We Belong Together

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: CRACK pairing! OOC, boring, a lot of typo, etc.

WARNED AGAIN, CRACK pairing! DO NOT LIKE DO NOT READ PLEASE!


Akuuu kesaaaall, setengah matiiii skarang iniiii~

Sungguh kuingin kau tauuuu...

Akuu kesaaall...

Setengah matiiii...

Dan aku serius.

Mengesampingkan keinginan untuk membacok dan membakar author yang membuatku bernyanyi lagu aneh dalam batinku itu, aku memang sangat kesal sekarang.

Iiihhh, pokoknya sebel banget deh!

Emang sih, aku belum sempat melihat misi apa yang akan kami jalankan karena kertasnya keburu dibuang sama si Temari. Jadinya gini kan, kesel sendiri aku.

Hm? Kenapa aku nggak baca sewaktu aku berdiri di belakangnya?

Humph, jangan salahkan aku, salahkan saja gadis itu. Aku belom selese baca, eh dia malah noleh. Kan otomatis aku juga ikutan noleh. Udah gitu bukannya dia kasih aku baca, eh malah langsung dibuang itu kertas!

Hm? Kertasnya sempet terbang di depan mukaku?

Ya elah, terbang itu kan berarti saat itu itu kertas udah dibuang. Kalian menyuruhku memungutnya? Idih, sorry sorry sorry jack, ogah aku.

Aduh, kok jadi curcol, ya?

Ehem, pokoknya itulah. Intinya ya, misiku kali ini disuruh nganterin anak kecil.

Kuulang nih ya, nganter anak kecil.

Kuulang sekali lagi nih, nganter tuyul!

Ngajak ribut kan tuh hokage?

Masa aku, seorang Uchiha Sasuke, disuruh nganter tuyul ke rumah orangtuanya yang cuma berjarak sejengkal... Err, nggak sejengkal juga sih... Soalnya orangtuanya di desa sebrangnya lagi, jadinya emang agak jauh. Nah, lanjut. Masa orang sehebat diriku ini diberi misi secetek ini sih? Hello hello baby you called I can't hear a thing? Nggak gue banget~

"Aming! Jangan lari jauh-jauh!"

Aku tersadar dari dumelku dan menyadari bocah tuyul laki-laki itu udah lari-lari ke depan sambil merentangkan tangannya. Heh, anak gila, kupu-kupu aja kok dikejar? Sama gilanya kayak namanya. Lalu aku melirik ke sampingku dimana Temari berdiri sambil berkacak pinggang dan ngedumel sedikit. Kelihatannya dia pun tidak mau repot-repot mengejar anak tuyul itu.

"Makanya aku tidak suka anak kecil," rutuknya pelan, namun tetap saja terdengar oleh kuping saktiku ini. Hm, aku memang hebat.

"Aku juga," sahutku pelan.

"Ya, terlihat dari pembawaanmu," ucapnya lagi. Heh kurang ajar. Barusan itu hinaan atau pujian?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengeluarkan dengusan.

Kami kembali berjalan dalam diam dengan mata masih mengawasi bocah tuyul di depan yang masih lari-lari nggak jelas.

"Untuk apa sih hokage memberi misi macam begini..." keluhku, lebih pada diriku sendiri.

"Kau nggak baca kertasnya tadi ya?" tanyanya nyolot. Jih, minta dicipok kali ye. "Orangtua anak ini tajirnya minta ampun. Makanya cuma buat beginian aja pake nyewa shinobi segala. Padahal menurutku kalau diantar biasa oleh pengawal biasa juga nggak bakal ada kejadian apa-apa."

Mendengar itu, aku pun mengangguk-anggukkan kepalaku. "Heh, pantas saja. Bayarannya pasti mahal."

Eh dia tiba-tiba tertawa. "Iya, bayarannya mahal. Maaf nih ya, aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi sebenarnya hokagemu itu sudah cukup terkenal dengan kematreannya."

Aku mendengus lagi. "Iya, aku tahu."

Kemudian kami kembali berjalan dalam diam. Kali ini aku nggak peduli sama sekali pada bocah itu, toh masih ada Temari ini, kan? Aku benar-benar menikmati setiap langkahku. Well, cuaca sedang cerah dan sedikit berangin. Dengan hawa sejuk seperti ini sebenarnya enaknya tidur saja. Tapi apa boleh buat kalau tidak bisa. Setidaknya berjalan berdua begini dalam diam membuatku nyaman.

Hah?

Berdua? Kapan aku bilang begitu? Kalian salah baca, kali.

"Ck!" Aku langsung menoleh begitu mendengar decakan kesal itu dan melihat kalau Temari sudah berlari ke depan dan menarik baju belakang Aming yang kayaknya lari sampai hampir nyebur ke kolam gede.

Tuh kan, bocah gila, kolam segede itu aja nggak dia liat, ckckck.

"Haduuh, merepotkan saja," keluh Temari lagi. Wah, dia makin mirip dengan Shikamaru.

