Ohayo, semuanya! Apa kabar? Baik-baik aja 'kan?

Na, akhirnya aku bisa juga upload chapter ke 2. Yang ini lebih panjang ya? Dan sudah mulai terbentuk ceritanya. Oh, ya pemberitahuan! Fanfic ini alternative ending dari saga de future-nya. Jadi lawannya tetep Byakuran, tapi dengan beberapa improvisasi.

Ya, dibaca ajalah. Aku yakin sih, cerita ini aggak gimana gitu. Tapi mohon dimaklumi.

Yaaaiii! Mari mulai! START!

CHAPTER 2 : Predule of An Imposible Meeting, Part 1 : A Mysterious Boy

Hari berganti pagi. Hari yang indah, beruntung, tidak seperti hari-hari lain dibulan September yang hujan turun dengan lebatnya.

"Nagimana keadaan anak itu?" tanya G "Apa ia sudah bangun?"

Knuckle menggeleng "Lukanya memang sudah membaik, tapi dia masih belum bangun, demamnya tinggi" ia menjawab dengan muram.

"Apa aku bisa melihatnya?" Giotto yang diam sejak tadi, bicara.

"Tentu" Knuckle mengangguk. Ia berjalan dan membuka pintu kayu tempat anak itu dirawat. "Silakan" katanya sembari menarik gagang pintu.

G, Ugetsu dan Giotto masuk kedalam ruangan, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Hari ini tak banyak pekerjaan yang mesti mereka kerjakan dan berhubung cuaca sedang bersahabat, mereka bertiga memutuskan untuk menemui Knuckle. Sehari lalu, ia mengirim surat. Giotto tertarik pada anak yang yang memiliki cincin Vongola itu, dan memutuskan untuk ikut.

Suangan itu cukup terang, dengan angin semilir yang masuk dari sela-sela kecil jendela. Knuckle tidak ingin membuat sakitnya tambah parah dan membuka jendelanya sedikit lebih lebar. Seorang anak tertidur dikasur. Wajah merah karena demam dan sembab. Sebuah cincin Vongola menyembul keluar dari celah bajunya. 'Ia mirip denganku', piker Giotto sembari berjalan mendekatinya.

Giooto mengelus kepalanya dan desahan kecil terdengar. Segera ia mengetahui anak itu telah mengalami penderitaan yang berat. Giotto memandangnya lembut –penuh kasih saying.

"Demamnya turun jika pagi" kata Knuckle sambil membuka korden "Tetapi demamnya selalu naik kalau malam. Sepertinya ia terkena syok karena suatu hal"

Telunjuk Giotto menyentuh pipinya yang lembab "…wajahnya panas dan sembab"

Knuckle berbalik, tatapannya terlihat sedih "Ia menangis semalam. Ada saat-saat dimana dia sangat menderita dan bergumam, terutama saat panasnya tinggi"

Giotto menatap anak itu dengan simpati lalu beralih memegang cincin Vongola itu.

"P-Primo, hati-hati…" Knuckle memperingatkan.

Tetapi cincin itu tidak berontak seperti halnya pada Knuckle. Giooto mengamati cincin itu 'Ini benar-benar cincin Vongola asli…' pikirnya. Ketika Gotto hendak melepaskannya, cincin itu bereaksi keras dan langsung melukai tangan Giotto. Giotto reflex menarik tangannya dan anak itupun kejang-kejang lagi.

"P-Primo!" G dan Ugetsu langsung mengahmpirii Giotto. Sementara Knuckle memegangi si anak, berusaha menenangkannya dari kejang-kejang.

"Aaaaakh…" dia merintih kesakitan dan mngeliat. Berusaha keluar dari cengkraman Knuckle. "Ti-tidak! S-semuanya… Go-Gokude…" ia bergumam.

G dan lainnya melihatnya dengan syok sementara Knuckle masih berusaha menenangkannya. Tak berapa lama, kejang-kejang itu berhenti. Anak itu tertidur setelah sedikit mengigau. Wajahnya terlihat sedih.

