Disclaimer: Nope. Not mine.

A/N: Setting Tahun Keenam. Ada sedikit flashback di bagian tengah, mudah2an ga membingungkan^^


Chapter 2 Beautiful Disaster

Oh and I don't know

I don't know what he's after

But he's so beautiful

Such a beautiful disaster

And if I could hold on

Through the tears and the laughter

Would it be beautiful?

Or just a beautiful disaster

Kelly Clarkson, Beautiful Disaster

"Mioooneee…" senandung seseorang di belakang Hermione. Gadis itu tidak melambatkan langkah, berjalan cepat-cepat di koridor.

Sosok itu masih mengejarnya, masih memanggil namanya dengan mesra. Hermione bisa mendengar suara langkah pemanggilnya yang bergaung di koridor.

Ekspresi apa yang harus ia tunjukkan? Marah karena terus diikuti? Bingung? Jengkel? Sedih? Senang?

"Mioooneee." Hermione berhenti, menarik nafas panjang, memaksakan tersenyum, kemudian berbalik menghadap Draco Malfoy yang berlari terengah-engah menyusulnya.

'Ini menyebalkan! St. Mungo berhasil mengatasi darah beku di otaknya, tapi ingatan Malfoy belum juga pulih. Sampai kapan dia mengikuti aku seperti anak hilang?'

"Mione, kau berjalan cepat sekali." Draco berdiri di depan Hermione, tersenyum secerah mentari pagi. Wajah pemuda itu memerah karena habis berlari.

"Yeah, aku lapar," jawab Hermione sekenanya, "mungkin sarapan sudah dimulai di Aula Besar."

"Oh, kalau begitu ayo kita ke sana. Aku tidak mau konsentrasi belajarmu terganggu karena terlambat sarapan," Draco menatap gadis di depannya dengan penuh perhatian, "aku tidak mau kau sakit, Mione."

Hermione berusaha keras untuk tidak memutar bola matanya, jengkel karena diperlakukan seperti anak kecil.

"Baiklah, ayo Malfoy."

Gadis itu melangkah, tapi Draco tetap diam di tempatnya berdiri.

"Ada apa?"

"Uh…"

"Malfoy?"

Draco memilin-milin ujung jubahnya dengan gugup, persis anak kecil yang akan minta dibelikan mainan.

Hermione berusaha menjaga emosi, menggumamkan 'dia-amnesia-dia-amnesia-harus-sabar-harus-sabar' dalam hati.

"Mione, kenapa kau terus memanggilku Malfoy?" Draco menunduk, ekspresinya campuran sedih dan malu-malu, "Uh, aku lebih suka kalau kau memanggilku Draco, atau…"

"Atau?" Hermione menaikkan alis, berharap Draco tidak meminta untuk dipanggil Dra Dra atau Co Co, seperti Lavender pada Ron.

"Um…" Rona kemerahan mulai merambati pipi pucat Draco.

"Well?"

"Um… Ferret?"

Hermione membelalak tak percaya, "Kau menyuruhku memanggilmu Ferret?"

"Ya, bukankah dulu kau sering memanggilku begitu? Samar-samar aku ingat saat kau memanggilku Ferret. Itu nama kesayanganmu untukku, Mione." Draco berkata sabar, mengingatkan Hermione seolah gadis itulah yang amnesia.

'Oh, ingatan Draco benar-benar kacau. Terima kasih pada St. Mungo yang tidak menyelesaikan permasalahan TERPENTING.'

"Baiklah, Draco," Hermione menyerah, lebih memilih memanggil Draco ketimbang Ferret.

Mereka berjalan bersama menuju Aula Besar, Draco terus mengoceh tentang betapa takjubnya dia dengan Hogwarts dan dunia sihir. Pemuda itu bercerita seolah-olah dia anak kelas satu yang baru mengetahui bahwa dia penyihir. Sesekali Draco menyapa murid-murid lain yang mereka lewati dengan ramah, sok kenal dan ceria. Jauh berbeda dari dirinya yang semula, Draco Malfoy Non Amnesia yang angkuh dan tak punya toleransi.

