Anything For You

Pairing: Sasuhina, Sasukarin

Gendre: Hurt comfort,romance

Warning: Eyd berantakan, feel gak kerasa dll.

Special fic for Su-chan. Nee harap Su-chan gak akan kecewa ama fic ini. :D

SELAMAT MEMBACA! :D

GUI GUI M.I.T

Percuma saja Hinata menolak untuk menggunakan cara bayi tabung, toh pada akhirnya Sasuke tetap memaksa untuk menggunakan cara tersebut, Hinata hanyalah istri kedua yang harus menuruti semua perintah dari suaminya.

"Hinata, mulai saat ini kau harus lebih banyak makan makanan yang menandung banyak vitamin, kau tidak boleh jatuh sakit ya?" Karin mengiring Hinata untuk duduk di kursi ruang tamu mereka. Wajah bahagia terlihat dengan jelas terpampang diraut wajahnya, Karin benar-benar bersyukur, dia dan Sasuke masih memiliki peluang untuk memiliki anak, meski tidak terlahir dari rahimnya sendiri, tapi anak yang nanti akan dikandung oleh Hinata tetap adalah anak mereka, darah daging mereka berdua.

"Kau harus mengikuti semua saran dokter, jangan melakukan pekerjaan yang berat. Aku tidak mau proses ini sampai gagal!" Sasuke berkata dengan nada dinginnya. Pria tersebut duduk di kursi yang berseberangan dengan Hinata ,langsung mengambil koran dan membacanya. Hinata hanya menunduk, dia merasa berbicara juga tidak ada gunanya. Disini dia hanyalah sebuah alat, Karin dan Sasuke perhatian bukan karena sekarang dirinya termasuk bagian dari keluarga kecil mereka, mereka perhatian hanya karena bayi yang akan dikandung olehnya. Sudah seminggu tinggal bersama Sasuke dan Karin, Hinata benar-benar merasa tersiksa. Bukan siksa fisik, tapi siksa batin yang selalu menerpanya.

"Hm... aku akan siapkan susu hangat untukmu dan bayi kami, kau tunggu disini ya, Hinata-chan." Karin berbicara dengan nada ceritanya, wanita tersebut langsung beranjak dari tempat duduknya dan kemudian pergi ke dapur sambil bersenandung kecil.

Jujur, Hinata sedikit merinding melihat sifat Karin yang jauh berbeda dari biasanya. Sampai pagi hari tadi, Karin masih bersifat acuh tidak acuh padanya, masih mengeluarkan aura dingin dan sama sekali tidak pernah tersenyum padanya, tapi... saat mereka kembali dari rumah sakit, sifatnya benar-benar berubah. Apa itu karena pesan dokter yang tadi berkata bahwa dirinya harus berusaha untuk tidak terlalu stres?

Sesaat setelah Karin pergi, keadaan diluar tamu berubah menjadi sepi bak kuburan. Hinata menelan ludahnya, tidak tahu harus bersikap seperti apa.

"Untuk setahun ini, aku ingin kau cuti kuliah." Perintah yang diucapkan oleh Sasuke berhasil membuat Hinata tersontak kaget, gadis itu langsung mengerutkan dahinya tidak mengerti.

"Kenapa harus cuti? Di universitasku tidak ada larangan bagi wanita hamil untuk ikut kuliah, jadi aku pikir, tidak masalah kalau..."

"Cih!" Sasuke mendecih keras, melipat surat kabarnya dengan kasar dan langsung menatap Hinata dengan wajah sangarnya. Nyali Hinata untuk mencoba membantah langsung menciut, jujur saja, dia takut jika nanti Sasuke kembali menamparnya seperti waktu itu.

"Aku tidak mau terjadi apa-apa pada calon bayiku, bagaimana kalau kau sampai keguguran gara-gara keletihan dan stress dengan kuliahmu? Aku tidak mau kau sampai membunuh calon bayi yang sangat kami idam-idamkan." Rasanya Hinata ingin menangis saat mendengar apa yang dikatakan Sasuke padanya. Dia memang tidak menyetujui proses bayi tabung ini, dia memang keberatan karena harus mengandung bayi yang bukan berasal dari darah dagingnya. Tapi, setelah semuanya terlanjur terjadi, ia sama sekali tidak berniat untuk membunuh bayi yang mungkin akan dikandungnya ini.