"Maaf, Primo" kata Knuckle sambil menyelimuti anak itu dengan selimut "Aku tidak tahu kenapa, tetapi tiap kali aku mencoba melepaskan cincin itu, cincinnya berontak dan dia pasti kejang seperti itu" paparnya sedih.

"Tida apa…" Giotto membalasnya dengan sedih, melihat anak itu "Karena tampaknya cincin itu tak mau berpisah darinya, kita biarkan saja"

Ugetsu melipat tangan "Tapi bukankah cincin itu asli? Tapi, seharusnya cimcin itu masih ada pada Richardo. Aku sudah mengeceknya pagi ini"

"Berarti ada 2 cincin…" kata G "Bagaimana Primo?"

"Untuk sementara kita rahasiakan dulu masalah ini. Setidaknya sampai saat yang tepat" jawab Giotto, ia menatap Knuckle "Knuckle apa kau tahu identitasnya? Petunjuk paling tidak"

"Mungkin" Knuckle menjawab dengan ragu-ragu. Ia lalu berbalik dan membuka laci meja kecil disamping tempat tidur, mengeluarkan beberapa benda menaruhnya diatas meja. G dan lainnya mendekat untuk melihat. "Ia ahanya membawa benda-benda ini saja"

Mereka bertiga melihat benda-benda itu dengan seksama. Ada 7 buah kotak berwarna berbeda, sebuah foto dan –mata mereka semua terbelalak.

"E-Enam cincin Vongola!" G setengah berteriak

"Benar" kata Knuckle " Masing-masing Storm, Rain, Sunny, Thunder, Cloud dan Mist. Sama seperti yang kita miliki"

"Kenapa ia mempunyainya?" Ugetsu terkejut, ia mencoba mengambil cicin Rain Vongola ketika tiba-tiba semua cincin seperti mengeluarkan arus listrik kecil disekitarnya.

"Jangan menyentuhnya!" Knuckle memperingatkan lagi dengan cepat " Efeknya akan sama seperti cincin Sky tadi!" Ugetsu segera menarik tangannya dan memang cincin-cincin itu seperti menolak untuk didekati.

Giotto melipat lengan "Sepertinya cincin-cincin itu bersinkronisasi dengan anak itu ya?"

"Sepertinya memang begitu…"Knuckle menjawab lemah.

Pandangan G teralih dari cincin Vongola keselembar foto didekatnya. Ia mengambilnya dan menatapnya terbelalak "Foto… ini…"

Ugetsu dan Giotto langsung mendekat untuk melihatnya juga. Mereka terkejut dan heran. Di foto itu tampak si anak berambut coklat dan 6 anak lainnya. Anehnya, mereka tampak seperti Giotto dan guardiannya, hanya saja lebih muda dengan warna mata dan rambut yang sedikit berbeda. G lalu membalik foto itu., ada tulisan dipojok kanan bawahnya.

Sawada Tsunayoshi

Bersama teman-teman di Taman Namimori, Jepang

-2011-

Dan untuk kesekin kalinya, mereka dibuat terkejut.

"I-ini…" G menatap tulisan itu tak percaya "Sawada? 2011? Apa maksudnya…?"

"Tampaknya Sawada Tsunayoshi adalah nama anak ini" kata Knuckle memandang anak yang tertidur itu " Foto itu diambil disuatu tempat di Jepang dan mungkin… ditahun 2011"Knuckle menjawab ragu-ragu.

"Tetapi…!" Ugetsu mencoba membantah argument tidak logis itu "Ini masih tahun 1720! Apa tidak mungkin itu sebuah sandi? Selain itu, untuk apa orang Jepang datang ke Italy ini? Dan, dan Sawada…"

"Adalah nama keluargaku di Jepang" potong Giotto " Tetapi nama itu kubuat sendiri dan aku yakin tidak punya sanak saudara di Jepang…"

"Kalau begitu, apa maksudnya?" tanya G. Ia langsung membalik foto itu "Lagipula, mereka semua sangat mirip dengan kita…!" suaranya masih terdengar tidak percaya.

