Mentari telah kembali dalam peraduannya, takkan bisa dipungkiri bahwa kegelapan akan menghinggapi latar luas yang menaungi bumi itu beberapa saat setelahnya ditemani jutaan kerlipan kecil sang pengantar cahaya.

Disaat bersamaan,seorang lelaki tampan dengan tenang menikmati keindahan dari beludru hitam cakrawala. Irisnya terus menatap letak semu para bintang. Ia sangat menyukai para bintang, terlebih ia telah memiliki bintang yang lebih nyata dalam hidupnya.

Ah, sayangnya ia sedang dibuat bingung oleh salah satunya. Aish~ Yunho mengalihkan pandangannya dari bentang hitam penuh kerlipan itu seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal—mengekspresikan kebingungannya.

Gerakannya terhenti ketika melihat seseorang yang ia harapkan , tengah menuangkan air dalam gelas bening untuk kemudian meminumnya. Orang itu mendesah ketika merasakan air membasahi tenggorokannya. Seharusnya Yunho segera menghampiri pria yang berada tak jauh didepannya itu. Hanya saja, melihat seluruh gerakan yang dilakukan pria itu membuatnya terpaku sampai pada akhirnya ia hampir saja kehilangan momen ketika pria itu akan melangkahkan kakinya menjauhi meja makan tempatnya mendapat air minum.

"Ma-matte!" seru Yunho. Mendengar itu, pria yang baru saja minum hanya menghentikan langkahnya untuk sejenak. Tak sampai lima detik, langkahnya kembali berlanjut. Aish~

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 04

ENJOY~

-oOo-

"Ya! Kubilang tunggu!" seru Yunho lebih keras lagi. Kali ini ia barengi dengan melangkah cepat dan memposisikan diri dihadapan sang pria, bermaksud menghalangi jalannya.

Aih, mengapa Yunho harus disambut dengan tatapan tajam dari mata bulat yang indah itu? Tidak suka, tidak suka. Yunho tidak suka melihat tatapan tersebut, ia lebih suka tatapan berbinar dari mata itu. Karenanya, ia harus menyelesaikan masalah mereka, segera.

"Ayo bicara." Ucap Yunho disertai usaha untuk bersikap sebiasa mungkin. Ia menarik sebuah kursi dan mendudukinya. Meninggalkan Jaejoong dua langkah disisi kanannya. Kakinya mendorong keluar sebuah kursi lain dihadapannya dari bawah meja.

"Bicara? Tentang apa?" hanya tiga kata ketus yang menjadi balasan untuk Yunho. Yunho tersenyum kecut menanggapinya setelah sebelumnya menghela napasnya.

"Setidaknya duduklah dulu Jaejoong-ah." Yunho menarik lembut tangan halus Jaejoong, menuntun pria itu duduk dikursi dihadapannya. Jaejoong tidak berniat melawan Yunho, sehingga dalam beberapa detik ia telah duduk berhadapan dengan Yunho.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Yunho memulai kembalipercakapan, karena ia mengetahui dengan pasti, Jaejoong sama sekali tak berniat membuka mulutnya untuk sebuah percakapan.

"Apa?" lagi-lagi Jaejoong membalasnya dengan ketus. Yunho menarik napasnya pelan, ia harus ekstra sabar menghadapi Jaejoong dalam keadaan marah seperti ini.

" Kau tahu Jae-ya, aku bodoh." Yunho mengambil jeda sejenak, mencoba mendramatisir agar Jaejoong sedikit mencair. "Meski aku tahu aku telah berbuat salah, tapi aku tak tahu dimana letak kesalahanku." Ujar Yunho, mata kecilnya menatap lurus dalam mata doe milik Jaejoong, membuat Jaejoong melirik-lirik tak nyamaan untuk menghindari tatapan Yunho.

"Mwo?" tanyanya pendek dengan mata yang mengarah ke kanan, belum berani menyambut tatapan Yunho.

"Kau menghindariku, jadi aku pikir aku pasti berbuat suatu kesalahan. Tapi yang mana kesalahannya aku tak tahu." Yunho memasang mimik bingung. Ia mengerutkan dahinya dan berkedip-kedip seolah mencari ingatan yang hilang.

"kau—!" Jaejoong membuat jeda setelah mengeluarkan satu kata dari mulutnya.

"Hm?" Yunho menatapnya penuh harap. Jaejoong jelas mengetahui Yunho sengaja memasang ekspresi seperti ini. Aih, menyebalkan.

