Disclaimer: (Still) Not mine:(

A/N: Maaf Readers, menunggu lama… :( Trims banyak untuk Reviewers chapter sebelumnya:D

Trims juga buat Resha Aizen atas saran-kritiknya (Balik ke ff dunk, Sist:D)

Setting Tahun Keenam, ada flasback dari chapter 1


Chapter 4 Forget Me Not

"… Forget me not, I ask of you

Wherever your lifes takes you to

And if we never meet again

Think of me every now and then…"

-:-:-:-

Ketika cinta menyapa, alam seolah bersorak merayakannya. Mengirim semilir angin yang lirih bagai denting harpa, menyajikan lukisan langit biru yang sempurna.

Awan laksana kapas lembut yang menggoda siapapun untuk menyentuhnya, dan gemerisik dedaunan seakan berbisik nama orang yang dicinta.

Ah, cinta bisa menjadikan segalanya terasa indah…

Walau mungkin bahagia itu hanya sejenak, meski badai menanti di ujung awan, tapi kenangannya tetap bertahan, selamanya…

-:-:-:-

Hermione dan Draco berjalan bersama keluar pintu depan kayu ek dan menuruni undakan batu, disambut oleh hangatnya udara bulan Mei yang bersahabat.

Draco mengacuhkan angin yang bermain-main nakal dengan rambutnya, membiarkannya sedikit berantakan. Hermione melambaikan tongkatnya sehingga burung-burung kenari kecil bermunculan dan terbang dengan riang, menggambarkan perasaannya saat ini.

Draco ikut mengayunkan tongkat, menyihir beberapa burung berwarna hijau yang terbang mendekati burung-burung kuning Hermione. Lucu sekali melihatnya, karena hewan-hewan kecil itu terbang berpasangan, seolah sedang berdansa.

Pemuda berdarah murni itu tersenyum senang, lalu melihat ke arah Hermione yang mengerutkan dahi, heran darimana Draco belajar mantra itu.

"Well, aku bukan cuma tampan, Hermione. Tapi juga pintar," Draco menyeringai puas.

Hermione memutar bola mata coklatnya, mencoba menunjukkan rasa jengkel. Draco hanya terkekeh.

"Aku belajar beberapa mantra dari buku, sekali kupraktekkan langsung berhasil. Ternyata mudah sekali," Draco tersenyum lebar.

Hermione tak pernah menyangsikan kecerdasan pemuda itu. Draco Malfoy memang pandai dan hanya Hermione satu-satunya yang mampu mengalahkan perolehan nilainya.

"Ngomong-ngomong, kita mau kemana?" Draco bertanya penasaran.

Hermione menyunggingkan senyuman misterius, "Rahasia," katanya singkat.

Mereka menyeberangi padang rumput yang ramai oleh murid-murid lain. Kebanyakan hanya tidur-tiduran santai di hamparan rumput yang hijau, mengobrol dan menikmati cerahnya cuaca saat ini. Beberapa orang menyapa Draco dan Hermione, namun ada juga yang berbisik-bisik sambil menunjuk ke arah mereka berdua.

Kali ini Hermione tidak repot-repot merasa malu atau risih. Dia menautkan jari jemarinya dengan jari jemari Draco dan berjalan penuh percaya diri. Sejenak pemuda itu tampak kaget, tapi dia cepat menguasai diri dan tersenyum pengertian.

Langkah Draco berhenti ketika mereka mulai mendekati jalan menuju Hutan Terlarang.

"Ini-"

"Hutan Terlarang," jawab Hermione, "Kenapa, Draco? Takut?" godanya kemudian.

Draco hanya nyengir dan menggeleng pelan, "Tentu tidak. Aku penasaran pada Hutan ini sejak pertama melihatnya. Apa kita akan melihat centaurus?" katanya penuh harap.

"Um, semoga tidak," Hermione masih ngeri mengingat tahun kelimanya yang menegangkan karena bertemu sepasukan centaurus yang marah. "Siapkan tongkat, untuk jaga-jaga."

Draco mengangguk serius, memegang tongkatnya erat-erat.

Mereka kini berada di jalan setapak yang pepohonan di kanan kirinya belum terlampau rapat. Hermione berjalan di depan, memegang tongkatnya dengan tangan kanan sementara tangan kirinya menyibak semak yang menghalangi jalan.

