Disclaimer: They're mine (only in my sweetest dream)
A/N: Trimmss banyak untuk Reviewers chapter sebelumnya! ^_^ I do appreciate your kindness, Guys!
Chapter 3 Truth, Cry, and Lie
"...There's a truth behind a cry
and there's a cry behind a lie
on every thought that come out wrong
just learn from it and please stay strong..."
Draco memandang punggung Hermione yang berjalan meninggalkan Aula Besar, melihat rambut coklat itu semakin menjauh.
Dia mengalihkan pandangan pada tempat dimana sebelumnya Hermione duduk. Puding untuk makanan penutup gadis itu belum tersentuh.
Pemuda berdarah murni itu mengambilnya dan bergegas berdiri.
"Mau kemana, Malfoy?" kata Ron sambil melahap sepotong pai apel.
"Mengantarkan puding milik Mione. Dia lupa memakannya." Hari ini sepertinya selera makan gadis itu sedang besar, Draco yakin Hermione akan menyukai puding ini.
"Ngan… Buaguaya..." Ron menatap penuh harap, masih sibuk mengunyah. Mungkin maksudnya. 'Jangan… Buatku saja...'
Draco tersenyum, lalu menggeleng. "Sampai jumpa di kelas, Ron!" Dia segera keluar Aula, mencari Hermione.
Senyum pemuda itu merekah ketika dari jauh ia melihat gadis pujaannya sedang berjalan di koridor. Dia sudah membuka mulut untuk memanggil, tapi urung ketika dilihatnya Hermione sedang berbicara dengan Pansy.
'Mau apa lagi Patricia?'
Sejak awal bertemu, Draco sudah tidak menyukai gadis Slytherin itu. Bahkan dia mulai membencinya. Caranya menyebut Hermione sebagai Darah Lumpur dan suaranya yang melengking membuat pemuda itu sebal luar biasa.
Draco membuang puding yang dipegangnya, melangkah cepat untuk memperpendek jarak dengan dua orang di depannya. Dia melihat Hermione mulai berjalan meninggalkan Pansy.
Selama beberapa detik, Pansy terlihat seperti orang tertegun, namun dengan cepat raut wajahnya berubah penuh kebencian. Gadis itu mengambil tongkat sihir dari jubahnya dan mengarahkannya tepat pada Hermione.
Draco menatap ngeri pada tongkat Pansy.
'Bagaimana sepotong tongkat bisa melukai orang lain?'
Dia pernah melihat Penyembuh di St. Mungo menggunakan tongkat mereka, bahkan dia sendiri memiliki tongkat yang sejauh ini belum coba ia gunakan, namun tetap saja ia heran.
'Bagaimana sihir bekerja dari benda yang tampak rapuh dan tak berbahaya?'
Dari ekspresi Pansy, Draco yakin gadis itu berniat mencelakai Hermione.
"Hermione!" Dia memperingatkan, rasa sebalnya pada Pansy menjadi beratus kali lipat. Draco ingin Pansy berhenti mengganggu Hermione, menyingkir jauh-jauh dari pacarnya!
"Darah Lumpur Busuk!" Pansy mengacungkan tongkat sihirnya pada Hermione, wajahnya penuh dendam.
Seluruh tubuh Draco bergetar saking marah dan bencinya. Tidak ada yang berhak menyebut Hermione seperti itu!
"Awas!" Dia berharap Hermione sadar pada bahaya di depannya. Draco memutar otak untuk menolong gadis itu.
Mantra apa yang bisa ia lafalkan?
Dia tidak ingat satu mantra pun, belum pernah menggunakan sihir, dan tidak yakin dengan kemampuannya sendiri sebagai penyihir.
Tapi dia sangat ingin melindungi Hermione. Tidak ada seorang pun yang boleh melukainya!
"Ap-"
Hermione kembali meraih tongkatnya, mencoba mengutuk musuh di depannya.
Dia tidak cukup cepat.
Pansy sudah menguasai keadaan, mulutnya membuka untuk meluncurkan kutukan.
Secara otomatis, Draco mencabut tongkat sihirnya sendiri, mengacungkannya ke arah Pansy, dan meneriakkan kata pertama yang muncul di otaknya saat itu.
"CRUCIO!"
Pansy menjerit dan roboh ke lantai koridor yang dingin.
