Sore hari identik dengan suasana sejuk, apalagi ketika sang surya tak lagi menampakkan diri dan dengan baik hati hanya meninggalkan semburat kemerahan yang membuat banyak orang betah melihatnya. Suasananya sudah pasti sejuk. Ya, seharusnya. Tapi tidak dengan suasana dan aura diruangan ini. Ruangan besar dengan hanya empat orang serta barang-barang penunjang dekorasi yang ada disini. Namun entah mengapa, suasananya terasa sesak. Udara seolah sangat langka meski beberapa ventilasi lebar terdapat disana. Tegang dirasakan semua pria disana, terkecuali anak lelaki yang belum mengerti apa yang sedang terjadi disini.

Pria didekat televisi yang tengah menggenggam tangan anak berumur kurang dari enam tahun itu memberi tatapan tajam pada pria yang baru saja datang dengan keributan menyertainya. Sepertinya, ada yang baru saja membanting pintu disini. Ah, bukan sepertinya. Ia memang membanting pintu karena terlalu terburu-buru untuk sampai diruangan ini.

"Ehm," salah satu yang merasakan ketengangan akibat tatapan itu berinisiatif untuk menghentikan semua. "Junnie sudah melihat kamar Junnie diatas?" tanyanya. Ia memandang bocah yang sedang memegang satu botol minuman ringan yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Belum, papa." Jawabnya dengan polos.

"Nah, Junnie bisa melihatnya. Pak Han pasti senang menemani Junnie." Ujarnya lagi. Kali ini ia memandang pria yang berada dekat dengan pintu yang menghubungkan ruangan dimana ia berada dengan ruangan pertama yang ia masuki di rumah ini. Pria paruh baya itu nampak mengerti dengan tatapan darinya, sehingga tak butuh lama untuk pria itu melangkah mendekati Heojun.

"Nah, ayo tuan muda." Ujarnya seraya menyodorkan tangannya yang kemudian menggenggam tangan mungil milik Heojun. Matanya, serta sepasang mata milik pria yang tadi memandangnya kiti tertuju pada arah yang sama. Junnie dan pengurus rumah besar ini.

Barulah setelah Junnie dan pak Han tak nampak lagi, kini ia beralih pada pria yang tengah berada dekat dengan televisinya, namun nampaknya bukan televisi yang akan menjadi pokok masalah yang akan mereka bahas. Namun, benda yang menjadi isi pigura yang berada pada dinding dibelakang atas televisi itu.

"Kau tergesa kemari sampai membanting pintu depan. Tentu, ada yang bisa kau jelaskan padaku tuan Jung?" ah, ia merasa batinnya mencelos ketika mendengar namanya tak disebutkan dalam panggilan biasa dari pria yang ia tahu tengah murka itu. Sebuah nama formal yang lolos dari bibir penuh semerah ceri itu menandakan jika ia, ia memang harus menjelaskan sesuatu agar kemarahan pria itu selesai.

-oOo-

MOMMY © O-CYOZORA

YunJae

YooSu

ChangKyu

SiBum

Genre: Romance, Family

::BOYS LOVE, OOC, OC, AU, MYSS, TYPO::

©Yunho dan Jaejoong saling memiliki, O-Cyozora hanya menulis cerita dan tentu mengklaim OC dan jalan ceritanya©

PART 09

ENJOY~

-oOo-

"Jadi, apa yang ingin kau jelaskan?" Jaejoong menyeringai miris kearah Yunho, pria yang tengah kikuk beberapa langkah dihadapannya. Matanya yang seolah mencari sesuatu yang bisa membantunya terhenti ketika melihat sofa kesayangan istrinya. Ia tersenyum, mencoba meminimalisir ketegangan yang tengah memenuhi dirinya.

"Memang ada yang ingin kujelaskan." Ujarnya seraya melangkahkan kaki mendekati Jaejoong. "Tapi, sebaiknya kita duduk dulu. Akan ku jelaskan padamu semuanya." Tambahnya setelah menarik tangan itu lembut. Ia membawa Jaejoong untuk duduk pada sofa tersebut.

"Jadi?" Jaejoong bertanya, tak sabar menunggu rentetan kata keluar dari mulut Yunho.

"Minumlah dulu, pak Han sudah membelikannya untuk kita." Yunho membuka kaleng minuman bersoda yang diletakkan pengurus rumahnya dimeja sana, lalu menyodorkannya ke hadapan Jaejoong. Jaejoong sendiri hanya melirik tak acuh pada kaleng itu ketika Yunho membuka kaleng kedua untuk kemudian langsung ia minum sendiri.

