Menyebalkan jika dihadapkan dalam situasi seperti ini. Lelah terasa walau tak melakukan kegiatan yang menguras tenaga. Sungguh, Jaejoong lelah melihat keadaan putra asuhnya. Heojun tidak seperti Heojunnya yang keren jika begini. Bagaimana mau keren? Anak yang biasanya terlihat ceria itu kini menunduk lesu. Tak mau bicara hampir empat jam lamanya, sekalipun hanya satu kata.

Matanya terlihat merah akibat tangisannya tadi, masih tersisa genangannya disudut mata bulat putra asuhnya itu. Haaaaa~ apa yang harus ia lakukan? Hal ini sungguh membuat frustasi.

"Junnie?" ujarnya. Ia mendekati tempat dimana Heojun duduk. Wajah tampannya yang berseri-seri kini memadukan sedikit poutan dibibirnya yang semerah buah ceri. Hatinya sedikit mencelos karena tak mendapatkan respon dari Heojun.

Ini semua salah Yunho. Awas saja, Jaejoong akan membalasnya. Sudah membuat badannya sakit, kini ia membuat hati anak semata wayangnya sakit lagi. Memangnya apa yang membuat darma wisata ke Kyoto menjadi begitu berbahaya? Ada monster disana? Kan tidak. Kalaupun ada, nanti ada ultraman yang akan menghajarnya kan? Aih, Jaejoong jadi berpikir yang aneh-anehkan? Semua salah Yunho.

"Junnie, sayang?" daripada meneruskan pikiran anehnya, Jaejoong memutuskan kemali menegur Heojun. ia tak boleh lelah. Usaha dan doa pasti akan menghasilkan sesuatu. Dan Jaejoong percaya itu.

"Ne, mommy?" tuhkaan? baru saja Jaejoong mengaminkan pikirannya. Tuhan sudah mendengar doanya. Junnie-nya membalas sapaannya. Walau dua kata. Tapi lebih baik dari pada tidak sama sekali.

"Junnie jangan khawatir. Kita pasti akan ikut ke Kyoto. Okay?" jaejoong mengusap pipi lembab Heojun.

"Hontou?" mata bulat yang terlihat berkilau itu berbinar.

"Ya."

"Tapi, papa—" kini ia memasang wajah khawatir didepan Jaejoong.

"Biar mommy yang atur. Junnie tak perlu mengkhawatirkan hal itu." Jaejoong memasang senyum yang ia harap mampu menenangkan Heojun. Meski idenya mungkin akan membuat Yunho marah, Jaejoong tak peduli. Yang terpenting Heojun kembali ceria. Dan lagi, jika memang hal itu akan sangat berbahaya untuk Heojun, ia sebagai laki-laki dewasa pasti bisa menjaga putranya itu.

"Yap, sekarang Junnie mandi dan segera pergi makan. Mommy akan pikirkan persiapan yang harus kita bawa." Ahaha, Jaejoong merasa sangat senang. Selain ia bisa membuat Heojun kembali ceria. darma wisata yang akan dilakukan beberapa hari lagi itu akan membuat Yunho ketakutan. Rasakan Jung! Ini hukuman kecil untuk rasa sakit yang Jaejoong rasakan pada tubuhnya dan mendung yang menciptakan hujan dimata Heojun.

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-Cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 07

ENJOY~

-oOo-

"Kau—apa tadi?" pemuda jangkung keturunan kedua dari keluarga Jung itu hampir tersedak makannya. Uh, Kyuhyun. Semakin hari, makanannya semakin enak. Tapi, semakin hari membuat Changmin tak bisa menikmati makanannya dengan tenang. Seolah ada bakat membuat Changmin tersedak atau hampir menyemburkan makanannya yang mengikuti pertumbuhan keahlian memasak dalam dirinya.

"Aku pikir aku ingin hamil." Ujar Kyuhyun dengan wajah tanpa dosa. Ia menyodorkan segelas air putih untuk Changmin.

"Me-memangnya kau punya rahim didalam sana?" Changmin menunjuk kearah perut datar Kyuhyun. Ah, pertanyaan macam apa itu? Ia tentu—aish. Membahas ini membuatnya kesal. Changmin tak mengetahui kalau teknologi sudah maju ya?