Draco masih bergetar, adrenalin dan rasa kaget membuat jantungnya berdegup sangat cepat. Dia melihat mimik keterkejutan yang sama di wajah Hermione dan Pansy.
'Kau baik-baik saja, Mione?' Draco ingin berucap, namun tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Tiba-tiba ia merasakan sakit yang luar biasa di kepala, seolah ada orang yang memukul-mukulkan benda keras pada tulang tengkoraknya. Kepalanya seperti dibelah menjadi dua, sakitnya tidak tertahankan hingga membuat matanya berair.
Draco jatuh berlutut, melepaskan tongkat sihir dari genggaman dan melihat Hermione bergegas menghampiri untuk berlutut di depannya. Gadis itu memegang bahu Draco dan mulutnya bergerak-gerak, tapi pemuda itu sama sekali tidak bisa mendengar suaranya.
Wajah Hermione memudar, tergantikan wajah-wajah yang asing. Kilasan gambar-gambar seolah berebut masuk ke pikirannya. Tak satupun ia pahami, tak satupun ia kenal.
Suara-suara dan penggalan percakapan memenuhi telinganya. Suara tertawa, jeritan, tangis, obrolan, dan teriakan, menyiksa pendengarannya hingga ia yakin gendang telinga miliknya bisa pecah saking bisingnya. Semua suara terdengar tak masuk akal, dan tidak jelas dari sumber mana berasal.
Daco mencengkram kepala dengan kedua tangannya, berharap penyiksaan ini berhenti. Memohon rasa sakit ini hilang.
'Kau siap, Draco?'
'Ya, saya siap, Sir.'
.
.
-:-:-:-
.
.
Sinar matahari pagi menelusup lewat celah pintu ruangan kelas yang nyaris tertutup rapat. Ruang kelas itu senyap, hanya ada dua orang yang menempatinya, keduanya diam tak bersuara.
Hermione menatap Draco yang duduk di depannya, menyilangkan lengan di dada.
Tiga puluh menit lalu sangat mengagetkan. Hermione sudah cukup terkejut melihat Pansy yang hendak menyerangnya, tak menyangka akan melihat Draco datang dengan mantra Cruciatus, lalu jatuh memegangi kepalanya yang sakit.
Pansy pergi ke asramanya sambil berlari ketakutan, sementara Hermione berusaha menenangkan Draco. Saat Draco sudah cukup terkendali, Hermione segera menariknya ke ruang kelas yang sedang tidak digunakan.
"Er, Mione… kita tidak ke kelas Sejarah Sihir?" Draco memecah keheningan, Hermione mendelik tajam.
"Kita ketinggalan pelajaran." kata Draco lagi.
Hermione mendesah berat, kali ini tidak peduli pada pelajaran apapun. Urusannya dengan Draco Malfoy harus diselesaikan hari ini juga!
"Aku tidak peduli." Hermione mendesis, tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Seorang Hermione Granger tidak peduli pada pelajaran?
Wow, menakjubkan.
"Well, tapi aku peduli. Aku tidak mau kau tertinggal hanya karena kejadian tadi..." Draco mengingatkan, tidak menghiraukan denyutan ringan di kepalanya. Masih sedikit terasa sakit, tapi pemuda itu tidak akan membiarkan Hermione tahu. Dia tidak ingin kekasihnya itu cemas.
Tidak ada jawaban, hanya helaan nafas.
"Jangan terlalu dipikirkan, Mione. Lagipula Patricia tidak apa-apa, kan?" Draco menyeringai, tidak menampakkan rasa bersalahnya karena telah mengutuk Pansy. Dia akan melakukan apapun untuk melindungi Hermione, dan tidak menyesali tindakannya tadi.
"Namanya Pansy."
"Siapa?"
"Namanya bukan Patricia atau Pesky, tapi Pansy."
"Oh, semuanya terdengar sama saja." Draco tersenyum, berharap Hermione membalas senyumnya, tapi ekspresi gadis itu masih sedingin semula.
"Dia teman dekatmu di Slytherin dan kau baru saja mengutuknya dengan mantra Cruciatus yang jelas-jelas kau ingat."
Senyum Draco memudar. Dia berusaha menahan diri untuk bertanya, 'Lalu?'. Dia yakin Hermione tidak akan menerimanya dengan baik.
"Kau berpura-pura, Malfoy." Hermione berkata dingin, menatap mata abu-abu pemuda di depannya.
