Menghela napas, lagi. Sudah berapa banyak kebahagiaannya yang akan hilang jika benar mitos tentang menghela napas satu kali maka akan kehilangan satu kebahagiaan itu benar? Ia sudah terlalu banyak menghela napas hari ini. Pikirannya mungkin sedang berpetualang ke suatu tempat, sampai tak menyadari jika seseorang yang memliki banyak kemiripan sedang memperhatikannya baik-baik. Bocah itu tak mengerti apa yang terjadi, ia masih terlalu kecil untuk memikirkan masalah yang nampaknya runyam.

"Mommy?" ia hanya menyapa pelan mommynya, ia berharap dengan panggilannya, pria dewasa dihadapannya segera kembali kedunia dimana mereka berada ditempat yang sama.

"Hhhh~" hhh? Itu jawaban macam apa sih? Bukankah itu helaan napas? Ia belum berumur genap enam tahun. Tapi ia tahu itu bukan sebuah jawaban.

"Mommyyy~!" jadi, ia putuskan untuk mengulang panggilannya. Kali ini ia meningkatkan volume suaranya.

"Hhh—eh? Ne? A-apa?" syukurlah pria dihadapannya segera menjawab. Kalau tidak, ia akan menyuruh monster datang kemari. Aha, Heojun bercanda. Ia kan sayang pada mommynya. Apalagi, ia hanya punya satu mommy. Jika mommynya dimakan monster. Mommy yang mana lagi yang akan menjadi penggantinya?

"Junnie sudah mempersiapkan semuanya." Senyuman yang sangat tampan menyertai kalimatnya. Membuat Jaejoong, sosok pelamun yang akan Junnie jadikan makanan monster jika tak lagi menjawab pertanyaan Junnie dengan benar itu terpana.

"Oh, ara. Junnie segera mandi. Kita akan langsung berangkat ketika papa berangkat ke kantornya. Junnie harus sembunyikan tas Junnie ne." Ujarnya.

"Junnie sudah menyembunyikannya mommy. Jaa~ Junnie mau mandi dulu." Bocah itu berlari dengan kaki mungilnya. Ia kembali kearah dimana ia datang tadi.

Jaejoong menghela napas. Ia semakin risau saja. Heojun benar-benar bersemangat jika menyangkut tentang darma wisatanya, tapi kenyataan yang baru ia ketahui dari Kibum beberapa hari kemarin membuatnya mengerti alasan Yunho melarang mereka.

Bagaimana jika karena kesana Junnie jadi ingat ibunya?

Bagaimana jika karena kesana keceriaan Junnie menghilang?

Bagaimana jika karena kesana ia—hhh~ ia kehilangan kasih sayang Junnie karena Junnie mengetahui jika ia bukan ibunya yang sesungguhnya.

Bagaimana jika karena kesana Yunho akan membencinya?

Tidak, Jaejoong tidak mau itu terjadi. Ia pernah kehilangan keluarganya. Ia tak mau jika kali ini ia juga kehilangan keluarganya. Tapi Junnie, bocah itu sangat bersemangat. Sungguh, kali ini ia harus memilih. Memilih mengecewakan Yunho dengan resiko akan kehilangan pekerjaannya serta dua orang yang memiliki tempat khusus dihatinya atau memilih mengecewakan Junnie dengan resiko akan kehilangan keceriaan anak itu. Hhhh~

Tentang ibunya, Junnie akan mengerti saat ia besar nanti. Ya, ia akan mengecewakan Yunho saja. Toh, ia juga harus memikirkan kemungkinan jika ia harus kembali kepada keluarganya, keluarga yang telah kehilangannya empat tahun lalu, keluarga dan putra kandungnya.

Ia dan Heojun, akan pergi berdarmawisata.

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-Cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 08

ENJOY~

-oOo-

Yunho sudah berangkat dengan tenang tadi pagi. Nampaknya ia sama sekali tak berpikir jika ia dan Heojun akan mengabaikan perintahnya untuk tetap dirumah sampai ia pulang nanti. Bagus, jadi ia hanya berharap Kibum tak buka suara tentang kepergiannya dengan Heojun pada bossnya. Dengan begitu, semua akan aman sampai saatnya ia pulang dengan Heojun nanti.

Saat ini, ia baru saja tiba di taman kanak-kanak tempat Heojun belajar. Ia bisa melihat ada dua bis yang terparkir didepan bangunan sekolah tersebut. Ia juga bisa melihat hiruk pikuk keramaian para siswa yang didampingi para ibu mereka. Sebenarnya sebuah pemandangan yang biasa untuknya. Toh hari biasapun banyak ibu yang mengantarkan putra atau putri mereka kesini, bahkan beberapa ibu muda yang dikenalnya. Namun, entah mengapa hari ini terasa sangat berbeda untuknya. Apa yang aneh ya? Jaejoong terus menatap kearah para ibu tersebut, mengabaikan Heojun yang sudah asyik berbincang dengan seorang gadis kecil yang ia ketahui bernama Hikaru. Ia sungguh ingin mengetahui apa yang janggal pada hari ini.

Deg!