"K-kenapa Sasuke-san b-berkata seolah-olah aku ini adalah seorang wanita kejam, m-meskipun ini bukan bayiku,tapi... aku tidak akan pernah mau m-membunuhnya." Hinata berkata dengan gaya gagapnya yang sering keluar saat dia sedang berusaha mengontrol emosinya.

"Heh... bukankah kau tidak mengharapkan bayi itu?"

Hinata hanya bisa diam, membalas semua perkataan Sasuke hanya akan memperpanjang semua masalah. Hinata tidak pernah menyangka bahwa pria yang selama ini dikaguminya ternyata mempunyai sifat yang jauh lebih kejam dari apa yang pernah dibayangkannya. Hinata kembali menunduk, menatap perutnya yang masih rata. Gadis itu tetap berusaha untuk memasang wajah sedatar mungkin, dia tidak ingin Sasuke atau Karin mengetahui bagaimana perasaannya yang sebenarnya.

"Hei... kenapa kalian hanya diam?" Karin yang baru datang dari dapur, terlihat sedikit heran dengan aura dingin yang terasa begitu menusuk,tapi kemudian secara perlahan wanita cantik itu langsung mengukir senyum manisnya.

"Hinata, Susunya diminum ya? setelah itu kau istirahat. Aku tidak mau kau sampai keletihan." Karin meletakkan susu yang dibuatnya dihadapan Hinata dan kemudian duduk samping Sasuke, merangkul tangan Suaminya dan menyandarkan kepalanya pada bahu Sasuke dengan mesra.

"Aku juga sudah menyiapkan minuman untukmu Sasuke-kun, tapi aku meletakkannya di dalam kamar." Karin berbisik pelan di telinga Sasuke, tapi meskipun begitu, Hinata tetap saja masih bisa mendengarnya.

"Terima kasih, Karin-san." Hinata langsung meneguk habis susu yang dibuat Karin, dan kemudian langsung beranjak pergi menuju kamarnya.

"Hai, Sama-sama. Tidur yang nyenyak ya?"

Hinata hanya tersenyum dan kemudian mengangguk.

Selain berstatus sebagai istri kedua dari Sasuke, Hinata juga merupakan seorang siswi di salah satu universitas paling terkenal di Konoha, Ia mengambil jurusan Sastra jepang dan bercita-cita untuk menjadi seorang guru nantinya. Jika saja selama ini dia tidak jatuh hati pada Sasuke, sudah bisa dipastikan bahwa sekarang dia bisa mendapatkan kekasih yang jauh lebih baik dari pria sedingin es tersebut. Bagaimana tidak? Dibalik sifatnya yang sangat pendiam dan pemalu tersebut, Hinata adalah salah satu siswi yang paling terkenal di kampusnya. Telah banyak pria-pria tampan yang datang kepadanya dan menyatakan cinta mereka, mulai dari senior, teman satu angkatan bahkan juniornya. Tapi... mau bagaimana lagi? Hati Hinata tetap milik Sasuke.

Didalam salah satu ruangan kampus, terlihat beberapa mahasiswa yang berkumpul membentuk satu lingkaran. Salah satu dari mereka berbicara dengan nada tinggi sehingga apa yang dikatakannya bisa terdengar sampai ke luar kelas.

"Ini benar-benar berita yang paling mengejutkan, Bagaimana mungkin seorang Hinata Hyuuga bisa menikah secepat ini?" Uzumaki Naruto, pria penuh kejutan tersebut berdiri diatas kursi sambil berkacak pinggang dengan wajah terkejutnya saat mendengar berita yang baru saja disampaikan oleh Sakura.

"Naruto, rekasimu terlalu lebay!" Sakura memasang wajah kesal dan langsung menarik tangan kekasihnya tersebut agar mau duduk kembali ke kursinya.