'Ah, nama itu lagi.' Draco membatin, entah kenapa ia begitu tidak nyaman dengan nama keluarganya sendiri. "Berpura-pura?" Dia bertanya pelan, tidak yakin dengan suasana hati Hermione saat ini.
Hermione berdecak tak sabar, "Berpura-pura amnesia. Berpura-pura lupa! Harusnya aku sadar kalau semua anak Slytherin itu licik dan tukang tipu!" Muka Hermione merah padam, bukan karena malu kali ini, melainkan karena menahan kesal.
Bagaimana Hermione berpikir seperti itu? Kenapa gadis itu hanya menganggapnya berbohong?
"Kenapa kau bisa bilang begitu?" Draco berkata tenang, berusaha mengatur emosinya sendiri. Dia begitu kecewa karena Hermione tidak mempercayainya, tapi tidak bisa sepenuhnya menyalahkan gadis itu. Situasi yang terjadi memang membingungkan dan tidak masuk akal. Pantas saja Hermione curiga.
"Kau ingat Cruciatus, Malfoy!"
Kali ini Draco yang menghela nafas berat.
"Mione, aku juga tidak tahu kenapa mantra itu yang terlintas." Draco menggeleng pelan, masih tak habis pikir dengan kejadian tadi. "Aku hanya berusaha menolongmu."
Hermione melambaikan tangannya tak sabar, bangkit dari kursinya.
"Kau melakukan semua ini untuk mempermalukan aku!"
Draco menatapnya tak percaya.
"Kenapa kau bisa berkata begitu, Mione? Kenapa aku mau mempermalukan orang yang kusukai?"
Hermione diam, melihat ekspresi sakit hati di wajah pucat Draco.
"Kau pikir aku menikmati semua ini? Kau pikir aku sengaja berpura-pura untuk mmbuatmu malu?" Draco bernafas cepat, seolah menahan keinginan untuk berteriak marah. "Mione, aku bahkan tidak mengingat ibuku sendiri. Aku bertemu dengannya dan tidak mengingatnya sama sekali..." Pangeran Slytherin itu mengalihkan pandangannya. Sekilas Hermione melihat mata Draco berkaca-kaca saat menyebut ibunya.
Mata seorang Malfoy tidak berkaca-kaca atau menangis, ya kan?
Mata mereka dingin dan penuh kelicikan.
Tapi di depannya sekarang bukan Malfoy yang 'biasa'.
"Maafkan aku kalau cuma menjadi beban untukmu, Hermione. Kau satu-satunya yang aku ingat, tapi aku malah mengecewakanmu." Draco tersenyum tulus, matanya kembali normal tanpa bayangan air mata. Seeker Slytherin itu mencoba ceria, tapi tidak berhasil.
Mata Hermione sendiri mulai memanas, menahan tangis yang bisa menjebol pertahanannya. Dia merasa bersalah saat melihat Draco yang tampak sangat sedih, tapi tidak bisa menunjukkan rasa ibanya.
'Aku tidak bermaksud menyakitinya.' Hermione menggigit bibir bawah, bingung harus berkata apa.
"Draco..."
'Aku egois, tidak memikirkan perasaannya selama ini.' pikir Hermione lagi.
"Aku egois, Mione. Aku selalu mengikutimu kemanapun, selalu jadi bayanganmu. Harusnya aku tahu kalau kau tidak ingin bersamaku."
'Oh, bagus, Hermione Granger, sekarang kau membuatnya benar-benar sakit hati!'
Tapi, bagaimana bila perkataan dan sikap sedih Draco ini hanya bagian dari tipuannya?
Hermione harus tahu kebenarannya, walau pahit sekalipun.
"Bagaimana cara untuk membuktikan bahwa aku tidak berpura-pura?"
"Ada satu cara..." Hermione kembali teringat tujuannya membawa Draco ke tempat ini. Interogasi.
"Lakukan saja, Hermione. Kau boleh mengutukku dengan mantra apapun untuk membuktikannya." Draco masih menyunggingkan senyum tulusnya, ikhlas dengan rencana gadis di depannya.
Hermione mengeluarkan botol kristal kecil dengan cairan bening di dalamnya, ramuan yang susah payah dibuatnya selama ini. Sudah ia persiapkan sehari sebelumnya untuk menanyai Draco, hanya saja belum sempat ia gunakan.
Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat.
"Aku ingin kau meminum Ramuan Kebenaran-Veritaserum." Dia paksakan suaranya terdengar tenang, walau sebenarnya saat ini perasaannya tak keruan.
Sudah siapkah ia mendengar jawaban Draco?
Cukup ampuhkah Veritaserum yang ia buat?
Draco menatap Hermione dengan berani, mengangguk mantap, dan tidak tampak ketakutan sedikitpun.
Hermione meneteskan tiga tetes Veritaserum ke mulut Draco, kemudian mundur untuk melihat efek ramuan itu bekerja.
Draco mengerjap, ekspresinya menjadi datar, pandangan matanya kosong dan tidak terfokus.
Hermione menelan ludah, mempersiapkan diri untuk mengajukan pertanyaan.
.
.
-:-:-:-
.
.
Pintu kamar anak perempuan terbuka perlahan. Ginny melangkah pelan ke dalam ruangan yang berpenerangan remang-remang, mendekati siluet hitam yang duduk di sebelah jendela besar.
Sosok itu tampak sedang memeluk lututnya, rambut lebat menutupi wajahnya.
"Mione, kau tidak apa-apa?" Ginny menyentuh bahu Hermione dengan lembut.
Hermione mendongak menatap sahabatnya. Mata coklat madunya dibayangi butiran bening keperakan yang mengalir diam-diam.
"A-Aku tidak apa-apa, Ginny." jawab Hermione dengan suara bergetar. Cepat-cepat ia usapkan tangan di pipinya, mencoba menghilangkan bukti bahwa ia sedang menangis.
"Jangan bohong, Mione. Kata Harry, kau tidak masuk kelas seharian. Kau tidak makan siang dan tidak makan malam. Bagaimana kau bisa bilang tidak apa-apa?"
"Ginny, aku hanya lelah..."
Ginny menggeleng tak sabar, "Semua ini gara-gara Malfoy, ya kan?" Raut wajah gadis itu mengeras. "Dia bertindak kurang ajar, Hermione? Biar ku-"
"Bukan begitu, Gin, tenanglah..." Hermione ngeri membayangkan Draco terkena Kutukan Kepak Kelelawar pacar Harry itu. "Dia tidak bertindak kasar atau macam-macam. Sejujurnya, aku malah merasa bersalah padanya."
"Benarkah?" Ginny menatapnya bingung.
Hermione mengangguk lemah, mengalihkan pandangannya ke luar jendela, ke bulan purnama yang menggantung indah di gelapnya langit malam.
"Draco yang baru terlalu baik, Ginny. Dia terlalu lembut dan manis. Tapi aku tidak sedikitpun menghargainya, tidak secuilpun peduli padanya." Ginny melihat mata Hermione berkaca-kaca, memantulkan sinar bulan yang menyusup lewat jendela. "Dan aku melakukan kesalahan terbesar dengan mengabaikan dan melepasnya."
.
.
-:-:-:-
.
.
"Siapa namamu?" Hermione bertanya dengan suara pelan.
"Draco Malfoy." jawab Draco dengan ekspresi datar, nadanya robotik dan seperti orang melamun.
"Ceritakan tentang masa lalumu... Sebelum kau terjatuh dari tangga di depan perpustakaan."
"Masa lalu?" Draco menelengkan kepalanya dan mengeryit. "Membingungkan. Gambar-gambar dan suara bercampur baur. Tidak ada yang masuk akal. Seperti menggenggam pasir. Semakin kuat usaha untuk mempertahankannya, semakin ia keluar dari jari-jari tangan."
"Tidak adakah hal yang kau ingat?"
"Tentu ada." Bibir tipis Draco tersenyum kecil. "Hermione Jean Granger itu pacarku. Dia sering memanggilku Ferret."
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
"Kau jujur?"
"Ya." kata Draco dengan nada monoton.
"Sungguh?"
"Sungguh."
"Ja-jadi semua bukan tipuan? Kau benar-benar amnesia?"
Draco mengangguk, "Ya."
Kemarahan Hermione dan kecurigaannya meluntur seketika. Beban di dadanya sedikit berkurang.
"Kau benar-benar tidak mengenal ibumu sendiri?"
"Aku tidak mengingatnya. Wanita cantik yang lembut sepertinya, tapi menangis terus saat bertemu denganku di rumah sakit."