Berbelit, membuang-buang waktu! Apa maksud Yunho untuk semua ini? Tak bisakah ia langsung saja? Menyebalkan!

"Hei, Jung! Dimana penjelasannya?" Jaejoong mengingatkan Yunho yang hampir tersedak karena panggilan yang digunakannya. Jung? Hei~ itu memang nama keluarganya, marga miliknya. Tapi diucapkan oleh Jaejoong membuatnya merasa tak nyaman. "Apa susahnya mengatakannya padaku?" tambahnya membuat Yunho meletakkan minumannya. Matanya menatap Jaejoong untuk beberapa saat, lalu kembali untuk menatap potret keluarga bahagianya.

"Gomen." Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya, membuat Jaejoong terkekeh pendek. Gomen? Sebuah permintaan maaf? Baginya, permintaan maaf dari Yunho layaknya air dikala hujan. Terlalu mudah dan terlalu sering ia dapatkan.

Lagipula, apakah satu kata maaf cukup untuk perbuatannya untuk Jaejoong? Selama ini bertopengkan memberinya pekerjaan, padahal ia hanya memanfaatkan Jaejoong saja. Menyentuh tubuhnya tanpa ijin dan mengoyak hatinya. Jaejoong mengakui, jika ini bukanlah kesalahan Yunho sepenuhnya. Kebodohannya yang sempat menganggap semua perlakuan Yunho padanya berdasarkan cinta, itu juga merupakan kesalahan. Heh, mana ia tahu jika ia hanya dimanfaatkan sebagai pelampiasan.

Jaejoong juga mengerti, banyak hal yang dilakukan Yunho untuk dirinya. Setidaknya, katakanlah pria itu membantunya. Tapi, rasa sakit dihatinya tak bisa hilang begitu saja.

Tak sengaja matanya mengarah pada sekaleng minuman yang dibukakan Yunho untuknya dimeja tak jauh dihadapannya. Hmm~ memberi pria jahat disampingnya sedikit pelajaran tak membuatnya berdosa besar kan? Hanya menyiram Jung Yunho dengan minuman itu bukan masalah besar kan?

Baik, sudah Jaejoong putuskan. Ia akan menyiram Yunho dengan minuman itu, setidaknya ia kan merasa hatinya sedikit meringan dengan melakukan itu. Jadi, Jaejoong menggerakkan tangannya untuk kemudian menggapai kaleng yang berada pada meja kaca itu.

Tunggu, matanya menatap lima hiasan diatas meja yang tak berada jauh dari jangkauan tangannya. Tiga buah gajah berwarna biru dengan ukuran berbeda yang terbuat dari kramik itu, nampaknya ia pernah memilikinya. Bahkan,

'Aaaaa~ lucu sekali. Tunggu sebentar. Aku mau membelinya!' eh, suaranya? Itu suaranya kan? Ia merasa melihat dirinya tengah berada didepan sebuah tokoh denagn sisi lain dari etalasenya menampilkan tiga buah gajah berwarna biru. Tuh kan, bahkan Jaejoong ingat bagaimana ia mendapatkan gajah-gajah yang terlihat sama persis dengan gajah di meja rumah Yunho ini. Pasti, ia memiliki gajah-gajah yang sama. Ah, mungkin ada baiknya ia ikut dengan Changmin saja. Bukankah dengan begitu ia akan men—eh?

Sebentar~ kali ini matanya beralih pada sebuah boneka beruang. Terbuat dari bahan yang sama dengan para gajah mungil itu, dari keramik. Yang ini, ia merasa ingat juga dengan hiasan setinggi kurang dari sepuluh senti itu, err~ 'Ini untukku?' ia bisa melihat dirinya tengah membuka sebuah kotak kado berwarna coklat muda. 'Hehehe~ ini mirip denganmu. Kau memberikan ini untukku agar aku selalu mengingatmu ya? Bear?' suaranya terdengar riang. Apa kah kehidupannya dimasa sebelum kehilangan ingatan begitu membahagiakan?

Lalu, hiasan kecil berbentuk eskrim vanila dengan sebuah ceri merah diatasnya. Yang ini terbuat dari kaca berwarna. Ia juga merasa tak asing dengan yang ini. Ia juga yakin pasti mengingat bagaimana cara mendapatkan hiasan mungil ini seperti ia mengingat bagaimana ia mendapatkan para gajah serta beruang tadi.

Ia mendapatkan hiasan es krim ini~, bagaimana ya? Dimana ia mendapat hiasan yang terakhir ini? Tunggu sebentar, mengapa tak ada berkas ingatan yang melewati ingatannya? Ia pasti mengetahui bagaimana mendapatkan yang satu itu. Ayolah ingatan, kembalilah sedikit sa—

Pyang!

