Pagi ini terasa asing untuk Heojun. Mengapa asing? Karena ia tidak mendapati tepukan halus dipipinya, tak ada juga goyangan-goyangan pelan ditubuhnya. Padahal, perasaan-perasaan ketika seseorang melakukan hal tersebut padanya sudah familiar untuknya. Rutinitas yang akan membuatnya merasa sangat aneh ketika tak mendapati hal-hal tersebut. Ia bangun dari posisinya, menoleh kekanan dan kekiri. Aneh, bahkan, tak ada teriakan lembut yang sampai ditelinganya. Padahal, ia yakin jam digital yang mencetak angka 07.07 didekat lampu tidurnya tak error.

Teriakan lembut yang akan ia dengar jika mommy-nya sedang sibuk karena suatu hal, misalnya papa yang harus didahulukan karena akan berangkat pagi karena suatu urusan. Tapi, kali ini tidak ada, sama sekali tak ada. Kemana mommy-nya pergi?

Rasa panik langsung menjalari syaraf-syaraf otaknya. Dan membuat perintah pada tubuhnya untuk berlari. Ia harus bertanya pada papa. Tak peduli lantai marmer yang terasa dingin di telapak kakinya, kaki-kaki kecil Heojun terus berlari menuju kamar papanya. Jika ia saja tidak dibangunkan Jaejoong, mana mungkin pria bermata musang itu sudah bangun. Jadi, ia sangat yakin jika papanya masih berada dikamarnya.

Heojun membuka pintu kamar Yunho pelan, bukan karena takut membangunkan Yunho. Tapi, karena tenaganya belum cukup untuk membanting pintu keras-keras jika sekalian menarik pegangan pintu untuk membukanya.

Matanya melebar, mommy-nya, sedang tertidur pulas dengan selimut yang melindunginya dari terpaan udara dingin, tanpa ada papa disisinya. Namun, suara kucuran air dari kamar mandi dapat membuat Heojun berpikir, Yunho sedang mandi. Jadi ia putuskan untuk kembali ke kamarnya. Ia juga harus mandi, ia harus pergi kesekolah.

Senyuman tampan bertengger di bibir penuh tersebut. Sebab, hari ini mommy dan papa benar-benar tidur bersama. Mommy tidak pergi kekamar sebelah, meski Junnie tidak bersama mereka.

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-Cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 06

ENJOY~

-oOo-

"Apa?!" hampir saja roti isi buatan istrinya berhamburan dari mulutnya. Ia jelas kaget, benar-benar kaget. Ia tak yakin istrinya berbohong, tapi sangsi dengan apa yang dikatakan oleh bibir tipis kekasihnya dalam ikatan pernikahan tersebut. Apa, Kyuhyun berhalusinasi?

"Kau sedang makan tahu, jangan berteriak!" Kyuhyun yang sedang asyik menekan-nekan sandwichnya di pan mendelik sebal.

"Tapi, tapi. Kau aneh Kyu." Changmin meraih segelas air yang juga telah disediakan Kyuhyun. Matanya tak berhenti menatap Kyuhyun. Bukan karena ia sangat jatuh cinta pada pria pucat itu, ia baru mulai mencintai Kyuhyun ingat?

"Aneh apanya?" Kyuhyun meletakkan penjepit yang ia gunakan ketika membalikkan sandwich. Ia meraih ujung celemek warna biru yang dipakainya untuk mengelap tangannya yang terasa berkeringat. Meski hampir lima tahun ia terus menyentuh peralatan dapur, agaknya ia masih belum terbiasa dengan semua itu. Jika saja Changmin bukan seorang yang hampir menyamakan dirinya dengan makanan, Kyuhyun tentu malas berurusan dengan dapur. Tapi, hatinya memenangkan pertaruhan, karena Kyuhyun sudah jatuh dalam pesona Changmin bahkan, saat Changmin masih amat memuji-muji nunna-nunna bersiluet S.

"Kau kan tahu, apa yang terjadi pada hyung. Sekarang kau bilang, kau melihatnya? Apa itu mungkin?"