Jantungnya berdegup. Pantas saja, ia satu-satunya pria disini. Semua orang dihadapannya memakai pakaian dengan potongan yang hampir sama. Dengan rok pendek atau little dress dengan warna yang sama. Memang dalam darma wisata kali ini para orang tua diberikan dress code agar panitia mengetahui dengan mudah para anggota rombongannya. Karena darma wisata kali ini mengambil tempat yang lumayan jauh dari Tokyo.

Degupan jantungnya tak kembali normal, kini malah disertai dengan membulatnya mata doe yang ia miliki. Ia kembali menyadari satu hal. Semua wanita dewasa yang berada disini adalah sosok yang dipanggil ibu, mom atau mommy dan okaasan. Tentu ia juga, tapi hanya ia satu-satunya pria yang menjadi mommy. Ia tak bisa memakai rok atau gaun seperti yang digunakan orang-orang dihadapannya. Omo, tidakkah Heojun menyadarinya? Ia bukan wanita. Sial, sepertinya ia salah mengambil keputusan. Seharusnya ia menuruti saran Yunho saja.

"Baiklah, harap semua berkumpul. Kita akan memasuki bisnya." Bukan Ayuri yang berteriak. Seorang wanita, aih~ lagi-lagi wanita, yang menggunakan pengeras suara ketika mengatakan hal itu. Kepala sekolah taman kanak-kanak, Jaejoong mengetahuinya.

Semua orang berkumpul, Heojun juga mendekati dan menggandeng tangannya. Terlambat jika ia ingin pulang sekarang. Perlahan, mereka memasuki bis dengan tertib. ia mendapat kursi dibagian tengah bis, dua untuknya dan Heojun. Ia mengambil tempat dibagian dalam bis, membiarkan Heojun menikmati perjalannya dengan duduk didekat Jendela.

Sang kepala sekolah mengatakan beberapa hal yang bahkan hanya masuk dan keluar dikepala Jaejoong tanpa meninggalkan sedikitpun untuk menambah memori Jaejoong, hanya saja ia bisa merasakan ketika bis mulai berjalan meninggalkan pelataran sekolah.

"Junnie-ya." Ujarnya pelan. Heojun yang terlihat berseri-seri membuatnya kembali menguatkan hati jika inilah keputusannya. Apa yang terjadi nanti bisa ia pikirkan lain kali saja. Tapi, ada satu pertanyaan yang benar-benar harus ia tanyakan.

"Ne, mommy?" mata besar anak itu mirip dengannya. Sungguh bagai Heojun itu benar-benar putranya. Putranya, bicara tentang itu, bagaimana rupa putra kandungnya ya? Hhh~ jika Junnie kehilangan ibunya, maka putranya kehilangan sosok ayah. Pengambilan keputusannya semakin terasa berat mengetahui Heojun sudah kehilangan sosok ibunya. Ia tak mau meninggalkan Heojun dan Yunho. Tapi bagimana dengan putranya? Kejam jika ia mati-matian mengurusi Heojun yang notabene orang lain dan meninggalkan putranya begitu saja. Argh! Ini menyebalkan. Ia sunguh, sungguh tak mau kehilangan Heojun.

Lupakan tentang itu Jae-ya, kau harus menanyakan sesuatu pada Heojun. siapa tahu ini bisa membuatmu semakin mantap dalam mengambil keputusan.

"Junnie tak merasa aneh?" ia bertanya dengan serius. Heojun hanya mengerutkan keningnya tak mengerti. Apanya yang harus dirasakan aneh? Heojun sedang merasa excaited! Papa bilang Kyoto adalah kota pertamanya saat tiba di Jepang, tapi ia sama sekali tak mengetahui bagaimana bentuk Kyoto.

"Ha-ha" Heojun menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Junnie senang mommy."

"Mommy tahu, tapi Junnie lihat." Jaejoong menunjuk pada para ibu satu persatu diiringi tatapan Heojun pada apa yang ditunjukknya.

"Okaachan Yuri? Kenapa?" Junnie menatap kosong pada pasangan ibu dan anak yang terakhir Jaejoong tunjuk, lalu mengalihkan tatapannya pada Jaejoong.

"Semua memakai baju yang sama, tapi mommy memakai celana." Jaejoong memnunjuk celana putihnya. "Tidakkah Junnie merasa aneh?"

"Junnie tidak—, ada apa mommy?" meski belum banyak angka yang menyebutkan umurnya, namun nampaknya bocah itu mengerti, ada hal yang memngganggu Jaejoong.

"Mommy satu-satunya mommy yang memakai celana disini. Junnie tahu mommy laki-laki. Tidakkah aneh jika mommy seperti itu?" Jaejoong mengucapkannya dengan berbisik kali ini. Matanya was-was menatap Heojun. cemas menunggu apa yang akan menjadi kalimat Heojun. ia sungguh takut reaksi Heojun adalah mata membulat dan mengatakan 'Benar juga, ini aneh. Junnie harus tanyakan pada papa.'

"Ah, itu tak apa mommy. Junnie tahu kok." Eh? Sungguh? Junnie mengatakan hal itu dengan senyuman hangatnya. Pantas saja selama ini Heojun tak bertanya, ia sudah berpikir begitu sejak awal. Yunho, memberi penjelasan dengan baik pada putranya.