"Ukh!" err~ nampaknya Jaejoong harus membatalkan niatnya untuk memberi Yunho sedikit pelajaran dengan menyiramkan minuman yang tadi dibukakan Yunho untuknya. Lihat saja, minuman itu telah menyiram lantai marmer dibawah sana. Tak mungkin jika Jaejoong harus mengumpulkannya untuk memberi pelajaran pada Yunho kan. Memang lebih baik ia batalkan saja.

"Jae, kau tak apa?" Yunho memegang kedua lengannya begitu melihat Jaejoong memegangi kepalanya.

"Sa..kit." rintihnya pelan.

"Mian sayang, inilah alasanku tak memberitahumu. Ini semua untukmu." Jaejoong berhenti memegangi kepalanya setelah Yunho menyelesaikan kalimatnya. Ia mendongakkan wajahnya demi mendapatkan tatapan penuh kekhawatiran dari pria yang lebih tinggi darinya itu. Kenapa? Kenapa mata penuh kekhawatiran itu polos tanpa ada unsur dibuat-buat? Sungguhkah Yunho khawatir padanya. Dan apa tadi? Ia seperti mendengar panggilan penuh kasih untuknya. Apakah Jung pabo ini masih mengganggap dirinya adalah istrinya? Sampai-sampai ia memanggilnya seperti itu. "Aku tak mau membuatmu sakit." Tambah Yunho.

"Tapi, kau sudah membuatku sakit Yun!" selesai dengan sakit dikepalanya, Jaejoong kembali mengutarakan kekesalannya.

"Ya, karena itulah aku meminta maaf Joongie-ya." Heh? Joongie-ya? Sebuah panggilan yang sangat amat manis. Tapi, bukankah itu hanya topeng?

"Aku menyayangimu dan Junnie Yun. Aku mencintai kalian meski aku tak mengerti mengapa aku bisa memiliki perasaan seperti itu. Dan kau hanya memanfaatkan perasaanku padamu." –dengan menjadikan Jaejoong pelampiasan saja. Jaejoong bangkit dari posisinya. Cukup, ia merasa cukup. Biarkan perasaannya terkubur saja nantinya. Ia tak mau lagi terluka karena perasaan sepihaknya pada Yunho. Akan lebih baik jika ia kembali pada keluarganya saja. Ia akan menemui Changmin, begitu ia bersama keluarganya nanti, ia akan mudah melupakan Yunho dan Heojun. Ia yakin itu.

"Jaejoongie," lirihan Yunho menahan langkah Jaejoong untuk beberapa saat. Jaejoong hanya terkekeh ketika lagi-lagi mendapatkan panggilan yang menurutnya hanya pantas digunakan untuk orang yang saling menyayangi. Memangnya ia dan Yunho saling menyayangi? Iya, tapi hanya di mimpinya saja ia rasa.

"Kembalilah sebelum pukul delapan nanti. Jika kau memilih pulang sendiri, hubungi Ayuri." Jaejoong mengingatkan Yunho tentang kepulangan Heojun dan darmawisatanya sebelum kembali melanjutkan langkahnya.

Jaejoong menghela napas pelan, mungkin inilah yang terbaik. Pergi sejauh mungkin dari Yunho dan kembali pada kakak Changmin. Lagipula, putranya pasti merindukan dirinya.

Grep!

Belum genap langkah Jaejoong mencapai angka lima, sebuah pelukan kembali menahannya. Ya, Yunho memeluknya dari belakang. Sebuah pelukan yang sangat erat.

"Jangan pergi." suara Yunho terdengar pelan, tak ada bedanya dengan sebuah gumaman. "Aku mohon, maafkan aku. Aku dan Junnie membutuhkanmu."

"Membutuhkanku atau membutuhkan sosok yang mirip dengan istrimu?" tanya Jaejoong sarkastik. Nampaknya membuat Yunho mati kata, karena selanjutnya pria itu tak lagi buka suara.

Jaejoong baru saja akan melepas pelukan Yunho secara kasar ketika ia merasa setetes air jatuh pada bahunya, membasahi kemejanya dan berakhir pada rasa hangat disusul dingin setelahnya pada bahunya. Tunggu sebentar, Yunho menangis karena menahan kepergiannya?

Jaejoong segera membalik tubuhnya menghadap Yunho. Mata bulatnya melebar ketika mendapati Yunho dengan mata yang berkaca-kaca. Jadi Yunho benar-benar menangis. Mendapati kenyataan itu, entah mengapa air mata langsung menyeruak keluar dari matanya. Membuat pandangannya mengabur ketika Yunho kembali mengeratkan pelukannya.