Dia berbeda. Dan Hermione serba salah menghadapi perubahannya.

Seseorang yang dulu membencinya, berbalik menyayanginya. Pemuda itu begitu perhatian, begitu lembut. Senyumnya menentramkan dan binar matanya penuh semangat.

Mau tak mau, Hermione terkesan dengan perubahan Draco. Dia sebal karena Draco yang sekarang membuatnya jadi bahan perbincangan, tapi di sisi lain dia merasa senang karena tak perlu lagi bertengkar dengan pemuda itu.

Hal ini hanya sementara, Draco mungkin akan kembali ke sifatnya yang semula, Pangeran Slytherin sombong yang membenci Darah Lumpur.

Bagaimana jika saat itu tiba dan Hermione sudah terlanjur menyukainya? Atau lebih parah, mencintainya...?

'Menyukai Malfoy? Mencintainya? Ugh, yang benar saja! Itu tidak mungkin!'

Dia harus memeriksakan diri ke St. Mungo jika hal itu benar-benar terjadi.

Meski sudah berusaha 'menjauh' dan tidak bersikap terlalu ramah pada Draco, Hermione tidak terlalu yakin bisa terus 'dingin' padanya. Draco yang baru terlalu... Manis.

"…Howarts punya Hutan Terlarang. Mereka bilang itu tempat yang sangat menyeramkan!" kata Draco, membuyarkan lamunan.

"Yeah, Centaurus dan laba-laba raksasa hidup di sana."

"Wow, benarkah? Keren!" Draco berteriak girang, kemudian beralih membicarakan topik yang lain, seperti kandang burung hantu, pondok Hagrid, Danau Hitam, dan olahraga sihir.

"…mereka juga bercerita tentang olahraga sihir Qu-Quimish."

"Quidditch." Hermione mengoreksi, menahan geli.

"Quidish?"

"Quidditch."

"Yeah, Quidditch! Permainan itu kedengarannya seru! Andai aku bisa main, Mione." Seeker Slytherin itu berkata riang. "Hari ini aku harus belajar naik sapu terbang! Wah, pasti menye- Hey kembar!"

Parvati Patil dan Padma Patil menoleh, membalas sapaan Draco.

"Hey, Draco!" kata mereka berbarengan, melihat pasangan di depan mereka dengan penuh minat. Parvati lalu mendekatkan kepalanya pada Padma dan mulai berbisik-bisik, mengerling pada Draco dan Hermione.

Hermione muak jadi perbincangan satu sekolah seperti saat ini. Kemana ia melangkah, Draco selalu mengikutinya seperti bodyguard, memancing orang-orang untuk bergosip. Dia lelah sekali, tapi Draco tampaknya santai-santai saja, tidak mempedulikan ocehan di sekitarnya.

Muka Hermione memerah, dia menggandeng lengan Draco dan berjalan cepat-cepat meninggalkan kembar bersaudara yang masih asyik mengobrol.

"Wow, kau benar-benar lapar ya, Mione." Draco nyengir kuda, mengimbangi langkah cepat 'pacarnya' yang seperti dikejar penagih hutang.

"Oi, Drakie..!"

'Merlin... apa lagi?'

Hermione dan Draco berbalik, bertemu dengan wajah gusar Pansy Parkinson.

"Kenapa kau berjalan dengan Granger, Drakie?" Suara Pansy melengking menyebalkan dan dibuat-buat."Kau tidak seharusnya berjalan dengan Darah Lumpur!" Pansy mencibir ke arah Hermione yang menatapnya dengan sinis, menimbang dalam hati kutukan paling jahat apa yang bisa ia luncurkan saat ini.

Draco Malfoy menarik nafas berat, dengan lembut melepaskan tangan Hermione yang masih memegang lengannya.