Aku mempercepat langkahku dan berjalan di sampingnya lagi. "Kalau begini terus sih bisa lama. Kenapa sih kita nggak lari saja?"

Gadis itu mendelik ke arahku. "Aku juga maunya begitu. Tapi ini anak gimana? Kau mau menggendongnya? Aku sih tidak mau!"

Oh iya ya, bener juga. Aku menghela napas sebentar. Baik aku dan dia sama-sama tidak suka anak kecil, catat itu. Huft, padahal kupikir Temari akan bisa diandalkan. Ternyata dia memang nggak ada cewek-ceweknya sama sekali...

"Nee-chaan~." Bocah itu meronta-ronta terhadap cengkraman Temari di baju belakangnya. "Aku mau ntu tuu, kupu-kupu, cayapnya lucu."

"Ya ya ya, ayo kita teruskan perjalanan, ya," sahut Temari acuh tak acuh.

Bocah itu mengerucutkan bibirnya, namun tetap saja ia menggandeng tangan Temari dan mulai menarik-narik gadis itu sambil tertawa riang. Aku tetap mengikuti saja dari samping.

"Kelihatannya bocah itu senang denganmu."

Temari mendongak tiba-tiba untuk menatapku. Yang membuatku bingung adalah dia menatapku dengan ekspresi cengo. Wah, apa akhirnya dia terpesona pada pesonaku ini ya? Ehm, aku tahu aku memang ganteng, keren, ma—

"Kau baru saja bicara padaku?"

Gantian aku yang bingung, walau tetap saja aku menatapnya dengan tatapan datar khasku. "Tentu saja. Apa maksudmu aku bicara padamu atau tidak?"

Gadis itu menggeleng. "Bukan sih... Tapi kau sadar tidak kalau kau baru saja mengatakannya sambil tersenyum?"

Ngeekk, aku terdiam.

Hening.

"Sas?" panggilnya sambil menaikkan sebelah alisnya. "Kau baik-baik saja?"

"Tentu. Apa maksudmu?"

Dia mengangkat kedua bahunya. "Entah. Kau agak aneh menurutku. Tapi sudahlah, orang juga pasti memang berubah seiring berjalannya waktu, kan?"

Aku mendongak menatap awan-awan yang berjalan tenang di atas sana. "Hn... Kupikir juga begitu."

"Ya. Dan kurasa kau memang berubah."

Aku kembali menoleh ke arah gadis itu dan menatap mata tealnya yang ternyata masih tetap tertuju ke depan. "Jangan sok tahu," balasku nyolot. Ya iyalah, atas dasar apa dia bilang aku berubah?

Tapi gadis itu tidak terlihat marah atau jengah. Dia malah tersenyum. "Entah ya. Walaupun perkataanmu masih ketus dan pelit seperti dulu, entah kenapa aku merasa ada yang berbeda. Rasanya aku tidak merasakan hal itu dalam dirimu."

Aku menaikkan sebelah alisku. "Apa maksudmu?"

"Ya kau hanya terdengar ketus, tapi tidak terlihat seperti itu."

Lagi-lagi aku mendongak menatap awan. "Sok tahu," ulangku.

"Ya, itulah aku."

Tanpa sadar, aku mulai mengeluarkan senyum tipis.

"Ne, onee-chan, onii-chan, Aming lapal~" seru si bocah tiba-tiba. Ah, aku lupa kalau saat ini kami sedang bertiga.

"Hmph... Beneran selesai hari ini nggak ya misinya?" ujar Temari ketika bocah itu mulai berlari-lari ke kedai yang ada di jalan setapak di sebelah hutan yang sedang kami lewati.

"Jangan terlalu banyak berharap," kataku sambil menyusul bocah itu dengan Temari yang mengikuti di sebelahku.

Emm... Tapi kok ada yang janggal, ya?

"Sas, aku bisa jalan sendiri."

Aku menengok ke gadis itu lagi dengan tatapan mengernyit. Ngomong apa sih dia ini? "Tentu saja aku tahu akan hal itu."

Gantian dia yang mengernyit. "Kalau begitu tidak perlu menyeretku segala, kan?"

Hah? Menyeret? Eh, pantas saja aku merasa ada yang janggal. Aku menunduk dan...

Eh buset... KENAPA DAN SEJAK KAPAN AKU SUDAH MENGGANDENG TANGANNYA?

Aku langsung melepas tanganku dengan ekspresi datar seolah tidak terjadi apa-apa. Kulirik dia dengan ekor mataku. Dia juga hanya memutar kedua bola matanya dan bersikap tenang. Cih, boro-boro salah tingkah, semburat kemerahan saja tidak nongol sama sekali di wajahnya.

"Nee-chan, nii-chan lama amat cii, ayo cepetan!" desak bocah tengik itu sambil berlari lagi ke arah kami dan menarik-narik sudut kimono yang dikenakan Temari hingga gadis itu sedikit terhuyung.

"Hei, Aming, jangan tarik-tarik begi—"

Eits...