"Aku benar-benar tidak mempercayainya. Kau dapat gosip ini dari mana? Kenapa aku tidak tau?" Ino si ratu gosip juga terlihat tidak percaya.

"Hah..." Sakura memasang wajah bosan.

"Aku tidak mungkin berbohong Ino,aku dengar sendiri dari ayahku yang merupakan teman baik dari ayahnya Uchiha Sasuke, suami dari Hinata!" Sekelompok mahasiswa jurusan sastra jepang yang merupakan teman baik Hinata tersebut langsung terdiam.

"Tega sekali, kenapa Hinata tidak mengabari kita?" tanya Shion sambil menggigit kuku jarinya, mulutnya terlihat sengaja dimanyunkan, petanda bahwa dirinya kesal dengan sikap Hinata.

"Dia juga tidak mengundang kita." Sai, pacarnya Shion menambahkan.

Sakura hanya mengangkat bahunya petanda tidak mengerti.

"Kau benar-benar tidak tahu apa-apa?" tanya Ino yang terlihat sangat penasaran. Bagaimana tidak, selama ini dia tidak pernah mendengar kalau Hinata sedang menjalin hubungan dengan pria manapun juga, jadi saat mendapat kabar bahwa sahabatnya tersebut sudah menikah, jelas gadis itu akan penasaran.

"Hahhh... aku yakin, para penggemar Hinata pasti akan sangat kecewa saat mendengar berita ini." kata Naruto dengan senyum misteriusnya.

"Hah, merepotkan. Mereka akan langsung drop, sama seperti teman kita yang satu itu!" Shikamaru menunjuk seorang pria tampan yang sekarang terlihat murung. Kiba yang biasa terlihat ceria kini berubah menjadi sangat pendiam, pemuda yang terkenal dengan kecintaannya pada anjing tersebut terlihat tidak menyadari semua mata sahabatnya yang kini menatapnya. Pria tersebut terus menatap layang hapenya, berharap pesannya akan segera dibalas. Dia harus memastikan kabar tersebut langsung dari Hinatanya sendiri.

'Bilang kalau ini semua hanya gosip, bilang kalau Sakura mungkin hanya salah faham,Hinata...'

Setelah memperhatikan Kiba,Sakura dan yang lainnya langsung saling menatap dan tersenyum memaklumi. Bagaimana tidak? Sudah merupakan rahasia umum mereka bahwa selama ini Kiba diam-diam menaruh hati pada Hinata yang sudah menjadi temannya sejak kecil.

Setelah agak diam beberapa lama, Sakura menarik nafas panjang dan mulai kembali berbicara.

"Sebenarnya aku punya satu kabar lagi,"

Semua teman langsung menatap Sakura dengan penasaran, termasuk Kiba.

"Tentang apa?" tanya Ino.

"Sebenarnya, Pria yang dinikahi oleh Hinata itu sudah memiliki istri. Hinata menjadi istri kedua dan sekarang mereka bertiga tinggal dalam satu apartment."

Semua temannya langsung memasang wajah terkejut, apalagi Kiba yang sekarang terlihat mengeram kesal.

GUI GUI M.I.T

Saat berada didalam kamarnya, Hinata selalu merasa ada yang kurang. Meskipun sekarang kamar ini sudah penuh dengan berbagai barangnya, dan perhiasan yang membuat kamarnya berseri, tapi tetap saja terasa masih ada yang kurang.

"Hm... " Saat menyadari apa yang membuat kamar tersebut kurang sempurna, Hinata hanya bisa tersenyum memaklumi. Ya... dirinya dan Sasuke bisa dibilang sebagai pasangan baru, tapi sejak awal menikah sampai sekarang, suaminya itu belum pernah sekalipun memasuki tempat tidurnya. Bukankah seharusnya pria tersebut bersikap adil? Hinata juga berhak untuk mendapatkan perhatian selaku istri Sasuke, dan Sasuke berkewajiban untuk memenuhi semua hak yang dimiliki oleh Hinata.

"Jika seandainya Sasuke-san punya sedikit saja perasaan terhadapku, mungkin rasanya tidak akan sesakit ini." Hinata beranjak menuruni kasurnya, duduk diatas kursi belajar, mengambil sebuah buku tebal dan mulai menulis semua isi hatinya didalam buku tersebut.