"Sudahlah. Cepat selesaikan makanmu. Aku ingin mengajakmu ke tempat sepupuku." Changmin mengerutkan dahinya mendengar nada suara Kyuhyun yang berubah. Namun, ia kesampingkan dulu hal itu. Ada pertanyaan yang ingin ia layangkan pada Kyuhyun.

"Sepupumu? Kau punya sepupu disini?"

"Iya. Ia sudah lama tinggal disini, kupikir ia bisa membantu kita mencari tahu tentang hyung."

"Oh~" Changmin membeo. Pembicaraan mereka belum selesai hari ini. Terutama tentang harapan Kyuhyun mengenai bayi. Bukan ia tak mau, bukan juga ia tak tahu. Tapi, mendengar kata bayi dan hamil seolah menyimpan trauma sendiri untuknya.

...

"Kyu? Ka—eh? Anyeong." Pemuda seputih salju itu menghentikan ucapannya yang ia tujukan untuk Kyuhyun begitu melihat sosok Changmin dibelakang sepupu kekasihnya. Ia baru saja membukakan pintu karena mendengar bel rumahnya berbunyi. Tak ia sangka, Kyuhyun datang bersama pria yang tak dikenalnya.

"Ah, anyeong." Changmin membungkukkan sedikit badannya. Membalas salam dari Kibum.

"Ayo masuk." Kibum mempersilahkan, ia memberu ruang agar tamunya bisa memasuki rumahnya.

"Kau sopan sekali padanya hyung. Padahal padaku kau sangat galak." Gerutu Kyuhyun, dengan langkah yang dihentak ia memasuki rumah Kibum disusul Changmin. Ia segera membuka sepatunya tanpa menghilangkan ekspresi kesalnya.

"Kau kan menyebalkan. Karena itu, bersikap galak padamu sangat menyenangkan." Ujar Kibum, ia beranjak memnuntun tamunya untuk tiba ke ruang tamu yang tersedia dirumahnya. Err, yah. Ini memang hanya berlaku untuk Changmin, bukan Kyuhyun. Meski tamu itu datang bersama Kyuhyun yang menurutnya menyebalkan, tapi ia harus tetap sopan pada tamunya itu kan?

"Dimana Siwon hyung?" Kyuhyun mendedukkan dirinya pada sofa panjang berwana lembut, matanya meliar mencari sosok yang baru ia tanyakan.

"Kau menyebalkan. Untuk apa menanyakan Siwon hyung? Kau kan bisa menanyakan aku saja." Sungut Kibum tak suka.

"Kau sedang berada dihadapanku, untuk apa aku menanyakanmu?" timpal Kyuhyun.

"Oh, ah~ maaf kami mengabaikanmu." Kibum menyudahi balas berbalas kata dengan Kyuhyun. Ia beralih pada Changmin yang bahkan masih dalam posisi awal ketika ia memasuki ruangan itu. "Silahkan duduk, jangan sungkan. Kyuhyun bahkan sudah menganggap ini rumahnya." Ia mendelik pada pria pucat itu ketika mengucapkannya.

"Ah, iya. Maaf Min." Kyuhyun menepuk-nepuk tempat disebelahnya. Meminta Changmin duduk disana secara tersirat. "Namanya Changmin, Jung Changmin. Dia suamiku. Lihat, dia lebih tampan dari pacarmu." Ujarnya pada Kibum, orang yang diperkenalkan terlihat kikuk kaetika mendengar pujian langsung dari Kyuhyun. Selama berteman bahkan setelah menikah, Kyuhyun tak pernah memujinya. Entah ada angin apa yang membuatnya mendapat pujian yang begitu blak-blakan tanpa kesan malu-malu hari ini.

"Apapun katamu," Kibum malas menanggapi Kyuhyun. "Walau memang tampan sih. Tapi, Siwon hyung juga tampan." Tambahnya setelah memperhatikan Changmin secara mendetail , membuat Jung bungsu lebih kikuk lagi. Ia bingung harus menaggapi pujian beruntun ini seperti apa.

"Yaaaa, aku yang mendapatkannya. Aku tampan, jadi harus mendapatkan pria yang tampan." Ujar Kyuhyun narsis.

