We Belong Together
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: CRACK pairing! OOC, boring, a lot of typo, etc.
WARNED AGAIN, CRACK pairing! DO NOT LIKE DO NOT READ PLEASE! :D
Temari menatap sekeliling.
Ruangan yang agak kecil itu terlihat semakin sempit dengan ramainya kanvas-kanvas dan botol-botol berisi cat air dan kuas.
"Wow..." gumamnya sambil memperhatikan lukisan-lukisan yang sepertinya sudah jadi. "Aku tidak tahu apa-apa soal seni. Tapi apa yang kulihat ini benar-benar membuatku terpesona."
"Ah, terima kasih."
Temari mulai berjalan mondar-mandir, mengamati lukisan Sai satu per satu. Saat ia menoleh ke arah Sai, ternyata pria itu sudah sibuk mencoret-coret di kanvas barunya.
"Err..." Temari memiringkan kepalanya. "Kau sedang menggambar apa, Sai?"
Sai mendongak dan tersenyum malu-malu ke arahnya. "Kau."
"Loh?" Temari terlihat terkejut. "Maksudmu? Jadi aku tidak perlu duduk diam seperti patung gitu?"
Sai tertawa kecil dan menggeleng mantap. "Tidak perlu. Kau boleh bergerak sesukamu. Mondar-mandir, jalan sana jalan sini. Terserah. Cukup dengan kau ada di dekatku."
Temari menggumamkan kata 'oh' sambil menatap kagum ke arah Sai. Lalu dengan bersemangat dan antusianisme yang tinggi, ia kembali meneliti satu per satu lukisan yang menarik minatnya.
Saat matanya menangkap salah satu lukisan lainnya, ia tertegun.
Itu lukisan dirinya. Dilukis dengan spot wajah, leher, sampai bahunya menghadap ke depan sementara matanya seperti menatap ke atas dan ia sedang tersenyum.
Temari menaikkan sebelah alisnya tinggi-tinggi.
Sai yang melihat arah tatapan Temari tiba-tiba saja menyadari kecerobohannya dan nervous mendadak. "Ng— itu..."
"Ini ada sebiji (?) lukisanku kok di sini," ujar Temari enteng. "Lalu kenapa kau mau melukisku lagi?"
"Ah.. Aku— aku ingin—" Sai menggaruk pipinya dengan canggung. "—melukismu dengan lebih detail... Sebelumnya maaf kalau aku sudah diam-diam melukismu. Itu— em... kulukis hanya dengan modal mengamatimu dalam waktu beberapa hari saja, makanya tidak mendetail."
"Hah? Lebih detail?" Temari menoleh dengan wajah bingung ke arah Sai. "Apaan sih, aku nggak ngerti," ujarnya blak-blakan (?).
Sai terdiam sebentar sebelum melepaskan tawa kecil dari bibirnya. "Kau menarik."
Temari masih cengo ke arah Sai sebelum akhirnya ia menampilkan cengirannya yang khas. "Aku juga berpikir hal yang sama tentangmu."
"Eh..? Ngg— te-terima kasih..."
Ketika Temari kembali sibuk mengamati lukisan Sai lagi, dia baru menyadari satu hal.
Di antara banyaknya lukisan yang ada di sana, hanya ada satu lukisan manusia di sana.
Dan itu adalah lukisan dirinya. (A/N: author nggak tau sih... anggap aja begitu *ditendang keluar cerita*)
.
Brengsek.
Aku galau! #abaikan (?)
Aaaa rasanya ingin sekali menghancurkan apartemen bobrok Naruto ini! Lagipula dengan keadaannya yang berantakkan ini malah bikin suasana hati makin mumet aja.
Sialan, sialan, sialan, sialan.
"Kau kenapa, Sasuke? Kok baru pulang wajahnya sudah bad mood begitu?"
Babi, babi, babi, babi. (?)
"Lalu kenapa misimu lama? Kata nenek Tsunade, harusnya kau kembali saat kemarin malam juga sudah bisa."
Berisik, berisik, berisik, berisik.
"Saaaasssskeeeyyy~ Yuhuuu, yihiiiyy~"
Nih si Naruto beneran deh, minta ditabok, ya?
"SASSUUUKKEEEHHH~"
"BERISIK!"
Naruto langsung kaget dengan bentakanku itu sampai-sampai ia tersentak jatuh dari kursi yang sedang didudukinya. Mata dan mulutnya sama-sama terbuka lebar, membuatku yang memang sedang kesal ini ingin sekali mencakar, meninju, atau melakukan apapun perbuatan buruk lainnya ke wajahnya.
Ah, sialan. Benar-benar tidak betah aku di sini!
"K-kau kenapa sih?" tanya Naruto lagi. Ergh, anak ini, nggak pernah belajar dari pengalaman apa ya?
"Apanya yang kenapa?" bentakku lagi dengan nada jutek.
"Itu... tiba-tiba kau marah-marah tidak jelas," ujarnya sambil kembali bangkit berdiri dan mengelus-elus pantatnya.
"Aku tidak marah-marah!" balasku ketus.
"Itu kau sedang marah, Sasuke..." katanya lagi sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Apa kau bertengkar dengan Temari, ya?"
Hegh?
Alisku berkedut. Mendengar namanya malah entah kenapa makin membakar emosiku.
"Tidak ada hubungannya dengan dia!" seruku kembali marah.
Naruto terlompat ke belakang dan buru-buru mengangkat kedua telapak tangannya. "Yiihh, maaf, maaf, aku kan hanya bertanya~ Habisnya sepulang dari misi dengan dia kau jadi uring-uringan begitu.. Aku kan hanya penasaran..."
"Aku tidak uring-uringan."
Entah memang aku yang beruntung atau Naruto yang masih sayang nyawa, akhirnya si dobe ini diam juga sementara aku masih memasang wajah bete.