Hermione merasa tenggorokannya tercekat, membayangkan Narcissa Malfoy yang pasti sangat sedih karena anak kandungnya sendiri melupakannya.
"Bagaimana dengan Hermione Granger? Ceritakan tentang dia."
Senyum merekah di bibir Draco, seolah dia baru melihat mentari setelah berhari-hari hujan, "Ah, Mione gadis yang cantik, baik, dan pintar. Aku begitu beruntung karena dia itu pacarku." katanya bangga.
"Ba-Bagaimana perasaanmu padanya?"
Kenapa Hermione menanyakan hal ini? Pentingkah jawaban Draco? Mereka tetap tidak mungkin bisa 'bersama' apapun jawaban pemuda itu nantinya, ya kan?
Hermione terlanjur bertanya, tidak bisa menarik perkataannya lagi.
"Tentu aku mencintainya," Senyum Draco yang semula begitu lebar perlahan memudar menjadi kesedihan. Begitu sedih tampaknya ia, sehingga Hermione hampir saja memeluk pemuda itu untuk menenangkan. Hampir.
"tapi sepertinya dia tidak mencintaiku."
.
.
-:-:-:-
.
.
"Apa aku jahat, Gin?" kata Hermione mengakhiri ceritanya, bahunya bergetar hebat.
Ginny memeluk sahabatnya, "Mione, kau hanya ingin tahu yang sebenarnya terjadi."
Ginny mengerti posisi Hermione saat ini. Gadis itu mulai menyukai Draco, tapi takut anak Slytherin itu hanya menipunya. Dia hanya ingin bisa 'menyukai' atau 'membenci' Draco Malfoy dengan tenang.
"Dia begitu percaya padaku, Ginny. Begitu mencintaiku..." Hermione tidak bisa melanjutkan, teringat kesedihan yang tergurat di wajah Draco saat efek Veritaserum meluntur.
Hermione hampir tidak berani menatap langsung ke mata indah itu saat Draco berkata lirih, "Mulai sekarang aku tidak akan merepotkanmu lagi, Mione. Tidak mau terus-menerus menjadi beban..." Draco tersenyum menenangkan, tapi senyum itu tidak menghapus sakit hati yang terlukis di matanya. "Selamat Tinggal, Mio... Maksudku Hermione Granger. Semoga kau selalu bahagia. A-aku sangat senang bisa memiliki teman sepertimu."
"Hermione?" Ginny mengguncang pelan bahu Hermione, mengeryit cemas pada sahabatnya yang asyik dalam lamunan, tidak menjawab pertanyaannya.
"Oh, maaf. Apa yang kau tanyakan tadi?"
Adik Ron itu tersenyum sabar, "Apa kau mencintainya juga, Mione?"
Hermione menggeleng pelan, "Tidak." katanya singkat. Setetes air mata meluncur mulus di pipinya.
Ginny tidak berkata apa-apa, meski ia tahu bahwa Hermione baru saja berbohong.
.
.
-:-:-:-
.
.
Pagi itu Aula Besar megah dan ramai seperti biasanya. Langit-langitnya menunjukkan bahwa cuaca di luar sangat cerah dan hangat.
Hari yang sempurna.
Tapi tidak untuk Hermione.
Gadis itu menyendok kentang tumbuknya dengan malas-malasan. Rasanya hambar seolah dia baru saja memakan bubur kertas.
Pandangannya terus tertuju ke meja Slytherin, ke arah Draco Malfoy yang duduk di bagian paling ujung meja, memisahkan diri dari teman-teman seasramanya. Tidak seperti Hermione yang terus memperhatikan Draco, pemuda itu menunduk memandang makanan di piringnya, mengaduk-aduk enggan.
Sebelum sarapan, Hermione sudah mencari Draco untuk minta maaf, tapi yang ia temukan hanya setangkai mawar kuning tanda persahabatan dan sebuah catatan singkat yang tergeletak di meja ruang rekreasi. Untuknya.
'Every now and then we find a special friend, who never lets us down, who understands it all, reaches out each time you fall. You're the best friend that I've found. I know you can't stay, but part of you will never ever go away. Your heart will stay.'
Bagaimana Draco bisa berkata bahwa Hermione tidak mengecewakannya? Mengerti keadaannya? Menolongnya saat 'terjatuh'?
Semuanya berkebalikan dengan apa yang sudah ia lakukan pada pemuda itu.