"Er... Aku ingin menceritakan sebuah kisah, Draco. Kau mau mendengarnya?"

"Boleh."

"Mungkin akan terdengar konyol."

"Percaya padaku Hermione, tidak ada yang lebih konyol dari cerita teman-temanku di Slytherin."

Hermione menarik nafas dalam, menghirup aroma pinus yang menenangkan.

"Di sebuah taman, ada bunga Mawar yang begitu indah, tumbuh begitu angkuh karena dialah primadona di tempat itu. Suatu hari, tumbuh juga Ilalang liar. Mawar begitu membenci rumput liar tersebut, selalu mencela saat melihatnya," Gadis kelahiran Muggle itu berusaha menjaga agar suaranya tetap terdengar stabil meski kenangan buruk bersama Draco Malfoy tiba-tiba muncul kembali.

'Aww, kau galak sekali.'

'Urusan kita belum selesai, Granger. Kau sudah menertawakanku tadi pagi. Beraninya kau golongan rendah-'

'Aku belum selesai bicara, Darah Lumpur!'

"Ilalang yang semula kagum pada keindahannya, jadi berbalik membenci Mawar karena sikapnya. Dunia mereka terlalu berbeda... Tapi Ilalang liar masih berharap, masih bertanya-tanya. Mungkinkah mereka bisa bersama?"

Karena sejak dulu, saat pertama kali melihat sosok Draco Malfoy, sebetulnya Hermione sudah menyukai pewaris Malfoy Manor itu.

Tanggal 1 September enam tahun lalu, ketika dia menunggu kereta berangkat, Hermione memutuskan untuk berkeliling ke kompartemen lain. Di salah satu kompartemen itulah ia melihat seorang anak laki-laki berambut pirang yang duduk sendiri, melamun sambil menatap keluar jendela. Di pangkuannya ada sebuah buku besar yang terbuka. Tak perlu melihat sampul depannya, Hermione tahu itu adalah buku Sejarah Hogwarts. Ia hapal seluruh isinya. Mungkin dari seluruh anak kelas satu tahun ini, hanya Hermione dan Si Pirang itu yang repot-repot membaca buku yang tebalnya lebih dari seribu halaman tersebut, bahkan sebelum sekolah dimulai.

Hermione membuka mulut, bersiap untuk menyapa, tapi kemudian kereta mulai bergerak, menandakan keberangkatan mereka.

"Hei, Draco!" suara seseorang di belakang Hermione mengagetkan dia dan anak laki-laki itu. Si pirang, Draco, mendongak ke arah teman-temannya yang masuk ke komparteman. Teman-teman Draco tidak mempedulikan Hermione yang berdiri di sebelah pintu, melangkah angkuh begitu saja.

Sebelum pintu mengayun tertutup, pandangan Hermione dan Draco bertemu. Sepasang manik coklat madu dan sepasang manik abu-abu saling berucap 'Hai' tanpa kata apapun dari mulut mereka.

Sayang pertemuan pertama kali seolah tidak berarti, karena yang terjadi selanjutnya diantara mereka hanya pertengkaran dan saling memaki.

Tapi tetap saja, jauh di dasar hati, masih ada kerinduan Hermione pada anak laki-laki pirang yang tampak tenang menatap keluar jendela, tanpa ekspresi sombong atau berpuas diri pada wajahnya. Hermione sampai hari ini masih bertanya-tanya, apa yang dilihatnya di luar jendela?

"Draco? Bagaimana menurutmu?" tanya Hermione pelan, kembali ke masa kini.

Draco tidak langsung menanggapi, sedang larut dalam lamunannya sendiri.

Mata teduh Draco kemudian menatap belakang kepala Hermione, berharap gadis itu berbalik balas memandangnya, "Mungkin Mawar hanya cemburu pada Ilalang, bukan membencinya. Ilalang kuat dan tabah, tetap tumbuh meski keadaan cuaca tak menentu. Dia bisa berbaur dengan tumbuhan lain. Sementara Mawar, meski indah, tapi orang bisa terluka karena durinya. Dia juga tidak bisa tumbuh bebas, tidak tahan angin terlalu kencang atau hujan terlalu lebat. Harus puas disimpan dalam vas, untuk kemudian menanti kelopaknya berguguran satu persatu. Jadi ya, Mawar hanya cemburu pada Ilalang, tidak membencinya. Bahkan, mugkin Mawar diam-diam menyukai Ilalang, tapi terlalu takut dan gengsi mengungkapkannya."