Tapi, sungguhkah karena hal ini ia bisa tenang tetap berada dengan Heojun dan ayahnya? Sungguh? Apa ia tak punya hati sehingga mampu dengan kejam membiarkan keluarganya hidup tanpanya?

-oOo-

Kyuhyun dan Changmin bertukar pandangan. Ia dan Kyuhyun tengah berada di sebuah cafѐ tak jauh dari kantor pria berlesung pipi yang tengah menyeruput kopinya. Mereka menyeret pria yang berusia lebih tua dibandingkan mereka itu untuk menuntut penjelasannya mengenai Jaejoong.

"Ehm, sebentar hyung? Bagaimana tadi? Kau atau Kibum hyung yang menemukan Jaejoong hyung?" tanya Kyuhyun secara tak sabar. Padahal, Siwon belum selesai menyeruput kopinya. Pria tampan itu meletakkan kopinya perlahan, menyederkan punggungnya dan duduk dengan santai.

"Kibum yang menemukannya ketika ia pulang bekerja. Aku yakin Jaejoong tidak tertabrak mobil atau apapun itu. Tak ada luka serius di tubuhnya saat itu. Kibum membawanya pulang dalam keadaan tak sadarkan diri. Dokter yang kami panggil mengatakan tak ada luka serius, jadi kami mengobatinya dirumah. Dan ya, dua hari kemudian Jaejoong siuman. Sayangnya ia tak mengingat apapun."

"Amnesia." Gumam Changmin segera.

"Lalu, dari mana kau mengetahui namanya Kim Jaejoong? Kau menemukan tanda pengenalnya? Mengapa kau tak antarkan saja pada alamat yang tertera dalam tanda pengenal itu? Kau menyebalkan hyung. Membuat semuanya rumit saja." Tak cukup hanya dengan membrondong Siwon, Kyuhyun bahkan menyalahkan sepupunya itu. Yang disalahkan hanya tersenyum yang menyelipkan seringai mengejek didalamnya. Sudah sangat terbiasa menghadapi sifat Kyuhyun yang satu ini.

"Hhh~ dengar Kyu. Aku tak menemukan tanda pengenalnya."

"Tapi, kau mengetahui namanya, bahkan benar tentang marganya." Changmin menyela penjelasan Siwon ketika ia mencapai jeda.

"Kau benar Min, tapi bisakah kau membiarkan aku? Jangan bertanya sebelum penjelasanku selesai." Siwon memutar matanya jengah. Jika terus disela seperti ini, kapan ia bisa menyelesaikan ceritanya?

Changmin menatap Kyuhun dan menepuk bahu pria yang lebih kecil darinya itu. Meminta agar Kyuhyun menyetujui apa yang Siwon harapkan. Kyuhyun mengangguk mengerti. Dalam hati ia berjanji untuk tak bertanya sebelum Siwon selesai dengan penjelasannya. Mereka harus bisa menahan diri jika ingin rasa penasaran mereka segera hilang dengan adanya penjelasan dari Siwon.

"Jaejoong mengatakan jika ia tak nyaman jika harus terus berada dirumah kami. Ia berpikir itu akan merepotkan kami. Jadi ia meminta pada kami untuk dicarikan pekerjaan. Kibum meminta tolong pada bosnya untuk—"

"Aku ingat, pantas saja aku merasa pernah melihat Kibum. Kekasihmu bekerja untuk kakakku kan?" ha-ah~ Siwon harus mengelus dadanya. Lagi-lagi Changmin menyelanya. Ia ingin marah jika saja tak menyadari jika Changmin menyebut apa? Kekasihnya bekerja untuk—

"—kakakmu?"

"Iya. Jung Yunho. Kalau aku tak salah ingat, Kibum yang saat itu sibuk dengan komputernya yang membenarkan jika ruangan dibelakangnya ada milik kakakku."

"Kau, adiknya Jung Yunho?" Siwon, walau dengan nada datar ia bertanya namun dari wajahnya nampaknya ia kaget.

"Iya. Aku Jung Changmin. Tidakkah kau mendengarkanku saat aku memperkenalkan diri?" Changmin menekuk bibirnya membentuk perahu terbalik.

"Yunho yang memberinya nama Jaejoong. Kalau aku tak salah dengar, Kibum mengatakan bahwa menurut Yunho ada seorang penyanyi di Korea bernama Jaejoong yang memiliki wajah mirip dengan Jaejoong. Jadi, ia menyebut Jaejoong ketika pertama kali bertemu. Karena kami belum menemukan panggilan yang pas untuk Jaejoong, kami pun mengikuti Yunho. Memanggil pria yang kami obati dengan nama Jaejoong. Tentang marganya, kami memilih Kim atas saran Yunho. Karena Kibum yang menemukan Jaejoong." Siwon melanjutkan penjelasannya. Ia mengambil kopinya karena merasa tenggorokannya kering.

"APA?!" Chanmin dengan nada tinggi plus Kyuhyun berteriak berbarengan, hampir saja membuat Yunho menyiramkan kopi dalam cangkir yang tengah dipegangnya.