Entah kenapa ia justru sedih melihat catatan itu. Draco memaafkannya dengan tulus, tidak membencinya. Membuat Hermione semakin merasa bersalah.
Tapi yang paling membuat Hermione sedih adalah karena Draco kini hanya menganggapnya 'teman baik'. Tidak lebih.
"Rindu padanya ya, Hermione?" goda Lavender usil, membuat Prefek Gryffindor itu terlonjak.
"Uh, tidak." Sahabat baik Harry Potter itu mengalihkan pandangan. "Aku cuma heran kenapa kalian begitu baik padanya kemarin." katanya, memandang Harry, Ron, Dean, dan Seamus. "Membuatku curiga."
"Oh, masalah Malfoy menginap di asrama kita?" kata Dean. "Itu karena Snape yang minta. Malfoy diusir teman-temanya di Slytherin, jadi dia-"
"Malfoy diusir? Kenapa?" potong Hermione tak sabar.
"Um..." Dean tampak ragu untuk melanjutkan, melemparkan tatapan 'tolong-aku' pada Ron, Seamus, dan Harry.
"Dia diusir dari Slytherin karena terus membicarakan pacarnya pada teman-temannya di Slytherin. Mereka sampai, uh, muak." kata Seamus hati-hati.
Mata Hermione membulat,"Membicarakan aku?"
"Yep. Mione cantik. Mione baik. Mione-" Ron langsung berhenti saat Hermione memelototinya.
"Dia sampai bertengkar dengan Zabini dan Nott karena mereka mengataimu kau-tahu-apa." sambung Dean. "Awalnya tentu kami menolak, tapi Snape dan McGonagall berkeras."
"Lagipula, Malfoy janji akan memborong di Sihir Sakti Weasley untuk kita, jika dia diizinkan seasrama denganmu untuk satu hari saja." Seamus menambahkan.
"Dia bahkan tidak tahu Sihir Sakti Weasley itu menjual apa. Kalian memerasnya!" protes Hermione.
"Bukan memeras, tapi memanfaatkan." Ron tersenyum jahil. "Tenang, Hermione. Malfoy itu kaya."
Hermione memandang tak percaya pada teman-temannya. Keterlaluan benar mereka!
Matanya kembali terarah ke meja Slytherin.
Dan jantungnya seolah berhenti saking kagetnya.
Draco ternyata juga sedang menatapnya. Pemuda itu mengangkat piala berisi jus labu kuning miliknya, tersenyum kecil, dan mulutnya membentuk kata 'cheers'.
Hermione balas tersenyum lemah, meminum jus labunya sendiri.
Draco masih saja ramah dan ceria, padahal perpisahan ini mungkin akan lebih mudah jika pemuda itu membencinya. Bertengkar seperti dulu saat semuanya normal. Dengan begitu, hati mereka tidak akan terlalu sakit karena memendam emosi yang rumit.
"Kudengar Slytherin menerimanya lagi, setelah dia bilang sudah putus dari Hermione." Hermione menoleh ke arah Lavender. Bingung harus senang atau sedih mendengar berita itu.
"Benarkah?" tanyanya, tapi matanya kembali sibuk mencari sosok Draco. Dia kecewa karena Draco sudah meninggalkan mejanya.
"Aku duluan, teman-teman." kata Harry sambil bangkit dari kursinya. Dia yang sedari tadi diam, tampak menghindari menatap Hermione.
"Harry, kau belum makan makanan penutup," Ginny mengingatkan, tapi Harry hanya tersenyum lembut pada pacarnya itu.
"Tidak apa-apa, Ginny. Aku pergi dulu," Harry terlihat buru-buru keluar dari Aula Besar.
Hermione dan Ginny saling pandang.
Ada yang Harry sembunyikan.
.
.
-:-:-:-
.
.
"Ck..."
Ginny membolak-balik buku ramuannya.
"Huh."
Gadis berambut merah itu menggoreskan pena bulunya di perkamen, sesekali melihat bukunya untuk memastikan telah menyalin dengan benar.
"Uh."
Ginny mendesah berat, "Hermione... Please, jangan berisik." katanya tak sabar.
"Aku tidak berisik," jawab Hermione. Wajahnya tersembunyi buku Mantra yang pura-pura ia baca. Dia gelisah terus dan tidak bisa konsentrasi. Yang ada dipikirannya hanya Draco.