"Memang mungkin. Mataku tidak salah lihat Min?" Kyuhyun mengambil kembali penjepitnya. Ia mengangkat sandwichnya dan meletakkannya kesebuah piring. Changmin berdiri dan menghampirinya saat Kyuhyun mencuci penjepitnya. Baru saja ia meraih sebuah serbet untuk mengeringkan benda yang dipegangnya, Changmin meraih kedua bahunya, sehingga membuatnya hampir melemparkan penjepit itu karena kaget.

Perlahan-lahan Changmin mendekatkan wajah mereka. A-ah~ Kyuhyun refleks menutup matanya dan membuka sedikit bibirnya, berpikir untuk memberikan akses pada Changmin yang akan menciumnya.

"Memang tidak." Ucapan dua kata Changmin membuat Kyuhyun yang sedang menanti bibir Changmin membuka matanya. Ahaha, wajahnya serta merta memerah. Apa yang ia pikirkan barusan? Hueh, membuat malu saja.

"Ti-tidak apa?"

"Mulutmu tidak bau alkhohol. Mana mungkin kau berhalusinasi." Ujar Changmin santai.

Pletak!

Eh?

"Aw! Apa yang kau lakukan Kyu?" Changmin mengusap-usap kepalanya yang bersentuhan keras dengan benda yang dipegang Kyuhyun. Nampaknya Kyuhyun geram. Changmin tak percaya pada perkataannya yang 100 persen jujur. Mana ia menuduh Kyuhyun mabuk lagi, menyebalkan.

"Kau yang mabuk, aku tidak. Dasar bodoh." Kyuhyun melepas celemeknya kesal.

"Tapi kan,"

"TAPI APANYA?!" Teriak Kyuhyun gusar. Membuat Changmin menghentikan kalimatnya. Kyuhyun mode tersinggung seram juga ya.

"Baiklah, baiklah. Jika perkataanmu benar, aku akan beritahukan pada hyungku." Ujar Changmin, berharap perkataannya menghilangkan rasa tersinggung yang mendera Kyuhyun. "Lagipula sangat menyenangkan jika kau benar. Aku akan memakan makanan enak lagi. Yehehehe~" Tambahnya riang.

Pletak!

Lagi?

"Aw!" hahaha, Changmin mengusap-usap kepala belakangnya lagi. Kapan Kyuhyun mengambil benda itu lagi? Seingatnya Kyuhyun sudah meletakkannya di rak sesaat sebelum melepas celemeknya tadi.

"Memangnya masakan buatanku tak enak?" o-oww, Kyuhyun tersinggung. Lagi. Bagaimana tidak, bersusah-susah ia belajar memasak, belajar menjadi istri yang baik agar Changmin tidak menyesal terlalu dalam karena menyerahkan cincin pernikahan yang didesain sendiri oleh pria jangkung itu ke jari manisnya, bukan kepada salah seorang dari nunna-nunna yang sangat disukai Changmin.

"Eh, itu maksudnya—" Changmin berpikir sebentar. Akan sangat buruk jika jawabannya tidak menghilangkan rasa tersinggung istrinya. Lebih baik ia—"Ayo kekamar. Kau istirahat saja, aku mau mandi dulu." Bergegas menggedong Kyuhyun yang pagi ini bermasalah dengan langkahnya.

-oOo-

"Hyung!" ah, suara yang sangat dihapal Yunho tedengar, disertai derap langkah yang sangat cepat. Yunho tak peduli, ia yang sedang memakaikan kaus kaki pada kaki mungil putranya terus mengerjakan kegiatannya. Ia tahu, Changmin yang akan menemuinya. Apalagi, jika suaranya terdengar sangat nyaring seperti itu. Hhh~ anak itu bersikap seolah kemarin ia tak datang dengan suasana mendung yang menyertai tiap langkahnya.

"Ada apa?" benarkan? Changmin tiba dihadapannya dengan wajah yang sumringah. "Tadi, Kyu mengat—"

"Jadi kau sudah tak bermasalah lagi dengannya?" Yunho menyela omongan Changmin.

"Tidak sih, tapi belum benar-benar selesai. Setidaknya Kyu bisa kuajak berbicara dengan kepala dingin nanti." Ungkapnya, melupakan topik yang seharusnya ia bahas.

"Oh, baguslah." Yunho yang selesai dengan sepatu Heojun menepuk pucuk kepala anak itu.