Nyaman, Jaejoong merasa nyaman dalam pelukan Yunho. Jika bisa, ia ingin selamanya dalam pelukan Yunho. Ia tak ingin lepas dari posisi ini, tapi huh. Nampaknya Yunho yang ingin lepas dari posisi ini. Pria itu menarik Jaejoong kembali duduk.

"Tunggu sebentar," Yunho mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi halus Jaejoong dan mengabaikan air mata yang hendak menetes dari matanya. Ia hanya mendongakkan wajahnya, berharap kristal bening itu tak menuruni wajahnya. "Sebenarnya apa yang membuatmu marah?" tambahnya lagi dengan nada lembut ketika merasa takkan ada lagi air mata yang akan menetes dari matanya, membuat Jaejoong jengah. Yunho itu bodoh atau apa sih, sudah jelas ia marah karena—

"Kau membuat aku jadi pelampiasan kan?" untuk apa lagi bertanya. Yunho mengangkat alisnya bingung. Mata merah dan air mata yang tersisa di pelupuknya tak bisa menutupi kebingungannya. He? Pelampiasan? Ia kira Jaejoong marah karena ia telah membohongi pria itu. Tapi, menjadikan Jaejoong pelampiasan bukanlah hal yang terlintas di pikirannya.

"Pelampiasan, maksudmu?" Yunho sungguh-sungguh bingung, ia harus mencari tahu apa yang sebenarnya Jaejoong pikirkan.

"Iya, wajah istrimu." Jaejoong menunjuk potret keluarga didinding itu dengan sadis. "Dan wajahku sangat mirip. Karena itu kau membuatku sebagai pengganti dirinya. Hanya istrimu yang kau lihat pada diriku. Bukan aku, Kim Jaejoong." kkkk~ ada salah paham disini.

Yunho menghapus kasar air mata yang sempat turun melewati dipipinya. Ia mengembangkan senyuman yang membuat Jaejoong semakin sebal pada pria itu. Ia menarik lembut tangan Jaejoong untuk kemudian menarik langkahnya ke depan televisi dan tentu saja, potret keluarga yang nampaknya jadi masalah utama disini.

"Dia memang istriku. Istriku yang cantik." Yunho, dengan tatapan penuh cinta mengusap lembut pipi 'istrinya' dalam potret itu.

"Ya, ya. Dia memang cantik." Dengan jengah mengakui jika sosok dalam potret itu terlihat cantik dan bahagia. Dan itu yang membuat Jaejoong kalap akan emosinya. Karena kebahagiaan yang selama ini direngguknya bersama Yunho dan Heojun hanya kebahagiaan semu untuknya. Pada kenyataanya, secara tak langsung kebahagiaan itu Yunho persembahkan untuk istrinya.

"Kau juga cantik," Yunho melepaskan perhatiannya pada potret tersebut. Kini, ia beralih pada sosok nyata dihadapannya, bukan hanya sosok istri yang terlihat dalam media dua dimensi saja. "Istriku yang cantik." Tambahan dari Yunho membuat Jaejoong yang hendak menyuarakan protesnya atas sebutan cantik yang ditujukan padanya kembali bungkam. Tuh kan, Yunho pasti gila. Bahkan, sekarang ia terang-terangan menyatakan bahwa Jaejoong adalah istrinya.

"Ak—"

"Sayang, tidakkah kau menyadari? Tak ada perbedaan antara kau dan dia." Yunho menunjuk 'istri'nya dengan hati-hati. "Bahkan saudara kembarpun tak mungkin bisa semirip ini. Hal ini hanya bisa terjadi jika ini adalah potret dari dirimu, jika kalian adalah orang yang sama." Yunho kembali menatapnya dengan penuh kerinduan. Jarak yang telah dekat semakin ia dekatkan ketika jemarinya menyentuh pipi Jaejoong.

"Helaian halus ini, sama dengan milik sosok yang terkunci dalam potret itu." Yunho mencium pelan pucuk kepala Jaejoong. Ia menatap Jaejoong sebelum kembali menyarangkan kecupannya pada mata kanan Jaejoong, membuat sang empunya menutup matanya pelan. "Mata ini adalah mata yang sama dengan mata yang selalu menatapku dan Heojun dengan penuh kasih." Jaejoong membuka matanya ketika merasa Yunho telah menormalkan posisinya. Mata besarnya menatap Yunho dalam. Mencari kebenaran atas semua yang diucapkan pria itu. Ekspresi Yunho yang tak bisa Jaejoong jelaskan membuat pipinya menghangat lalu meluas pada daerah matanya yang memanas.