Dengan sigap aku melangkah ke depan dan melingkarkan tanganku di pinggangnya —kurasa aku harus setuju dengan Sai— yang ramping untuk menahan agar tubuhnya nggak gubrak ke tanah.

Dia menoleh cepat ke arahku, dan... mata kami bertubrukan lagi.

Lagi-lagi, ini terlalu dekat.

"Wups... Hampir saja... Makasih, Sas."

"Hn," jawabku sambil melepaskan tanganku. Ini aneh...

Kok tiba-tiba aku jadi tegang sendiri, ya?

Kami masuk ke kedai itu hanya untuk menemani bocah itu saja. Jujur saja aku tidak lapar dan kelihatannya Temari juga. Setelah memesan makanan ringan untuk anak itu, Temari berbalik menatapku. "Nggak lapar, Sas?"

Aku menggeleng. "Kau sendiri?"

Dia juga menggeleng. Keheningan kembali menyusup di antara kami. Emm, nggak hening-hening juga sih, soalnya bocah aneh itu terus saja bernyanyi, sedikit mengingatkanku pada Naruto yang tidak bisa diam. Tapi ya itu dia, aku diam, dan Temari juga diam.

Ehm... Mungkin aku harus mengajaknya bicara duluan. Well, jangan salah paham. Ini hanya agar kalian sebagai pembaca tidak merasa bosan. Baik kan aku?

"Aku melihatmu dengan Sai kemarin."

Doeenngg~

Kulihat ekspresi wajahnya berubah kaget. Wuus, jangan salah paham kalian! Bukan aku bodoh karena sudah membongkar aib atau apa, habisnya topik yang kepikiran oleh otak jeniusku ini hanya itu. Dan kurasa otakku sudah berusaha dengan baik, aku bangga dengan topik yang kupilih ini, kok!

"Hah? Kau lihat? Gimana ceritanya? Kau menguntit kami?"

Doeenngg~

Wuss, mati luh. Lupa kan aku kalau mereka saat itu sedang berdua saja sedangkan aku, Naruto, dan Shikamaru berlagak pergi.

"Nggak juga... Habis Naruto ngotot mau ngintip. Dan dia juga menyeret paksa aku dan Shikamaru."

Wuss, aku memang hebat kalau soal... berbohong, ehem.

"Oh." Ekspresi Temari kembali seperti semula dan kembali memasang wajah tenang. "Jadi kalian ngintip sampai mana?"

"Sampai dia bilang dia ingin... melukismu."

Temari tertawa kecil. "Aduh, jadi keinget lagi, kan... Itu kejadian paling konyol yang pernah kualami."

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?" tanyaku.

Tawanya terhenti dan ia menaikkan sebelah alisnya. "Wow... Kau bertanya? Apa untuk dijadikan bahan gossip? Jadi sekarang kau sudah ketularan virus bergossip dari Sakura dan Ino, ya?"

Waduh, mampus aku. Jangan sampe besok pagi koran Konoha sudah laris-manis dengan deadline 'Sasuke Uchiha, Penggosip Baru Yang Ganteng, Keren, Jenius, Hebat, dan Gemar Bergossip'.

"Aku kan hanya penasaran. Manusia itu wajar, kan, punya rasa penasaran?"

Wuidiihh, keren kali jawabanku. Ya tak?

"Hah? Hahahah... Penasaran? Kau penasaran sama yang begituan? Hmph— ahahahahaha!"

Yeh... Dia malah ngakak. Humph, tapi sebagai seorang Uchiha, aku tidak akan mau diperlakukan bagai odong seperti ini!

"Tidak lucu. Kalu gila, ya, tertawa sendiri?"

Yes! Jahat, memang. Tapi berhasil! Ia berhenti tertawa dan mulai cemberut. "Ah, kau ini serius sekali, sih."

Aku memperhatikan wajahnya yang sedang cemberut itu. Hmm, seperti apa ya rasanya, kalau aku langsung mencaplok bibirnya yang lagi manyun i—

Apa? Tidaaaaaakkk! Kalian salah baca! SA-LAH BA-CA!

Lalu seorang perempuan yang sudah berumur datang dan meletakkan sepiring dango dan sepoci teh beserta tiga gelas ke meja kami. Ia melempar senyum ramah yang hanya dibalas oleh Temari, soalnya si bocah tuyul itu udah kesenengan sambil memakan makanannya.

Aku? Cih, jangan harap aku mau beramah-tamah dengan perempuan. Bukannya aku sombong, tapi aku yakin kalau aku ramah padanya, dia pasti bisa langsung tepar dengan mulut berbusa saking ga kuatnya dia dengan kegantenganku. Kan dia udah berumur, jantung udah pasti nggak sekuat anak remaja, dong? Nggak baik merenggut nyawa orang yang tidak berdosa.

"Silahkan menikmati," kata perempuan itu.

"Terima kasih, bibi," balas Temari sopan. Wuih, dipanggil bibi. Kalau perempuan itu bicara padaku, pasti akan kubalas 'terima kasih, nek'.

