Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: CRACK pairing! OOC, boring, a lot of typo, etc.

WARNED AGAIN, CRACK pairing! DO NOT LIKE DO NOT READ PLEASE!


Hampir setengah malam kuhabiskan dengan mata terbuka.

Tapi bukan berarti aku tidak tidur sama sekali. Tentu saja tidur itu penting untuk menjaga ketampananku.

Kembali ke topik awal.

Hampir setengah malam kuhabiskan dengan tidak tidur. Aku juga tidak tahu kenapa bisa begini. Padahal sebelumnya tidak pernah.

Dan yang membuatku begini adalah dua orang yang baru saja kami kuntit tadi.

Kalian pikir ini lucu? Jangan tertawa karena menurutku ini tidak lucu.

Aku tidak mengerti apa sih maunya otakku ini. Masa iya aku tertarik untuk urusan beginian?

Tidak, tidak. Aku bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

Lagipula, demi kebodohan Naruto yang paling bodoh di seluruh permukaan bumi, untuk apa dan kenapa aku bisa tertarik coba?

Aku bangun. Bukan, aku terbangun dengan kaki Naruto yang entah bagaimana caranya bisa berada di wajah kerenku.

Kubuang kaki itu dan melirik kesal ke arah Naruto yang sedang tidur dengan gaya yang benar-benar memalukan. Padahal aku yang tidur di kasur dan dia yang tidur di lantai. Kenapa kakinya bisa naik ke wajahku?

Akhirnya karena sudah terlanjur bangun, aku turun dari kasur. Setelah menyempatkan diri untuk menginjak-injak Naruto dengan kebaikan hati yang kupunya, dan ajaibnya dia tidak terbangun, aku beranjak ke kamar mandi sempit nan gembel yang merupakan satu-satunya kamar mandi yang bisa kupakai disini. Mau bagaimana lagi lah, tidak apa-apa. Orang keren sepertiku kan harus senantiasa wangi. Walaupun aku yakin juga sih meskipun bau, para wanita tetap senantiasa menjadi penggemarku.

.

Saat aku sudah selesai dan keluar dari kamar mandi, matahari sudah benar-benar tinggi. Dan si bodoh Naruto belum juga bangun. Dengan sangat berperikehewanan, aku kembali mondar-mandir menginjak Naruto.

Dan yang membuatku kesal, ia bergumam sedikit tapi tetap molor layaknya kebo.

Huft, tenang, tenang. Aku tidak bisa merusak imejku di sini.

"Naruto," panggilku. Wow, sopan sekali ya aku.

Makhluk itu menggeliat, lalu kembali tidur. Aku menghela napas. Buset. Apa memang sifatnya begini ya?

Lalu tanpa berbasa-basi mengetuk pintu, muncullah Sakura. Tapi begitu melihatku, dia langsung sadar dan kembali menutup pintu. Sedetik kemudian, terdengar suara pintu diketuk.

Aku berjalan ke arah pintu dan membukakannya sambil pasang wajah datar nan keren seperti biasa. Padahal sebenarnya aku mau ngakak guling-guling di lantai. Tapi itu nonsense sekali. Aku kan seorang Sasuke Uchiha.

"Pagi, Sasuke!" sapanya ceria.

"Hn," balasku dan membiarkannya masuk. Ada apa ya dia kesini?

"Ya ampun! Kenapa dia masih tidur sih? Narutoooooo! Ayo bangun!" seru Sakura ketika melihat Naruto yang masih tidur sambil menarik selimut serta futon yang digunakan si dobe itu sekaligus. Wow, bravo.

"Gyaaa! Kenapa ada Sakura-chan disini?" tanya Naruto yang akhirnya bangun juga dengan panik sambil menutupi celana boxernya.

"Kita dipanggil Nona Tsunade tau! Makanya aku kesini untuk memanggilmu dan Sasuke juga!" jelas Sakura. "Sana, sana! Cepat bersihkan dirimu! Sudah kubawakan sarapan, cepat sana!" geram Sakura sambil menendang Naruto.

"Aduduh. Iya, iya!" Dan Narutopun langsung ngibrit ke kamar mandi disertai lemparan panci, termos, dan wajan dari Sakura.

Aduh, lagi-lagi aku harus nahan ketawa.

"Nah, Sasuke, ayo kamu makan duluan ya," ujar Sakura padaku. Aku sih hanya menganggukan kepala saja.

Halah, apa-apaan sih hokage itu. Nggak tau apa orang baru nyampe kemaren. Masa mau dikasi tugas? Sama Naruto pula. Rusak beneran telingaku lama-lama.

.

Sakura mengetuk pintu ruangan hokage. Setelah nenek itu menjawab, dia baru membuka pintunya dan masuk diikuti oleh Naruto dan aku.

Untung juga Sakura yang jalan duluan. Sebenarnya aku agak lupa bagaimana tata caranya mengetuk dan membuka pintu dengan benar. Tadi aku sempat berpikir untuk langsung membuka pintu itu dengan menendangnya.