Kenapa nggak dari tadi aja sih, si dobe ini mingkem? Kenapa dia berisik sekali? Kenapa juga dia harus berpikir kalau aku bertengkar dengan Temari? Memangnya kenapa kalau aku habis misi sama dia? Lagian kenapa sih si mayat hidup itu harus menunggui Temari? Dan kenapa juga Temari malah langsung tersenyum ke arahnya sementara sebelumnya dia mendiamkan aku sepanjang perjalanan? Kenapa dia tidak mempedulikanku saat aku berjalan pergi dan malah mempedulikan si mayat hidup yang mengajaknya ngobrol entah tentang apa? Kenap—
Hegh?
Mampus...
Mikir apa aku barusan?
Emak... Bapak... Itachi... Salah satu dari kalian... tolong dong, bangkit dari kubur dan berikan aku petuah sakti penghilang sindrom-sindrom kegilaan...
Shikamaru terbengong-bengong ketika melihat seseorang yang dikenalnya sedang berjalan berdampingan dengan seseorang yang lumayan dikenalnya. Apalagi wajah mereka sama-sama terlihat senang.
Buset... Shikamaru yang lebih dulu kenal sama itu orang saja tidak pernah terlihat sebahagia itu saat mereka sedang jalan berduaan.
Sambil menggaruk-garuk kepalanya, Shikamaru berjalan malas ke arah dua orang yang masih sedang asyik itu dan menarik kunciran (?) salah satu dari mereka.
"Aw! Oh? Hei, Shika~"
"Cewek merepotkan... Kapan kau kembali?" tanya Shikamaru langsung.
Temari meletakkan telunjuknya di dagu. "Err... Pagi ini, kok. Kenapa?"
"Aku mencarimu. Kudengar dari hokage misi yang ia berikan padamu mudah, makanya aku bingung karena tidak juga melihat batang hidungmu."
Temari menaikkan sebelah alisnya. "Oh?" tanggapnya singkat.
Shikamaru menghela napas. "Kulihat kau punya pemandu baru," ujarnya sambil melirik ke arah Sai.
"Tidak juga," sahut Sai kalem. "Aku hanya bermaksud mengantarnya kembali setelah urusan kami selesai. Tapi..." Sai menatap lurus ke arah Shikamaru. "Karena kau sudah ada di sini, aku pergi dulu saja. Sampai nanti, Temari-san."
"Daah, Sai~" Temari melambaikan tangannya sementara Shikamaru tidak merespon karena sibuk menguap. Toh, Sai juga tidak pamit padanya.
"Urusan?" tanya Shikamaru begitu ia selesai menguap dan Sai sudah berjalan pergi cukup jauh. "Ada urusan apa dia denganmu?"
"Loh? Bukannya kau sudah tahu kalau dia bilang dia mau melukisku?" balas Temari kembali blak-blakan (?).
"Oh..." Shikamaru menganggukkan kepalanya. Lalu sedetik kemudian ia menoleh kaget. "Hah? Kau tahu darimana kalau aku tahu?"
"Sasuke yang bilang padaku kemarin."
"Oh..." Shikamaru terdiam sebentar. "Hah? Sasuke?"
.
Entah bagaimana bisa aku menuruti perkataan Naruto untuk keluar jalan-jalan dengannya.
Pertama kupikir boleh juga, lumayan cari udara segar, siapa tahu pikiranku yang mulai gila bisa kembali adem dengan hawa segar Konoha.
Dan begonya, aku lupa kalau jalannya juga bareng Naruto.
Makin gilalah aku.
Geblek bener aku sekarang... Ah... otak jeniusku mulai termakan virus-virus gila... Laskar gila, sebarkanlah virus-virus gila~
"Sasuke-kun?"
Aku menoleh dengan wajah datar sedatar-datarnya, padahal pikiran dan batinku sekarang lagi naik turun bagai gelombang transversal dan melingkar-lingkar bagai gelombang longitudinal. Mungkin mereka juga sedang bersalto atau joget lagu Belah Duren milik JuPe? Entahlah, suka-suka mereka saja.
"Ah, kau sudah kembali rupanya? Bagaimana misinya?"
"Ey, Sakura-chan~ Aku juga ada di sini, loh."
"Iya, aku melihatmu, Naruto. Jadi bagaimana, Sasuke-kun?"
"Hn..." responku singkat. Emang sih, respon yang kuberikan ini nggak nyambung sama pertanyaannya. Tapi sudahlah, toh dia juga pasti tetap terpesona dengan jawaban singkat super keren yang keluar dari bibir seksi seorang berwajah ganteng ini.
"Kenapa, Sasuke-kun?" tanya Sakura lagi, memberanikan diri melingkarkan kedua tangannya ke lenganku. "Kau terlihat lelah."
Aku hanya melirik singkat ke arahnya sebelum melempar tatapan ke arah lain lagi.
Jujur saja, Sakura itu cantik. Dia tangguh, pintar. Memiliki banyak kelebihan yang bisa menjadi alasan bagi semua cowok seperti Naruto untuk menyukainya.
Seandainya aku bego kayak Naruto, mungkin aku bisa membalas perasaannya... (maksud, Sas? *author ditendang keluar cerita lagi*)
Sayangnya aku tidak bisa menyukainya...
Padahal kalau aku bisa, semuanya akan jadi lebih mudah. Aku tidak perlu repot-repot kesal sana-sini karena dicuekin. Juga tidak perlu merasa risih kalau dia didekati cowok lain karena aku tahu dia hanya suka padaku. Mau dia dilukis sama Sai juga bodo amat, kan dia sukanya sama aku. Nggak kayak Tem—
Bujugh buneng, atas nama Itachi Laura...
Kenapa aku ngomong seakan-akan kayak cembokut begini, ya?
"Loh? Hei, Shikamaru!"
Pupil mataku sedikit membesar, bukan karena suara toa Naruto yang mampu membuat nenek-nenek dalam jangkauan radius seribu kilometer mati karena serangan jantung, tapi karena ada orang yang sedang mengganggu pikirank— u...
Apa? Enggak, enggak. Enak saja. Tidak ada yang pernah menganggu pikiran seorang Sasuke Uchiha!