Jaejoong menggaruk belakang kepalanya bingung, sungguh? Sungguhkah Yunho tak mengerti? Sungguhkah ia harus mengatakan apa yang membuatnya sesak beberapa hari ini? Aish, Jaejoong mengeraskan garukkannya disertai mengacak-acak helaian halusnya. Bagaimana dengan harga dirinya?!

"Jae?"

"Kau," lagi, Jaejoong memberi jeda setelah kata pertamanya. Hanya dibalas Yunho dengan mengangkat sebelah alisnya, membuatnya semakin gugup saja. " Ka-kau menyebalkan!" Jaejoong menghadapkan diri pada meja, membuat Yunho melihatnya dari samping kiri.

"Menyebalkan? Menyebalkan bagaimana maksudmu?" tanya Yunho. Kali ini alisnya bertaut, bingung sungguhan.

""Kau!" Jaejoong berdiri, menghadapkan diri pada Yunho dan menunjuk-nunjuk pria itu tak sopan. "Kau boleh menyentuh orang lain sesukamu! Tapi jangan seenaknya menyentuhku. Jangan mempermainkanku!" teriaknya, biar saja Yunho memandangnya rendah karena ini, yang terpenting Yunho sadar diri nantinya. Dadanya naik turun merampok udara yang tadi terlalu banyak ia keluarkan akibat berteriak-teriak. Dengan wajah memerah, matanya menatap lurus Yunho yang bahkan tak memasang ekspresi apapun. Hell yeah! Jaejoong membuat dirinya malu lagi.

"Mempermainkan?" masih dengan wajah datarnya, Yunho berdiri. Mensejajarkan dirinya dengan Jaejoong. "Dengar, Kim Jaejoong." Yunho mendekatkan diri pada Jaejoong. "Apa kau pikir aku tak mempunyai harga diri? Aku memilikinya Kim, aku takkan sudi mempermainkan orang. Apalagi sembarangan menyentuhnya. Apa aku seorang pengangguran untuk bisa melakukan semua itu? Aku rasa tidak. Dengarkan baik-baik, jika aku memang melakukannya, maka aku serius atas segalanya." Bisiknya tepat ditelinga Jaejoong. Ia beranjak segera setelahnya, meninggalkan Jaejoong dengan keterpakuannya.

"Maksudnya? Apa maksudnya?" gumam Jaejoong. Dengan kebingungan yang melandanya ia kembali duduk. Mencoba mencari kesimpulan atas apa yang diungkapkan Yunho. "Jadi, apa maksudnya Yunho serius denganku? Tidak mungkin!" tanyanya pada diri sendiri dengan mata membulat, shock atas kesimpulan yang didapat. Hei, Kim. Tidak ada yang tidak mungkin didunia ini.

Menapaki lantai dengan santai, Yunho tak lagi bisa menahan senyum yang ingin mengembangkan diri dibibirnya. Ahaha, Jaejoong tidak mengatakannya dengan jelas. Tapi, ia mengisyaratkan bahwa Yunho tidak boleh menyentuh sembarang orang dan mempermainkannya. Lagipula, Yunho memang tidak melakukannya, siapa lagi yang ia sentuh selain Jaejoong dan Heojun? Yunho mencoba mengingat-ingat dengan siapa saja ia berhubungan pada hari-hari sebelum Jaejoong marah padanya. Ah, sepertinya ia ingat sesuatu.

"Jadi, kau menyimpan bentou untukku secara tidak sopan karena melihatku menyentuh Kibum? Menyentuh pipinya?" gumam Yunho, "Manis sekali." Lanjutnya. Ia mengerti sekarang, 'kesalahan' apa yang ia perbuat dan membuat Jaejoong marah dan menghindarinya. Ia dapat dengan yakin memastikan bahwa pria itu cemburu. Ya, Jaejoong cemburu padanya. Ah, senyumnya melebar menyadari fakta yang ia dapatkan dari kesalahpahaman yang manis ini.

Yunho baru saja akan membuka pintu kamarnya ketika ia mendengar dering ponselnya. Ia merogoh sakunya untuk mendapatkan ponselnya. Hanya saja, nihil? Yunho mengerutkan dahinya bingung, dimana ponselnya berada?

Yunho mencari-cari asal deringan itu berada, deringan yang belum berhenti itu menuntunnya kembali pada meja makan dimana ia melihat Jeajoong akan sedang mengambil ponselnya.

"Tuan, ponselmu berbunyi." Jaejoong yang melihat Yunho menghampirinya segera menyerahkan ponsel itu padanya. Yunho melempar senyumannya seraya mengambil ponselnya. Tak lupa, ia sengaja berpura-pura tak sengaja menyentuh tangan putih itu ketika mengambil ponselnya. Sungguh, membuat Jaejoong salah tingkah.