"Akhirnya kalian datang juga." Tsunade membuka pembicaraan. Lalu wanita itu menatapku. "Aku sudah dapat kabar kemarin kalau kau kembali."

Terus? Penting gitu?

"Sebenarnya aku lumayan terkejut juga."

So what gitu loh?

"Tapi rasanya pantas saja, mengingat perjuangan Naruto dan Sakura selama ini."

Sinangga tuloh tuloh gitu loh o o oh.

"Kau pasti senang memiliki kawan seperti mereka berdua."

Emangnya gue pikirin.

"Nah, dengan ini, aku ucapkan selamat datang kembali ke Konoha."

"Terima kasih," jawabku langsung. Singkat, padat, dan jelas. Keren kan? Keren kan?

Setelah jeda sesaat, giliran Sakura yang buka suara. "Guru, ada apa memanggil kami?"

"Iya, nenek, ada urusan apa nih?" tanya Naruto yang langsung dipelototi oleh Sakura.

"Yah, aku ingin memberikan misi pada kalian tentu saja-"

Belum selesai nenek peot, ups, maksudku wanita cantik itu bicara, Naruto langsung memotongnya dengan berseru, "Hore! Misi pertama bersama Sasuke setelah sekian lama!"

"Naruto!" tegur Sakura. Padahal aku tahu, di dalam innernya, dia pasti meneriakkan hal yang sama dengan Naruto.

"Emm, maaf, tapi sepertinya kau harus menunggu untuk itu," lanjut sang hokage yang membuat Naruto menggumam kecewa dan Sakura menekuk alis. Aku? Ngedance Lucifer-nya SHINee dalam hati.

Bercanda. Mana mungkin aku melakukan hal memalukan seperti itu. lagipula siapa itu shinee?

Kembali ke topik awal.

Tsunade memulai lagi. "Kita sedang kekurangan orang..." Dasar gembel. "...padahal misi yang kita terima sedang banyak-banyaknya..." Dasar matre. "...jadi apa boleh buat. Kita tidak bisa mengirimkan satu kelompok sekaligus untuk satu misi. Karena kira-kira misi ini tidak terlalu sulit, kalian akan kukelompokkan dua-dua."

"Hmm, baiklah kalau begitu! Kapan kita bisa mulai?" tanya Naruto mupeng.

"Tunggu dulu! Dibagi kelompoknya aja belon!" bentak Tsunade. "Kau akan pergi dengan Sakura."

"Yeah!"

"Apa?"

Naruto dan Sakura teriak secara bersamaan. "Eh, ma-maksudku, kalau begitu Sasuke dengan siapa?" ralat Sakura.

Benar juga, aku dengan siapa?

"Paling dengan Guru Kakashi, atau Ketua Yamato. Atau Sai mungkin," ujar Naruto.

What? Sai? Ngapain? Mendingan misi sendiri deh! Aku yakin kok aku bisa melakukannya sendiri. Daripada sama si Sai itu, euh.

Loh, kok jadi sebel lagi ya?

"Tidak, tidak. Mereka sudah kuberikan misi yang lain," kata hokage itu lagi.

Hah, baguslah.

Lalu pintu ruangan itu diketuk lagi.

"Nah, Uchiha, partnermu dalam misi kali ini sudah datang," ujar hokage itu lagi. "Masuklah."

Aku hanya memandang dengan bingung. Maunya sih pasang ekspresi cengo, tapi nggak keren nantinya dong ah.

Dan masuklah dia.

Dia.

Dia!

Orang yang membuatku tidak tidur setengah malam!

"Ada apa Anda memanggil saya?" tanya si dia.

"Err, sebelumnya maaf jika aku terlalu seenaknya. Tapi saat ini Konoha sedang kekurangan orang untuk menjalankan misi. Dan kurasa karena tugasmu disini baru akan dimulai beberapa hari lagi, aku mau minta tolong padamu, itupun jika kau tidak keberatan..." jelas Tsunade panjang lebar.

"Oh." Dia tersenyum. "Tidak apa. Aku juga tidak ada kerjaan. Berhubung Shikamaru juga sedang pergi misi. Kalau ada dia biasanya kami membicarakan soal itu tuh, urusanku yang mencakup urusannya dan urusan panitia lainnya juga disini yang baru akan dimulai beberapa hari lagi."

Aku menaikkan sebelah alisku. Apa dia memang suka meribet-ribetkan kata seperti itu?

Tsunade tersenyum lega. "Oh baguslah. Kau akan dibantu Uchiha, tidak apa-apa kan?"

Dia menoleh dan menatapku. Aku yang kebetulan memang sedang menatapnya telat untuk melempar pandangan ke arah lain. Jadi deh pandangan kami bertemu. Tarrah~

Kemudian dia berbalik lagi. "Baiklah."

"Bagus!" Tsunade memukulkan tinju kirinya ke telapak tangan kanannya. Kemudian dia menarik dua kertas dan menyerahkan satu pada Sakura dan satu pada dia. "Sekarang kalian laksanakan misinya sekarang juga. Itu, baca sendiri saja ya. Sana, sana, cepat, hush, hush!"