Oh Kyuuu~ bersiaplah mendapatkan kar—

Pletak! Puk!

—ma. Kemarin lusa kau telah memukul Changmin dengan sebuah penjepit, ingat? Kau akan merasakannya sekarang. Merasakan pukulan pelan dari Changmin dan timpukan dari gulungan koran yang dipegang Kibum.

"Sakit hyung!" ia mendelik pada Changmin dan Kibum bergantian. Memang apa salahnya ia mengatakan kalau ia tampan? Itu faktanya kan? Dasar, Changmin dan Kibum pasti iri akan ketampanannya.

"Rasakan." Ujar kibum pelan, diikuti sebuah seringaian dari bibir Changmin. Ia berniat merebut koran yang berada ditangan Kibum untuk membalas pukulannya dengan benda yang sama, namun penghuni lain rumah dimana ia berada sekarang mengubur keinginannya.

"Ramai sekali disini." Sebuah suara ikut serta dalam perbincangan mereka. Pria berlesung pipi itu muncul dari arah belakang Changmin dan Kyuhyun. Ia melangkah untuk bisa duduk tepat disamping Kibum.

"Sudah menemukannya hyung?" Kibum menatap Siwon, entah apa yang ditanyakannya. Changmin dan Kyuhyun tak mengerti.

"Ia sedang mencarinya."

"Kenapa kau tak membantu?"

"Aku penasaran. Habis disini ramai sekali." Ia mengembangkan senyuman yang terlihat manis dimata Kibum dan Kyuhyun. Berbeda dengan pria yang memiliki predikat paling tinggi diantara mereka, iris Jung Changmin seolah mengunci Siwon sebagai objek yang harus ada dalam perhatiannya. Ia merasa mengenali wajah itu. Tapi, ia lupa dimana pernah mengenalnya.

"Kau?" ucapan satu katanya membuat Siwon menatapnya. Begitu juga dengan dua pria yang menjadi pasangan masing-masing dua pria yang kini saling menatap. Changmin dengan tatapan shocknya, Siwon dengan tatapan bingungnya. Sepertinya ingatan Changmin mulai memberinya petunjuk.

"Ya?"

"Kau yang memeluk Kyuhyun saat itu? Kau memacari Kyuhyun dan sepupunya sekaligus?" Changmin menunjuk Siwon. Pandangannya tajam dan siapapun akan mengetahui bahwa terdapat kemarahan didalamnya. Ia yakin hal itu benar. Ia sangat yakin, ia tak salah mengingat. Pria inikah yang membuat Kyuhyun pergi?

"Eh?" Siwon, dengan kepolosan yang menjadi ekspresi wajahnya menatap Changmin tak mengerti.

"Mi-Min~" untunglah, Kyuhyun yang langsung mengerti apa yang dimaksud Changmin segera memeluk pria disampingnya itu. Berusaha menenangkan Changmin. "Kau salah paham."

Siwon dan Kibum saling berpandangan, tak mengerti dengan apa yang dimaksud Changmin. Mereka mengulang apa yang dikatakan Changmin dalam batin mereka, tapi berapa kalipun mengulang, tetap saja membuat keduanya bingung.

"Salah paham?" Changmin yang awalnya terus menatap Siwon benci kini berbalik. Melihat Kyuhyun yang berada disampingnya.

"Siwon hyung sepupuku. Kibum kekasihnya," Kyuhyun menunjuk Siwon, dirinya dan Kibum berturut-turut. "Entah mengapa ia terus cemburu padaku. Padahal, aku dekat dengan Siwon hyung hanya sebatas kakak pada adik. Kau lihat, kami terus bertengkar walau hanya kesalahan sepele. Itulah sebabnya." Tambahnya, ia sungguh berharap penjelasan singkatnya akan menyelesaikan kesalahpahaman ini.

"Benarkah?" Changmin mengangkat alisnya. Sangsi atas ucapan Kyuhyun. Ia melihat Kibum sedang menganggukkan kepalanya untuk memperkuat keterangan Kyuhyun.

"Benar, itulah yang membuat Kyuhyun menyebalkan." Kibum menimpali ucapan Kyuhyun setelah anggukannya berhenti.