Aku hanya heran saja. Baru saja dia bareng Sai tadi, sekarang sudah bareng Shikamaru lagi.
Kulihat dia sedikit melirik ke arahku, tapi cepat-cepat dia membuang muka lagi dan bertingkah seolah tidak melihat apa-apa. Hegh? Apa yang salah?
"Temari-san masih di sini?" tanya Sakura dengan nada ramah. "Wah... Apa urusannya belum selesai, ya? Pasti sibuk sekali..."
"Ah, tidak juga," sahutnya. "Kebetulan Shikamaru sudah mengurus bagian yang harus kuurus juga kemarin. Hahaha," ujarnya lagi sambil menepuk-nepuk pundak Shikamaru.
Tapi kenapa dia seperti menghindari melihat Sakura begitu, sih?
"Merepotkan..." keluh Shikamaru, entah kepada siapa.
"Jadi Temari-san kapan mau pulang?"
"Umm, rencananya sih besok."
Eh...?
Be- besok...?
L-loh? Apaan sih? Memangnya kenapa kalo dia pulang? Cih, like I care aja.
"Jadi apa kalian sekarang sedang menikmati saat-saat terakhir sebelum Temari pulang besok, ya?" goda Naruto pada Shikamaru.
Tiba-tiba saja aku mau pergi dari sini.
Pasti karena aku bosan hanya seperti kambing-congek di sini.
Kakiku pun bergerak mundur dan aku berbalik pergi, lagi-lagi tanpa mengucapkan apapun.
"Eh, Sasuke-kun?" panggil Sakura bingung sambil mengikuti langkahku. "Ehm— Sampai nanti, Shikamaru dan Temari-san!"
"Oy, oy, oy?" Naruto juga mengikuti kami. "Ada apa?"
"Tidak ada," ujarku yang baru menyadari satu hal.
Sakura masih memeluk lenganku.
Apa ini yang dari tadi dihindarinya dan tidak ingin dilihatnya?
Temari baru menoleh lagi saat disadarinya mereka sudah berjalan pergi. Alisnya berkerut samar.
Perlahan, ia menarik-narik lengan baju Shikamaru.
"Apa?" respon pemuda pemalas itu singkat.
"Aku mau kembali."
"Kenapa? Kok tiba-tiba lesu begitu?"
"Entahlah. Baru berasa capek sekarang."
"Ah... Dasar gadis aneh merepotkan."
.
Rasanya ada sesuatu yang lain dalam hatiku. Sepertinya aku belum pernah merasakannya. Rasanya seperti ada antusianisme tinggi yang ditemani rasa lega dan... entahlah.
Kenapa aku harus merasakan hal seperti ini terhadap sesuatu yang hanya berasal dari pikiranku dan belum pasti kebenarannya?
Err, kalian tidak mengerti, ya? Oke, karena aku baik, akan kuperjelas sedikit.
Kenapa aku merasa senang saat dengan pedenya aku menganggap kalau dia cemburu terhadap Sakura?
Duh...
Sampai sekarang pun aku masih memikirkan hal ini. Duduk di atas atap, memandangi langit gelap tanpa bulan dan bintang.
Serta diiringi suara ngorok Naruto.
Sialan.
Ini memang kupingku yang terlalu sakti atau ngoroknya Naruto yang kegedean, sih? Kenapa sampai aku ada di sini saja masih kedengeran? Padahal kemarin-kemarin ngoroknya belum sekenceng ini. Itu pun sudah kusumpal dulu dengan bantal. Tadi juga sudah kusumpal mulutnya dengan panci, kenapa masih kendengeran sampai di sini ngoroknya?
Hebat juga sampai sekarang dia tidak diusir dari apartemen bobroknya ini.
Ih, najis, kok malah jadi mikirin si dobe cemprengan itu, sih...
Kembali ke laptop...
Ergh, entah kenapa aku masih merasa ada yang ngeganjal di hatiku selain perasaan senang itu. Rasanya lebih nggak enak dan benar-benar membuatku tidak tenang.
Dia pulang besok...
Aduh, bete bete bete bete bete bete ah, bete bete ah, bete bete ah! Kenapa sih jadi kepikiran begini?
Aku bangkit berdiri dengan kerennya dan memutuskan untuk —ehem— pergi —uhuk, uhuk— ke tempatnya —huatchi— sebentar. Tapi tidak ada maksud apa-apa, sih...
Baru mau mulai melompat, aku baru ingat sesuatu...
Bego, aku nggak tahu dia nginap di mana.
Ah, tanya Shikamaru saja, deh...
Saat aku melompat asal ke salah satu atap, aku baru ingat lagi...
Dodol, aku nggak tahu tempat tinggal Shikamaru di mana.
Apa bangunin Naruto? Ah... udah ngorok sampai segitunya, pasti bakalan susah dibangunin. Kalaupun berhasil, dia pasti penasaran ngapain aku nanyain tempatnya Shikamaru dan ujung-ujungnya memaksa ikut.
Atau Sakura? Eh, jangan, deh. Samanya dia kayak Naruto, tipe orang dengan tingkat penasaran tinggi yang menyebalkan.
Arrgghh, kalau begitu siapa lagi, dongg?
.
"Yo."
Haahh... akhirnya malah jadi nanya dia... saking buntunya ini otak...
"Ada apa malam-malam begini, Sasuke? Ada masalah?"
"Tidak ada, sensei. Aku cuma mau tanya kediaman Nara dimana."
Kulihat si Kakashi itu menurunkan buku berwarna jingga yang sedang dibacanya dan menatap lurus ke arahku yang sedang bergelantungan dengan kerennya di depan jendelanya.
Dia diam. Aku juga diam.
"Maaf... Kau tanya apa tadi?"
"Aku tanya, kediaman Nara itu dimana?"
Hening lagi.
Ia melirik ke belakang, ke arahku lagi, lalu ke belakang lagi. "Tunggu sebentar," ujarnya lalu berjalan masuk lagi dan membongkar-bongkar sesuatu.