"Aaaa~ keponakanku tampan sekali." Changmin berlari kecil kearah Heojun yang awalnya tak begitu ia perhatikan karena seluruh perhatiannya terfokus pada sang kakak. ia berlutut, menyamakan tinggi dengan keponakannya itu.

"Ohayou, Jussi." Heojun sedikit mengerenyit setelah mengatakannya, Changmin mencubit pipinya. Pelan memang, tapi tak langsung dilepas.

"Panggil Hyung saja, lebih keren." Ucapnya, semakin jauh dari bahasan yang membuatnya datang lagi kemari, tanpa melepaskan cubitannya yang tak terasa sakit itu.

"Lepaskan pipinya Min, kau akan membuat anakku yang tampan bernoda merah nanti."

"Apa maksudmu sih Hyung." Gerutu Changmin.

"Lagipula kau memang pamannya. Bukan kakaknya." Tambah Yunho.

"Ah, menyebalkan. Aku kan hanya ingin dipanggil Hyung saja. Tak ada yang memanggilku Hyung tahu." Iris Heojun berpindah antara Yunho dan Changmin. Ia lelah mendengar ocehan papa dan pamannya.

"Ne, Hyung. Junnie harus berangkat. Nanti Junnie dihukum sensei." Jadi ia menuruti keinginan Changmin. Jika tidak, hal ini takkan berakhir. Bisa-bisa, ia terlambat nanti. Pemikiran yang cerdas dari bocah yang belum genap berumur enam tahun itu.

Changmin melepaskan cubitannya, bersambut dengan senyuman yang amat lebar. "Anak pintar. Kau menuruni sifat cerdasku." Ujarnya percaya diri saat menepuk-nepuk pelan kepala Heojun.

"Junnie masuk ke mobil duluan ne, papa akan menyusul setelah memakai sepatunya." Yunho menunjuk sepatu didekat kakinya.

"Ha'i" Heojun pun melangkah keluar diiringi tatapan Changmin. Ia senang mengetahui bahwa keponakannya itu benar-benar mewarisi sifat Jung, tentu sifatnya yang pintar itu. Menurut pemikiran sepihaknya, padahal dilain sisi. Yunho sangat tidak berharap Heojun mewarisi satupun sifat Changmin. Tapi, untuk sifat cerdas, fine lah.

"Akhirnya, ada yang memanggilku 'hyung'" ujar Changmin bangga. Yunho yang tengah memakai alas kakinya untuk kekantor itu mendelik.

"Dengan pemaksaan?" ejek Yunho.

"Yah, sedikit sih." Changmin tak menyangkal. "Tapi, aku kan masih muda. Masih pantas jika Heojun memanggilku seperti itu. Oh, ya. Kau mau pergi ke kantor ya? Padahal aku ingin mengobrol denganmu. Kau kerjakan dirumah sajalah, jangan pergi ke kantor. Seperti kemarin."

"Sayang sekali, berkas yang kemarin kukerjakan adalah berkas untuk meeting penting hari ini. Jadi, aku tak bisa menemanimu mengobrol." Yunho selesai dengan sepatu hitamnya. "Sebaiknya kau pulang saja Min. Selesaikan bulan madumu. Appa pasti kerepotan mengurus semua pekerjaan di Korea sana." Tambahnya.

"Kau pelit sekali Hyung, waktuku dan Kyuhyun masih panjaaaaaaaang, tahu. Appa juga mengijinkanku. Memangnya kau, memaksa pergi tiba-tiba tanpa persiapan apapun. "

"Itu karena ada kau disana, jadi biar kau yang terus diseret appa ke kantor. Lagipula kau telah memiliki Kyuhyun yang harus kau nafkahi. Jadi, bekerjalah dengan baik, jangan hanya menyiuli nunna-nunna seksi yang berkeliaran di sekitar kantor."

"Yah, hyung. Aku tak seperti itu lagi!" okey, baiklah. Memang sebaiknya kita tinggalkan saja kakak beradik yang baru menemukan momen baik untuk mengobrol yang disertai dengan perasaan baik setelah bertahun-tahun berlalu ini. Biarkan saja mereka saling melempar kata-kata diruangan sana.