Gila, sopan bener main ngusir-ngusir aje.

Kami berempat langsung keluar dari ruangan itu. Bingung karena sudah lama tidak menerima misi, aku hanya mengekori dia saja.

Ketika melihat dia sedang membaca kertas ga jelas itu, aku jadi ingat kalau partner misiku kali ini itu dia. Karena itu kudekati saja dan membaca isi kertas itu dari balik bahunya.

Eh, habis itu dia tiba-tiba menolehkan kepalanya. Jadi deh jidatku dan jidatnya bersentuhan. Aku mengalihkan pandanganku dari kertas itu dan yang kutemukan adalah bola mata berwarna teal yang sedang menatap balik ke arahku.

Ini sih... wajah kami terlalu dekat.

Mati nggak luh.

Tiba-tiba dia mendorong jidatku dengan jidatnya, memberi jarak bagi wajah kami sehingga tidak terlalu dekat lagi. Lalu dia tersenyum jahil dan berkata layaknya tidak terjadi apa-apa, "Misi ini mudah kok. Mungkin kita bisa menyelesaikannya hari ini juga."

Lho, kan memang tidak terjadi apa-apa kan?

Lho, kenapa aku jadi grogi begini?

"Hei, Uchiha?"

Aku sedikit tersentak. Aduh, ngapain sih aku ini? Aku meliriknya dengan tatapan datar-sedatar-datarnya.

Dia menaikkan sebelah alisnya. "Kau kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Walaupun wajahnya jelas-jelas menunjukkan 'dasar-Uchiha-aneh' ke arahku, entah kenapa aku tidak merasa tersinggung. Heh, mungkin dia sedang beruntung.

Saat aku hanya diam saja, dia malah menatapku, sebenarnya memelototi sih. Aku memutuskan untuk menatapnya balik tanpa harus repot-repot bertanya 'apa?'.

Aduh.

Benar-benar canggung.

Tapi aku tidak keberatan sih.

Lho, kok jadi aneh begini?

Dia mendengus. "Kenapa kau malah diam saja disana?"

Aku tetap diam. Mungkin dia capek kali ya adu pelototan denganku sampai akhirnya buka mulut duluan.

Kemudian dia berjalan pergi menduluiku. Nah lho, mau kemana dia?

Kertas misi melayang dihadapanku.

Ah, lupa.

Lalu aku langsung menyusul langkah si dia.

"Temari, tunggu."

Dia berbalik. Melihat aku yang berjalan di sampingnya, dia hanya nyengir sebentar dan kembali menatap jalan.

Beda ya... Coba kalau Sakura, mana mungkin aku ditinggal seperti itu.

Ini aneh. Kenapa suasana jadi salting begini. Dia tidak sih, tapi aku iya.

"Uchiha."

Makanya itu kubilang, ini aneh.

"Hei, Uchiha."

Mungkin aku jadi canggung karena tidak pernah bertemu dengannya. Eh, bukan tidak pernah bertemu sih, mungkin tidak pernah mengobrol lebih tepat.

"Heh, kau tuli ya?"

Atau mungkin karena dia tidak terpesona dengan pesonaku dan aku belum terbiasa.

"Sasuke!"

Aku langsung menoleh. Hei, dia baru saja memanggil namaku. Kulihat dia agak kaget karena aku menoleh tiba-tiba.

"Err... Maafkan aku karena sudah memanggil nama, aku keceplosan," ucapnya sambil menggaruk pipinya.

Tidak ada cewek-ceweknya sama sekali. Tapi aku su- Emm, aku sudah pernah memikirkan kalau aku tidak terlalu peduli dengan itu. Lagipula feminim bukan termasuk tipeku.

"Habisnya kau dipanggil nggak nyaut sih! Aku hanya ingin tanya apa kau mau kembali ke tempatmu dulu untuk mengambil bla bla blanya?" Dia bertanya sambil sedikit menyibak poninya. Well, cukup anggun kurasa.

"Tidak perlu," jawabku. Memang kok. Orang si Sakura bilang kayaknya mau dikasih misi. Makanya semua sudah kusiapkan. Hohaha.

"Baguslah," kata dia sambil tersenyum lebar. Entah kenapa spotnya kebetulan sekali sedang bagus sehingga ada segaris dua garis sinar mentari di wajahnya saat dia tersenyum begitu.

Nah kan, aku jadi malu.

"Ayo, Uchiha. Makin cepat kita selesaikan tugas ini, makin cepat kita santai." Dia mulai berjalan lagi dan aku mengikuti dari belakang.

"Temari."

Gadis itu berhenti berjalan. "Ya?"

Aku berjalan mendahuluinya.

"Kau boleh memanggil namaku saja."


TBC~


Big thanks to Fujisaki Fuun, ZephyrAmfoter, min cha, Masahiro 'Night' Seiran, SasuTema, Mori, Ericka, Princess, Kitaro, Gui-gui, sasutema luv, kuchiki, Hana, Kagome, rin kage no kurokaze, Chae Rim, Miyako, Temari, Moshi, Yuki, dan suki atas reviewnya.

Warm greeting.