"Hahahahahahaha!"

Waaaah! Ada yang sedang bahagia, tertawa begitu keras seperti itu pasti orang sedang sangat teramat senang kan? Sayangnya, kali ini pria yang sedang tertawa itu bukan karena senang atau bahagia. Ia tertawa akibat akumulasi kesadaran yang mulai menghilang serta rasa frustasi yang menderanya. Tak percaya? Lihat saja, ditangannya berada sebuah botol yang isinya memiliki kandungan alkohol yang hanya tersisa satu pertiga isinya.

Jung Changmin frustasi, karena Kyu-nya, Kyuhyun-nya berpelukan dengan pria lainnya, didepan matanya. Bagaimana ia tidak frustasi? Ia mati-matian menggerakkan hatinya untuk mencintai pria pucat itu, kini lihat apa yang ia dapat. Ia akan dicampakkan? Lho? Mengapa ia yang harus dicampakkan? Apa Jung Changmin harus merubah kamus hidupnya? Menyelipkan kata 'dicampakkan' begitu? Oh tidaaak. Takkan pernah, ia akan membuat Kyuhyun merasakan akibatnya.

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 05

ENJOY~

-oOo-

Kim Jaejoong mengedip-ngedipkan matanya, ia memberi sorot mata penuh pertanyaan pada putrany—putra Yunho yang karena kepolosannya tak mengerti tatapan khusus Jaejoong. Jaejoong semakin kesal saja, tapi bukan salah Heojun kan? Seharusnya ia menyalahkan orang yang seenaknya saja memberinya beban tambahan dengan menumpukan dirinya pada pundaknya. Siapa lagi tersangkanya jika bukan ehem, su-suaminya itu, Jung Yunho.

Tiba-tiba saja ia datang dengan Heojun dibelakangnya dalam keadaan sempoyongan. Bahkan, ia hampir jatuh jika Jaejoong tak menangkapnya dan dengan terpaksa menjatuhkan belanjaannya. Yah, biar saja. Jika ada yang hancur ia tak lagi peduli. Itu kan bukan uangnya, itu uang Yunho. Jika ada yang rusak ia bersih, tak bersalah hoho~

"Junnie~" tegurnya dengan nada lembut.

"Nande Mommy?" jawab Heojun.

"Junnie tau papa kenapa?" tanyanya lagi, Heojun menggeleng polos, dengan sedotan yang terhubung dengan yogurt botolan dibibirnya.

"Memangnya papa kenapa?" Heojun balik bertanya. Jaejoong menepuk jidatnya pelan dengan tangan yang bebas. Mengapa ia bertanya pada Heojun? Ia jelas mengetahui Yunho mabuk, untuk apa lagi ia bertanya pada Heojun? Apa ia ingin mencekoki kepala anak polos itu dengan kata mabuk. Lagipula, tuan Jung-nya ini kenapa sih? Ia mabuk didepan putranya yang lucu itu? Minta dihajar ya? Ah, membuat Jaejoong geram saja, dasar Jung yang tak mengerti situasi.

"Ehm, itu~ sepertinya papa mengantuk. Memangnya kalian makan apa saja tadi?" Jaejoonng berbohong, ia tak ingin mencemari otak bersih Heojun dengan kejujurannya.

"Ais." Jawab Heojun singkat, membuat Jaejoong memutar matanya jengah. Ia juga mengetahui itu. Ia juga memakannya tadi. Aish, harus diperjelas pertanyaannya okay?

"Selain itu?

"Ie."

"Eh?"

"Junnie dan papa tidak membeli makanan, hanya minuman saja." Heojun dengan kepolosannya membuyarkan kebingungan Jaejoong, meski ia juga sih, yang membuat Jaejoong bingung.

"O-ooooh, minuman apa?"

"Ini?" Jaejoong menghela napasnya. Lagi-lagi kepolosan Heojun harus membuatnya mencari cadangan kesabaran. Matanya tertutup begitu ia mencari pertanyaan yang singkat, padat dan jelas untuk memudahkan bocah yang sebenarnya pintar itu mencernanya.

"Papa juga membeli yogurt?" Jaejoong menunjuk botol yang berada dalam genggaman Heojun.