"Yeobosseo~" Yunho menjawab panggilan di ponselnya, Jaejoong yang tak berada jauh darinya dapat mendengar suaranya dengan jelas. "Ada apa Min?" Yunho melangkahkan kakinya, membuat Jaejoong penasaran. Min? Siapa Min itu? Min ah? Min-Min apa? Perempuan mana lagi yang harus membuat Yunho menjauhinya ketika sedang bertelepon ria. Menyebalkan, apa pembicaraan mereka ada sesuatunya?

"Besok, datanglah kemari. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dirumah. Aku akan mendengarkanmu." Haaaaa~ datang kerumah? Serius? Min yang begitu penting ya? Sampai-sampai Yunho memintanya datang kerumah ini. Padahal, Yunho tak sembarangan membawa tamu kerumahnya ini. Padahal, baru saja Yunho mengatakan bahwa ia serius padanya, sekarang malah menyuruh seseorang bernama Min-apalah itu datang kerumahnya, Jaejoong jadi cemburu.

-oOo-

Jaejoong mengusap pelan helaian coklat milik Heojun. Anak ini terus memeluknya dalam tidur siangnya hari ini. Padahal, Jaejoong sangat penasaran pada tamu Yunho. Jika saja Heojun tidak merengek untuk tidur dalam dekapannya, Jaejoong pasti akan mengintip ruang tamu Yunho dan mengintip siapa itu Min yang jadi tamu Yunho. Huh~ apa boleh buat, tugas utamanya adalah menjaga Heojun, jadi ia harus menelan bulat-bulat keinginan anehnya.

"Nggghhh~" hampir tiga jam Heojun tertidur karena kelelahan,dan kini sepertinya ia telah selesai dengan istirahatnya. Ia melenguh seraya mengucek pelan mata kirinya.

"Junnie sudah bangun em?" Jejoong mengusap pipi Heojun yang dibalas dengan anggukan oleh bocah itu.

"Mommy." Panggilnya dengan mata tertutup, sepertinya ia belum selesai mengumpulkan nyawanya.

"Nande baby?" "Jejoong mengubah posisi berbaringnya, ia melihat Heojun dengan intens. Sesekali mengusap pipi dan rambut Heojun.

"Tadi Junnie bermimpi." Heojun membuka matanya.

"Mimpi?" tanya Jaejoongseraya bangkit dari posisinya diikuti Heojun yang melakukan hal yang sama.

"Junnie makan ais krim bersama mommy dan papa, karena mimpi itu Junnie benar-benar mau ais krim. Hehehe~" ungkapnya, pipinya yang berisi bersemu, pertanda kalau ia sedang malu-malu. Sungguh terkadang Jaejoong berpikir Heojun memang putranya. Ada banyak kesamaan diantara mereka, termasuk ekspresi malu-malu yang sedang berada diwajah Heojun. Apa ini karena ia yang merawat Heojun sejak bocah itu berumur kurang dari satu tahun ya? Jadi, beberapa sifat ia tularkan pada anak ini?

"Ehm, Junnie tanya pada papa dulu, jika papa mengijinkan, kita beli ice cream. Otte?" tanya Jaejoong disambut binaran dimata doe Heojun.

"Okay Mommy!" Heojun turun dari ranjangnya, kaki kecilnya melangkah cepat mencari pria bermata kecil yang berstatus sebagai ayahnya.

"Papa~!" sayup-sayup Jaejoong mendengar suara Heojun menggema. Nampaknya Heojun terlalu bersemangat sampai bingung kemana seharusnya iamencari Yunho.

Jaejoong mengusap wajahnya, ia beranjak keluar dari kamar Heojun. Tepat seperti dugaannya, Heojun tengah berlari kesana kemari seraya beberapa kali menyerukan panggilan untuk Yunho.

"Junnie-ya," panggilnya lembut. Membuat Heojun berhenti melangkah demi mengalihkan perhatian padanya. "Carilah diruang kernyanya." Ucapnya seraya menunjuk lorong menuju ruangan yang ia sugestikan kepada Heojun. Selepas satu anggukan yang dilakukan Heojun, anak itu segera melang—berlari lebih tepatnya, menuju ruangan yang dimaksud Jaejoong.

...

Kyuhyun menyeruput coklat hanganya dengan ekspresi polos. Matanya-terus-menerus menatap pintu, ia sedang menunggu Siwon pulang.