Setelah menerima panggilan telepon dari sekretarisnya, Sasuke langsung keluar dari kamarnya, meninggalkan Karin yang sedang tertidur pulas dan bersiap untuk pergi ke kantor, ada urusan yang harus ditanganinya langsung dan tidak boleh diwakilkan.

"Sial, kenapa orang itu harus datang tiba-tiba!" Sasuke mengomel sendirian sambil memasang dasinya di ruang tamu. Dia harus cepat dan tidak boleh membiarkan calon kliennya menunggu terlalu lama, jika tidak dia bisa kehilangan tender besar yang kemungkinan besar akan diserahkan padanya. Sebenarnya Sasuke ingin membangunkan Karin dan membantunya bersiap, tapi rasanya dia tidak tega. Karin pasti sangat kelelahan, dan dia tidak mau mengganggunya.

Drttt...

Drrttt..

Mendengar suara ponsel berbunyi, Sasuke langsung melihat ponselnya, ia pikir sekeretarisnya yang menelpon. Ternyata salah, bunyi itu bukan berasal dari ponsel miliknyanya.

"Eh?" Sasuke mengernyitkan dahi dan langsung mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.

Dapat! Diatas meja tamu, ia bisa meliahat sebuah ponsel bergetar dan berkelip. Sasuke tau, ponsel berwarna merah muda itu adalah milik Hinata. Entah terkena bisikan setan apa, Sasuke yang tadinya terburu-buru ingin pergi ke kantor langsung mendekati ponsel merah muda tersebut dan melihatnya. Ada sebuah pesan masuk, dan Sasuke penasaran siapa pengirimnya.

From: Kiba-kun

Hinata, aku dapat kabar dari Sakura bahwa kau telah menikah. Kenapa begitu mendadak? Kenapa kau tidak mengabari kami? Hinata... berita ini tidak benar kan?

Sasuke tersenyum sinis saat membaca pesan tersebut.

"Heh... Kiba ya? ini pasti akan menarik."

Saat membuka pintu kamarnya, Hinata terkejut. Ia melihat Sasuke berdiri di ruang tamu dan mengenggam ponsel yang sejak tadi dicarinya.

"S-Sasuke-san?" kata Hinata kaget.

Mendengar namanya dipanggil, Sasuke langsung menoleh kebelakang . Sedikit terkejut karena Hinata melihatnya sedang memegang ponsel milik istri keduanya tersebut, pria itu sedikit salah tingkah tapi sebisa mungkin disembunyikannya.

"S-Sasuke-san, ano... ingin pergi kemana, sepertinya rapi sekali?" Hinata berpura-pura tidak menyadari bahwa sekarang ponselnya ada ditangan Sasuke. Ia berjalan mendekati suaminya tersebut sambil tersenyum lembut.

"Ehm..." Sasuke semakin salah tingkah, pria itu pura-pura batuk, mengambil tas kerjanya dan diam-diam meletakkan kembali ponsel Hinata ke atas meja.

"Aku harus ke kantor." jawab Sasuke saat Hinata sudah berdiri tepat dibelakangnya. Hinata terus memperhatikan penampilan Sasuke dan setiap pergerakan Sasuke yang terlihat mulai terburu-buru. Pria itu berjalan ke depan untuk memakai sepatunya, ia harus segera pergi dari sana.

"T-tunggu Sasuke-san." Hinata berjalan cepat mendahului Sasuke dan langsung menghadang langkah suaminya, sekarang ia berdiri tepat didepan Sasuke.

"Dasi dan kerah baju Sasuke-san, sedikit t-tidak rapi. Biar aku rapikan... " Hinata menawarkan bantuan dan Sasuke entah kenapa tidak bisa menolaknya. Pria itu hanya diam tanpa berkata apa-apa, walau bagaimanapun... Hinata tidak sepenuhnya bisa membenci Hinata, gadis itu adalah gadis yang sudah dikenalnya sejak kecil, gadis yang pernah menjadi murid lesnya dan gadis yang pernah menyatakan cinta padanya. Meski sekarang Sasuke bersikap dingin dan terkesan membenci Hinata, tapi sesungguhnya... Sasuke tidak bisa membenci gadis itu. Dia tidak mencintai Hinata dan tidak mungkin mencintainya, dia tidak ingin memberi gadis muda itu harapan dan membuat Karin terluka karenanya.