Aku menunggu dalam diam. Tuh kan, benar keputusanku kali ini. Kalau orangnya dia, pasti aku tidak akan ditanyai ini itu.
Dia kembali tak lama kemudian ke jendela dan mengulurkan sebuah kertas. "Nih, peta daerah Konoha."
Aku langsung mengambilnya. "Makasih, sensei."
"Yo."
Dan dengan wajah datar dan tanpa bertanya apa-apa lagi, dia menutup jendelanya.
Meninggalkan aku dengan ekspresi langka yaitu cengo di depan jendelanya. Fyuh, untung tidak ada yang lihat.
Gila! Dia benar-benar tidak tanya apa-apa!
.
"E-eh? Cari Shikamaru? Te-temannya, ya?" tanya emaknya Shikamaru dengan tersendat-sendat. Ckckck, dia pasti terpesona juga oleh kegantenganku.
Aku sedikit menundukkan kepalaku ke arahnya. "Ya. Maaf menganggu malam-malam."
"Ahahahaha, tidak apa-apa, kok," ujar emak Shikamaru sambil mengibas-ngibaskan tangannya. "Jadi kau, ya, bocah Uchiha yang akhirnya kembali itu? Ahaha, ada apa mencari Shikamaru?"
"Hanya ingin mengobrol sebentar," jawabku ngasal. Nggak sepenuhnya ngasal juga sih... Emang aku cuma mau tanya sebentar, kok.
"Tunggu, ya, biar kupanggilkan dulu anak pemalas itu. Masuk dulu saja, bagaimana?" ujar emak Shikamaru lagi dengan senyum sumringah.
"Ng... Tidak usah, saya tunggu di sini saja."
"Oke. Tunggu sebentar, ya." Lalu dalam hitungan detik, emaknya Shikamaru sudah melesat masuk ke dalam, dan beberapa detiknya lagi, terdengar suara bombastis. "SHIKAMARU! ITU ADA TEMEN GANTENGMU DI BAWAH!"
"OI, YOSHINO! APA AKU MENGENALNYA?"
"MANA AKU TAHU, SUAMIKU. SUDAH, CUCI SAJA PIRINGNYA! HEY, SHIKAMARU!"
"AKU DENGAR! BERHENTI MENGGEDOR PINTU KAMARKU, BU!"
"HEH, ANAK SIALAN! BERANI KAU BERTERIAK PADA IBUMU?"
"YANG TERIAK DULUAN SIAPA?"
Wow.. Ramainya rumah ini.
Ternyata Shikamaru bisa ooc juga, ya... #abaikan (?)
Dua menit kemudian dia keluar dan hanya menatapku dengan tatapan malasnya, tidak terlihat sedikitpun kalau dia terkejut dengan kedatanganku. "Oh, jadi kau teman ganteng yang disebut-sebut ibuku. Ada apa?"
Heh, jadi malu~ "Aku mau tanya dimana tempat Temari menginap?"
Barulah wajahnya terlihat terkejut. "Bikin salah apa dia padamu?"
"Aku bukan mau membunuhnya, kok. Aku ada urusan dengannya."
Dia terlihat sedikit lebih serius dan memasang tampang was-was. "Apa itu kalau aku boleh tahu?"
"Bukan urusanmu."
"Memangnya penting sekali?"
"Yah, kalau tidak aku tidak akan membuang-buang waktu untuk bertanya padamu seperti sekarang."
"Cih, merepotkan... Dia menginap tidak jauh dari gedung hokage, kok. Nama penginapannya..." Ia mencubit dagunya dan menatap ke atas. "Emm... Apa, ya? Ah, aku lupa."
Gubrak... "Jadi bagaimana aku bisa menemukannya?" tanyaku lagi dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Gedung penginapannya pokoknya yang paling tinggi diantara rumah dan gedung lain. Nomor kamarnya..." Dia kembali menatap menerawang. "...lupa juga."
"Ya sudahlah. Kurasa informasinya cukup. Selamat malam."
Dan aku segera berlalu dari sana.
Oh iya! Lupa bilang makasih!
Ah, ya udahlah ya~
.
Akhirnya, setelah membulatkan tekad untuk bertanya ke mbak-mbak (?) resepsionis, dapat juga nomor kamarnya.
Gila, ya. Pengorbananku ini sungguh teramat sangat besar sekali. Bela-belain berpikir dengan latar suara ngorok Naruto, datang malam-malam ke rumah si nanas bongkok, digodain mbak-mbak ganjen yang ngejawab bertele-tele pas ditanya... Ckckck, sungguh gentleman sejati kau ini, Sasuke Uchiha. Hahaha!
Nah, misi selanjutnya adalah datang ke kamarnya... lewat jendela...
Entah kenapa aku yakin dia pasti sudah tidur. Yah, dan entah kenapa lagi aku tidak ingin membangunkannya karena kalau dipikir-pikir, aku tidak tahu apa yang ingin kubicarakan dengannya.
Maka aku pun keluar lagi dan melompat-lompat ke jendela. Aku memeriksa sekelilingku. Jalanan sudah sepi. Beberapa lampu di dalam rumah sudah dimatikan kecuali lampu di beberapa gedung. Itu pun sedikit sekali. Oh, dan kecuali lampu jalanan tentunya. Masa iya lampu jalanan mati juga? Gembel amat tuh hokage, orang cape-cape dikasih misi bejibun sama dia masa duitnya nggak mau dipake buat bayar listrik?
Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali yang melihatku di sana, aku pun melakukan sebuah gaya nista, yaitu nemplok di jendela. Well, gayanya memang nista, tapi karena aku yang melakukannya, tentu saja namanya berubah menjadi gaya elit super mengesankan dan mengundang decak kagum.
Sudahlah, pokoknya intinya aku nemplok ke jendela.
Sedikit memusatkan mataku pada kegelapan kamar itu dan, voila! Bener kan dugaanku, dia sudah tidur.