Sejujurnya, Lavender benar. Hermione sangat merindukan pemuda itu.
"Kau berdecak dan mengeluh terus." Ginny menaruh penanya di dekat perkamen. "Memangnya kau tidak ada PR?"
"Sudah kukerjakan semua."
"Kalau begitu kerjakan saja PRku."
Nona-Tahu-Segala itu menurunkan buku Mantra, menaikkan alisnya dan memberi tatapan 'are-you-kidding-me?'.
"Atau kau bisa cari Malfoy dan bilang padanya kalau kau juga mencintainya..." Ginny memberi tatapan pengertian.
"Ginny, aku tidak..." Jadi Ginny tahu perasaannya pada Draco? Apa terlalu kelihatan?
"Oh, jangan bohong lagi, Mione."
"Tapi-"
Ginny menarik Hermione agar bangkit dari kursi nyamannya di ruang rekreasi yang sepi. Orang-orang sedang keluar menikmati cuaca yang bersahabat.
"Malfoy. Cinta. Sekarang." perintah Ginny tegas, mirip sekali dengan McGonagall. "Cepat jemput pangeranmu, Putri. Tadi kudengar dia ada di perpustakaan, melanjutkan detensi."
"A-apa yang harus aku katakan?" Hermione jadi panik. Tiba-tiba menyatakan cinta? Yang benar saja!
"Gampang. I love you, Draco." Ginny nyengir. "Cuma empat kata, Mione."
"Aku tidak bisa."
"Pasti bisa, ini lebih mudah daripada berhadapan dengan Skrewt Ujung-Meletup."
"Lebih baik aku bertemu Skrewt."
"Ayolah, Hermione..."
Hermione akhirnya menyerah. Ginny ada benarnya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?
"Baiklah. Wish me luck." katanya sambil mengatur rencana agar Draco mengetahui perasaannya dengan cara yang lebih halus.
"Tentu." Ginny lega saat melihat Hermione berjalan ke luar ruang rekreasi. Lega karena akhirnya bisa mengerjakan tugas dengan tenang.
.
.
-:-:-:-
.
.
Langkah Hermione yang ringan saat meninggalkan ruang rekreasi berubah semakin berat saat mendekati perpustakaan.
Biasanya dia sangat senang saat memasuki ruangan penuh buku itu, tapi hari ini berbeda.
Cemas dan takut.
Bagaimana jika rencananya tidak berhasil dan Draco malah jadi semakin menjauh?
Bagaimana kalau suatu saat ingatannya kembali, dia akan bertindak seperti dirinya yang dulu? Menyebalkan dan membenci Hermione.
Gadis itu berjalan melewati Madam Pince yang tengah memarahi anak kelas satu. Matanya mencari-cari diantara rak-rak buku yang tinggi, berharap melihat Draco.
'Itu dia.' Hermione menarik nafas panjang, mencoba menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan.
Dia berjalan menghampiri Draco yang duduk bersila di lantai. Buku-buku tebal bertebaran di sekelilingnya. Pemuda itu tampak sibuk menulis di clipboard, mendata buku-buku itu.
"Draco?" kata Hermione memberanikan diri.
Draco tidak mendongak, masih menulis di clipboardnya.
Hermione duduk di depan pemuda itu, "Draco?" katanya lebih keras, memegang pundak Draco.
"Whoa." Draco terlonjak ke belakang, bahunya menyenggol rak hingga debu-debu jatuh menghujani mereka.
"Kau mengagetkanku, Hermione." Draco nyengir, mengusap-usap dadanya. Dia melepas dua sumbat dari telinganya.
"Kau pakai sumbat telinga?" tanya Hermione heran.
"Yeah, Madam Pinch cerewet sekali soalnya."
Hermione tersenyum, tidak mengoreksi Draco yang salah menyebut nama Madam Pince.
"Kau mau mencari buku apa, Hermione? Mungkin aku bisa bantu." Draco berkata resmi, terkesan sedikit dingin malah.
"Um, sebenarnya aku ke sini untuk... mencarimu." Hermione berkata pelan.
Selama dua detik Draco tampak terkejut, lalu ia menyeringai nakal, "Mulai rindu padaku ya?"
"Tentu saja tidak." Hermione berkata cepat. Rasa hangat merambati pipinya.
"Bohong."
"Tidak."
"Mengaku saja, Keriting."