Pewaris tunggal Malfoy Manor itu berdiri di depan Pansy, menjulang melebihi tinggi gadis itu. Raut wajahnya yang ceria saat bersama Hermione berubah total, menjadi penuh kemarahan.

Selama semenit Hermione bersumpah melihat Draco Malfoy yang lama telah kembali! Mata dingin dan seringai licik itu persis sama dengan yang sering ia lihat selama ini.

Sepaket ekspresi dan gesture yang sering ia lihat saat Draco menghinanya.

"Bukan urusanmu aku berjalan dengan siapa, Patricia!"

Hermione mengulum bibirnya menahan tawa, sementara Pansy justru membuka mulutnya untuk protes karena Draco salah menyebutkan namanya.

"Drakie-" cicit Pansy ketakutan.

"Lagipula dia itu pacarku, dan namanya Hermione Jean Granger, bukan Darah Lumpur!" sembur Draco berapi-api. "Kau sebaiknya belajar menjaga mulutmu, Pesky!"

"Drakie aku-"

"Jangan memanggilku Drakie, kau-"

"Stop, Draco," Hermione menenangkan, berusaha keras tidak tersenyum atau tertawa melihat wajah Pansy yang berubah drastis jadi pucat pasi, shock karena teriakan Draco yang memanggilnya Patricia dan Pesky!

"Tampaknya Patricia sudah paham. Lebih baik kita segera ke Aula, aku lapar sekali, Draco... Pleaseeee." Hermione berkata manja dan memasang ekspresi semanis mungkin, tidak mempedulikan Pansy-Patricia-Pesky yang melotot.

"Ok, Mione." jawab Draco patuh, tersenyum hangat pada gadis pujaannya.

Mereka berjalan menjauhi Pansy yang terpaku di depan pintu Aula Besar.

"Nama cewek tadi Patricia atau Pesky, Mione?" bisik Draco di telinga Hermione. Gadis itu hanya tertawa mendengarnya, pelan-pelan mulai menyukai Draco.

Pelan-pelan, mungkin cinta itu mulai tumbuh...

"NAMAKU PANSY, DRAKIEEE!" teriak Pansy Parkinson setelah pulih dari keterkejutannya. Hermione tidak melihat ke arah asal suara, tapi dia bisa menebak bahwa ada asap kemarahan mengepul yang keluar dari kepala anak Slytherin penggemar berat Draco itu.

"Dia gila," bisik Draco lagi, "untung aku bukan pacarnya."

.

.

-:-:-:-

.

.

Tawa Hermione karena tingkah Draco mempermalukan Pansy segera menguap dan berubah jadi kecemasan saat mereka bersama-sama memasuki Aula Besar yang telah dipenuhi murid-murid.

Denting garpu yang beradu dengan piring berhenti.

Gumaman seru tiba-tiba tergantikan hening yang lebih menusuk ketimbang heningnya Hutan Terlarang di malam hari.

Wajah-wajah menghadap ke satu arah yang sama, dengan ekspresi kekagetan yang serupa.

Seolah ada yang memperlambat waktu ( atau menghentikannya secara kejam), tidak ada gerakan sama sekali selama tiga detik.

"Oh, tidak." Hati Hermione mencelos. Kenapa hal ini terulang lagi? Hal yang sama seperti yang dialaminya dua tahun lalu, saat artikel keji Rita Skeeter membuat semua orang menganggapnya wanita yang hanya mempermainkan hati lelaki. Hermione sudah mendengar gosip tentang dirinya selama beberapa hari ini. Orang-orang menuduhnya telah sengaja mendorong Draco, dan meminumkan ramuan cinta pada lelaki itu hingga yang Draco ingat hanya dirinya.

Hermione ingin berjalan dengan tegar dihadapan semua orang. Ingin melangkah dengan berani seperti seorang Gryffindor sejati, tapi semua yang terjadi belakangan ini membuatnya lemah.

Lelah.