"Hm... ternyata Sasuke-san masih sama seperti dulu, tetap saja tidak bisa memakai dasi dengan benar." kata Hinata sambil merapikan dasi Sasuke, gadis itu berjinjit agar tangannya bisa meraik kerah baju Sasuke. Saat ini tubuh mereka benar-benar berdekatan, Sasuke bisa merasakan detak jantung Hinata yang cepat dan tidak beraturan. Hinata juga bisa mendengar detak jantung Sasuke yang sangat normal dan teratur, seolah-olah tidak terganggu dengan kedekatan tubuh mereka. Wajah Hinata memerah dan Sasuke sama sekali tidak peduli, pria itu bahkan tidak merespon perkataan Hinata.

"Sudah selesai, hm... " Hinata tersenyum puas, kini Sasuke sudah rapi dan terlihat benar-benar tampan.

'Sejak menikah dengan Sasuke-san, ini adalah pertama kalinya aku bisa merapikan dasi Sasuke-san, rasanya benar-benar menyenangkan.'

Sasuke memasang wajah dinginnya dan langsung beranjak meninggalkan Hinata. Gadis itu Sedikit merasa kecewa, tapi Hinata memaksa dirinya untuk tersenyum dan kembali mengejar Sasuke.

"Biar aku ambilkan sepatu dan kausnya," kata Hinata.

Sasuke hanya bisa diam, tidak bisa melarang dan membiarkan Hinata untuk melayaninya, melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

'Setelah anak itu lahir, aku akan menceraikannya. Dia bisa hidup dengan pria lain, mungkin dengan Kiba. Aku tidak akan pernah memberikannya harapan, akan kubuat dia sadar bahwa aku tidak akan pernah bisa jatuh cinta padanya. Tapi untuk hari ini, sepertinya aku memang butuh bantuannya. Tapi aku janji, hanya untuk hari ini..."

Dari balik pintu kamar utama, Karin berdiri mematung, menyaksikan Hinata melayani semua keperluan suaminya. Sungguh, Karin tidak menyukai pemandangan seperti ini.

'Hanya aku yang bisa melayani suamiku. Kali ini aku akan membiarkanmu, tapi jangan harap lain kali aku akan memberimu kesempatan. Suamiku hanya milikku, aku tidak akan membaginya dengan wanita lain."

Pintu kamar tertutup dengan pelan, dan Karin kembali membaringkan dirinya diatas kasur. Sungguh, Hari ini dia benar-benar lelah. Kepalanya pusing dan perutnya tidak henti-hentinya memberikan rasa sakit yang begitu menyiksa. Wanita itu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal, meringguk sambil memegang perutnya dengan kedua tangan. Sungguh... rasanya benar-benar menyakitkan.

Tbc...

Su-channn! Maaf neechan super telat. Padahal kemarin udah janji mau update. Hountoni gomenasai!

Gui gui gak tau apakah chapter ini akan mengecewakan banyak pembaca atau tidak, tapi gui gui udah melakukan yang terbaik. Terima kasih sudah membaca fic gui gui, segala saran, pendapat, komplain dan review dari bentuk apapun akan selalu gui gui nantikan. Gui gui senang membaca semua saran dari teman-teman, gui gui sangat menghargainya dan gui gui juga akan mengikuti beberapa saran yang diberikan dan akan diberikan.

Maaf, gui gui gak bisa membalas semua review yang masuk, untuk review login, gui gui usahakan akan membalasnya lewat pm. Untuk yang non log, maaf ... gui gui benar-benar gak sempat, tapi gui gui benar-benar berterima kasih karena sudi meninggalkan jejak di fic gui gui.

Yosh... bye bye... mind to RnR again?