"Aku jujur, Pirang."
"Kau rindu padaku, Nona."
"Aku tidak rindu, Tuan."
"Kau rindu padaku, dan kau tahu itu."
"Aku tidak rindu, dan aku tahu itu."
"Kau rindu padaku, ya kan?"
"Aku tidak rindu, tidak akan pernah."
"Kau tidak rindu, Cantik."
"Aku rindu, Tam-"
Ooops... Apa Draco baru saja menjebaknya?
Draco menyeringai lebar, "Aku tahu kalau aku memang tampan-Ouch!"
Hermione mencubit lengan Draco dengan gemas.
Mereka tertawa kecil berbarengan, lalu segera berhenti saat pandangan mereka bertemu.
Draco mendekat untuk mengusap debu di rambut Hermione dengan lembut, lalu turun menyentuh pipi gadis itu.
Hermione tidak berkata apa-apa. Merasa nyaman dengan hangat tangan Draco di pipinya.
'I love you enough to let you go, Mione. Kenapa kau justru menemuiku lagi?'
Seperti tersengat listrik, Draco melepaskan tangan dan kontak matanya. Dia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain, asal bukan mata teduh gadis di depannya.
"Maaf, Hermione. Sungguh tidak ada buku yang kau cari?" Draco berkata kaku, pura-pura sibuk dengan clipboardnya.
Draco menjauh lagi, tapi kali ini Hermione tidak akan membiarkannya!
"Draco, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, sekarang juga."
"Wow, kau mengajakku kencan rupanya?" Draco nyengir jahil.
Hermione memutar bola matanya, menahan keinginan untuk mencubit Prefek Slytherin itu lagi.
"Well, Miss Granger. Jika kau tidak memperhatikan, aku sedang didetensi. Meski aku lupa karena kesalahan apa. Dan Madam Pinch yang baik hati tidak akan mengizinkanku keluar sebelum jam makan malam."
Hermione tidak bisa menunggu sampai malam. Mereka harus ke tempat itu sore ini juga.
"Oh, aku tahu cara cepat meninggalkan detensi ini."
Draco menaikkan sebelah alisnya, tidak yakin.
Hermione mengeluarkan dua buah coklat berbungkus keemasan dari kantungnya. Dia memberikan satu kepada Draco, dan memakan jatahnya sendiri.
"Wow, coklat ini enak sekali!" katanya keras-keras. "Benar, kan, Draco?"
Draco mulai mengerti. Ia membuka bungkus, dan memasukkan coklatnya ke mulut.
"Yeah, manis sekali seperti senyummu, Hermione!"
Hermione memandangnya dengan kening berkerut. Draco agak berlebihan memang, tapi entah kenapa dia menyukainya.
Pemuda itu memamerkan senyumnya yang menawan, membuat Hermione meleleh seperti coklat di mulutnya.
Seperti sudah diduga, Madam Pince mendatangi mereka dengan kesal. "Makan di perpustakaan! KELUAR!" katanya berang.
Draco dan Hermione berlari keluar sambil tertawa, diiringi tatapan heran pengunjung perpustakaan yang lain. Belum pernah Hermione merasa sesenang ini karena diusir dari perpustakaan.
Tawanya semakin keras saat melihat gigi putih Draco belepotan coklat. Dari tawa Draco juga dia sadar, kalau keadaannya tak jauh berbeda.
Hari ini akan jadi hari yang sempurna.
Matahari bersinar cerah, udara begitu hangat, dan Pangerannya ada di sampingnya.
Tidak ada yang lebih penting dari kebersamaan dan 'tawa-gigi-penuh-coklat' mereka berdua.
Hermione bahkan mengusir jauh-jauh ucapan Pansy dari kepalanya.
'Kau pikir kau hebat, Darah Lumpur? Begitu ingatannya kembali, Draco pasti membencimu lagi!'
.
.
-:-:-:-
A/N:
Thx 4 reading!
So? Ripiu...Ripiu^.^
Sangat butuh saran kalian, Readers... but pleaseeee be gentle and no flame yah (I'm a very sensitive girl)
Okay? ^_^v
I will continue this story, as long as you care about it, as long as you leave your reviews...^^
Truth, Cry, and Lie; Letto
Draco's note; Remember Me This Way by Jordin Hill
Pinch (English); cubit
Pesky (English); sial, menjengkelkan