Rasa bersalahnya karena jadi penyebab Draco terjatuh, kekesalannya karena selalu diikuti pemuda itu, dan tuduhan orang-orang, membuatnya ingin pergi ke tempat sepi untuk sementara, menenangkan pikirannya untuk sejenak saja.

Hermione memutuskan untuk mengambil langkah seribu, balik kanan dan sudah dalam posisi 100% siap berlari ketika tiba-tiba ada yang menggenggam tangannya erat.

"Mau kemana, Mione?" Draco berkata lembut, hangat tangannya sangat berkebalikan dengan tangan Hermione yang sedingin es. "Kupikir kau lapar."

"Su-sudah tidak lagi." Hermione menelan ludah, memandang ngeri ke ratusan pasang mata yang masih memperhatikannya, lalu beralih ke mata abu-abu Draco yang teduh menenangkan.

Draco menyadari alasan kegugupan gadis di depannya, tersenyum dan berbisik pelan, "Jangan takut pada mereka, aku bersamamu." Aku akan menjagamu.

'Justru karena kau bersamaku!' teriak Hermione dalam hati, frustasi.

"Percaya padaku, Mione?" Draco mempererat genggamannya.

Hermione tidak langsung menjawab, ia biarkan dirinya menyelam ke sepasang mata yang menjanjikan perlindungan padanya. Gadis itu menemukan ketulusan untuk pertama kalinya setelah enam tahun mengenal Draco Malfoy. Dia menunduk, lalu mengangguk pelan.

Mereka berjalan menuju meja Gryffindor, Hermione masih menunduk, mempercayakan arah kemana dia berjalan pada Draco yang setia dan protektif memegang tangannya. Draco melangkah penuh percaya diri, tidak peduli pada orang-orang yang menjadikan mereka objek tontonan, hanya fokus pada gadis yang tangannya ia genggam erat.

Teman-teman Hermione di meja Gryffindor memberikan mereka tempat duduk. Draco melepas tangan Hermione dengan enggan dan duduk di antara Harry dan Dean Thomas, membelakangi meja Slytherin. Tempat seharusnya ia berada saat ini.

Hermione duduk berhadapan dengan Draco, di sebelah Ron yang melihatnya dengan cemas, sama halnya dengan Harry, Ginny, dan Lavender.

Suasana masih saja senyap. Draco memandang berkeliling, mendesah berat, lalu berdiri menghadap ke para penontonnya "Lihat apa kalian?" katanya galak.

Serempak semuanya sibuk dengan aktifitasnya semula, Aula Besar kembali ramai dengan celoteh murid-murid.

Dari tempat duduknya, Hermione bisa melihat Pansy yang baru datang ke meja Slytherin. Mata 'sahabat dekat' Draco Malfoy Non Amnesia itu merah seakan pemiliknya baru menangis.

"Kau tidak apa-apa?" Ron bertanya khawatir. Wajah Hermione terlihat sangat pucat. Gadis itu memilih telur mata sapi, sosis, kentang tumbuk, roti bakar dan jamur panggang untuk jadi sarapannya. Masih terlalu pagi memang, tapi saat ini dia sedang tidak peduli pada apa yang ia makan.

"Aku-" Hermione memotong telurnya jadi dua bagian, mengerahkan energi yang terlalu berlebihan.

"-baik -" Telurnya jadi empat bagian sekarang.

"-swhaja-" Telur malang dengan sukses dilumat Hermione tanpa ampun.

"Huh, cukup meyakinkan." Ron tidak percaya, berbalik untuk kembali mengobrol dengan Lavender Brown.

Harry dan Ginny saling pandang, tapi tidak berkata apa-apa dan melanjutkan makan.

Draco di hadapannya, mulai asyik berbicara dengan Dean Thomas dan Seamus Finnigan. Selintas terdengar kata "sepakbola" dan "West Ham". Tampaknya Dean sedang bersemangat menceritakan tentang klub sepakbola kesayangannya.

