Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: CRACK pairing! OOC, boring, a lot of typo, etc.
WARNED AGAIN, CRACK pairing! DO NOT LIKE DO NOT READ PLEASE!
Berisik.
Itu yang paling kubenci.
Berisik.
Itu yang sangat menganggu dan selalu kuhindari.
Berisik.
Itu yang ingin kuteriakkan saat ini.
Berisik.
Itu yang masih berputar di sekitar pendengaranku saat ini.
Berisik.
Itu yang sedang dilakukan orang bodoh yang ribut dan heboh sendirian dari awal ia membuka mata di pagi hari dan kurasa hanya akan berhenti saat ia pergi tidur nanti.
Atau bisa disingkat menjadi OBYRDHSDAIMMDPHDKHABSIPTN.
Ingin rasanya aku menaboknya. Kalau bisa kupisahkan mulut itu dari kepalanya.
"Padahal –slurp- kupikir kau akan mengajakku dalam misi itu, Shikamaru. Taphi kau mala pegi begithuw saja, nyam, slurp."
Shikamaru, orang yang diajak bicara, menyeruput tehnya tanpa terlihat hendak membalas sedikitpun.
"Naruto..." tegur Temari. "Lihat itu, belepotan kemana-mana."
"Um?" Naruto hanya nyengir gaje. Memalukan sekali.
"Sepertinya kau jadi tambah bersemangat sejak Sasuke kembali ya?" ujar Sai dengan senyuman yang senantiasa tersungging di bibirnya.
Apa? Sejak aku kembali? Yang benar saja, dia memang sudah berisik sejak dulu, hoi!
Lagi-lagi si dobe itu nyengir sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Sudah selesai belum, dobe?" Akhirnya aku buka suara juga. Terlalu bosan rasanya menunggu Naruto yang selalu minta tambah di setiap mangkuknya kosong.
"Memangnya kenapa?" tanyanya dengan ekspresi –yang menurutku- bodoh.
"Aku bosan menunggumu. Sudah dua puluh tujuh kali kau minta tambah dan aku tidak tahan lagi kalau harus menungguimu. Selesaikan sekarang atau aku pulang duluan."
"Ini juga udahan kok," balasnya padaku. "Ya sudah, ayo."
Shikamaru juga bangkit berdiri. "Ayo, Temari."
Gadis itu juga ikutan berdiri. "Sebenarnya, aku bisa kembali ke penginapanku sendiri."
"Sudahlah. Aku juga sudah terbiasa," kata Shikamaru. "Merepotkan. Ayo."
"Sebenarnya..."
Langkah Naruto langsung berhenti begitu mendengar suara Sai. Mau tidak mau ya aku jadi ikut berhenti juga.
Tunggu, tunggu. Jangan salah paham kalian semua. Aku hanya tidak mau sampai di apartemen lebih dulu daripada Naruto karena itu artinya aku harus menunggu si dobe yang memegang kunci ini muncul membukakan pintu.
"...ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Temari-san. Nanti biar aku saja yang mengantarnya."
Shikamaru cengo. Naruto cengo. Temari cengo. Aku keren.
"Ng... mhmm... Serius?" tanya gadis itu. Kelihatan sekali dari wajahnya kalau ia tidak yakin. Sang gadis melirik Shikamaru seperti minta tolong atau semacamnya lah.
"Err..." Shikamaru menggaruk bagian belakang kepalanya.
Dan Naruto dengan bodohnya merangkul Shikamaru. "Baiklah kalau begitu! Sampai jumpa!" Lalu menyeret Shikamaru dengan bersemangat, meninggalkan Temari yang mematung menatap nanar kepergian kami dan Sai dengan senyum anehnya. Cih, dia pikir keren apa senym bejadnya itu.
Lho, kok jadi kesel ya?
Tapi bukannya lanjut pulang, si Naruto malah putar balik, masih sambil menyeret Shikamaru. Tentu saja hal ini membuatku kesal setengah mampus. Mau apalagi sih anak ini?
"Naruto, apa-apaan sih kau ini?" tanyaku, tidak berusaha menyembunyikan nada jengkel sedikit pun.
"Sekarang apa lagi?" Shikamaru ikut bertanya dengan malas.
"Kalian tidak pernasaran dengan apa yang ingin dikatakan Sai?" ujar Naruto berapi-api. Setelah memastikan jarak kami cukup jauh dari mereka, ia mulai bersembunyi di semak-semak. Mau tidak mau aku ikutan berjongkok di sebelahnya.
"Aku tidak ada waktu untuk main beginian, Naruto. Berikan kunci kamarmu, aku mau balik duluan," ujarku.
"Kau yakin, Sasuke? Seru lohh," balasnya. Seru kepalamu?
"Temari-san..."
Mendengar suara itu, spontan aku langsung diam. Apa-apaan sih ini? Tapi... sebenarnya penasaran juga sih. Sedikit.
Sedikit loh, sedikit. Kalian jangan salah paham ya.
"Y-y-ya...?"
"Sebenarnya yang ingin aku bicarakan adalah..."
Naruto menelan ludah. Shikamaru juga terlihat tegang. Aku? Tetap keren tentunya.
"...aku ingin melukismu."
Naruto langsung gubrak. Shikamaru cengo. Dan aku tetap dengan kekerenanku.
"A... Hah?" Temari juga sepertinya kaget dengan pernyataan nggak jelas itu.
"Yah, berhubung..." Sai memperhatikan tubuh Temari lekat-lekat. "Aku mengagumi tubuhmu yang sedikit gemuk dan berlemak."
Hening.
Apa-apaan itu?