Berpindah kekamar Yunho yang sebenarnya tak begitu jauh dari keributan yang dibuat oleh dua penerus Jung ini seseorang yang tengah merasakan pelukan hangat dari selimut lembut ini merasa sedikit terganggu. Yap, karena ocehan dua orang yang masing-masing tak mau kalah diluar sana. Jadi, meski ia sangat amat ingin melanjutkan tidurnya, tapi ia terpaksa membuka matanya.

Cahaya matahari yang menelusup masuk membuatnya tersadar. Ini mungkin sudah siang, dan ia belum membangunkan Heojun dan Yunho. Ah, sial. Kenapa ia bisa teridur sangat pulas sih? Mana badannya terasa pegal lagi. Ia harus cepat bangun!

Jadi, ia segera menyingkap selimutnya sebelum dengan terburu-buru berdiri, hendak beranjak dari kasur yang terasa lebih empuk daripada waktu yang lalu-lalu. Bahkan kemarin malam saja belum senyaman ini.

"Ahh~" belum sampai lima langkah. Ia merasa Janggal. Bukan hanya kakinya yang terasa dingin karena menyentuh lantai tanpa alas. Tapi, seluruh bagian tubuhnya terasa dingin. Seolah angin tak terhalang oleh apapun ketika menuju kulitnya. Badannya terasa pegal. Ia meraba bagian bawahnya dengan tangan kiri serta mengusap pinggangnya yang terasa mau copot dengan tangan kanan. Kenapa bagian yang disentuhnya dengan tangan kiri terasa sakit dan sedikt perih? Dan hei, kalo diperhatikan ini bukan kamarnya. Lemari pakaiannya memiliki dua cermin. Sedangkan yang ini, ada tiga. Ia yakin matanya tak memiliki kelainan silinder. Sehingga membuat benda yang dilihatnya berbayang. Kalaupun iya, seharusnya ada empat, bukan tiga. Ah, jangan bercanda. Lemari seperti itu adanya dikamar Yunho. Bukan kamarnya.

Dengan mata tertutup, saat ia meresapi rasa sakit dari bagian bawahnya ketika berjalan. Ia mendekati lemari berpintu cermin itu. Ia hanya ingin memastikan, cermin yang satu lagi hanya sebuah ilusi atau bukan dengan memegangnya.

Plap!

Ia benar-benar menyentuhnya. Masih dengan mata tertutup, ia menghitung jumlah ruang kecil yang terasa tidak selicin cermin yang berarti ruang tersebut adalah penyekat antar pintu. Benar-benar ada dua sekat, ini benar tiga cermin? Berarti matanya sama sekali tak salah.

Iapun membuka matanya. Segera ia menoleh kesebelah kirinya, menjelajahi seluruh ruangan dengan irisnya dan mendapatkan kesimpulan bahwa ia memang tidak sedang berada dikamarnya. Ia kembali memfokuskan pandangannya kepada cermin yang tertempel dipintu lemari. Matanya yang sudah bulat semakin membulat beberapa detik setelah ia melihat bayangannya yang terpantul oleh cermin. Bagaimana ia tidak kaget? Ia menelisik bayangannya lebih jauh lagi untuk kemudian mendapati fakta bahwa, bahwa ia—telanjang.

"Aaaaaa~!"

Permainan berbalas kata antara Yunho dan Changmin terhenti ketika mendengar suara laki-laki, namun terdengar lembut dan dalam mode berteriak. Yunho sih, terlihat tenang saja dengan hal itu. Meski ia yang sedari tadi duduk kini berdiri dan mengambil tas kerjanya. Tak terlihat panik, hanya saja semua gerakannya terlihat lebih gesit dari biasanya.

Changmin yang merasa mengenal suara itu menatap kakaknya dengan pandangan penuh tanya seraya menunjuk kearah asal datangnya suara.

"Siapa—?"

"Sebaiknya kita pergi, atau hari ini akan menjadi sangat-sangat panjang." Yunho mengambil langkah yang panjang. Meninggalkan Changmin yang sedang mencocokkan nama yang keluar dari mulutnya dengan suara yang terekam dalam otaknya tadi. "Jika kau tetap disana, aku tak mau bertanggung jawab Min." Tambahan yang diucapkan Yunho menyadarkan Changmin. Pria yang lebih tinggi beberapa senti dari Yunho itu begidik. Jika Yunho yang sebelum menikah dengan ibunya Heojun itu bisa melakukan apapun bahkan hal ekstrim serta tak menakuti apapun berkata seperti itu. Maka ia, meski ia disebut kakak iparnya sebagai iblis atau monsterpun harus ikut kabur. Kadar bahaya menurut hyungnya takkan jauh beda dengan signal bahaya miliknya.