"Aku juga tidak mengerti, tapi…" Knuckle berjalan selangkah ke depan "Anggaplah tahun 2011 itu memang sebuah kode dan ia berasal dari Jepang. Sawada –bisa saja nama itu kebetulan sama. Pertanyaannya adalah, kenapa dia bisa ada disini?" Knuckle menatap G dan Ugetsu

"Kami tidak tahu…" jawab Ugetsu " Ia muncul begitu saja setelah sebuah ledakan kecil dari balik asap. Karena khawatir pada lukanya, kami langsung membawanya kemari"

"Apa kalian yakin, tidak ada baranganya yang terjatuh mungkin…?" tanya Knuckle

G menggeleng "Aku sudah memeriksanya sebelum datang kesini. Kalaupun memang terjatuh, pasti sudah terbawa hujan entah kemana…"

Mereka semua terdiam, berpikir apakah ada penjelasan yang cukup masuk akal untuk menjelaskan semua ini. Sebuah pikiran mundul dikepala mereka. Bagimana kalau seandainya ia memang berasal dari masa depan? Di tahun 2011?. Tapi karena aneh, pikiran itu langsung terhapus dari kepala.

"Uuuh…"

Sebuah desahan kecil terdengar. Si anak yang sejak tadi tertidur sedikit mengeliat. Kompres di dahinya terjatuh. Knuckle mengerti dan segera menutup jendela. Giotto yang paling dekat segera mengambil kompres itu dan membasuhnya dengan air dingin lalu menempelkannya lagi.

Melihat wajah anak itu, membuat Giotto berpikir 'Apa yang terjadi padanya?' dan setiap orang diruangan itu memikirkan pertanyaan yang sama dibenaknya masing-masing. Giotto mengelus kepalanya dan menatapnya simpati.

"Dengan ini, sudah 4 hari ia terus tertidur, aku khawatir akan berpengaruh pada kesehatannya" kata Knuckle lemah.

"Apa kau sudah coba memanggil dokter?" tanya G berbalik menatapnya

Knuckle mengangguk " Sudah, tapi tak banyak yang bisa dilakukan…"

"Knuckle saja tak bisa menyembuhkannya secara penuh, aku ragu dokter biasa bisa membangunkannya" tapah Ugetsu yang sama bersimpatinya.

"Apa kita beritahukan saja pada Alaude, Primo?" usul G " Ia eks-Komandan Tinggi Kepolisian Italy, terlebih anggota intelejen pemerintah. Ia bisa mencari informasi mengenai anak ini"

"Lalu mengenai cincin Vongola-nya?" tanya Ugetsu

Giotto memejamkan mata sejenak "Kita akan memberitahunya, tapi tidak sekarang" G dan lainnya mengangguk patuh "Tolong rawat dia ya, Knuckle"kata Giotto sambil tersenyum.

"Baiklah, Primo…" Knuckle membari anggukan singkat dan balas tersenyum

Giotto kembali memandang anak yang terbaring di kasur itu "…Aku punya firasat, kalau anak ini akan terlibat dalam sesuatu yang akan segera terjadi…"

TO BE CONTINUED…

Yaaa….! Chapter 2, end! (\^_^/)

Gimana? Ahahahaha…. Aku tahu, aneh ya? Aku benar-benar minta maaf, otakku masih gimana-gitu. Rada eror (\_/). Aku juga tahu kok, fanfic yang in rada lebay, tapi sekali lagi, mohon dimaklumi saja ya. Masih pemula sih aku ini (\o/).

Setelah kulihat-lihat lagi, ternyata ngggak begitu panjang dari chapter sebelumnya. Paling hanya beberapa kata aja (atau justru lebih pendek?).

Terus, aku juga minta maaf kalau ada tulisannya yang salah atau nggak jelas. Aku memang ngetiknya kadang-kadang salah meski udah dicek berkali-kali. (\="=/)

Ya, akhir kata, kritik dan saran sangat diperlukan. Terimakasih buat kalian yang mau membaca fanfic ini.

Do you want to REVIEW, please?