"Yah! Apa yang aneh dengan penjelasanku?" kali ini Siwon benar-benar kesal. Sudah teru menerus disela, kali ini telinganya diteriaki suara yang auh, bagaimana cara menjelaskannya ya?

"Tadi, kau bilang apa? Jadi Yunho hyung telah bertemu Jaejoong hyung?" tanya Changmin. Matanya masih menyorotkan rasa ketidak percayaan. Aih, mengapa begini sih? Apa yang terjadi? Apa Yunho sudah gila. Kyuhyun mengangguk mendukung pertanyaan Changmin. Ia melihat Changmin dan Siwon bergantian.

"Iya. Dan apa aku belum mengatakan? Jaejoong bekerja untuk mengasuh putra Yunho." Siwon berkata dengan polosnya, yang tidak polos adalah teriakan babak kedua oleh Changmin featuring Kyuhyun. Membuat Siwon menjadikan jari telunjuknya sebagai penutup telinga seraya menundukkan badannya, meminta maaf pada pengunjung lain di tempatnya berada yang merasa terganggu dengan dua kali teriakan membahana milik Changmin dan didukung oleh Kyuhyun.

"Sialan. Yunho hyung sialan. Dia mau menyimpan Jaejoong hyung sendirian?" Changmin berdiri. Menahan amarah yang nampaknya mulai menguasainya. Ia tak tahu, sejak kapan keberadaan Jaejoong nampak penting baginya. Tapi, Yunho yang membohonginya sangat membuatnya kesal. Hei, adik mana yang tak kesal jika kakaknya menyimpan rahasia fatal seperti ini sendirian? Apa ia tak bisa sedikit saja mempercayai saudaranya?

Kyuhyun menggenggam erat kepalan tangan Changmin. Dengan matanya, ia meminta agar Changmin menahan amarahnya. Mata hitam yang mau tak mau membuat Changmin memang harus mendinginkan kepalanya lebih lama lagi.

"Maksudmu apa Min?" Siwon mengerutkan dahinya bingung. Melihat Changmin, ia berpikir tak mungkin menanyakan jawabannya pada pria itu. Jadi ia beralih pada Kyuhyun, meminta jawaban atas pertanyaannya pada sepupunya itu.

"Yunho hyung, adalah suami dari Jaejoong hyung. Kau mengenal Junnie? Atau, Jung Heojun?" Kyuhyun menjawab pertanyaan Siwon dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan. Ia mendapat anggukan Siwon sebagai balasan atas pertanyaannya. "Junnie adalah putra kandung mereka hyung."

"He?"

-oOo-

Kibum mengabaikan dokumen yang sedang dipelajarinya, beberapa kali ia melirik-lirik pintu masuk menuju ruangan atasannya. Hatinya sedang menimang-nimang, apa yang sebaiknya ia katakan. Ia mengerti jika hunbungan Jaejoong dan Yunho sudah lebih berkembang. Tapi mengajak Heojun tanpa izin dari Yunho sedikit membuatnya khawatir. Sesuatu yang ditakuti Yunho mestilah sesuatu yang besar. Tak mungkin ia melarang Jaejoong dan Heojun hanya karena hal remeh.

Hah, ia tak bisa begini. Ini hanya membuang waktunya. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada Jaejoong dan Heojun? lebih baik ia memberi tahu Yunho saja. Yunho mungkin lebih tahu cara menghadapi apa yang dilakukan Jaejoong hari ini.

Kibum beranjak dari kursinya, ia melangkah perlahan namun pasti ketempat Yunho berada.

Tok..tok...tok

"Masuk!"

"Bos, ini aku." Kibum membuka pintu yang memisahkan ruangannya dengan ruangan Yunho setelah mendengar izin dari Yunho. Yunho mendongak, memberikan perhatiannya pada sekretaris kesayangannya itu.

"Kemarilah, ada apa?" ujar Yunho saat melihat Kibum tetap dengan posisinya, dimana ia menyembunyikan sebagian besar tubuhnya oleh pintu yang tak ia buka sepenuhnya itu.

"Aku ingin bicara. Kuharap kau tak marah." Kibum membuka pintunya lebih lebar lagi, lalu segera melangkah masuk.

"Ada apa?" Yunho melepaskan tangannya dari mouse. Ia beranjak dan duduk pada sofa tamu yang biasanya digunakan Heojun jika anak itu datang kesini.

"Ano," Kibum mendudukkan diri di sofa yang berhadapan dengan Yunho. "Itu, Jaejoong dan Heojun pergi." Ucapnya pelan. Ia menundukkan wajahnya, was-was akan reaksi Yunho.

"Biar saja, mungkin mereka bosan dirumah sepanjang hari." Jawab Yunho santai. "Mungkin aku akan terlihat jahat jika benar-benar mengurung mereka dirumah." Lanjutnya.

"Tapi," Kibum menghela napas untuk mengumpulkan keberaniannya. "Jaejoong dan Junnie mengikuti darma wisata, ke Kyoto."

