya dengan sendok kecil, lalu kembali menyesapnya. Kedua manik emasnya menyapu pemandangan di sekitarnya dan beberapa kali membulatkan kedua matanya ketika melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tak hanya itu, jemari yang ia letakkan di atas meja mengetuk-ngetuk permukaan meja perlahan, tak lupa diikuti dengan senandung yang ia keluarkan dari bibir mungilnya.
Siapapun yang melihatnya pasti tahu, Kise bahagia hari ini. Hari yang sudah ditunggu-tunggunya akhirnya tiba. Hari ini, ia akan bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Mengingatnya saja sudah membuat Kise tersenyum lebar.
Sementara di sebelahnya, pria bermanik biru laut, hanya mendengus ringan melihat tingkah laku si manik emas. Bukan, bukan berarti ia tak mau bertemu dengan kawan lamanya, hanya saja si pirang di sebelahnya itu terlalu cepat membangunkannya hari ini. Aomine sangat lelah karena hari sebelumnya ia mengerjakan seluruh tugas yang ia tunda sehingga ia menyelesaikannya hingga larut malam. Seharusnya Kise mengerti jika Aomine teramat lelah, namun gadis itu justru membangunkannya pagi-pagi sekali, menyuruhnya segera bersiap dan berangkat meski acara mereka masih dua jam lagi!
"Daicchi, aku mau milkshake lagi~"
Aomine mendelik.
Apa katanya? Mungkinkah Aomine salah dengar? 'Daicchi'.. Kise tak pernah memanggilnya seperti itu. Memang, Kise memiliki kebiasaan untuk menambahkan 'cchi' di belakang nama seseorang yang mendapat 'pengakuan' darinya, namun tidak untuk nama kecil Aomine. Kise tak pernah repot-repot menambahkan 'cchi' pada namanya—tentu hal ini membuat Aomine penasaran. Apa yang membedakan 'Aomine' dengan 'Daiki'? Bukankah keduanya adalah nama dari pria bersurai biru tua itu?
"Heh~ Baru kali ini aku mendengarmu memanggilku 'Daicchi'.." goda Aomine sembari menumpukan sikutnya di atas meja, meletakkan wajahnya di telapak tangannya, dan tak lupa untuk menyeringai.
Menyadari 'kesalahan'nya, Kise seketika membulatkan kedua matanya sementara kedua pipinya menampilkan rona merah tak lama kemudian. Ia melirikkan matanya ke milkshake-nya, dengan gugup kembali mengaduk minumannya, dan menghela napas, "Tak boleh?", Kise yang alih-alih bertanya balik padanya membuat Aomine mendenguskan tawa. "Aku tak berkata begitu, aku hanya bertanya. Aku lebih suka kau memanggilku 'Daicchi', asal kau tahu", jawab Aomine, tak lupa sembari mengusap-usap ubun Kise dengan sayang.
Kise mengulum senyum. Lucu sekali rasanya memikirkan alasan mengapa ia tak pernah memanggil suaminya sendiri dengan panggilan khasnya. Entah bodoh, atau karena Kise terlalu malu untuk mencobanya. Ya, alasan Kise tak mau memanggil Aomine demikian karena ia takut tak sengaja memanggil Aomine dengan panggilan 'Daicchi' di depan orangtua mereka. Takut jika orangtua Aomine terkikik pelan melihat menantunya begitu manja dan kekanakan. Huh, membayangkannya saja Kise sudah enggan.
"Kise-san, Aomine-kun"
Pasangan yang disebut namanya berbalik mendengar suara yang sangat mereka kenali. Disana lah berdiri gadis bersurai biru langit dan kekasih 'merah'nya, tentu saja. Tak harus menunggu lama, Kise bangkit dari kursinya dan segera menyerbu Kuroko dengan pelukannya—sementara gadis bermata bulat di hadapannya hanya terdiam pasrah. Pemandangan seperti itu memang sudah wajar, Kise sangat menyukai Kuroko—sebagai sahabatnya— sehingga Kagami hanya tersenyum ringan, lalu menyapa si biru laut.
Kedua pasangan tersebut berbincang-bincang dengan ceria. Awalnya Kuroko tentu bertanya mengenai kesehatan Kise, lalu bergeser ke pertandingan tim basket mereka dalam waktu dekat ini, lalu terus berbincang mengenai hal-hal ringan. Mereka terkikik mengingat masa lalu, terkikik pula mengingat sulitnya menemukan waktu untuk bertemu. Waktu terus berjalan seperti itu sampai akhirnya semua anggota pertemuan pada hari itu berkumpul.
"Halo~ apa kabar semua? Sudah lama sekali kita tak bertemu!" ujar si riang bersurai hitam panjang. Ia begitu ceria menyapa semua sahabatnya, menanyakan kabar—tanpa melepaskan lengannya yang mengait pada lengan si surai hijau. "Lepaskan tanganku, Takao", perintah Midorima, yang ditanggapi dengan makin eratnya lengan Takao padanya.