"Bukan sih, papa membeli emm, yang seperti ini." Heojun menggerakkan tangannya untuk menggambarkan botol minuman yang dikonsumsi Yunho.

Jaejoong mengedipkan matanya. Sudah ia duga, mengapa ia harus merepotkan Heojun dengan macam-macam pertanyaan anehnya sih? Sudah tentu Yunho mabuk karena ia sengaja meminum minuman yang mengandung alkohol didalamnya. Memang siapa yang bisa mencekoki Yunho? Tak ada ia rasa.

"Oh, ara," ia membenarkan posisi Yunho yang sedikit membuat pundaknya pegal dan mengalungkan sebelah tangan Yunho ke sisi pundaknya yang lain. "Junnie masuk mobil ne, mommy akan menyusul setelah mommy masukkan barang." Ucapnya seraya melirik kearah Yunho. Tapi, bukan berarti ia menganggap Yunho barang. Uggggh~ mengapa ia berat sekali sih? Jaejoong jadi merasa sedang mengangkat beruang madu, padahal dalam faktanya, ia hanya memapah Yunho.

Ia memasukkan dan mendudukkan Yunho disebelah kursi pengemudi, kali ini ia yang mau tak mau harus mengemudikan mobilnya. Setelah menutup pintunya, ia kembali untuk mengambil barang belanjaannya yang jatuh berceceran karena Yunho menyerangnya tiba-tiba. Ah, Jaejoong terlalu berlebihan, Yunho hanya sempoyongan, bukan menyerangnya.

Mau tak mau, Jaejoong jadi memikirkan alasan mengapa Yunho bisa kehilangan kendali dirinya atas minuman beralkohol padahal pria bermata kecil itu tak biasa minum alkohol untuk kesehatannya, apalagi disampingnya sedang ada Heojun. Apakah karena tadi saat memakan es krim ia menanyakan tentang istrinya? Ah, baiklah. Ia kerepotan kali ini karena salahnya. Seharusnya ia jangan bertanya tentang wanita yang ia tak ketahui keberadaannya itu. Jadi, nikmati saja Kim.

-oOo-

Kibum mengerenyitkan alis hitamnya melihat Kyuhyun yang entah mengapa terlihat begitu ceria, ia terus menggumamkan lagu sejak ia memasuki mobil sampai sekarang, ketika ia keluar dari mobil. Ia langsung memasuki rumah yang ditempati Siwon dan Kibum tanpa peduli pada mereka berdua. Nampaknya bukan hanya Kibum yang merasakan hal itu, ia melihat Siwon mengerutkan dahinya sebagai tanda bahwa ia sama bingungnya.

"Aneh sekali, sebelum keluar restoran ia sangat sedih. Sekarang ia sangat senang, bagaimana bisa ia bisa mengubah perasaannya dengan begitu cepat?" Siwon memainkan kunci mobil ditangannya. Awalnya, Kibum mengangguk setuju, hanya saja ada satu hal yang membuat anggukannya terhenti. Matanya melirik Siwon tajam. Merasakan adanya mata yang seolah menembus lapisan kulitnya, Siwon yang awalnya sedang memperhatikan Kyuhyun yang sedang memasuki rumah mereka, beralih pada Kibum.

"Ada apa?"

"Hyung, kau tak melakukan apa-apa dengan Kyuhyun kan? Saat aku pergi tadi?" tanya Kibum. Kecurigaannya tentu beralasan. Ia tentu masih ingat, bahwa Kyuhyun ingin merebut Siwon darinya.

"Apa maksudnya itu?" Siwon mengerutkan keningnya, padahal belum lama ia merilekskannya.

"Kau dan Kyuhyun, tidak melakukan apa-apa?"

"Tidak."

"Sungguh?"

"Ah," Siwon berpikir sebentar. "Tadi, saat aku keluar restoran, Kyuhyun langsung memelukku erat. Matanya berair, sepertinya ia habis menangis." tuh kan, ini pasti ada apa-apanya.

"Kau baru saja menerima pernyataan cintanya ya?" seloroh Kibum, mendapat jitakan halus dikepalanya sebagai balasan.

"Kau bicara apa? Tidak ada hal seperti itu."

"Tapi, Kyuhyun kan menyayangimu."