Yunho menyadari munculnya semburat merah pada pipi putih dihadapannya tersenyum lembut, sangat lembut hingga Jaejoong merasa akan mencair secair-cairnya. Apalagi ketika kecupan ketiga hadir pada pipi itu. "Pipi apel yang sering beradu dengan pipi milik Junnie, hanyalah pipi apel milik istriku." Ujar Yunho dengan bibir yang hanya berjarak tak lebih dari lima mili dari kulit halus tersebut. Bibirnya bergeser pelan dengan sentuhan pelan terasa di pipi Jaejoong. "Bibir ceri yang membuatku candu, membuatku menjadi pria brengsek yang terus mencurinya bahkan ketika kau mengganggapku orang asing." Dan kecupan lainnya menyusul di daerah lembut berwarna merah tersebut.

Yunho merasa bebas sekarang, ia telah mengatakan apa yang selama ini ia simpan. Ia lepas, lepas dari penderitaan yang mengungkungnya selama ini. Air mata yang menyeruak keluar tak lagi bisa ia tahan. Ia merasa sangat lega.

"Maafkan aku Joongie-ya. Maafkan aku karena membawa kita pada penderitaan. Aku sangat merindukanmu sejak Kibum membawamu. Tapi, yang bisa kulakukan hanya menahan diriku. Karena bagimu, aku dan Heojunnie adalah orang asing." Yunho menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jaejoong selesai mengucapkan kalimatnya. Perasaan bersalah langsung menelusup hati Jaejoong begitu merasakan hangat dan basah kembali mengenai bahunya.

Apa yang telah ia lakukan? Selama ini, ia terus berpikir negatif tentang Yunho. Bahkan berpikir Yunho memanfaatkannya. Padahal dalam kenyataanya, ialah yang membuat Yunho bersikap seperti itu. Ingatannya yang hilang sudah membuat keluarganya menderita. Junnie adalah putranya dan Yunho adalah su—sebentar. Pantas saja Jaejoong merasa aneh ketika ia pernah berpikir tentang seorang istri. Oh, ini alasannya? Ia tidaklah memperistri, tapi diperistri. Aish~ penyatuan pada malam itu memang menjadi bukti kongkrit jika ia adalah seorang suami, suami submisif. Ah, rasanya kurang elit. Tapi, karena ini bersama Yunho. Tak apa deh.

Tapi, rasanya malu juga. Berapa kali ia merasa benci pada istri Yunho yang tengah tersenyum di poto itu. Bahkan beberapa kali ia menunjuknya dengan cara yang tak sopan. Ini berarti ia melakukan dua hal tersebut pada dirinya sendiri? Iuh~ tubuh Kim Jaejoong, maafkan tubuhmu yang lain ya.

"Tapi syukurlah," Jaejoong menatap Yunho yang kembali menegakkan tubuhnya. "Kau terus mencintai kami meski kau melupakan kami." Tambah Yunho ketika ia kembali menyatukan bibir mereka. Dalam penyatuan itu, Yunho dan Jaejoong saling menatap. Berbagi perasaan yang terlalu banyak jika harus diumbar dengan kata-kata. Kristal bening dari mata mereka menetes bersamaan saat menutup mata dalam waktu bersamaan sebelum memperdalam penyatuan untuk berbagi kerinduan.

-oOo-

Brak!

Sebuah suara bantingan yang lumayan kerasa membuat suasana hening-hening romantis antara dua tokoh utama cerita ini hancur secara perlahan. Kedua pria itu saling bertatapan bingung akan suara yang baru saja mengangetkan mereka.

Siapa tersangkanya, akan mudah diketahui dengan sebuah clue. Satu-satunya pria yang meminta alamat rumah ini dengan tidak sopan kepada Kibum. Siapa? Changmin? Yap, Shim Changmin. Pria itu membuka pintu dengan cara menendang sang pintu utama akibat kekesalan yang tengah menguasai dirinya. Yah, nampaknya hari ini adalah hari sial untuk pintu. Tak hanya dibanting Yunho tadi, kini adik Yunhopun melakukan kekerasan padanya dengan cara menendangnya. Poor you!

Tinggalkan masalah pintu. Lebih baik lihat apa yang akan dilakukan Changmin setelah tiba di ruang keluarga dimana di ruangan itu dua pria lainnya sedang menatap kedatangannya dengan bingung.