"Menurutmu begitu?"

"Tentu."

Suara burung pipit terdengar dari batang-batang pohon di atas mereka, seakan mengucap selamat datang pada kedua murid Hogwarts itu.

"Aku ingin mengatakan hal yang sebenarnya tentang hubungan kita sebelum kau hilang ingatan," Hermione berusaha menenangkan diri, lega karena posisinya yang di depan tidak memungkinkan Draco melihat ekspresi gugupnya.

'Bagaimana reaksi Draco jika tahu kalau sebelum kejadian di dekat perpustakaan itu kami adalah musuh bebuyutan?'

"Bahwa sebenarnya kita tidak pernah pacaran?'"

"Er… Ya," jawab Hermione sedikit terkejut.

"Kita seperti Mawar dan Ilalang, atau lebih tepatnya seperti tikus dan kucing, selalu bertengkar dan jadi musuh bebuyutan?"

Hermione mengangguk pelan, "Bagaimana kau tahu?"

Draco tersenyum kecil, "Terima kasih pada teman-temanku di Slytherin. Mereka tak hentinya membicarakan hal itu sejak aku kembali ke Hogwarts."

Hermione ngeri membayangkan perkataan mereka, yang tentunya menjelek-jelekkan dirinya.

"Tapi aku tidak percaya sedikit pun. Aku tetap yakin kau itu pacarku, Hermione. Sampai semalam, aku mendapatkan bukti terpercaya yang meyakinkanku. Jangankan sepasang kekasih, berteman pun hal sangat tidak mungkin bagi kita."

Hermione menggigit bibir bawahnya, kebiasaan saat dia tengah gugup atau berpikir keras. Entah apa yang ada di pikiran Draco Malfoy saat ini. Sehari tidak saling bicara, dan sekarang kepribadiannya lebih misterius dari sebelumnya.

"Bukti apa?"

Bukti apa yang ia lihat sehingga sikapnya kini berubah? Tatapan Draco tidak seberbinar dulu. Matanya tampak lebih tua, seolah menanggung beban. Ucapannya terkesan lebih hati-hati meski masih diusahakan ceria. Tidak perlu otak jenius untuk menyimpulkan, bahwa Draco masih menjaga jarak dengannya.

Draco tertawa kecil, lalu tersenyum misterius, "Rahasia," katanya meniru Hermione.

.

.

-:-:-:-

.

.

Draco tahu maksud Hermione yang sesungguhnya, mengerti bahwa gadis itu berusaha menjelaskan tentang status darah mereka yang berbeda, juga pertengkaran mereka karenanya.

Darah-murni dan Darah-lumpur.

Masyarakat Sihir seolah dibagi berdasarkan kasta, dan Darah-murni adalah kalangan terhormat yang lebih tinggi kedudukannya dibanding para penyihir kelahiran Muggle.

Pemahaman keliru. Pemahamannya dulu.

Andai dia bisa menjelaskan pada Hermione semua hal yang akhirnya ia ketahui; tentang dirinya yang dulu, sekarang, dan di masa depan, mungkin beban di pundaknya tidak akan seberat sekarang.

Tapi belum waktunya Prefek Gryffindor itu mengetahui hal yang sebenarnya. Sementara ia membiarkan Hermione dalam gelap untuk melindungi gadis itu.

Atau untuk melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan ditinggalkan?

'Aku ada dalam mimpi indah, Hermione. Mengingatmu sebagai pacarku, tidak mendengarkan penjelasan orang lain tentang begitu kacaunya hubungan kita. Tapi bukti yang kutemukan semalam bagai siraman air dingin yang membangunkanku dari tidur lelap.'

Setelah berhari-hari menyangkal, Draco akhirnya menyerah dan mengakui pernyataan teman-temannya selama ini.

Bahwa Hermione Granger tidak akan pernah jadi pacarnya.

Jika Hermione tahu siapa dirinya sebenarnya, hal mengerikan apa yang bisa ia lakukan dan akan ia lakukan, Draco yakin gadis itu tidak akan sudi bahkan untuk bertemu dengannya.

Draco Malfoy adalah monster, yang bisa menyakiti orang-orang di sekitarnya, terlebih orang yang paling dicintainya.