"Tentu saja, kami sepupu dan dia paling dekat denganku. Bahkan aku pikir aku lebih berarti dibanding kakaknya. Jadi, wajar saja jika ia menyayangiku. Aku juga menyayangi Kyuhyun, tapi rasanya berbeda dengan perasaan sayangku untukmu. Ara?" Siwon mengucapkannya seraya tersenyum halus, ia mengusap pucuk kepala Kibum. Membuat Kibum merasakan hatinya lega sedikit demi sedikit. Biar saja tentang bagaimana perasaan Kyuhyun pada Siwon, yang terpenting, Siwon bahkan tak memberi celah untuk Kyuhyun. Mereka hanya saudara sepupu dan itu mutlak. Ah, Kibum jadi merasa menang. "Lebih baik kita masuk. Aku penasaran, apa yang terjadi padanya." Lanjut Siwon. Tangannya menangkap tangan Kibum untuk kemudian menggenggam tangan kekasihnya.

"Iya hyung." jawab Kibum. Sedikit terlambat, karena tanpa mengiyakanpun Siwon telah menariknya.

Lagi-lagi, sejoli ini dibuat bingung oleh sepupu Siwon tersebut. Kali ini mereka melihat Kyuhyun sedang merapikan pakaiannya dengan wajah berseri. Ia memakai pakaian yang digunakannya saat datang dengan keadaan kacau tempo hari. Ia juga melilitkan syalnya dengan wajah berseri, sesekali merapikan rambutnya.

"Kyu, kau—" Siwon belum selesai dengan perkataannya, tapi Kyuhyun segera menyelanya.

"Ne, hyung! Aku mau pulang." Seru Kyuhyun gembira.

"Tapi, ini sudah malam." Kibum menimpali.

"Memangnya kenapa kalau sudah malam? Aku bukan anak gadis, aku lelaki sejati hyung." Kyuhyun memasang senyumannya.

"Mau kuantar?" tanya Siwon.

"Tidak perlu hyung, terimakasih." Kyuhyun beranjak dan mulai memakai sepatunya.

"Tapi, aku ingin bertanya padamu." Kibum melangkah mendekati Kyuhyun yang sedang asyik dengan sepatunya.

"Tanya apa hyung?" jawab Kyuhyun sekenanya, seperti tak berminat dengan apapun yang Kibum katakan.

"Kenapa kau memeluk Siwon-hyung, sesuatu terjadi?" tanya Kibum. Kyuhyun yang sudah selesai dengan sepatunya berdiri tegak, memasang senyuman manis untuk kekasih sepupu yang paling ia sayangi tersebut.

"Iya, sesuatu terjadi, hal yang sangat membahagiakanku."

"Apa itu?"

"Lain kali kuceritakan. Sekarang aku harus pulang dulu. Jaa Kibum-hyung, Siwon-hyung." Ia melambai pada Siwon yang berada beberapa langkah dibelakang Kibum. Segera setelahnya ia membuka pintu dan menutupnya sedikit keras.

"Anak itu aneh sekali." Ujar Kibum pelan, di balas gelengan kepala Siwon disertai senyuman anehnya.

"Biarkanlah, ayo istirahat sayang."

-oOo-

Jaejoong mematikan mesin mobil yang dikendarainya. Ia menengok kebelakang dan mendapati Heojun dengan senyuman yang mengembang dibirnya.

"Ah, sampai. Junnie bisa turun sendiri? Mommy harus mengeluarkan barang." Tanyanya pada anak pintar itu.

"Iya, mommy." Heojun segera berdiri dan membuka pintu mobilnya sendiri. Hup, ia meloncat pelan dan menutup pintunya kembali. Ia menghampiri Jaejoong yang tengah berkutat dengan bagasi. "Junnie juga bisa bawa mommy." Heojun menggadahkan kedua tangannya dihadapan Jaejoong.

"Junnie mau bantu mommy?" Jaejoong segera memberikan sebuah tas kecil untuk mengisi ruang kosong ditelapak tangan Heojun. "Nah, Junnie bisa bawa kedalam. Simpan saja diatas meja, lalu pergi kekamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci kaki. Nanti mommy kekamar Junnie untuk membaca cerita ne." Lanjutnya.