"Hyung! Kau brengsek!" ucapnya dengan nada rendah. Bukan nada yang sehari-hari digunakannya. Tanpa ba-bi-bu ia mencengkram kerah kemeja yang Yunho gunakan.

"Ap—?"

"Kau kehilangan Jaejoong hanya dalam waktu lima hari hyung. Dan kau membuat kami kehilangan Jaejoong hyung selama lima tahun? Mengapa kau tak memberitahu kami! Apa kau pikir kami akan berbuat jahat kepadanya huh?!" Changmin berteriak emosi ketika dengan tak sadar sedikit menyeret Yunho melalui cengkraman di kerah depan kemeja yang digunakan Yunho.

Yunho sendiri membiarkan Changmin meluapkan kekesalannya. Ia hanya mempertahankan posisi tangan Changmin agar tak terlalu kuat menarik kerahnya. Ia sungguh tak mau mati tercekik. Tidak ketika ia baru saja memberitahu Jaejoong sedikit kebenaran mengenai hubungan mereka. Jika ia mati, angan-angan untuk kembali menjalani kehidupan yang berbahagia akan langsung lenyap tak bersisa. Lagipula, mati karena tercekik kerah yang ditarik adiknya sungguh cara mati yang tak elit.

"Akan kujelaskan padamu min. Tapi, bisakah kau tenangkan dirimu dulu?" Changmin menatap Yunho beberapa saat setelah mendapat pertanyaan dari Yunho. Ia melepaskan cengkramannya perlahan sebelum kemudian mengambil langkah untuk duduk di sofa. Ia membuka dua kancing teratas pakaiannya untuk mengurangi rasa panas akibat emosi yang melandanya dengan kasar.

"Apa yang akan kau katakan?" tanya Changmin dengan tatapan yang tajam. Ia kesal, sungguh kesal. Ia telah menjadi adik yang baik untuk Yunho selama ini. Tapi, Yunho bahkan tak mempercayai dirinya untuk berita bahwa satu-satunya kakak ipar yang ia miliki masih hidup. Yunho tak menganggapnya sebagai adik eh? Atau bahkan menganggapnya sebagai saudara pun tidak.

Sekejap, Yunho menundukkan kepalanya ketika kekehan singkat keluar dari bibirnya. Dua kali ia mendapat sorot tajam dari mata milik dua orang yang disayanginya hari ini, dan dua kali pula ia mendapatkan pertanyaan yang nyaris sama dengan tujuan yang sama. Dua orang ini menuntut penjelasan darinya dengan emosi yang menguasai mereka.

Ya, mungkin ini batas waktu yang sudah ditentukan Tuhan. Inilah saatnya ia mengatakan semua yang ia ketahui agar dua orang yang amat ia sayangi yang kini tengah berada di dekatnya tak lagi salah paham padanya.

"Hyung melakukannya untuk Jaejoong Min. Ia kehilangan ingatan, kau pasti sudah mengetahuinya kan?" tanya Yunho. Changmin hanya terdiam, menunggu penjelasan lainnya keluar dari mulut kakaknya. Sedangkan Jaejoong, pria itu menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan Yunho. Meski iapun menunggu pejelasan lainnya dari Yunho. Ia ingin mengetahui lebih banyak. "Dokter mengatakan Jaejoong bisa sewaktu-waktu mendapatkan ingatannya kembali. Namun, akan sangat berbahaya jika Jaejoong memaksakan diri untuk mengingatnya. Kibum mengatakan bahwa dokter menyarankan agar Jaejoong dijauhkan dari hal-hal yang bisa membuatnya ingin menggali ingatnnya. Dan aku hanya melakukan saran itu." tambahnya ketika tak mendapati suara yang menyelanya.

"Tapi, mengapa kau berada disampingnya dan kau tak memberitahu kami?"

"Jaejoong melupakan hal yang tak ingin ia lupakan dan akan sangat mudah memancing ingatannya dengan hal-hal selain itu. Aku dan Junnie dilupakan dan kalian akan sangat mudah memancing ingatannya kembali. Lagipula, tak baik jika 'mereka' sampai mengetahuinya." Jawaban Yunho membuat Changmin bungkam dan membuat pria lainnya merasakan rasa bersalah semakin menelusup dalam hatinya.

"Setidaknya beritahu kami walau kau tak bisa mempertemukan kami."

Jaejoong masih bisa mendengar protes keluar dari bibir Changmin.

"Aku hanya takut Kim Junsu mengetahuinya."

Kepala Jaejoong terasa berat, namun ia bisa mendengar pembelaan diri suaminya.

"Tapi, kau membuat kami menderita."

Jaejoong memegangi kepalanya, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang mendera.