Tapi rupanya perempuan itu belum beranjak pergi. "Kalian ini masih muda kok anaknya sudah besar? Menikah umur berapa?"

Doeenngg~

Bisa kulihat Temari kaget-sekaget-kagetnya dengan wajah cengo dan mulut menganga horor. Aku? Kaget juga, sih. Tapi aku tetap memasang ekspresi datar dengan wajahku yang tenang dan kelewat tampan.

"Err... Anu, bi... Kami ini shinobi, oke? Sedang bertugas sekarang," jelas Temari lambat-lambat.

Perempuan tua itu mengangguk sok ngerti. "Ya ampun, sudah menikah juga masih bertugas? Bawa anak, lagi! Kalian benar-benar keluarga bahagia, ya..."

Doeenngg~

Temari cengo lagi. Haduh, tahan Sasuke... Kau harus tahan meskipun aku tahu godaan untuk ngakak jumpalitan di tempat sekarang benar-benar susah diatasi.

Temari menelan ludah. "Anu... Anak ini bagian dari tugas kami..."

"Tentu saja!" sahut perempuan tua itu. "Anak memang tugas untuk orangtua kan? Jadi umur berapa kalian menikah?"

Lagi-lagi Temari cengo. Keinginan untuk ngakakku pun lenyap begitu saja digantikan tatapan ilfeel ke arah perempuan tua itu. Nggak bermaksud menghina, nih, tapi ini orang kok bego banget sih? Itachi yang sudah tua dan keriput saja bahkan nggak sebego dia.

"Err... Bibi, kami bertugas mengantar anak ini. Jadi anak ini bagian dari tugas kami, oke?" jelas Temari lagi.

Perempuan tua itu menganggukkan kepalanya lagi. Aku ragu apa dia benar-benar mengerti atau tidak. "Oh... Bilang, dong! Jadi kalian ini baru pacaran, toh! Sudah lama kalian menjadi sepasang kekasih?"

Benarkan dugaanku, dia nggak ngerti lagi.

Temari meringis dan mendesah frustasi. Baru saja ia hendak menjelaskan lagi, aku sudah mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya. Hal itu membuat niatnya untuk bicara terhenti dan ia menoleh menatapku bingung.

Lalu aku menatap perempuan tua itu dan menjawab asal pertanyaan nggak bermutunya. "Kami sudah pacaran selama dua tahun."

Temari lagi-lagi cengo dan perempuan tua itu tertawa senang.

"Oh, lama sekali! Semoga kalian langgeng sampai ke pernikahan nanti deh, ya!"

Aku memaksakan seulas senyum kaku. "Makasih, ne— maksudku, bi..."

Dan ketika perempuan itu berlalu dengan senyum sumringah —entah karena jawaban pertanyaanku atau karena senyum gantengku—, aku melepas tanganku dari tangan Temari.

Halus juga s— Ergh, salah baca, salah baca.

"Kau gila ya, Sas? Kenapa kau jawab begitu?" tanyanya, masih dengan raut bingung.

"Daripada kau capek-capek ngejelasin lalu nenek itu nggak ngerti lagi? Ribet tau."

Ia terdiam dengan tatapan menerawang ke arah samping, sepertinya sedang memikirkan kata-kataku barusan. "Benar juga, ya..." gumamnya pelan.

Aku menaikkan sebelah sudut bibirku. "Aku jenius, kan?"

Dia balik menatapku dengan alis berkedut. "Ih, masa begitu saja sudah kau sebut jenius?"

"Tapi kau tidak kepikiran, kan? Padahal itu kan hal yang sepele. Jenius itu kalau kau memikirkan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain."

Dia terdiam lagi. Wuih, ternyata aku lumayan pintar memainkan kata-kata juga. "Begitu, ya...?" gumamnya lagi.

"Nee-chan~" panggil Aming dengan mulut penuh dango. Alhasil beberapa hasil kunyahan belom ditelan yang menjijikan itu muncrat ke wajah Temari.

"Euh!" Gadis itu berseru tertahan. Aku tahu dia pasti kesal. Kelihatan kok dari ekspresinya, namun ia masih memasang senyumnya ke anak tuyul itu. "Apa? Mau tambah?"

"Nggak, aku udah selesai~" ujar bocah tuyul itu.

"Oke, kita lanjutkan perjalanannya, ya," kata Temari lagi sambil mengusap-usap wajahnya, berusaha mengelap hasil cipratan mulut Aming.

Aku mengangkat tanganku dan mengusap bagian pipi di samping mata sebelah kirinya yang ternoda muncratan menjijikan si tuyul itu dengan ibu jariku.

Keren kan? Ck, aku tahu aku memang seorang gentleman sejati!

Dia terlihat kaget dengan apa yang kulakukan. Namun ia tersenyum setelahnya. "Makasih."

"Ayo pergi," responku singkat.

Dia tersenyum.

Ya, aku lihat.