-oOo-

"Kau terlihat senang boss?" suara Kibum mengagetkannya ketika menunggu lift yang sedang turun

"Ahaha, i—" padahal hanya huruf y dan a yang akan ia keluarkan, sayangnya terintrupsi oleh deringan kecil dari ponsel putih yang dipegang sekretarisnya yang manis tersebut.

"Tunggu sebentar boss." Kibum melihat layar ponselnya. Dilayar yang tak luput dari penglihatan Yunho itu, sang boss melihat potret seseorang yang ia kenali sebagai orang yang menghubungi sekretarisnya.

"—ne, iya. Aku mengerti, sayang. Bye~" eh, tahu-tahu Kibum sudah berada diujung obrolan, apa karena ia sedang asyik bergulat dengan pikirannya? Apa ya, yang mereka bicarakan tadi?

"Telepon dari siapa? Kekasihmu?" tanya Yunho tenang, walau sebenarnya batinnya merasa was-was atas jawaban yang ia tunggu untuk keluar dari mulut Kim Kibum.

"Iya." Pantas saja, setelah melihat poto yang terpampang di layar ponsel Kibum tadi membuatnya mencari ingatan tentang apa yang membuatnya merasa tak suka pada pria berlesung pipi itu. Nampaknya, sekarang ia ingat—

"Boss nampaknya aku meninggalkan satu map dimobilku. Aku akan mengambilnya dulu." Pamit Kibum yang langsung membalik langkahnya. Meninggalkan Yunho yang berhadapan dengan pintu lift yang terbuka.

—bahwa pria yang tampan itu yang telah...

"Sialan, ia memacari istriku, adik iparku dan sekretarisku. Semuanya? Ia memacari semuanya?" ujarnya geram. O-ow, nampaknya akan ada sesuatu di chapter depan.

Tbc? Belum~ memang akan terjadi sesuatu di chapter depan, tapi chapter ini masih berlanjut. Mari kita lanjutkan pada pemuda jangkung yang serta merta kabur dari rumah kakaknya.

Shim Changmin tengah menempelkan ponselnya pada telinga kiri. Sedang menunggu jawaban dari ujung ponsel yang dihubunginya.

"Bagaimana? Apa Yunho-hyung sudah mengetahuinya? Apa mungkin aku salah ya? Ah, padahal aku sudah sangat senang." Cerocos orang di seberang sambungan, padahal Changmin belum mengatakan apapun. Aih, aih. Memang tak ada uke yang tak cerewet. Itu menurut Changmin lho~

"A-anu Kyu, aku belum sempat menanyakannya pada hyung." Ujar Changmin lemas. Ia berharap dengan nada seperti itu, Kyuhyun tak ngambek padanya .

"Oh, ara. Kalau begitu aku masih bisa berharap."

"Eh? Kenapa seperti itu?"

"Ada kemungkinan dugaanku benar. Dan jika iya, aku bisa belajar memasak darinya."

"Waaaah, kau sungguh-sungguh? Memang kau tak merasa gerah saat memasak? Sebaiknya tak perlu. Nanti aku akan meminta appa menyediakan koki untukku saat kembali ke Korea nanti."

"Aish, kau sialan. Nanti kau akan lebih menyukainya dibandinganku."

"Akan kuminta koki laki-laki, bukan nunna-nunna." Nah, ah~ Changmin belum sepenuhnya berubah ternyata.

"Aku juga laki-laki. Apa bedanya?"

"Kau kan bukan koki."

"Ya! Cepat pulang, akan kuhajar kau nanti."