"Kau tahu Min, aku dan Junnielah yang sangat-sangat menderita."

Samar, ia masih bisa mendengar perdebatan Changmin dan Yunho. Matanya yang tertutup ketika merasakan sakit yang menyerangnya kini terbuka. Tubuhnya yang merosot kini kembali berdiri tegak. Rasanya, perdebatan err~ kata-kata yang digunakan untuk perdebatan itu pernah ia dengar. Tapi dimana ya?

Jaejoong mengedipkan matanya pelan? Dimana Changmin dan Yunho? Dimana ia berada sekarang? Mungkinkah rasa sakit dikepalanya tadi membuatnya bisa berteleportasi ketempat ini? Sebuah tempat seperti sebuah jalan—buntu? Ia berada diujung jalan buntu dengan sebuah mobil dan dua orang pria berada di mulut jalan.

Dua pria tampan, yang satu terlihat manis. Sayang sekali wajahnya yang manis harus tertutupi oleh seringaian yang terlihat jahat. Padahal, Jaejoong sangat yakin. Jika saja sebuah senyuman tulus yang mengembang disana, maka pria itu akan menjadi pria yang disayangi oleh banyak orang.

"Masuklah, Kim Junsu." Kim Junsu, rasanya tadi Yunho menyebutkan nama itu. Pria tampan yang terlihat baik hati meminta pria yang menyeringai kearahnya itu masuk kedalam mobil, bahkan terlihat sedikit mendorong lembut pria yang sepertinya bernama Kim Junsu itu.

"—menderita, sangat menderita." Jaejoong tak bisa mendengarnya dengan jelas. Hanya saja, seringai dan tatapan yang seolah akan melahapnya itu menyertai kalimat yang diucapkan dari kejauhan itu sebelum dua pria tadi masuk dalam mobil.

Hening jaejoong rasakan ketika mobil itu berlalu dari hadapannya. Perasaan was-was menjalari tubuhnya. Apalagi, ia melihat segerombol pria mendatanginya dengan wajah yang tak ramah. Bukan, bukannya Jaejoong takut. Dulu ia sering berkelahi, hanya saja kali ini tenaganya belum cukup untuk memberi perlawanan jika merek—

Ouh, sial. Sebenarnya apa masalah mereka? Mengapa mereka seenaknya menyarangkan pukulan dan tendangan pada tubuhnya?

Argh! Kepala! Kepalanya terasa berat ketika merasakan potongan kayu menyentuh bagian belakangnya keras. Tendangan lainnya mengikuti pukulan itu membuatnya merasa terbang.

"Ukh!" Jaejoong kembali memegangi kepalanya akibat apa yang terjadi dikepalanya. Dari matanya yang menyipit, ia bisa mengetahui jika ia telah kembali ke ruangan dimana ada Yunho dan Changmin bersamanya. Sungguhkah sakit kepalanya bisa membuatnya berpindah tempat dalam sekejap? Ah, masa bodoh dengan hal itu. Sakit dikepalanya tak bisa memberinya kompromi untuk memikirkan hal itu.

Changmin dan Yunho mengalihkan perhatiannya begitu mendengar rintihan dari Jaejoong. dan Yunho, dengan sigap mengambil langkah cepat ketika tubuh Jaejoong mulai limbung. Tepat waktu ia berada disana, karena kurang dari sedetik saja. Jaejoong mungkin akan merasakan sentuhan keras antara lantai dan kepalanya, seperti sentuhan keras balok kayu dengan kepalanya yang pernah ia rasakan, dulu.

Yunho menatap Changmin dengan tatapan yang bisa diartikan,

"Sudah kukatakan, ini berbahaya Min. Hanya dengan menyebut namanya saja, Jaejoong kehilangan kesadarannya."

-TBC-

T.T anyeong~ syukurlah aku bisa update minggu ini untuk chapter sembilan. Gomen, *bow* jika chapter ini kurang memuaskan. Chapter yang ku publish ini rasanya sedikit berbeda sama chapter sembilan yang aku ketik pertama.

Ya, T.T data-data di flashdisk aku hilang semua ToT termasuk chapter sembilan dan sepuluh yang siap santap-?- ini hasil ngetik ulang, dan aku sendiri nggak puas. Karena aku rasa ada yang beda dengan chapter yang datanya ilang. Kenapa beda? Soalnya mood pas ngetiknya beda T.T aku gloomy-gloomy nih pas ngetik ini *malah curhat/dilempar sandal sama yang baca* ah ya, yang aku bold itu potongan percakapan orang lain di ingatan yang melintas di pikiran Jaejoong. Kalian tau doong, orang lain itu siapa?