Yunho membatu. Ia tidak nampak marah, meleset dari perkiraan Kibum. Namun, terdiamnya bosnya itu membuat Kibum sedikit khawatir juga, jangan-jangan Yunho akan meledak sebentar lagi.

"Aish~" dan tidak, Kibum tak mendapati Yunho marah. Pria bermata tajam itu memijat ujung hidungnya. "Tetap saja keras kepala. Benar-benar Jaejoong. Ia tidak melupakan sifatnya tapi lupa padaku dan putranya. Kibum, kau mengetahu tempat mana saja yang akan mereka datangi? Ah, tidak. Aku bisa menelpon Ayuri saja." Yunho bertanya namun segera menjawab pertanyaannya sendiri. Ia beranjak mengambil kunci mobil dan jas yang ia sampikan di kursinya. "Tolong selesaikan pekerjaanku. Aku pergi dulu." Pria tampan penuh karisma itu pergi meninggalkan Kibum yang ingin melemparkan pertanyaan yang telah berada diujung lidahnya. Aish, ia akan mati penasaran dengan ucapan Yunho jika begini.

Ia beranjak ke meja kerja Yunho. Pekerjaannya saja belum selesai, sekarang ia diberi tambahan pekerjaan. Bosnya sungguh baik eoh? Ia melihat layar monitor dan menggerakkan mouse untuk menggerakkan kursor di layar datar itu. Ia harus mengetahui apa yang sedang dikerjakan Yunho untuk bisa melanjutkannya.

Pekerjaan ini bukanlah pekerjaannya. Ini hanya bisa Yunho yang melakukan, jadi ia menyimpan data pekerjaan yang baru setengah dikerjakan Yunho dan mengkopinya dalam flashdisk yang memang selalu berada dalam tas kerja Yunho. Ia membereskan semuanya, merapikan meja Yunho dan jika semua ini selesai,ia bisa melanjutkan—

"Hyung! Dimana kau?" pekerjaan yang Kibum tinggalkan nampaknya harus menunggu lebih lama lagi untuk bisa diselesaikan. Ada suara yang nampaknya ia kenal menerobos masuk dari pintu yang terbuka itu. Pria berambut hitam ini menutup resleting tas kerja Yunho dan berdiri untuk menyambut tamu yang datang dengan sangat sopan itu.

"Ada apa?" tanyanya begitu melihat Changmin.

"Dimana kakakku?" lho? Kakak? Kibum pikir Changmin kemari untuk menemuinya. Tapi ia malah menayakan kakaknya? Apakah kak Changmin bekerja disini juga? Kok Kibum tidak tahu ya?

"Kakak? Siap—"

"Yunho." Kibum mendapat jawaban sebelum ia menyelesaikan pertanyaannya. Benar-benar sopan pria ini.

"Yunho? Kakakmu?" Kibum membulatkan matanya, ah~ hari ini terlalu sering ekspresi itu keluar.

"Iya, dimana dia?" tanya Changmin tak sabaran.

"Baru saja ia pergi. Sepertinya ia akan menyusul Jaejoong."

"Kau mengetahui alamat rumah Yunho hyung di Kyoto tidak hyung?

"Sepertinya aku masih menyimpan catatannya. Tunggu sebentar." Kibum melangkah keluar dari ruangan bosnya untuk menuju ke meja kerjanya diikuti Changmin. Ia mengambil beberapa folder berwarna biru dan mulai membukanya satu persatu. "Aku tak mengerti Min, apa Yunho juga mengenal Jaejoong? Seperti kau dan Kyu?" tanyanya pada Changmin, namun matanya tetap menelusuri setiap lembar isi folder kedua yang dibukanya.

"Tentu hyung, Jaejoong hyung itu istri yang sangat ia sayangi, ibunya Junnie. Aku tak mengerti mengapa ia merahasiakannya dari kami. Dan membuat Jaejoong hyung menjadi pengasuh Heojun. bukankah sebaiknya ia mengatakannya pada Jaejoong hyung?" Changmin mengetukkan jarinya tak sabar. Kibum yang sedang menarik keluar lembaran kertas yang berisi alamat rumah Yunho menghentikan gerakannya.

"Istri? Dan mereka memiliki seorang putra? Junnie putra kandungnya?" oh wow! Ini kejutan besar. Jaejoong mengalami male-pregnant? Betapa sempurnanya. Ia juga ingin seperti itu, agar ia bisa memiliki seorang putra dengan Siwon.

"Iya. Kau sudah menemukannya? Ayolah, kau bisa cepat? Aku ingin menghajar Yunho hyung." Changmin menadahkan tangannya dihadapan Kibum. Kibum mengendikkan bahunya melihat ketidak sabaran Changmin.

"Ini." Kibum memberikan kertasnya. "Katakan pada Yunho jangan memarahi Jaejoong ya." Ujarnya lagi, meski ia tahu hal itu sia-sia. Karena Changmin telah menghilang dari hadapannya. Ia harus segera pulang, ia ingin memberi tahu Siwon tentang kabar yang mengejutkan ini.