"Mommy bersama papa saja, Junnie tidak mau mendengar cerita malam ini." Ujar bocah itu sebelum meninggalkan Jaejoong dengan dua tas belanja lainnya, yang lebih besar tentunya.

Mau tak mau, Jaejoong hanya bisa menuruti Heojun. Ia mungkin kekenyangan, jadi kantuk sudah datang tanpa perlu diundang. Ia mengangkat alisnya dan beranjak membawa barang-barang tersebut. Didalam rumah, ia melihat tas belanja kecil yang dibawa Heojun telah tergeletak rapi diatas meja ruang tamu rumah itu. Ah, Heojun membantunya setengah jalan, ia harus melanjutkannya sampai ia menyimpan barang-barang tersebut di meja makan.

Ia harus kembali lagi untuk membangunkan Yunho yang nampaknya belum beranjak sedikitpun dari posisinya di mobil kesayangannya tersebut. Benar dugaannya, memang Yunho bahkan tidak mengubah satupun posisinya. Apa ia minum terlalu banyak ya?

"Yun~ Jaejoong mengetuk kaca mobil didekat Yunho, namun sama sekali tak ada respon meski ia telah mengeraskan ketukannya. Terpaksa, ia harus menyeret pria dengan tubuh berisi itu. Aih, poor pundak. Kau harus menjadi korban lagi.

Jaejoong segera membuka pintu mobil, ia menepuk-nepuk pipi Yunho untuk membangunkan Yunho. Atau setidaknya, ia harus mendapatkan sedikit, sedikit saja respon dari Yunho.

"Apaaaa~ aku pusing." Bersyukurlah Jaejoong, karena ia memang mendapatkan respon dari Yunho. Pria itu menggeliat dalam keadaan tidak sadarnya. Dengan tenaga yang hampir penuh, ia mengibaskan tangannya mengenai punggung kecil Jaejoong. Membuat pria dengan bibir semerah ceri itu limbung, tapi tak jatuh tentu saja, karena badan Yunho menyangganya.

O-oooow! Apa-apaan posisi mereka ini, seperti bercinta dalam mobil. Heiii, pikiran macam apa itu Kim Jaejoong? Tapi benar juga sih. Yunho duduk walau tak tegak, ia menyender pada jok. Namun, kakinya yang sedikit mengangkang menjadi tempat duduk dadakan untuk Jaejoong. Mereka benar-benar seperti—ah, hati-hati dengan pikiranmu Kim Jaejoong. Kau tak takut Tuhan akan mengabulkan apa yang ada dipikiranmu?

"Ayo bangun, aku tau kau tak tidur, meski kau tak sadar sih." Ucap Jaejoong kesal, ia bangkit dari posisinya dan kembali keluar dari mobil. Kali ini ia tak mau terlalu dekat dengan Yunho, ia tak tahu posisi berbahaya macam apa lagi jika Yunho kembali mengibaskan tangannya. Ia menarik tangan Yunho agar pria itu bisa berdiri. Kemudian memapahnya berjalan menuju kamar mereka, kamar Yunho tepatnya. Hal itu tentu ada sebabnya,kamar itu menjadi kamar mereka jika Heojun kebetulan ingin tidur bersama. Atau, Heojun belum tidur saat ia ingin pergi kealam mimpinya. Pada kenyataanya, jika Heojun terlelap lebih dulu dibanding mereka, Jaejoong pergi kesebuah kamar lain, kamar yang disebut Yunho sebagai kamarnya.

Ia membiarkan pintu kamar Yunho terbuka, ia berpikir akan menutupnya ketika selesai menjadi urusannya malam ini.

Bruk!

Meski Jaejoong menghempas Yunho, tapi suara jatuhnya Yunho tak terdengar keras. Ia juga yakin, bahwa Yunho takkan kesakitan. Toh, ranjangnya sangat empuk, pastilah dapat meredam gravitasi Yunho. Ia membenarkan posisi Yunho, menaikkan kedua kakinya, membuka sepatu dan kaus kakinya. Jaejoong menatap Yunho dari bawah keatas, memastikan apakah Yunho akan nyaman dengan keadaannya. Ah, pakaian hangatnya sebaiknya dibuka saja. Jadi, Jaejoongpun segera melakukan apa yang diperintahkan otaknya.