Ia ingin menjauh dari Hermione, menyelamatkan gadis itu dari keterpaksaan bersamanya, juga dari monster tidur yang ada dalam dirinya, tapi Hermione kini justru mendekatkan diri. Draco tidak bisa mengacuhkannya, karena sebagian hatinya masih mengharap gadis itu membalas perasaannya.

'Aku begitu sering membuat gadis sebaik Hermione terluka, dan sampai saat ini pun aku tidak bisa benar-benar melepasnya. Ah, maafkan aku, Hermione… Aku terlalu egois.'

Draco tersenyum sedih, berdoa agar suatu saat Hermione bisa menerima masa lalunya yang kelam dan masa depannya yang singkat.

'Yeah, andai bisa semudah itu.'

.

.

-:-:-:-

.

.

"Aku ingin minta maaf, atas semua kesalahanku yang dulu. Semua perkataan kasar yang pernah terucap, semua hinaan, dan semua pertengkaran kita. Aku memang tidak mengingat semuanya, tapi lain denganmu, Hermione. Pasti rasa sakit hati itu masih ada," Draco berkata tiba-tiba, masih berjalan di belakang Hermione, menerobos rumput dan semak.

Jika ia bisa membawa alat perekam Muggle, mungkin saat ini Hermione sudah menggunakannya untuk merekam pernyataan maaf Draco. Untuk kali kedua pemuda itu meminta maaf, tapi Hermione masih saja tak percaya dengan telinganya.

'Draco Malfoy baru saja meminta maaf? Lagi?'

Draco yang 'normal' mungkin lebih memilih menggigit lidahnya sendiri sampai putus daripada mengucapkan kata maaf. Draco yang 'normal' bahkan mungkin lebih memilih bunuh diri daripada mengakui Hermione 'Darah Lumpur' Granger sebagai pacarnya!

Draco berubah, dan Hermione sadar bahwa dirinya pun jadi orang yang berbeda. Hermione tidak mau mengingat hari-hari kelamnya dahulu bersama pemuda itu, juga tidak mau lagi membayangkan hari ke depan jika ingatan Draco kembali.

Dia mencoba menghargai hari ini, ketika Draco yang baik ada di sampingnya, karena ia tidak tahu apakah masa-masa ini berlangsung lama atau tidak.

Hermione berusaha menikmati setiap detik kebersamaan mereka, berharap keadaan tak akan pernah berubah.

"Aku memaafkanmu, Draco," kata Hermione lirih.

"Trims," balas Draco, "karena telah bersabar selama ini."

"Sama-sama. A-aku senang karena sekarang kau sudah jauh lebih baik, Draco."

"Apa kau merindukan Draco Malfoy yang dulu, Hermione?"

"Aku-"

"Bagaimana kalau dia kembali? Apa kau masih mau bersabar? Apa kau masih mau menerimanya?"

Pertanyaan Draco sama dengan yang ditanyakan Hermione selama ini pada dirinya sendiri.

Pertanyaan yang belum ada jawabannya.

'Apa aku ingin Draco kembali seperti semula? Apa yang akan terjadi saat ingatan pemuda itu kembali? Bagaimana dengan hubungan kami nantinya?'

Saat ini, seperti ada dua Draco Malfoy yang berjalan bersamanya. Draco bermata teduh dan baik di belakangnya, berusaha melewati semak-semak, sementara Draco yang kedua melangkah ringan di depannya, tersenyum mengejek dan ekspresinya penuh rasa jijik, seolah Hermione adalah kotoran membandel yang sulit dihilangkan.

'Yeah, bagaimana kalau aku kembali, eh, Granger? Rindu padaku? Rindu panggilan Darah Lumpur? Bodoh jika kau mengira aku benar-benar akan suka padamu!'

Hermione tidak menjawab kedua Draco tersebut, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gusar hingga Draco Malfoy Imajiasi di depannya menghilang. Berusaha mengubah topik pembicaraan, dia berkata ceria, "Kita sudah sampai!"

.

.

-:-:-:-

.

.

Sulit dipercaya bahwa sekarang mereka ada di kedalaman Hutan Terlarang.

Tempat tersebut berupa lahan kosong yang ditumbuhi beragam tanaman liar berwarna-warni, dikelilingi pepohonan sebagai pembatas antara tempat tersebut dengan bagian Hutan yang lain. Tidak seperti bagian hutan lain yang hanya dipenuhi semak belukar, di tempat ini keadaannya sangat berkebalikan. Cantik dan menentramkan. Sinar matahari bebas masuk, tidak terhalang pepohonan pinus yang tinggi menjulang. Draco dan Hermione bisa melihat langit di atasnya dengan sangat jelas. Biru cerah, sedikit awan putih tampak terbang ringan tertiup angin.