"Hahaha~ ada salah paham disini." Akhirnya, pria berlesung pipi itu kembali buka suara setelah ia dihantui ketegangan karena aura Changmin yang seolah akan meremukkannya.

"Selama dua hari kau pergi, kau disini?" tanya Changmin. Ia memberikan seluruh perhatiannya pada Kyuhyun yang kini mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Benar, Kyuhyun berada dirumah sepupunya, ucapan Kyuhyun tentang mencari pria yang akan mencintainya sepertinya hanya luapan emosi saja. Kalau begitu, Changmin bisa bernapas lega bukan? "Baguslah, kau harus ingat ini. Aku takkan melepaskanmu Kyu." Changmin mengelus pipi Kyuhyun, bergerak perlahan untuk mengeliminasi jarak antara ia dan istrinya.

"Uhuk, aku ingin memngingatkan, jika ini bukan love hotel." Kibum terbatuk. Tentu saja sebuah batuk yang dibuat-buat. Ia sedikit jengah melihat adegan lovey dovey dihadapannya. Tidak, Kibum tidak iri. Ia bisa melakukannya dengan Siwon. Hanya saja, ia tahu tempat. Tidak seperti dua pria yang kelihatannya masih terdapat kelabilan dalam jiwanya. Buktinya, mereka tak bisa menahan diri hanya untuk sekedar mencari ruangan yang akan lebih menjaga privasi mereka. Mereka tak hanya berdua disini. Camkan itu.

Changmin dan Kyuhyun yang menyadari jika ditempat ini tidak hanya dikuasai mereka berdua beserta aura-aura romansa yang sekarang tengah hancur sedikit demi sedikit menghentikan acara pengeliminasian jarak diantara mereka. Changmin dengan cepat dapat menutupi rasa malu dan gugupnya, berbeda dengan Kyuhyun yang menampakkan semburat merah dikedua pipi pucatnya.

"Hyung, aku sudah membereskan lemarinya. Aku juga sudah mendapat kameranya." Lho? Ada suara lain lagi yang ikut bergabung dalam perbincangan mereka, hanya saja suara ini terasa lebih Kyuhyun dan Changmin kenal.

Perlahan, bagai adegan film dengan mode slowmotion. Dua sejoli ini memindahkan perhatian mereka pada sosok yang mengeluarkan suara. Dari asal suara, Changmin dan Kyuhyun tahu sosok itu berada tepat dibelakang mereka. Ah, sepertinya keputusan Kyuhyun datang kemari untuk meminta bantuan Siwon sangatlah tepat. Bagaimana tak tepat? Sosok yang secara tak langsung membuat mereka tiba-tiba akur itu ada didepan mata mereka sekarang.

"Ou, baiklah. Ada lagi yang kau butuhkan?" Siwon tak merasa kalau respon Changmin dan Kyuhyun aneh, jadi ia mengabaikan respon dua pria muda itu. Ia lebih memfokuskan perhatiannya pada sosok berkemeja putih yang sedang mengotak-atik kamera miliknya itu.

"Ani hyung. Sepertinya tidak ada lagi." Sosok itu berhenti mengotak-atik kameranya karena entah mengapa ia merasa seperti ada yang tengah lekat memperhatikannya. Ia mengedarkan pandangannya untuk mengetahui apa yang membuat aura ruangan ini terasa berbeda. Perasaannya saat ini sama dengan perasaannya ketika merasa ada yang mengikuti langkahnya. Dan benar, begitu ia memindahkan jawaban objeknya kearah sofa yang tak berada jauh dihadapannya, ia melihat dua lelaki asing tengah menatapnya. "Eh, ada apa? Mengapa kalian menatapku seperti itu? Itu membuatku takut." Tambahnya. Sungguh, ia merasa tak nyaman dengan tatapan-tatapan itu.

"H-hyung!" Changmin berteriak dengan wajah shock menyertainya. Ah, berapa kali Changmin shock hari ini? Bersyukurlah ia tak memiliki penyakit jantung. Jika tidak, sepertinya ia akan mati hari ini juga.

"Ja-Jaejoong hyung." Berbanding terbalik dengan Kyuhyun yang berucap dengan nada yang sedikit bergetar. Ia berhambur segera setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia memeluk erat pria bermata doe yang kini tengah melayangankan pandangan bingung pada dua orang yang dikenalnya. Tentu bukan pada Changmin apalagi Kyuhyun yang kini tengah memeluknya.