Begini lebih baik, Yunho takkan kepanasan, takkan kedinginan dan akan merasa nyaman dalam tidurnya. Yunho pasti tidur dengan nyenyak.

Jaejoong mulai akan melangkahkan kakinya untuk beranjak pergi kekamarnya. Sayangnya, ada sesuatu tak mengijinkannya. Tangan Yunho menahannya.

"Eh?" mata bulatnya melebar kaget, ia melirik tangan Yunho sebelum menyentuhnya untuk melepaskan genggaman Yunho pada pergelangan tangannya.

"Tidurlah disini." Ucap Yunho, terdengar dengan nada orang mabuk untuk Jaejoong.

"Tap—" belum protesnya terucap sempurna, ia merasakan genggaman Yunho semakin erat. Dan beberapa detik setelahnya ia merasa dirinya melayang sebelum mendarat disisi Yunho. Hanya berlaku untuk tubuhnya, tidak wajahnya. Karena wajah rupawan itu mendarat tepat diatas dada Yunho.

"Tuan?" Jaejoong membuka suaranya setelah beberapa detik dalam keheningan.

"Hm?" Yunho hanya menggumam, khas orang mabuk.

"Aku harus tidur." Ucapnya lagi.

"Tidurlah." Jawab Yunho singkat.

"Sekarang aku tak bisa tidur." Balas Jaejoong lagi, membuat Yunho memegang bahunya, membuat wajah mereka dalam keadaan sejajar sekarang.

"Lalu, kauuu." Yunho, dengan gaya khas orang mabuk menunjuk Yunho dengan tangan yang tak ia gunakan untuk menahan tubuh Jaejoong. "Mau apa hm?"

Jaejoong menggeleng, sebenarnya ia ingin tidur. Tapi jika Yunho disisinya apalagi dengan posisi mereka, mana bisa Jaejoong tenang dalam tidurnya? Bahkan menutup matanya pun ia takkan mampu.

"Mau aku membuatmu tertidur?" tawar Yunho. Tentu saja dibalas anggukan yang sedikit bersemangat oleh Jaejoong. "Baiklah, kalau kau setuju." Yunho, dengan mata yang dibuat tak fokus menari wajah Jaejoong. Ia mengeliminasi jarak yang sudah dekat itu perlahan. Jaejoong tentu kikuk karenanya, apalagi Yunho entah sengaja atau tidak menghebuskan napas panas dari hidungnya.

Cup~

Sebuah kecupan singkat didaratkan oleh Yunho. Membuat Jaejoong terbelalak. Bukan karena ini ciuman pertamanya, bukan. Yunho sudah sering merebut bibirnya. Hanya saja, setelah Yunho mengatakan bahwa setiap sentuhan yang ia lakukan memiliki keseriusan. Hal ini berarti Yunho tak main-main dengan orang yang disentuhnya. Ia yang sejak awal memiliki perasaan khusus pada Yunho tentu kaget dalam mencerna semua itu.

Sedangkan Yunho, tak peduli Jaejoong sedang apa dan memikirkan apa segera melahap bibir itu lagi. Ia menutup matanya, namun tangannya yang sedang memeluk Jaejoong mengetahui bahwa tubuh itu tersentak sedetik setelah ia kembali menawan bibir Jaejoong.

Jaejoong memang kaget terhadap pertemuan bibirnya dan Yunho yang kedua ini, tapi Yunho yang sepertinya bermain semakin intens membuatnya menutup mata. Yunho yang mengetahui hal tersebut membuka matanya. Mata kecilnya terlihat begitu tajam, tak terlihat sayu seperti orang yang sedang mabuk. Hng~ nampaknya Heojun tak memberitahu Jaejoong, bahwa minuman beralkohol rendah yang dibeli Yunho hanya menghilang seteguk dari netto awalnya.

-oOo-

Dengan harap-harap cemas, Kyuhyun terus menekan bel apartmentnya dengan Changmin. Ia tak sabar menunggu pintu itu terbuka. Bodohnya ia, ia marah pada Changmin sebelum mengetahui password apartment tersebut. Jadilah ia harus menekan-nekan bel seperti ini.

Pintu terbuka, menampilkan Changmin dengan tampilan yang kacau namun, euh—berbeda. Kaosnya hilang kemana lagi dicuaca dingin seperti ini. Semoga saja Changmin menyalakan pemanas ruangannya.