Aku memeriksa jendelanya. Tengok ke kiri, tengok ke kanan, cuma ada kaca, bingkai, dan engsel. Loh kok? Kuncinya teh kemana? Gorden juga kaga ada, lagi. Gembel bener, penginapan macam apa coba nih? Hanya saja aku masih berpikir, mungkin sistem keamanan Konoha versi baru kali, ya. Siapa tahu pas kubuka jendelanya, eh ada alarm anti maling yang bunyi atau ada jutsu yang langsung mengeluarkan sepasukan anbu? Atau semacamnya gitu, kan mungkin saja. Maka dengan modal tekad dan nekat, kugeserlah jendelanya dengan penuh ketelitian dan sikap hati-hati yang menjunjung tinggi peminiman suara seminim-minimnya demi kepentingan orang yang sedang tidur di dalam sana serta diriku sendiri.
Dan... hening~
Aku menoleh ke kanan dan kiriku. Hening. Sepi. Sunyi. Senyap.
Lalu aku mencoba melangkahkan kakiku ke dalam dan menunggu lagi.
Masih hening. Masih sepi. Masih sunyi. Masih senyap.
Wadah... sumpah deh, gembelnya nggak nahan...
Aku melangkah beberapa langkah lagi sampai ke depan tempat tidurnya. Lalu aku berjongkok, menopang daguku, dan memperhatikan wajah tidurnya untuk yang kedua kalinya.
Aku tidak tahu lagi berapa lama waktu yang lewat saat aku bertahan dengan posisi itu.
Sampai tiba-tiba dia membuka matanya.
Ciluk... ba-ke-kok~
Bukan secara perlahan-lahan. Tapi secara mendadak, langsung membelalak begitu saja. Tentu saja aku juga jadi agak terkejut. Baru berkedip sekali, ternyata dia sudah menyambar kipas besarnya dan setengah membukanya ketika reflekku akhirnya bergerak cepat dan menahan tangannya.
"Heh, tenanglah. Masa kau mau menghancurkan separuh penginapan ini malam-malam begini?" ujarku dengan nada tenang. Padahal jantungku lagi dag dig dug sekarang. Coba reflekku terlambat sedikit. Salah-salah bisa sudah terbang aku tadi.
"Ke-kenapa kau bisa ada di sini?" tanyanya dengan nada canggung. Ia melirik ke jendela yang masih terbuka dan kembali menatapku. "Kenapa tidak lewat pintu?" tanyanya ngaco. Apa dia masih ngantuk?
"Memangnya aku tidak boleh lewat jendela?"
"Kalau maksudmu baik dan sopan, kau pasti akan lewat pintu."
"Memangnya kalau aku lewat jendela, maksudku sudah pasti tidak baik dan tidak sopan?"
"Heh, ngaco!"
Aku mengernyit sedikit. Dia yang ngaco, kenapa jadi aku yang dikatain?
"Sekarang jawab, kenapa kau ada di sini?"
"Aku tidak tahu."
Hening...
Wuah, jujur sekali aku. Dia menaikkan sebelah alisnya. Bibirnya terkatup rapat membentuk garis lurus.
"Lalu kenapa kau lewat jendela?" tanyanya lagi.
"Karena aku tidak yakin," jawabku lagi.
"Tidak yakin apa?"
"Ada sesuatu yang sepertinya ingin kutanyakan padamu. Tapi aku tidak yakin."
"Jadi ngapain kau memandangiku saat aku sedang tidur begitu?"
"Kan sudah kubilang, aku belum yakin dengan pertanyaanku. Makanya aku tidak berani membangunkanmu."
Alisnya berkerut dalam. "Kau aneh. Apa sikapmu memang begini?"
"Kau marah?"
"Untungnya aku tidak punya penyakit jantung. Kalau punya, kau harus bertanggungjawab ke hadapan Gaara dan Kankuro karena aku pasti sudah mati sekarang."
"Oh..."
"Nah..." Ia mengibaskan poninya dan menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambutnya yang memang agak berantakkan jadi makin acak-acakan. Anehnya dia tetap terlihat me —ohok, ohok— na —brruumm— rik —ngiiinngg— meskipun terlihat berantakkan begitu. "Sekarang kau mau apa?"
Aku terdiam. Mampus, bilang apa, nih?
Dia menutup lagi senjatanya dan meletakannya kembali ke tempat sebelumnya ia menaruh senjata itu. Lalu ia sedikit bergeser dan tanpa disuruh pun, aku langsung mendudukkan diri di sampingnya.
"Heh? Siapa yang menyuruhmu duduk?" katanya dengan tatapan mendelik.
"Ah, aku tahu kau berniat begitu," ujarku pede.
Dia membuang muka dan mulai menyisir rambut dengan jari-jarinya. "Jadi apa yang mau kau tanyakan?"
Aduh... Sudah tidak bisa menghindar lagi, nih... Ya sudahlah, terlanjur keciprat, biar basah sekalian saja. Lagipula tidak akan ada yang tahu pembicaraanku dengannya saat ini, jadi bisa dipastikan aku akan terbebas dari malu. "Kenapa kau mendiamkanku?"
Dia menoleh cepat. Ekspresinya terlihat kaget. "Hah?"
"Tadi, saat perjalanan kita kembali ke Konoha."
"Kupikir kau yang tidak mau bicara denganku?"
"Siapa bilang?"
"Kau bersikap jutek padaku tadi pagi."
"Aku tidak begitu."
"Iya, kau begitu."
Hening lagi. Aku masih menatap lurus ke depan sementara kurasa ia masih menatap bingung ke arahku.
"Kenapa kau tadi pergi begitu saja?" Gantian dia yang bertanya padaku.
"Kapan?"
"Saat ada Sai. Dan saat kau sedang bersama Sakura dan Naruto."
"Karena aku tidak mau mengganggu pembicaraan kalian."
"Omong kosong, Uchiha."
"Jangan panggil aku begitu."
Lalu suasana kembali hening.