Hamparan bunga-bunga kecil berwarna biru mendominasi permukaan tanahnya, selain itu ada juga bunga-bunga kuning Daffodil yang mekar sempurna, seolah memamerkan keindahan kelopaknya. Rumpun Daisy putih terlihat tumbuh anggun tak jauh dari semak honeysuckle yang menyebarkan wangi khas.

Draco tidak mengenali aneka bunga lainnya, terlampau banyak jenis dan warna; merah, ungu, biru, dan orange, semuanya warna-warna cerah musim semi yang ceria.

Begitu bermandikan cahaya, udaranya pun dipenuhi semerbak bunga. Surga kecil bagi orang yang berniat untuk menenangkan diri dan bersantai dari dunia nyata.

Seolah aneka flora belum cukup memanjakan mata, Draco dan Hermione bisa melihat Danau Hitam dari tempat mereka berdiri sekarang. Luas dan berkilauan memantulkan cahaya matahari, Danau Hitam tidak semisterius atau 'segelap' biasanya.

"Ini-"

"Indah, kan? Aku menemukannya secara tidak sengaja saat mencari Crookshanks yang kabur ke tempai ini. Kucing lucu yang nakal."

"Wow," kata Draco pelan, takjub dengan pemandangan di hadapannya.

"The forest hides many secrets," kata Hermione pelan, bersama Draco dia duduk di batu besar yang ada di sana. Hermione melihat Draco menutup mata dan tersenyum, seolah sedang merekam keindahan tempat ini dalam ingatannya.

"Draco?"

"Hmm?"

"Mau dengar cerita lagi?"

"Tentang bunga?"

"Well, yeah. Kenapa? Kau tidak suka?"

Draco cuma tertawa, "Aku cuma membayangkan ekspresi teman-temanku di Slytherin jika mereka tahu aku membicarakan tentang bunga bersamamu."

Hermione tersenyum kecil, membayangkan hal yang sama, "Mereka bisa shock."

"Mungkin mereka akan mengusirku lagi."

Senyum Hermione memudar saat mendengarnya, "Maaf soal itu. Kau diusir gara-gara aku."

"Bukan salahmu, Hermione." Draco berusaha menenangkan, tapi Hermione seperti tidak mendengarnya. Wajah gadis itu terlihat sedih, ia memetik sebuah bunga biru kecil, jenis bunga yang tumbuh mendominasi tempat itu hingga tanahnya serupa karpet biru tebal saking padatnya dengan tumbuhan pendek ini.

Draco memutar otak, tidak ingin melihat raut sedih Hermione, "Hey, kau tahu apa nama bunga-bunga kecil biru itu?" tanyanya, berusaha mengalihkan rasa bersalah Hermione. "Mungil sekali."

Berhasil, Hermione tersenyum lembut dan memindahkan bunga di tangannya ke tangan Draco dengan hati-hati, seolah bunga indah itu benda yang sangat berharga.

"Myosotis scorpioides."

"Sori?"

"Myosotis scorpioides. Tapi lebih dikenal dengan nama Forget Me Not."

'Bunga yang ingin kuceritakan padamu, bunga yang menjadi alasan aku membawamu ke sini.'

"Forget Me Not? Nama yang, um, unik untuk sebuah bunga," kata Draco mengamati bunga di telapak tangannya dengan penuh minat. Bunga yang cantik, berdiameter sekitar 1 cm, dengan 5 buah mahkota biru dan warna kuning di tengahnya.

"Yeah, unik sekali. Aku pernah membaca sebuah legenda yang membuatnya dinamakan Forget Me Not."

"Well, ceritakan, Mione." Draco tersenyum antusias, mirip anak kecil yang menanti cerita sebelum tidur dari orangtuanya.

Hati Hermione terasa hangat saat mendengar Draco menyebutnya 'Mione' lagi, juga karena ekspresi Draco yang innocent. Dengan suara sedikit tercekat karena rasa haru yang tiba-tiba datang, Hermione mulai bercerita.