Ia terlalu fokus pada bilah kayu yang dipernis iyu, sehingga tak menyadari ada mata lainyang terus setia memperhatikannya. Pemilik mata itu bahkan tak menyentuh gelas coklanya, padahal ia yang menyajikan minuman hangat itu. Sangat berbanding terbalik dengan pria berwajah tanpa dosa itu, Kibum sama sekali tak berminat pada coklat hangatnya itu, walau udara dingin yang mampu menyusup pada ruangan ini menyentuh kulitnya.

"Hei Kyu." Kibum lelah berdiam diri, sehingga ia memulai percakapan. Ia menatap tajam pria pucat itu, sayangnya sekali Kyuhyun tak menganggap itumemiliki arti. Kyuhyun tetap bersikap sama.

"Ne, Hyung?" dua kata itu keluar dari mulutnya, tapi matanya tak beralih dari pintu.

"Ck." Kibum mendecak. "Kyu, apa Wonnie Hyung sebegitu berartinya bagimu sampai kau tak mau melepas pandanganmu dari sana? Kau menyukainya? Atau kau memang berniat merebutnya dariku? Kau menyayanginya? Kau mencintainya?" brondong Kibum, ia benar-benar kesal bertabur jengah dengan sikapyang Kyuhyun tunjukkan.

Kyuhyun mengalihkan pandangannya dari tempat dimana Siwon akan muncul saat pulang nanti, menatap Kibum yang wajahnya kini memerah karena menahan amarah. Kyuhyun sedikit tak menyangka, kekasih Siwon itu bisa bertanya sebegitu banyaknya dalam waktu cepat. Mungki ia lelah, ia baru saja pulang dari kantornya. Kyuhyun bisa memaklumi jika Kibum yang biasanya tenang bisa dikuasai emosi.

"Ya." Kyuhyun menjawab pertanyaan pertama dan memberi jeda, ia sedang berusaha mengingat lagi apa saja pertanyaan Kibum dalam ucapan cepatnya tadi.

Kyuhyun sibuk berpikir dan Kibum mengepalkan tangannya kesal. Kyuhyun memang tak memiliki perasaan. Bagaimana bisa ia menjawab 'ya' untuk semua pertanyaanya tanpa beban. Siwon kekasihnya dan Kyuhyun ingin merebutnya? Sepertinya Kyuhyun sudah gila. Perlukah ia menghajarnya agar Kyuhyun bisa mengembalikan kewarasannya? Ya, sepertinya perlu. Jadi, Kibum mulai akan melayangkan pukulannya.

BRUGH!

"Ah!"

He-hei! Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Siapa yang jatuh? Mengapa ada bunyi seperti itu?

Kibum menatap kepalan tangannya nanar. Ia bahkan belum melayangkan pukulannya, mengapa ada bunyi orang terjatuh dan mengaduh? Ini gila! Kyuhyun jatuh hanya dengan niatnya? Oh God, tidak mungkin. Walau jika benar, ia akan sangat berterima kasih pada Tuhan.

Seringai terpatr i dibibir pria berkulit putih itu, tak biasa. Ia melirik Kyuhyun, ia pasti jatuh sekar—tidak? Kyuhyun tidak jatuh? Lalu? Apa yang sebenarnya terjadi?

Kyuhyun refleks berdiri, hendak melangkahkan kaki untuk mencari tahu asal bunyi jatuh itu jika ia tidak melihat seseorang yang ditunggunya berada dihadapannya. Ya, Siwon. Pria tampan itu menepuk-nepuk celana hitamnya dengan tangan kirinya, begitu menyadari ada dua pasang mata yang memperhatikannya ia berdiri tegak, menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya tersenyum malu.

"Ah, ada apa?" tanyanya, melihat Kyuhyun dan Kibum secara bergantian dengan wajah yang dibuat sepolos mungkin.

"Kau terjatuh hyung?" tanya Kyuhyun. Pria itu kembali duduk setelah menyelesaikan pertanyaannya.

"Hahaha, iya. Aku tersandung sepatu tadi." Siwon kembali mengusap tengkuknya.

"Salahmu tak mengucap salam." Kini suara ketus terdengar dari bibir Kibum. Ia kesal pada Kyuhyun sehingga melampiaskannya pada Siwon. Salah siapa jika Kibum merasa kesal? Akar masalahnya kan Siwon, huh~

"Mian sayang," Siwon menghampiri Kibum. "Tadaima baby, aku pulang." Ia mengecup pelan bibir merah Kibum setelah mengucap empat kata tadi.

"Ya."