Sesekali Draco mengerling ke arah Hermione saat ia sadar tengah diperhatikan dan mengedipkan sebelah matanya dengan genit. Muka gadis berambut coklat itu memerah karena malu.

'Huh, kenapa penghuni Gryffindor bisa dengan mudah menerima seorang Slytherin di meja mereka? Bukan hanya Slytherin biasa, tapi Draco Malfoy musuh bebuyutan mereka.'

Semuanya berawal dari kejadian semalam.

.

.

-:-:-:-

.

.

12 jam sebelumnya...

"Hermione, ada yang menunggumu di depan Lukisan Si Nyonya Gemuk." kata Ginny yang baru memasuki ruang rekreasi.

"Siapa, Gin?" Hermione mendongak dari buku Arithmancy yang sedang ia baca.

"Penggemar barumu, " Adik bungsu Ron itu tersenyum penuh arti, "pangeranmu dari Slytherin, Putri."

"Tidak mungkin ada anak Sly- tunggu, maksudmu Malfoy?" Gadis kelahiran Muggle itu menaruh bukunya di meja. "Dia sudah keluar dari St. Mungo? Bagaimana keadaannya? Ingatannya sudah kembali?" Hermione menarik nafas panjang, "Untuk apa dia menungguku di depan?"

"Whoa, sabar. Kujawab satu persatu. Pertama, ya, dia baru saja pulang dari St. Mungo. Kedua, keadaanya baik, walau ada bekas luka di dahinya, dan di bagian belakang kepalanya. Ketiga, saat kutanya keperluannya tadi, dia menjawab dengan sangat ramah, jadi jawabannya ya, dia masih amnesia."

"Lalu?"

"Untuk apa dia menunggumu di depan?"

Hermione mengangguk bersemangat

"Well, Malfoy membawa banyak coklat dan bunga, jadi..."

"Apa?"

"Dia akan mengajakmu kencan, Hermione!" Ginny terkikik geli, "Oh, mungkin besok matahari akan terbit di sebelah barat."

"Ssstttt… Ginny, ini tidak lucu. Mungkin saja coklatnya diracun."

"Tidak mungkin. Aku mencoba satu dan tidak ada keanehan yang terjadi."

"Bunganya ditaburi Bubuk Bersin."

"Aku mencium bunga-bunga itu, tapi tidak bersin sekali pun."

"Ginny, kau sembrono sekali! Jangan percaya pada anak Slytherin, terutama Malfoy."

"Aku tidak melihat anak Slytherin apalagi seorang Malfoy di sana. Aku cuma melihat seorang pemuda amnesia yang sedang dimabuk cinta." Ginny berkata dramatis, tampak senang sekali meledek Hermione.

"Ginny…"

"Ok. Apa yang ingin kau lakukan kalau begitu? Kau mau menemuinya?"

"Tentu tidak, aku belum siap," Hermione menggigit bibir bawahnya, "bagaimana kalau kau usir dia?"

"Apa? Jangan jahat begitu, Hermione. Aku juga tak suka padanya, tapi Malfoy bukan dirinya sendiri saat ini. Kita gencatan senjata untuk sementara waktu, yang berarti kau harus menemuinya dan bicara baik-baik."

"Demi Merlin, Ginny! Dia menganggap aku pacarnya!"

"Lihat sisi baiknya-"

"Tidak ada sisi baiknya."

"Oh, baiklah. Kuusir pangeranmu itu. Jangan menyesal nantinya, Mione."

"Tidak akan."

Sebelum Ginny melangkah untuk keluar, tiba-tiba pintu mengayun terbuka dan segerombolan anak Gryffindor masuk ke ruang rekreasi.

"…ceritakan lagi tentang orang gila yang kau temui di St. Mungo, Malfoy," seru Dean Thomas bersemangat, "ciri-cirinya seperti Lockart."