Kise menyapa balik Takao dan Midorima dengan senyumnya lalu mengalihkan pandangannya pada sang kapten dan dua orang yang ada di sebelahnya, "Akashicchi, Momocchi, Murasakicchi, kursi disini kurang, akan kuambilkan kursi untuk kalian" tawar Kise seraya berdiri dan berusaha mengamit kursi yang berada di dekatnya. Sialnya, si pirang tak sadar kakinya bertemu dengan kaki kursi, membuatnya limbung dan terjatuh..
"Ryouko—!"
…hampir. Hampir terjatuh.
Tentu, suaminya yang memiliki refleks bagus menyelamatkan tubuh Kise agar tak menyentuh lantai. Si pirang hanya mengulum senyum canggung kepada suaminya, mengucapkan terima kasih dengan perlahan, lalu berdiri kembali. Aomine yang melihat betapa mudahnya gadis bermanik emas itu menganggap ringan apa yang baru saja terjadi menjadi geram. Tak tahukah Kise bahwa baru saja Aomine merasa detak jantungnya hampir berhenti berdetak?
Hey, bisakah kau lebih berhati-hati menjaga dirimu, Ryouko?
"Bodoh! Berhati-hatilah, kau tak hanya membawa satu nyawa, ingat itu!"
…
"EEEEHH?!"
Pasangan muda itu terlonjak pada saat yang bersamaan. Semua pasang mata menatap mereka tajam, menunggu jawaban pasti. Jeda hening beberapa saat—Kise menatap Aomine, Aomine menatap Kise, lalu mendengus pelan.
"Yeah, Ryouko sedang hamil", jawaban singkat Aomine membuat semua terlonjak gembira, Takao terus menerus mengucapkan selamat seraya menjabat tangan Kise. Kuroko yang biasanya tak berekspresi, ikut tersenyum bahagia atas kabar yang baru saja ia dengar lalu mengucapkan selamat. Momoi.. yeah, seperti biasa, memeluk si pirang erat sampai mendapat pukulan ringan dari Aomine, "Jangan peluk erat-erat, bodoh! Anakku pasti merasa sesak!", seru sang Ace yang tentu segera setelahnya mendapat julukan 'Ayah Kolot'. Sementara sang kapten mengucapkan selamat dengan sikap dewasanya, dengan senyum, tentu saja.
"Ehem! Karena semuanya tengah berkumpul dan sudah ada kabar bahagia, kurasa kami pun akan mengatakan kabar bahagia lainnya" ujar Kagami di sela-sela riuh kawan-kawannya. Semua terdiam dan menoleh, menunggu kabar baik yang Kagami maksud. Terdapat jeda—Kagami sekilas memandang kekasihnya, tersenyum, lalu kembali menatap semua lawan bicaranya.
"Aku dan Kuro—Tetsuna, sudah bertunangan"
Riuh kembali terdengar. Tentu, suara Takao dan Momoi adalah suara yang paling keras. Agaknya para pria merasa canggung karena tidak enak mengganggu kenyamanan pelanggan lain di restoran itu, namun apa boleh buat. Bagaimana bisa mereka tak bersorak ria di saat kabar bahagia yang baru saja mereka terima?
Ucapan selamat yang sebelumnya adalah milik Aomine dan Kise, kini beralih kepada Kagami dan Kuroko. Senyum tentu terlukis di wajah gadis manis bersurai biru langit, sementara kekasihnya hanya terdiam canggung seraya rona merah menjalari wajahnya.
"Aka-chin~ Kapan kita makan kue?" tanya Murasakibara yang akhirnya menyadarkan mereka untuk memesan makanan. Semua berbondong-bondong mendatangi counter untuk memesan makanan, sementara Aomine dan Akashi yang bertugas menjaga meja mereka. Aomine mendengus keras, sebenarnya ia tak mau Kise yang pergi untuk memesan makanan, namun para gadis lainnya tak mau berhenti untuk membicarakan kebahagiaan mereka.
"Daiki, kurasa inilah jawaban atas janjimu", ujar Akashi tiba-tiba, membuat Aomine membulatkan kedua matanya sekilas. Ia tersenyum kepada pria berkulit gelap di hadapannya, melipat kedua lengannya di depan dada, dan menunggu jawaban dari anggota tim basketnya itu.
"Benar, Akashi. Kami bahagia" jawab Aomine mantap. Mendengar jawaban lawan bicaranya, Akashi memejamkan matanya dan bergumam, "Bagus. Teruslah tepati janjimu".
xxx
.
.
Musim dingin masih melanda Tokyo, meski demikian, dinginnya musim tak lagi menusuk tubuh orang-orang yang tinggal disana. Salju tak lagi turun, orang-orang makin sering berlalu-lalang di musim yang tengah menghangat ini. Begitupula dengan pasangan muda yang akan melaksanakan pernikahan mereka.
Seminggu telah berlalu sejak Aomine dan Kise meminta restu kepada orangtua mereka. Restu dari agency tempat Kise bekerja pun sudah mereka dapatkan. Orangtua keduanya pun sudah bertemu. Ya, hanya satu yang belum mereka lakukan.