"Kau masih kesal? Ada apa?" Siwon menyentuh lembut rambut disisi kiri kepala Kibum.

"Tidak apa-apa, aku lapar. Jadi mudah kesal." Ujar Kibum, bohong. Tentu saja.

"Ou, begitu? Bersiaplah. Kita makan diluar, ke restoran kesukaanmu. Bagaimana? Rasa kesalmu akan hilang?" tanya Siwon. Ia menyentuh bahu Kibum dan menatapnya dalam.

"Iya." Kibum mengannguk pelan.

"Kyu, kau juga. Bersiaplah." Tambah Siwon sebelum mendorong Kibum kekamar mereka.

Kyuhyun menatap nanar kepergian Siwon dan Kibum. Matanya yang sedikit bersinar tadi siang kini kembali menyendu.

"jika aku, apakah Changmin akan mengembalikan senyumku?" batin Kyuhyun, matanya tiba-tiba memanas siap meneteskan embun dari matanya diiringi kekehan miris. Jangankan seperti Siwon pada Kibum, ia pergi saja Changmin tak peduli. Miris!

-oOo-

"Bagaimana? Jagoan papa sudah siap?" pria dengan mata tajam itu menunduk, menyamakan tingginya dengan tinggi putranya.

"Siap papa!" ujar Heojun. Anak itu memasukkan tangannya ke saku celananya. Mirip dengan apa yang sering dilakukan Yunho. Aura tampan juga mengelilingi bocah tampan yang Jaejoong dandani itu. Jiwa fashionable Jaejoong menambah kadar ketampanan Heojun meningkat.

"Mommy~!" seru Heojun, membuat Yunho juga mengalihkan perhatiannya pada pria bermata doe itu. Tampan, seperti biasanya.

"Hei," mata besarnya mendadak ia sipitkan. Dari letak irisnya, bisa disimpulkan bahwa ia sedang menatap Yunho.

"Ada apa?" tanya Yunho bingung, Jaejoong menunjuk-nunjuk pakaian Yunho. "Kenapa?"

"Mantel? Jaket? Atau pakaian hangatmu dimana?"

"Aku malas, lagipula malam ini tak terlalu dingin."

"Aish, tunggu sebentar."dengan muka ditekuk Jaejoong beranjak ke kamar Yunho.

"Papa jangan malas, nanti mommy marah." Ujar Heojun. Matanya yang berkedip menatap was-was kearah Jaejoong pergi. Ia takut Jaejoong marah. Jika itu terjadi, ia sudah berniat akan mendiamkan Yunho jika mereka tak jadi makan es krim.

"Ehehe, mommy tidak marah kok Junnie. Lihat, mommy pergi kekamar 'kami'. Mommy mungkin akan membawakan pakaian hangat untuk papa." Ujar Yunho, matanya berkilat senang. Senyumnya tak pernah luntur, kebahagiaan ini membuatnya melupakan sejenak masalah adiknya.

"Sungguh?"

"Iya, mommy kan sangat mencintai papa. Jadi ia peduli pada papa."

"Pada Junnie?" tanya bocah itu seraya menunjuk dirinya sendiri. Matanya yang berkedip-kedip tak bisa menyembunyikan harapan yang tertumpuk untuk jawaban ayahnya.

"Junnie juga, memangya Junnie tidak merasakan kepedulian mommy pada Junnie?" tanya Yunho dengan memasang mimik muka sedih.

"Ung~ Junnie juga. Mommy peduli dan menyayangi Junnie."

Terdengar tawa renyah dari pasangan ayah dan anak ini. Jaejoong yang berada dibalik pintu ikut tersenyum untuk tawa mereka malam ini.

"Hanya saja, memangnya siapa yang mencintainya? Percaya diri sekali dia." gerutunya untuk Jung dewasa. Mengingkari perasaanmu eh, Kim Jaejoong?

...

Bintang tak begitu terlihat dikota ini, terhalau sinar lampu diseluruh area ibukota Jepang ini. Termasuk daerah yang menjadi landas restoran yang menertakan es krim sebagai salah satu menunya.

Tiga laki-laki berbeda usia ini memiliki masing-masing es krim dihadapan mereka. Namun dua diantaranya tak seheboh pemilik usia terrmuda. Ia terus menyuapkan sendok demi sendok es ke mulutnya, melupakan dua orang lainnya serta keadaan disekitarnya. Hanya ia dan es krim di dunianya sekarang.