-oOo-

"Baiklah, hari sudah sore. Sudah tiba waktunya untuk jam bebas. Kalian bebas melakukan apapun. Kita bertemu lagi disini tepat jam delapan nanti." Tetap dengan pengeras suaranya, kini seorang guru wanita yang mengatakan hal itu. Itu bukan Ayuri, nampaknya wanita itu mengajar dikelas lain. Jaejoong tak mengenalnya.

Ia berjengit ketika merasakan Heojun menggenggam telapak tangannya. Nampaknya bocah itu takut terpisah dengan Jaejoong karena suasana yang sedikit kacau disini. Setiap orang atau beberapa orang berlalu lalang. Jam bebas berarti bebas pergi dan melakukan apa saja, jadi banyak dari mereka berniat berbelanja atau melihat-lihat tempat yang tak ada dalam tujuan wisata sekolah, namun tak jauh dari lokasi tempat mereka berkumpul sekarang.

"Mommy." Ujar Heojun ketika keadaan sedikit tenang. Jaejoong berlutut untuk menyamakan tingginya dengan Heojun.

"Ada apa Junnie-ya?"

"Ayo!"

"Eh?"

"Kerumah papa. Junnie ingin kesana." Junnie merogoh kantong celana seragamnya. Ia meraih sebuah kertas catatan kecil serta poto lama dari sana. "Junnie mendapat alamat dan membawa potonya." Ia mengibaskan dua benda yang dipegangnya.

"Junnie benar-benar ingin kesana ya? Junnie menyiapkannya lengkap sekali?" Jaejoong menyeringai pada bocah dihadapannya itu. Ia meraih kertas yang disodorkan Heojun. Dengan ini saja, sudah cukup. Ia akan mudah menemukan rumah Junnie dan Yunho itu. Ayo mencari taksi." Jaejoong berdiri, ia menyodorkan tangannya agar Heojun mengandengnya. Memperkecil resiko ia kehilangan Heojun disini. Karena entah mengapa, ia pun percaya. Alasan Yunho sangat keras melarang Heojun kemari itu sangat kuat.

...

Jaejoong dan Heojun menapaki jalan setelah supir taksi mengatakan bahwa alamat dalam kertas yang disodorkannya saat naik tadi tak jauh dari sini. Ia mungkin butuh berjalan sebentar saja untuk menemukan alamat yang sama dengan yang tertera diatas kertas yang terlihat mulai usang tersebut.

Ia mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Heojun. Memang banyak rumah didaerah sini. Semuanya besar-besar, bahkan lebih cocok disebut mansion dibandingkan rumah. Pagar yang mengelilingi setiap rumah begitu tinggi, membuat Jaejoong berdecak kagum. Hanya saja, ia merasa tak asing dengan keadaan seperti ini. Apa ia sering melihatnya di Korea? Tapi sungguhkah ia keturunan Korea? Apa jangan-jangan ia anak orang kaya? Jika iya, seharusnya keluarganya akan mencarinya dengan berbagai cara. Aih, pikirannya sendiri membuatnya kembali merasa bingung. Mungkin seharusnya ia ikut Changmin dan Kyuhyun saja untuk mengetahui siapa ia sebenarnya sebelum kehilangan ingatannya. Dengan begitu ia akan mendapatkan kembali dirinya dan ingatannya namun harus kehilangan dua pria pemilik hatinya. Aish, Jaejoong risau lagi. Siapapun akan mengatakan jika hati itu lebih penting dibanding harta apapun, tanpa hati orang takkan mampu berdiri untuk meneruskan hidup. Dari hal itu, seharusnya Jaejoong lebih memantapkan hati mengenai keputusannya itu.

"Sepertinya ini rumahnya." Heojun memandang poto yang ada ditangannya berulang kali bergantian dengan sebuah rumah dimana mereka sedang berada didepannya. Pagar-pagar yang tinggi membuat Junnie dan Jaejoong sedikit kesulitan melihat bentuk rumah yang ada dihadapannya. Tapi, memang rumah inilah yang paling mirip dengan rumah dalam poto.

Jaejoong mengangguk mengiyakan. Ia mendekati sentral pintu gerbang ber cat keemasan tersebut. Ia mendesah ketika menyadari sesuatu yang sangat penting. Pintu gerbangnya terkunci.

"Junnie, sepertinya Junnie melupakan kuncinya." Jaejoong menunjukkan sebuah gembok yang tergantung diantara rantai. Warnanya masih silver berkilauan meski ditinggalkan dalam waktu lama. Heojun yang awalnya semangat tiba-tiba melongo. Yap, ia melupakan tentang hal itu. Bagaimana bisa ia melupakan hal sepenting ini. Ah, bagaimana caranya mereka masuk jika pintu tertutup?

Jaejoong menyentuh pelipisnya. Menggaruknya walau tak gatal. Heojun menepuk dahinya. Dengan tingkah yang ke-Yunho-an ia mengacak-acak rambutnya. Mungkin mereka akan terus seperti itu sampai jam bebas habis. Sudah sejauh ini, hal fatal datang terjadi, aish~

"Permisi. Sed—eh? Tuan muda?" pucuk dicinta ulam pun tiba. Seseorang yang datang nampaknya mengenal mereka. Dari kata 'tuan muda' yang pria paruh baya itu ucapkan nampaknya ia mengenal Heojun. Yosh! Baguslah, dengan begitu kedatangan mereka tak sia-sia.