Aku memutar otakku. Rasanya masih ada yang ingin kutanyakan. Seperti apa yang ia lakukan dengan Sai setelah itu misalnya. Tapi... kenapa juga aku mesti nanya? Apa peduliku dengan apa yang dilakukannya bersama mayat hidup itu?
"Kau ke sini untuk menanyakan hal itu?" tanyanya lagi.
Aku akhirnya menengok. Dia sepertinya agak terkejut karena tidak menyangka aku akan menoleh dan menatap langsung ke arah matanya. Kami saling terdiam beberapa detik lamanya.
Kacau. Pikiranku kacau, otakku rasanya seperti konslet. Yang kukatakan selanjutnya benar-benar diluar dugaan dan kontrolku sendiri.
"Lupakan. Anggap aku tidak pernah bertanya."
Lalu aku bangkit berdiri. Tanpa menengok ke belakang lagi untuk melihat ekspresinya, aku melompat keluar dan menjauh dari jendela penginapannya.
.
Entah kenapa lagi-lagi aku merasa agak menyesal. Semalaman aku hampir tidak tidur karena merasakan sesuatu yang berbau penyesalan dalam kepalaku.
Bisa kurasakan tatapan lurus Naruto ke arahku. "Kau kenapa? Kok lesu begitu, sih?"
"Tidak apa-apa," jawabku ogah-ogahan.
"Lalu kenapa dari tadi kau hanya diam dan bengong? Seperti orang banyak pikiran saja," komentarnya lagi.
Aku memang sedang banyak pikiran. Cuma satu sih, buah pikirannya, tapi cabangnya itu, loh...
"Kau sedang memikirkan apa, Sasuke?"
Aku tidak menjawab. Malas, ah.
"Kau tahu, kau kan bisa menceritakannya padaku."
Tawaran ditolak. Gila aja cerita sama dia. Yang ada entar malah dikira aku sedang bercanda pula. "Tidak ada apa-apa," ujarku lagi, kembali ogah-ogahan.
Lalu terdengar suara ketukan kaca. Aku dan Naruto sama-sama menoleh dan melihat Shikamaru sedang menguap di depan jendela. Idih, memangnya nggak bisa lewat pintu apa?
Ah... apa ini, ya, yang dipikirkan Temari kemarin...?
Naruto membuka jendelanya. "Ada apa, Shikamaru?"
"Kami membutuhkan bantuan kalian," ujarnya sambil menyeka air mata ngantuk dari sudut matanya. "Ada tahanan bawah tanah yang kabur. Jumlahnya empat orang. Mereka sudah kabur melewati gerbang Konoha dan kita harus menghentikan mereka sebelum mereka kabur lebih jauh."
"Sebaiknya kita bergegas." Aku bisa mendengar suara si mayat hidup dan kulihat juga Naruto mendongak ke atas. "Aku khawatir mereka berpapasan dengan Temari-san yang baru saja pergi. Memang sih, Temari-san bukan orang tanpa pertahanan, tapi tidak ada salahnya mengantisipasi."
Hegh? Temari baru saja pergi? Kok dia tahu?
"Ayo, Sasuke!" seru Naruto bersemangat sambil meloncat keluar jendela dengan antusias.
Aku mengambil dulu senjataku sebelum menyusul mereka.
.
Kami bergerak secepat mungkin melompati barang-batang pohon satu per satu. Ih, ganggu orang aja deh. Kenapa sih harus aku juga yang dimintai tolong? Kenapa nggak orang lain aja? Cih...
Tapi jujur saja, aku agak kepikiran dengan ucapan Sai.
"Nah," Shikamaru yang awalnya memang berada paling depan diantara kami berbalik tanpa menghentikan langkahnya, "sekarang kita berpencar. Sai, kau ke barat laut. Sasuke, kau tetap ke utara. Naruto akan ke timur laut sementara aku ke arah timur."
Dan dengan itu, mereka semua pun berpencar ke arah yang Shikamaru perintahkan. Hmm... kalau mau ke Suna harus lewat mana, ya? Ah, sudahlah, fokus kerja dulu saja. Eh, ngomong-ngomong dapet duit nggak, ya, disuruh secara nggak langsung begini? Aduh, fokus, Sas, fokus. Aku tahu kau mau mengalihkan pikiranmu dari seseorang, tapi bukan berpikiran ngaco begini caranya.
Aku mempercepat gerakanku. Ditengah gerakanku yang lagi terobsesi menyaingi kecepatan Rock Lee (?), mataku menangkap seseorang nggak asing di depan sana.
Itu dia!
Nih, Shikamaru sengaja, apa apaan sih? Masa bisa kebetulan begini? Ah, apa memang kalau jodoh nggak kemana, ya?
Nah loh kan, ngaco lagi deh lo Sas.
Dan sepertinya dia menyadari kehadiranku karena dia menoleh.
Lalu ekspresi yang dikeluarkannya benar-benar ekspresi terkaget yang pernah kulihat dari berbagai ekspresi kaget manusia lainnya.
Dia buru-buru meraih senjatanya. Dan aku, sepertinya karena panik, entah bagaimana sudah ada di depannya dan menahan tangannya. Lagi.
Wuih~ rekor baru~ menyamai kecepatan Rock Lee tanpa jutsu apapun~ Bisa masuk Guinness Book of Record nggak ya? #abaikan (?)
Dia kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh, tapi aku menahannya dan menuntunnya untuk berhenti dan berdiri dengan baik serta benar di atas tanah.
Sebelum dia membuka mulutnya, aku sudah memotongnya duluan. "Dengar, aku bukan di sini karena kesengajaan. Aku diberi tugas untuk mengejar salah satu dari empat tahanan bawah tanah yang kabur dari Konoha."
Dia terdiam sambil memandangku dengan tatapan mengernyit. "Ya sudah, sana. Lakukan tugasmu," ujarnya sambil melepaskan genggamanku pada tangannya dan mengusap-usap pergelangan tangannya. Apa aku terlalu erat menahan tangannya?