"EEEH— Kalian akan menikah?!" riuh suara terdengar sampai ke seluruh penjuru Maji Burger. Semua pasang mata membulat, semua pasang mata menatap pasangan yang ada di hadapan mereka. Sementara objek yang ditatap tersenyum ringan, canggung dan tak tahu harus memulai semuanya dari mana.
Tak suka melihat kawannya terus membulatkan pasang mata mereka, sang Ace menggaruk rambutnya kasar, mendecih pelan, lalu menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan semua pandang mata di hadapannya. Aomine menjelaskan bahwa ia hanya ingin lebih cepat membahagiakan dan melindungi Kise—oh tentu, Aomine tak membicarakan kejadian mengerikan yang terjadi malam itu. Semua mendengarkan secara seksama, hingga akhirnya semua mengerti dan tersenyum atas keputusan yang diambil pasangan yang terlampau muda untuk menikah itu.
"Aomine, kau yakin? Apa kau bisa membahagiakan Kise?" tanya Akashi tiba-tiba. Ketegangan tiba-tiba melanda mereka. Semua kembali terdiam ketika Akashi mengeluarkan suaranya. Suara sang kapten memang terdengar tenang, namun semua tahu itu hanyalah di luarnya saja. Ia memang menatap Aomine tajam seperti yang biasa ia lakukan, namun tentu kali ini berbeda. Semua tahu alasannya. Semua tahu mengapa kini suara tenang itu terdengar berbeda.
Tentu karena semua tahu..
..Akashi pun mencintai Kise.
Aomine tentu tak gentar ditatap tajam oleh sang kapten, ia balik menatap Akashi tepat di mata heterochromatic-nya. Jeda waktu ketika kedua pasang mata ini saling menatap intens membuat semua yang berada disana merasa sesak. Semuanya hanya terdiam meski resah karena berada di dalam situasi genting seperti ini. Hampir saja Kagami melarikan diri untuk memesan makanan kalau saja tak dicegah Kuroko.
"Tentu saja. Kurasa ini adalah cara terbaik untuk membahagiakan Kise. Tak ada yang protes jika Kise bahagia, bukan?" balas Aomine tajam, dengan penekanan di setiap suku katanya. Masih dengan menatap kedua mata Akashi tajam, pria bersurai biru laut itu diam-diam mengamit jemari kekasihnya di bawah meja—entah untuk menenangkan Kise atau menenangkan dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat dalam kesunyian yang mencekam, akhirnya Akashi menghela napas dan memejamkan kedua mata tajamnya. Ia mengurut kedua alisnya perlahan, lalu kembali membuka matanya. Sang kapten menatap Kise sekilas—matanya terlihat sayu saat itu—lalu kembali menatap sang Ace. "Suatu saat akan kutagih janjimu itu, Aomine", satu kalimat yang dilontarkan Akashi membuat suasana kembali santai. Helaan napas lega terdengar dari semua yang berada disana, sementara pasangan yang baru saja 'direstui' sang kapten mengulum senyum.
…
'Baiklah, kurasa ini adalah yang terbaik. Aku selalu merasa bahwa hanya aku lah yang bisa menjaganya, namun ternyata aku terlalu naïf. Aku memang memberikan perhatianku lebih kepadanya, namun tetap saja ia hanya menatap orang lain. Aku pun tentu merasa hanya aku yang punya kuasa untuk menjamin masa depannya, namun pada akhirnya aku salah. Dan aku harus mengakui itu. Berbahagialah, kau harus berbahagia, Kise'
xxx
.
.
Akashi pun memejamkan matanya. Buku yang tersimpan dalam hatinya tertutup rapat pada akhirnya. Kise telah berbahagia bersama Aomine, tentu ia tak punya kuasa apapun. Lihat saja wajah si pirang, senyum bahagia selalu terlukis di wajahnya ketika menatap Aomine. Ia sadar, tentu saja ia sadar, namun terkadang ia tak mau mengakuinya. Akashi selalu merasa ia akan memenangkan Kise suatu saat. Suatu saat. Namun hari itu tak pernah datang.
Pemilik mata heterochromatic itu menghela napas lalu memejamkan matanya. Menyerah, hanya itu yang dapat dilakukannya. Tak ada cara lain, sudah cukup. Semua telah berakhir.
Akashi pun hanya dapat menangis dalam hatinya.
.
.
A/N:
Uhm..
Sudah berapa bulan? Sudah berapa bulan aku tak meneruskan fanfic ini? Cukup, aku tak mau sarkastik pada diriku sendiri. Baiklah, pertama, aku minta maaf karena sudah lama tidak update fanfic ini. Kedua, maaf chapter ini harus-sangat-pendek.
Aku tahu ini bukan chapter terbaik, justru ini chapter terburuk, aku sadar itu. Meskipun begitu, aku menjanjikan konflik pada chapter-chapter berikutnya, hehe
Okay, terima kasih kepada semua yang sudah me-review fanfic ini, maaf jika masih banyak kekurangan. Mind to review?