"Ah, seharusnya kau jangan memberitahu aku. Aku takkan pulang. Aku tak mau dihajar. Dadah~" Changmin memutuskan sambungan teleponnya. Ia terkekeh. Merasa setidaknya keadaan hubungannya dengan Kyuhyun kembali ke masa-masa mereka berteman secara perlahan. Ia membuka galery di ponselnya. Menatap seseorang, silahkan jika mau disebut nunna-nunna. Karena, memang nunna berwajah elok yang sama persis dengan potret yang ia lihat dilayar ponselnya itulah yang membuatnya sering ber-affair dengan wanita cantik yang lebih tua darinya.

Ia menyalakan kembali mesinnya dan memacu roda mobilnya kearah apartmennya dengan Kyuhyun. Dengan suasana seperti ini, mungkin ia akan menyelesaikan masalahnya dengan amat mudah.

-oOo-

"Ah~! Sebenarnya apa yang kulakukan semalam?" tanya Jaejoong frustasi. Ia duduk menyender pada pintu lemarinya yang juga terlapisi cermin. Ia tak menyangka, pikirannya tentang bercinta saat ia jatuh ke pangkuan Yunho benar terjadi. Jika tahu Tuhan akan mengabulkan doanya, ia akan meminta ingatannya kembali saat itu. Aish~

Heojun dan Yunho tak ada saat ia bangun. Belum melihatnya sama sekali untuk hari ini. Mungkin keributan yang membangunkannya tadi adalah ulah pasangan ayah dan anak itu.

Ngomong-ngomong tentang semalam. Baginya, Yunho sangat berpengalaman dalam melakukannya, padahal mereka berdua sama-sama lelaki. Apa Yunho membuatnya seperti perempuan semalam? Oh, tidak-tidak. Ia sangat berharap itu tak terjadi. Meski ia yang dirasuki semalam, ia berharap masih bersikap cukup jantan semalam. Tapi, dirasuki~ itu sudah menghilangkan kejantanannya bukan? Stop! Kali ini ia bicara ngawur. Jelas, jelas benda kebanggannya sebagai lelaki masih ada ditempatnya. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa benda itu hilang? Paboya.

Ia masih ingin memikirkan tentang hal itu jika saja telepon rumah milik Yunho tidak berdering. Ia melangkahkan kakinya pelan, berharap deringan itu tidak berhenti sampai ia menjawab panggilannya. Eng~ Jaejoong merasa aneh, rasa sakit karena hal yang ia lakukan dengan Yunho semalam lebih terasa saat ia berjalan. Tapi, rasa sakit ini~ rasanya bukan hal yang baru untuknya. Ini pertama kalinya Yunho benar-benar melakukan sentuhan menyeluruh untuknya sejak Heojun ia rawat. Tapi, entah mengapa Jaejoong sangat yakin, jika ini bukanlah kali pertama ia melakukannya. Dejavu?

"Hallo?" Jaejoong menjawab panggilan itu dengan pikiran yang masih berkecamuk. "Oh, Junnie sudah pulang? A-ano, Ayuri-san, aku akan menjemputnya sebentar lagi. Bisa tolong jagakan Junnie sebentar? Aku akan langsung berangkat." Ia segera meletakkan gagang telepon. Ia meneruskan langkahnya untuk pergi menjemput Heojun.

-oOo-

"Mommy~" Heojun melambai dari ayunan yang didudukinya begitu melihat Jaejoong memasuki halaman dari gedung sekolahnya yang tak jauh disisi kanannya terdapat taman bermain, pemandangan yang tak aneh untuk halaman yang menjadi teritorial sebuah taman kanak-kanak.

"Lho? Junnie sendiri? Dimana Ayuri-sensei?" Jaejoong mendekati Heojun. Anak itu asyik mengetukkan sepatunya ke pasir dibawah ayunan.

"Tadi ada bersama Junnie, tapi sensei kembali kedalam. Sepertinya sensei melupakan sesuatu." Jawab bocah itu.

"Oh, ah~ ayo cari Ayuri-sensei. Kita harus berterimakasih karena sensei menjaga Junnie tadi." Jaejoong mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh putra asuhnya itu.

"Junnie bos—ah, Jaejoong-san sudah tiba? Maaf saya meninggalkan Junnie sebentar. Saya khawatir membuat Junnie merasa bosan. Jadi saya terburu-buru." Baru Jaejoong berbalik sebelum akhirnya akan melangkahkan kaki untuk mencari gadis jepang dengan marga Yamano tersebut, namun suara yang berasal dari arah belakangnya tersebut membuatnya tersenyum.