"Saat Tuhan menciptakan seluruh bunga di dunia, Dia memberikan nama pada masing-masing bunga tersebut. Nama-nama indah yang membuat aneka bunga itu senang dan bangga. Bunga kecil biru ini juga tak ketinggalan mendapatkan nama, Tuhan tidak melupakannya. Bunga kecil begitu senang dan bersyukur, ia terlalu larut dalam perasaannya sendiri hingga melupakan nama yang telah Tuhan berikan kepadanya."

Hermione pikir perasaan bunga itu kurang lebih sama seperti Draco, tidak bisa mengingat namanya sendiri, bahkan Draco mungkin lebih bingung saat itu, karena berada di tempat dan keadaan yang tidak dikenal.

'Tidak. Saya tidak ingat, Mam.'

'Ya... Dan-eh.. Se-sejujurnya sa-saya juga tidak ingat siapa Anda.'

'Ya, maaf. Entah kenapa saya bisa melupakannya dan... Er... Tadi Anda memanggil saya Malfoy? Apa itu nama saya, Mam?'

Hermione menggeleng pelan, menepis kenangan beberapa hari lalu, kembali melanjutkan ceritanya.

"Bunga kecil merasa takut, malu dan sangat menyesal atas kealpaannya. Disaksikan bunga-bunga lain, bunga ini menghampiri Tuhan dengan gemetar dan berkata sangat lirih, 'Tuhanku Yang Terkasih… A-aku melupakan nama yang Tuhan pilihkan untukku,' Bunga kecil menunduk dalam, siap mendapatkan hukuman. Bagaimanapun hal ini terjadi karena kecerobohannya sendiri, ia harus menghadapi konsekuensinya.

Tapi tidak seperti dugaannya, Tuhan sama sekali tidak marah. Dia memaafkan kesalahannya dan memandang bunga kecil itu sambil tersenyum ramah, berkata, 'Forget me not.' (Jangan lupakan aku)."

Hermione tersenyum, teringat Draco yang tetap mengingat nama Hermione meski melupakan namanya sendiri.

'Anda bercanda, Mam, um... Maksud saya Madam Pomfrey? Bagaimana mungkin saya melupakan dia...'

'Dia Hermione Jean Granger...pacar saya.'

"Jangan lupakan aku?" kata Draco membuyarkan lamunan.

"Yeah, jangan lupakan aku. Meskipun bunga kecil melupakan namanya sendiri, tapi dia tetap harus mengingat Tuhan. Mengingat betapa Pengasih dan Penyayangnya Sang Pencipta."

Angin membelai lembut rambut Hermione, dinginnya udara menandakan bahwa petang akan segera tiba.

"Makna yang dalam dari sebuah nama," Draco menyimpulkan pelan, menyadari bahwa cerita tentang bunga Forget Me Not mirip dengan kisahnya saat ini, melupakan jati diri, tapi mengingat nama lain yang paling berarti.

Hermione mengangguk, memandang mata abu-abu Draco dengan mata coklat madunya yang penuh kesungguhan, "A-Aku mau kau berjanji, Draco… Apapun yang terjadi nantinya, ingatanmu kembali ataupun tidak, kau… Kau akan tetap mengingatku, mengingat hari ini."

'Please, jangan pernah melupakan aku.'

Draco menggeleng pelan, menghindari tatapan Hermione, "Aku tidak akan berjanji."

"A-apa?" suara Hermione tercekat, berharap ia salah mendengar pernyataan Draco tadi.

"Aku tidak akan dan tidak bisa berjanji-"

"Kenapa, Dra-"

"Tapi aku akan bersumpah," Diraihnya tangan Hermione dengan lembut, "Sumpah, aku tidak akan pernah melupakanmu."

'I'll forget the world that I knew, but I swear I won't forget you…'

"Kau juga harus bersumpah, Hermione… Untuk tidak melupakan diriku yang sekarang. Apapun yang terjadi, kau tetap mengingat aku yang mengenggam tanganmu hari ini."

Hermione menatap bingung, tapi mengangguk mengiyakan, "Aku bersumpah, Draco."

'Aku juga tidak akan melupakanmu, tidak akan melupakan hari ini.'

"Percaya padaku, Hermione?" Draco menyodorkan kelingkingnya, Hermione menautkan kelingkingnya sendiri.

"I love you, Draco Malfoy," bisik Hermione begitu lirih. Draco menggenggam tangannya lagi, memandang Hermione dengan ekspresi yang tidak terbaca. Sedih? Bingung? Senang?