Bukankah itu senyum yang manis?

Aku tahu.

Ia memang sudah cantik dari sananya.

Dari awal aku sudah sadar akan hal itu, kok.

Hmm? Apa?

Tidak, kalian tidak salah baca, kok. Yah, manusia berhak berkomentar, begitu juga denganku. Walaupun agak beda, sih. Scara, aku kan manusia ganteng. Tapi kurasa orang ganteng justru teramat sangat harus untuk berkomentar.

Apalagi komentar yang jujur. Jujur itu baik untuk kesehatan.


Orang tua si tuyul itu tidak henti-hentinya membungkuk ke arah kami. Padahal sudah dua menit penuh mereka begitu.

"Emm..." Temari mengangkat telapak tangannya. "Anda berdua tidak usah sampai begi—"

"Sekali lagi kami hanturkan beribu-ribu terima kasih pada kalian berdua," ujar sang bapak —lagi-lagi— untuk kesekian kalinya.

"Kami senang sekali anak kami sampai dengan selamat. Dia adalah satu-satunya anak laki-laki yang kami punya, calon penerus keluarga kami yang merupakan aset penting." Nah kan, emaknya ngoceh soal itu lagi. "Ngomong-ngomong nona shinobi ini cantik juga, ya. Anda mau nggak jadi tunangan anak saya?"

Hieh? Ngomong apa dia barusan?

Temari mengeluarkan ekspresi horror dan buru-buru menggeleng. "Maaf, saya bukan paedofil..."

"Oh, bener juga, ya, Ma." Yeh, ini bapaknya pake acara setuju pula. "Kan enak, sudah cantik, kuat lagi. Menguntungkan anak kita kan, punya istri yang bisa dilihat dan bisa melindungi."

"Mom, Dad~" Buset, ini anak tuyul ngomong bahasa bule! "Nee-chan ini punya nii-chan yang ini! Kan Mommy dan Daddy bilang nggak boleh rebut punya orang lain~"

Nah, pinter ini bocah. Eh, maksudnya, walaupun itu suatu kebohongan, tapi dia pinter juga bisa ngomong begitu!

Si bapak dan emak memasang tampang kecewa. "Oh, sudah punya pacar ternyata..."

"Tapi kalau sama anak kami terjamin kebahagiannya loh! Dijamin banyak uang dan hidup enak setiap harinya!" Jaelah, emaknya masih kekeuh aja.

Sepertinya aku harus turun tangan.

"Maaf, Nyonya..." Si emak menoleh ke arahku dan langsung tersipu nggak jelas. Aku menggenggam tangan Temari, cuma buat meyakinkan doang loh. "Kalau dia menikah dengan putra Anda, dia hanya akan hidup bahagia karena materi. Suami yang baik adalah suami yang senantiasa selalu melindungi istrinya, bukan sebaliknya."

Sang bapak-emak itu terkesima, entah dengan ucapan kerenku atau karena kegantenganku. Yang pasti aku memanfaatkan hal itu untuk kabur.

"Permisi," ujarku dan langsung menarik Temari lari dari tempat itu secepat Rock Lee lagi lari (?).

Setelah agak jauh dan mulai memasuki kawasan hutan lagi, aku melepas tangannya dan menoleh menatap Temari yang sedang melihat takjub ke arahku.

"Wow... Kau... membantuku untuk hal 'seperti itu' tadi? Wow..."

Aku mendengus dan kembali memandang ke arah depan. "Justru hal 'seperti itu' yang ribet dan bikin lama. Kalau tidak kubantu tidak akan selesai secepat ini. Aku kan ingin segera pulang."

"Ya, tapi tetap saja..." Temari mengernyit. "Tipe yang sepertimu kan... tipe seperti itu-urusanmu-bukan-urusanku. Sebenarnya tadi kau bisa langsung meninggalkanku dan pulang duluan, loh."

Aku terdiam.

Bener juga, ya? Ih, ngapain juga aku repot-repot bantuin dia?

Dan aku mendengar suara tawa. Aku menoleh lagi untuk melihat jangan-jangan ia tertawa mengejek. Tapi tidak. Itu lebih terlihat seperti... tawa seorang perempuan yang sedang senang.

"Tapi statementmu itu benar, sih. Perempuan pasti selalu senang kalau bisa dilindungi dan ada laki-laki yang melindungi."

Ia berhenti tertawa dan menatap ke arahku, masih dengan senyum di wajahnya. "Kurasa benar, kau berubah."

"Sok tahu," balasku singkat.

"Ya, itulah aku." Ia berjalan menduluiku. "Yuk, pulang."

Aku berjalan di belakangnya sambil melihat ke atas. Matahari mulai tenggelam. Sekeliling kami juga mulai gelap.

"Oh iya." Aku menurunkan pandanganku ke arahnya yang sedang menoleh ke arahku. "Ada yang kelupaan..." katanya lagi.

Aku hanya menaikkan sebelah alisku.

"Makasih."

Aku tertegun sesaat.