"Tu-tunggu sebentar." Nah kan, bahkan Jaejoong juga menjadi gagap dalam mengatakan kalimatnya. Tertular Changmin dan Kyuhyun mungkin.

Pria itu melepas pelukan Kyuhyun perlahan, ia mendorong dada pria pucat itu dan menatap wajahnya. Baru saja ia membuka mulutnya, ia mendapati Changmin kini menempelkan tubuhnya erat dari belakang. Membuatnya semakin melebarkan mata karena kaget dan tentu, kebingungan.

"Siwon hyung~" ujarnya lemah. Ia meminta pertolongan pada pria itu dengan pandangan penuh harap bercampur kebingungan.

"Baiklah," Siwon beranjak. Ia memisahkan Changmin dari Jaejoong lalu menyeret Kyuhyun sedikit menjauh dari pria itu. Sedangkan Jaejoong serta merta ditarik Kibum untuk ikut duduk bersamanya. Meninggalkan Kyuhyun, Changmin dan Siwon yang tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka. "Kyu, kau mengenal Jaejoong?"

"Iya hyung." Kyuhyun mengangguk semangat, matanya belum melepas Jaejoong sebagai objeknya. Membuat Jaejoong tetap dengan kebingungannya.

"Kau juga?" Siwon menunjuk satu-satunya pria yang tak dikenalnya, Changmin.

"Tentu saja, dia kakak iparku."

"Apa?!" satu kata menjadi duet antara Kibum dan Jaejoong, sedangkan Siwon menautkan alisnya.

"Hei kau dan kau Kyu," Siwon menunjuk Changmin dan Kyuhyun bergantian. "Duduklah. Kita akan membicarakan ini. Jangan mendekati Jaejoong sebelum kalian memberi kami penjelasan." Siwon menunjuk sofa yang berjarak sedikit jauh, berharap agar ruang kosong itu memisahkan mereka dan Jaejoong. Agar mereka tak seenaknya memeluk-meluk Jaejoong lagi. Siapa mereka? Ia saja tak bisa memeluk Jaejoong sebebas itu.

Changmin dan Kyuhyun menuruti perintah Siwon. Memang hal ini harus dijelaskan, apalagi mereka juga membutuhkan penjelasan atas semua ini.

"Jadi," Siwon membuka kembali percakapan setelah melihat Changmin dan Kyuhyun duduk dengan tenang, walau mata mereka tetap tak beralih dari Jaejoong. Meski tak nyaman, Jaejoong mencoba mengabaikan hal itu. Ia juga sangat ingin tahu mengenai dirinya.

"Kau hidup hyung?" entah sejak kapan mata bening milik Kyuhyun berkaca-kaca. Terlihat setetes diantaranya mengalir dipipi pucatnya ketika mengucapkan tiga kata itu dalam sebuah pertanyaan. Ia sangat senang, Tuhan mengabulkan doanya. Dari dulu, Jaejoong memang malaikatnya. Sekarangpun tetap sama. Ia dan Changmin sedang dalam keadaan tak baik, dan hanya karena malam itu Kyuhyun melihatnya, kini hubungan mereka lebih dari baik. Entah apa yang akan terjadi jika Jaejoong, Jaejoong hyung yang sangat disayanginya melebihi siapapun kecuali Changmin kembali dalam kehidupan mereka seperti dulu.

"I-iya. Apakah aku sudah meninggal?" pertanyaan amat bodoh menjadi balasan Jaejoong untuk pertanyaan Kyuhyun.

"Kami kira begitu." Changmin menimpali. "Kami mendengar bahwa kau meninggalkan kami dari hyung, meski kami tak pernah melihat jasadmu, tapi kami percaya pada ucapan hyung." Tambahnya lagi. Jaejoong tak mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud pria dihadapannya itu, namun mulutnya seakan terkatup untuk mengeluarkan pertanyaan lain.