Tapi aku masih terdiam dan memandang ke arahnya.
"Semoga berhasil," ujarnya lagi, berusaha terlihat cuek dan bersiap-siap untuk pergi.
Namun tiba-tiba tanah di sekitar kami berdiri bergetar.
Aku langsung siaga, begitu juga dengan Temari. Heh, Shikamaru cuma bilang kalau tahanannya itu tahanan bawah tanah. Apa mereka bisa kabur karena punya kemampuan bergerak di dalam tanah juga? Jih, ribet dah.
Dan yang terjadi selanjutnya rasanya benar-benar dalam sekejap mata.
Dari dalam tanah, keluarlah pusaran angin besar dikelilingi bebatuan hancur dan debu pekat. Yang membuatku tertegun setelahnya adalah saat pusaran itu tepat menghantam sisi kiri wajah Temari. Dia berseru tertahan dan terpental jauh beberapa meter di depanku.
Pusaran itu makin melambat hingga berhenti dan membentuk wujud orang. Mungkin dia si tahanan kaburnya, tapi aku tidak peduli. Aku menerjang melewatinya dan menghampiri Temari yang kini sudah duduk dan mencoba bangkit berdiri lagi.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku dengan nada panik yang kentara.
Darah mulai mengalir dari pelipis kirinya. Pipinya juga agak bengkak. Tapi matanya tetap tertuju ke si pusaran yang sudah menabraknya. "Apa yang kau lakukan? Bisa saja dia tahanan dalam tugasmu itu! Lihat, dia sudah mau kabur lagi!" ujarnya padaku.
Aku berdecak sekali dan menarik senjataku. "Kusanagi no tsurugi..." Aku melirik sedikit tahanan yang sudah bersiap kabur masuk ke tanah lagi. "Chidorigatana," gumamku dan menebaskan senjataku sekali. Lalu aku sudah tidak menoleh lagi karena aku yakin orang itu pasti sudah tepar sekarang. Dugaanku juga diperkuat oleh ekspresi Temari yang menganga sambil melihat ke arah orang itu. Barulah ekspresinya berubah jadi meringis ketika aku sedikit menyentuh wajahnya.
Debu-debu sialan, gara-gara mereka aku tidak bisa melihat terlalu jelas tadi. Kenapa juga reflekku tidak langsung bekerja tadi? Harusnya aku bisa melindunginya! Harusnya aku bisa membuat siapapun yang ada di dekatku tidak terluka!
"Darahnya tidak berhenti..." ujarku sambil berusaha menghentikan pendarahan pada pelipisnya, tapi dia menghindar.
"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil."
"Pipimu bengkak." Aku bersikeras mengulurkan tanganku. "Biar kulihat."
Dan dia menepis tanganku. "Tidak apa-apa. Sudah, jangan kotori tanganmu."
Alisku berkerut tidak senang. "Tidak. Biar kulihat."
Dia menepis lagi tanganku, kali ini lebih keras. Lalu ia menatapku, bukan dengan tatapan marah, tapi... ah, susah dijelaskan. "Kau ini kenapa, sih? Pertama kau bersikap dingin padaku. Lalu mulai ramah sebelum akhirnya kau bertingkah seperti tidak mengenaliku. Lalu kau menyusup ke tempatku malam-malam dengan sikap hangat dan pergi dengan datar dan tidak mempedulikanku. Lalu sekarang kau kembali bertingkah baik padaku?" Temari memaksakan sebuah tawa sarkastis. "Sebegitu menyedihkannyakah aku hingga kau memperlakukanku seperti ini?"
Aku terdiam. Mungkin ekspresiku sekarang kaget? Melas? Entahlah. Ya, jujur saja aku memang agak terkejut dengan pernyataannya. Kenapa aku jadi merasa bersalah?
"Temari-san?"
Reflek aku menoleh dan melihat Sai sudah berlari ke arah kami. Ia melempar (?) tahanan hasil tangkapannya (?) yang sudah ia ikat dengan —heh, apa itu?— tinta ke sebelah tangkapanku (?) yang sudah tidak berdaya.
Dia mempercepat langkahnya saat dilihatnya Temari terduduk di tanah dan aku berjongkok di sebelahnya. "Temari-san, kau terluka!" serunya cemas dan berjongkok di sisi sebelahnya lagi.
Temari mengeluarkan saputangan putih dari kantungnya dan menyeka darahnya. "Tidak, kok. Hanya lecet sedikit. Tenang saja."
Lalu aku menyadari si mayat hidup iu melihatku dengan tatapan datar, yang tentu saja langsung kuasumsikan sebagai tatapan menyalahkan.
"Apa?" ujarku jutek.
Ia kembali fokus pada Temari. "Kenapa kau bisa terluka Temari-san?"
"Yah, karena kebodohanku sendiri, kok. Aku saja yang ceroboh sampai bisa kena hantam begi—"
"Tidak. Ini kecerobohanku," potongku tiba-tiba sambil menatap lurus mata tealnya yang membulat ke arahku. "Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu."
Hah, seorang Sasuke Uchiha minta maaf. Pemandangan dan kejadian yang benar-benar langka. Masa bodoh dengan gengsi dan harga diri, lah.
Aku tidak peduli lagi.
"Kita kembali lagi ke Konoha saja, ya?" tanya Sai akhirnya.
"Kita?" ulang Temari. "Aku tidak termaksud, kan?"
"Tidak. Maksudku kau juga."
"Tidak mau dan tidak usah. Aku sudah bilang ini hanya luka kecil. Ditekan sedikit juga nanti darahnya berhenti sendiri."
"Tapi kurasa lebih baik kau kembali ke Konoha lagi," ujar Sai kembali membujuk. "Biar aku minta tolong pada Sakura untuk menyembuhkan lukamu."
"Buat apa buang-buang cakra cuma untuk luka kecil? Tidak usahlah," tolak Temari lagi. "Aku bukan gadis cengeng yang tidak bisa apa-apa, kok. Bisa kuatasi sendiri. Sekarang aku mau pulang."