Ah, senyum itu lagi...

"Kau tahu tidak kau sudah berterima kasih padaku tiga kali hari ini?"

Gantian dia yang menaikkan sebelah alisnya. "Apa itu penting?"

Aku memasang tampang belaguku yang keren dan tampan. "Itu artinya kau berhutang budi padaku tiga kali."

"Ah!" Ia berkacak pinggang. "Mana ada yang seperti itu? Lagipula kau kan hanya membantu hal-hal sepele!"

"Sesepele apapun, itukan tetap perbuatan 'membantu'," ujarku santai.

"Tapi aku tidak memintamu untuk membantuku!"

"Aku juga tidak memintamu untuk balas budi."

"Tapi tadi kau bilang—"

"Kau berhutang padaku. Tapi aku tidak memintamu untuk membalasnya."

Ia melipat kedua tangannya di depan dada dan bergumam kesal. Aku pun jadi sadar kalau sekarang aku sedang berjalan berdampingan dengannya. Padahal tadi aku masih di belakangnya.

Aku merasakannya. Temari sedang menatapku. Makanya aku putuskan untuk langsung menoleh ke arahnya. "Apa?"

Temari masih saja menatapku. "Kau tahu tidak kau sudah bicara banyak hari ini?"

Ngeekk~

Ah, kharismaku...

"Hn?" Aku hanya merespon itu.

"Ya... Rasanya jadi melihat sisi lain dari seorang Sasuke Uchiha. Padahal kayaknya kau terlihat seperti orang yang akan mengeluarkan emas saat buka suara."

"Maksudmu aku pelit bicara, gitu?"

Dia terkekeh pelan. "Iya, kan?"

"Nggak sampai separah itu."

"Mungkin aku tidak pernah dekat denganmu, makanya aku nggak tahu kalau ternyata kau bisa bicara lebih banyak daripada Gaara," katanya lagi.

Aku memutar kedua bola mataku malas. "Aku juga nggak tahu kalau ternyata kau bisa bicara lebih banyak daripada Naruto."

Temari terbelalak kaget. "Serius? Masa sih bawelku sudah sampai di taraf lebih dari Naruto?"

Heh, segitu nggak maunyakah dia jadi orang yang lebih bawel dari Naruto? "Nggak, kok. Cuma sedikit hiperbolis. Kalau mau jujur, Sakura dan Ino jauh lebih cerewet darimu."

"Ya jangan bandingkan aku dengan mereka, lah..." sahutnya sambil mengusap tengkuknya.

"Tenten juga lebih bawel darimu," kataku lagi.

Ia tertawa. "Bohong. Kau bahkan tidak dekat dengan Tenten!"

"Terserah," balasku, dan kulihat ia mengusap tengkuknya lagi. "Dingin?"

Ia tersentak dan menatapku dengan tatapan yang super-duper-teramat-sangat kaget. Buset, lebay amat sih tanggapannya. "Apa pedulimu?"

Yeh, ditanya baek-baek, responnya malah kaget begitu. "Aku kan hanya tanya."

"Tapi tapi, tapi kan..." Yeh, dia masih terkejut-kejut begitu. Emangnya kenapa sih? "M-masa iya sih kau sebaik itu sampe nanyain begitu segala?"

Heh... Benar juga, ya? Kenapa aku jadi perhatian begini, sih?

Ah, sudahlah, dilanjut aja. Terlanjur, sih.

"Kau mau kita menginap dulu?" tanyaku lagi.

Dan lagi-lagi ia merespon dengan lebay. "Tunggu, tunggu. Kok aku jadi takut beneran, ya? Kau beneran Sasuke Uchiha, kan?"

Aku mendengus. "Jalan setapaknya ada di sana. Kita keluar dulu ke sana lalu cari penginapan. Ayo."

Aku berjalan lagi. Walaupun ia sempat tertegun beberapa saat, tapi ia tetap melangkah mengikutiku. "Benar, ya... Kau berubah."

"Bisa tidak kau berhenti membicarakan itu?" Kemudian aku mendengus lagi. "Sok tahu."

"Ya, itulah aku."


"Kamarnya tinggal satu."

Hening...

"Err..." Temari berbalik ke arahku yang sedang berdiri di belakangnya. "Kita lanjut saja, yuk," ujarnya sambil mengajakku keluar dari sana.

Aku menatapnya sebentar sebelum berjalan maju dan berbicara pada tante-tante penjaga penginapan itu. "Kami ambil."

Temari terdiam dengan mata tak berkedip menatapku sementara tante-tante itu tertawa dan mengedipkan matanya ke arahku. "Ini kuncinya, kamar kalian di lantai atas. Selamat beristirahat. Ohohohoho~"

Aku menyambar kuncinya secara kasar. Ih, rasanya risih diperlakukan secara genit macem tante-tante begini. "Ayo." Aku menggerakkan kepalaku, mengisyaratkan Temari untuk mengikutiku dan menjauh dari tante-tante itu secepatnya.