"Kau Kyu~" Bukan hanya Jung sulung yang terlihat mabuk. Jung bungsupun sama, walau ditempat berbeda.

"Iya. Aku ingin memberimu sebuah berita besar." Ujar Kyuhyun bersemangat. Ia melangkahkan kakinya memasuki apartmentnya, membiarkan Changmin menutup pintunya kembali.

"Berita bahwa kau sudah bahagia bersama orang yang mencintaimu itu? Bahagia dengan selingkuhanmu hm?" Changmin mengatakannya dengan nada mengejek.

"Eh, apa maksumu?" tanya Kyuhyun. Membuat Changmin terkekeh miris.

"Apa maksudku? Kekeke~ kau pasti mengetahuinya. Kyu, jangan kau pikir kau bisa datang dan pergi seenaknya. Aku, tak mengijinkanmu." Ujar Changmin membuat mimik heran merajai wajah Kyuhyun.

"Aku tidak mengerti Min." Ujarnya singkat, dengan sejujur-jujurnya. Memang kapan ia selingkuh? Ia hanya bermalam dirumah Siwon. Itupun seperti menjadi obat nyamuk atau selai kacang diantara roti untuk Siwon dan Kibum.

Tapi, Changmin nampaknya tak mau mengerti. Ia dalam keadaan kurang sadar, mengingat alkohol yang ditenggaknya lebih dari seteguk serta emosi yang menyelipkan kecemburuan berakumulasi pada,

Bruk!

"Ahhh~" Kyuhyun meringis ketika Changmin dengan tiba-tiba mencengkeram lengannya dan menabrakkannya ke dinding. Membuat ia terpenjara dalam kungkungan lengan yang terlihat sangat kokoh milik Changmin.

"Kau akan menerima hukumanmu. Hukuman yang membuatmu takkan pernah berpikir untuk pergi dariku."

Sebenarnya, apa yang terjadi pada gen Jung ya? Tidak kakak, tidak adik. Dua-duanya menghempas seseorang yang berada dalam jarak terdekat dengan mereka dan menawan bibir merah milik mereka. Apakah darah yang mengalir dalam tubuh para Jung ini sedang bergejolak ya? Sehingga terjadi dalam waktu yang bersamaan seperti ini.

"Minhh~" Kyuhyun meronta, bukan bermaksud menolak sentuhan Changmin. Tapi, ia sangat berharap. Sebelum ia terbuai untuk pergi kepuncak ketinggian bersama Changmin nanti, ia sudah menyampaikan berita besar yang ia dapatkan di pusat perbelanjaan tadi.

Changmin terlihat kesal, namun ia tak marah. Ia hanya melepas tawanan bibirnya tanpa melepaskan pegangannya pada lengan Kyuhyun. Sungguh, Changmin takkan membiarkan Kyuhyun beranjak dari sisinya sedikitpun. Terutama malam ini.

"Apa?"

"Aku bilang, aku punya berita besar. Kau pasti senang mendengarnya." Ujar Kyuhyun membuat Changmin mendelikkan matanya sebal.

"Tentang selingkuhanmu? Kau akan pergi bersamanya? Kau pikir aku akan membiarkannya? Jangan harap." Ujar Changmin datar, membuat Kyuhyun terpaku. Selama waktu yang mereka habiskan berdua, Kyuhyun tak pernah mendengar nada seperti ini terucap dari bibir Changmin. Biasanya bibir tipis itu akan berkata dengan riang atau penuh dengan nada ketertarikan. Apalagi jika membicarakan nunna-nunna bersiluet S ditubuhnya. Ih, Kyuhyun jadi sebal mengingatnya.

"Bukan." Awalnya, Kyuhyun mungkin akan gugup ketika melihat tatapan tajam yang diberi Changmin. Tapi, mengingat bahwa dulu Changmin sangat menggilai nunna-nunna yang lebih tua darinya dan memiliki siluet S itu mengenyahkan kegugupannya. Ia sebal pada selera Changmin sebelum menikahinya itu.

"Lalu?" Changmin mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun, "Apa?"