"Ano, Min. Jaejoong kakak iparmu?" Kibum menanyakan satu hal yang membuatnya berkoor dengan Jaejoong tadi. Jaejoong tersentak mendengar pertanyaan Kibum. Benar juga, ia seharusnya bertanya tentang itu tadi. Ia menatap Changmin was-was. Entah kata apa yang mampu menjelaskan perasaannya kali ini. Haruskah ia senang? Senang karena dari dua pria didepannya ia akan mengetahui siapa dirinya? Atau—

"Iya." Haruskah ia sedih dengan jawaban yang Changmin lontarkan? Dari jawaban Changmin, itu mengindikasikan bahwa ia sudah memiliki keluarga. Lalu bagaimana dengan perasaannya pada Jung Yunho yang kini terasa sangat besar untuknya. Mampukah ia kembali bersama dengan kakak Changmin tanpa menyisakan perasaannya untuk Jung Yunho sedikitpun? Rasanya, hal ini akan terasa sangat berat untuk Jaejoong. Ia sangsi ia akan sanggup.

"Hyung, tak kusangka kau sangat dekat dengan kami. Tapi, butuh waktu yang sangat lama untuk menemukanmu." Ujar Kyuhyun. "Padahal, akan sangat baik jika kita cepat bertemu." Lanjutnya.

Ya, akan sangat baik jika mereka bertemu lebih cepat. Sebelum Jaejoong menyadari perasaannya pada Yunho, atau bahkan sebelum Kibum memperkenalkannya pada Yunho. Hal itu tentu sangat baik, karena takkan ada hati yang terluka. Hatinya takkan luka, dan hati keluarganya juga.

Ah, sial. Matanya terasa basah. Ia tak mengerti, mengapa ia harus menangis. Tapi, menemukan kebenaran tentang dirinya saat ini bukanlah hal yang ia harapkan. Ia sungguh tak ingin pergi dari kehidupannya yang sekarang ini, bersama Yunho dan Heojun disampingnya. Walau statusnya hanya sebagai pengasuh Heojun, tapi ia sangat bahagia. Ia sungguh-sungguh tak ingin kembali pada keluarganya. Tidak jika harus meninggalkan Yunho dan Heojun.

"Putramu tumbuh dengan baik Hyung, dia sangat tampan. Tapi, aku yakin ia sangat merindukanmu." Ujar Changmin. Putra? Ia bahkan telah memiliki putra. Tapi, Heojun juga putranya. Dan dengan kejam ia berpikir bahwa ia lebih menyayangi Heojun dibandingkan putra yang disebutkan Changmin. Jaejoong memnggelengkan kepalanya perlahan membuat bulir air matanya menetes melewati pipinya. Ia berpikiran kejam tapi, itulah kenyataan mengenai perasaannya. "Hyung, akan kubawa kau menemuinya."

"Kalian, dengarkan aku." Jaejoong mengangkat kepalanya. Ia menghapus air matanya dengan kasar. "Aku tak mengenal kalian. Aku juga sudah merasa bahagia dengan kehidupanku sekarang. Aku tak mau, aku tak mau kembali pada keluargaku." Jaejoong berdiri setelah selesai mengucapkan kalimatnya. "Hyung, aku permisi. Aku pinjam kameramu." Ia berpamitan pada Siwon seraya mengangkat kameranya. Dan beranjak segera setelahnya.

"Hyung?" tentu saja Changmin kaget dengan pernyataan Jaejoong. Ia ingin protes.

"Begini, kakakmu dan putranya telah terbiasa hidup tanpaku. Aku rasa sekalipun aku tak kembali ini takkan menjadi masalah. Aku mohon padamu, jangan katakan kalau kau bertemu denganku pada kakakmu. Biar mereka meneruskan hidupnya tanpa aku. Aku permisi." Ujar Jaejoong untuk membungkam protes yang akan dilayangankan Changmin. Ia melihat Siwon sebentar, lalu beranjak pergi.

Semua sosok yang berada diruangan itu saling memandang. Mereka bingung, sama halnya seperti Jaejoong. Changmin dan Kyuhyun terlihat sangat terpukul, Siwon menghela napas dan Kibum—

"Omo, aku lupa. Aku harus mengatakan sesuatu pada Jaejoong. Kita bahas ini nanti. Min, kuharap kau tidak memberi tahu kakakmu dulu, aku takut hal ini akan menyebabkan tak hanya kakakmu dan putranya terluka, tapi Jaejoong juga." Ia berujar sebelum melangkahkan kakinya. Berniat menyusul Jaejoong yang nampaknya telah tiba di depan rumahnya. Ia harus mengatakan hal ini pada Jaejoong, hal yang sangat penting untuk diketahui Jaejoong.