Nah, dari pada aku mewek karena keingetan file aku yang ludes semua, mari balas review aja T.T

Aamiin~ akunya sih sehat 3kjj, flashdisk akunya yang gx sehat. Lupa nge-eject dan data lost semua T.T jadi maaf yah kalo bikin nunggu. Aku kebut bikin ulang setelah mood kembali hadir, maaf kalo nggak puas ne hehehe, itu mood pas ngetik chapter kemarin lagi pacaran ama mood pas bikin The Mission. Nggak segaja bikin Jeje oneng juga disini. Hehehe~ tapi Jeje tetep disayang Uno kok. Yakin! *kedipin Jeje yang lagi mehrong-mehrong* inget sih nggak, kan amnesia Garrife. salahnya, dia nggak ngeh aja tuh. And yah, di chapter sebelumnya ada reviewer yang huruf a sama i-nya bertukar tempat. Itu, masih kamu kah? Oke sip. Ini part sembilannya. Moga nggak pada kecewa yah, termasuk kamu yoon HyunWon.

Chapter final yang akan terbit Insya Allah minggu depan akan mengupas tuntas apa penyebab Jeje amnesia zhe, btw~ kamu jangan ngomong gitu ah. Jeje itu tampan, maskulin dan macho kok *author ngakak/ditendang beruang* kata siapa Jae oneng, lemot atau bo—*diinjek gajah* kamu juga Angel Muaffi, Kakaichi, jangan bilang gitu. Nanti kamu dan kamu di—uh, *lepas diinjek gajah* kayak aku. Penyet~ *lirik kaki imut gajah yang baru nginjek*

YunJaeJun kan pendatang baru banget di Kyoto. Jadi nggak ada yang ngeh. Pengurus rumah mereka udah tau dari Yuno, jadi dia tenang-tenang aja, noviuknow. Yah, gitu deh. Itu Tujuan Changmin. Yuno sendiri memang demen bikin orang salah paham sih Dennis Park. Tenang, semua aman dan terkendali. Baidewei, kamu sodaranya Park Yoochun ya? *lirik Pennamenya* sekali lagi, semua aman dan terkendali kok, Pungki ningtyas. Yunho is the best leader in the world sih *woi* ngatasin gajah ngamuk doang sih, *sentil jari* gampaaaang~

Disini dijelasin sedikit nih CuteCat88. Nah, ini dia chapternya~ makasih RnRnya ya *hagu* Well, sebenernya Chapter kemarin adalah alur lanjutan dari chapter-chapter sebelumnya Guest. Aku bahkan nggak ngubah cara nulisnya sama sekali, karena aku kesulitan kalo memang mau dibikin susuai sama harapan kamu. Ya~ jeje bisa mikir jelek tentang Yuno. Anggep aja jeje lagi galo. Jadi gitu deh *diplototin someone* kekeke~ Jaejae kan aktor papan atas. Kekagetannya disembunyikan dengan baik. Trus marah-marah deh nabratz. Istrinya Yun cantik ya? *ikutan pantengin poto*

Apa maksudnya ya? Anik0405. Nah, setelah baca chapter ini udah dapat jawabannya belum? *senyum lima jari* aku khawatir chapter ini sedikit menyinetron-?- wahai reader intelekku *Digetok sycarp* tapi, makasih loh udah terus baca dan review ff ini. Saran kamu juga bikin semangatku balik hehehe *haguhaguhagu* adalagi satu reader kece yang nyempetin review chapter-chapter yang ketinggalan hehehe *haguhagu Casshiper Jung*makasih loh ya. Nah ini chapter sembilannya. Lama nggak? Nggak dong? Kan updatenya seminggu. Hehehe~ betewe, yang bener aja dong kamu. Jeje itu cerdas tau, Cuma lemot aja *diinjek gajah, lagi* mouto-chan, mau ikutan diinjek nggak? *pingsan*

Ehehe~ aku keren? Aku kan yang keren? Makasih-makasih *dilempar sandal sama Yuusan90* dia mah gak bakal sadar-sadar nanajunsu, tapi dia bakal tau kok. Tuh, ditulis di chapter ini.

Nah, terima kasih yang baca, yang review, yang kasih saran dan kritik juga. Makasih~ kita bertemu di chapter akhir yang akan mulai aku ketik sekarang ya. Err~ ucapan Terima kasih spesial bagi seseorang yang ngasih aku support dan semangat pas aku mau nangisin nasib tragis flashdiskku minggu lalu. Hontouni arigatou *fly kiss* tunggu ff balasan terima kasihnya ya :*'

O-Cyozora