"Ah, hallo. Kami—"

"Sudah lama sekali tak datang kemari. Akan kubukakan pintunya." Pria itu mengambil kunci dari saku celananya. Jaejoong merasa amat senang dan ia segera meraih tangan Heojun. Ia senang menyadari pria itu kenalan Yunho dan Heojun. Tanpa menyadari hal yang sangat penting, tak memikirkan bagaimana bisa pria itu mengengenal Heojun padahal Heojun tak pernah kemari sejak ia berumur satu tahun. Tak menyadari, siapa yang sebenarnya 'tuan muda' yang disebut oleh pria itu.

Mereka memasuki halaman yang berupa taman, tak terlalu luas namun indah dan terlihat nyaman. Tak berapa lama mereka tiba didepan pintu utama yang lagi-lagi langsung dibuka oleh orang yang menurut perkiraan Jaejoong adalah penjaga rumah ini. Dari depan samapi halaman terlihat terjaga, pastilah itu karena adanya bapak ini.

"Silahkan, aku akan membeli beberapa minuman untuk tuan. Permisi." Pria itu membukakan pintu utama rumah yang terlihat besar itu sebelum kembali pergi keluar. Hehehe, biar saja ia membelikan sesuatu untuknya dan Heojun. ia juga sedikit kehausan.

Ia melangkah memasuki ruangan yang menjadi pijakan langkahnya saat memasuki rumah ini. Ada sofa dan meja, nampaknya ini adalah ruang tamu. Junnie berlari memasuki rumah itu lebih dalam lagi, mau tak mau. Jaejoong harus mengikutinya. Bukankah rumah ini ketakutan terbesar Yunho? Ia harus menjaga Junnie dengan kekuatan dan perhatian ekstra disini.

Kakinya terus melangkah, matanya menjelajahi rumah yang terlihat yang mewah dimatanya. Rumah yang ditempati Yunho di Tokyo lebih pada modern minimalis, namun disini sebaliknya. Sangat mewahdan lebih besar, mungkin isi rumah ini berbeda dengan yang berada di Tokyo karena disini, Yunho tinggal bersama istrinya.

Ah, bahagia sekali jika memiliki rumah seindah ini.

Kedip,

Mata Jaejoong berkedip. Ia menghentikan langkahnya untuk mengikuti Heojun. Ia melihat sebuah poto dengan pigura yang besar terpajang diruangan kedua yang dijejakinya. Ruang keluarga nampaknya, dengan sofa santai dan televisi besar yang ada disana. Poto keluarga terpampang jelas karena berada di dinding di atas televisi. Spot yang akan menjadi pusat perhatian ketika kau berada di ruangan ini.

Oh~ begitu rupanya. Ia mulai mengerti sedikit demi sedikit tentang Yunho. Ia mendekati televisi yang secara otomatis membuatnya mendekati poto dalam pigura itu. Ia memiringkan kepalanya untuk meresapi setiap detail yang ada dalam foto keluarga dalam keadaan santai tersebut. Yunho berada dibelakang sebuah kursi yang terlihat dari beludru merah, kayu berukir naga menjadi kerangka kursi yang diduduki oleh istri Yunho yang saat itu menimang bayi Heojun dalam dekapannya. Mata besarnya terlihat sangat bahagia, berbanding terbalik dengan hatinya yang kini berkecamuk. Istri Yunho menggunakan kaos dengan potongan v dilehernya berwarna merah pudar. Heojun juga memakai baju bayi berwarna putih dengan corak merah pudar yang nyaris persis dengan kemeja yang dipakai ibunya. Ia bisa melihat jika istri Yunho mengenakan celana coklat muda. Sedangkan Yunho memakai kaos yang lagi-lagi berwarna merah pudar dengan cardigan putih keabuan yang nampak pas jika disandingkan dengan dua orang yang berada dikursi merah. Ia mengecup pipi istrinya ketika sang pengambil poto menekan tombol utama pada kameranya.

Dalam hatinya, Jaejoong mengakui jika keluarga itu terlihat sangat harmonis, bukan hanya tentang keadaan mereka, tapi juga latar belakang dan aksesoris yang mereka kenakan. Sederhana, santai namun sangat bahagia. Kkkh~ Jaejoong terkekeh, lucu. Jung Yunho sialan!

"Mommy terlihat sangat cantik." entah kapan Heojun kembali ke tempatnya. Ia mengenggam erat tangan Jaejoong. Jaejoong melihat Heojun juga melihat poto keluarga mereka. Jaejoong menyeringai. Cantik, ia akui sosok istri Yunho yang Heojun sebut mommy itu terlihat cantik disana. Tapi, ia juga ingin muntah jika mengakuinya secara terang-terangan. "Papa tampan. Junnie juga tampan." Lanjut bocah itu. Hei, ada diskriminasi disini. Jika yang Heojun maksud mommy adalah dirinya, searusnya ia juga menjadi sosok dengan titel tampan. Mereka bertiga sama-sama pria. Lain hal jika memang Heojun memberi gelar cantik untuk sosok yang sedang menggendongnya di poto tersebut. Ia menatap Heojun yang dengan senyuman cerah terus memandang poto tersebut.