"Eng~ sa-sayang." Tebak, siapa yang gugup dan mengucapkan dua kata tersebut? Yunho? Kau yakin? Terbayangkah ia berkata gugup? No way! Kecuali jika ia sedang tertangkap basah tengah berselingkuh oleh istri tercintanya. Yap, memang Jaejoonglah yang mengatakan itu. Sangat jarang ia memanggil Yunho dengan panggilan mesra—mengingat ia bukanlah istri sungguhan untuk Yunho. Sekarang, apa boleh buat. Disamping mereka ada Heojun dimana berarti sangat sah jika Jaejoong menggunakan panggilan semacam itu. Dan lagi, ada yang ingin ia tanyakan. Hhh~ Jaejoong menyimpan udang dibalik batu.

Mata kecil Yunho melebar, untuk beberapa detik. Ekspresinya kaget bercampur bingung, juga dalam beberapa detik. Ia cepat menguasai dirinya dan menjawab panggilan Jaejoong dengan satu kata, "Apa?"

"Itu~" Jaejoong mengambil sendok dan menancapkannya pelan pada es krim dimangkuknya. "Dia, bagaimana?"

"Dia? Siapa?" Yunho mengangkat satu alisnya. Bingung, karena ia memang tidak mengerti kemana arah pembicaraan Jaejoong.

"Junnie begitu tampan," ia menatap Yunho dan mengalihkan pandangannya begitu iris mereka bertemu. "Tapi banyak yang tidak mirip denganmu. Itu darinya? Mata itu? Bibir itu?" Jaejoong menunjuk Heojun dengan dagunya.

Okay, sekarang Yunho mengerti. Jadi, Jaejoong bertanya tentang istrinya. Senyuman tercetak singkat dibibirnya begitu sosok istrinya terlintas dipikirannya.

"Kau ingin mengetahuinya?" tanya Yunho lembut. Ini topik menarik. Ia tak ingin Jaejoong sungkan dan mengubur kembali harapannya untuk bertanya lebih jauh.

"Iya, jika kau tak keberatan."

"Hmm~ ia cantik, baik, menyenangkan." Yunho memberi jeda untu memberi kesempatan sebuah senyuman untuk bertengger dibibir tebalnya. Dihadapannya, Jaejoong sedang bergulat dengan pikirannya. Membayangkan sosok yang sesuai dengan pendeskripsian Yunho. Ah, wanita itu pasti sangat cantik, anggun dan beruntung. Beruntung karena mendapat pria seperti Yunho.

Jika ia memiliki istri, ia akan—ah tidak-tidak. Jangan berpikir macam-macam. Ia tak mungkin memiliki istri saat menjadi istri, walau hanya menjadi istri sandiwara Yunho dihadapan Heojun.

Ia tahu, Yunho sangat menyayangi istrinya, lihat saja snyuman yang terpatri itu, penuh dengan kebahagiaan walu kini sosok yang dicintainya berada jauh darinya, entah dimana.

Mendadak, ada rasa iri lagi dalam hati Jaejoong, dadanya terasa sesak. Mau tak mau, ia mengakui jika ia memiliki sedikit rasa pada majikannya itu. Meski awalnya ia kaget, tapi ia tak lagi mersa asing dengan hubungan antara laki-laki dengan laki-laki karena penyelamat hidupnya adalahmereka yang menjalankan hubungan semacam itu. Jadi, ia biarkan perasaanya untuk Yunho teteap ada. Meski kecil kemungkinan Yunho melirik padanya, tapi ia mengetahui pribahasa bahwa 'kebersamaan dalam waktu lama dapat menimbulkan cinta' siapa yang tahu? Yunho akan mencintainya suatu saat nanti. Woa, Jaejoong sedikit berharap karena pribahasa tersebut.

"Jaejoong?" panggil Yunho begitu melihat Jaejoong mengetuk-ngetuk kepalanya dengan poutan halus dibibirnya, pengekspresian dari apa yang dipikirkan pria itu.

"Eh, ya?" Jaejoong yang ditarik kembalidari alam pikirannya menghentikan tindakannya.

"Kau mau mendengarnya lagi atau tidak?" tanya Yunho jengah, disertai anggukan Jaejoong.

"Lihat Junnie." Yunho menunjuk Junnie diikuti dengan perhatian Jaejoong terhadap bocah yang masik asyik dengan es krim vanillanya." Ia juga seperti anak itu, sangat gila dengan es krim vanila."

"Hah?" Jaejoong memasang wajah horor. "Kau serius?"

"Papa~" baru saja Yunho akan membuka mulutnya, Heojun menyelanya. "Junnie mau satu lagi. Hanya satu lagi, yayaya."