Lalu datanglah Naruto dan Shikamaru.
"Yes! Akhirnya tertangkap juga semuanya!" ujar Naruto.
Shikamaru mendekat ke arah kami. "Kenapa wajahmu?" tanyanya begitu melihat Temari menutupi wajah sebelah kirinya dengan saputangan yang mulai ternoda warna merah.
"Kegebok dia," jawab Temari enteng sambil menunjuk ke arah tahanan yang sudah kubikin tepar itu.
"Ah." Shikamaru menaikkan sebelah alisnya. "Ayo kita kembali dan obati lukamu."
"Aduuh, lagi-lagi..." Temari menghela napas gusar. "Aku tidak apa-apa—"
Lalu dia mengulang semua tetek bengek yang dia ucapkan pada Sai tadi.
Sementara aku hanya berdiri diam tanpa tahu apa yang harus aku lakukan dan katakan.
Haruskah aku kembali bersikap peduli padanya? Atau mulai dari sekarang saja aku kembali bersikap dingin dan tidak peduli padanya?
Dan tiba-tiba aku merasakan kehadiran orang lain. Bukan hanya satu, melainkan banyak. Seperti kelompok. Belum sempat aku memberitahu mereka, orang-orang itu sudah sampai.
"Nee-san?"
Hah? Nee-san?
Mereka semua menoleh, begitu juga denganku. "Eh? Gaara? Kankuro?"
Oh iya. Aku ingat muka dua orang yang sedang berdiri paling depan itu. Siapa, ya, namanya? Lupa ah. Heh? Lalu untuk apa antek-antek yang di belakang mereka itu? Dilihat dari ekspresi mereka, sepertinya mereka kaget mendapati kakak mereka dalam keadaan macam ini.
"Ada apa ini?" tanya salah satu yang berambut merah sambil berjalan mendekati kakaknya.
Sementara Temari menjelaskan padanya apa yang terjadi, aku meneliti penampilan orang itu dengan seksama dan menyadari kalau orang itu ternyata adalah kazekage. Pantesan anteknya banyak begitu.
"Dasar bodoh," omel seseorang yang membawa gulungan besar di punggungnya. "Kenapa kau tidak menghindar?"
"Bagaimana caranya kalau dianya saja muncul dari tanah, Kankuro? Mau menghindar juga mana keburu?" omel Temari balik. Oo, jadi itu yang namanya Kankuro. Berarti yang satu lagi pasti namanya Gaara.
"Tapi tidak apa-apa, kan?" tanya Gaara ke arahnya sambil memegang wajahnya dan mengecek lukanya. Hanya saja beda denganku, Temari tidak menepis tangannya.
"Nggak apa-apa," jawab Temari kalem.
"Kau sendirian saat itu?"
Temari menunjuk ke arahku. "Ada dia juga."
Selanjutnya dua pasang mata itu menatap ke arahku. Memang sih, ekspresi mereka sama-sama datar dan tidak terlihat jengkel atau apapun. Tapi mata mengirimkan pesan tersendiri yang bisa dimengerti oleh otakku, seperti brengsek, pria macam apa kau, tidak melindungi kakakku? atau sialan, dia pasti tidak ada niat menolong kakakku tadi.
"Kau ini bagaimana, sih?" Kankuro akhirnya menyuarakan pikirannya padaku. "Kenapa tidak menolong kakakku?"
Aku menyipitkan mataku. Kesal juga sih. Kalau mengaku aku salah pada Temari dan minta maaf karena tidak melindunginya sih tidak apa-apa. Kalaupun Temari menyalahkanku, aku juga tidak akan marah. Tapi disalahkan oleh orang lain... Hello?
"Bukan salahnya, kok. Kan sudah kubilang tidak sempat lagi. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?"
"Ke Konoha. Gaara ada urusan dengan Godaime Tsunade," jawab Kankuro.
"Apa aku harus ikut?"
"Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang dengan luka seperti itu," ujar Gaara dengan dahi berkerut. "Kau ikut kami. Obati dulu lukamu."
Temari hanya menaikkan kedua bahunya. Saat Sai mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri, ia menyambutnya dengan santai.
Heh, itu kan ideku! Sai sialan!
Akhirnya kami kembali ramai-ramai ke Konoha lagi. Namun sepanjang perjalanan entah kenapa aku masih bisa merasakan kedua pelototan dari makhluk bersangkutan yang kakaknya baru saja kena gebok karena kesalahanku secara tidak langsung.
Dan sepanjang perjalanan juga aku melihat Sai yang tidak pernah jauh-jauh dari Temari.
Sialan.
TBC~
ah, sempet update chappie baru~ makasih banyak atas reviewnya, Lady Spain (emang nggak jelas tuh si Sasu *di amaterasu* ah, apa di chap ini sudah kelihatan feel Tema ke Sasu? :D), rin kage no kurokaze (kami senang bisa membuat Anda senang(?) *kedipin mata gaje*), Harukaze Chiharu (makasih banyak udah di fav :D), Hello kitty cute (maaf ya yang kemarin itu lama update :o), SasuTema (kamu nggak sendirian, ada kami, di hatimuu~ *gombal gaje* *abaikan*), Masahiro 'Night' Seiran (ah, senpai terlalu baik memuji. terima kasih :D), Laura (hmm, maaf ya lama updatenya), Chae Rim (selalu diusahakan update cepet, ya :D), Min Cha 'ShikaTema (maaf karena updatean kemarin lama, ya :D), Ichigo (update kilatnya selalu diusahakan, ya :D), Fedeoya Kimchi (keke, ide bagus XD), dan Naoki (nggak berani masukin genre humor. habisnya takut nggak lucu. hehehe)
sekali lagi kami hanturkan berjuta-juta(?) terima kasih. mungkin di chapter ini kegajean Sasuke agak berkurang karena mau fokus ke romansa mereka dulu. diusahakan, kegajean Sasuke akan segera kembali. *dicekek Sasu*
Warm Hug~