Pantas,

Pantas saja Heojun terlihat santai saat ia menanyakan tentang mommy-nya yang adalah laki-laki. Terlihat acuh saat melihat poto keluarga itu, bahkan memuji atau entah mengejek dengan mengatakan ia cantik. Matanya, hidungnya, alisnya, bibirnya, rambutnya, warna kulitnya, warna irisnya, semuanya. Semua yang dimiki sosok istri Yunho dalam poto itu sama persis, tekankan. Sama persis dengan semua yang ada pada dirinya. Sosok dalam poto tersebut, ada belahan pinang miliknya. Mirip, tidak. Kata sama sudah menjadi yang paling cocok untuk menggambarkan keduanya.

Yunho, menjadikan ia sebagai penganti istrinya eoh? Pelampiasan, tidakkah itu kejam?

-TBC-

Chapter delapan datang, makasih yang udah nunggu :3 beberapa chapter terakhir ini akan mulai datang dalam hitungan minggu. Walau aku kurang yakin, karena aku masih ke blokir di chapter akhirnya T.T doakan agar aku bisa cepet-cepet selesein Mommy ya, menyusul The Mission yang tamat di chapter empat. Yang kebetulan nunggu, bisa baca juga The Missionnya *promosi, lagi.*

Keluarga yang dimaksud itu YunJun Kakkaichi, kayak yang dibilang sama Aizora. Weeh, aku suka banget nama kamu. Iya, aku usahain terus update cepet sampe tamat, Cuma aku nggak yakin, masalahnya chapter 10 belum kuketik T.T yoon HyunWoon. Makasih udah baca dan review ya.

Tenang, 3kjj. Aku bakal mulai di Chapter depan untuk ingatan Jeje. Chapter 10 full flashback, dan mungkin tamat disana kalau memungkinkan, kalau nggak butuh adanya chapter 11 mungkin. Tapi, aku juga nggak yakin bisa ada mpreg lagi selain Jeje Garrife (ini aku nggak salah nulis nama reviewer kan?). Nahkan, Jejenya lupa ingatan dan nggak tau kalo YunJun adalah keluarga yang dimaksud. Jadinya, dia nggak pengen ninggalin YunJun buat ketemu YunJun, gitu Anik0405. Jae punya ikatan batin Ke Junnie dengan perasaan sayang seorang ibu ke anaknya. Itu bisa kelihatan dari beberapa tindakan Jaejoong buat Heojun. iya kan? Kyutket88.

Makasih bangeeeet, nunoel31. Udah suka ceritanya. Makasih atas doa dan semangatnya. Semoga kamu juga happy terus ya XD9 aku usahain nggak lama-lama, apalagi kalau sampe ninggalin ffnya.

Wah, wah, nanti aku liat ada nggak obat sakit perut yah, meow *mendadak jadi tukang obat sih -.-'* yah kan, jejenya ilang ingetan. Jadi gitu deh. Untuk asdbsk, iya. Diusahakan :3 makasih ya.

Iya juga ya, biar ada modus gitu untuk hubungan mereka. Kan kita-kita juga yang greget ne sycarp? Si mami bikin kita guling-guling gregetan, coba langsung nikah aja, iya nggak? hehehe, makasih. Jadi sebenernya aku nggak maksain manjangin alur? Gitu? Begini udah klop? Cara penyampaiannya udah enak? Sebenernya, intros diri itu bikin bingung. Kadang kita nggak ngeh sama kesalahan yang udah kita bikin ya -.- aku juga nggak ngeh, aku nyaman dengan caraku nulis yang kayak gini. Sengaja atau tidak, aku jadi pertahanin deh.

Buat Guest dan dan yang review lewat pm makasih kritik sarannya. Mendetail dan nggak panjang ya? Aku terima sarannya, hihi. Akhirnya, aku dapet saran juga. Aku akan liat bisa nggak dibikin begitu. Alur dan penyampaian aku rasa lebih penting. By the way, untuk kamu ketahui, jika ff multi chapter dan novel Lengthnya nggak akan tuh jauh berbeda. Seperti cerpen dan one shot. Maka multi chapter mungkin pasangan yang cocok dengan novel. Hanya saja, novel tak bersambung perchapternya. Karena awal sampai akhir chapter berada dalam satu buku. Sedangkan ffku aku buat bersambung. Aku nggak tau bisa nerapin saran kamu atau nggak, ff ini hanya sebuah hasil dari kesukaan aku terhadap menulis, dan aku nggak mau kehilangan ke-enjoy-an aku dalam menulis ff hanya karena saran yang nggak bisa aku terapin disini. Aku mungkin bakal nerapin itu di karya-karya selanjutnya, bukan disini. Karena alur ff ini memang harus begini. Tapi, thanks loh, atas sarannya.

Yang review, makasih ya~. Yang baca, makasih ya~ Aku nggak mewajibkan kalian buat baca. Yang suka aku persilahkan baca dan review dengan senang hati XD, yang nggak ya bisa klik back aja :D

O-Cyozora