"Eh, eh..." Dia mengikutiku dengan heran. "Ini maksudnya apaan sih?" tanyanya dengan nada bingung yang kentara.

Tapi aku tidak menghiraukannya. Aku mencari kamar dengan nomor yang tertera di kuncinya ini. Lalu setelah ketemu, aku membukanya dulu.

"Masuk dulu baru ngomong," ujarku ketika melihat mukanya berubah horor sehoror-horornya kayak abis ngeliat setan.

Begitu dia masuk, barulah aku masuk dan menutup pintu.

"Aku mau bersuara duluan!" ujarnya seakan tahu aku mau nyerocos duluan.

Aku memutar kedua bola mataku. "Kau kan tahu aku tidak mungkin berbuat apa-apa padamu."

"Iya, tahu. Makanya yang ada di otakku hanya dua pilihan. Pertama, kau memang baik dan memesankan ini untukku atau yang kedua, yang lebih mirip dengan pembawaanmu, kau sengaja memesankan ini untuk dirimu sendiri dan kau akan mengatakannya sekarang dan aku akan didepak keluar beberapa detik lagi," ocehnya dalam sekali tarikan napas.

Aku melengos. "Sayang sekali pemikiranmu yang kedua, yang kau bilang lebih mirip dengan pembawaanku itu, bukan maksud dari tujuanku ini."

Dia terdiam. "Oh? Jadi yang pertama itu yang benar?"

Gantian aku yang diam.

"Wow..." gumamnya dengan wajah cengo. "Wow.. wow.."

"Hentikan gumaman itu," potongku risih.

"Tapi, tapi..." Ia memegangi kepalanya. "Ini tipuan, ya? Ilusi optik? Apa aku harus membenturkan kepalaku dulu ke tembok?"

"Coba saja," balasku singkat sambil berjalan melewatinya dan membuka jendela. "Istirahatlah," kataku sebelum melompat keluar dari sana.


Ini aneh.

Ini aneh!

Kuulang dengan lebih tebal, ya? Ini aneh!

Aku melihat ke kiri dan kananku. Setelah memastikan jalanan ini benar-benar sepi dan tidak ada orang, aku mencoba menjedotkan kepalaku ke batang pohon terdekat.

Tidak, cukup sekali aja jedotinnya. Lu kate enak apa?

Aku mengusap jidatku sambil memikirkan penyebab kenapa aku bertingkah aneh hari ini.

Huh, aku ini Uchiha Sasuke yang notabene ganteng, keren, macho, kuat, serta tangguh tanpa belas kasih. Bukan malah maha pengasih, maha penyayang, dan maha perhatian pada orang yang jelas-jelas tidak pernah dekat maupun akrab padaku.

Tunggu, tunggu... Aku melakukan hal itu tidak lain tidak bukan adalah pasti karena aku ini seorang gentleman sejati, kan?

Ya, ya. Pasti karena itu...

Emak, kau harus bangga memiliki putra seperti diriku.


Aku kembali masuk melalui jendela. Ah, ternyata dia tidak menutup jendelanya... Aku melompat masuk secara perlahan dan berusaha meminimalkan suara langkahku seminimal-minimalnya.

Dia sudah tidur.

Aku menatap Temari yang sudah pulas di atas tempat tidur. Beberapa helaian rambut halusnya terjatuh menutupi wajahnya yang—

Matilah aku, mikir apa aku ini...

Abaikan perkataanku tadi.

Lalu mataku menangkap sesuatu di meja kecil yang berdiri tepat di samping tempat tidur. Aku berjalan mendekat dan melihat sebuah kertas. Dengan sebelah alis terangkat, aku meraih kertas itu dan membaca tulisannya.

Sas, kuharap kau melihat kertas ini dulu sebelum kau menjambak rambutku untuk membuatku bangun. Em, aku punya dua pernyataan yang mau kusampaikan.
Pernyataan pertama, kalau maksudmu adalah menyuruhku istirahat dan bukan tidur, aku minta maaf dulu karena keburu memakai tempat tidurnya. Sekarang kalau kau mau memakai si tempat tidur ini, tolong bangunkan aku pelan-pelan. Tak perlu jambakan, tendangan, atau tamparan, kok. Aku mudah dibangunkan.
Pernyataan kedua, kalau kau sungguhan berbaik hati padaku, terima kasih, ya.
P.S: jangan diingatkan kalau aku sudah berterima kasih untuk yang keempat kalinya hari ini padamu.

Aku tidak tahu harus murka, malu, atau ngakak membaca pesan singkat ini.

Kualihkan lagi tatapanku dari pesan gaje ini ke wajahnya yang tenang itu.

Ada-ada saja deh. Memangnya aku terlihat seperti itu apa?

Aku kembali membaca isi kertas itu, hanya pernyataan keduanya saja tapi.

Walau aku berusaha menahannya, sebuah senyum tipis tetap terkembang di wajahku.


"Pagi."

Aku mengangguk singkat menanggapi sapaan selamat paginya. Ia tersenyum kaku dan duduk dengan canggung di hadapanku.