"Tak apa, sensei." Jawabnya, "Terima kasih karena telah menjaga Junnie untukku. Kami permisi." Jaejoong menundukkan badannya.

"Ano, Jaejoong-san. Ini ada pemberitahuan tentang darma wisata. Kau bisa membacanya, aku ambilkan karena kau tidak mengantar Junnie sekolah tadi pagi." Ayuri memberikan selembar pamflet pada pria itu dengan sebuah senyuman manis yang bertengger dibibir merahnya.

"Oh, ne. Domo arigatou, sensei. Kami permisi." Jaejoong kembali menundukkan kepalanya setelah mendapat anggukan dari wanita cantik tersebut. Ia melangkah keluar dari sekolah yang akan meluluskan Heojun tak lama lagi itu.

"Ah, itu taksinya. Ayo pulang Junnie." Jaejoong menggandeng Heojun saat melihat sebuah taksi berhenti.

"Mommy, kita akan ikut?" tanya Heojun seraya menatapnya ketika ia memasukkan Heojun yang disusul oleh dirinya sendiri kedalam jok belakang taksi.

"Tentu, ini akan menyenangkan. Papa juga pasti mengijinkan." Jaejoong mengusap rambut Heojun. "Mommy terbangun siang sekali. Untung saja Junnie sudah bangun. Maaf, mommy tidak membangunkan Junnie ya. Junnie terlambat tidak tadi pagi?"

"Ung~ mommy dan papa tidur bersama semalam. Memang harus begitu, mommy dan papa kan suami istri. Junnie datang pagi-pagi. Papa yang mengantar Junnie. Lagipula, mommy terlihat sangat nyaman, jadi Junnie tidak bangunkan. Hehehe~" Ujar bocah itu membuat Jejoong gelagapan.

"Ju-Junnie mengetahuinya?"

"Iya." Jaejoong tak mengetahui jika sudah menjadi kebiasaan untuk Heojun bangun tengah malam. Awalnya, bocah tersebut berpikir Jaejoong dan Yunho memang tidur bersama. Tapi, saat ia terbangun tengah malam karena mimpi buruk dan ingin tidur bersama kedua orang tuanya, Heojun memasuki kamar Yunho dan ia tak melihat mommynya disana, padahal ia sangat ingin dipeluk oleh mommy. Ia mencari Jaejoong dengan panik. Di kamar mandi Yunho tak ada, di ruang tengahpun tak ada, mustahil berada didapur pada hari sedini ini dan akhirnya, ia malah mendapatkan Jaejoong tertidur pulas disebelah kamar Yunho. Padahal, pada hari itu mommy dan papanya terlihat baik-baik saja. Sejak itulah, Heojun terus terbangun setiap malam. Biasanya ia akan mengintip kamar dimana Jaejoong tidur. Ia sungguh tak ingin Jaejoong menghilang. Karena kata papa, mommy pernah meninggalkan mereka. Ah, pemikiran orang dewasa tak sama dengan cara berpikir Heojun. maka kesimpulan yang Yunho dan ia tanamkan pun berbeda. Junnie menyalah artikan apa yang disebut meninggalkan oleh Yunho.

Yah, kembali disebutkan. Bahwa pemikiran anak kecil dan orang dewasa itu berbeda, kali ini bukan Heojun yang salah mengartikan. Orang dewasa yang ada disampingnyalah yang salah paham. Maksud Heojun kan tidur bersama yang sesungguhnya. Jaejoong dan Yunho yang tidur dalam ranjang dan selimut yang sama. Namun kali ini pikiran Jaejoong yang terlalu jauh, walau bukan salahnya sepenuhnya. Karena Yunho, memang tidur bersama dalam arti lebih dengannya semalam.

"Mommy?" Heojun mengguncang bahu Jaejoong pelan. Habis, Jaejoong tak memberinya respon. Jaejoong gelagapan begitu melihat mata besar Heojun mengarah padanya. Jangan katakan, sungguh jangan mengatakan jika Heojun melihatnya melakukan 'sesuatu' dengan Yunho semalam.

"I-iya?"