"Hhhh~ ara. Tunggu sebentar." Yunho berdiri dari duduknya. Mana bisa ia menolak Heojun dengan binaran mata yang melebihi bintang diatas sana. Biarlah nanti ia menjadi sasaran amukan Jaejoong jika ada sesuatu yang salah dengan perut Heojun. Ia hanya berharap, sungguh berharap pada Tuhan. Semoga Heojun baik-baik saja.

Jaejoong menatap Heojun yang sedang menggigit sendok esnya, tak sabar menunggu Yunho kembali dengan mangkuk esnya. Ia masih belum mendapat bayangan 'vanilla ice cream freak' dari istri Yunho walau putra Yunho yang notabene dalam kategori yang sama dengan istri Yunho itu sedang ia tatap sekarang.

"Ini baby." Yunho kembali dan meletakkan pesana Heojun dihadapan bocah itu.

"Yay! Gomawo papa." Ucapnya dengan bahasa ibunya, "Itadakimash!" kembali pada bahasa yang dipelajarinya dari lingkungan sekitar sebelum kembali larut dalam dunianya.

"Jadi, maksudmu kebiasaan Junnie ini warisan dari ibunya?" tanya Jaejoong, ia mengangkat alis matany dan memasang wajah tak percaya. "Tak bisa kubayangkan." Lanjutnya. Bagaimana ia bisa percaya? Ah, bayangan sosok wanita anggun hancur sudah.

"Memang, aku juga. Terlalu banyak kejutan dari istri yang bersamaku kurang lebih setahun itu." Ujar Yunho. "Seperti kau." Lanjutnya.

"Ehhh? Apa maksudnya?" tanya Jaejoong dengan teriakan tertahan. Wajahnya sudah diwarnai dengan warna semu merah.

"Kau juga mirip dengannya. Jadi, jangan salahkan aku jika nanti aku benar-benar menganggapmu istriku dan melakukan apa yang biasa kulakukan padanya." Ucap Yunho, bersusah payah ia menyembunyikan tawa kemenangan melihat wajah Jaenjoong.

"Maksudmu apa?"

"Contohnya, menafkahimu."

"Bukankah kau sudah melakukannya?" blushing diwajah Jaejoong berganti dengan wajah jengah, "Kau memberiku makanan setiap hari dan membelikan apa yang aku butuhkan. Tanpa mengurangi gajiku, hihihi." Lanjut Jaejoong, memelankan suara dikalimat terakhir dan tawanya.

"Itu benar, tapi jangan lupakan," Yunho memberi jeda. "Nafkah ditempat tidur juga mungkin akan kuberikan." Yunho mengangkat alisnya beberapa kali.

Menutupi wajah shock dan kembali memerah, Jaejoong segera mengambil sendok dan melahapnya dengan cepat. Ayolah, ia bukan anak kecil lagi untuk tak mengerti maksud Yunho.

Senyuman menghiasi bibir tebal Yunho, ia menatap putranya yang sedang asyik dengan es lembut berwarna putih. Es yang akan dimakan istrinya jika ia juga berada di tempat ini, es yang tak hanya dilahap istri dan putranya, tapi juga pria dihadapannya. Es krim, vanilla.

Tak menyadari sesuatu hei, Jaenjoong-ah?

...

"Sudah? Mau pulang?" pria tampan itu menatap pria disampingnya.

"Tidak, aku harus membeli sesuatu. Tunggu sebentar ne, aku takkan lama." Jawab pria yang segera bangkitdari duduknya.

"Baiklah chagy, perlu kuantar?"

"Tidak hyung, tokonya tak jauh dari sini. Aku sendiri saja."

"Begitu? Baiklah Bummie, kami akan menunggu diluar setelah Kyu selesai."

"Iya, aku pergi hyung." Ujar sekretari Yunho itu pada kekasihnya. Ia beranjak, melangkahkan kaki keluar dari restoran favoritnya.

Siwon mengangkat tangannya menemani kepergian Kibum. Perhatiannya kini tertuju pada seseorang dihadapannya begitu tak dapat lagi melihat punggung kekasinhya.

Orang itu tengah asyik menusuk-nusuk makanannya dengan sumpit yang dipegangnya. Sepertinya, pikiran pria itu tengah berkelana ketempat yang tidak diketahui Siwon.

"Kyu~" tegurnya, sayangnya tak ada jawaban. "Kyuhyun~" ulangnya, kali ini disertai tepukan halus pada pria yang lebih muda darinya itu.

"Eh, ne hyung? Ada apa?"