"Jae-ya, tunggu sebentar." Teriaknya, ia keluar dari rumah yang ditinggalinya bersama Siwon bahkan tanpa memakai alas kaki, ia takut Jaejoong keburu pergi.

"Aku harus memikirkannya dulu, aku tak—"

"Aku tak membahas tentang masa lalumu Jaejoong. Ini tentang darma wisata besok."

"Eh? Kenapa?"

"Aku tahu kau berencana membawa Junnie ikut serta tanpa seizin Yunho, tapi nampaknya larangan Yunho ada alasannya." Iris hitam Kibum menatapnya. "Aku lupa dan baru menyadarinya kemarin Jaejoong-ah."

"Memangnya apa alasannya? Apa akan ada yang menculik Heojun begitu?"

"Jae, kau harus mendengarku baik-baik." Ucapan Kibum berubah serius. Ia memegang lengan atas Jaejoong dan menghela napas. Apa memang sangat serius sampai Kibum menghela napasnya seperti itu? Mau tak mau, Jaejoong merasa gugup juga. "Yunho mempunyai rumah disana. Rumah pertama yang ditempatinya bersama ibu Heojun ketika sampai di Jepang."

"Jadi, Yunho takut ibunya Heojun mengambil Heojun begitu?"

"Jae, kau harus mengetahui bahwa istri Yunho sudah meninggal. Dan rumah itu memiliki banyak kenangan."

"Padahal rumah banyak kenangan kan bagus, seharusnya ia juga ikut serta. Jangan malah melarang Junnie." Jaejoong menggerutu, baginya alasan Yunho sangat ane—eh? Apa tadi? "Si-siapa yang mati? I-ibunya Heojun?" mata doenya membulat. Ia yakin, dalam ingatannya wanita yang menjadi istri Yunho itu berpisah dengan dua pria yang kini menjadi sosok yang paling disayanginya itu karena suatu hal dan hanya berpisah tempat. Bukan karena berada dalam dunia berbeda. Oh God, ternyata tak hanya untuk Changmin, untuknyapun hari ini hari yang penuh kejutan. Bagaimana ia bisa meninggalkan Junnie jika kenyataan yang didapatnya sepahit ini?

-TBC-

Anyeong yeorobun! *bow* aku mengupdate chapter tujuh. Kali ini pun aku nggak akan bosan buat bilang, lebih baik kalian mengambil pov dari Jaejoong aja. Anggap kalian belum tau jika Jaejoong udah nikah ama papi di LoL.

Buat yang penasaran alasan kenapa si mamih amnesia, di chapter 10 bakal kejawab. Aku udah ada sampe chapter depan dan itu baru sedikit, sedikit banget hal yang Jaejoong kuak di rumah barunya. Nah, malah spoiler kan? -_- , yah. Pokoknya sabar aja yah iasshine. Bedewei, aku di riview sama kamu nih, aku nggak ngancem buat nggak ngelanjutin ini ff kan? Aku Cuma bilang pengen cepet nyelesein, jadi apa ff aku bagus? *abis ngintip bionya anak arsitektur :p*

Well, ada readers intelek penyusul sycarp nih, tebakan tentang alasan Yuno dari Girrafe dan noviuknow tepat loh, dan masalah Kyuhyun yang belom dijelasin apakah ia masih dongkol atau kenapa dia tiba-tiba baikan ama Changmin, aku nggak nulis tanpa alasan loh, aku juga nulis selewatan tentang alasannya di chapter ini. Aku nggak tulis alasannya sebagai percakapan antar tokoh karena itu bakal jadi percakapan tanpa guna aja, aku tulis di narasi. Kalo dibaca sambil dihayati *jiah* pasti dapet maknanya-?- dan satu lagi, aku masih mikirin mpregnya mau aku terapin ke semua uke atau tidak. Aku masih bimbang, galau dan gelisah nih. Nanti kalo aku tiba-tiba nerapin Mpreg kesemua uke malah disebut author yang seneng bodohin readernya lagi, ada yang udah baca artikel itu belum *angkat-angkat alis* dan lagi, mpreg semua uke itu sama sekali bukan gayaku *halah* Kasih masukan doooong~ ngomong-ngomong, kalo kamu yang pertama aku bold namanya di paragraf ini dapetin video NC YunoJeje bagi-bagi ama yang lain yah, itung-itung pengganti NC tersirat-?- di The Missions *promosi lagi kan jadinya/plak* okey, gx lama-lama kok. Mungkin aku bakal update seminggu sekali untuk dua ff in process yang ada di list my storiesnya aku. :D