"Habiskan sarapanmu, cepat. Setelah ini kita langsung kembali."

"Kau bagaimana?"

"Aku sudah selesai."

Ia mengangguk sekali dan menuruti perkataanku.

Wuih~ nurut juga ternyata.

Dia pasti bingung, padahal dia molor duluan, tapi aku bangun lebih dulu daripada dia. Malah jadi aku yang menungguinya.

Dia pasti tidak tahu kalau sebenarnya kemarin aku tidur di sebelahnya.

Eh, eh, TUNGGU! Bukan tidur bersama-sama di satu ranjang. Maksudku, aku duduk di samping tempat tidur itu dan bobo dengan pose duduk, jangan salah paham saja ya kalian!

Dia juga pasti tidak tahu kalau sebenarnya kemarin aku memandangi wajahnya terus sampai aku tertidur.

Oh tidak, aku mulai gila.

Beruntungnya adalah aku masih bisa bersikap cool di depannya. Dengan tampang acuh tak acuh seperti ini, aku siap menghadapi gadis nggak jelas yang mulai membuatku nggak jelas ini!

"Sas?" Kudengar ia memanggilku. "Kau marah?"

Ingat Sasuke, stay cool~

"Tidak. Untuk apa?"

Awalnya kupikir ia akan mengamuk karena kujuteki seperti itu. Tapi ternyata dia tidak mengajakku berdebat dan kembali diam.

Dan itu terus berlanjut. Sepanjang perjalanan kami kembali, dia benar-benar diam.

Entah kenapa... aku jadi merasa agak menyesal...


Rasa menyesal itu lenyap dengan cepat digantikan rasa kesal teramat sangat begitu melihat si mayat hidup berdiri di depan gerbang Konoha.

Cih, baru juga pulang, kenapa malah disuguhi wajahnya?

Eh, sejak kapan ya aku jadi begini sebal padanya? Pasti karena dia itu pengganti posisiku. Ya, pasti begitu.

Begitu melihat kami, punggunya langsung tegak. Dengan kurang ajarnya dia mengacuhkanku dan tersenyum ke arah Temari.

"Ah, selamat datang kembali, Temari-san."

Dan Temari akhirnya membuka mulutnya setelah sekian lama diam padaku. "Sai? Sedang apa berdiri di sini?"

"Menunggumu."

Sialan. Kenapa jadi sebel begini sih? Bukannya bagus kalau mayat hidup ini mengacuhkanku? Lalu apa yang membuatku kesal?

Tanpa menoleh atau mengucapkan apapun, aku berlalu dari sana.


.

"Kau masih ada waktu setelah ini?"

Temari tidak langsung menjawab. Ia mengamati dulu punggung Sasuke yang berjalan menjauh dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Sai mengikuti arah tatapan matanya. "Ada masalah?"

Temari akhirnya tersadar dan menatapnya. "Ah, tidak ada apa-apa. Maaf, apa tadi kau bilang?"

Sai mengeluarkan senyum khasnya. "Ada waktu setelah ini?"

"Umm..." Temari menengadahkan kepalanya, memasang pose berpikir. "Aku harus laporan dulu. Melihat arah Sa— si Uchiha itu pergi, sepertinya dia tidak mau melapor dulu."

"Kalau begitu aku antar saja, ya?"

"Hah? Memangnya kau sebegitu tidak ada kerjaannya kah?"

Lagi-lagi Sai hanya tersenyum. "Setelah itu apa yang akan kau lakukan?"

"Emm... Tidak ada."

"Mau ketempatku?"

"Hah?"

"Aku kan sudah bilang aku mau melukismu."

"Hah?"

Sai berdehem sesaat. "Atau kau ada urusan dengan Shikamaru?"

"Tidak ada, sih," jawab Temari cepat. "Ya, boleh deh. Daripada nggak ada kerjaan."

Sai tertawa kecil. "Kalau begitu, ayo. Kutemani melapor dulu."

Dan Temari tidak menolak saat Sai menarik tangannya untuk berjalan menuju gedung hokage.


TBC~


ma-maaf updatenya lama... tolong jangan lempari kami dengan sampah (?) *ngumpet di balik alis Rock Lee* (?)
makasih buat yang nunggu, kalau ada, dan yang nggak nunggu (?)

dan makasih juga buat Fujisaki Funn, Namikaze Sakura, min cha, Mayra gaara, Suna, Miyako, Emma, Haruna, Masahiro 'Night' Seiran, Temari chan, SMEPK and Gg, rin kage no kurokaze, Karina, Chae Rim, MissLabil, Kuchiki, Ichigo, Yuki, Levina, Prince, Laura, Moshi, Hello Kitty cute, Zephyramfoter, Fedeoya Kimchi, temariris, dan Lady Spain. pokoknya makasih makasih makasih makasih semakasih-makasihnya atas kebaikan hati kalian mereview. we love you all (?) *dilemparin sampah*

Warm Hug~