Di atas mereka langit sudah tampak begitu jingga, Bola Api Raksasa perlahan bergeser ke ufuk barat, untuk kemudian menghilang, seolah tertelan oleh Danau Hitam

Draco mendekatkan diri, begitu dekat sampai Hermione bisa merasakan panas nafas pemuda itu di kulitnya. Hermione menutup mata, menanti…

Tapi ternyata tidak ada sensasi apapun di bibirnya, justru telinganya yang terasa geli saat Draco berbisik pelan, "Terima kasih."

Hermione membuka mata, disambut senyum hangat Draco.

'Terima kasih? Bukan I love you too? What? Seharusnya saat ini Draco juga menyatakan cinta, lalu kami… kami… saat matahari tenggelam…'

"Sudah mulai malam, Hermione. Ayo kita kembali ke kastil," Draco sudah berdiri dan memegang tongkatnya, "Lumos."

Hermione cepat-cepat berdiri, bersyukur pada suasana minim cahaya yang menyembunyikan wajah merahnya, "Lumos."

Suasana kikuk dan terasa aneh. Hermione dengan canggung mengkuti Draco yang kini memimpin jalan pulang.

Hermione ingin berteriak dan berlari, menyembunyikan wajahnya, atau berharap jadi transparan. Wajahnya terasa panas karena malu! Draco Malfoy Sang Pangeran Slytherin cuma bilang 'Terima Kasih' sebagai respon dari ucapan cintanya yang sepenuh hati!

"Keterlaluan," gerutu Hermione sambil menendang batu di depannya dengan sekuat tenaga.

Mereka keluar area Hutan untuk menuju pintu depan kastil, dan kemudian masuk ke Aula Depan. Tampaknya murid-murid lain sudah bersiap untuk makan malam.

"Hermione, ada yang ingin aku berikan kepadamu," Draco merogoh kantung jubahnya.

"Sunggguh?" katanya penuh harap.

"Ya, ini," Draco mengeluarkan Remembrall yang berpendar merah di genggamannya.

"Oh," Hermione sedikit kecewa, meraih Remembrall itu dari tangan Draco. Saat menyentuh tangannya, bola kecil kristal itu kembali ke warna aslinya yang bening, tanda bahwa ia tidak melupakan apapun.

"Neville memberikannya padaku, tapi lebih baik kau saja yang menjaganya. Bola itu tidak pernah berhenti berpendar di tanganku."

"Uh, baiklah," Hermione mengantungi Remembrall itu, teringat kembali saat tahun pertama mereka, Draco Malfoy mencuri benda ini dari tangan Neville. Sekarang keadaannya justru berbalik.

Hermione berjalan menuju pintu Aula Besar, tapi Draco tidak mengikuti.

"Ada apa?"

"Aku harus ke Asrama Slytherin sebentar. Keberatan jika kau ke Aula Besar sendiri, Hermione?"

'Tentu saja aku keberatan! Aku baru saja menyatakan cinta, tapi alih-alih menerima, kau malah acuh seolah aku baru membicarakan cuaca!' batin Hermione kesal, tapi ia berusaha tetap tenang, "Okay. Tidak apa-apa, Draco."

"Sungguh?"

"Ya, dan Draco…?"

"Hmm?"

"Panggil aku Mione."

"Tentu, Mione." Draco tersenyum sekilas, Hermione berbalik menuju Aula Besar, sementara Draco mulai berlari menuju Asrama Slytherin, tapi Hermione bisa mendengar Draco berkata keras, "Kau bisa memanggilku Dra Dra atau Co Co jika kau mau, Mione."

.

.

-:-:-:-

.

.

'Mungkin suatu saat nanti kau lebih membutuhkan Remembrall itu, Mione. Ah, andai saja kau tahu…' pikir Draco, tidak merasakan lagi berat bola itu di kantungnya, berharap keputusan yang ia ambil adalah jalan yang terbaik.

Draco berlari menuju Asrama Slytherin. Langkah kakinya bergaung di koridor yang kosong, tampaknya seluruh penghuni Hogwarts sudah berkumpul di Aula Besar.

'Jauhi dia, Draco. Jangan melakukan hal bodoh!'

Pemuda itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak peduli!" Draco berteriak pada dirinya sendiri, tidak mempedulikan suara-suara negatif yang berusaha menjauhkannya dari Hermione, mengacuhkan rasa panas terbakar di lengan kirinya.