Buat Guest yang masih menjadi Guest, sebentar. Awalnya kamu bilang kamu pusing, sekarang kamu bilang kamu kesal. Maaf, kali ini aku nggak tau obat buat kesal itu merk apa. Dan lagi, yang jadi kendala buat kamu diawal adalah bahasa yang bertele. Sekarang kamu bilang ceritanya berbelit, yang bener yang mana? Dua-duanya? Kamu bilang kamu memberi kritik, aku terima kok. Makasih ya, itu bisa dorong aku buat introspeksi. Tapi, kamu udah pake hak kamu sebagai reader untuk kritik, aku juga minta hak aku untuk sebuah saran. Kalo kamu nggak tau, kritik itu harusnya berdampingan dengan saran kan? Agar lebih membangun. Aku sering loh ngintip kotak review untuk ff bagus di fandom kesayangan aku, author, atau bahkan seorang reader yang ngasih kritik selalu mengikutsertakan saran dibelakangnya. Aku kan jadi tau ff yang bagaimana yang bisa memuaskan kamu. Satu lagi, aku nggak marah-marah apalagi marah-marah nggak jelas ya. Meski aku penulis cerita pendatang baru, aku ngerti gimana cara nulis. Baca ulang balasan review buat kamu, adakah tanda seru yang aku pake dalam paragraf balasan itu? adakah aku pake capslock yang menandakan aku marah disana? Nggak?

Aku-aku *angkat tangan* aku juga suka kalo seme posesif tapi nggak ngekang ama ukenya. Kasian sih, dia kan kelelahan. Ini pertama kalinya dia uhuk-uhuk lagi setelah enam tahun. Jadi, biarin deh dia boboan dulu sebentar, iyakan 3kjj. Tunggu di Chapter 10 deh, Junnie jug—maksudnya Junsu bakal muncul mulai chapter sana.

Ehehe, ide aku pasaran, murahan pula. Kalao aku langsung kuak apa serunya. Mending nggak usah bikin ffnya kan dibanding bikin reader berekspresi -_-

Makanya, aku agak samarin dulu pov dan tokohnya kayak kamu bilang geelovekorea, makasih loh udah bilang aku keren *dilempar ke jurang* ffnya sebenernya mengalir aja kok, bahkan kalau aku belum bikin ff Legacy or Love mungkin kalian bakal enjoy dan mikir kalo Jeje nggak kenal Yuno. Masalahnya, aku bilang ini sekuel LoL jadi banyak yang greget dan ngasih pertanyaan "Kenapa Jae amnesia?" betul tidak? Entahlah, mungkin ff aku terlihat ribet, tapi bahkan aku berusaha untuk bikin ini ff nggak terlalu berat masalahnya. Syukurlah kamu nggak bingung.

Kyaa, ada reader baru yang baik hati mau review dari chap 1. Makasih loh, *pelukcium Rara/ditendang*yah, begitulah *unjuk ff chappie perchappie* Yuno tuh cemburu tapi tak bisa cemburu. Jadi seringnya sih salah paham. tapi tenang, ini gx bakal berbelit lebih lama lagi kok :D ffnya akan segera selesaiiii XD makasih udah nunggu ya, yoon HyunWoon.

Baca terus ya, bagi yang suka. Makasih atas review yang menyuntikkan semangat dan saran yang sangaaaaaat membangun. Aku ingin jadi penulis yang hebat dan semakin hebat. Karenanya, aku tetap meminta kerendahan hati kalian untuk kritik dan sarannya. Khamsahamnida~

O-Cyozora