"Ini tentang—hmpp~" cukup, Changmin tak lagi peduli. Ia sudah membuang banyak waktu untuk ocehan Kyuhyun. Kali ini, ia harus berbuat sesuatu. Sesuatu yang akan membuat Kyuhyun takkan bisa pergi darinya.

"Ah, aku merasa jika melakukannya disini takkan nyaman. Apalagi untukmu, punggungmu akan sakit nanti, kau juga akan kedinginan." Changmin melepas lumatannya. Ia beranjak kembali ke pintu untuk menguncinya, membiarkan Kyuhyun memerosotkan diri dengan napas memburu. Tapi, belum sampai pantatnya menyentuh lantai, Changmin menahannya. Changmin menyangga daerah bawah lututnya yang menyebabkan Kyuhyun tak merasakan dinginnya lantai. Sebelah tangannya lagi melingkari leher Kyuhyun. Dan dalam satu hitungan, ia membawa suami submissivenya dalam gendongan a la bridenya.

Sepertinya, kedua Jung akan membuat malam yang panjang pada malam ini.

-TBC-

Ehehe, haiiii~ maaf atas tulisan yang awut-awutan-?- di chappie kemaren. Biasanya aku nulis lewat hp. Perpindahan sarana bikin aku agak kikuk. Aku udah edit, tapi file yang udah di edit corrupt TwT. Harus ngedit ulang tapi belum download filenya :pa

By the way, aku pengen ngasih saran. Kan kalian udah tau tuh Mommy dan Papa hubungannya gimana melalui Legacy or Love. Jadi, disini kalian coba nempati diri sebagai Jaejoong deh. Pura-pura gx tau kalo mereka udah nikah gituuuuu, biar greget :p nanti ada saatnya kok dia tau.

Oh ya, gomeeeeen. Untuk salah seorang reader ini ff yang tanya penyebab mommy amnesia,dan aku janjiin di chapter empat atau lima ternyata aku salah prediksi. Mungkin, mungkin ya. dua atau tiga chapter didepan baru bakal ada flashback-flashback mengenai itu.

Untuk yang bilang ini ff jaman batu atau jaman Joseon-?-(singkatnya sih bilang kalo aku updatenya ngaret banget) ehehe peaceeeeee (^o^)v hape yang biasa dipake ngetik eror. So, aku juga harus bersabar memendam luncuran kata-kata untuk menjadi ffnya *jiah*. Jadi, mari sama-sama bersabar ya. Colek : PhantomMiRotiC, meirah.1111

Well untuk guest yang pusing dan entah baca atau gx, sorry yee aku buat dikau pusing. Nanti aku beliin obat pusing. Tapi, bertele-tele itu kubuat supaya chapternya panjang. Karena my beloved readers minta supaya aku panjangin ffnya, dan memperlambat alurnya. So, sorry kalo bikin kamu pusing, kasih alamatmu supaya aku bisa kirim obatnya. Jangan bersembunyi dibelakang nama guest dong. Kalo kamu author atau sekalipun hanya reader, coba kasih saran yang membangun, gimana tuh bahasa yang bikin gx pusing. Okay, dont be a loser ;p

Untuk yang minta dilanjut dan penasaran, aku lanjut nih :3 *sodorin chappie 5 ke ghoticlolita89, christty, Gyujiji dan Cassiper Jung*. Maaf lama ya Girrafe, selanjutnya aku usahin cepat. Aku juga berharap salah paham ini berbuah manis *toel noviuknow* hnggg~ Kyuhyun pelukan sama jeje? Masa? *mikir sambil lirik-lirik 3kjj* well, huijiae ada baiknya kamu baca terus supaya kamu lebih intelek daripada yang lulusan S3 di Amerika :p *modus* yaaaa~ kayak cax, hebat bisa nebak itu Changmin. Intelek deh *senyum lima jari*

Yang belum sempet ngetik di kolom review, makasih loh. Udah baca ff punyaku :3

Untuk reader lain, aku minta saran, kritik dan pendapat. FF aku dimana bagus dan kurang bagusnya. Tulis di kolom review ne. Tulis juga di review, ini ff baiknya gimana? Aku pake alur ngebut kayak LoL atau alur lambat? Lanjutkah? Deletekah? Atau hiatusin aja *plak*

Sangkyuu

O-Cyozora