'Kau akan menyesal.'

'Aku tahu.'

.

.

-:-:-:-

.

.

Hermione berjalan enggan ke Aula Besar yang telah ramai. Meja-meja panjang penuh berisi makanan, dan para murid tampak sibuk berceloteh sambil mengunyah makanan pembuka mereka.

Ginny melambai dari meja Gryffindor, bergeser sedikit untuk memberinya tempat.

"Ayam?" Ron menyodorkan paha ayam besar tepat di depan wajah Hermione.

"Ugh, tidak. Trims, Ron," tolak Hermione halus, Ron hanya mengedikkan bahu dan melahap ayamnya dengan rakus. Selera makan Hermione benar-benar hilang sekarang.

"Kemana saja, Hermione?" tanya Harry, "Tidak biasanya terlambat makan malam."

"Um, perpustakaan…" jawab Hermione. Tidak sepenuhnya bohong, kan? Dia belum siap menjelaskan pertemuannya tadi pada siapapun.

"Benarkah? Ada yang melihatmu berjalan bersama-Ouch… Ginny?" Pandangan Harry tiba-tiba beralih ke arah Ginny. Tampaknya adik Ron itu baru saja menginjak kaki Harry untuk memperingatkan.

'Tidak sekarang,' kata Ginny tanpa suara, hanya mulutnya yang bergerak.

"Oh, okay." Harry tersenyum kecil, menyerah.

Hermione pura-pura tidak memperhatikan pasangan itu, mendongak ke meja guru yang tampak kosong, "Kemana para guru?"

"Rapat mendadak, entah membahas apa," kata Ginny mengedikkan bahu.

Hermione sama sekali tidak berniat makan. Ia cuma bermain dengan makanan di piringnya, sama seperti tadi pagi. Gadis itu menunduk melihat enggan ke arah kentang tumbuknya, merasa nyaman dengan suara obrolan teman-teman di sekitar yang sudah bersiap menyantap makanan penutup. Sedikit membantu mengalihkan pikirannya dari kejadian di Hutan Terlarang tadi.

Tapi kemudian celotehan seru terhenti, suasana mendadak senyap sama seperti saat Hermione dan Draco masuk ke Aula Besar untuk sarapan.

Hermione mendongak penasaran, melihat berkeliling ke teman-temannya yang memandang ke arah yang sama.

Pintu Aula Besar yang semula tertutup kini terbuka lebar, dan sosok yang baru saja masuk adalah Sang Pangeran Slytherin, Draco Malfoy.

Draco Malfoy tidak mengenakan seragam seperti yang lain, ia memakai jubah terbaiknya yang berwarna sehitam malam dengan hiasan perak di ujung lengannya, tampak kontras dengan kulitnya yang pucat dan rambutnya yang pirang. Senyum kecil mengembang di bibirnya yang tipis. Pemuda itu berjalan tenang melintasi Aula Besar, mengacuhkan tatapan ratusan pasang mata lain dan memusatkan diri pada Hermione.

'Hal gila apalagi?' Hermione terpaku di tempatnya duduk, tidak bergerak sedikitpun seolah terhipnotis.

Draco berhenti di depannya, menatap matanya lekat-lekat, lalu pemuda itu berlutut.

Draco Malfoy berlutut di depan Hermione Granger.

Disaksikan seluruh murid Hogwarts yang seolah menahan nafas, menantikan tindakan Draco selanjutnya.

Pemuda berdarah murni itu membuka kotak kecil merah yang ia pegang, memperlihatkan sebuah cincin bertahtakan zamrud berkilauan, memantulkan cahaya lilin-lilin di atas mereka.

Hermione tercekat saat Draco tersenyum hangat, begitu menenteramkan dan membuat jantungnya berdegup tak keruan.

"I really love you, Hermione Jean Granger. Will you marry me?"

.

.

-:-:-:-


A/N:

Ripiu? Ripiu? Ripiu? (Please be Gentle and No flame, yah… Peace^.^v)

#Forget Me Not (Song) by Lucie Silvas

#Vanilla Twilight by Owl City

Banyak dongeng yang konon jadi dasar penamaan bunga Forget Me Not, tapi aku pilih dongeng yang paling umum diantara yang lain:)

Profil Pic sementara kuset jadi gambar bunga kecil ini:)