"…dia memang Lockart, Dean. Aku pernah bertemu dengannya di sana," imbuh Ron menggeleng prihatin, "Lockart tambah kacau saat terakhir kali aku melihatnya."

Berjalan di antara Dean, Ron, Harry, Neville, dan Seamus, berambut paling terang dan berkulit paling pucat, tak lain dan tak bukan adalah Sang Pangeran Slytherin, Draco Malfoy.

Pemuda itu membawa bunga dan coklat, tampak menyatu dengan 'teman-teman' barunya. Dia tidak berjalan dengan angkuh, ataupun mengangkat kepalanya tinggi-tinggi seperti dulu. Draco tampak charming dalam balutan kemeja putih, tertawa bersama yang lain saat Ron menceritakan kronologis Lockart terkena mantranya sendiri.

"…setidaknya kau tidak separah Lockart, Malfoy. Kau masih ingat Her-"

Ron langsung berhenti saat matanya bertemu mata Hermione.

"Eh, Hermione…" Ron menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kelihatan gugup. "Er, tampaknya malam ini Malfoy akan menginap di kamar kami."

"Apa?" Hermione melotot, Ron mengkerut takut. Dean, Neville, dan Seamus cepat-cepat masuk ke kamar anak laki-laki, sementara Draco hanya tersenyum innocent.

Hermione menoleh ke arah Harry, mencari dukungan, tapi Harry justru mengangguk singkat menyetujui Ron, "Ya, Hermione. Untuk satu malam saja."

Gadis berambut lebat itu makin bingung. 'Bagaimana bisa? Kenapa Harry dan Ron begitu akrab dengannya? Apa yang sudah dilakukan Malfoy pada mereka? Hipnotis? Imperius?'

Selama beberapa menit tidak ada yang bicara, Hermione terlalu terkejut dengan perubahan sikap teman-temannya pada Draco.

"Mione, aku membawakan coklat dan bunga untukmu." kata Draco merdu, memecah keheningan yang tidak nyaman. Senyumnya tidak juga lepas dari bibirnya.

Ah, rasanya Hermione ingin berteriak menyadarkan teman-temannya, dan mengusir Draco dari ruang rekreasi, tapi akhirnya menyerah dan mengambil bunga mawar dan coklat yang Draco sodorkan. Harry dan Ron berhutang penjelasan padanya!

"Trims." tuturnya singkat, tersenyum untuk membalas senyum Draco.

Jadi, gencatan senjata, eh?

.

.

-:-:-:-

.

.

Dua sahabat baiknya tidak juga memberitahu apa yang sebenarnya terjadi hingga mereka begitu mempercayai Malfoy. Harry dan Ron terus menghindar dan tidak memberi kesempatan padanya untuk bertanya.

Hermione melampiaskan kekesalan pada makanan di depannya, memotong-motong, lalu menjejalkannya ke mulut. Dia menghabiskan jus labunya hanya dalam sekali teguk.

"Mione?" Draco terdengar cemas, Hermione tidak peduli.

'Huh, berisik.'

"Mione?"

"…"

"Pelan-pelan saja makannya, Sayang…"

'What?'

Hermione mendongak ke wajah Draco. Mungkin dia salah dengar?

Tapi sepertinya tidak, karena yang lain juga mendengar kata 'Sayang' yang sama. Ron batuk-batuk karena tersedak, Lavender menepuk-nepuk punggungnya untuk menenangkan, Harry menatap Draco takjub, Ginny menutup mulut menahan tawa, Seamus dan Dean pura-pura asyik membicarakan piring mereka.

'Awas kalau ingatanmu nanti kembali, Ferret.'

"Sini, biar kubersihkan…" Draco mengambil sapu tangan dari kantung jubahnya dan mulai mengelap bibir Hermione dengan lembut.

Hermione seperti tersihir di tempat duduknya, tidak bisa bergerak dan hanya menatap Draco tak percaya.

'Don't be too good, I will miss you. Don't be too caring, I might like you. Don't be too sweet, I might fall.'