"Aku dan Bummie sudah selesai, apa kau belum selesai? Atau kau tak menyukai makanannya? Mau kupesankan yang lain?"

"Oh, itu." Kyuhyun melihat piringnya. "Aku tak lapar, ayo pulang." Kyuhyun beranjak prgi meninggalkan Siwon dengan hela napasnya. Tak biasanya Kyuhyun seperti ini, apa masalahnya kali ini sangat serius? Ia ingin mengejar Kyuhyun, tapi ia harus membayar makanan yang telah ia makan.

Pikiran Kyuhyun memang sedang sangat kacau sekarang, ia pergi kerumah Siwon untuk mendapat perhatian, berharap Siwon mau mendengar dan memberinya saran. Tapi, Siwonpun telah berubah, kini ia telah memiliki Kibum yang harus diprioritaskan dibandingkan dirinya.

Ingin rasanya mengutuk Tuhan, karena Tuhan telah mengambil satu-satunya pria yang sangat peduli padanya, meski tak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya. Sebentar-sebentar, apa Tuhan ingin mempermainkan dirinya? Mengapa dimatanya kini ada sosok yang baru saja beputar dikepalanya? Itu ilusi? Atau benar-benar nyata? Ia harus memastikannya. Tuhaaaaaaan, kau sangat baik, sungguh sangat baik jika ini kenyataan. Bukan sekedar ilusi karena Kyuhyun memang sangat menginginkan sosok itu tetap ada didunia yang sama dengannya.

"Ja-Jaejoong Hyung!" serunya, Tuhan sungguh baik, dengan bibir gemetar, mendadak air matanya tumpah tak tertahan. Tak jauh dihadapannya yang baru saja keluar dari pintu restoran kesukaan Kibum, ia melihat sosok itu menoleh kekanan dan kekiri, pertanda jika ia merasa ada yang memanggil namanya sebelum kembali melangkah kebingungan. Tubuh Kyuhyun kehilangan tenaga, menyadari sosok itu benar-benar ia, Jaejoong hyung yang menyayanginya.

Ia mengusap air matanya yang tak berhenti, terlalu bahagia.

-oOo-

Yunho menuntunHeojun ditengah keramaian, sesekali ia melirik putranya yang tengah riang. Akhirnya, dua mangkuk es krim habis sudah, bahkan es yang tak dihabiskan Jaejoong tak luput dari lidahnya.

Jaejoong pergi ke supermarket disaat Heojun menghabiskan esnya. Yunho yang memintanya, beralasan agar mereka tak pulang terlalu larut. Jadi mereka berbagi tugas, sekarang, tak ada lagi es, jadi ia dan putranya memutuskan untuk menyusul pria cantik itu.

Perhatian Yunho fokus pada dua pria, tengah berpelukan, dan ia merasa tak asing lagi dengan keduanya.

"Sial, jadi semuanya benar?" gumamnya pelan, tak ingin putranya mendengar umpatan kasar yang baru saja keluar dari mulutnya. Ia menarik Heojun dalam langkah cepatnya, tak sudi melihat pemandangan tak jauh dihadapannya lebih lama lagi.

...

Kraaak! Klontang! pyang!

Kaleng softdrink tak bersalah itu tak terbentu lagi, remuk, jatuh, terpental sebelum akhirnya ketiadaan energi membuatnya tak lagi bergerak.

Tidak berperi kekalengan, tapi siapa peduli? Dibandingkan ia meremukkan dan membuang hatinya, tak mungkin bukan?

Tatapannya yang tajam semakin tajam. Suasana ramai diarea pusat perbelanjaan ini tak membuat ceria pria yang satu ini. Mendung mengungkungnya meski lampu ramai berkelip.

"Itu yang kau lakukan? Menghianati hasil usahaku untu mencintaimu? Okay, lakukan apa maumu, sial." Suara berat itu menandakan betapa marahnya ia.

-TBC-

Aaa, hai~ *lambai-lambai* maaf lama, aku lagi coba manjangi chapter. Dan tadaaaaa! Berhasil loh, lebih dari 3k word nih. Okey, kayaknya ff ini bakal panjang, aku lagi nyoba manjangin chappie, terus melambatkan alur juga. Abis, pada protes sih -3- tapi gpp, itu saran membangun.

Oh ya, aku bukan elf. Jadi maaf-maaf kalo membernya kupake didini dngan menerapkan AU. Aku gx tau banyak tentang mereka sih.

Segitu aja deh, XD mohon review, kritik dan sarannya *lap keringat* biar aku semangat dan bisa lebih baik lagi.

Sangkyuu~

090913

O-Cyozora