Aku menoleh ke arah Naruto dan Shikamaru. Apa aku salah dengar? Tapi ekspresi kaget Naruto dan Shikamaru yang berlebihan membuatku yakin. Telingaku yang hebat ini tidak mungkin salah dengar.
Temari mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Alisnya bertaut. Ia mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Bisa dilihat ia sedang geram sekali. Saat menunggu aksinya seperti meninju wajah Sai atau mengipasnya ke ujung dunia, aku berpikir betapa bodohnya Sai itu.
Tapi kelihatannya Temari tidak melakukan apa-apa saking kesalnya. Ia hanya bisa berbalik dan berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya. Keliahatan sekali dia sudah murka. Si bodoh Sai mengejar dari belakang.
"Te-Temari-san... Apa aku salah bicara?" tanyanya khawatir.
"Tidak kok! Aku menghargai kesopananmu tapi aku juga menolak tawaranmu!" bentak Temari. Wah, sepertinya dia sangat marah. Hahaha.
Lho, kok jadi seneng ya?
Sai menggaruk pipinya, masih mengejar Temari. "Kelihatannya... kau marah dengan kalimatku barusan."
Temari mendengus. "Kelihatannya aku tersinggung dengan kalimatmu barusan."
"Ah. Ma-maafkan aku kalau begitu."
Tapi Temari tidak menghiraukannya dan malah mempercepat langkahnya.
Aku, mau tidak mau, ikutan Naruto dan Shikamaru ngesot-ngesot di semak-semak untuk mengikuti langkah Temari dan Sai yang mulai cepat itu. Tentu saja berbeda. Aku ngesot dengan gaya keren, mereka dengan gaya monyet.
"Dengarkan aku, Temari-san. Dari yang kupelajari, wanita selalu senang kalau aku mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan sifat atau sesuatu yang mereka miliki. Hal ini sudah kupraktekkan pada Ino dan berhasil," jelas Sai yang membuat kami bertiga kaget lagi.
Temari juga terlihat terkejut. Gadis itu mulai memelankan langkahnya.
"Ma-ma-ma-maksudnya... Maksudnya apa itu?" gumam Naruto.
"Ssst! Pelankan suaramu!" bisik Shikamaru.
"Ja-jadi... Jadi maksudnya?" Temari bertanya dengan tatapan 'aku-tidak-percaya-kau-ini-bodoh-sekali-sih'.
Sai kembali menggaruk pipinya. "Sebenarnya... aku mengagumi lekuk tubuhmu yang indah itu," ujarnya dan entah kenapa muncul sedikit rona merah samar di kedua pipinya. Cih, menyebalkan.
Lho, kok jadi sebel ya?
Temari tertawa terbahak-bahak. "Ya ampun! Hahaha! Kau ini ternyata lucu juga ya! Hahaha!"
Si bodoh Sai menunduk dan tersenyum malu-malu.
Lalu mereka mulai mengobrol akrab dan Sai melancarkan niatnya yang kedua, mengantar Temari kembali ke penginapannya.
Naruto masih cengo di tempat selepas kepergian mereka.
"Hah, ada-ada saja," ujar Shikamaru dengan gaya malasnya yang biasa. "Sudah kan, Naruto? Aku balik dulu ya." Nara ini mengangguk sedikit ke arahku dan pergi dari semak-semak gaje ini.
Dan kusadari aku masih jongkok dengan tidak elitnya. Cepat-cepat aku berdiri dan membersihkan celanaku.
"Naruto, sudah selesai itu. Ayo kita pulang!"
"E-eh iya, iya," jawabnya sambil nahan ketawa. Lalu ia geleng-geleng kepala. "Dasar si Sai itu. Ada-ada saja. Baru kali ini aku melihatnya seperti itu. Hmph, hahaha!"
Aku tidak mengacuhkannya. Hanya kembali berjalan lurus.
"Menurutmu dia menyukainya?"
"Siapa?"
"Sai. Menyukai Temari. Kita kan lagi membahas mereka, Sasuke. Kenapa kau jadi bodoh begitu sih?" ujar Naruto sambil meyipitkan matanya.
Apa? Bodoh katanya? Kurang ajar.
"Itu kan bukan urusanmu," jawabku.
"Aku kan hanya menanyai pendapatmu."
Sialan nih si dobe. Sejak kapan dia jadi pintar membalas omongan orang begini?
"Kelihatannya iya. Sakura pasti suka mendengar hal ini. Hahaha. Menurutmu mereka cocok?" Naruto kembali bertanya.
"Bisa tidak untuk tidak membicarakan mereka lagi?" kataku langsung.
Naruto terlihat agak kaget dengan balasanku barusan. Apalagi kusadari ada sedikit nada ketus di kalimat itu. "Memangnya kenapa?"
Betul, memangnya kenapa? Kenapa aku jadi aneh begini sih?
"Aku tidak suka membicarakan orang. Apalagi hubungan mereka. Siapa peduli?" jawabku bohong.
Naruto mengernyit. "Ah! Kau memang tidak seru Sasuke!"
Terserah anak itu mau bilang apa. Pokoknya aku tidak suka membicarakan hubungan mereka.
Lho, kok jadi panas ya?
Kenapa sih aku ini?
TBC~
Terima kasih untuk MissLabil, Masahiro 'Night' Seiran, D kiroYoiD, dan rin kage no kurokaze untuk reviewnya.
Lalu untuk min cha, chae rim, dan kawan-kawannya, maaf atas telat updatenya. Tenang saja, kami bukan tipe orang yang nggak mau update karena cuma dapet sedikit review. Kebetulan aja kami memang lagi sibuk. Oleh karena itu kalian nggak usah repot-repot review berkali-kali, daripada kalian kecapekan nantinya. :)
Warm regards, Shiori and Shiroi.