Jantung Hermione berdegup sangat kencang, menyadari betapa tampannya Draco Malfoy saat pemuda berambut pirang itu mendekatkan diri.

Ginny menggumamkan, "Ooh, manis sekali…"

Harry menaikkan sebelah alisnya, ekspresinya tidak bisa ditebak.

Lavender terbelalak memandang pasangan di depannya, lalu mendorong pundak Ron yang masih batuk-batuk, "Kau tidak pernah semanis itu padaku, Won Won!" katanya setengah jengkel.

Dean dan Seamus kini sibuk mendiskusikan makanan penutup, mencoba tidak peduli pada adegan mesra di depan mereka.

Hermione melihat ke belakang pundak Draco, ke meja Slytherin.

Pansy tampak lebih marah dari sebelumnya, melotot ke arahnya.

Hermione tersenyum pada Draco. Senyum paling cantik yang bisa ia tunjukkan.

Pansy mencekik Crabbe yang duduk di sebelahnya. Mungkin sedang membayangkan kalau yang sedang dia cekik itu pacar baru Draco.

Senyum Hermione tambah lebar.

Goyle berusaha menolong Crabbe, melepaskan tangan Pansy. Gadis itu lalu lari sambil menutup wajahnya, menangis lagi.

Senyum Hermione memudar, "Uh, Draco… Aku bukan anak kecil." Dia mengambil sapu tangan Draco, mengelap sendiri bibirnya, lalu bangkit berdiri. Draco juga ikut berdiri.

"Aku mau ke toilet." Gadis itu berkata cepat-cepat sebelum Draco sempat bertanya. Wajah Hermione semerah apel di meja tempat mereka makan, malu dengan kejadian tadi. Harus segera ia normalkan kembali sebelum teman-temannya menyadari!

"Baiklah. Kita bertemu di kelas nanti?" Draco mengambil jadwal pelajaran di kantungnya, "Sejarah Sihir? Sepertinya pelajaran yang menarik."

Hermione mengangguk, tersenyum untuk terakhir kali, lalu berjalan ke luar Aula Besar.

Dia baru akan berbelok di tikungan koridor ketika melihat Pansy yang sedang bersandar pada tembok, mata merahnya penuh kebencian saat sadar ada Hermione di depannya.

"Hai, Patricia." sapa Hermione datar, tidak peduli pada tatapan 'membunuh' anak Slytherin di depannya.

"Kau pikir kau hebat, Darah Lumpur? Begitu ingatannya kembali, Draco pasti membencimu lagi!"

"Bagaimana kalau saat ingatannya kembali dia masih menyukaiku?" Hermione menantang, tangan kanannya sudah beralih ke tongkat sihirnya.

Pansy tampak kehilangan kata-kata, terlalu takut membayangkan perkataan Hermione menjadi kenyataan.

Hermione melepas tangannya dari tongkat sihir, bersiap meninggalkan Pansy ketika beberapa kejadian terjadi bersamaan.

"Hermione!" Ada yang memanggil namanya, Hermione menoleh sekilas.

"Darah Lumpur Busuk!" Pansy mengacungkan tongkat sihirnya pada Hermione, wajahnya penuh kemarahan dan dendam.

"Awas!"

"Ap-"

Hermione kembali meraih tongkatnya, mencoba mengutuk musuh di depannya.

Dia tidak cukup cepat.

Pansy sudah menguasai keadaan.

"CRUCIO!"

.

.

-:-:-:-


A/N: Continue? Ripiu... Ripiu... ^^

SoriSoriSori udah bikin Draco SuperOOC di sini, juga utk updatenya yg lama... Semoga ga bikin kecewa yah T.T

Jangan lupa saran-kritiknya ya Readers^^ (No Flame, please... Seriously^^)

Untuk Resha... Trims atas saran2nya^.^ (lagi)

Untuk Readers yg sdh meripiu chapter sebelumnya, trims banyak yah^-^