"Mommy terlihat pulas. Jadi papa tidak membangunkan Mommy. Junnie mandi sendiri lho. Papa yang memakaikan seragam tapi, hehehe." Junnie mengulangan kalimat yang agaknya tidak Jaejoong dengarkan sepenuh hati.

Pyuuuuuh~ jika Heojun mengatakannya seperti itu, maka mungkin bocah itu melihatnya ketika pagi. Setelah Yunho beranjak dari kasurnya.

-oOo-

"Kyoto? Tidak!" tak biasanya ia berteriak. Namun, kali ini ia berteriak? Apa yang terjadi?

"Mengapa? Papa? Junnie ingin sekali. Kata Hikaru, banyak tempat indah disana. Lagipula, Junnie merindukan rumah kita." Eh, Lho? Bukankah bocah itu sedang berada dirumahnya? Mengapa merindukan rumahnya.

Yunho yang telah membuka mulutnya, bersiap menjawab sanggahan Heojun. namun, kembali ia mengatupkannya. Seolah kehabisan kata-kata. Ia berpikir sejenak, jika pembahasannya melenceng seperti ini, ia bagai raja yang di skakmat. Ia melihat kembali pamflet yang menerangkan tempat-tempat yang akan disinggahi Heojun dan kawan-kawannya saat darma wisata nanti. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika melihat dua nama dari tempat yang akan mereka singgahi nanti.

"A-apa lagi kerumah itu. Jangan pernah berpikir untuk kembali kesana." Yunho menolehkan wajahnya gusar. Menatap Jaejoong yang memasang wajah kebingungan.

"Memangnya kenapa?" tanya Heojun lagi.

"Rumah itu, hanya akan menjadi mimpi buruk. Aku melarang kalian, tanpa ada sanggahan." Yunho melonggarkan dasinya dan beranjak meninggalkan jaejoong dan Heojun yang terlihat akan menangis. Padahal, ia sangat ingin mengetahui tempat-tempat yang disebutkan Hikaru dalam cerita mengenai kekagumannya pada kota di pinggiran Tokyo tersebut.

-TBC-

Hayooo~ *lambai-lambai* Chapter enamnya dateng nih. Sekali lagi aku mau ingetin, lebih enak kalo kalian baca dengan nempatin posisi sebagai mommy yang rempong and centilnya bagai kelinci putih itu. istilahnya, pura-puralah nggak tau apa-apa :3

Ah ya, makasih buat reviewnya, ff ini akan segera selese kok. Mungkin sekitaran 4 chapter lagi. Yosh, setidaknya aku nggak bakal banyak utang kekekeke. The Missions juga paling bakal jadi multichapter pendek, atau bahkan Cuma three shot, oh ya. Yang belum baca, baca gih :3 *promosi terselubung*

Nyehehe~ *plak* yep, Jung yang satu ini mulai pinter ngemodus, orang istrinya aja sering bikin Yjs delusional, yah~ aku minjem kata-kata stan kan *ditimpuk* Ah, pokoknya begitu deh riska0122, penting ya ff ini dilanjut? Hei~ ifa. *toel-toel* tenang, dilanjut kok. Aku nggak tega ah bikin buku utang aku abis. Makanya, aku nggak mau bikin utang banyak-banyak. Gitu Himawari Ezuki, yoon HyunWoon, missjelek.

Ow, ne. Aku juga ngerti, aku juga kadang males log, tapi thank atas reviewnya yah, meski dengan nama samaran. Okey, nggak lama lagi kok tuh chap datang. Tunggu yah, sycarp, Girrafe, Jung Jaema, 3kjj yang penasaran akan alasan sampe mommy lupain semuanya. Khusus yang terakhir aku bold namanya dalam paragraf ini, Thank you loooh doa dan suportnya. Semoga kamu juga begitu yah.

Yang penasaran ama berita dari Kyu juga baca nih, chapter ini menjawab pertanyaan dibenak kamu iasshine dan kamu alint2709. Apa yang kebangun? O.O *tatap noviuknow*bedewei tunggu aja, baby Su yang lucu dan om Chun yang bawa lapangan golf bakal datang meramaikan suasana.

Nah, sampe sini dulu cuap-cuapnya. Hontouni Arigatou untuk reviewnya.

O-Cyozora