Yaaaa minna-saaan! Akhirnya! Akhirnya! Cerita ini bisa nyambung lagiiii….!

Uwaaah, sudah lama ya! (\^o^/) Aku benar-benar minta maaf buat semua yang sudah menunggu kelanjutan ceritanya. Gomenasai, aku benar-benar lupa kalau aku penah membuat cerita ini.

Uwaaaaa, honto ni gomenasaiiiii! (\o/).

Oh, dan untuk beberapa review yang sudah kubaca, terima kasih banyak, maaf aku membalasnya, dan mengulasnya tapi terimakasih bayak buat kritk dan sarannya! Aku jadi semangat lagi lho! (\^/) Fight!

Nah, dari pada ngomong nggak jelas gini, langsung kita mulai saja!

Lets reading, lets reviewing and stop daydreaming! (Cialah, nyontek ni ya…., eh, tulisan ini bahasa Inggrisnya nggak salah 'kan…?)

CHAPTER 3 : Predule of An Impossible Meeting Part 2 : The Cloudy Mist

Alaude membolak-balik tumpukan kertas di depan meja. Ia lalu mengambil beberapa tumpukan kertas lain dari lemari penyimpanan data di sebelahnya dan mencocokkannya dengan dokumen yang ia temukan. '… ketemu!' pikirnya. Alaude segera mengambil dokumen itu, menyelipkannya di jubah hitamnya dan keluar lewat jendela. Alaude berlari cepat tanpa menimbulkan suara hingga sampai di depan dinding pembatas besar yang menjulang nggak karuan tingginya (untuk orang awam). Tingginya saja 12 meter, tapi itu adalah hal yang mudah bagi sang (ex) Guardian of Cloud itu. Alaude bahkan tak perlu memasang jarak untuk patokan berlari dan melompatinya dengan mudah seolah dinding itu hanya balok kayu.

Alaude mendarat dengan mulus. Tiba-tiba seberkas kabut indigo muncul dan seseorang terlihat di baliknya. Ia tersenyum oenuh misteri.

"… Apa yang kau lakukan disini, Daemon Spade?", Alaude bertanya dingin.

"Oya, jangan khawatir, aku hanya datang untuk menyapa", jawab Daemon menyeringai seperti biasanya "Sepertinya kau menyelesaikan misimu dengan baik"

"Apa yang kau inginkan?" tanya Alaude tidak sabar.

"Aku hanya memperingatkan…" Daemon mendekat selangkah "Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan, Alaude. Tapi kau sering melakukan sesuatu di luar misi dan mengambil resiko yang tidak perlu. Itu dapat membahayakan Vongola"

"Hee…", Alaude tersenyum mengejek "Baiklah, aku akan lebih berhati-hati. Lagipula, kau tidak bisa mengaturku sejak Primo turun"

Mata Daemon menyipit, "Kau tahu, aku tidak aan segan-segan kalau kau membahayakan Vongola" katanya dengan nada mengancam.

Alaude tersenyum "Aku tidak sudi diperintah orang macam kau" katanya tajam. Ia lalu berbalik "Orang yang berpura-pura menjatuhkan Primo dengan alasan konyol untuk melindunginya dan membohongi diri sendiri"

Daemon terkejut dan dengan cepat berpindah tempat, tepat 2 meter di depan Alaude. "Apa maksudmu?"

Senyum Alaude makin mengembang, "Hmph, bukankah kau sebenarnya hanya tidak ingin Primo berubah? Karena itu kau jatuhkan dia?"

Daemon Spade terkejut, senyumnya pudar 'Bagaimana ia bisa tahu…?' Daemon berteriak dalam hati. Daemon hendak menyangkal ketika Alaude berkata,

"Percuma saja kau menyangkalnya, Daemon…" Alaude berjalan pergi. Sebuah kereta kuda berhenti di depannya dengan pintu terbuka. "Karena akupun…" Alaude berbalik menatap Daemon sebelum menaikinya "juga menginginkan hal yang sama…"

Ucapan itu membuat Daemon membeku di tempat selama beberapa detik. Kereta kuda itu telah berjalan pergi. Daemon mengamati kereta itu sampai menghilang dari pandangan. Bertanya-tanya bagaimana Alaude bisa mengetahuinya dan apa maksud dari perkataannya tadi. Daemon masih terdiam hingga sebuah sirine berbunyi kencang di balik tembok di belakangnya.

UUUIIIIIIIIIIIII, UUUIIIIIIIIIII, TET. TET. TET!

Daemon berbalik. Gedung dibelakangnya menjadi terang oleh lampu-lampu sokle yang besar menari-nari ke langit dan ke tanah, mencari-cari. 'Sudah sadar rupanya…' piker Daemon. Beberapa polisi keluar dari gedung dan berhamburan kejalan dan gang-gang kecil. Lebih banyak lagi yang keluar, terbagi mengikuti kelompok pertama dan sisanya berlari-lari di halaman.

Daemon berbalik. Ia berpikir sejenak lalu memasang senyumnya yang biasa. Seberkas kabut indigo muncul disekelilingnya dan iapun menghilang.

Sementara itu ditempat lain diwaktu yang sama…

Seberkas hantaran listrik kecil terlihat di atas alun-alun kota di tengah malam. Aliran-aliran listrik itu membentuk sebuah lingkaran hitam pekat. Mula-mula tanga, lalu kepala dan dada muncul. Sesosok manusia keluar dari lubang itu. Ia berjalan diawang-awang semudah berjalan di tanah selangkah. Rambutnya berwarna putih, ada sebuah tato di bawah mata kanannya (?). Ia menyeringai. Titik-titik cahaya seperti salju muncul dan berkumpul di punggungnya dan sepasang sayap putih keluar menyeruak dari sana. Lubang hitam itu perlahan mengecil dan menutup. Ia melihat kota yang disinari lampu-lampu redup. Senyumnya makin lebar.

"Ne, dimana kau Tsunayoshi-kun…?" gumam Byakuran, menantang dirinya sendiri.

TO BE CONTINUED…

Uwaaa, sumimaseeeeen! Maaf, chapter ini pendek banget. Aku sudah berusaha, percayalah! .(\o/) Aku akan berusaha supaya chapter berikutnya bisa lebih panjang. Aku benar-benar minta maaf! (\"/) Terutama karena aku sudah lama nggak upload, bagi yang sudah nunggu lama (gaya!maaf…). Huaaa!

Jadi tolong jangan berhenti membaca ya!

Kemudian, aku juga minta maaf kalau ada tulisan yang salah ketikatau sulit di baca atau sulit di mengerti. Aku juga masih pemula dan parahnya, gaptek. Aku masih harus banyak belajar…

Untuk semua orang yang sudah bersedia membaca karya amatiran ini, memmberi review dan atas semua kritik dan saran kalian, terimakasih banyak! Aku bisa sejauh ini berkat kalian! Arigato gozaimasu!

Terakhir, untuk semuanya, kritik dan saran sangat juga mengharapkan dukungan dari kalian! Terima kasih atas bantuannya!

Mind to REVIEW?